Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Dampak Bantuan Dana Operasional Sekolah (BOS) Terhadap Keluarga Miskin Di Kecamatan Wolowaru Kebupaten Ende Hamdan Moh. Lenggo; Syamsul Bahri; Rusdi Maidin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2022
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v2i1.1528

Abstract

Pendekatan partisipatif sangat mendukung tingkat keberhasialan pembangunan. Demikian juga dalam program Bantuan operasional sekolah (BOS) di sekolah SD. Oleh krena itu dipandang perlu untuk mengananalisa setiap gejala atau fenomena yang menghambat kegiatan pembangunan serta partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini. Aspek- aspek dalam penelitian yang menjadi acuhan adalah Partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengawasan, tahap pemanfaatan dan pada tahap evaluasi. Dengan metode deskriptif kualitatif, aspek tersebut ditelaah, penelaan ini menggunakan informen kunci dan informen pendukung sebagai pembanding. Dengan teknik wawancara peneliti mengumpulkan data dan menanalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa partisipasi masyarakat dalam tahap perencanaan berupa ide dan gagasan. Dalam hal ini, masyarakat menyepakati bidang pengembangan infrastruktur sebgai prioritas karena masyarakat mem butukan infrastruktur dengan bidang kerja adalah pembangunan talud pengaman banjir. Pada tahap pelaksanaan berupa tenaga, waktu dan materi. Masyarakat juga melaksanakan fungsi pengawasan hingga pada saat terbentuknya tim pengawas dari kalangan masyarakat itu sendiri samapai pemanfaatan hasil program. Pada tahap evaluasi dilaksanakan evaluasi proses dan evaluasi akhir. Evaluasi proses dilaksanakan secara baik namun pada evaluasi akhir masyarakat tidak dilibatkan secara menyeluruh dengan alasan waktu terdesak oleh kegiataan desa yang lain. The participatory approach strongly supports the success rate of development. Likewise in the School Operational Assistance (BOS) program in elementary schools. Therefore, it is deemed necessary to analyze every symptom or phenomenon that hinders development activities and community participation in these activities. The aspects in the research that are ignored are community participation at the planning stage, implementation stage, supervision stage, utilization stage and at the evaluation stage. With a qualitative descriptive method, these aspects are examined, this study uses key informants and supporting informants as comparisons. With the interview technique, the researcher collected data and analyzed it descriptively and qualitatively. The results showed that community participation in the planning stage was in the form of ideas and ideas. In this case, the community agrees on the field of infrastructure development as a priority because the community needs infrastructure with the field of work being the construction of flood protection bridges. At the implementation stage in the form of energy, time and material. The community also carries out a supervisory function until the formation of a supervisory team from the community itself until the utilization of the program results. At the evaluation stage, process evaluation and final evaluation are carried out. The evaluation of the process was carried out well, but in the final evaluation the community was not fully involved on the grounds that time was pressed by other village activities.
Peran Pendidikan Formal Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa Di SMA YP-PGRI 2 Makassar Dionisius Edison; Syamsul Bahri; Andi Burchanuddin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2022
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v2i1.1530

Abstract

Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kenakalan siswa, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan dan paya sekolah dalam menanggulangi kenakalan pada siswa SMA YP-PGRI 2 Makassar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Metode yang digunakan  untuk  menggambarkan  atau  menganalisis  suatu  hasil  penelitian  tetapi  tidak digunakan untuk membuatkesimpulan yang lebih luas. Penelitian ini berlokasi di SMU PGRI Kota Makassar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja (siswa) yang ada di SMA YP-PGRI 2. Sampel penelitian ini adalah siswa dan guru di SMA YP-PGRI 2. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa kebijakan sekolah dalam   rangka mengatasi kenakalan remaja di bagi menjadi tiga upaya yaitu kuratif, represif dan preventif. Adapun kebijakan yang telah di terapkan SMA YP-PGRI  2 Kota Makassar dalam mengatasi kenakalan remaja yaitu: peraturan sekolah yang bersifat tegas, pembatasan jam siswa berada di lingkungan sekolah maksimal jam 16.00, pengembalian siswa kepada orang tua, pengembangan pendidikan karakter, pengembangan pendidikan spiritual, layanan Bimbingan Konseling, menciptakan situasi sekolah yang kondusif dan pengubahan budaya melalui kegiatan positif. This study aims to determine the form of student delinquency, the factors that cause delinquency and the school's effort in tackling delinquency in high school students YP-PGRI 2 Makassar. This study uses qualitative methods with descriptive analysis. Methods used to describe or analyze a research result but are not used to make broader conclusions. This research is located in SMU PGRI Makassar City. The population in this study were all teenagers (students) in SMA YP-PGRI 2. The samples of this study were students and teachers at SMA YP-PGRI 2. The data collection methods used by the author in this study were documentation, interviews and observation. The results of this study indicate that school policies in order to overcome juvenile delinquency are divided into three efforts, namely curative, repressive and preventive. The policies that have been implemented by SMA YP-PGRI 2 Makassar City in overcoming juvenile delinquency are: strict school regulations, limiting the hours students are in the school environment a maximum of 16.00, returning students to their parents, developing character education, developing spiritual education, Counseling Guidance services, creating a conducive school situation and changing culture through positive activities.
Dampak Pembelajaran Daring Pada Siswa SD Advent Durian Di Makassar Claudia Priscilla A. K; Husain Hamka; Syamsul Bahri
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2022
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v2i2.2158

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pandangan siswa terhadap sistem pembelajaran daring, dan juga untuk mengetahui dampak pembelajaran daring pada anak, kemudian juga untuk mengetahui peranan orang tua dan guru dalam proses pembelajaran daring di Sekolah Advent Durian Makassar. Hasil dari Penelitian ini menunjukan bahwa proses pembelajaran daring menunjukkan beberapa dampak yang terjadi pada sistem belajar siswa di sekolah advent yaitu anak menjadi bosan, kurang interaksi, anak menjadi malas, dan merindukan teman dan guru. Disamping keempat dampak tersebut peran guru dan orang tua dalam proses pembelajaran anak sangat diperlukan. The purpose of this study was to determine the students' views on the brave learning system, and also to find out the impact of courageous learning on children, and then also to find out the role of parents and teachers in the courageous learning process at the Durian Adventist School Makassar. The results of this study showed that the online learning process showed several impacts on the student learning system in advent schools, namely children became bored, lacked interaction, children became lazy, and missed friends and teachers. Besides these four impacts, the role of teachers and parents in the child's learning process is very necessary.
Anak Jalanan Penggunaan Lem Aibon di Kota Makassar: Studi Fenomenologi Melcy Anjella Saputri; Syamsul Bahri; Harifuddin Harifuddin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2023
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v3i1.2694

Abstract

Anak jalan adalah jenis struktur yang digunakan oleh anak-anak dan anak-anak yang tinggal di jalan. Menurut Kementerian Sosial RI, anak jalanan adalah anak yang sudah lama terbiasa mencari nafkah atau keluaran di jalanan atau di tempat lain. Anak Jalanan adalah anak-anak yang telah meninggalkan rumah, sekolah, dan masyarakat sekitarnya sebelum usia enam belas tahun dan telah hanyut dalam kehidupan jalanan yang berpindah-pindah. Perilaku menghisap lem sangat umum terjadi di masyarakat karena lingkungan. Dua jenis lem yang paling banyak digunakan adalah lem rubah dan lem ibon. Lem rubah dan aibon adalah zat yang berbahaya dan sangat adiktif. Anak akan terbebani secara finansial jika menggunakan obat atau media suntik sebagai pengganti media lem ini yang lebih hemat biaya. Karena lebih murah dan lebih mudah didapat dengan media lem, maka anak akan lebih banyak mengkonsumsi zat adiktif (Ngelem). Street children are a type of structure used by children and children living on the street. According to the Indonesian Ministry of Social Affairs, street children are children who have long been accustomed to earning a living or going out on the streets or elsewhere. Street children are children who have left their homes, schools and the surrounding community before the age of sixteen and have drifted into a nomadic street life. The behavior of sucking glue is very common in society because of the environment. The two most widely used types of glue are fox glue and ibon glue. Fox glue and aibon are dangerous and highly addictive substances. Children will be burdened financially if they use drugs or injecting media as a substitute for this glue media which is more cost effective. Because it is cheaper and easier to obtain using glue, children will consume more addictive substances (Ngelem).
Perilaku Pengungsi Afganistan di Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar Muh. Nur Armin Alam; Syamsul Bahri; Andi Burchanuddin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2023
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v3i1.2696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku pengungsi afganistan di kecamatan tamalanrea kota Makassar, bagaimana adaptasi sosial pengungsi afganistan di kecamatan tamalanrea kota makassar dan faktor-faktor pendorong penyebab bermigrasi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, penentu informan menggunakan teknik Snowball Sampling yang dilakukan dengan sistem jaringan informan pengungsi afganistan. Dalam teknik pengumpulan data dilakukan observaasi, wawancara, dan dokumentasi. Serta analisis datanya melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan : (1) Bagaimana perilaku pengungsi Afganistan ialah bersubstansi atas 2 perilaku yaitu perilaku alami (innate behavior) ialah perilaku yang dibawa sejak lahir yang berupa refleks dan insting seperti contohnya ada pengungsi yang merasa nyaman dan senang untuk menjalani kehidupan di CH tamalanrea. Namun ada juga pengungsi yang terlihat murung dikarenakan masih memikirkan keluarganya di negara asalnya. Dan juga masih memikirkan kapan ia akan resettlement. Dan perilaku operan (operan behavior) merupakan perilaku yang dibentuk, dipelajari, dan dapat dikendalikan oleh karena itu dapat berubah melalui proses belajar. Perilaku sosial berkembang melalui interaksi dengan lingkungan.. contoh perilaku operan yang dialami oleh pengungsi afganistan ialah mereka belajar untuk berkomunikasi di negara yang ia tempati sementara. Seperti belajar berbahasa Indonesia untuk dapat berinteraksi dengan lancar dengan warga lokal dan itu menjadi reward untuk dirinya sendiri. 2) Bagaimana adaptasi sosial pengungsi afganistan ialah dapat diketahui bahwa sebagian besar pengungsi Afganistan beradaptasi dengan baik di lingkungan sekitarnya. Baik itu lingkungan bersama pengungsi asing lainnya maupun lingkungan warga lokal sekitar. Jadi adaptasi sosial pada pengungsi afganistan di kecamatan tamalanrea kota makassar dapat beradaptasi dengan baik karena mereka mengetahui beberapa konsekuensi apabila melanggar peraturan-peraturan yang berlaku. 3) Apa saja factor-faktor pendorong pengungsi Afganistan bermigrasi yaitu factor politik atau keamanan lah yang menjadi factor utama atau factor pendorong mereka bermigrasi. Seperti kita tahu, negara Afganistan merupakan negara konflik. Namun ada pun factor ekonomi dan factor status sosial yang menjadi factor penarik para pengungsi untuk bermigrasi. Karena jika mereka bermigrasi, mereka dapat mengubah kondisi ekonomi nya dan otomatis merubah status sosialnya. This study aims to find out (1) How is the behavior of Afghan refugees in Tamalanrea sub-district, Makassar city (2) How is the social adaptation of Afghan refugees in Tamalanrea sub-district, Makassar city (3) What are the driving factors that cause migration. This type of research is descriptive qualitative, determining informants using techniquesSnowball Sampling which was carried out with the Afghan refugee informant network system. In data collection techniques, observations, interviews, and documentation are carried out. As well as data analysis through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study indicate: (1) How the behavior of Afghan refugees is in substance on 2 behaviors, namely natural behavior (innate behavior) is behavior that was brought from birth in the form of reflexes and instincts, for example there are refugees who feel comfortable and happy to live life in CH tamalanrea . But there are also refugees who look gloomy because they are still thinking about their families in their home countries. And also still thinking about when he will resettlement. And operant behavior (operan behavior) is a behavior that is formed, learned, and can be controlled because it can change through the learning process. Social behavior develops through interaction with the environment. An example of operant behavior experienced by Afghan refugees is that they learn to communicate in the country they temporarily live in. Like learning to speak Indonesian to be able to interact fluently with local residents and that is a reward for himself. 2) How is the social adaptation of the Afghan refugees. It can be seen that most of the Afghan refugees adapt well to their surroundings. Be it the environment with other foreign refugees or the environment of the local residents. So the social adaptation of Afghan refugees in the Tamalanrea sub-district of Makassar City can adapt well because they know some of the consequences if they violate the applicable regulations. 3) What are the factors driving Afghan refugees to migrate, namely political or security factors which are the main factors or factors driving them to migrate. As we know, Afghanistan is a country of conflict. However, there are also economic factors and social status factors which are the factors that attract refugees to migrate. Because if they migrate, they can change their economic conditions and automatically change their social status
Analisis Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Melalui Tema Kearifan Lokal Pada Siswa Upt Spf Sd Negeri Pai Kota Makassar Sriwahyuni Tohir Tohir; Mas'ud Muhammadiah; Syamsul Bahri
Jounal of Primary Education Vol 6 No 2 (2026): Bosowa Journal of Education, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/bje.v6i2.6158

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan dan hambatan dari pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di UPT SPF SD Negeri Pai Kota Makassar beserta hambatan yang ada saat penerapan proyek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, sedangkan wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi dari guru mengenai penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Dokumentasi berupa dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila digunakan untuk memperkuat hasil observasi dan wawancara. This study aims to analyze the implementation and obstacles of the Strengthening of the Pancasila Student Profile Project at UPT SPF SD Negeri Pai, Makassar City, as well as the challenges faced during the project’s implementation. The study uses a descriptive qualitative approach with the goal of describing the implementation of the Strengthening of the Pancasila Student Profile Project. Data collection was carried out through observation, interviews, and documentation. Observations were made to directly observe the learning process, while interviews were conducted to gather information from teachers regarding the implementation of the Pancasila Student Profile Strengthening Project. Documentation, which includes documents related to the implementation of the project, was used to support the results of the observations and interviews.
Arahan Revitalisasi Kawasan Bersejarah Benteng Somba Opu Kabupaten Gowa Rana Wafiqah Adiputri; Murshal Manaf; Syamsul Bahri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6055

Abstract

Benteng Somba Opu merupakan sebuah warisan budaya peninggalan kesultanan Kerajaan Gowa-Tallo yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, kebudayaan yang kuat, dan menginterpretasikan peradaban bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi. Keberadaan Benteng Somba Opu saat ini diharapkan mampu menjadi sebuah obyek cagar budaya yang berorientasi sebagai destinasi pariwisata kebudayaan kebanggaan Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, merujuk pada kondisi kawasan Benteng Somba Opu yang saat ini dapat dikatakan cukup memprihatinkan sebagai sebuah kawasan cagar budaya, maka perlu dilakukan revitalisasi. Penelitian ini kemudian ditujukan untuk mengkaji, menganalisis, dan menginterpretasi arahan revitalisasi pada kawasan bersejarah Benteng Somba Opu Kabupaten Gowa berdasarkan kondisi eksisting fisik, ekonomi, sosial, dan institusional kawasan yang menjadi faktor penyebab degradasi fungsi kawasan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan alat uji berupa analisis Delphi dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 20 faktor penyebab degradasi fungsi kawasan bersejarah Benteng Somba Opu dan dua arahan revitalisasi yang tepat berdasarkan uji analisa. Pertama menghidupkan aktivitas kawasan sebagai edurekreasi budaya dan sejarah dan kedua yaitu mempertahankan fungsi kawasan Benteng Somba Opu sebagai warisan budaya (situs cagar budaya) dengan melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap peruntukan kawasan Benteng Somba Opu. Selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan mampu untuk meningkatkan kembali fungsi kawasan Benteng Somba Opu sebagai sebuah kawasan cagar budaya yang berorientasi pada wisata sejarah dan mampu memberikan sumbangsih kajian ilmiah bagi pemerintah setempat.  Somba Opu Fort is a cultural heritage left by the sultanate of the Gowa-Tallo Kingdom which has high historical value, strong culture, and interprets the civilization of the Indonesian people, especially the people of Sulawesi. The current existence of Somba Opu Fort is expected to become a cultural heritage object oriented as a proud cultural tourism destination for South Sulawesi Province. However, referring to the current condition of the Somba Opu Fort area which can be said to be quite worrying as a cultural heritage area, it is necessary to revitalize it. This research is then aimed at reviewing, analyzing and interpreting the direction of revitalization in the historic area of Fort Somba Opu, Gowa Regency based on the existing physical, economic, social and institutional conditions of the area which are the factors causing the degradation of the area's function. This research was conducted using a qualitative approach with test tools in the form of Delphi analysis and SWOT analysis. The research results show that there are 20 factors causing the degradation of the function of the Somba Opu Fort historic area and two appropriate revitalization directions based on analysis tests. The first is to revive area activities as cultural and historical recreation and the second is to maintain the function of the Somba Opu Fort area as a cultural heritage (cultural heritage site) by controlling and supervising the designation of the Somba Opu Fort area. Furthermore, it is hoped that the results of this research will be able to improve the function of the Somba Opu Fort area as a cultural heritage area oriented towards historical tourism and be able to contribute to scientific studies for the local government.
Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Nasabah Pada PT Bank Mega Tbk KCP Pettarani Makassar Nur Adelia; Syamsul Bahri; Juharni Juharni
Paradigma Journal of Administration Vol. 4 No. 1 (2026): Paradigma Journal of Administration, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/pja.v4i1.8196

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan nasabah di PT Bank Mega Tbk. Kantor Cabang Pembantu Pettarani Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada 90 nasabah yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan kriteria telah menjadi nasabah minimal 3 bulan. Kualitas pelayanan diukur melalui lima dimensi SERVQUAL, yaitu bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati, sedangkan kepuasan nasabah diukur berdasarkan persepsi nasabah terhadap layanan yang diterima. Data dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, dan regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berada pada kategori cukup baik dengan skor rata-rata 3,05, sedangkan kepuasan nasabah juga berada pada kategori cukup baik dengan skor rata-rata 2,92. Hasil uji t menunjukkan nilai t hitung sebesar 2,624 > t tabel 1,98 dengan signifikansi 0,01 < 0,05. Nilai R Square sebesar 0,570 menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berkontribusi sebesar 57,0% terhadap kepuasan nasabah. Dengan demikian, kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan nasabah. This study aims to analyze the effect of service quality on customer satisfaction at PT Bank Mega Tbk Pettarani Sub-Branch, Makassar. This research employed a quantitative approach using a survey method. Data were collected through questionnaires distributed to 90 customers selected using a non-probability sampling technique, with the criterion that respondents had been customers for at least three months. Service quality was measured using five SERVQUAL dimensions, namely tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy, while customer satisfaction was measured based on customers’ perceptions of the services received. The data were analyzed using validity tests, reliability tests, classical assumption tests, and simple linear regression with SPSS. The findings indicate that service quality was in the fairly good category, with an average score of 3.05, while customer satisfaction was also in the fairly good category, with an average score of 2.92. The t-test result indicated that the t-value was 2.624 > the t-table value of 1.98, with a significance value of 0.01 < 0.05. The R-squared value of 0.570 indicates that service quality accounts for 57.0% of the variation in customer satisfaction. Thus, service quality has a positive and significant effect on customer satisfaction.
Implementasi Digitalisasi Layanan Publik Pada Usaha Mikro Di PT Barokah Biqalbin Salim Arham Arham; Juharni Juharni; Syamsul Bahri
Paradigma Journal of Administration Vol. 4 No. 1 (2026): Paradigma Journal of Administration, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/pja.v4i1.8321

Abstract

Digitalisasi layanan publik merupakan bagian penting dari reformasi birokrasi yang bertujuan meningkatkan efisiensi, transparansi, aksesibilitas, dan kualitas pelayanan pemerintah kepada masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi digitalisasi layanan publik pada PT Barokah Biqalbin Salim sebagai usaha mikro di bidang fashion syar’i, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pemanfaatan layanan publik digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi layanan publik telah dimanfaatkan melalui pengurusan perizinan usaha berbasis Online Single Submission (OSS), layanan perpajakan digital, dan penggunaan platform digital untuk mendukung pemasaran usaha. Digitalisasi memberikan manfaat berupa kemudahan akses layanan, efisiensi administrasi, peningkatan legalitas usaha, serta perluasan peluang pemasaran. Namun, implementasinya belum optimal karena masih menghadapi hambatan berupa keterbatasan literasi digital, minimnya sosialisasi dan pendampingan dari pemerintah, kendala teknis pada sistem, serta belum tertatanya dokumentasi administrasi internal perusahaan. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan digitalisasi layanan publik pada usaha mikro sangat bergantung pada kesiapan internal organisasi, kemampuan sumber daya manusia, ketertiban administrasi, serta dukungan ekosistem digital yang berkelanjutan. Public service digitalization is an important part of bureaucratic reform aimed at improving the efficiency, transparency, accessibility, and quality of government services for society, including micro-enterprises. This study aims to analyze the implementation of public service digitalization at PT Barokah Biqalbin Salim as a micro-enterprise in the sharia fashion sector and to identify the supporting and inhibiting factors in the use of digital public services. This research employed a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation study, and were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that public service digitalization has been utilized through business licensing via the Online Single Submission (OSS) system, digital taxation services, and the use of digital platforms to support business marketing. Digitalization provides benefits such of easier access to services, administrative efficiency, improved legal compliance, and broader marketing opportunities. However, its implementation has not been fully optimal due to limited digital literacy, inadequate government outreach and assistance, technical system constraints, and poorly organized internal administrative documentation. This study emphasizes that the success of public service digitalization in micro-enterprises depends on internal organizational readiness, human resource capacity, administrative orderliness, and a sustainable digital ecosystem.
Implementasi Kebijakan Pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan Di Bakesbangpol Provinsi Sulawesi Selatan Muhammad Khaidir Dana Drajat; A. Muhibuddin Muhibuddin; Syamsul Bahri
Paradigma Journal of Administration Vol. 4 No. 1 (2026): Paradigma Journal of Administration, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/pja.v4i1.8982

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas implementasi kebijakan pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sulawesi Selatan serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dengan informan dari unsur pemerintah dan perwakilan organisasi kemasyarakatan. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan telah berjalan sesuai regulasi, tetapi efektivitasnya belum optimal. Implementasi kebijakan masih cenderung berorientasi pada pemenuhan administrasi, sementara penguatan kapasitas kelembagaan, kemandirian, dan partisipasi substantif organisasi kemasyarakatan belum berjalan secara optimal. Faktor penghambat utama meliputi komunikasi kebijakan yang masih satu arah, keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran, disposisi pelaksana yang bersifat administratif, serta struktur birokrasi yang bersifat hierarkis. Digitalisasi layanan melalui SIOLA dan SIORMAS merupakan inovasi penting, tetapi belum optimal karena keterbatasan kapasitas digital dan kurangnya sosialisasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya komunikasi partisipatif, penguatan kapasitas, dan kemitraan yang kolaboratif. This study aims to analyze the effectiveness of the implementation of the community organization empowerment policy at the National Unity and Politics Agency of South Sulawesi Province and to identify the supporting and inhibiting factors in its implementation. This research employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving government officials and representatives of community organizations. The data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that the community organization empowerment policy has been implemented in accordance with existing regulations, but its effectiveness remains suboptimal. Policy implementation still tends to focus on administrative compliance, while strengthening institutional capacity, organizational independence, and the substantive participation of community organizations have not been fully achieved. The main inhibiting factors include one-way policy communication, limited human and financial resources, administratively oriented implementers’ disposition, and a hierarchical bureaucratic structure. Service digitalization through SIOLA and SIORMAS represents an important innovation, but it has not been optimally utilized due to limited digital capacity and insufficient socialization. This study highlights the need for participatory communication, capacity strengthening, and collaborative partnerships.