Claim Missing Document
Check
Articles

Potensi Tumbuhan Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.) sebagai Antihiperlipidemia Lyan Nurlianti Lutfiah; Yani Lukmayani; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.13513

Abstract

Abstract. Black cumin (Nigella sativa Linn.) is a plant that is useful as an antihyperlipidemic agent. Hyperlipidemia is a major risk factor for atherosclerosis. The research method used in this literature review is a literature search online databases. The results of the literature search indicate that black cumin has the potential as an antihyperlipidemic with the administration of extracts and essential oils. Absolute ethanol solvent and a mixture of methanol and distilled water are the best solvents. Between extracts and essential oils, extracts are proen to be more effective than essential oils. The antihyperlipidemic activity of black cumin (Nigella sativa Linn.) is influenced by the presence of compounds that function as antihyperlipidemic agents, specifically the terpenoid compound group and the active compound thymoquinone.Abstrak. Jintan hitam (Nigella sativa Linn.) merupakan salah satu tumbuhan yang bermanfaat sebagai antihiperlipidemia. Hiperlipidemia merupakan faktor risiko utama terjadinya aterosklerosis. Metode penelitian yang digunakan pada kajian pustaka ini adalah penelusuran pustaka melalui database online. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan bahwa jintan hitam memiliki potensi sebagai antihiperlipidemia dengan pemberian ekstrak dan minyak atsiri. Pelarut etanol absolut serta campuran metanol dan aquadest merupakan pelarut yang terbaik. Antara ekstrak dengan minyak atsiri membuktikan bahwa ekstrak lebih efektif dibandingkan dengan minyak atsiri. Aktivitas antihiperlipidemia dari jintan hitam (Nigella sativa Linn.) dipengaruhi oleh adanya kandungan senyawa yang berfungsi sebagai agen antihiperlipidemia yaitu golongan senyawa terpenoid serta adanya senyawa aktif thymoquinone.
Aktivitas Antidiabetes Tanaman Rosemary (Rosmarinus officinalis L.) Nola Nurmala; Yani Lukmayani; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.13616

Abstract

Abstract. Diabetes is a chronic disease characterized by increased blood glucose levels in the body because the pancreas is unable to produce insulin or the body is unable to use insulin optimally. Plants that have antidiabetic activity are rosemary plants (Rosmarinus officinalis L.) which come from the Lamiaceae tribe and the Rosmarinus clan. The purpose of this literature search is to identify how the potential of rosemary plants (Rosmarinus officinalis L.) in overcoming diabetes mellitus. The method used is a literature search by searching for articles that have been published in national and international journals through electronic data such as Google Scholar, PubMed, Science Direct, Springer, and Scopus. The results of the literature search showed that leaf extracts and herb extracts of rosemary plants have antidiabetic activity by reducing blood glucose levels and increasing insulin levels. Then, the active compound in rosemary that has potential as an antidiabetic is rosmarinic acid. Abstrak. Diabetes merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dalam tubuh karena pankreas tidak mampu menghasilkan insulin atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara optimal. Tanaman yang memiliki aktivitas antidiabetes yaitu tanaman rosemary (Rosmarinus officinalis L.) yang berasal dari suku Lamiaceae dan marga Rosmarinus. Tujuan dari penelusuran pustaka ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana potensi tanaman rosemary (Rosmarinus officinalis L.) dalam mengatasi penyakit diabetes melitus. Metode yang digunakan adalah penelusuran pustaka dengan mencari artikel yang telah diterbitkan dalam jurnal nasional maupun internasional melalui data elektronik seperti Google Scholar, PubMed, Science Direct, Springer, dan Scopus. Hasil dari penelusuran pustaka menunjukkan bahwa ekstrak daun dan ekstrak herba tanaman rosemary memiliki aktivitas antidiabetes dengan cara menurunkan kadar glukosa darah dan meningkatkan kadar insulin. Kemudian, senyawa aktif dalam rosemary yang berpotensi sebagai antidiabetes adalah asam rosmarinat.
Potensi Aktivitas Antidiabetes Daun Salam (Syzygium polyanthum Wight) Fuzi Sugiarti Putri; Thayazen Abdo Hizam AlHakimi; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.13820

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus is a metabolic disease that has symptoms of hyperglycemia that occurs because the pancreas cannot secrete insulin, there is a disturbance in insulin action, or both. The bay plant (Syzygium polyanthum Wight.) is a woody plant that is usually utilized for its leaves. Bay leaves are used as a spice or traditional medicinal herb. Usually this plant is used as a treatment for hypertension, diabetes mellitus, gout, diarrhea and ulcers. This study uses a systematic literature review method regarding the potential antidiabetic activity of leaves conducted in vitro or in vivo. Secondary data used in this study are national or international articles found in Science Direct, Google Scholar and Pubmed. The stages carried out in this study are by searching and retrieving articles or journals (identification), selecting articles or journals (screening), eligibility of articles or journals (eligibility) and search results and data (included). The results of the literature search show that bay leaves have potential as antidiabetics. Bay leaves contain secondary metabolites of flavonoids, tannins, alkaloids, saponins and terpenoids. Abstrak. Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik yang memiliki gejala hiperglikemia yang terjadi karena pankreas tidak dapat mensekresi insulin, adanya gangguan kerja insulin, ataupun keduanya. Tanaman salam (Syzygium polyanthum Wight.) adalah tanaman berkayu yang biasanya dimanfaatkan bagian daunnya. Daun salam digunakan sebagai bumbu masakan atau ramuan obat tradisional. Biasanya tanaman ini digunakan sebagai pengobatan hipertensi, diabetes melitus, asam urat, diare dan maag. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review mengenai potensi aktivitas antidiabetes daun dilakukan secara in vitro ataupun in vivo. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah artikel nasional atau internasional yang terdapat di Science Direct, Google Scholar dan Pubmed. Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan melakukan pencarian dan dan pengambilan artikel atau jurnal (identification), pemilihan artikel atau jurnal (screening), kelayakan artikel atau jurnal (eligibility) dan hasil pencarian dan data (included). Hasil penelusuran pustaka menunjukkan bahwa daun salam memiliki potensi sebagai antidiabetes. Daun salam mengandung metabolit sekunder golongan flavonoid, tanin, alkaloid, saponin dan terpenoid.
Tumbuhan yang Berpotensi terhadap Mortalitas Kutu Rambut (Pediculus humanus capitis) Desma Nova Diana; Yani Lukmayani; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.13920

Abstract

Abstract. Pediculosis is an ectoparasitic disease of the hair or scalp that occurs due to parasitic infestation in the form of lice, which has become one of the world's health problems. Head lice control relies on the repeated use of chemicals at very low levels (around 1%) because they have a narrow safety margin. The use of these low levels contributes to the emergence of head lice resistance to drugs, but increasing the dose of drugs can cause poisoning in patients. The method used is Systematic Literature Review, which is by searching for research articles in publishers and then analyzing based on inclusion and exclusion criteria. This literature study aims to assess the potential of various plant extracts and essential oils that have pediculocidal activity with test parameters in the form of LC50 values to determine the toxicity category of materials against head lice. The water extract of the Vitex negundo plant has the highest level of toxicity against head lice within 24 hours of testing. The methanol extract of Rhinacanthus nasutus has the highest toxicity in the testing time for 4 hours, and the ethanol extract of Illicium verum has the highest toxicity in the testing time for 1 hour, and the essential oil of Garcinia dulcis combined with Citrus aurantium has the highest toxicity in the testing time for 10 minutes. Abstrak. Pedikulosis merupakan suatu penyakit ektoparasit pada rambut atau kulit kepala yang terjadi akibat adanya infestasi parasit berupa kutu yang menjadi salah satu masalah kesehatan di dunia. Pengendalian kutu rambut bergantung pada penggunaan berulang bahan kimia dalam kadar yang sangat rendah (sekitar 1%) karena memiliki batas keamanan yang sempit. Penggunaan dalam kadar rendah ini berkontribusi terhadap munculnya resistensi kutu rambut terhadap obat, namun peningkatan dosis obat dapat menyebabkan keracunan pada penderita. Metode yang digunakan berupa Systematic Literature Review (SLR) yaitu dengan melakukan pencarian artikel penelitian pada publisher dan kemudian dianalisis berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Studi literatur ini bertujuan untuk mengkaji potensi berbagai ekstrak dan minyak atsiri tumbuhan yang memiliki aktivitas pedikulosida dengan parameter uji berupa nilai LC50 untuk mengetahui kategori toksisitas dari bahan terhadap kutu rambut. Pada ekstrak air tumbuhan Vitex negundo memiliki tingkat toksisitas tertinggi terhadap kutu rambut dalam waktu pengujian selama 24 jam. Pada ekstrak metanol Rhinacanthus nasutus memiliki toksisitas paling tinggi dalam waktu pengujian selama 4 jam, dan pada ekstrak etanol Illicium verum memiliki toksisitas tertinggi dalam waktu pengujian selama 1 jam, dan pada minyak atsiri Garcinia dulcis yang dikombinasi dengan Citrus aurantium memiliki toksisitas paling tinggi dalam waktu pengujian selama 10 menit.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis angulata L.) terhadap Bakteri Penyebab Jerawat Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis Siska Aulia; Livia Syafnir; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.13931

Abstract

Abstract. Ciplukan leaves contain various compounds, such as flavonoids, saponins, and alkaloids that are thought to have antibacterial activity. This study examines the potential of ciplukan leaves (Physalis angulata L.) as an antibacterial against acne-causing bacteria. This study was conducted to test the antibacterial activity of ethanol extract of ciplukan leaves in inhibiting the growth of Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis bacteria. Ciplukan leaves were extracted using the maceration method with 70% ethanol solvent. The extract concentrations were 15, 20, 25, 30, 35, 40 mg/mL. Each concentration was tested for antibacterial activity using the agar diffusion method. The results showed that ethanol extract from ciplukan leaves has antibacterial activity against the growth of Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. The most effective concentration that can inhibit bacterial growth is 40 mg/mL with an inhibition zone on Propionibacterium acnes bacteria of 6.21 mm while on Staphylococcus epidermidis of 6.75 mm. The smallest concentration that can inhibit Propionibacterium acnes bacteria is 30 mg/mL while Staphylococcus epidermidis bacteria is at a concentration of 25 mg/mL.Abstrak. Daun ciplukan memiliki berbagai kandungan senyawa, seperti flavonoid, saponin, dan alkaloid yang diduga memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini mengkaji potensi daun ciplukan (Physalis angulata L.) sebagai antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun ciplukan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Daun ciplukan diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 15, 20, 25, 30, 35, 40 mg/mL. Setiap konsentrasi dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi agar cara sumuran. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun ciplukan memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Konsentrasi paling efektif yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri yaitu 40 mg/mL dengan zona hambat pada bakteri Propionibacterium acnes sebesar 6,21 mm sedangkan pada Staphylococcus epidermidis sebesar 6,75 mm. Konsentrasi terkecil yang mampu menghambat bakteri Propionibacterium acnes yaitu 30 mg/mL sedangkan pada bakteri Staphylococcus epidermidis pada konsentrasi 25 mg/mL.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Buah Murbei Hitam (Morus nigra L.) serta Penetapan Kadar Flavonoidnya. Rheinanda Maulia Ayu; Yani Lukmayani; Kiki Mulkiya
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14463

Abstract

Abstract. Black mulberry fruit (Morus nigra L.) contains bioactive flavonoid and phenol compounds. Flavonoids have high antioxidant activity by donating hydrogen atoms to free radicals. hydrogen atoms to free radicals. This study was conducted to determine antioxidant activity and flavonoid content of black mulberry fruit extract. The extraction process was carried out using maceration method with 96% ethanol solvent.%. Antioxidant activity test of extracts using DPPH method at concentrations of 10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, and 200 ppm using UV-Vis spectrophotometry. get the value of ethanol extract at a concentration of 44 ppm with a flavonoid content of 0,099%. Abstrak. Buah murbei hitam (Morus nigra L.) mengandung senyawa bioaktif flavonoid dan fenol. Flavonoid memiliki aktivitas antioksidan tinggi dengan cara mendonorkan atom hidrogen kepada radikal bebas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan kadar flavonoid dari ekstrak buah murbei hitam. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96 %. Uji aktivitas antioksidan ekstrak menggunakan metode DPPH pada konsentrasi 10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm menggunakan spektrofotometri UV-Vis mendapatkan nilai ekstrak etanol pada konsentrasi 44 ppm dengan nilai kadar flavonoid sebesar 0,099%.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bawang Hitam dan Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap Bakteri Penyebab Jerawat Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus Dina Nuryati; Thyazen Abdo Alhakimi; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14479

Abstract

Abstract. Garlic and black garlic have great potential as antibacterials against acne-causing bacteria. Acne is a skin disease in the form of chronic inflammation of the polysebaceous follicles caused by changes in the pattern of follicle keratinization, excessive sebum production. This study was conducted using the Systematic Literature Review method, the data used in this study were secondary data reviewed from national and international articles. Based on the literature review, it is known that garlic and black garlic have antibacterial activity against acne-causing bacteria, namely Propionibacterium acnes and Staphylococcus aureus. From the literature review, the antibacterial activity of garlic against Propionibacterium acnes bacteria provides a minimum inhibitory concentration of 5% while against Staphylococcus aureus bacteria it provides a minimum inhibitory concentration value of 10%. Black garlic has antibacterial activity against Propionibacterium acnes bacteria with a minimum inhibitory concentration of 2%, while against Staphylococcus aureus bacteria the minimum inhibitory concentration value is 10%. The typical content for garlic is allicin while black garlic is S-allyl cysteine. Abstrak. Bawang putih dan bawang hitam mempunyai potensi besar sebagai antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat. Jerawat merupakan suatu penyakit kulit berupa peradangan kronis pada folikel polisebasea yang disebabkan oleh perubahan pola keratinisasi folikel, produksi sebum yang berlebihan. Penelitian ini dilakukan dengan metode Systematic Literature Review, data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa data sekunder yang ditelaah dari artikel nasional dan internasional. Berdasarkan kajian literatur maka diketahui bahwa bawang putih dan bawang hitam memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri peneyebab jerawat yaitu Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus . Dari kajian literatur, aktivitas antibakteri bawang putih terhadap bakteri Propionibacterium acnes memberikan konsentrasi hambat minimum 5% sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus memberikan nilai konsentrasi hambat minimum 10%. Bawang hitam memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan konsentrasi hambat minimun 2%, sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus nilai konsentrasi hambat minimum yaitu 10%. Kandungan khas untuk bawang putih adalah allicin sedangkan bawang hitam adalah S-allyl sistein.
Optimasi Ekstraksi Pati Kulit Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. Sapientum L.) dengan Metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) Tsania Nujjia Wijaya; Bertha Rusdi; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14730

Abstract

Abstract. Ambon banana peel starch has been extracted using maceration method, but it resulted in low starch yield of 1.62% (Rusdi et al., 2023). This study optimizes the extraction of starch from ambon banana peel using Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) method with temperature variation of 20, 30, 40°C and time of 10, 20, 30 minutes based on starch yield and total carbohydrate content. Based on data testing of starch yield percent with Analysis of variance (ANOVA), a p-value of 0.000 (<0.05) was obtained, indicating that temperature and time had a significant effect on starch yield percent. While in the carbohydrate content data, a p-value of 0.002 (<0.05) was obtained, indicating that temperature and time also had a significant effect on carbohydrate content. The results showed that 40°C and 30 minutes gave the highest yield. However, these results were not consistent with the carbohydrate content, with the maximum results obtained at 30°C and 20 minutes. It can be concluded that the optimal conditions cannot be determined because the pattern of starch yield and carbohydrate content is not consistent. Abstrak. Pati kulit pisang ambon telah diekstraksi menggunakan metode maserasi, namun menghasilkan rendemen pati yang rendah yaitu 1,62% (Rusdi et al., 2023). Penelitian ini mengoptimalkan ekstraksi pati dari kulit pisang ambon menggunakan metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) dengan variasi suhu 20, 30, 40°C dan waktu 10, 20, 30 menit berdasarkan perolehan rendemen pati dan kadar karbohidrat total. Berdasarkan pengujian data persen rendemen pati dengan Analisis varian (ANOVA), diperoleh p-value sebesar 0,000 (<0,05), menandakan suhu dan waktu berpengaruh secara signifikan pada persen rendemen pati. Sedangkan pada data kadar karbohidrat, diperoleh p-value sebesar 0,002 (<0,05) yang menunjukkan suhu dan waktu juga berpengaruh signifikan pada kadar karbohidrat. Hasil menunjukkan bahwa suhu 40°C dan waktu 30 menit memberikan rendemen tertinggi. Namun, hasil tersebut tidak konsisten dengan kadar karbohidrat, dengan hasil maksimum yang diperoleh pada suhu 30°C dan waktu 20 menit. Maka dapat disimpulkan kondisi optimal belum dapat ditentukan karena pola persen rendemen pati dan kadar karbohidrat tidak konsisten.
Gambaran Peresepan Tanaman Obat Antidiabetes di Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus Tawangmangu Dita Afriantika; Kiki Mulkiya Yuliawati; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15021

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus is a metabolic disorder caused by pancreatic beta cells which cannot produce enough insulin or cannot use the insulin produced effectively, resulting in increased blood sugar levels or hyperglycemia. Treatment carried out to treat diabetes mellitus uses traditional herbal medicine. Some of the plants used include bitter (Andrograhphis paniculata), cinnamon (Cinnamomum burmanii), and ginger (Curcuma xanthorriza). This study aims to determine the prescribing pattern and effectiveness of prescribing a combination of simplicia for diabetes mellitus patients at the Hortus Medicus Tawangmangu Jamu Research House (RRJ) in the period January – June 2023. The research method used is the descriptive method with retrospective data collection. From the results of this research, data was obtained that the description of the prescription of medicinal plants to reduce the condition of diabetes mellitus, the main ones are bitter, cinnamon, bay leaves, and ginger. Then other medicinal plants were also added such as Javanese chilies, ginger for complaints of fatigue, gotu kola and black cumin for complaints of tingling, secang and miana for complaints of blurred vision, meniran, turmeric, and ginger for complaints of sore feet and soles, sedge grass, lemongrass, and bittersweet for complaints of body itching, then ginger to overcome weight loss Abstrak. Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolik yang diakibatkan oleh sel beta pankreas yang tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif sehingga terjadi peningkatan kadar gula di dalam darah atau hiperglikemia. Pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi diabetes mellitus dengan memanfaatkan obat herbal tradisional. Beberapa tanaman yang digunakan antara lain sambiloto (Andrograhphis paniculata), kayu manis (Cinnamomum burmanii), dan temulawak (Curcuma xanthorriza). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peresepan dan efektivitas pemberian resep kombinasi simplisia untuk pasien diabetes mellitus di Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus Tawangmangu pada periode Januari – Juni 2023. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif. Dari hasil penelitian ini, diperoleh data bahwa gambaran peresepan tanaman obat untuk mengurangi kondisi diabetes mellitus yang utama adalah sambiloto, kayu manis, daun salam, dan temulawak. Kemudian ditambahkan juga tanaman obat lain seperti cabe jawa, jahe untuk keluhan mudah lelah, pegagan dan jinten hitam untuk keluhan kesemutan, secang dan miana untuk keluhan penglihatan kabur, meniran, kunyit, dan temulawak untuk keluhan luka di kaki dan telapak sakit, rumput teki, sereh, dan sambiloto untuk keluhan badan gatal, kemudian temulawak untuk mengatasi berat badan turun.
Pengujian Aktivitas Antibakteri dan Antioksidan serta Kadar Fenol Total Ekstrak Buah dan Kulit Buah Apel Hijau (Malus sylvestris (L.) Mill) Amelia Ersa Renatha; Citra Mufidah; Vinda Maharani Patricia; Yani Lukmayani; Kiki Mulkiya
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15064

Abstract

Abstract. Tropical fruits have the potential to be a natural source of antioxidants. Natural antioxidants are generally considered safer for consumption and can improve overall health compared to synthetic antioxidants. One plant that exhibits promising antioxidant properties is the green apple (Malus sylvestris (L.) Mill), which is rich in vitamin A, vitamin B, vitamin C, minerals, fiber, and phenolic compounds. This study aimed to evaluate the antibacterial activity against Propionibacterium acnes and Pseudomonas aeruginosa, antioxidant activity using the DPPH (2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl) method, and total phenolic content of both the fruit and peel of green apples that were ground in water at a ratio of (1:10). The results showed that the fruit juice and peel extracts of green apples exhibited a moderate zone of inhibition against Propionibacterium acnes and Pseudomonas aeruginosa, falling within the 5-10 mm range. However, the peel juice extract demonstrated a larger zone of inhibition against both bacteria compared to the fruit juice extract. The antioxidant activity of both the fruit and peel extracts was categorized as weak. The green apple fruit extract exhibited an IC50 value of 597.4853 ppm and a total phenolic content of 8.4762 mgGAE/g, while the peel extract demonstrated an IC50 value of 583.0589 ppm and a total phenolic content of 13.315 mgGAE/g. Abstrak. Buah-buahan tropis berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Antioksidan alami umumnya lebih aman untuk dikonsumsi dan dapat meningkatkan derajat kesehatan tubuh jika dibandingkan dengan antioksidan sintetik. Salah satu tanaman yang berpotensi memiliki khasiat sebagai antioksidan adalah tanaman apel hijau (Malus sylvestris (L.) Mill) yang banyak mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C, mineral, serat serta senyawa fenol. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa, pengujian aktivtias antioksidan terhadap DPPH (2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl) serta menghitung kadar fenol total dari buah dan kulit buah apel hijau yang dihaluskan menggunakan air dengan perbandingan (1:10). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak jus buah dan kulit buah apel hijau terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa memiliki respon zona hambat sedang karena berada di rentang nilai 5-10 mm, sedangkan hasil dari ekstrak jus kulit buah apel memiliki diameter zona hambat lebih besar terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa dibandingkan dengan ekstrak jus buah apel hijau. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak buah dan kulit buah apel hijau masing-masing termasuk ke dalam kategori lemah. Ekstrak buah apel hijau memberikan nilai IC50 sebesar 597,4853 ppm dengan nilai kadar fenol total sebesar 8,4762 mgGAE/g, sedangkan untuk ekstrak kulit buah apel hijau memberikan nilai IC50 sebesar 583,0589 ppm dengan nilai kadar fenol total sebesar 13,315 mgGAE/g.