Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Dampak Bantuan Dana Operasional Sekolah (BOS) Terhadap Keluarga Miskin Di Kecamatan Wolowaru Kebupaten Ende Hamdan Moh. Lenggo; Syamsul Bahri; Rusdi Maidin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2022
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v2i1.1528

Abstract

Pendekatan partisipatif sangat mendukung tingkat keberhasialan pembangunan. Demikian juga dalam program Bantuan operasional sekolah (BOS) di sekolah SD. Oleh krena itu dipandang perlu untuk mengananalisa setiap gejala atau fenomena yang menghambat kegiatan pembangunan serta partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini. Aspek- aspek dalam penelitian yang menjadi acuhan adalah Partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengawasan, tahap pemanfaatan dan pada tahap evaluasi. Dengan metode deskriptif kualitatif, aspek tersebut ditelaah, penelaan ini menggunakan informen kunci dan informen pendukung sebagai pembanding. Dengan teknik wawancara peneliti mengumpulkan data dan menanalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa partisipasi masyarakat dalam tahap perencanaan berupa ide dan gagasan. Dalam hal ini, masyarakat menyepakati bidang pengembangan infrastruktur sebgai prioritas karena masyarakat mem butukan infrastruktur dengan bidang kerja adalah pembangunan talud pengaman banjir. Pada tahap pelaksanaan berupa tenaga, waktu dan materi. Masyarakat juga melaksanakan fungsi pengawasan hingga pada saat terbentuknya tim pengawas dari kalangan masyarakat itu sendiri samapai pemanfaatan hasil program. Pada tahap evaluasi dilaksanakan evaluasi proses dan evaluasi akhir. Evaluasi proses dilaksanakan secara baik namun pada evaluasi akhir masyarakat tidak dilibatkan secara menyeluruh dengan alasan waktu terdesak oleh kegiataan desa yang lain. The participatory approach strongly supports the success rate of development. Likewise in the School Operational Assistance (BOS) program in elementary schools. Therefore, it is deemed necessary to analyze every symptom or phenomenon that hinders development activities and community participation in these activities. The aspects in the research that are ignored are community participation at the planning stage, implementation stage, supervision stage, utilization stage and at the evaluation stage. With a qualitative descriptive method, these aspects are examined, this study uses key informants and supporting informants as comparisons. With the interview technique, the researcher collected data and analyzed it descriptively and qualitatively. The results showed that community participation in the planning stage was in the form of ideas and ideas. In this case, the community agrees on the field of infrastructure development as a priority because the community needs infrastructure with the field of work being the construction of flood protection bridges. At the implementation stage in the form of energy, time and material. The community also carries out a supervisory function until the formation of a supervisory team from the community itself until the utilization of the program results. At the evaluation stage, process evaluation and final evaluation are carried out. The evaluation of the process was carried out well, but in the final evaluation the community was not fully involved on the grounds that time was pressed by other village activities.
Peran Pendidikan Formal Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa Di SMA YP-PGRI 2 Makassar Dionisius Edison; Syamsul Bahri; Andi Burchanuddin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2022
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v2i1.1530

Abstract

Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kenakalan siswa, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan dan paya sekolah dalam menanggulangi kenakalan pada siswa SMA YP-PGRI 2 Makassar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Metode yang digunakan  untuk  menggambarkan  atau  menganalisis  suatu  hasil  penelitian  tetapi  tidak digunakan untuk membuatkesimpulan yang lebih luas. Penelitian ini berlokasi di SMU PGRI Kota Makassar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja (siswa) yang ada di SMA YP-PGRI 2. Sampel penelitian ini adalah siswa dan guru di SMA YP-PGRI 2. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa kebijakan sekolah dalam   rangka mengatasi kenakalan remaja di bagi menjadi tiga upaya yaitu kuratif, represif dan preventif. Adapun kebijakan yang telah di terapkan SMA YP-PGRI  2 Kota Makassar dalam mengatasi kenakalan remaja yaitu: peraturan sekolah yang bersifat tegas, pembatasan jam siswa berada di lingkungan sekolah maksimal jam 16.00, pengembalian siswa kepada orang tua, pengembangan pendidikan karakter, pengembangan pendidikan spiritual, layanan Bimbingan Konseling, menciptakan situasi sekolah yang kondusif dan pengubahan budaya melalui kegiatan positif. This study aims to determine the form of student delinquency, the factors that cause delinquency and the school's effort in tackling delinquency in high school students YP-PGRI 2 Makassar. This study uses qualitative methods with descriptive analysis. Methods used to describe or analyze a research result but are not used to make broader conclusions. This research is located in SMU PGRI Makassar City. The population in this study were all teenagers (students) in SMA YP-PGRI 2. The samples of this study were students and teachers at SMA YP-PGRI 2. The data collection methods used by the author in this study were documentation, interviews and observation. The results of this study indicate that school policies in order to overcome juvenile delinquency are divided into three efforts, namely curative, repressive and preventive. The policies that have been implemented by SMA YP-PGRI 2 Makassar City in overcoming juvenile delinquency are: strict school regulations, limiting the hours students are in the school environment a maximum of 16.00, returning students to their parents, developing character education, developing spiritual education, Counseling Guidance services, creating a conducive school situation and changing culture through positive activities.
Dampak Pembelajaran Daring Pada Siswa SD Advent Durian Di Makassar Claudia Priscilla A. K; Husain Hamka; Syamsul Bahri
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2022
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v2i2.2158

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pandangan siswa terhadap sistem pembelajaran daring, dan juga untuk mengetahui dampak pembelajaran daring pada anak, kemudian juga untuk mengetahui peranan orang tua dan guru dalam proses pembelajaran daring di Sekolah Advent Durian Makassar. Hasil dari Penelitian ini menunjukan bahwa proses pembelajaran daring menunjukkan beberapa dampak yang terjadi pada sistem belajar siswa di sekolah advent yaitu anak menjadi bosan, kurang interaksi, anak menjadi malas, dan merindukan teman dan guru. Disamping keempat dampak tersebut peran guru dan orang tua dalam proses pembelajaran anak sangat diperlukan. The purpose of this study was to determine the students' views on the brave learning system, and also to find out the impact of courageous learning on children, and then also to find out the role of parents and teachers in the courageous learning process at the Durian Adventist School Makassar. The results of this study showed that the online learning process showed several impacts on the student learning system in advent schools, namely children became bored, lacked interaction, children became lazy, and missed friends and teachers. Besides these four impacts, the role of teachers and parents in the child's learning process is very necessary.
Anak Jalanan Penggunaan Lem Aibon di Kota Makassar: Studi Fenomenologi Melcy Anjella Saputri; Syamsul Bahri; Harifuddin Harifuddin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2023
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v3i1.2694

Abstract

Anak jalan adalah jenis struktur yang digunakan oleh anak-anak dan anak-anak yang tinggal di jalan. Menurut Kementerian Sosial RI, anak jalanan adalah anak yang sudah lama terbiasa mencari nafkah atau keluaran di jalanan atau di tempat lain. Anak Jalanan adalah anak-anak yang telah meninggalkan rumah, sekolah, dan masyarakat sekitarnya sebelum usia enam belas tahun dan telah hanyut dalam kehidupan jalanan yang berpindah-pindah. Perilaku menghisap lem sangat umum terjadi di masyarakat karena lingkungan. Dua jenis lem yang paling banyak digunakan adalah lem rubah dan lem ibon. Lem rubah dan aibon adalah zat yang berbahaya dan sangat adiktif. Anak akan terbebani secara finansial jika menggunakan obat atau media suntik sebagai pengganti media lem ini yang lebih hemat biaya. Karena lebih murah dan lebih mudah didapat dengan media lem, maka anak akan lebih banyak mengkonsumsi zat adiktif (Ngelem). Street children are a type of structure used by children and children living on the street. According to the Indonesian Ministry of Social Affairs, street children are children who have long been accustomed to earning a living or going out on the streets or elsewhere. Street children are children who have left their homes, schools and the surrounding community before the age of sixteen and have drifted into a nomadic street life. The behavior of sucking glue is very common in society because of the environment. The two most widely used types of glue are fox glue and ibon glue. Fox glue and aibon are dangerous and highly addictive substances. Children will be burdened financially if they use drugs or injecting media as a substitute for this glue media which is more cost effective. Because it is cheaper and easier to obtain using glue, children will consume more addictive substances (Ngelem).
Perilaku Pengungsi Afganistan di Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar Muh. Nur Armin Alam; Syamsul Bahri; Andi Burchanuddin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2023
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v3i1.2696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku pengungsi afganistan di kecamatan tamalanrea kota Makassar, bagaimana adaptasi sosial pengungsi afganistan di kecamatan tamalanrea kota makassar dan faktor-faktor pendorong penyebab bermigrasi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, penentu informan menggunakan teknik Snowball Sampling yang dilakukan dengan sistem jaringan informan pengungsi afganistan. Dalam teknik pengumpulan data dilakukan observaasi, wawancara, dan dokumentasi. Serta analisis datanya melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan : (1) Bagaimana perilaku pengungsi Afganistan ialah bersubstansi atas 2 perilaku yaitu perilaku alami (innate behavior) ialah perilaku yang dibawa sejak lahir yang berupa refleks dan insting seperti contohnya ada pengungsi yang merasa nyaman dan senang untuk menjalani kehidupan di CH tamalanrea. Namun ada juga pengungsi yang terlihat murung dikarenakan masih memikirkan keluarganya di negara asalnya. Dan juga masih memikirkan kapan ia akan resettlement. Dan perilaku operan (operan behavior) merupakan perilaku yang dibentuk, dipelajari, dan dapat dikendalikan oleh karena itu dapat berubah melalui proses belajar. Perilaku sosial berkembang melalui interaksi dengan lingkungan.. contoh perilaku operan yang dialami oleh pengungsi afganistan ialah mereka belajar untuk berkomunikasi di negara yang ia tempati sementara. Seperti belajar berbahasa Indonesia untuk dapat berinteraksi dengan lancar dengan warga lokal dan itu menjadi reward untuk dirinya sendiri. 2) Bagaimana adaptasi sosial pengungsi afganistan ialah dapat diketahui bahwa sebagian besar pengungsi Afganistan beradaptasi dengan baik di lingkungan sekitarnya. Baik itu lingkungan bersama pengungsi asing lainnya maupun lingkungan warga lokal sekitar. Jadi adaptasi sosial pada pengungsi afganistan di kecamatan tamalanrea kota makassar dapat beradaptasi dengan baik karena mereka mengetahui beberapa konsekuensi apabila melanggar peraturan-peraturan yang berlaku. 3) Apa saja factor-faktor pendorong pengungsi Afganistan bermigrasi yaitu factor politik atau keamanan lah yang menjadi factor utama atau factor pendorong mereka bermigrasi. Seperti kita tahu, negara Afganistan merupakan negara konflik. Namun ada pun factor ekonomi dan factor status sosial yang menjadi factor penarik para pengungsi untuk bermigrasi. Karena jika mereka bermigrasi, mereka dapat mengubah kondisi ekonomi nya dan otomatis merubah status sosialnya. This study aims to find out (1) How is the behavior of Afghan refugees in Tamalanrea sub-district, Makassar city (2) How is the social adaptation of Afghan refugees in Tamalanrea sub-district, Makassar city (3) What are the driving factors that cause migration. This type of research is descriptive qualitative, determining informants using techniquesSnowball Sampling which was carried out with the Afghan refugee informant network system. In data collection techniques, observations, interviews, and documentation are carried out. As well as data analysis through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study indicate: (1) How the behavior of Afghan refugees is in substance on 2 behaviors, namely natural behavior (innate behavior) is behavior that was brought from birth in the form of reflexes and instincts, for example there are refugees who feel comfortable and happy to live life in CH tamalanrea . But there are also refugees who look gloomy because they are still thinking about their families in their home countries. And also still thinking about when he will resettlement. And operant behavior (operan behavior) is a behavior that is formed, learned, and can be controlled because it can change through the learning process. Social behavior develops through interaction with the environment. An example of operant behavior experienced by Afghan refugees is that they learn to communicate in the country they temporarily live in. Like learning to speak Indonesian to be able to interact fluently with local residents and that is a reward for himself. 2) How is the social adaptation of the Afghan refugees. It can be seen that most of the Afghan refugees adapt well to their surroundings. Be it the environment with other foreign refugees or the environment of the local residents. So the social adaptation of Afghan refugees in the Tamalanrea sub-district of Makassar City can adapt well because they know some of the consequences if they violate the applicable regulations. 3) What are the factors driving Afghan refugees to migrate, namely political or security factors which are the main factors or factors driving them to migrate. As we know, Afghanistan is a country of conflict. However, there are also economic factors and social status factors which are the factors that attract refugees to migrate. Because if they migrate, they can change their economic conditions and automatically change their social status
Pengaruh Pengasuhan Religius, Kondisi Ekonomi Orang Tua Dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada UPT SD Negeri 085 Pewaneang Kabupaten Luwu Utara Makbul Makbul; Asdar Asdar; Syamsul Bahri
Jounal of Primary Education Vol 6 No 2 (2026): Bosowa Journal of Education, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/bje.v6i2.6134

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengaruh simultan dan parsial Pengasuhan Religius, Kondisi Ekonomi Orang Tua, dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar siswa di lingkungan terpencil. Metode kuantitatif survei diterapkan dengan teknik total sampling pada seluruh populasi siswa UPT SD Negeri 085 Pewaneang, Kabupaten Luwu Utara (N=51). Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi, dianalisis melalui Regresi Linier Berganda setelah memenuhi uji asumsi klasik: normalitas (Kolmogorov-Smirnov Asymp. Sig. 0,200), heteroskedastisitas (Glejser Sig. >0,05), non-multikolinearitas (Tolerance >0,10; VIF <10), dan non-autokorelasi (Durbin-Watson 2,525). Hasil uji F menunjukkan pengaruh signifikan secara simultan (Sig. 0,004 < 0,05), mengonfirmasi kontribusi ketiga variabel terhadap Prestasi Belajar. Namun, uji t parsial mengungkapkan variasi signifikansi individual dimana Pengasuhan Religius berpengaruh dominan. Koefisien determinasi (Adjusted R² 0,002) merefleksikan kompleksitas interaksi variabel dalam konteks geografis spesifik. Implikasi teoretis memperkaya model ekologi Bronfenbrenner dengan integrasi mikrosistem keluarga dan makrosistem ekonomi, sementara implikasi praktis menekankan perlunya intervensi berbasis keluarga (family-based intervention) dan kebijakan afirmatif untuk daerah terpencil. Penelitian ini mengisi research gap melalui pendekatan multivariat di setting sosial-unik dengan keterbatasan infrastruktur dan tingkat pendidikan orang tua rendah (55,93% berpendidikan SD). This study examines the simultaneous and partial effects of Religious Parenting, Parental Economic Conditions, and Learning Motivation on Student Academic Achievement in remote educational settings. A quantitative survey method was employed using total sampling technique encompassing the entire student population (N=51) at UPT SD Negeri 085 Pewaneang, North Luwu Regency. Data collected via questionnaires and documentation were analyzed through Multiple Linear Regression after satisfying classical assumptions: normality (Kolmogorov-Smirnov Asymp. Sig. 0.200), homoscedasticity (Glejser Sig. >0.05), non-multicollinearity (Tolerance >0.10; VIF <10), and non-autocorrelation (Durbin-Watson 2.525). The F-test revealed significant simultaneous influence (Sig. 0.004 < 0.05), confirming the collective contribution of all three variables to Academic Achievement. However, partial t-tests indicated varying individual significance, with Religious Parenting demonstrating dominant effects. The determination coefficient (Adjusted R² 0.002) reflects complex variable interactions within the specific geographical context. Theoretically, this research enriches Bronfenbrenner's ecological model by integrating family microsystems and economic macrosystems. Practically, it advocates for family-based interventions and affirmative policies targeting remote areas with infrastructural constraints and low parental education levels (55.93% elementary school graduates). Addressing key research gaps, this study offers a multivariate analysis in a unique socio-cultural setting while providing empirical evidence on indirect effect mechanisms among variables in marginalized educational ecosystems.
Penerapan Kepemimpinan Spiritual Kepala Sekolah Dalam Membangun Karakter Guru Dan Siswa Di Gugus 3 Kecamatan Dampal Utara Kabupaten Tolitoli Nurjihadin Nurjihadin; Mas&#039;ud Muhammadiah; Syamsul Bahri
Jounal of Primary Education Vol 6 No 2 (2026): Bosowa Journal of Education, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/bje.v6i2.6145

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kepemimpinan spiritual kepala sekolah dalam membangun karakter guru dan siswa di Gugus 3 Kecamatan Dampal Utara, Kabupaten Tolitoli. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, di mana data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Subjek penelitian mencakup kepala sekolah, guru, dan siswa di empat sekolah dasar yang menjadi lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan spiritual kepala sekolah memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter guru dan siswa. Kepala sekolah yang menerapkan kepemimpinan spiritual dengan baik mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih harmonis, religius, dan disiplin. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa di SDN Mosing dan SDN 2 Tompoh, kepala sekolah aktif dalam memberikan teladan nilai-nilai spiritual, membangun komunikasi yang baik dengan guru dan siswa, serta menerapkan program-program pembinaan karakter secara konsisten. Sementara itu, di SDN 1 Tompoh dan SDN 3 Tompoh, tantangan masih ditemukan dalam aspek kedisiplinan siswa dan kurangnya keterlibatan kepala sekolah dalam pembinaan karakter secara langsung. Faktor-faktor yang mendukung penerapan kepemimpinan spiritual meliputi dukungan komunitas sekolah, program pembiasaan berbasis nilai spiritual, serta keterlibatan aktif guru dalam membimbing siswa. Sebaliknya, tantangan yang dihadapi antara lain kurangnya konsistensi dalam penerapan aturan sekolah, minimnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan karakter, serta rendahnya motivasi intrinsik siswa. This study aims to analyze the implementation of the principal's spiritual leadership in shaping the character of teachers and students in Cluster 3, Dampal Utara District, Tolitoli Regency. This research employs a qualitative approach with a case study method, where data is collected through interviews, observations, and document analysis. The study subjects include school principals, teachers, and students from four elementary schools selected as research locations. The research findings indicate that the principal's spiritual leadership plays a significant role in shaping the character of teachers and students. Principals who effectively implement spiritual leadership can create a more harmonious, religious, and disciplined school environment. The main findings reveal that at SDN Mosing and SDN 2 Tompoh, the principals actively serve as role models for spiritual values, establish effective communication with teachers and students, and consistently implement character development programs. Meanwhile, at SDN 1 Tompoh and SDN 3 Tompoh, challenges were identified in student discipline and the lack of direct involvement of principals in character-building activities. Several factors support the implementation of spiritual leadership, including strong community support, value-based habituation programs, and active teacher involvement in guiding students. Conversely, challenges include inconsistency in enforcing school regulations, minimal parental involvement in character education, and low intrinsic student motivation.
Pengaruh Budaya Kerja Sekolah Terhadap Kinerja Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Pada UPT SD Negeri 082 Lodang Kabupaten Luwu Utara Sahpan Sahpan; Asdar Asdar; Syamsul Bahri
Jounal of Primary Education Vol 6 No 2 (2026): Bosowa Journal of Education, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/bje.v6i2.6155

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya kerja sekolah terhadap kinerja pendidik dan tenaga kependidikan di UPT SD Negeri 082 Lodang Kabupaten Luwu Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data melalui kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Budaya kerja sekolah mencerminkan komitmen terhadap integritas, disiplin waktu, inovasi, serta semangat belajar yang tinggi. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji F untuk mengetahui pengaruh terhadap kinerja tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Kinerja pendidik dan tenaga kependidikan dianalisis berdasarkan efektivitas pembelajaran, administrasi, serta profesionalisme dalam menjalankan tugas. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa tenaga pendidik memiliki rata-rata kinerja 86,50 dengan standar deviasi 1,927, sedangkan tenaga kependidikan memiliki rata-rata kinerja 89,00 dengan standar deviasi 2,000. Pengujian hipotesis menggunakan uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas atau heteroskedastisitas dalam model regresi, sehingga analisis regresi dapat digunakan untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa budaya kerja sekolah memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pendidik dan tenaga kependidikan, dengan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi budaya kerja sekolah, semakin baik pula kinerja pendidik dan tenaga kependidikan. Oleh karena itu, penguatan budaya kerja sekolah yang positif dapat menjadi strategi untuk meningkatkan profesionalisme dan efektivitas dalam dunia pendidikan. This research aims to analyze the influence of school work culture on the performance of educators and education personnel at UPT SD Negeri 082 Lodang, North Luwu Regency. This research uses a quantitative approach with data collection methods through questionnaires, observation, and documentation. School work culture reflects a commitment to integrity, time discipline, innovation, and a high learning spirit. The hypothesis tests used are the F-test to determine the effect on the performance of educators and education personnel. The performance of educators and education personnel is analyzed based on learning effectiveness, administration, and professionalism in carrying out tasks. The results of descriptive analysis show that educators have an average performance of 86.50 with a standard deviation of 1.927, while education personnel have an average performance of 89.00 with a standard deviation of 2.000. Hypothesis testing using normality tests, multicollinearity tests, and heteroscedasticity tests shows that there are no symptoms of multicollinearity or heteroscedasticity in the regression model, so regression analysis can be used to test the relationship between variables. The results of the regression test show that school work culture has a positive influence on the performance of educators and education personnel, with a significance value greater than 0.05. This shows that the higher the school work culture, the better the performance of educators and education personnel. Therefore, strengthening a positive school work culture can be a strategy to improve professionalism and effectiveness in the world of education..
Analisis Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Melalui Tema Kearifan Lokal Pada Siswa Upt Spf Sd Negeri Pai Kota Makassar Sriwahyuni Tohir Tohir; Mas&#039;ud Muhammadiah; Syamsul Bahri
Jounal of Primary Education Vol 6 No 2 (2026): Bosowa Journal of Education, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/bje.v6i2.6158

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan dan hambatan dari pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di UPT SPF SD Negeri Pai Kota Makassar beserta hambatan yang ada saat penerapan proyek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, sedangkan wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi dari guru mengenai penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Dokumentasi berupa dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila digunakan untuk memperkuat hasil observasi dan wawancara. This study aims to analyze the implementation and obstacles of the Strengthening of the Pancasila Student Profile Project at UPT SPF SD Negeri Pai, Makassar City, as well as the challenges faced during the project’s implementation. The study uses a descriptive qualitative approach with the goal of describing the implementation of the Strengthening of the Pancasila Student Profile Project. Data collection was carried out through observation, interviews, and documentation. Observations were made to directly observe the learning process, while interviews were conducted to gather information from teachers regarding the implementation of the Pancasila Student Profile Strengthening Project. Documentation, which includes documents related to the implementation of the project, was used to support the results of the observations and interviews.
Efektivitas Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Gugus III Tamalate Kota Makassar Sudirman Sudirman; Asdar Asdar; Syamsul Bahri
Jounal of Primary Education Vol 6 No 2 (2026): Bosowa Journal of Education, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/bje.v6i2.6159

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis efektivitas penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di Sekolah Dasar pada Gugus III, Tamalate, Kota Makassar dan (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas penggunaan Dana BOS di Sekolah Dasar pada Gugus III, Tamalate, Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan penelitian yang ingin mendeskripsikan secara mendalam efektivitas penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Dana BOS di Sekolah Dasar Gugus III, Tamalate, Kota Makassar telah berkontribusi dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Dana ini dimanfaatkan untuk penyediaan sarana pembelajaran, buku ajar, pelatihan guru, dan kegiatan ekstrakurikuler. Peningkatan fasilitas belajar, akses buku yang lebih baik, serta peningkatan kompetensi guru mendukung efektivitas pembelajaran. Namun, efektivitas penggunaan Dana BOS masih dipengaruhi oleh faktor perencanaan, pengelolaan anggaran, kompetensi kepala sekolah, transparansi, serta keterlibatan guru dan komite sekolah. Kendala utama yang ditemukan adalah keterlambatan pencairan dana dan keterbatasan anggaran yang berdampak pada kelancaran program sekolah. This study aims to (1) analyze the effectiveness of using School Operational Assistance (BOS) funds in improving students' academic achievement in elementary schools in Cluster III, Tamalate, Makassar City, and (2) identify the factors influencing the effectiveness of BOS fund utilization in these schools. This research employs a descriptive qualitative approach, aiming to provide an in-depth analysis of the effectiveness of BOS funds in enhancing students' academic performance. Data collection was conducted through observations, interviews, and documentation. The findings indicate that the use of BOS funds in elementary schools in Cluster III, Tamalate, Makassar City has contributed to improving students' academic achievement. The funds have been utilized for providing learning facilities, textbooks, teacher training, and extracurricular activities. The improvement in learning facilities, better access to books, and enhanced teacher competence support effective learning. However, the effectiveness of BOS fund utilization is still influenced by factors such as planning, budget management, school principal competence, transparency, and the involvement of teachers and school committees. The main challenges identified include delays in fund disbursement and budget constraints, which affect the smooth implementation of school programs.