Claim Missing Document
Check
Articles

JURIDICAL REVIEW OF LEGAL PROVISIONS FOR THE IMPLEMENTATION AND UTILIZATION OF THE CONVERSION OF FOREST LAND INTO CAPITALISTS-ORIENTED PLANTATIONS Elly Kristiani Purwendah; Daniel Joko Wahyono
Ganesha Law Review Vol. 6 No. 2 (2024): November
Publisher : Program Studi Ilmu Hukum, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/glr.v6i2.4166

Abstract

This research aims to find out how the legal provisions for the implementation and use of land conversion into plantation forests are capitalistic oriented. This research uses a normative juridical research method with a type of approach, namely a statutory and regulatory approach and a conceptual approach. The legal materials used are primary, secondary and tertiary legal materials, obtained by conducting literature studies. The results of the research show that the conversion of forest land into plantation land is stated in Government Regulation Number 64 of 1957 concerning Forestry Deregulation, Law Number 5 of 1967 concerning Forestry and was later replaced by Law Number 41 of 1999. In its implementation the existing regulations It turns out that this has not been rooted in the legal ideology, social system and political system of the constitution, and the Basic Agrarian Principles regulations. It seems that the use of forests that is managed and oriented towards capitalists cannot be used as a measure of the government's success in economic development, considering that there are still many inequalities and problems that have occurred so far. Considering the negative impacts rather than the function of land which is increasingly expanding and wasted.
PENEGAKAN DISIPLIN PELAKU PELANGGARAN KODE ETIK KEPOLISIAN NASIONAL TIMUR LESTE SEBAGAI WUJUD PEMBINAAN APARATUR KEPOLISIAN NEGARA YANG TAAT HUKUM Sabino Freitas; Seguito Monteiro; Jose Agostinho D.B.P; Elly Kristiani Purwendah
Ganesha Law Review Vol. 6 No. 2 (2024): November
Publisher : Program Studi Ilmu Hukum, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/glr.v6i2.4210

Abstract

The enforcement of law carried out by the National Police of Timor-Leste in performing its state duties encompasses maintaining public security and order as a form of providing protection, guidance, and service to the community. This research aims to identify the factors causing members of the National Police of Timor-Leste in Baucau Municipality to abandon their duties and violate the code of ethics. The study employs an empirical juridical approach. The findings indicate that the application of sanctions for violations of the code of ethics within the National Police of Timor-Leste is based on prevailing laws and regulations. Over five years, punishments included verbal reprimands for 32 officers, written reprimands for 21 officers, and suspension from duty for 12 officers.
PRINSIP KEHATI-HATIAN (PRECAUTIONARY PRINCIPLE) DALAM PENCEMARAN MINYAK AKIBAT KECELAKAAN KAPAL TANKER DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA Purwendah, Elly Kristiani
Jurnal Media Komunikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 2 No. 1 (2020): April
Publisher : Program Studi PPKn Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Undiksha Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prinsip kehati-hatian sebagai pengaman dalam kegiatan atau usaha yang berdampak pencemaran bagi lingkungan laut diterapkan dalam sistem hukum nasional melalui peran sentral syahbandar sebagai administrator pelabuhan. prinsip kehati-hatian diterjemahkan melalui bagaimana syahbandar berperan secara administratif mengamankan berbagai hal di awal kegiatan pelayaran laut kapal tanker melalui perijinan dan persyaratan kapal. Syahbandar dalam melaksanakan tugas administratifnya sebagai sebuah perwujudan penerapan prinsip kehati-hatian diwujudkan dalam hal, penyelenggaraan fungsi pelaksanaan pengawasan dan pemenuhan kelaik lautan kapal. Pelaksanaan pengawasan dan pemenuhan fungsi kelaik lautan kapal, sertifikasi keselamatan kapal, pencegahan pencemaran dari kapal dan penetapan status hukum kapal, melaksanakan pemeriksaan managemen keselamatan kapal, melaksanakan pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran terkait dengan kegiatan bongkar muat barang berbahaya dan beracun (B3), pengisian bahan bakar, ketertiban embarkasi dan debarkasi penumpang, pembangunan fasilitas pelabuhan, tertib lalu lintas di perairan pelabuhan dan alur pelayaran, pemanduan kapal serta penerbitan surat persetujuan berlayar. Prinsip kehati-hatian terhadap bahaya di laut dalam hal ini termasuk bahaya pencemaran sudah diantisipasi diawal melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) yang dipimpin oleh seorang Syahbandar dengan didukung oleh struktur organisasi yang meliputi lingkup administrasi dan penegakkan hukum. Bagian-bagian organisasi tersebut meliputi lima bidang yaitu, sub bagian tata usaha, seksi status hukum dan sertifikasi kapal, seksi keselamatan berlayar, penjagaan dan patroli, dan seksi lalu lintas dan angkutan laut serta usaha kepelabuhanan.
NILAI KEADILAN GANTI KERUGIAN PENCEMARAN MINYAK AKIBAT KECELAKAAN KAPAL TANKER DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA Elly Kristiani Purwendah
Ganesha Civic Education Journal Vol. 4 No. 2 (2022): October, Ganesha Civic Education Journal
Publisher : Program Studi PPKn Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gancej.v4i2.1816

Abstract

Indonesia's marine resources reaching an area of 3,11 million km2,, it makes the potential of the marine sector invaluable, particularly from its marine natural resource sector. The sea potentially fulfills the interests of sea transportation; for example, the transportation of tankers. The Indonesian sea is included in the seas with the dense traffic of tankers causing the risk of oil pollution due to tanker accidents. For example, the three cases of oil contamination caused by tanker accident occurred in the Cilacap Sea which is the largest oil refinery in Indonesia. The aim of this study was to find the value of justice for oil pollution losses due to tanker accidents considering that Indonesia has ratified the international convention of the civil liability of oil spill by tanker, CLC 1969 and its amendment of CLC 1992, along with its supplementary protocol. This research used the legal research method of empirical-normative (applied law research). The data used were in the form of secondary data, primary legal materials related to the value of ecosocial justice, the principles of tanker oil pollution compensation, national and international regulations, secondary legal materials in the form of publications of scientific papers, and tertiary legal materials in the form of dictionaries. The secondary legal materials were obtained through library study, and the primary legal materials were obtained through field research. Furthermore, the data obtained were analyzed using deductive thinking with qualitative-explanative method to find truth based on the value or quality of the data. The international law principles (polluter pays principle, precautionary principle and strict liability) for oil tanker losses caused by tankers have been applied to the national legal system. However, in practice, they have not been applied ideally. The settlements of the compensation claims had not been resolved properly, and the relevant institutions had not implemented the principles accordingly. There were still overlapping authorities and the conflicts of authorities among the institutes in the period before 2015 prior to the establishment of the Coordinating Ministry of Marine Affairs. After the periodization of 2015 with the formation of the Coordinating Ministry of Marine Affairs, it is expected to resolve the loss of oil pollution as a result of tanker accidents using the right method of calculating the loss of natural resources (Contigent Analysis Method), taking into account the willingness to pay and the willingness to accept between the P & I insurance and victims
KORELASI POLLUTER PAYS PRINCIPLE DAN KONSEP BLUE ECONOMY PADA PENCEMARAN MINYAK OLEH KAPAL TANKER SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN LINGKUNGAN LAUT INDONESIA Kristiani Purwendah, Elly
Bina Hukum Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2018): Bina Hukum Lingkungan, Volume 2, Nomor 2, April 2018
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.556 KB)

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana korelasi polluter pays principle (prinsip pencemar membayar) dan konsep blue economy (ekonomi biru) sebagai upaya melindungi kepentingan lingkungan laut Indonesia. Sumber daya alam laut Indonesia menjadi prioritas pembangungan dengan kebijakan poros maritim dan kelautan, terutama dengan diadopsinya konsep ekonomi biru. Konsep Ekonomi Biru dikembangkan untuk menjawab tantangan sistem ekonomi dunia yang cenderung ekploitatif dan merusak lingkungan yang disebabkan oleh eksploitasi melebihi kapasitas atau daya dukung alam. Prinsip pencemar membayar merupakan prinsip tanggung jawab pelaku usaha terhadap usahanya dari dampak yang mungkin ditimbulkan usahanya untuk tidak merusak dan/atau mencemari lingkungan laut. Prinsip ini menjadi titik penting tentang tanggung jawab hukum terhadap pelaku usaha atau ekonomi di lingkungan laut untuk tidak eksploitatif dengan diakomodasinya konsep ekonomi biru oleh pemerintah.
KEGAGALAN KLAIM DANA RFC OLEH INDONESIA DALAM KASUS PENCEMARAN MINYAK KAPAL TANKER LINTAS BATAS NEGARA DI PANTAI NONGSA, BATAM Purwendah, Elly Kristiani
Bina Hukum Lingkungan Vol. 6 No. 2 (2022): Bina Hukum Lingkungan, Volume 6, Nomor 2, Februari 2022
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peta Kebijakan Kelautan Indonesia menuju Poros Maritim Dunia tertuang dalam 7 (tujuh) pilar kebijakan, salah satunya adalah Pengelolaan Ruang Laut dan Perlindungan Lingkungan Laut, yang dijabarkan lebih lanjut dalam 76 (tujuh puluh enam) Kebijakan Utama dimana pada kebijakan kelima terdapat 6 (enam) strategi Perlindungan Lingkungan Laut. Namun, sangat disayangkan dalam penerapannnya pada kasus pencemaran minyak yang terjadi di Pantai Nongsa Batam masih mengalami gagal klaim ganti rugi dana Revolving Fund Comitte (RFC) yang merupakan sebuah dana Bersama yang bersumber dari Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Indonesia, Malaysia dan Singapura beserta The Malacca Straits Council (MSC) atas nama Asosiasi-asosiasi non Pemerintah Jepang yang ditanda tangani tanggal 11 Februari 1981 tentang koordinasi pembentukan Satuan Operation Procedure (SOP) pengelolaan dana Revolving Fund Committee (RFC) untuk pencegahan pencemaran minyak di lingkungan laut selat Malaka serta Singapura. Selain ketentuan tersebut, secara umum terdapat peraturan kalim ganti rugi pencemaran yang berupa ratifikasi konvensi pertanggungjawaban perdata atas kerugian akibat pencemaran minyak yang diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1978 tentang Pengesahan International Civil Liabiality for Oil Pollution Damage 1969. Kesulitan pengujian pembuktian pencemaran menjadi penyebab gagal klaim ganti rugi terhadap negara bendera kapal. Hal ini membuktikan masih lemahnya struktur hukum dalam menerapkan ketentuan klaim ganti rugi pencemaran minyak untuk melindungi lngkungan laut Indonesia.
KEWAJIBAN MASYARAKAT DALAM PEMELIHARAAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP MELALUI PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT Purwendah, Elly Kristiani
Jurnal Pacta Sunt Servanda Vol. 3 No. 2 (2022): September, Jurnal Pacta Sunt Servanda
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpss.v3i2.5981

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana terkait pengelolaan sampah, mengetahui dan menganalisis bagaimana peran bank sampah dalam pengelolaan sampah dan mengetahui dan menganalisa bagaimana pengelolaan sampah yang berbasis masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Data yang diperoleh dari penelitian ini data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan, kemudian data yang diperoleh dianalisis secara yuridis kualitatif melalui pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa(1) Sistem pengelolaan sampah merupakan proses pengelolaan sampah yang meliputi 5 (lima) aspek yaitu aspek kelembagaan; pembiayaaan; pengaturan; teknik operasional; dan peran serta masyarakat, (2) Bank Sampah dalam pelaksanaanya dapat mengurangi tingginya angka sampah di masyarakat dan di tempat pembuangan akhir (TPA). Sehingga, melalui Bank Sampah menjadi salah satu alternatif solusi bagi pemerintah maupun masyarakat dalam mengurangi terus meningkatnya volume sampah. (3) Pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebagai suatu pendekatan pengelolaan sampah yang didasarkan pada partisipasi aktif masyarakat. Pengelolaan lingkungan hidup memerlukan adanya fasilitasi dan implementasi upaya berbasis masyarakat sebagai suatu strategi pemberdayaan dan peningkatan akses mereka kepada sumber daya lingkungan hidup.
Civil Responsibility Model of Coastal State to Oil Pollution in the Sea as the Impact from the Stipulation of Dumping Area by Tanker Ship Elly Kristiani Purwendah; Agoes Djatmiko; Elisabeth Pudyastiwi
The Indonesian Journal of International Clinical Legal Education Vol. 1 No. 1 (2019): March
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/iccle.v1i1.36331

Abstract

The research findings reveal a pluralistic understanding of dumping within the Indonesian Legal System, evident in various laws, including Law No. 17 of 1985 on the Ratification of UNCLOS, Law No. 32 of 2009 on Environmental Protection and Management, Government Regulation No. 29 of 2014 on the Prevention of Environmental Pollution, Ministerial Regulation No. 136 of 2015 on the Second Amendment to Ministerial Regulation No. 52 of 2011 on Dredging and Reclamation, and Ministerial Decree No. 4 of 2005 on the Prevention of Pollution from Ships. Dumping countermeasures are primarily perceived as acts related to dredging and reclamation, identified as contributors to the silting of shipping channels. Notably, Indonesia has not ratified the London Dumping Convention, and there is a lack of a definitive list specifying wastes requiring special arrangements and absolute prohibition within the coastal states' territories. Consequently, compensation has not been prioritized as a state-led measure for marine environmental protection. The state's responsibility, enforced through the State Attorney, necessitates procedural formalities, including a special power of attorney. Collaborative efforts with relevant institutions, particularly the Ministry of Environment and Forestry, are deemed essential. The current landscape in Indonesia reveals overlapping authorities among agencies, leading to conflicting interpretations of civil lawsuit issues related to environmental damages. The proposed model advocates for centralizing environmental priorities within the Ministry of Environment and Forestry, coordinated through the State Attorney, as a strategic step towards addressing these complex issues.
Tinjauan Yuridis Wanprestasi Terhadap Perjanjian Pinjam Meminjam Krisnawati, Ferryani; Purwendah, Elly Kristiani; Supriyo, Doni Adi
JUPEIS : Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 4 (2025): JUPEIS: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial
Publisher : Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jupeis.Vol4.Iss4.2134

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara yuridis terjadinya wanprestasi dalam perjanjian pinjam meminjam, baik yang objeknya berupa barang habis pakai maupun uang sebagaimana lazim dalam perjanjian kredit. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan terhadap peraturan perundang-undangan, asas-asas hukum, dan doktrin yang relevan. Data sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif untuk menafsirkan norma hukum yang berkaitan dengan hubungan hukum para pihak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjanjian pinjam meminjam merupakan perjanjian timbal balik yang mewajibkan para pihak memenuhi hak dan kewajibannya sesuai ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata. Ketidakmampuan debitur memenuhi kewajiban dapat terjadi karena overmacht atau wanprestasi akibat kelalaian maupun kesengajaan. Bentuk wanprestasi meliputi: tidak melaksanakan prestasi, melaksanakan tetapi tidak sesuai, terlambat melaksanakan, atau melakukan tindakan yang dilarang dalam perjanjian. Dalam keadaan wanprestasi, kreditur dapat menuntut pemenuhan perjanjian, pemenuhan disertai ganti rugi, ganti rugi saja, pembatalan perjanjian, atau pembatalan dengan ganti rugi. Studi ini menegaskan bahwa pelaksanaan perjanjian harus didasarkan pada itikad baik, dan apabila debitur lalai, kreditur dapat memberikan somasi sebagai langkah awal penyelesaian sengketa sebelum menempuh jalur litigasi. Dengan demikian, wanprestasi merupakan pelanggaran terhadap isi perjanjian yang berdampak langsung pada timbulnya tanggung jawab perdata bagi pihak yang lalai.
Sebuah PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENULIS “NOVEL SEMESTA” (ALTERNATIF TERHADAP TINDAKAN PLAGIARISME MELALUI PLATFORM “X” MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014): PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENULIS NOVEL SEMESTA ALTERNATIF Zahrani, Annisa Putri; Elisabeth Pudyastiwi; Elly Kristiani Purwendah
Academos Vol 4 No 2 (2025): ACADEMOS Jurnal Hukum dan Tatanan Sosial
Publisher : Faculty of Law, University of Muhammadiyaha Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aca.v4i2.28390

Abstract

This research aims to identify the elements of plagiarism, analyze the legal protection for alternative universe novel writers who are victims of plagiarism, and find out the legal consequences for the perpetrators and the application of the law in practice. The method used is normative and empirical juridical with doctrinal legal research specifications. Data is collected through literature studies and online platforms, then analyzed narratively. The results of the study show that plagiarism in AU novels can be seen from the similarity of plot, dialogue, characterization, and story structure. Legal protection is regulated in Article 1 of Law No. 28 of 2014 concerning Copyright, including moral rights and economic rights regulated by Article 5 and Article 9, and the term of copyright protection is regulated by Article 58. The author can file civil and criminal lawsuits in accordance with Article 113 of the UUHC. For digital plagiarism, Law No. 11 of 2008 concerning Electronic Information and Transactions (UUITE) also provides protection regulated in Article 35. In practice, dispute resolution is more often carried out through non-litigation channels such as mediation and negotiation on digital platforms. In addition, publishers play an important role in helping authors protect their copyrights
Co-Authors Ade Budi Brilliant Agoes Djatmiko Agoes Djatmiko Agoes M.H. S.H. Djatmiko Aniek Periani Aniek Periani Aris Priyadi Aris Priyadi Ati Setyowati Ati Setyowati Bagas Ramadhan Putra Benedicta Gabriella Aurelie Bintari Dyah Ramadhani dan Marsudi Triatmodjo Budi, Nova Carmo Carmo Carmo Daniel Joko Wahyono Daniel Joko Wahyono Devi Apriyanti Dewi Setia Triana, Ikama Dewiana Mustika Ningrum Dita Yulianti Dwi Aryani Dwindra Foiz Mulia Elisabeth Febrianan Daniputri Harnowo Elisabeth Pudyastiwi Elisabeth Pudyastiwi Elisabeth Pudyastiwi Erowati, Eti Mul Eti Mul Erowati Eti Mul Erowati Erowati Fachry Abda El Rahman Fernando Dacosta Ferryani Krisnawati Fitri Handayani Fitri Handayani Genoveva Puspitasari Larasati Genoveva Puspitasari Larasati Gholibudin Zuhairmanto Gusti Kadek Ardi Wira Utama Hartana Ikama Dewi Setia Triana Imam Subekti Jose Agostinho D.B.P José Agostinho da Costa Belo Pereira Ketut Budi Kurniawan Khotib Iqbal Hidayat Komang Tri Saniartini Krisnawati, Ferryani Kusumasari, Prosawita Ririh Laely Priyatna Made Ananda Dwiprasetya May Hendra Moch Solichin Monteiro, Seguito Muchtar, Wiwin Mul Erowati, Eti Nadya Zakia Ovemia Nana Semba Dwi Purwana Nana Semba Dwi Purwana Ni Komang Ayu Purnia Dewi Ni Putu Rai Yuliartini Oti Kusumaningsih Pudyastiwi, Elisabet Roberto da Cruz Rusito Rusito Sabino Freitas Sabrina Witri Afifah Satriya Indra Permana Seguito Monteiro Sugeng Wahyudi, Sugeng Sukrisno, Heru SUPRAPTO Suprapto Suprapto Supriyo, Doni Adi Tarisa Salsabila Putri Teguh Anindito Teguh Anindito Unitacasya Dwi Mahardika wahyu hariadi Wiwin Muchtar M.Hum. S.H. Wiyono Wiwin Muchtar W Wiwin Muchtar Wiyono Wiwin Muchtar Wiyono Yogo, Tri Zahrani, Annisa Putri