Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan Granular Starch Hydrolyzing Enzyme dengan Glukoamilase Pada Proses Sakarifikasi Konvensional Pati Casava untuk Memproduksi Etanol Hargono .; Andri Cahyo Kumoro; Bakti Jos
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan" 2017: PROSIDING SNTKK
Publisher : Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In a conventional cassava starch is converted into dextrins using liquefaction enzymes at high temperatures(90–120°C) during a liquefaction step. Dextrins are hydrolyzed into sugars using saccharification enzymesduring a simultaneous saccharification and fermentation (SSF) step. Recently, a granular starch hydrolyzingenzyme (GSHE), Stargen 002, was developed that converts starch into dextrins at low temperatures (30°C) andhydrolyzes dextrins into sugars during SSF. In this study, cassava starch using GSHE enzyme was comparedwith glucoamylase of commercial saccharification enzyme. Cassava starch processes for GSHE andglucoamylase treatments were performed at the same process conditions except for the saccharification step(60°C). For GSHE and glucoamylase treatments, ethanol concentrations at 72 hr of fermentation were 12.3,12.8% (v/v), respectively. Sugar profiles for the GSHE treatment were different from glucoamylase treatments,especially for reducing sugar. During SSF, the highest reducing sugar concentration for GSHE treatment was8% (w/v), whereas for glucoamylase treatments, reducing sugar concentrations had maximum of 15% (w/v).
Extraction and Modification of Gum from Cashew Tree Exudates Using Wheat Starch and Glycerine Andri Cahyo Kumoro; Diah Susetyo Retnowati; Catarina Sri Budiyati
Jurnal Rekayasa Proses Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.1889

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengekstrak getah pohon mete dan memodifikasi sifatnya untuk dapat digunakan sebagai senyawa pembantu proses pengeringan menggantikan fungsi getah Arab. Dengan menggunakan getah mete termodifikasi dari penelitian ini, permasalahan biaya pada proses pengeringan jus buah dengan spray dryer dapat diatasi. Getah pohon mete dipungut dan diendapkan dari larutan hasil penyadapan dengan bantuan etanol sebagai antisolvent. Dalam penelitian ini gliserin dan pati gandum digunakan sebagai bahan tambahan untuk memodifikasi sifat getah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa getah pohon mete termodifikasi yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan kesamaan sifat dengan getah Arab. Kata kunci : getah pohon mete, getah Arab, modifikasi, pati, gliserin The objectives of this research were to extract cashew tree gum (CTG) from cashew tree exudates and to modify it into a new drying aid, which can act as a substitute for Arabic gum. The cost problem faced in the spray drying of fruit juices is expected to be solved with the use of modified CTG as a replacement of Arabic gum. The CTG was extracted and precipitated from its raw cashew exudates solution with the help of ethanol as antisolvent. Glycerine and wheat starch were the additives used in the modification of the gum. The good quality of modified CTG was obtained based on their close similarity to Arabic gum properties. Keywords: CTG, Arabic gum, modification, starch, glycerine
PENGUATAN USAHA MIKRO DAN KECIL KERUPUK KULIT IKAN CAP MANTAP DI MLATIBARU, SEMARANG DALAM UPAYA PENCAPAIAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) Dessy Ariyanti; Bakti Jos; Andri Cahyo Kumoro; Aji Prasetyaningrum; Diah Susetyo Retnowati
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk merealisasikan tujuan pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals SDGs) terutama Tujuan 8 yaitu  mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tenaga kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua di Indonesia sangat besar. Salah satu UMK yang berada di daerah Mlati Baru, Kota Semarang adalah UMK Kerupuk Kulit Ikan Cap Mantap. UMK ini didirikan oleh Bapak Afnan Abdul Syaid pada tahun 2015. UMK ini memerlukan pendampingan sehingga dapat lebih berdaya dan berkembang. Tantangan yang dialami oleh UMK Kerupuk Kulit Ikan Cap Mantap ini adalah proses produksi yang masih mengandalkan cuaca, terutama di musim hujan, proses pengeringan kulit ikan basah sulit dilakukan dan waktu yang dibutuhkan menjadi sangat lama. Tantangan yang kedua adalah keterbatasan alat untuk packing sehingga kerupuk menjadi mudah rusak dan turun kualitasnya. Tantangan yang selanjutnya adalah pemasaran yang selama ini hanya dilakukan secara konvensional yaitu dijajakan di beberapa toko oleh-oleh dan supermarket. Pencapaian target tersebut diupayakan dengan berbagai metode dan kegiatan yang telah disusun yaitu survey awal, riset pasar, analisa SWOT, penyusunan strategi penguatan dan pendampingan, dimana Kegiatan-kegiatan tersebut ditargetkan untuk menghasilkan: Data UMK Kerupuk Kulit Ikan Cap Mantap, Data terbaru hasil riset pasar usaha yang serupa, Analisa SWOT dari UMK Kerupuk Kulit Ikan Cap Mantap, Strategi Penguatan Kerupuk Kulit Ikan Cap Mantap. Luaran yang ingin dicapai pada kegiatan ini adalah pengetahuan tepat guna yang dapat  diimplementasikan oleh UMK Kerupuk Kulit Ikan Cap Mantap di Mlatibaru, Semarang dalam upaya peningkatan kapasitas produksi dan pemasaran dari produk yang dihasilkan. Kata kunci : UMKM, kerupuk kulit ikan, pemberdayaan
PENINGKATAN KECEPATAN PENGERINGAN GABAH MENGGUNAKAN VERTICAL SCREW CONVEYOR DRYER Mohamad Djaeni; Cindi Yasintasia; Maharani Ratridewi; Ratnawati Ratnawati; Andri Cahyo Kumoro
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketersediaan beras yang cukup, merata dan berkualitas tinggi sangat penting bagi stabilitas ketahanan dan keamanan nasional. Beras tidak diproduksi sepanjang tahun, tetapi hanya 2 sampai 3 kali panen dalam satu tahun. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan sepanjang tahun, komoditas pertanian ini harus disimpan kering (kadar air 12 – 14%), baik dalam bentuk gabah maupun beras. Proses pengeringan gabah dengan screw conveyor dilengkapi sistem dehumidifikasi udara dengan  zeolite berbahan bakar biogas menjadi suatu pilihan untuk pengeringan gabah. Udara berkadar air rendah ini meningkatkan driving force pengeringan, sehingga proses menjadi cepat, dan efisien. Selain itu, suhu udara rendah ini, sangat tepat untuk gabah yang sensitive terhadap panas, sehingga kerusakan tekstur dan nutrisi dapat dihindari.Rancangbangun demonstrasi unit pengeringan gabah dengan screw conveyor dryer telah dilakukan dengan kapasitas terpasang 500 kg per batch. Unit pengeringan ini difabrikasi atas kerjasama Universitas Diponegoro, PT Muatiara Global Industri (Bogor), dan CV Raja Pengering (Surabaya). Alat ini menggunakan bahan bakar yang fleksibel karena dirancang dengan model knock down dengan sumber pemanas udara. Burner berbahan bakar LPG atau pun biogas bisa diganti dengan furnace berbahan bakar sekam untuk memanasi udara sebagai media pengering. Uji coba telah dilakukan pada laju 10% dari kapasitas idealnya, dengan variasi berbagai temperature. Hasil menunjukkan alat tersebut dapat meningkatkan kualitas gabah kering giling dan mempercepat proses pengeringan menjadi 90 menit dengan prosentase beras utuh saat penggilingan di atas 50%. Peningkatan efisiensi panas, dan pengggunaan bahan bakar yang lebih murah seperti biogas atau sekam sangat diperlukan agar dapat menekan biaya produksi.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA NYAMUK, KECAMATAN KARIMUNJAWA MELALUI TEKNOLOGI PEMBUATAN GARAM MENGGUNAKAN BAKTERI HALOFILIK DAN TEKNIK ULIR FILTER (TUF) Wilis Ari Setyati; Diah Permata Wijayanti; Dwi Haryanti; Andri Cahyo Kumoro
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2022
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v6i3.14622

Abstract

Nyamuk Island is located in the west part of the Karimunjawa islands where most of the local people are fishers who depend on fisheries as their main livelihood. Due to limited knowledge and facilities, many fisheries commodities are not utilized optimally. One of the basic needs of the local community is salt. Salt is an essential food ingredient in life. Community service activities through a creative business development program on salt production are offered as a solution to overcome the problem of the lack of salt quality.  Ideally, salt would be produced using Thread Filter Technology (TUF) with the addition of halophilic bacteria to speed the crystallization process. The quality of seawater influences the success of making salt using halophilic bacteria. Old seawater (with a salt content of at least 20° Be) is an ideal material for manufacturing salt using halophilic bacteria. One method for obtaining old water is salt production through the Thread Filter Technology (TUF) method. The project results are the salt demplots that produce high-quality salt and the availability of alternative livelihoods for the locals in Nyamuk Village. In the long term, alternative livelihoods such as salt making and fisheries product diversification will reduce pressure on the environment and prevent fishing from being carried out extensively. The availability of good quality salt for fish processing can extend fish marketing distribution chain quality and create new job opportunities for homemakers/widows so that they are provided an opportunity to have an income. The project results concluded that the Community Leading Commodity Strengthening activity carried out in the Nyamuk Village was beneficial for the community's welfare and the environment. --- Pulau Nyamuk adalah salah satu pulau di kepulauan Karimunjawa dengan sebagian besar masyarakat menjadi nelayan dan memanfaatkan laut sebagai mata pencaharian utama. Namun karena keterbatasan pengetahuan dan fasilitas banyak hasil tangkap tidak dimanfaatkan secara optimal. Salah satu kebutuhan pokok makanan masyarakat setempat adalah garam. Garam merupakan bahan pokok makanan penting dalam kehidupan, untuk itu perlu upaya pemberdayaan masyarakat tentang pembuatan garam. Kegiatan pengabdian masyarakat melalui program pengembangan usaha kreatif berbasis pembuatan garam ditawarkan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan ketiadaan garam berkualitas di Desa Nyamuk. Pembuatan  garam idealnya dilakukan dengan menggunakan penambahan bakteri halofilik yang bertujuan mempercepat proses kristalisasi garam. Keberhasilan pembuatan garam menggunakan bakteri halofilik dipengaruhi oleh kualitas air laut. Air laut tua (yang memiliki kadar garam minimal sama dengan 20° Be) merupakan bahan yang ideal untuk pembuatan garam dengan memanfaatkan bakteri halofilik. Salah satu metode untuk memperoleh air tua dalam pembuatan garam adalah melalui metode Teknologi Ulir Filter (TUF).  Hasil pengabdian ini merupakan alternatif tersedianya mata pencaharian bagi penduduk Desa Nyamuk. Hal tersebut merupakan upaya untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan jika terus-menerus dilakukan penangkapan ikan tanpa jeda buka tutup aktivitas penangkapan. Tersedianya garam berkualitas untuk pengolahan ikan diharapkan dapat memperpanjang kualitas ikan maupun rantai distribusi pemasaran ikan. Disamping itu juga tersedianya lapangan kerja baru bagi para ibu rumah tangga/janda sehingga memiliki peluang untuk memiliki penghasilan. Hasil pengabdian dapat disimpulkan bahwa kegiatan Penguatan Komoditi Unggulan Masyarakat (PKUM) yang dilaksanakan di Desa Nyamuk bermanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.       
PRODUKSI SILIKA AMORF DARI SEKAM PADI UNTUK FILLER BARANG JADI KARET MENGGUNAKAN FLUIDIZED BED COMBUSTOR Asron Ferdian Falaah; Adi Cifriadi; Andri Cahyo Kumoro
Warta Perkaretan Vol. 35 No. 1 (2016): Volume 35, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.661 KB) | DOI: 10.22302/ppk.wp.v35i1.93

Abstract

Sekam padi yang merupakan limbah pertanian dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Sekam padi mempunyai kandungan silika yang tinggi, sehingga berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi, salah satunya sebagai bahan pengisi barang jadi karet. Silika dari sekam padi dapat diperoleh dengan cara membakar sekam padi menjadi abu putih yang kaya kandungan silika dalam wujud amorf. Proses pembakaran dengan biaya murah, hemat energi dan dengan waktu cepat merupakan keuntungan dalam memproduksi silika amorf dari sekam padi. Fluidized Bed Combustor (FBC) merupakan alat yang bekerja dengan prinsip dasar hidrodinamika fluida yang mampu membakar sekam padi pada suhu pembakaran 600 0C untuk menghasilkan abu berwarna putih dengan kandungan silika amorf  mencapai 93% dengan cemaran karbon hanya sekitar 2,1%. Abu berwarna putih hasil pembakaran FBC dimurnikan dari ion-ion logam dengan proses pengkelatan dengan asam sitrat 5%, kemudian diekstraksi dengan larutan NaOH 1,5 N pada suhu 100 0C dan diendapkan dengan menggunakan larutan HCl 1 N pada suhu kamar. Silika amorf hasil dari proses pengendapan kemudian dikeringkan pada suhu 80 0C dan dicuci dengan air suling untuk memastikan ion-ion logam yang tidak diinginkan hilang.
ANALISIS SIFAT FISIKOKIMIA DAN UJI KORELASI REGRESI ANTARA NILAI DERAJAT SUBSTITUSI DENGAN SWELLING POWER DAN SOLUBILITY PADA TEPUNG GADUNG (Dioscorea hispida Dennst) TERASETILASI Rizka Amalia; Andri Cahyo Kumoro
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v1i1.1640

Abstract

Pemanfaatan gadung (Dioscorea hispida Dennst) sebagai bahan baku dalam produksi makanan memiliki keterbatasan berkaitan dengan sifat fisikokimia tepungnya. Asetilasi merupakan salah satu metode modifikasi pati yang dapat digunakan untuk meningkatkan sifat fisikokimia pati, yakni swelling power, solubility, dan derajat substitusi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahu pengaruh rasio reaktan (asam asetat:tepung), waktu, dan pH reaksi terhadap nilai swelling power, solubility, dan derajat substitusi tepung gadung terasetilasi,serta mengetahui apakah nilai derajat substitusi berkorelasi dengan nilai swelling power dan solubility atau tidak. Asetilasi dilakukan dengan mendispersikan 20 gram tepung gadung ke dalam 100 mL akuades. Kemudian pH diatur hingga nilai tertentu (8, 9, dan 10) dengan penambahan NaOH 1 M. Slurry diaduk selama 30 menit. Setelah itu, asam asetat dengan rasio tertentu 1:3, 1:4, dan 1:5 (b/b) ditambahkan secara perlahan ke dalam campuran reaksi. pH campuran dijaga ke kondisi awal dengan penambahan NaOH 1 M. Reaksi dibiarkan berlangsung sesuai dengan waktu yang diinginkan (10, 20, 30, 40, 50, dan 60 menit). Reaksi dihentikan dengan penambahan HCl 1 M sampai pH 5,5. Tepung terasetilasi kemudian disaring dan dicuci dengan air suling sebanyak 3 kali dengan rasio berat tepung : air pencuci sebesar 1:3 (b/v). Tepung dikeringkan pada suhu 50oC dan digiling halus hingga 80 mesh. Kemudian dilakukan analisis terhadap nilai swelling power, solubility, dan derajat substitusi pada tepung gadung terasetilasi. Analisis korelasi diselesaikan dengan menggunakan SPSS Statistic 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimal diperoleh pada pati yang dimodifikasi dengan rasio reaktan 1:3, pH 8, dan waktu reaksi 30 menit, dengan nilai swelling power,solubility, dan derajat substitusi sebesar 7,3 g/g; 18,6 %; dan 0,033; dimana nilai ini setara dengan tepung gandum Korea (swelling power 7,3-8,5 g/g). Berdasarkan uji korelasi dan uji regresi didapatkan hasil bahwa derajat substitusi berkorelasi negatif secara signifikan terhadap nilai solubility (r=-0,580 ), tetapi tidak memberikan pengaruh untuk swelling power (r=0,033). kata kunci :gadung, asetilasi, swelling power, solubility, derajat substitusi, korelasi
Kinetics of Starch Degradation during Extrusion Cooking of Steady State Flow Konjac (Amorphophallus oncophyllus) Tuber Flour in a Single Screw Extruder Andri Cahyo Kumoro; Diah Susetyo Retnowati; Ratnawati Ratnawati
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis 2020: BCREC Volume 15 Issue 2 Year 2020 (August 2020)
Publisher : Masyarakat Katalis Indonesia - Indonesian Catalyst Society (MKICS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9767/bcrec.15.2.8125.591-602

Abstract

The presence of glucomannan in Konjac (Amorphophallus oncophyllus) tuber flour has promoted its various applications, especially in the food, drink, drug delivery and cosmetics. Starch is the main impurity of Konjac tuber flour. Although the common wet refining method may result in a high purity Konjac tuber flour, it is very tedious, time consuming and costly. This research aimed to study the kinetics of starch degradation in the extrusion cooking process of dry refining method to produce high quality Konjac tuber flour. In this research, Konjac tuber flour with 20% (w/w) moisture was extruded in a single screw extruder by varying screw speeds (50, 75, 100, 125, 150 and 175 rpm) and barrel temperatures (353, 373, 393, 413 and 433 K). The results showed that the starch extrusion cooking obeys the first reaction order. The reaction rate constant could be satisfactorily fitted by Arrhenius correlation with total activation energy of 6191 J.mol−1 and pre-exponential factor of 2.8728×10−1 s−1. Accordingly, thermal degradation was found to be the primary cause of starch degradation, which shared more than 99% of the energy used for starch degradation. Based on mass Biot number and Thiele modulus evaluations, chemical reaction was the controlling mechanism of the process. The results of this research offer potential application in Konjac tuber flour refining process to obtain high quality flour product. Copyright © 2020 by Authors, Published by BCREC Group. This is an open access article under the CC BY-SA License (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0).  
Kinetics of the Enzymatic Hydrolysis of Sweet Cassava Starch and Bitter Cassava Flour and Gadung (Dioscorea hispida Dennst) Flour at Low Temperature Hargono Hargono; Bakti Jos; Andri Cahyo Kumoro
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis 2017: BCREC Volume 12 Issue 2 Year 2017 (August 2017)
Publisher : Masyarakat Katalis Indonesia - Indonesian Catalyst Society (MKICS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9767/bcrec.12.2.808.256-262

Abstract

Starch is a potential substrate for this purpose, but the extra cost is needed to hydrolyze it into reducing sugar. As an alternative to the expensive and energy demanding conventional hydrolysis process, the low-temperature hydrolysis is being studied. Granular Starch Hydrolysing Enzyme (GSHE) was used in the process to degrade starch into reducing sugar at 30°C and pH 4. The substrates included bitter cassava flour, sweet cassava starch, and gadung flour. Starch concentrations studied were 50, 100, 150, 200, 250, 300, 350, and 400 g/L, respectively, while concentration of enzyme was 1.5 % (w/w). The optimum condition of the process was hydrolysis using 200 g/L of substrate concentration and enzyme  concentration of 1.5% for 12 h. It was found that the reducing sugar was  49.3  g/L and the productivity of reducing sugar (Qrs) was 4.11 (gL-1 h-1).   Lineweaver-Burk plot of Michaelis-Menten equation was used to study the inhibition kinetics. The Michaelis-Menten constants (Km)  for these three substrates were determined as 141.64 g/L, 137,64 g/L and 140.84 g/L for bitter cassava flour, sweet cassava starch, and gadung flour, respectively. The value of  Vm/Km, which denotes the affinity of the enzyme to the substrate, were determined and compared, and the result showed that the affinity (Vm) to the enzyme to this substrate followed  the order of sweet cassava starch˃ bitter cassava flour˃ gadung flour, and all are non-competitive inhibitor, while the  Ki value was 0.022 h -1. 
Mass Transfer and Chemical Reaction Approach of the Kinetics of the Acetylation of Gadung Flour using Glacial Acetic Acid Andri Cahyo Kumoro; Rizka Amalia
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis 2015: BCREC Volume 10 Issue 1 Year 2015 (April 2015)
Publisher : Masyarakat Katalis Indonesia - Indonesian Catalyst Society (MKICS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9767/bcrec.10.1.7181.30-37

Abstract

Acetylation is one of the common methods of modifying starch properties by introducing acetil (CH3CO) groups to starch molecules at low temperatures. While most acetylation is conducted using starch as anhidroglucose source and acetic anhydride or vinyl acetate as nucleophilic agents, this work employ reactants, namely flour and glacial acetic acid. The purpose of this work are to study the effect of pH reaction and GAA/GF mass ratio on the rate of acetylation reaction and to determine its rate constants. The acetylation of gadung flour with glacial acetic acid in the presence of sodium hydroxide as a homogenous catalyst was studied at ambient temperature with pH ranging from 8-10 and different mass ratio of acetic acid : gadung flour (1:3; 1:4; and 1:5). It was found that increasing pH, lead to increase the degree of substitution, while increasing GAA/GF mass ratio caused such decreases in the degree of substitution, due to the hydrolysis of the acetylated starch. The desired starch acetylation reaction is accompanied by undesirable hydrolysis reaction of the acetylated starch after 40-50 minutes reaction time. Investigation of kinetics of the reaction observed that the value of mass transfer rate constant (Kcs) is smaller than the surface reaction rate constant (k). Thus, it can be concluded that rate controlling step is mass transfer. © 2015 by Authors, Published by BCREC Group. This is an open access article under the CC BY-SA License (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0)
Co-Authors . Widayat Adi Cifriadi Adi Cifriadi, Adi Agus Suprihanto Ahmad - Fauzan Aji Prasetyaningrum Alfariji, Moh Ana Farida Aprilina Purbasari Arkie Septiana A. Arkie Septiana A. Aryanti, Nita Asep Muhamad Samsudin, Asep Muhamad Asron Ferdian Falaah Asron Ferdian Falaah, Asron Ferdian Avriliana Dewi A. Bakti Jos Bakti Jos Budiyono Budiyono C Sri Budiyati Catarina Sri Budiyati Catarina Sri Budiyati Catarina Sri Budiyati Cindi Yasintasia Dessy Ariyanti Diah Permata Wijayanti Diah Susetyo Retnowati Didi Dwi Anggoro Dwi Haryanti Evi Ristanti R F Widhi Mahatmanti Ferry Hermawan Fitra Pradhita Frans Arienata H. Frans Arienata H. H Hadiyanto H. Hargono Hacker, Viktor Hargono . Hargono Hargono Hargono Hargono Kharis Yohan Abidin Kristinah Haryani Kurniawan, Tonni Agustiono Laeli Kurniasari M. Djaeni Maharani Ratridewi Marcelinus Christwardana Margaretha Praba Aulia Marissa Widiyanti Masitah Hasan Misbahudin Alhanif Moh Djaeni Monica Setiono H. Muhammad Haqqiyuddin Robbani Nafiunisa, Aininu Nasher, Kharissa Nor Basid Adiwibawa Prasetya Nur Rokhati Nurul Aini Pamungkas, Prihantoro Pandapotan, Boris Poltak Putra, Ade Septia Ratnawati Ratnawati Retno Wulandari Riris Yuliana Y.S. Rizka Amalia Rizka Amalia Rizka Amalia Roschger, Michaela Setia Budi Sasongko Silviana Silviana Sofiah Sofiah Sri Sinto Dewi Sulardjaka Sumardi Sumardi Tutuk Djoko Kusworo Utomo, Dani Puji Wahyono, Yoyon Wahyudi, Dhiky Wardhani, Dyah Hesti Wikanastri Hersoelistyorini Wilis Ari Setyati Yuni Susanti, Devi Zahra, Nurul Afifah Zaim, Hanif Fawwaz