Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : FORUM

Jounalisme Online luqman, yanuar
FORUM Vol 1, No 1 (2010): Forum
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.332 KB)

Abstract

Jurnalisme Online secara fungsional bisa dibedakan dari jenis jurnalisme lain, dengan menggunakan komponen teknologinya sebagai faktor penentu, dalam hal perumusan operasional. Jurnalis Online harus memutuskan tentang hal-hal sebagai berikut: * Format media yang mana, yang terbaik untuk menyampaikan suatu berita (multimediality). Sejauh ini bandwidht dan hak cipta merupakan faktor-faktor struktural yang masih menghambat pengembangan content multimedia yang inovatif. * Memberi pilihan pada publik untuk memberi tanggapan, berinteraksi, atau bahkan meng-customize (menyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan publik bersangkutan) terhadap berita-berita tertentu (interactivity). * Mempertimbangkan cara-cara untuk menghubungkan (connect) berita yang ia buat dengan berita lain, arsip, sumber data dan seterusnya lewat hyperlinks (hypertextuality). Empat jenis Jurnalisme Online Orang yang memproduksi content terutama untuk Internet, dan khususnya untuk World Wide Web, dapat dianggap bekerja untuk salah satu atau lebih dari empat jenis Jurnalisme Online yang tersebut di bawah ini. Berbagai jenis jurnalisme online itu dapat ditempatkan di antara dua domain. Domain pertama, adalah suatu rentangan, mulai dari situs yang berkonsentrasi pada editorial content sampai ke situs-situs Web yang berbasis pada konektivitas publik (public connectivity). Editorial content diartikan di sini sebagai teks (termasuk kata-kata yang tertulis atau terucapkan, gambar-gambar yang diam atau bergerak), yang dibuat atau diedit oleh jurnalis. Sedangkan konektivitas publik dapat dipandang sebagai komunikasi ”titik-ke-titik yang standar” (standard point-to-point). Atau, bisa juga kita nyatakan sebagai komunikasi ”publik” tanpa perantaraan atau hambatan (barrier of entry), misalnya, hambatan dalam bentuk proses penyuntingan (editing) atau moderasi (moderation). Domain kedua, melihat pada tingkatan komunikasi partisipatoris, yang ditawarkan oleh situs berita bersangkutan. Sebuah situs dapat dianggap terbuka (open), jika ia memungkinkan pengguna untuk berbagi komentar, memposting, mem-file (misalnya: content dari situs tersebut) tanpa moderasi atau intervensi penyaringan. Sedangkan komunikasi partisipatoris tertutup (closed) dapat dirumuskan sebagai situs di mana pengguna mungkin berpartisipasi. Namun langkah komunikatif mereka harus melalui kontrol editorial yang ketat.
Citizen Journalism luqman, yanuar; Hasfi, Nurul
FORUM Vol 2, No 2 (2010): Forum
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.526 KB)

Abstract

Citizen journalism, selanjutnya disebut CJ, akhir-akhir ini menjadi perbincangan para pakar media internasional karena di beberapa negara ternyata memiliki kemampuan menjadi media alternatif bagi warga, bahkan pada beberapa kasus menyaingi eksistensi jurnalisme profesional dalam hal ini televisi, surat kabar dan radio. Sebut saja blog ohmynews.com di Korea Selatan yang efektif menyuarakan aspirasi warganya, Stomp.sg milik warga Singapura dan malaysiakini.com milik warga Malaysia yang disebut-sebut sebagai media oposisi pemerintah.Pada perkembangannya kemunculan CJ mendapatkan penolakan dari mainstream media yang merasa citizen jurnalis bukan profesional yang bisa melakukan reportase layaknya jurnalis profesional. Misalnya saja The New York Times yang mempertanyakan keakuratan dan objektifitas hasil peliputan CJ. Tradisional jurnalist juga mengaku skeptis dan menganggap CJ tidak dapat melakukan peliputan dengan baik karena hanya jurnalist terlatih yang mengetahui etika media saat melakukan peliputan.Meski mendapat kritikan pedas semacam ini, namun CJ terus berkembang, bahkan pada beberapa peristiwa penting di dunia CJ menjadi pihak nomer 1 yang memberikan informasi kepada masyarakat. Misalnya saja saat stunami terbesar di Samudera Hindia, video dan informasi penting justru bersumber dari blog yang dimiliki warga. Blog-blog pribadi warga juga menjadi2saksi peristiwa besar lain seperti perang irak1, runtuhnya WTC, Bom Bali I dan II, dll.Perkembangan CJ sendiri juga sampai di Indonesia, dimana saat ini – jika tidak bisa dibilang populer – nama CJ versi online mulai bernunculan. Misalnya saja blog wikiku.com, kabarindonesia.com, indonesiasatu.net dan mediabersama.com. Sayangnya keberadaan mereka masih kurang mendapat apresiasi warga sendiri. Padahal bloger di Indonesia pada dasarnya memberikan kontribusi besar bagi masa reformasi di Indonesia tahun 1998, dimana saat itu para bloger lah yang melaporkan indikasi KKN di keluarga cendana.Semenara saat tsunami di Aceh, CJ dengan blogger dan gambar video amatir yang diupload di youtube, berhasil memberikan data multimedia yang ternyata membantu menggalang dana besar dari seluruh penjuru Indonesia bahkan dunia bagi para korban di Aceh.Dalam sebuah seminar tentang berkembangan teknologi informasi yang diikuti oleh penulis, pembicara dari Malaysia mengatakan bahwa citizen online journalism di Malaysia berkembang karena negara ini tidak memiliki kebebasan pers. Jadi dia sendiri mengatakan bahwa pada dasarnya negara seperti Indonesia tidak memerlukan CJ karena pers konvensional sudah memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.Pernyataan itu bisa dibenarkan, namun meski demikian, seharusnya Indonesia tidak menutup diri untuk CJ kerena di negara asal CJ yaitu Amerika yang juga telah memiliki kebebasan pers saja, kehidupan media sudah1 http://www.camerairaq.com/citizen_journalism/3dipengaruhi oleh media online, termasuk informasi yang disediakan oleh para blogger dalam bentuk CJ.Di Indonesia sendiri, seiring dengan meningkatnya penggunaan internet di Indonesia dan tentu saja pengaruh dari trend media di era digital, CJ mulai dikenal. Namun sayangnya, saat ini belum ada perhatian dan pendataan yang resmi tentang gambaran CJ yang ada di Indonesia. Sebelum melakukan penelitian, peneliti melihat ada 3 jenis website di Indonesia yang membuka forum untuk Citizen Journalism yaitu website mainstream media, portal (biasanya berita dan hiburan) dan situs khusus CJ.Peneliti juga melihat, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum paham tentang media baru yang di sebagian negara sudah menjadi channe demokrasi yang efektif bahkan melebihi fungsi yang dimiliki mainstream media. Pengenalan CJ di Indonesia justru berawal bukan dari website khusus CJ, namun justru buntut dari perkembangan online journalism gagasan mainstream media yang di era TI ini beramai-ramai membuat versi online. Sebut saja situs kompas.com milik harian Kompas yang memiliki dua situs CJ dengan brand extension masing-masing, yaitu Kompasiana dan KoKi. Dalam situsnya www.kompasiana.com2 dijelaskan bahwa kompasiana merupakan forum diskusi dan ruang kuliah berisi gagasan bernas dan mencerahkan, demokratis, konstruktif, dan bertanggung jawab. Pembaca atau pengunjung diajak urun rembug dengan mengomentari setiap artikel yang masuk. Sementara, “Komunitas kompas” atau Koki dengan alamat web http://community.kompas.com3 berisi2 22 Oktober 2009, sudah berubah format menjadi semacam facebook3 Sudah dihapus4tulisan masyarakat, sedangkan Kompasiana adalah semacam blog jurnalist yang berisi tulisan dari para jurnalist Kompas4.Contoh lain surat kabar daerah Suara Merdeka juga tidak mau ketinggalan dengan menyadiakan beberapa halaman di webnya untuk “suara warga” dengan alamat web http://citizennews.suaramerdeka.com. Hal yang berbeda dibuat oleh Media Indonesia yang menyediakan fasilitas weblog kepada pembacanya di alamat http://blog.mediaindonesia.com. Disini warga bisa membuat blog dan menulis tentang apa saja, dengan isi tanggung jawab pemilik blog.Sementara situ khusus CJ yang saat ini terdeteksi aktif melakukan kegiatan diantaranya www.wikimu.com, www.kabarindonesia.com, www.penyingkul.com, www.sumbawanews.com. Sementara yang ada di portal satu-satunya yang sementara ditemukan peneliti adalah www.inilah.com yang merupakan salah satu portal yang paling banyak dikunjungi di Indonesia selain www.detik.com dan www.okezone.com.Selain di media cetak dan situs internet, istilah CJ di Indonesia juga mucul dalam program berita televisi I-witness yang ditayangkan Metro TV, dimana didalamnya berisi berita video amateur yang diambil warga dan diolah kembali oleh tim pemberitaan Metro TV. Program sejenis ini, kabarnya juga akan segera dibuat oleh televisi berita terbaru di Indonesia yaitu TV One.Sementara dari media radio, radio Elshinta telah menerapkan citizen jounalism sejak tahun 2000 dan saat ini sudah memiliki 100.000 netizen. CJ di radio Elshinta sendiri bentuknya adalah laporan langsung dari warga yang4 Format terbaru kompasiana di-online-kan pada ulangtahunnya ke 1 tanggal 22 Oktober 20095menjadi saksi mata suatu kejadian. Mereka biasanya ditelpon oleh Elshinta untuk kemudian on-air melaporkan kejadian di lapangan.Perkembangan citizen online journalism menggembirakan karena memungkinkan masyarakat indonesia memiliki akses untuk menjadi subyek dalam pemberitaan. Masyarakat juga mendapat kesempatan menyuarakan aspirasinya karena memiliki space di online media. Hal ini penting mengingat media massa – meski berada di dalam lingkup negara yang memiliki kebebasan pers – tetap memiliki keterbatasan misalnya kecondongan pada berbagai kepentingan terutama kapital dan politis. Dengan demikian maka penting untuk menyambut CJ yang diharapkan akan memberikan warna tersendiri yang lebih independen dan jujur di dunia media di Indonesia.Yang menjadi perhatian peneliti disini adalah masih minimnya sumber informasi tentang CJ di Indonesia, mengingat CJ masih hal yang baru. Peneliti juga melihat CJ di Indonesia memiliki beberapa keunikan dan perbedaan dengan konsep CJ yang terjadi di negara asalnya. Dari dasar itulah, peneliti tertarik untuk melakukan study kasus tentang perkembangan CJ di Indonesia.
Co-Authors Ade Irma Safitri Widyasari Adhani Windari, Adhani Aditia Galih Purnama Afra, Adeela Agus Naryoso S.Sos, M.Si, Agus Naryoso Agus Sudrajat Ahmad Firdaus Faza Ajeng Novita Handayani Ajeng Rengganis, Sekar Akmalia Rasyid, Alifa Al Ghifari, Rafdil Alda Retania, Vira Aldy Rizaldy Ramadhan Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alifa Ardini Sekarpramudita Alya Husni, Asyifa Amida Yusriana Ardini Sekarpramudita, Alifa Armansyah H Tambunan Arsya Yanuar Widyati Asti Rifiana Audrey Filia Rheinaya Azizah, Tazkiyah Bayu Widagdo, Muhammad Bisma Alief, Bisma Chairunnisa Chairunnisa Christy Ofeelia, Meyndi Daniel Panogari Dewi Fatmawaty Dimas Herdy Dinda Salsabella, Anisa Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Djoko Setyabudi Djoko Setyabudi Djoko Setyabudi Egi Famela EKA NOVITASARI Eleonora Irsya Eris Ariesda, Teo Faizuddin Rahmatulloh Faradila, Sabna Farrah Alfarani Nur Hidayat Felda Aurellia Anandani Felisitas Yolandita Suryo Kinasih Fitriani Sholekha, Hillda Gilang Wicaksono Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hartuti Purnaweni Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hidayat Putra, Syahida Alam Gitanjali Ignatia Endra Kristianti Iqbal Aulia Ahsan Istiqomah Sheyla Al Kautsar Istivani, Yulia Jafron Wasiq Hidayat Joyo Nur Suyanto Gono Karem Rouby Islam Kismartini Kismartini Klara Laurensia Kurniawan Akbar Kurniawan, Qory Firdan Lina Mustikawati Lintang Ratri Rahmiadji Lintang Ratri Rahmiaji M Bayu Widagdo Mary Nuriko Tresia Sucipto, Sisilia Michael Lucky Ananda Mimi Sakinah Hilma Mira Adinia Muhammad Anggit Hendrawan Muhammad Aufar Al Wafi Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Wahyu Widagdo Nada Nurkhalisha, Aisya Naomi Uli Quanti Siahaan Neovansa, Azizi Nisa Tunjung Hapsari Nisrina Aulianovanda, Althafa NS Gono, Joyo Nur Hasanah, Anisa Nurist Surayya Ulfa Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurul Hasfi Nurul Izzah, Saniyyah Osadhani Rahma Pemila Palita, Fadel Banna Panggalo, Agimoto Pemelia, Ehma Pratama, Bagas Abiyyu Primada Qurrota Ayun Pua Ayu Wardhani Putri Dwikurnia, Josephine Putri Febrianti Putri Pangestu, Tiara Qurrota Ayun, Primada Rahma Kurniasari Rahmadianto, Rizky Retno Palupi Ridha Fadhila Rifka Ayu Pertiwi Rifqah Nailah Rodra Ciptaning Rosita Rachma Ruli Sawitri S. Rouli Manalu Sarwititi Sarwoprasodjo Siti Zahara Alawiyah Yulissa Siwi Gayatri Sofari Fuqoha, M Ilham Sudarno Sudarno Sumardjo Sunarto Sunarto Suryanto Gono, Joyo Nur Syahdam Arrahman Tan Faizal Rachman Tandiyo Pradekso Taufik Suprihatini Thalya Anggita Putri Triyanto, Deni Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Via Oktarina, Rafida Vina Aulia Maharani Warsana, Warsana Wijanarko, Bagoes Wiwid Noor Rakhmad Wulan Sumekar, Wulan Yasirul Amri Muhammad Yoga Yuniadi Yuaristi Ekantina Zainiyah Alfirdaus Zulfa Priastuti, Nadia