Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBELAJARAN SENI BUDAYA BERBASIS VIDEO TUTORIAL; STUDI KASUS DALAM MATERI AJAR GAMBAR ILUSTRASI Made Karisma Dwi Yasa .; Drs.Jajang S,M.Sn .; I Wayan Sudiarta, S.Pd,M.Si. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 7 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i1.9713

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan media video tutorial. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif-kuantitatif dengan pendekatan studi kasus Sampel penelitian ini adalah siswa kelas X IBB SMA LAB UNDIKSHA Singaraja tahun pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 27 siswa. Data dianalisis menggunakan Analisis Deskriptif Kualitatif dan Analisis Deskriptif Kuantitatif. Penerapan metode pembelajaran dengan menggunakan video tutorial pada siswa kelas X IBB SMA LAB Undiksha Singaraja dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari 25 siswa yang mengikuti pembelajaran 80% atau 20 siswa mengalami kenaikan, sementara yang tetap berjumlah 2 orang atau 8% persen dari keseluruhan, dan yang mengalami penurunan berjumlah 3 orang atau 12 Pada Karya siswa yang pertama 7 siswa mendapatkan nilai diatas KKM seni budaya. Dan pada karya siswa yang kedua jumlah siswa yang mendapat nilai diatas KKM mengalami kenaikan yaitu berjumlah 20 siswa.. Secara keseluruhan dari segi nilai Karya siswa X IBB mengalami cukup peningkatan, akan tetapi kecenderungan untuk mencontoh masih terlihat, tidak ada kreatifitas dalam berkarya. Kata Kunci : video tutorial, peningkatan, ekspresif This research aimed to know there is getting improvement of learning outcomer before and after uring video tutorial. This research war derigned as deskriptif-kualitatif-kuantitatif research which approch by case study to conduct thir research, twenty seven students of tenth grade IBB SMA LAB UNDIKSHA Singaraja in the academic year 2014/2015 as the sample. The data were analized using deskriptif kualitatif analisis and deskriptif kuantitatif analisis. The learning method by using video tutorial is increase student outcomer of tenth grade IBB SMA Lab UNDIKSHA Singaraja. Therefore from twenty five students who have followed the learning prosess, 80% or 20 students have incroased their score mean while 2 person or 8% over all didn't change their score and 3 students or 12% have dropped their score. During the first student's project, 7 children got the score above the standart of art and culture. And During the second student's project, 20 student scored above the KKM. Over all, from the score point of view, student of "X IBB" is increasing but still there is a behavior of plagiarism to duplicate the answer. They don't have the creativity to make the product yet. keyword : video tutorials, enhancement, expressive
PERBANDINGAN VISUAL FIGUR WAYANG KULIT TUALEN GAYA BALI SELATAN DENGAN FIGUR TUALEN BALI UTARA Putu Rendhi Kusuma Artha .; Ni Nyoman Sri Witari, S.Sn. .; I Wayan Sudiarta, S.Pd,M.Si. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 7 No. 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i3.11341

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) Struktur rupa figur Tualen pada Wayang Kulit Bali Selatan dan Struktur rupa figur Tualen Bali Utara, (2) Penyebab perbedaan bentuk Tualen Bali Utara dengan bentuk Tualen Bali Selatan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriftif kualitatif. Data yang diperoleh dalam penelitian dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan gambar. Subjek penelitian ini adalah dalang wayang kulit Jro Dalang Gede Sudarma dari Desa Bungkulan dan Jro Dalang Nyoman Warisa dari Desa Tamblang sementara objek penelitian adalah figur wayang Tualen.Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan metode dokumentasi kepustakaan. metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis domain dan taksonomi Hasil Penelitian menunjukan (1) Struktur rupa figur Tualen Bali Selatan dan figur Tualen bali Utara dari kepala, badan, kaki memang memiliki beberapa perbedaan pada bentuk dan ornamen (hiasan) yang digunakan, (2) Perbedaan Tualen Bali Utara dengan Tualen Bali Selatan terjadi karena adanya (a) pengaruh Ki Barak terhadap perkembangan kebudayaan di kerajaan Panji, Buleleng; (b) secara mitologi perbedaan visual Tualen Bali Selatan dan Utara mengacu pada asal usul tokoh Tualen yang mengalami hukuman terbakar api oleh Dewa Siwa karena mengganggu semedinya, sehinggaTualen Bali Utara digambarkantanpa jambot atau tak berambut. Kata Kunci : perbandingan visual, figur wayang kulit bali, tualen This study aims to describe (1) Tualen figure structure in Wayang Kulit Bali Selatan and Tualen Balinese Figure Structure of North Bali, (2) Cause difference of Tualen North Bali shape with Tualen form South Bali. This research uses qualitative descriptive design. The data obtained in the study are described in terms of words and images. The subject of this research is puppeteer Jro Dalang Gede Sudarma puppeteer from Bungkulan Village and Jro Dalang Nyoman Warisa from Tamblang Village while research object is Tualen puppet figure. Data collection is done by observation method, interview, and library documentation method. The method of analysis used in this study is the method of domain analysis and taxonomy The research shows (1) The structure of the figure of Tualen Bali Selatan and the northern Balinese Tualen figure from the head, body, legs do have some differences on the shape and ornaments used (2) The difference between Tualen Bali Utara and Tualen Bali Selatan is due to the fact that the structure of the Tualen figure in South Bali and the northern Balinese Tualen figure from head, body, legs have some differences in the shape and ornament, The existence of (a) the influence of Ki Barak on the development of culture in the kingdom of Panji, Buleleng; (b) mythologically, the visual difference between Tualen Bali Selatan and Utara refers to the origin of the Tualen figure who suffered a fire burning by Lord Shiva for interrupting his semed, so that Bali's North Bali is depicted without jambot or hairlessness. keyword : visual comparison, Balinese wayang kulit figure, Tualen
Bermain Menggunakan Media Clay Tepung Di Paud Pradnya Werdhi Jembrana Cadex Agus Arya Gunawan .; I Wayan Sudiarta, S.Pd,M.Si. .; I Gusti Made Budiarta, S.Pd., M.Pd .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 7 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i1.11376

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan proses pembelajaran melalui kegiatan bermain menggunakan media clay tepung di Paud Pradnya Wherdhi Jembrana dan (2) Mendeskripsikan hasil karya anak-anak dalam kegiatan bermain menggunakan media clay tepung di Paud Pradnya Wherdhi Jembrana. Penelitian ini menggunakan metode: (1) observasi (2) wawancara dan (3) dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. kegiatan pembelajaran dilakukan dengan cara mengajak anak untuk bermain membentuk bebas secara individu sesuai kelasnya masing-masing. Sementara itu hasil karya siswa akan dipilih dan dianalisis lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pada penelitian ini proses pembelajaran dilakukan menggunakan media yang mudah untuk dibuat dengan mempertimbangakan keamanan dan keevektifan pengunanan media tersebut, melalui kegiatan bermain sehingga meningkatkan motivasi anak dalam mengikuti proses pembelajaran serta merangsang daya cipta anak; (2) teknik yang digunakan pada hasil karya anak yaitu, teknik pilin, pijit dan pencampuran warna. Diaman teknik ini sebelumnya diajarkan oleh guru untuk mempermudah anak dalam proses membentuk; (3) objek yang paling banyak dibuat adalah objek yang terdapat disekitar lingkungan tempat tinggal mereka, sehingga mempermudah anak untuk mewujudkan bentuk yang ingin dibuat; (4) pada analisis karya, penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan kreativitas dan merangsang syaraf serta motorik anak, dimana melalui kegiatan bermain anak mampu mengembangakan kemampuannya berdasarkan imajinasi dalam mengekspresikan diri. Melalui karya yang dibuat dapat dilihat bahwa anak sudah mampu mebuat bentuk mewakili bentuk yang terdapat di alam, walaupun warna yang di gunakan tidak sepenuhnya persis pada objek aslinya, dikarenakan anak masih berfokus pada bentuk yang ingin di buat. Kata Kunci : clay tepung, media pembelajaran, metode pembelajaran. Thi study aims to (1) describe the process of learning through playing activities by using clay flour media at Ecd Pradnya Wherdhi Jembrana and (2) describe the work of children in playing activity by using the clay flour media in Ecd Pradnya Wherdhi Jembrana. This study uses methods : (1) observation (2) interview and (3) documentation. The data has been analyzed by using qualitative descriptive method. The learning activity has been done by encouraging children to play free form individually according to each class. Meanwhile the student's work will be selected and analyzed for more information. The result of the study shows that (1) in this research the learning process is done by using a media which is easy to be made by considering the security and efectiveness of the use of the media, through playing activity that increases children's motivation to participate in the learning process and stimulates children's creation; (2) the techniques used on the work of children namely, helical, massage technique and mixing color. This technique previously has been taught by the teacher to make it easier for children in the process of forming; (3) the object made is mostly object which is located around the environment where they live,in order to make it easier for the children to realize the form that they want to make; (4) In the analysis of the work, the use of appropriate learning media can enhance the creativity and stimulate the child's nerves and motor, which through children's play activities able to develop their ability based on the imagination in expressing themselves. Through the work made can be seen that the child is able to create a form that representing the form contained in nature, although the color in use is not entirely exactly with the original object, because the child is still focused on the shape that want to be made. keyword : clay flour, learning media, learning methods.
KISAH KESENIMANAN RAKA SUWASTA DI DALAM PENJARA Dewa Made Johana .; I Wayan Sudiarta, S.Pd., M.Si. .; Drs. I Gusti Ngurah Sura Ardana,M.Sn. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 8 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v8i2.13358

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) riwayat/perjalan berkesenian Raka Suwasta. (2) proses berkesenian Raka Suwasta dalam penjara (3) kisah yang tersimpan di balik karya-karya yang dihasilkan Raka Suwasta di dalam penjara. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi, (2) wawancara,(3) dokumentasi, (4) life history, dan (5) kepustakaan. Instrumen yang digunakan adalah (1) instrumen observasi, instrumen wawancara, instrumen dokumentasi, instrumen life history dan instrumen kepustakaan. Analisis data yang digunakan adalah analisa interaktif. Hasil penelitian ini adalah: (1) riwayat kesenimanan Raka Suwasta yaitu Raka suwasta lahir di Denpasar tahun 1940, Raka Suwasta belajar melukis secara ototidak (2) Proses Berkesenian Raka Suwasta dalam penjara berawal dari tekanan batin yang beliau rasakan ketika menjalani masa tahanan pada tahun 1965, yang kemudian melahirkan ide berupa karya-karya yang bertemakan suasana di lingkungan penjara, karya-karya tesebut berupa sketsa yang menggunakan media pensil dan tinta di atas kertas (3) Kisah yang tersimpan di balik karya-karya yang dihasilkan Raka Suwasta di dalam penjara. (1) Potret sipir, (2) Impian Raka Suwasta (3) Kampung di luar lapas (4) Kehancuran (5) Potret Sudiana (6) Suasana di luar lapas, (7) Kak Lingkuh. Kata Kunci : kisah kesenimanan, penjara, raka suwasta This study aims to describe: (1) History / journey of art Raka Suwasta. (2) The Raka Suwasta Arts Process In Prison (3) The story kept behind the works produced by Raka Suwasta In Prison. Data collection in this research was done by technique (1) observation, (2) interview, (3) documentation, (4) life history, and (5) bibliography. The instruments used are (1) observation instruments, interview instruments, documentation instruments and literature instruments. Analysis of the data used is interactive analysis. The results of this research are: (1) History of Raka Suwasta Kesenimanan namely Raka suwasta born in Denpasar 1940, Raka Suwasta learned to paint muscularly (2) Raka Suwasta Arts Process In Prison originated from the inner pressure he felt when serving in prison in 1965 , which then gave birth to the idea of ​​works with the theme of atmosphere in the prison environment, the works tesebut in the form of sketches that use pencil and ink media on paper (3) The story is stored behind the works produced by Raka Suwasta In Prison. (1) Portrait of warden, (2) Raka Suwasta dream (3) Village outside prison (4) Destruction (5) Sudiana Portrait (6) Atmosphere outside prison, (7) Kak Lingkuh.keyword : stories of art, prisons, raka suwasta
EKSISTENSI KOMUNITAS STREET ART DJAMUR DENPASAR I Nym Putra Purbawa .; Dr. I Ketut Sudita, M.Si .; I Wayan Sudiarta, S.Pd., M.Si. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 8 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v8i1.13360

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang: (1) Awal terbentuk komunitas Street Art Djamur Denpasar. (2) Jenis karya dan Tema karya komunitas Street Art Djamur Denpasar. (3) Pola komunikasi seniman dalam bekerja karya kolektif komunitas Street Art Djamur Denpasar. (4) Respon masyarakat terhadap karya Komunitas Street Art Djamur Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah komunitas Street Art Djamur. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi, (2) wawancara,(3) dokumentasi, dan (4) kepustakaan. Instrumen yang digunakan adalah (1) instrumen observasi, instrumen wawancara, instrumen dokumentasi dan instrumen kepustakaan. Analisis data yang digunakan adalah analisa interaktif. Hasil penelitian ini adalah: (1) terbentuknya komunitas Street art Djamur Denpasar berawal dari kegelisahan dan kejenuhan sejumlah seniman muda pada medan sosial seni rupa yang saat itu terpusat pada galeri. (2) jenis karya yang dibuat meliputi mural, grafiti, stensil, wheate paste, dan instalasi. Kebanyakan yang dibuat karya mural. Tema yang diangkat biasanya yang sedang menjadi perbincangan di masysarakat. (3) pola kerjasama dimulai dari merundingkan tema, proses pembuatan desain, desain yang sudah jadi disaat di lapangan ada saja penambahan dari anggota. 4) respon masyarakat terhadap karya komunitas Street Art Djamur Denpasar dilihat dari kondisi mural yang sudah pudar tentu masyarakat tidak menyukai. Namun karya mural yang masih bagus masyarakat masih bisa menikmatinya.Kata Kunci : eksistensi, komunitas, street art This study aimed to gain information about: (1) history of Djamur street art community Denpasar, (2) types and themes of work produced by the community, (3) communication pattern of artists in working collectively, (4) response from society towards existence of the community. This is a kind descriptive qualitative research. The subject of the study is Djamur street art community Denpasar. The data were obtained through techniques namely, (1) observation, (2) interview, (3) documentation, and (4) library reseach. The instruments are observation sheet, interview guideline, documentation instrument, and library instrument. The data were analyzed using interactive analysis. The result of the study shows that, (1) the community is formed based on anxiety and boredom of youth artist towards gallery based fine, (2) types of the work are mural, grafiti, stencil, wheate paste, and installation. However mostly is mural. Themes of work are taken from society, (3) communication pattern is started by discussing the theme, designing, and improving work by other member, (4) society respects the well-designed mural but mostly dislike the mural which color is dull. keyword : existence, community , street art.
MENGGAMBAR EKSPRESI BEBAS LUKIS KACA NAGASEPAHA PADA EKSTRAKURIKULER DI SMP N 3 SUKASADA Ketut Widiastra .; Drs.Agus Sudarmawan, M.Si. .; I Wayan Sudiarta, S.Pd., M.Si. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 8 No. 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v8i3.13635

Abstract

Penelitian ini dilakukan berdasarkan pendekatan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan metode ekspresi bebas lukis kaca Nagasepaha pada ekstrakurikuler di SMP N 3 Sukasada, (2) hasil belajar metode ekspresi bebas lukis kaca Nagasepaha pada ekstrakurikuler di SMP N 3 Sukasada. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini sebagai berikut: (1) penerapan metode ekspresi bebas lukis kaca Nagasepaha pada ekstrakurikuler di SMP N 3 Sukasada terdiri dari beberapa tahap pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memantapkan siswa-siswi ke tujuan yang diharapkan dari kegiatan tersebut. Tahap pertama dalam pembelajaran diawali dengan pemberian gambaran umum oleh guru ke pada siswa-siswi mengenai metode ekspresi bebas seni lukis kaca Nagasepaha dan perlengkapan yang diperlukan dalam berkarya seni lukis kaca. Tahap selanjutnya diteruskan dengan pembelajaran praktek yang terdiri dari, pembuatan sketsa awal, pemindahan objek sketsa ke permukaan kaca, tahap pewarnaan, dan Finishing (sentuhan akhir pada karya). (2) Hasil belajar metode ekspresi bebas lukis kaca Nagasepaha pada ekstrakurikuler di SMP N 3 Sukasada ditunjukkan dari berbagai tema yang ditampilkan karya siswa-siswi. Meskipun guru telah memberikan kebebasan dalam menentukan tema, masih ada beberapa karya siswa-siswi yang menunjukkan objek pewayangan sekaligus menjadi ciri khas lukis kaca Nagasepaha. Tema dari karya lukis kaca siswa-siswi dikelompokan menjadi beberapa jenis yaitu, tema pewayangan dan tokoh mitologi, tema tokoh kartun (imajinatif), tema bunga, dan tema alam benda. Kata Kunci : lukis kaca, ekstrakurikuler This research was conducted based on qualitative descriptive approach, which aims to describe (1) the application of Nagasepaha glass- free expression method on extracurricular in SMP N 3 Sukasada, (2) the result of the study of Nagasepaha glass-free expression method on extracurricular in SMP N 3 Sukasada. The results obtained from this research are as follows: (1) the application of Nagasepaha glass-free expression method on extracurricular in SMP N 3 Sukasada consists of several learning stages. It aims to stabilize the students to the expected goals of the activity. The first stage of the lesson begins with giving the teacher an overview to the students about Nagasepaha's glass-free artistic expression method and the tools needed for painting glass. The next stage is continued with practical learning which consists of, initial sketching, sketch object transfer to the glass surface, staining stage, and Finishing (final touches to the work). (2) The result of Nagasepaha glass-free expression method study in extracurricular in SMP N 3 Sukasada is shown from various themes displayed by the students. Although the teacher has given freedom in determining the theme, there are still some works of students who show the puppet show as well as the hallmark of glass painting Nagasepaha. The themes of glass painting students are grouped into several types namely, puppet themes and mythological figures, themes, themes of cartoon characters (imaginative), themes of interest, and the theme of nature.keyword : glass painting, extracurricular
SISTEM PENURUNAN KETERAMPILAN SENI LUKIS WAYANG KAMASAN OLEH I NYOMAN MANDRA I B SHINDU PRASETYA .; Drs.Agus Sudarmawan, M.Si. .; I Wayan Sudiarta, S.Pd., M.Si. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 9 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v9i1.17013

Abstract

SISTEM PENURUNAN KETERAMPILAN SENI LUKIS WAYANG KAMASAN OLEH I NYOMAN MANDRA Oleh Ida Bagus Shindu Prasetya, NIM 1412031025 Jurusan Pendidikan Seni Rupa ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) latar belakang murid I Nyoman Mandra dalam menimba keterampilan melukis wayang Kamasan, (2) tahapan-tahapan yang dikerjakan I Nyoman Mandra di dalam mengajarkan melukis wayang Kamasan pada muridnya, dan (3) hasil karya lukis para murid I Nyoman Mandra dalam pembelajaran melukis wayang Kamasan. Subjek dan objek penelitian ini adalah karya lukis I Nyoman Mandra sebagai referensi belajar murid-muridnya serta proses penurunan keterampilan seni lukis wayang Kamasan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik (1) observasi, (2) wawancara, (3) dokumentasi, dan (4) kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Hal yang melatarbelakangi murid-murid Nyoman Mandra untuk belajar melukis di Sanggarnya bukan hanya karena faktor ekonomi dan sekedar hobi, namun juga karena kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya yang sudah turun temurun. (2) Penurunan keterampilan melukis di sanggar Nyoman Mandra diawali dengan pemahaman tema untuk mengenal karakter dalam cerita pewayangan, dilanjutkan dengan pemahaman bentuk karakter wayang, seperti mata, hidung, mulut, kumis, wajah, hiasan gelung, telinga, sikap tangan, kaki, hiasan gelang tangan dan kaki, hiasan dada dan wastera sampai dengan hiasan-hiasan di luar tokoh wayang seperti hiasan bingkai, hiasan dalam ruang, hiasan batu-batuan dan hiasan pepohonan. Setelah itu diberikan pemahaman penempatan warna. (3) Hasil dari lukisan wayang Kamasan yang dibuat murid-murid dari sistem Aprentisip dan sistem Pewarisan memiliki tingkat kemiripan yang berbeda dengan hasil lukisan Nyoman Mandra, dimana hasil lukisan Wayang Kamasan dari anak-anak Nyoman Mandra lebih mendekati karya Nyoman Mandra sendiri dibandingkan dengan murid pada zaman dulu dan atau sekarang yang melalui sistem Aprentisip. Walaupun hasilnya berbeda, kedua sistem ini sama-sama memberi manfaat bagi para pebelajar antara lain mengembangkan sensitifitas, melatih kreativitas, membina sikap kecermatan, ketekunan, kerapian dan kerja sama. Selain itu, memupuk apresiasi terhadap hasil kerja keterampilan, memupuk bakat dan minat dalam keterampilan melukis Wayang Kamasan.Kata Kunci : wayang, kamasan THE INHERITANCE SYSTEM OF PAINTING SKILL OF KAMASAN PUPPET BY I NYOMAN MANDRA By Ida Bagus Shindu Prasetya, NIM 1412031025 Art Education Department ABSTRACT The objectives of this study were describing about (1) background of I Nyoman Mandra’s students in drawing on painting skill of Kamasan puppet, (2) the steps which were done by I Nyoman Mandra in teaching about painting Kamasan puppet to his students, and (3) the painting results by I Nyoman Mandra’s students in learning about painting Kamasan puppet. The subject and object of this study was the painting result by I Nyoman Mandra as a reference for his children to learn and the process of lowering painting skill of Kamasan puppet. This study was descriptive qualitative research. The methods of data collection in this study were used (1) observation, (2) interview, (3) documentation, and (4) literature. The result of this study showed that (1) it was the background for Mr. Mandra’s students to learn painting in his studio, not only because of economy factors and hobbies, but also the awareness of the importance of cultural preservation that has been declining for generations. (2) The lowering of painting skill in the Mr. Mandra’s studio was started with the understanding of themes to know the puppet’s characters, continued with the understanding of the shapes of the characters, such as eyes, nose, mouth, mustache, face, head ornament, ears, arms, legs, hands and legs ornaments, chest ornaments and another ornaments outside of the characters such as frame, decoration in room, rocks decoration, and trees decoration. Next was given the understanding of color placement. (3) The painting results from Kamasan puppet which were made by the students from Aprentisip system and inheritance system had similar level which was different with Mr. Mandra’s painting result where the painting of Kamasan puppet from his children were more closer to Mr. Mandra’s than Mr. Mandra’s students through Aprentisip system. Although the results were different, both systems gave benefits for learners such as developing sensitivity, training creativity, developing intelligence, perseverance, tolerance, and cooperation. On the other hand, it was fostering the appreciation of result of work skills and fostering talent and interest in painting Kamasan puppet.keyword : Puppet, Kamasan
Proses Pengajaran Mosaik Di SMK Negeri 1 Sukasada PUTU DUDIK ARIAWAN .; I Wayan Sudiarta, S.Pd., M.Si. .; Dr. I Ketut Sudita, M.Si .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 9 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v9i2.21509

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ditujukan untuk (1) Mendeskripsikan perencenaan pengajaran Mosaik di SMK Negeri 1 Sukasada. (2) mendiskripsikan proses pengajaran Mosaik di SMK Negeri 1 Sukasada.(3)Mengetahui hasil karya Mosaik siswa kelas XII Seni Murni di SMK Negeri 1 Sukasada. Pengumpulan data menggunakan meteode survey dengan empat teknik pengumpulan data yaitu: teknik observasi, teknik wawancara, teknik dokumentasi dan teknik kepustakaan. Seluruh data yang diperoleh dengan metode observasi, metode wawancara, dan metode kepustakaan, disusun berdasarkan urutan masalah, yaitu : data kelas XII Seni Murni, latar belakang, proses perencanaan pembelajaran Mosaik, proses pengajaran serta kelebihan dan kekurangan pengajaran Mosaik di SMK Negeri 1 Sukasada kemudian dianalisis dengan cara (1) Analisis Domain (Domain Analysis), (2) Analisis Taksonomi ( Taxsonomic Analysis). Tahapan terakhir setelah semua data terkumpul yaitu melakukan penyusunan hasil peneliti melalui guru pengajar produktif seni Murni yang mengajarkan materi praktik Mosaik di SMK Negeri 1 Sukasada. Penulisan penelitian ini berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dilapangan setelah melalui beberapa tahapan yakni observasi, wawancara, dokumentasi, analisis data, dan diakhiri dengan menyusun penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif, sehingga diperoleh gambaran umum tentang perencanaan pengajaran, proses pengajaran serta hasil akhir karya siswa kelas XII Seni Murni di SMK Negeri 1 Sukasada. Perencanaan Pengajaran Mosaik di SMK Negeri 1 sukasada tentu saja dengan penyiapan beberapa hal penting dalam pembelajaran yaitu; Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Media Pembelajaran, Sumber belajar, evaluasi. Kemudian Proses Pengajaran Mosaik di SMK Negeri 1 Sukasada dilakukan sesuai dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang tertera pada Rencana Relaksanaan Rembelajaran (RPP). Diawali dengan (1) pendahuluan, kemudian dilanjutkan dengan (2) Kegiatan Inti yang terdiri dari proses eklprorasi,elaborasi serta konfirmasi dan yang terakhir (3) penutupan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1)Perencanaan pengajaran Mosaik di SMK Negeri 1 Sukasada dilakukan dengan mempersiapkan silabus sebagai rambu rambu untuk pelaksanaan semua materi bahasan bahan pembelajaran satu bidang studi, kemudian RPP sebagai panduan langkah-langkah dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga menyiapkan media pembelajaran, sumber belajar dan evaluasi.(2) Proses pengajaran Mosaik di SMK Negeri 1 Sukasada memiliki tiga tahapan yang pertama yaitu pendahuluan yang terdiri dari delapan kegiatan yang dilakukan selama 10 menit. Kedua kegiatan inti memiliki tiga bagian kegiatan yaitu eksplorasi, elaboeasi dan konfirmasi.tahap terakhir yaitu penutup yang memiliki tiga kegiatan dilakuan selama 30 menit.(3) Karya Mosaik siswa kelas XII SMK Negeri 1 Sukasada dari tujuh karya siswa hanya dua karya yang dapat digolongkan sebagai karya Mosaik. Dan lima karya dapat digolongkan sebagai karya Kolase. Kata Kunci : Proses Pengajaran, Mosaik, SMK Negeri 1 Sukasada. This research is a descriptive study with a qualitative approach. The study was aimed at (1) Describing the planning of Mosaic teaching at SMK Negeri 1 Sukasada. (2) describe the process of teaching Mosaics at SMK Negeri 1 Sukasada (3) Knowing the work of Mosaics of class XII Pure Arts students at SMK Negeri 1 Sukasada. Data collection uses survey method with four data collection techniques, namely: observation techniques, interview techniques, documentation techniques and library techniques. All data obtained by the method of observation, interview methods, and literature methods, are arranged based on the order of the problems, namely: class XII Fine Arts data, background, the mosaic learning planning process, the teaching process as well as the advantages and disadvantages of teaching Mosaics at SMK Negeri 1 Sukasada then analyzed by (1) Domain Analysis, (2) Taxonomic Analysis. The final stage after all data has been collected is the preparation of the results of researchers through the teaching of productive Pure Arts teachers who teach Mosaic practice materials at SMK Negeri 1 Sukasada. The writing of this research is based on the facts found in the field after going through several stages, namely observation, interviews, documentation, data analysis, and ending with compiling research using qualitative descriptive methods, so that a general description of teaching planning, teaching process and the final results of student work is obtained. class XII Fine Arts at SMK Negeri 1 Sukasada. Mosaic Teaching Planning in SMK Negeri 1 Sukasada of course by preparing several important things in learning, namely; Syllabus, Learning Implementation Plan (RPP), Learning Media, Learning Resources, evaluation. Then the Mosaic Teaching Process at Vocational High School 1 Sukasada is carried out in accordance with the steps of the learning activities that are stated in the Learning Implementation Plan (RPP). It starts with (1) introduction, then continues with (2) Core Activities which consist of exploration, elaboration and confirmation processes and finally (3) closing. The conclusions of this study are (1) Mosaic teaching planning at SMK Negeri 1 Sukasada is carried out by preparing a syllabus as signposts for the implementation of all subject matter learning material in one field of study, then RPP as a guide for steps in the learning process. In addition, the teacher also prepares learning media, learning resources and evaluations. (2) The teaching process of Mosaics at SMK Negeri 1 Sukasada has the first three stages namely introduction which consists of eight activities carried out for 10 minutes. The two core activities have three parts of activities namely exploration, elaboeation and confirmation. The last stage is the closing which has three activities carried out for 30 minutes. Mosaic works. And five works can be classified as Collage works. keyword : Teaching Process, Mosaic, SMK Negeri 1 Sukasada.
PELATIHAN KERAJINAN DI LAPAS KELAS 2B SINGARAJA Miyya Mutiasaphira Ansi .; I Wayan Sudiarta, S.Pd., M.Si. .; Dr. I Nyoman Sila, M.Hum. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 9 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v9i3.23744

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) program pelatihan di Lapas Kelas 2B Singaraja, (2) proses pelatihan kerajinan di Lapas Kelas 2B Singaraja, (3) jenis produk kerajinan di Lapas Kelas 2B Singaraja. Subyek penelitian adalah warga binaan di Lapas Kelas 2B Singaraja. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Metoda pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Lapas Kelas 2B Singaraja telah menyediakan program pelatihan kerajinan yang berbahan dasar koran bekas dan berjalan secara rutin, guna memberikan pengalaman baru atau mengasah kemampuan warga binaan selama berada didalam Lapas, (2) Tidak ada mentor khusus dalam proses pelatihan kerajinan, sehingga warga binaan belajar secara otodidak dengan melihat, mencoba, dan juga dibantu para warga binaan yang lainnya jika ada kesulitan dalam proses pembuatan kerajinan. (3) jenis produk kerajinan yang dihasilkan warga binaan di Lapas Kelas 2B Singaraja antara : Bokor, Kotak Tissue, Sokasi, Miniatur Motor, dan Celengan.Kata Kunci : Pelatihan, Kerajinan. Lapas. This study aims to find out: (1) Training program in Singaraja Class 2B Prison, (2) the handcraft training process in Singaraja Class 2B Prison, (3) types of handicraft products in Singaraja Class 2B Prison. The subject of this study were inmates in Singaraja Class 2B Prison. Descriptive qualitative research design was used in this proposed study. Data collection methods used in this study were observation, interview, and documentation. The findings of the study revealed that (1) Singaraja Class 2B Prison has provided handcraft training programs that are made from used newspapers and has been run routinely, to provide new experiences or shape the abilities of the inmates while in prison. (2) There was no special mentor in the handcraft training process, so that the inmates learn by themselves through seeing, trying, and also assisted by other inmates if there were difficulties in the process of making handcrafts. (3) The types of craft products produced by the inmates resident in Singaraja Class 2B Prison are: Bokor, Tissue Box, Sokasi, Miniature Motorbike, and Piggy Bank.keyword : Training Program, Craft, Prison
Wayang Kulit Karya Putu Rekayasa di Desa Banjar Tegeha Ida Ayu Komang Sartika Dewi .; I Wayan Sudiarta, S.Pd., M.Si. .; I Nyoman Rediasa, S.Sn, M,.Si. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 10 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v10i1.29315

Abstract

Artikel ini merupakan bagian dari penelitian “Wayang Kulit Karya Putu Rekayasa di Desa Banjar Tegeha”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur wayang kulit berdasarkan konsep tri angga serta bentuk visual yakni ornament hias pada wayang kulit hasil karya Putu Rekayasa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, dokumentasi, data reduction, data display, lalu conclution drawing. Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan berupa dokumentasi wayang kulit yang menarik untuk dibahas secara aspek kerupaannya yang sesuai dengan tujuan penelitian. Sehingga dari proses pengumpulan data, ada enam figur wayang kulit yang digunakan sebagai sampel penelitian. Yakni figur wayang kulit Dewa Wisnu Murka atau Wisnu Murti, Sugriwa, Punakawan Tonglang dan Kenyot, lalu Kayonan Pintu Paduraksa. Hasil penelitian berupa (1) Struktur wayang kulit karya Putu Rekayasa yang terbangun dari tiga pembagian dengan konsep kosmologi hindu yakni Tri Angga, unsur visual seperti garis, bidang, dan warna (2) Detail wayang kulit yang di tatah dengan motif bias membah serta beberapa motif lain yang membentuk atribut asesoris serta busana pada figur wayang kulit.Kata Kunci : wayang kulit, struktur wayang kulit, bentuk visual wayang kulit This Article is part of the research entitled “Shadow Puppet By Putu Rekayasa in Banjar Tegeha Village” This thesis is aimed to describe the structure of shadow puppet based on tri angga concept and also the visual form like decoration ornament on the shadow puppet created by Putu Rekayasa. The data was collected with observation, documentation, data reduction, data display, and conclution drawing technique. In this thesis, the collected data were the documentation of shadow puppet which is interesting to be discussed for its appearance aspect that suits the aim of this thesis. From the collection of the data process, there were 6 figures of shadow puppets that were used as the sample of the thesis. There were the shadow puppets of The God of Wisnu Murka or Wisnu Murti, Sugriwa, Punakawan Tonglang and Kenyot, and Kayonan Pintu Paduraksa. The results of this thesis were (1) the structure of Putu Rekayasa's shadow puppet which made of three partition with the concept of Tri Angga (Hinduism Cosmology), and there were visual element like lines, fields, and colors (2) shadow puppet details with bias membah pattern and some other patterns which made the accessories and fashion atribute for the shadow puppet.keyword : shadow puppet, shadow puppet figure structures, shadow puppet ornament details.
Co-Authors ., Cadex Agus Arya Gunawan ., Febri Indra Laksmana ., Fitri Ayu Nurjannatin ., I Gede Dwitra N. Artista ., I Made Suastika Yasa ., I Wayan Gede Adiartha ., I Wayan Ginastra ., Made Karisma Dwi Yasa ., Putu Rendhi Kusuma Artha ., S. Gan. Tatang Sukandar A.A. Made Semariyani Aan Sopian Ade Ayu Wulan Suci Agata Viani Agus Sudarmawan Ahmad Fadli Alaa, Siti Anak Agung Gede Indraningrat Anak Agung Gede Rai Sedana . Anak Agung Made Dewi Anggreni Anak Agung Purwa Antara Ananda Nur Hidayah Ap’aluddin Baiq Fina Lestari Baiq Maoni Yarni Cadex Agus Arya Gunawan . Chorina Ika Ristanti Dalima, Yasniana Dalima Dewa Gede Semara Edi Dewa Made Johana . Drs. I Gusti Ngurah Sura Ardana,M.Sn. . Drs. I Gusti Nyoman Widnyana . Drs.Jajang S,M.Sn . Elsa Herdiana M Era Pazira Febri Indra Laksmana . Fitri Ayu Nurjannatin . Gede Eka Harsana Koriawan Gede Ngurah Oka Diputra Gusti Ayu Niatri Gusti Ayu Yunda Darma Patni Handayana, I Gusti Ngurah Yudi Herman Susanto I A.A Made Semariyani I B SHINDU PRASETYA . I Dewa Ayu Ketut Yunantariningsih I Dewa Gede Putra Ariawan . I Gde Suranaya Pandit I Gede Bagus Wisnu Bayu Temaja I Gede Dwitra N. Artista . I Gede Pasek I Gede Pasek Mangku I Gusti Agung Ayu Sucitra Ekaryani I Gusti Ayu Lani Triani I Gusti Made Budiarta I Kadek Bayu s . I Kadek Bayu s ., I Kadek Bayu s I Kadek Wiradinata I Ketut Sudita I Ketut Supir I Komang Sutarman . I Komang Tandingada . I Made Diana Dwi Putra . I Made Rosis Ariwangsa . I Made Rosis Ariwangsa ., I Made Rosis Ariwangsa I Made Suastika Yasa . I Made Yasna I Nengah Kapti I Nym Putra Purbawa . I Nyoman Rediasa I Nyoman Rediasa, S.Sn, M,.Si. . I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si . I Nyoman Rudianta I Nyoman Sila I Nyoman Sudiarka . I Putu Ari Wirawan . I Putu Candra I Putu Suhartawan . I Wayan Arinata . I Wayan Arinata ., I Wayan Arinata I Wayan Gede Adiartha . I Wayan Ginastra . I Wayan Nayun I Wayan Parwata I Wayan Sudiarta I Wayan Sweca Yasa Ida Ayu Komang Sartika Dewi . Ida Bagus Anom Sutanaya Jannatin Ardhuha Ketut Widiastra . Kormil Saputra LALU RUDYAT TELLY SAVALAS Langen Bronto Sutrisno Luh Suariani Luh Suartini . Luh Suriati M. Aditya Prayoga M.Si ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si Made Karisma Dwi Yasa . Mahardika Agus Wijayanti Mariam Lupita Kant Marzuki Marzuki Mega Safana Miyya Mutiasaphira Ansi . Muhamad Hendri Diarta Muhammad Amar Hikmalloh Muhammad Zahran Rasyid Sulaeman N.M.A. Suardani, S Nanda Nabila Maharani Ni Luh Putu Putri Setianingsih Ni Made Andira Padmarini Ni Made Ayu Suardani Ni Made Ayu Suardani Singapurwa Ni Made Darmadi Ni Nyoman Puspawati Ni Nyoman Sri Witari Ni Wayan Winianti Nuranita Nuranita Nurjamilah NURUL QOMARIYAH Oktavia Harti Ningsih Putri Julia Maemum PUTU DUDIK ARIAWAN . Putu Rendhi Kusuma Artha . Putu Suarya Putu Sutisna Putu Tegeh Kertiyasa . Qurratul Aini Rahadi Wirawan Ramadian Ridho Illahi Rohma Yuliani S. Gan. Tatang Sukandar . Sahril Sabirin Sang Ayu Made Agung Prasetiawati Djelantik Sarina Khairunnisa Semariyani, A.A.Made Sendi Nur Aulia Siti Nurkhaliza Subaiah Marlina Teguh Ardianto, Teguh Thufail Mujaddid Al-Qoyim Ulfa Dwiyanti Wati, Ni Made Serma Yuhendra AP