Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS ETNOFARMAKOLOGI RAMUAN SEMBUR MASYARAKAT KARO UNTUK PENGOBATAN TRADISIONAL Findi Septiani; Desi Novianty Br Ginting; Irene Putri Dinanti Manurung; Louisa Assian Sinaga; Stevani Azharia Br Ginting; Yohana L Purba; Cicik Suriani
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 5 (2025): Oktober - November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis etnofarmakologi ramuan sembur masyarakat Karo sebagai pengobatan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Merupakan bagian integral dari pengetahuan tradisional masyarakat Karo. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan etnobotani dan etnofarmakologi dengan metode wawancara mendalam, observasi lapangan, serta dokumentasi terhadap tanaman obat yang digunakan. Hasil temuan menunjukkan bahwa ramuan sembur terdiri dari berbagai komponen tanaman herbal seperti daun balsam, beras, lada hitam, akar jeringau, jintan kecil, pala, jahe merah dan lainnya, yang diolah secara tradisional dengan teknik mencincang dan menjemurnya dibawah teruk matahari hingga kering, kemudian digunakan dalam bentuk semburan (inhalasi) atau kompres. Ramuan ini digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi kesehatan seperti masuk angin, sakit kepala, flu, demam, perut kembung. Selain itu, penelitian juga mengungkap nilai-nilai budaya dan kepercayaan yang terkandung dalam penggunaan ramuan ini, serta pentingnya pelestarian pengetahuan etnobotani sebagai bagian dari keanekaragaman hayati dan warisan budaya lokal. Dengan demikian, analisis etnofarmakologi ini tidak hanya mengungkap potensi farmakologis ramuan sembur, tetapi juga menekankan perlunya dokumentasi dan pendekatan berkelanjutan dalam pelestarian kekayaan obat tradisional masyarakat Karo.
ETNOBOTANI TEPAK SIRI DALAM TRADISI TARI DAN UPACARA ADAT MASYARAKAT MELAYU DI SUMATERA UTARA SEBAGAI BAGIAN DARI KEANEKARAGAMAN HAYATI Findi Septiani; Rosa Sari Amalia Nasution; Elza Amanda; Aisyah Amira Nasution; Aprilia Shofia Isyfi; Nurul Aini; Cicik Suriani
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 5 (2025): Oktober - November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam tepak sirih serta menganalisis makna simbolik dan nilai etnobotani yang terkandung di dalamnya pada masyarakat Melayu Sumatera Utara. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui wawancara, dokumentasi, dan studi literatur dengan pendekatan etnobotani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepak sirih terdiri atas lima bahan utama, yaitu daun sirih (Piper betle L.), pinang (Areca catechu L.), kapur (Calcium hydroxide), gambir (Uncaria gambir Roxb.), dan tembakau (Nicotiana tabacum L.). Setiap bahan memiliki makna simbolik: sirih melambangkan kesopanan, pinang keberanian, kapur ketulusan, gambir keteguhan, dan tembakau keakraban. Selain berfungsi dalam upacara adat seperti pernikahan, penyambutan tamu, dan tari persembahan, tepak sirih juga mencerminkan kearifan lokal dalam pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati. Tradisi ini menjadi wujud harmoni antara budaya dan alam, serta sarana pendidikan moral masyarakat Melayu.
EKSPLORASI PENGETAHUAN TRADISIONAL MASYARAKAT KARO TENTANG PEMANFAATAN BUAH GAMBIR PUTIH (Uncaria gambir Roxb) SEBAGAI OBAT DIARE Findi Septiani; Roulina Siburian; Chyntia Dwi Camelia; Nurul Ummi Lubis; Rahel Octavia Siaahan; Rizki Jumiati Hasibuan; Cicik Suriani
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 10 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga banyak pengetahuan tradisional dalam pemanfaatan tanaman obat. Salah satu tanaman itu adalah gambir (Uncaria gambir Roxb.), yang ada pada tradisi masyarakat Karo di Sumatera Utara, khususnya jenis gambir putih, digunakan secara turun-temurun sebagai obat diare dan gangguan lambung. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik etnomedisin masyarakat Karo mengunakan gambir putih melalui pendekatan kualitatif dengan wawancara dan analisis tematik, dan diperkaya dengan telaah literatur ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambir putih diolah dengan mencampurkan sari bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour.) dan gula merah, kemudian diseduh air panas dan diminum dua kali sehari, serta dapat dikonsumsi langsung dengan rasa sepat yang kemudian meninggalkan sensasi manis dan aman bagi anak-anak. Ramuan ini diyakini efektif dalam mengatasi diare dan menurunkan asam lambung. Praktik tradisional ini tidak hanya mencerminkan kearifan lokal masyarakat Karo, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat dan berpotensi dikembangkan sebagai fitofarmaka berbasis bahan alam Indonesia.
ECOENZIM : BIOTEKNOLOGI KONVESIONAL DALAM PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK Findi Septiani; Agita Setya Ningrum; Anastasia Sinaga; Gusni Katrina Zalukhu; Juli Nola Olivia Sinaga; Sinthya Syahputri; Cicik Suriani
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 10 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah organik merupakan masalah lingkungan yang kian serius terkait pertambahan jumlah penduduk dan aktivitas manusia. Ecoenzim adalah cairan hasil fermentasi limbah organik yang memiliki beragam manfaat ekologis dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan menjelaskan proses pembuatan ecoenzim melalui bioteknologi konvensional, peran mikroorganisme dalam fermentasi, efektivitas ecoenzim dalam menguraikan limbah organik, serta manfaatnya dalam pengelolaan lingkungan. Metode penelitian menggunakan eksperimen fermentasi limbah buah dan sayuran dengan gula merah selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan ecoenzim mengandung bakteri dan jamur penghasil enzim, serta senyawa bioaktif yang berperan dalam penguraian limbah dan pembersihan alami. Ecoenzim efektif menurunkan polutan air limbah dan berpotensi sebagai alternatif ramah lingkungan. Penggunaan ecoenzim dapat mengurangi pencemaran, mendukung pengelolaan limbah berkelanjutan, dan meningkatkan kualitas lingkungan.
NEUROBIOLOGI RASA ANDALIMAN DAN RELEVANSINYA DALAM TRADISI KULINER BATAK TOBA Cicik Suriani; Findi Septiani; Alya Meuthya Reayani Padang; Cindi Claudia Sipayung; Elis Putri Aldina Harahap; Helga Irene Purba; Umayra Umayra
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 5 (2025): Oktober - November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) merupakan rempah endemik Sumatera Utara yang dikenal sebagai “merica Batak” karena menghasilkan sensasi unik berupa pedas-getir, aroma sitrusi, dan rasa kebas di lidah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme biologis sensasi andaliman pada sistem indera pengecap, mengidentifikasi senyawa bioaktif yang berperan, serta menelaah perannya dalam menjaga keaslian kuliner Batak Toba. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan biologis dan etnografis, melalui wawancara, studi literatur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensasi kesemutan pada lidah berasal dari senyawa hydroxy-α-sanshool yang menstimulasi reseptor saraf trigeminal, sehingga menghasilkan sensasi mekanosensorik khas yang berbeda dari pedas capsaicin maupun dingin mentol. Selain itu, andaliman mengandung flavonoid, alkaloid, tannin, fenolik, dan minyak atsiri yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, serta berpotensi sebagai bahan pangan fungsional. Dari perspektif budaya, andaliman berperan penting dalam kuliner Batak Toba, khususnya pada hidangan arsik, naniura, saksang, dan manuk napinadar, yang dianggap belum otentik tanpa kehadiran rempah ini. Temuan ini memperlihatkan bahwa andaliman bukan hanya bumbu penyedap, tetapi juga representasi identitas kuliner Batak Toba yang menghubungkan aspek biologis, kesehatan, dan nilai budaya. Dengan demikian, pelestarian andaliman sangat penting baik untuk menjaga biodiversitas lokal maupun sebagai upaya mempertahankan warisan kuliner tradisional Indonesia.
Co-Authors Adinda Saputri Agita Setya Ningrum Aiman Hidayat Baeha Aisyah Amira Nasution Alvina Oktavia Alya Meuthya Reayani Padang Amelia Patra Harahap Ananda Adilla Anastasia Sinaga Anisah Huzaifah Annisa Ridha Riyani Aprilia Shofia Isyfi Asih Maulida Hasni Bertha Angelina sidauruk Brema Pratama Chairani Fadilla Chyntia Dwi Camelia CICIK SURIANI Cicik Suryani Cindi Claudia Sipayung Cindi Santika Ramadina Desi Novianty Br Ginting Dwi Amanda Elis Putri Aldina Harahap Elza Amanda Emia Sapna Marsyalina Br Barus Endang Lyfia Saragih Geovany Panjaitan Grace Amelia Purba Grace Violencia Gusni Katrina Zalukhu Hana Grace Sitorus Helga Irene Purba Herdita Br Ginting Hibatunnaila Ar-Rizki Imelda Sri Ulina Br Purba Irene Putri Dinanti Manurung Jelita Geovani Sitompul Juli Nola Olivia Sinaga Lestari Novianti Sinurat Livia Mutianda Louisa Assian Sinaga Martina Asiati Napitupulu Maylani Magdalena Br Malau Monica Triyuni Sinaga Muhammad Fadhal Faiq Nadilla Putri Nur Alifah Fitriyana Siallagan Nurlela Br Ginting Nurul Aini Nurul Ummi Lubis Petra Putri Sarinah Pandiangan Pretty Thalia br Saragih Putri Agresia Sinaga Putri Diana Rahel Octavia Siaahan Ratih Indah Sundari Riby Tamara Rizka Nabila Damanik Rizki Fatahillah Hutasuhut Rizki Jumiati Hasibuan Rosa Sari Amalia Nasution Roulina Siburian Sakinah Warohmah Selvia Dewi Pohan Sinthya Syahputri Siti Rahma Sari Sopi Yanti Sri Ulandari Sri Wahyuni Siregar Stevani Azharia Br Ginting Togi Romaito Siagian Umayra Umayra Vanesia Syhana EZ Sinaga Vina salya Widya kartini pangaribuan Yohana L Purba Yunda Safitri Zahara Ain Nur Syahru ⁠Intan Dwita Syahfitri