Claim Missing Document
Check
Articles

Motif Batik Ciwaringin sebagai Identitas Budaya Lokal Cirebon Machdalena, Susi; Dienaputra, Reiza D.; Suryadimulya, Agus S.; Nugraha, Awaludin; Kartika, N.; Yuliawati, Susi
PANGGUNG Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2476

Abstract

Artikel ini membahas motif-motif Batik Ciwaringin yang mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri. Batik Ciwaringin dibuat tidak menggunakan pola dalam proses membatiknya, dikerjakan para ibu yang sudah berumur lanjut, untuk mewarnai batik digunakan bahan pewarna alam, motif batik kental dengan nilai-nilai Islam, karena awal mulanya terdapat batik di Ciwaringin dibuat oleh para santri di pesantren. Hal-hal tesebut menjadi unggulan Batik Ciwaringin dan menjadi identitas masyarakatnya. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan ini digunakan untuk memaparkan kearifan lokal dan identitas masyarakat Ciwaringin. Data-data yang berupa motif-motif batik Ciwaringin diperoleh dari sanggar Batik Muhammad Suja’i dan sanggar Batik Risma. Data-data dipilah berdasarkan pola motif batik. Terdapat lima pola motif, yaitu pola geometris, pangkaan, byur, ceplak-ceplok, laseman, dan pola kombinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif-motif batik dengan berbagai ragam hias berasal dari alam di sekitar Desa Ciwaringin. Batik Ciwaringin merupakan hasil ekspresi kultural para perajinnya dengan motif-motif yang tidak keluar dari sosio-kultural Islam karena sejak awal adanya Batik Ciwaringin berpedoman pada ajaran-ajaran Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Batik Ciwaringin menunjukkan identitas budaya Ciwaringin yang kaya akan flora dan fauna. Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas.
Preserving Cultural Heritage Through a Traditional Ritual: A Case of Kabuyutan Ciburuy Kartika, Nyai; Dienaputra, Reiza D.; Machdalena, Susi; Sriwardani, Nani; Ekawardhani, Yully Ambarsih; Sudrajat, Dadang
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.2801

Abstract

The Seba ceremony in Kabuyutan Ciburuy is a tradition of preserving cultural heritage that has been carried out for generations. Currently, Kabuyutan Ciburuy is no longer actively used as an educational institution, nor are the contents of its ancient manuscripts used as a reference for the development of science. For this reason, this research tries to dissect why this happens. This research uses a qualitative research method which is believed to be a scalpel in research, thereby helping to explain the research object factually. The research step is to carry out participant observation, the researcher actively participates in the activities being researched. Also hold interviews with local cultural figures either formally or informally. The result of this research is a descriptive explanation of the Seba Ceremony as an effort to preserve cultural heritage. Because heirlooms refer to educational activities, such as the discovery of many manuscripts, one of which contains advice on old Sundanese character and ethics. This has become a high level of cultural wealth by continuing to carry out the Seba ceremony as a form of preservation so that it remains alive and relevant for future generations. Keywords: Seba Ceremony, Ciburuy District, Preservation, Cultural Heritage
The Unspoken Meaning of Names: Cultural Dimensions in Translating Russian Anthroponyms into Indonesian Lukman, Fahmy; Kartika, Nyai; Machdalena, Susi
Eralingua: Jurnal Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra VOL 9, NO 2 (2025): ERALINGUA
Publisher : Makassar State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/eralingua.v9i2.77863

Abstract

Translating Russian proper names into Indonesian poses linguistic and cultural challenges since Russian anthroponyms, comprising full names, patronymics, and diminutives, encode complex semantic and pragmatic meanings often overlooked in translation. This study aims to examine how these meanings are conveyed in Indonesian literary translations and what cultural implications arise from the process. Using a qualitative descriptive method, data were collected from four Russian literary works translated into Indonesian and analyzed for semantic, pragmatic, communicative, and cultural dimensions. The findings show that most translations fail to reflect the rich social and emotional nuances embedded in Russian anthroponyms. Diminutives, which express intimacy and social bonds, and patronymics, which signify respect and cultural identity, are frequently neutralized or omitted. The study concludes that Indonesian translators tend to prioritize linguistic equivalence over cultural accuracy, leading to the loss of socio-pragmatic depth. This research contributes to cross-cultural translation studies by underscoring the need for culturally sensitive approaches in translating personal names
Pemajuan Kebudayaan sebagai Desa Mandiri Melalui Peningkatan Ketahanan Budaya di Desa Nagarawangi Sumedang Nyai Kartika; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Prima Agustina Mariamurti; Witakania Sundasari Som; Rony Hidayat Sutisna
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i4.33261

Abstract

This study concerns the Promotion of Culture as an Independent Village through the Improvement of Cultural Resilience. The problem in villages that possess culture is the lack of inventory and documentation related to renewable cultural promotion objects (OPK), because conditions in the field may mean that these cultural promotion objects are still developing, underdeveloped, or even no longer developing. Through this research, it is hoped that the potential of OPK in Nagarawangi Village, Rancakalong District, Sumedang Regency, can be mapped comprehensively. The method used is qualitative research, with sources collected not only in the form of objects and written sources but also oral and visual sources. Oral sources were explored through interviews with storytellers as OPK actors and activists. As for visual sources, the exploration was not only carried out on visual sources in the form of moving images but also visual sources in the form of still visuals. The results of this study show a new approach to village development. The Cultural Advancement Village not only enriches the various existing approaches to village development but also provides a new space for village development, namely cultural space. The novelty of this approach will not only make villages more concerned about their culture but also enable villages to become centers of advancement.
Penanaman pohon di area gunung beser sebagai wujud aktualisasi kearifan lokal dalam memelihara sumber mata air Nyai Kartika; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Nany Ismail; Prima Agustina; Witakania Sundasari; Rony Hidayat
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21717

Abstract

AbstrakPenanaman pohon disekitar hutan gunung Beser penting dilakukan, karena fungsi pohon di hutan untuk ketersediaan sumber air dan penahan erosi jika terjadi hujan. Penanaman pohon dilakukan sebagai upaya menjaga keseimbangan alam tersebut. Metode yang dilakukan adalah metode lapangan, dengan dua tahapan kerja yaitu, tahapan persiapan survey lapangan, di antaranyan menyiapkan bibit tanaman yang akan ditanam di hutan. Selanjutnya tahapan pelaksanaan, yaitu hari dimana dilakukan penanaman di hutan gunung Beser. Tujuan Pengabdian Pada Masyarakat dengan melibatkan mahasiswa KKN di Desa Nagarawangi dapat terjun langsung ikut serta dalam program penanaman kembali hutan. Dengan kegiatan ini diharapkan selain bernilai kebermanfaatan bagi masyarakat,dengan penanaman hutan gunung Beser dapat mencegah erosi, dan penghijauan kembali hutan, juga pengalaman berharga bagi mahasiswa peserta KKN dengan ikut serta bersama dengan Kelompok Tani Hutan Benteng Muda Mandiri. Kelompok Tani Hutan ini yang berkegiatan dalam basis tradisi mendapatkan kesempatan melaksanakan program Daya Desa Budaya pada tahun 2021 yang lalu. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu mengadakan berbagai pelatihan dalam upaya pelestarian budaya dan pelestarian lingkungan terutama hutan dan mata air. Kata kunci: penanaman pohon; kearifan lokal AbstractPlanting trees around the Mount Beser forest is important, because the function of trees in the forest is to provide water sources and resist erosion when it rains. Tree planting is done as an effort to maintain natural balance. The method used is a field method, with two work stages, namely, the field survey preparation stage, including preparing plant seeds to be planted in the forest. The next stage of implementation is the day when planting is carried out in the Mount Beser forest. The aim of Community service is to involve KKN Student in Nagarawangi Village who can directly participate in the forest replanting program. With this activity, it is hoped that apart from being of value to the community, planting the Mount Beser forest can prevent erosion and reforest the forest, as well as being a valuable experience for student participating in KKN by participating together with Benteng Muda Mandiri Forest Farmer Group. This Forest Farmers Group, which carries out activityes on a traditional basis, had the opportunity to implement the Daya Cultural Village Program in 2021. The activities carried out include holding various trainings in efforts to preserve culture and preserve the environment, especially forests and springs. Keywords: tree planting; local wisdom
KEMAMPUAN BERBAHASA DALAM PRAKTIK BERBICARA PADA PENGIDAP SKIZOFRENIA Muhammad Ramdlan Al-Mubarrok; Susi Machdalena; Tb. Ace Fachrullah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 17 No 1 (2021)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/kkd01k31

Abstract

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui kemampuan berbahasa yaitu kemampuan reseptif dalam hal menyimak dan mengutarakan jawaban serta kemampuan produktif dalam berbicara. Metode dan teknik yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik simak libat cakap dan catat, serta menggunakan menggunakan teknik cakap pancing yang merupakan suatu teknik yang diwujudkan dengan cara pemancingan karena untuk mendapatkan data tersebut peneliti harus memancing informan agar mau berbicara. Selain itu juga, penulis menggunakan metode padan organ wicara-fonetis artikulatoris yang menjadi alat ucap, penelitian yang menganilisis pada organ bicara manusia yang mengkaji terkait ujaran-ujaran fonetis. Hasil analisis menunjukkan bahwa gangguan berbahasa yang ditemukan pada pasien skizofrenia antara lain ialah: (1) penghilangan fonem awal, tengah, maupun akhir, (2) penambahan dan pengurangan fonem-fonem tertentu, (3) pengulangan fonem-fonem khususnya pada fonem tengah, (4) kesalahan peggunaan kategori preposisi dan konjungsi, serta (5) ketidaktepatan kosakata dengan ujaran informan karena faktor pengaruh bahasa Ibu atau bahasa asing yang dikuasai oleh informan.
KENDALA-KENDALA PARA AHLI HELIKOPTER SERI MI TNI ANGKATAN DARAT DALAM PELATIHAN BAHASA RUSIA Machdalena, Susi; Kartika, N.; Delisma, Onny; Koeshandoyo, Eko Wahyu
Midang Vol 1 No 3 (2023): Midang, Oktober 2023
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v1i3.50606

Abstract

Belajar bahasa asing selalu terdapat kendala-kendala dalam menguasainya. Tidak terkecuali TNI AD para ahli helicopter seri MI buatan Rusia. Para ahli ini ditugaskan belajar bahasa Rusia berkenaan dengan bahasa yang digunakan dalam buku-buku manual dan tombol-tombol yang ada dalam helikopter tersebut. Tujuan pelatihan ini adalah agar para ahli ini dapat membaca dan memahami buku-buku manual, dapat berbicara, dan pada akhirnya dapat  menerima transfer teknologi  helicopter seri MI ini. Untuk menguasai bahasa Rusia para ahli ini menemukan banyak kendala. Kendala-kendala  ini dapat dikalsifikasikan menjadi dua kelompok besar yaitu kendala pribadi dan kendala akademik. Kendala pribadi berkaitan dengan bakat peserta, memenuhi tugas, motivasi, sedangkan kendala akademik berkaitan dengan penguasaan bahasa Indonesia peserta, kemampuan menerima materi bahasa Rusia. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil yang peroleh adalah kendala-kendala yang dihadapi para ahli ini terpetakan. Kendala-kendala ini berupa kendala belajar bahasa Rusia bukan pilihannya, hanya memenuhi perintah atasan, waktu belajar tiga bulan terlalu lama bagi peserta berpisah dari keluarga, sedangkan untuk cuti tidak diperbolehkan, jarak pangkat yang sangat mencolok (peserta berpangkat kopral disatukelaskan dengan peserta berpangkat mayor),  kendala akademik berupa peserta tidak memahami kelas kata dalam bahasa Indonesia dari dua belas peserta hanya tiga orang yang dapat memahami kelas kata dalam bahasa Indonesia.  Oleh karena itu, dari hasil belajar selama tiga bulan 150 jam yang dapat dikatakan yang berhasil hanya tiga orang 2 orang berpangkat mayor 1 orang berpangkat sersan.
PENCEGAHAN ANEMIA PADA PEREMPUAN USIA SUBUR DI KECAMATAN CIMENYAN KABUPATEN BANDUNG Yuliawati, Susi; Ekawati, Dian; Machdalena, Susi; Nafhanda, Alyssa Myrelia
Midang Vol 2 No 3 (2024): Midang, Oktober 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i3.58320

Abstract

Menurut data WHO, anemia defisiensi besi diperkirakan menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian pada perempuan usia subur, terutama saat mereka hamil dan melahirkan. Selain itu, perempuan usia subur yang menderita anemia menjadi kurang produktif dan memiliki kemampuan akademik yang kurang. Di Indonesia 30% perempuan berusia antara 15-24 tahun menderita anemia. Sedangkan di Jawa Barat yang berpenduduk lebih dari 47 juta jiwa,  lebih dari 50% perempuan usia SMP menderita anemia (Roche dkk., 2018) Melihat situasi ini, pemerintah Indonesia mengacu kepada WHO memberikan tablet suplemen penambah darah bagi perempuan usia subur di Indonesia. Namun, pemberian tablet ini tidak dimanfaatkan dengan baik, karena banyak faktor yang melatarbelakanginya. Faktor sosial budaya seperti adanya mitos bahwa perempuan yang sedang menstruasi tidak boleh makan ikan atau daging karena dapat mengakibatkan darahnya menjadi bau anyir, menjadi salah satu penyebab banyak perempuan usia subur kekurangan zat besi. Pemahaman yang rancu antara darah rendah dan kurang darah pun masih ada, sehingga perempuan tidak mau diberi tablet tambah darah karena takut membuatnya menderita tekanan darah tinggi (Roche dkk., 2018). Padahal anemia ini dapat dicegah dari awal dengan menerapkan pola hidup sehat serta mengonsumsi makanan dengan nutrisi lengkap. Menyikapi situasi dan kondisi di atas, pengabdian kepada masyarakat ini mengusung tema “Pencegahan Anemia pada Perempuan Usia Subur di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung”. Peserta penyuluhan ini adalah para perempuan berusia subur anggota majelis taklim Al Amanah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan para perempuan usia subur lebih memperhatikan kondisi kesehatan dirinya, terutama yang berkaitan dengan anemia, sehingga mereka dapat mengoptimalkan dirinya dan juga dapat melahirkan generasi yang sehat.
Local Wisdom on Lexicon in Rice Field Agriculture Novita Puspahaty; Dian Indira; Wahya; Susi Machdalena
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/kls.v11i1.12102

Abstract

Globalization had a great impact to language use not only to national language, like Indonesian, butalso to local languages and cultures. This research examines the lexicon of rice field agriculture in BekasiRegency and its local wisdom based on anthropolinguistics study. We employ ethnographic researchmethodology to gain insight into the research aim. We select nine informants who were representativesof the residents of Sukakarya, Sukatani, Serang Baru, and Cibarusah districts. The informants wereactive in rice field agriculture and actively use their mother tongue so that they were considered able toprovide the information needed. The result of the research shows that: (1) the total of 99 lexicon relatedto rice field agriculture were found in Bekasi Regency. The lexicons show the language system embracedby the people of Bekasi Regency, the technological system, the economic system, the knowledge system,and the religious system. (2) local wisdom that appears in Bekasi Regency are 15 types of 17 types oflocal wisdom mentioned by Sibarani. We urge the people of Bekasi Regency to harmonize the impact ofglobalization and their local wisdom, to safeguard Bekasi’s indigenous language and culture.