Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Jurnal Bios Logos

Pemberian Ekstrak Daun Kiara Payung (Filicium decipiens (Wight dan Arn.) Thwaites) sebagai Bioherbisida terhadap Pertumbuhan Gulma Babadotan (Ageratum conyzoides L.) Rana, Dona Cindy Elfira; Rondonuwu, Sendy; Koneri, Roni
JURNAL BIOS LOGOS Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.11.2.2020.28153

Abstract

ABSTRAKGulma babadotan merupakan masalah serius dalam bidang pertanian karena dapat menurunkan nilai kualitas maupun kuantitas dari tanaman budidaya. Kehadiran gulma dapat diatasi menggunakan senyawa alelokimia dari kiara payung (Filicium decipiens). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian ekstrak daun kiara payung terhadap pertumbuhan tinggi, panjang akar, berat basah dan berat kering dari gulma babadotan (Ageratum conyzoides). Metode yang digunakan yaitu metode rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan yaitu kontrol, ekstrak 1%, ekstrak 3%, ekstrak 5% dan herbisida sintetik 2%. Uji lanjut BNT taraf 95% menunjukkan bahwa setelah lima minggu perlakuan terdapat perbedaan yang nyata pada parameter tinggi tanaman antara perlakuan kontrol (33,4 cm), ekstrak 3% (27,6 cm), ekstrak 5% (21,4 cm) dan herbisida sintetik 2% (14,1 cm). Hasil uji lanjut Games-Howell taraf 95% menunjukkan bahwa panjang akar perlakuan kontrol (32,0 cm) tidak berbeda nyata dengan perlakuan ekstrak, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan herbisida sintetik 2% (3,7 cm). Pada parameter berat basah perlakuan kontrol (33,81 g) tidak berbeda nyata dengan perlakuan ekstrak tetapi berbeda nyata dengan perlakuan herbisida sintetik 2% (0,12 g) dan pada parameter berat kering babadotan tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan kontrol (6,86 g) dengan perlakuan ekstrak, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan herbisida sintetik 2% (0,04 g). Kata kunci: Kiara payung; bioherbisida; gulma babadotan;ekstrak ABSTRACTBabadotan weed is a serious problem for agriculture field because this weed can reduce the quality and quantity value from the cultivated plants. Existence of this weed can control with allelochemical compound from kiara payung (Filicium decipiens). This study aims to examine the effect of giving kiara payung leaf extract for growth, root length, wet and dry weight of babadotan (Ageratum conyzoides) weed. The method use is complete random design method with five treatments that is control, 1% extract, 3% extract, 5% exract and 2% synthetic herbicide. Further test BNT 95% show after five weeks treatment there were significant differences in plant height parameter between control (33.4 cm), 3% extract (27.6 cm), 5% extract (21.4 cm) and 2% synthetic herbicide (3.7 cm). Further test of Games-Howell 95% in root length show no significant between control (32.0 cm) and extract treatment, but significant in 2% synthetic herbicide (3.7 cm). In wet weight, control treatment (33.81 g) no significant with extract but significant in 2% synthetic herbicide (0.12 g), and in dry weight parameter no significant between control (6.86 g) and extract, but significant in 2% synthetic herbicide (0.04 g).Keywords: Kiara payung; bioherbicide; babadotan weed; extract
Uji Ekstrak Daun Tithonia diversifolia sebagai Penghambat Daya Makan Nilaparvata lugens Stal. pada Oryza sativa L. (Evaluation of Tithonia diversifolia Leaf Extract as Feeding Capacity Inhibitor of Nilaparvata lugens in Oryza sativa L.) Mokodompit, Tri A.; Koneri, Roni; Siahaan, Parluhutan; Tangapo, Agustina M
JURNAL BIOS LOGOS Vol 3, No 2 (2013): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.3.2.2013.4430

Abstract

AbstrakWereng Batang Coklat (WBC) (Nilaparvata lugens Stal.) merupakan serangga hama yang dapat merusak tanaman padi (Oryza sativa L.). Tanaman kipait (Tithonia diversifolia) berpotensi sebagai insektisida nabati karena memiliki senyawa toksik terhadap serangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktifitas makan akibat pemberian ekstrak daun kipait. Konsentrasi ekstrak daun kipait yang digunakan adalah 0% (kontrol), 1%, 3%,5% dan 7% dalam RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun kipait berpengaruh terhadap penghambatan daya makan WBC. Penghambatan makan tertinggi terjadi pada konsentrasi 7% setelah 24 jam.Kata kunci : penghambatan daya makan, Nilaparvata lugens Stal., Tithonia diversifoliaAbstractBrown planthopper (BPH) (Nilaparvata lugens Stal.) Is an insect pest that can damage rice plants (Oryza sativa L.). Kipait (Tithonia diversifolia) is potential as a bioinsecticide because it is toxic to insects. This study aimed to evaluate the feeding activity that was influenced by kipait leaf extract. The concentration of kipait leaf extract were 0% (control), 1%, 3%, 5% and 7%. The experiment design was CRD (completely randomized design) with 5 replications. The results showed that the kipait leaf extract influenced the feeding inhibition of BHP. The highest inhibition occurred in the concentration of 7% after 24 hours treatment.Keywords : brown planthopper, feeding inhibition, Tithonia diversifolia
Keanekaragaman Kupu-kupu (Lepidoptera) di Kampus Universitas Sam Ratulangi, Manado (Diversity of Butterfly (Lepidoptera) in Campus of Sam Ratulangi University, Manado) Mogan, Yakobus; Koneri, Roni; Baideng, Eva
JURNAL BIOS LOGOS Vol 8, No 2 (2018): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.8.2.2018.23357

Abstract

Keanekaragaman Kupu-kupu (Lepidoptera) di Kampus Universitas Sam Ratulangi, Manado(Diversity of Butterfly (Lepidoptera) in Campus of Sam Ratulangi University, Manado) Yakobus Mogan1*), Roni Koneri1), Eva Lienneke Baideng1)1) Program Studi Biologi, FMIPA Universitas Sam Ratulangi Manado, 95115*Email korespondensi: moganyakobus@gmail.com Diterima 7 Agustus 2018, diterima untuk dipublikasikan 31 Agustus 2018 Abstrak Kupu-kupu merupakan salah satu jenis serangga dari Ordo Lepidoptera yang memiliki kombinasi corak warna yang variatif dan sebagai salah satu satwa penyerbuk pada tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis keanekaragaman spesies kupu-kupu yang terdapat di kampus Universitas Sam Ratulangi. Pengambilan sampel dilakukan dari bulan Februari sampai Juni 2018 di kampus Univesitas Sam Ratulangi, Manado. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dengan pengambilan sampel secara purporsif.  Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sweeping yang diterapkan secara acak sepanjang 150 m. Hasil penelitian menunjukan bahwa kupu-kupu di kampus Universitas Sam Ratulangi ada 29 spesies yang termasuk dalam 5 famili yaitu Papilionidae, Nymphalidae, Pieridae, Lycaenidae dan Hesperidae. Spesies kupu-kupu yang paling banyak ditemukan yaitu Zizina otis. Famili yang banyak ditemukan yaitu famili Nymphalidae dengan jumlah spesies sebanyak 10 spesies.Kata Kunci: keanekaragaman, kupu-kupu, Nymphalidae, Universitas Sam Ratulangi  Abstract Butterflies are one type of insect from the Order of Lepidoptera which has a variety of combinations of colors and as one of the pollinators in the process of flower fertilization. This research aims to identify and analyze butterfly species diversity that exist within Sam Ratulangi University. The sampling was taken from February until June 2018 at Sam Ratulangi University, Manado. The research method was survey through purposive sampling method. The sampling was conducted by using sweeping technique that was performed randomly as long as 150 m. The results of the research shows that there are 29 species of butterflies that exist within the area of Sam Ratulangi University and they are categorized into 5 families, they are: Papilionidae, Nymphalidae, Pieridae, Lycaenidae and Hesperidae. The most common butterfly species is Zizina otis. The family that is commonly found is the Nymphalidae family with 10 species.Keywords: diversity,butterfly,Nymphalidae,Sam Ratulangi University
Kelimpahan Populasi Capung Jarum (Zygoptera) di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara (Population Abundance of Damselfly (Zygoptera) in Bogani Nani Wartabone National Park, North Sulawesi) Wakhid, Wakhid; Koneri, Roni; Tallei, Trina; Maabuat, Pience V
JURNAL BIOS LOGOS Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.4.2.2014.5234

Abstract

Abstrak Capung jarum (Zygoptera) berperan penting bagi keberlangsungan ekosistem.Pada suatu ekosistem, serangga ini berfungsi sebagai agen pengendali hayati dan bioindikator lingkungan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan capung jarum yang ada pada tiga habitat di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara.Pengambilan sampel dilakukan secara purposive random sampling. Koleksi capung jarum  menggunakan teknik sweepingmengikuti garis transek sepanjang 500 m pada setiap tipe habitat. Jumlah transek pada setiap tipe habitat sebanyak 3 garis transek yang dibuat sepanjang aliran sungai.Hasil penelitian didapatkan sebanyak 13 spesies capung jarum yang terdiri dari 4 famili, yaitu Coenagrionidae, Chlorocypidae, Calopterygidae, dan Platycnemididae. Famili yang paling banyak ditemukan jumlah spesiesnya adalah Coenagrionidae, sedangkan yang paling sedikit Platycnemididae. Berdasarkan tipe habitat, jumlah spesies yang paling banyak ditemukan di hutan primer sedangkan yang paling sedikit di hutan sekunder.Kelimpahan capung jarum tertinggi terdapat pada lahan pertanian, sedangkan kelimpahan terendah pada habitat hutan primer Kata kunci : capung jarum, Taman Nasonal Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara Abstract Damselfly (Zygoptera) plays important roles in the environment and this organism ia able to be used as biocontrol and bioindicator. This research was aimed to analyze the abundance of damselfly that werelocated at three different habitats in Bogani Nani Wartabone National Park, North Sulawesi. The purposive random sampling method was used to collect the samples. Damselflies were taken by using sweeping technique following 500 m transect line in each habitat. There were three transect lines in each habitat located along the river. The results showed that there were thirteen species from 4 families (Coenagrionidae, Chlorocypidae, Calopterygidae, and Platycnemididae) of damselfly. Most species were members of Coenagrionidae whereas the others werePlatycnemididae Family. Based on the types of habitat, the highest number of species was found in the primary forest, whereas the smallest number was in the secondary forest. Greatest the abundance of damselfly was the largest in the agricultural area and the smallest was in the primary forest. Keywords: damselfly, Bogani Nani Wartabone National Park, North Sulawesi
Kajian Morfologi Daluga (Cyrtosperma merkusii (Hassk.) Schott) di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Study on the morphology of daluga (Cyrtosperma merkusii (Hassk.) Schott) in Sangihe Archipelago, North Sulawesi) Julianti, Eka; Simbala, Herny E.I.; Koneri, Roni; Pelealu, Johanis
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 2 (2012): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.2.2012.1043

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari morfologi daluga di Kepulauan Sangihe dan korelasinya dengan kondisi iklim setempat. Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi yang berbeda, yaitu Tamako, Manganitu Selatan dan Tatoareng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daluga tumbuh pada ketinggian 3-24 m di atas permukaan laut dengan suhu udara 26 – 38 oC, suhu air 25 – 30 oC, kelembaban relatif 33 – 70 %, pH 5-7 dan salinitas 5-10 ppm. Morfologi daluga berbeda di ketiga lokasi pengamatan. Perbedaan yang dimaksud mencakup panjang dan berat helaian daun, panjang tulang daun utama, basal kiri dan kanan, tebal tulang daun bagian pangkal, jarak tulang daun lateral dan lebar celah daun, panjang dan diameter tangkai daun, jumlah duri, lebar spatha, diameter spadix, panjang bunga betina, bunga jantan dan bunga mandul, serta diameter dan berat kormus. Suhu udara dan air berkorelasi negatif dengan diameter kormus, tetapi kelembaban berkorelasi positif dengan diameter kormus. pH berkorelasi negatif dengan berat helaian daun, salinitas berkorelasi negatif dengan lebar spatha, tetapi elevasi berkorelasi positif dengan lebar spatha. Kata kunci: daluga, kondisi iklim, morfologi ABSTRACT This research aimed to study daluga morphology in Sangihe Archipelago and the correlation of morphology and climate conditions. The research was conducted in  three different locations, i.e. Tamako, South Manganitu and Tatoareng. The result showed that daluga grew at 3 – 24 m above the sea level with the air temperature 26 – 38 oC, water temperature 25 – 30 oC, relative humidity 33 – 70 %, pH 5-7 and salinity 5 – 10 ppm. There are some morphological differences of daluga in Tamako district, South Manganitu and Tatoareng. These differences  included the length and weight of leaf blade, the length of the main leaf blade, left and right basal, the thickness of base blade, the distance between lateral blade and leaf sinus denuding, the length and diameter of petiole, number of spines, spatha width, spadix diameter, flowers length, diameter and weight of cormus. The temperature of air and water were negatively correlated with diameter cormus, but the humidity was positively correlated with the cormus diameter. pH was negatively correlated with the weight of leaf blade, the salinity was negatively correlated with the spatha width, but the elevation was positively correlated with the spatha width. Keywords: daluga, climate condition, morphology
Biodiversitas Mangrove di Pulau Mansuar Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat (The Biodiversity of Mangrove in the Mansuar Island Raja Ampat District West Papua Province) Mayor, Troce; Simbala, Herny EI; Koneri, Roni
JURNAL BIOS LOGOS Vol 7, No 2 (2017): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.7.2.2017.18576

Abstract

Abstrak            Hutan mangrove merupakan formasi hutan yang tumbuh dan berkembang pada daerah landai di muara sungai dan pesisir pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan pantai berlumpur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biodiversitas mangrove di Pulau Mansuar Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Metode yang digunakan yaitu transek kuadrat. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 6 famili 11 spesies dan 554 individu mangrove. Komposisi individu tertinggi dimiliki oleh spesies Rhizophora apiculata, sedangkan terendah yaitu spesies Xylocarpus rumpii. Indeks keanekaragaman, kekayaan, dan kelimpahan spesies mangrove pada semua tingkat pertumbuhan tertinggi pada stasiun 3, sedangkan terendah pada stasiun 1. Berdasarkan besaran kriteria yang dikemukakan oleh Shannon-Weiner maka indeks keanekaragaman mangrove di Pantai Yenbubua, Kepulauan Mansuar tergolong kategori sedang. Kata kunci: biodiversitas, kekayaan spesies, Pulau Mansuar, Rhizophora apiculata. Abstract Mangrove forests are forest formations that grow and flourish in slopes at the mouth of the rivers and coastal areas that are affected by tidal sea water and muddy beaches. This study aimed to analyze the biodiversity of mangroves in Mansuar Island, Raja Ampat District, West Papua Province. The method used was quadrat transects. The results of the study showed that there were 6 families of 11 species and 554 individuals. The highest composition of the individual mangrove species was Rhizophora apiculata, while the lowest composition was Xylocarpus rumpii.  The highest diversity index, richness, and abudance spesies in a various growth rate were observed in the station 3, while these lowest parameters were found in the station 1. Based on the magnitude of the criteria proposed by Shannon-Weiner, the index of mangrove diversity in Yenbubua Beach, Mansuar Islands was classified as medium category. Keywords: biodiversity, Mansuar Island, Rhizophora apiculata, species richness    
Keanekaragaman Kupu-Kupu di Bendungan Ulung Peliang Kecamatan Tamako Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara Hengkengbala, Sabatini; Koneri, Roni; Katili, Deidy
JURNAL BIOS LOGOS Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.11.2.2020.28424

Abstract

ABSTRAKKupu-kupu merupakan serangga yang termasuk dalam ordo Lepidoptera. Serangga tersebut memiliki peranan yang penting dalam suatu ekosistem yaitu mempertahankan keseimbangan ekosistem dan memperkaya keanekaragaman hayati di alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman kupu-kupu di kawasan Bendungan Ulung Peliang, Kecamatan Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Teknik pengambilan sampel menggunakan metoda transek. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga tipe habitat yaitu habitat pinggir bendungan, hutan dan kebun. Pada masing-masing habitat dibuat transek dengan panjang 300m. Pengambilan sampel kupu-kupu dilakukan sepanjang garis transek menggunakan sweepnet. Komposisi kupu-kupu yang diperoleh terdiri dari 5 famili, 30 spesies dan 463 individu. Famili yang paling banyak ditemukan jumlah spesies dan individunya adalah Nymphalidae. Spesies yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah Junonia hedonia intermedia dan Eurema tominia. Analisis keanekaragaman didapatkan bahwa indek kekayaan, indek keanekaragaman dan indek kemerataan spesies kupu-kupu tertinggi ditemukan pada habitat kebun, sedangkan kelimpahan spesies tertinggi terdapat pada habitat pinggir bendungan.Kata kunci: Keanekaragaman; kupu-kupu; Bendungan Ulung Peliang; Kepulauan SangiheABSTRACTButterflies are insects that are included in the order Lepidoptera. Theses insects have an important role in ecosystem that is to maintain the balance of the ecosystem and enrich the biodiversity in nature. This study aims to analyze the diversity of butterflies in the area of Ulung Peliang Dam, Tamako District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi. The sampling technique used the transect method. Sampling has been carried out in three types of habitats namely dam, forest and garden habitat. Each transect has been made with a length of 300m. Butterfly sampling was carried out along the transect line using. The composition of butterflies that habve been obtained consisted of 5 families, 30 species and 463 individuals. The most abundant family with a number of species and individuals is Nymphalidae. Species that have the highest abundance are Junonia hedonia intermedia and Eurema tominia. Diversity analysis found that the highest wealth index, diversity index and evenness species of butterfly species were found in the garden habitat, while the highest species abundance was in the dam edge habitat. Keywords: Diversity; butterfly; Ulung Peliang Dam; Sangihe Islands.
Keanekaragaman Serangga Penyerbuk di Perkebunan Sayuran Kelurahan Rurukan Kota Tomohon (Diversity of Pollinator Insects in the Vegetable Plantation of Rurukan, Tomohon City) Masawet, Samuel; Koneri, Roni; Dapas, Farha
JURNAL BIOS LOGOS Vol 9, No 2 (2019): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.9.2.2019.25452

Abstract

Keanekaragaman Serangga Penyerbuk di Perkebunan Sayuran Kelurahan Rurukan Kota Tomohon (Diversity of Pollinator Insects in the Vegetable Plantation of Rurukan, Tomohon City) Samuel Masawet, Roni Koneri*), Farha N.J.Dapas Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia*E-mail: ronicaniago@unsrat.ac.id Diterima 5 Juli 2019, diterima untuk dipublikasi 10 Agustus 2019 ABSTRAKKehadiran serangga penyerbuk sangat berperan penting dalam proses penyerbukan. Hal ini disebabkan karena serangga tersebut mentransfer tepungsari dari anther ke stigma yang menyebabkan terjadinya pembuahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman serangga penyerbuk di perkebunan sayuran di Kelurahan Rurukan Kota Tomohon. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga tipe lahan yaitu perkebunan labu siam, wortel, dan pinggir hutan. Pada masing-masing titik pengambilan sampel dibuat tiga plot berukuran 20m x 20m dengan jarak antar plot 20 m. Teknik pengamatan serangga penyerbuk menggunakan metode scan sampling. Hasil penelitian didapatkan 14 famili yang terdiri dari 24 spesies dan 2.185 individu. Ordo yang paling banyak ditemukan adalah Hymenoptera, sedangkan spesies yang memiliki kelimpahan tertinggi yaitu Apis nigrocincta. Keanekaragaman spesies penyerbuk tertinggi ditemukan pada lahan perkebunan wortel. Keanekaragaman spesies penyerbuk dipengaruhi oleh tipe perbunggaan, warna bunga, bau bunga dan kandungan nektar dari bunga. Kata kunci: Keanekaragaman, serangga penyerbuk, lahan pertanian, Desa Rurukan  ABSTRACTThe presence of insect pollinators plays an important role in pollination processes. This is because the insects transfer the Tepungsari from anther to the stigma that causes the occurrence of fertilization. This research aims to analyse the diversity of insect pollinators in vegetable plantations in the village of Rurukan in Tomohon. Sampling was carried out on three types of land namely pumpkin plantations, carrots, and forest edges. At each sampling point was made three plots measuring 20 m x 20 m with a distance between plot was 20 m. Insect pollinators observation technique using sampling scan method. The results of the study gained 14 families consisting of 24 species and 2,185 individuals. The most widely discovered order was Hymenoptera, while the species which has the highest abundance was Apis nigrocincta. The highest diversity of the pollinator species was found on carrot plantation land. The diversity of pollinator species is influenced by the type of flowering, color of flowers, smell of flowers and the nectar content of flowers. Keywords: Diversity, pollinators Insects, agricultural land, Rurukan village. 
Keanekaragaman dan Pemanfaatan Tanaman Pekarangan di Desa Taripa, Kecamatan Pamona Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah Tobondo, Vanda Evanglin; Koneri, Roni; Pandiangan, Dingse
JURNAL BIOS LOGOS Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.11.1.2021.32135

Abstract

(Article History: Received January 14, 2021; Revised February 15, 2021; Accepted February 28, 2021) ABSTRAK Pekarangan merupakan sebidang tanah yang di atasnya terdapat bangunan tempat tinggal dan dapat dibudidayakan berbagai spesies tanaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis keanekaragaman dan pemanfaatan tanaman pekarangan di Desa Taripa, Kecamatan Pamona Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Pengambilan sampel berdasarkan luas pekarangan yaitu kategori sempit (100-200 m2), sedang (300-400 m2) dan luas (500-600 m2). Pada setiap kategori diambil 10 sampel pekarangan dan dicatat seluruh spesies tanaman yang terdapat pada pekarangan tersebut. Pemanfaatan tanaman ditentukan berdasarkan alasan penanaman dengan wawancara langsung dengan pemilik pekarangan.  Analisis data meliputi kelimpahan, indek kekayaan, indek keanekaragaman dan indek kemerataan spesies tanaman. Hasil didapatkan sebanyak 64 famili yang terdiri dari 155 spesies dan 1265 individu. Famili yang banyak ditemukan jumlah spesiesnya adalah Araceae.  Spesies yang memiliki kelimpahan tertinggi yaitu Garcinia mangostana dan Curcuma longa. Kelimpahan spesies tertinggi pada lahan pekarangan katagori luas. Keanekaragaman dan kekayaan spesies tanaman tertinggi pada lahan pekarangan kategori sempit, sedangkan kemerataan pada lahan kategori sedang. Habitus tanaman yang banyak dimanfaatkan adalah herba. Organ tanaman yang dimanfaatkan umumnya daun, sedangkan pemanfaatan tanaman pekarangan banyak digunakan sebagai sumber pangan. Kata kunci: Keanekaragaman; Garcinia mangostoma; herba; daun. ABSTRACTYard is a plot of land on which there are residential buildings and various plant species can be cultivated. This research aims to analyze the diversity and utilization of garden plants in Taripa Village, East Pamona District, Poso Regency, Central Sulawesi. Sampling was based on the area of the yard, namely the narrow (100-200 m2), medium (300-400 m2) and broad (500-600 m2). In each category, 10 samples of the yard were taken and recorded all plant species found in the yard. The use of plants is determined based on the reasons for planting by direct interviews with the owners of the yards. Data analysis includes abundance, Richness index, diversity index and index evenness of plant species. The results obtained were 64 families consisting of 155 species and 1265 individuals. The family with the most number of species found is Araceae. The species that had the highest abundance were Garcinia mangostana and Curcuma longa. The highest species abundance was in the large yard area. The highest diversity and richness of plant species was in the narrow category land, while evenness was in the medium category. Plant habitus that is widely used is herbaceous. The plant organs that are used are generally leaves, while the use of garden plants is widely used as a food source.  Key words: Diversity; Garcinia mangostoma; herb; leaf.
Keanekaragaman dan Pemanfaatan Tanaman Obat pada Pekarangan di Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara Lestari, Dewi; Koneri, Roni; Maabuat, Pience Veralyn
JURNAL BIOS LOGOS Vol 11, No 2 (2021): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.11.2.2021.32017

Abstract

(Article History: Received January 12, 2021; Revised March 8, 2021; Accepted April 7, 2021) ABSTRAKTanaman obat merupakan tanaman yang memiliki komponen aktif dan diyakini oleh masyarakat dapat menyembuhkan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman dan pemanfaatan tanaman obat pada pekarangan di Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pemilihan responden dilakukan dengan metoda snowball sampling. Hasil penelitian didapatkkan sebanyak 25 famili, yang terdiri dari 46 spesies dan 2691 individu tanaman obat. Famili yang banyak ditemukan jumlah spesies dan individunya adalah Zingeberaceae, merupakan famili yang banyak ditemukan jumlah spesies dan individunya. Spesies yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah Sauropus androgynus, kemudian Zingiber officinale dan Curcuma longa. Indek kekayaan, keanekaragaman dan kemerataan spesies tertinggi pada pekarangan Suku Jawa. Bentuk hidup tanaman obat yang paling banyak ditemukan adalah herba dan perdu. Daun merupakan bagian tanaman yang banyak dimanfaatkan untuk tanaman obat dan proses pengolahan umumnya dengan cara direbus.  Pemanfaatan tanaman obat pekarangan oleh masyarakat dapat digunakan untuk mengobati 18 jenis penyakit.Kata kunci: Tanaman obat; Zingiberaceae, Sauropus androgynus, herba.  ABSTRACTMedicinal plants are plants that have active components and are believed by the community to cure diseases. This study aims to analyze the diversity and utilization of medicinal plants in the yard in North Dumoga, Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi. The sampling method used was purposive sampling. The selection of respondents was carried out using the snowball sampling method. The results of the study were 25 families, consisting of 46 species and 2691 individual medicinal plants. The family with the highest number of species and individuals was Zingeberaceae, which was the family with the highest number of species and individuals. The species with the highest abundance were Sauropus androgynus, then Zingiber officinale and Curcuma longa. The highest index of species richness, diversity and evenness was in the Javanese tribe. The most common forms of medicinal plant life are herbs and shrubs. Leaves are part of a plant that is widely used for medicinal plants and in general processing by boiling. The use of yard medicinal plants by the community can be used to treat 18 types of diseases.Key words: Medicinal plants; Zingiberaceae, Sauropus androgynus, herb.
Co-Authors Abas, Abdul Hawil Adelfia Papu Aisyah, Nur’ Akbar Arafah Embo, Akbar Arafah Angelia Elisabeth Andries Asari Asari, Asari Baideng, Eva Ballamu, Larry Lowrend Basna, Mailani BEIVY JONATHAN KOLONDAM Celine Rani Kaligis Claudius F. Kairupan, Claudius F. DAMAYANTI BUCHORI Dapas, Farha D.J. Debry C Lamatoa Deidy Katili Dewi Lestari DINGSE PANDIANGAN Eka Julianti Eko Handoyo Eko Handoyo Eko Wahyu Handoyo Fabiolani, Fidelia Anninda Farha Dapas, Farha Florencia Sompie Friska S. Panjaitan Gladyes V. Leba Gobel, Iga Mawarni Grasideo V.E. Pelealu Hanny Pontororing Hapry Lapian Hard N. Pollo Hengkengbala, Sabatini Herny E.I. Simbala Hesky Stevy Kolibu Jacqueline Joseph Jayanti , Meilani Johanis Pelealu Jooudie N. Luntungan Juliana Mabe -, Juliana Mabe Jumriadi Junivia Virginia Jermias Kaligis, Celine Rani Lapian, Hapry Lino, Juniati Loho, Jesicca Lomboan, Agustinus Mamahit, Juliet Merry Eva Marina F. O. Singkoh Marnix L Langoy Marnix Langoy Martha Kawatu Masawet, Samuel Mawuntu, Estalina Mayor, Troce Mega Tilaar, Ribka Meis Nangoy Modeong, Adelia S. Mogan, Yakobus Mylton Mantouw Mylton Mantouw, Mylton Nangoy, Meis Nengsih, Reskiyah Onibala, Jane Parluhutan Siahaan Pelealu, Grasideo V.E. Pelokang, Chrisye Yustitia Pience Maabuat Pience Maabuat Pience Maabuat Pience V Maabuat Pience V Maabuat Pience Veralyn Maabuat Pience Veralyn Maabuat Pience Veralyn Maabuat Pience Veralyn Maabuat Podung, Albert Pontoh, Citra Julia Putri Tesalonika Rondonuwu Rana, Dona Cindy Elfira Ratna Siahaan Ratna Siahaan Regina R. Butarbutar Regina Rosita Butarbutar Rifgah Marmita Rivandi Patuti, Ayid Rooije R.H. Rumende Rooije R.H. Rumende Rudi Tarumingkeng Rumbay, Julia Angel Saroyo Saroyo Selvie Tumbelaka Sendy Rondonuwu, Sendy Setiawan, Denny Christian Sitti Nur Isnian Sofia Wantasen Suprianus Zega Sylvia Laatung Sylvia Laatung Taarape, Jeane Taarape, Taarape Tangapo, Agustina Monalisa Tanjung, Gadis Sabrina TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN Tilaar, Ribka Mega Tiltje Ransaleleh, Tiltje Tobondo, Vanda Evanglin Tri A. Mokodompit Trina E. Tallei, Trina E. TRINA EKAWATI TALLEI Trina Ekawati Tallei Trina Tallei Wakhid Wakhid Wijaya, Pandu Yudi Candra