Claim Missing Document
Check
Articles

PENGGUNAAN RONGGIANG DALAM ACARA MALATI ANAK   DI NAGARI AIA GADANG KABUPATEN PASAMAN BARAT Fitri Nadhia, Fitri Nadhia; Tulus Handra Kadir
Avant-garde: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Pertunjukan Vol. 4 No. 2 (2026): June (in press)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/z7s30d13

Abstract

This study aims to understand and reveal the use of ronggiang in the Malati Anak event in Nagari Aia Gadang, West Pasaman Regency. This type of research is qualitative research with a descriptive analytical method. The research instruments are self-conducted studies assisted with stationery, a camera and an audio recorder. Data is collected through library studies, observation, interviews and documentation. The steps for analysing data are data collection, data presentation and drawing conclusions. The results of the research indicate that the use of Ronggiang in the Malati Anak event in Nagari Aia Gadang, West Pasaman Regency, consists of Ronggiang and Malati Anak. Ronggiang elements consist of musical instruments, costumes, performers/actors, movements, songs, performance times and venues, and the audience. Musical instruments used include gandang, violin, microphone, horn, boto kaco, and tambourine. The costume worn consists of the Ronggiang art troupe's uniform and a sash. The Ronggiang performers consist of 12 members. The movements in this Ronggiang dance consist of three parts: the opening movement, the advancing greeting movement, and the advancing greeting movement with position changes. The songs performed are generally traditional Ronggiang art songs, including Pulau Pisang, Ronggiang Ka Berang, and Sikambang. The performance usually begins in the afternoon, with the venue depending on the host's agreement. This Ronggiang performance can be watched by all ages, from children, teenagers, adults, to the elderly, with the majority being elderly. The use of Ronggiang in Malati Anak consists of the Turun Mandi event and the wedding event. The Malati Anak Turun Mandi event is held by the bako side, usually performed by the child's grandmother, and is enlivened by Ronggiang music, while the Malati Anak wedding event is held by the bako side, usually performed by the child's amai, and the event takes place at their home with modest arrangements, only enlivened by Ronggiang art.
RUMAH “SAKIT JIWA” (TEATER MODERN) Suprianda, Andicky; Tulus Handra Kadir
Avant-garde: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Pertunjukan Vol. 4 No. 2 (2026): June (in press)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/dvxgtj91

Abstract

This artwork aims to interpret the phenomena and behavior of people in a mental hospital. The creation process involves observation (exploration), improvisation, and formation. The idea for the theatrical work "Rumah Sakit Jiwa" (Mental Hospital) is derived from the behavior of people inside a mental hospital. Mental illness, as a creative idea, influenced the director's imagination, which was then translated into a working concept that became the foundation for the three-part procession in this work.
Pemeranan Tokoh Traumatik pada Monolog: Studi pada Mahasiswa Prodi Sendratasik Angkatan 2023 Universitas Negeri Padang Fitri, Rahmah Aisyah; Kadir, Tulus Handra
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37762

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya kemampuan aktor dalam memahami dan mengekspresikan kondisi psikologis tokoh, khususnya tokoh yang memiliki pengalaman traumatik. Pemeranan tokoh traumatik menuntut aktor tidak hanya menguasai teknik akting, tetapi juga mampu menafsirkan latar belakang emosional dan konflik batin tokoh secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pemeranan tokoh traumatik yang dilakukan oleh mahasiswa dalam pertunjukan monolog. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui observasi proses latihan dan pementasan monolog, wawancara dengan mahasiswa sebagai pemeran, serta dokumentasi kegiatan pementasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemeranan tokoh traumatik dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu analisis naskah, pemahaman latar belakang psikologis tokoh, eksplorasi emosi, serta latihan yang berulang untuk membangun konsistensi ekspresi dalam pementasan. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemahaman terhadap pengalaman trauma tokoh berpengaruh terhadap kualitas ekspresi emosional, penggunaan intonasi suara, serta gerak tubuh aktor dalam menyampaikan konflik batin tokoh. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai proses kreatif mahasiswa dalam menginterpretasikan karakter yang kompleks dalam pertunjukan monolog serta menunjukkan pentingnya latihan akting yang mendalam dalam membangun representasi tokoh traumatik secara meyakinkan.