Claim Missing Document
Check
Articles

MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM CERPEN-CERPEN INDRA TRANGGONO: KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINISME Muhammad Fhaisal Jamiisyairozi; Else Liliani
JURNAL KONFIKS Vol 13 No 2 (2026): KONFIKS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/b1bvtk21

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) bentuk-bentuk marginalisasi perempuan, (2) faktor-faktor penyebab marginalisasi perempuan, dan (3) bentuk perlawanan terhadap marginalisasi perempuan dalam cerpen-cerpen karya Indra Tranggono. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik sastra feminisme. Sumber data penelitian yang digunakan yakni cerpen Perempuan Hujan, Liang, Di atas Tanah Retak, Perempuan Bulan Perak, dan Sonya Rury. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah human instrumen berupa teknik baca dan catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Bentuk-bentuk marginalisasi perempuan yaitu kontrol atas daya produktif, kontrol atas reproduksi dan seksualitas, kontrol gerak perempuan, kontrol atas hak berpendapat, kontrol atas kepemilikan harta atau sumber daya ekonomi, dan kontrol atas gangguan keadaan sosial. Bentuk marginalisasi perempuan yang dominan muncul yaitu kontrol atas reproduksi dan seksualitas. Temuan ini mengarisbawahi bahwa akar penindasan perempuan dalam sistem patriarki adalah kontrol terhadap tubuh, reproduksi, dan seksualitas perempuan yang diposisikan sebagai objek keturunan dan pemuas nafsu laki-laki. (2) Faktor penyebab marginalisasi yang dialami oleh tokoh perempuan yang diwujudkan berdasarkan empat bagian yaitu keluarga, masyarakat, negara, ekonomi, dan ideologi. Penyebab marginalisasi perempuan yang dominan muncul yaitu faktor negara yang Abuse power dan Paternalistik. Tindakan represif negara merupakan bentuk dari sistem patriarki dan paternalistik yang bertujuan menekan, membatasi, atau menghambat kebebasan perempuan. (3) Respon terhadap marginalisasi perempuan berupa upaya perlawanan dan upaya bertahan. Respon terhadap marginalisasi yang dominan ditemukan adalah upaya melawan marginalisasi yang dialami oleh tokoh perempuan dalam kehidupannya (vigilantisme, perlawanan kultural, dan simbolis).
Prestise di Balik Perayaan Kematian: Kajian Budaya Atas Film Tulang Belulang Tulang Naila Abyantika Pramesthi; Else Liliani
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 11 No 3 (2026)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v11i3.2964

Abstract

This study identifies the cultural dynamics present in the film Tulang Belulang Tulang (2024) by Sammaria Sari Simanjuntak using Raymond Williams’ theory, specifically focusing on dominant, residual, and emergent values. This study employs a qualitative approach using content analysis. Data were collected by observing and recording dialogues and visual elements that illustrate cultural dynamics in the film Tulang Belulang Tulang. The data analysis technique used is the Miles and Huberman method, which consists of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. This study identified 15 data points comprising cultural dynamics according to Williams, namely dominant, residual, and emergent. The results reveal three layers of culture within the Mangokal Holi traditional ceremony. Seven data points represent dominant culture. Dominant culture exerts hegemony over traditional practitioners in terms of social status. Meanwhile, three data points were identified under residual values. Residual values seek to preserve the sanctity of ancestors amidst modernity. Furthermore, four data points represent emergent values. The presence of emergent values serves as a critical form that prioritizes rationality and honesty. These three value categories demonstrate that culture is a dynamic interplay between the legacy of the past, the demands of the present, and the ethical corrections of the future. This study makes a theoretical contribution by expanding the application of Raymond Williams’s cultural theory to Indonesian films, while also enriching critical scholarship on the dynamics of local cultural adaptation in the modern era. Keywords: cultural studies, Raymond Williams, Batak culture, Mangokal Holi, Tulang Belulang Tulang.
Structure of Feeling and Digital Alienation: Cultural Materialism in Okky Madasari's Novel "Kerumunan Terakhir" Riska Yunita; Else Liliani; Rio Mardani Suhardi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8564

Abstract

This study aims to analyze Okky Madasari's novel Kerumunan Terakhir (2016) through the concepts of cultural materialism and Raymond Williams' (1977) structure of feelings in order to reveal the dynamics of digital alienation and identity precarity experienced by urban subjects in the social media era. This research is a qualitative study with a descriptive-analytical approach. The data are in the form of textual units, including dialogue excerpts, internal monologues, and narrative descriptions, sourced from the novel as the main data source. Data collection was carried out through a literature study with repeated reading techniques and corpus recording, while the analysis used the triple hermeneutics method that integrates literary analysis with critical media studies and affect theory. The results show that Madasari's narrative articulates the structure of emergent feelings through the duality of the novel's characters: Jayanegara, who is a nobody in the real world, transforms into @Matajaya, who is adored on social media; and Noname, who lives in a remote village, transforms into the influential @Akardewa, a manifestation of digital alienation, the precarity of virtual identity, and the subject's inability to separate their real self from their digital persona. This study concludes that Indonesian fiction functions as an archive of digital social experiences that have not been formally articulated and demonstrates the transnational relevance of Williams's theory in the context of the Digital Global South. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis novel Kerumunan Terakhir (2016) karya Okky Madasari melalui konsep materialisme budaya dan struktur perasaan Raymond Williams (1977) guna mengungkap dinamika alienasi digital dan prekaritas identitas yang dialami subjek urban di era media sosial. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data berupa satuan tekstual mencakup kutipan dialog, monolog internal, dan deskripsi naratif yang bersumber dari novel sebagai sumber data utama. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan teknik pembacaan berulang dan pencatatan korpus, sedangkan analisis menggunakan metode triple hermeneutics yang mengintegrasikan analisis sastra dengan kajian studi media kritis dan teori afek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi Madasari mengartikulasikan struktur perasaan emergen melalui dualitas tokoh-tokoh novel Jayanegara yang bukan siapa-siapa di dunia nyata menjelma menjadi @Matajaya yang dipuja di media sosial; Noname, yang hidup di perdesaan terpencil, menjelma menjadi @Akardewa yang berpengaruh sebagai manifestasi dari alienasi digital, prekaritas identitas virtual, dan ketidakmampuan subjek memisahkan diri nyata dari persona digitalnya. Studi ini menyimpulkan bahwa fiksi Indonesia berfungsi sebagai arsip pengalaman sosial digital yang belum terartikulasikan secara formal dan mendemonstrasikan relevansi teori transnasional Williams dalam konteks Global South Digital.
IRONI, PARODI, DAN PASTICHE DALAM PUISI “TANAH AIR MATA” KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI (Kajian Posmodernisme) Diyah Herawati; Else Liliani; Widyastuti Purbani
Adabiyyāt: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 8 No 2 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajbs.2024.080202

Abstract

This study explores the use of irony, parody, and pastiche in Sutardji Calzoum Bachri's poem Tanah Air Mata through a postmodernist lens. This research is motivated by the fact that literary works play a role in conveying deep meanings and criticisms. Sutardji, a renowned contemporary Indonesian poet, often addresses profound themes such as social injustice. This research aims to comprehensively analyze how postmodern elements are employed in the poem to critique social and political issues. Using a qualitative descriptive method, the study involves textual analysis of the poem and secondary sources. The findings reveal that irony, the most dominant element in this poem, underscores the disparity between hope and reality in the form of suffering society feels amidst Indonesia's prosperity. Parody imitates the dominant narrative in Indonesia’s national anthem lyric, and pastiche blends traditional and modern elements to create layered meanings. Moreover, intertextuality is used to analyze these elements, linking the poetic text to grand narratives and other cultural symbols, creating a dialogue that enriches meaning and inspires readers to look critically at social reality. This approach enriches the understanding of a poem entitled Tanah Air Mata and demonstrates the power of postmodern aesthetics in contemporary poetry to highlight and critique social injustices.  
Perlawanan Perempuan dalam Kultur Masyarakat Madura pada Kumpulan Cerpen Kembang Selir Karya Muna Masyari Safitri Anasari; Else Liliani; Wiyatmi Wiyatmi
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7647

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan perlawanan tokoh perempuan dalam budaya patriarki masyarakat Madura. Pendekatan dalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan desain kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah teks tertulis berupa kalimat, ungkapan, dialog maupun perilaku dan perbuatan tokoh serta apa yang dialami perempuan yang terdapat dalam kumpulan cerpen yang berjudul ‘Kembang Selir’. Sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan cerpen ‘Kembang Selir’ karya Muna Masyari, yang diterbitkan oleh DIVA Press dengan tebal 130 halaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para tokoh perempuan dalam cerpen menyuarakan hak martabat diri dengan menentang budaya patriarki di Madura sehingga terjadilah perlawanan perempuan. Melalui analisis mendalam terhadap kumpulan cerpen Kembang Selir, penelitian ini menemukan bahwa perlawanan perempuan dalam kumpulan cerpen tersebut berbentuk perlawanan verbal dan perlawanan nonverbal.  
Manifestasi ketidaksadaran tokoh utama dalam webtoon In a Dream karya Cindy Chwa dan Angelina: Psikoanalisis Carl Gustav Jung Arum Febia Srihartati; Else Liliani; Anwar Efendi
Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol. 8 No. 2 (2026): JURNAL GENRE: (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) in Progress
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jg.v8i2.16319

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manifestasi ketidaksadaran tokoh utama dalam webtoon In a Dream karya Cindy Chwa dan Angelina berdasarkan perspektif psikologi analitik Carl Gustav Jung. Fokus penelitian meliputi manifestasi ketidaksadaran pribadi, ketidaksadaran kolektif, arketipe persona, shadow, anima/animus, dan self, serta proses individuasi dalam perkembangan kepribadian tokoh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif karena data yang dikumpulkan berupa dialog, narasi, monolog, dan visual yang merepresentasikan kondisi psikis tokoh utama dalam webtoon. Data diperoleh melalui teknik studi pustaka, baca, simak, dan catat, kemudian dianalisis dengan mengidentifikasi, mengklasifikasikan, menginterpretasikan, dan mendeskripsikan data berdasarkan konsep ketidaksadaran dan arketipe Carl Gustav Jung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manifestasi ketidaksadaran dalam webtoon In a Dream paling dominan muncul melalui mimpi sebagai representasi simbolik ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi ditunjukkan melalui pengalaman traumatis, ingatan yang ditekan, dan konflik emosional tokoh, sedangkan ketidaksadaran kolektif dimanifestasikan melalui simbol-simbol universal yang berkaitan dengan arketipe. Arketipe persona, shadow, anima/animus, dan self berperan dalam membentuk konflik batin sekaligus mendorong perkembangan psikologis tokoh utama. Proses individuasi tampak melalui perjalanan tokoh dalam menghadapi, menerima, dan mengintegrasikan berbagai aspek kepribadiannya hingga mencapai keutuhan diri. Dengan demikian, mimpi tidak hanya berfungsi sebagai elemen naratif, tetapi juga sebagai medium utama manifestasi ketidaksadaran yang memperlihatkan dinamika kepribadian tokoh sehingga pendekatan psikologi analitik Carl Gustav Jung efektif digunakan untuk mengungkap makna psikologis dalam karya sastra digital.
Struktur Perasaan dan Dinamika Budaya Digital dalam Film Budi Pekerti: Kajian Cultural Studies Raymond Williams Meiliana Sirait; Else Liliani; Setyawan Pujiono
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 14, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v14i2.138349

Abstract

The rapid growth of social media has transformed communication practices, social interactions, and the formation of public opinion in contemporary society. Phenomena such as virality, digital shaming, and public judgment have become integral to digital life and are prominently represented in Wregas Bhanuteja’s film Budi Pekerti. This study investigates the representation of the structure of feeling and digital cultural dynamics in the film through Raymond Williams’s Cultural Studies framework. A qualitative approach was employed using cultural textual analysis. The data comprised 40 purposively selected scenes analysed through the concepts of structure of feeling and the categories of dominant, residual, and emergent culture. Data were analysed through data reduction, data display, and conclusion drawing following the model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings reveal that the structure of feeling is the most dominant category (42.5%), encompassing social anxiety, fear of digital stigma, powerlessness, and emotional alienation. Dominant culture is reflected in virality, public judgment, the influence of netizen opinion, and digital social control. Residual culture appears through social ethics, respect for teachers, deliberation, and family solidarity. Emergent culture is represented by digital literacy, critical awareness, digital empathy, mental health awareness, and resistance to cancel culture. The study concludes that Budi Pekerti portrays social media virality as a new form of social power that shapes affective experiences, identity, legitimacy, and social relations in contemporary digital society.
Religious literary literacy in pesantren: a phenomenological study of moral and spiritual learning Lamri Lamri; Else Liliani; Sri Harti Widyastuti
International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) Vol 15, No 4: August 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijere.v15i4.39013

Abstract

This study explores how santri (student) in pesantren (Islamic boarding school) education experience and interpret religious literary practices as a medium for moral and spiritual learning and conceptualizes these experiences into a religious literary literacy (RLL) model. Using a qualitative interpretative phenomenological approach through interpretative phenomenological analysis (IPA), the study examines santri’s lived experiences and meaning-making processes. Data were generated through in-depth semi-structured interviews with eight santri from four pesantren in East Java and Yogyakarta, Indonesia, supported by analysis of student literary works and pesantren literacy archives. The analysis involved iterative stages of close reading, coding, thematization, and hermeneutic interpretation. The findings reveal three interconnected dimensions of RLL: i) literature as spiritual and moral reflection; ii) transformative selfhood and moral consciousness developed through reflective reading and writing; and iii) pesantren as a pedagogical ecosystem integrating faith, ethics, and creative expression. These dimensions form the RLL model, which conceptualizes literary practice as a cyclical process of devotion, reflection, and self-transformation. The study contributes theoretically by extending the concept of religious literacy beyond textual competence toward experiential and interpretative moral formation. Practically, the model offers a conceptual framework for designing reflective literacy programs in Islamic education that support character development and address contemporary moral challenges among youth.