I Nyoman Sukandia
Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa, Denpasar-Bali, Indonesia

Published : 37 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Strategy For Strengthening Village Credit Institutions (LPD) in Realizing Community Welfare in Sibetan Village, Bebandem District, Karangasem Regency Post Pandemi I Nyoman Sukandia; Anak Agung Istri Agung
Law Doctoral Community Service Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Law Doctoral Community Service Journal
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.585 KB) | DOI: 10.55637/ldcsj.1.2.5715.107-114

Abstract

The growth and development of the LPD requires Human Resources with sufficient and adequate quality education, and an element of prudence is urgently needed in disbursing credit, because the credit disbursed is derived from public funds collected in the form of Savings and Time Deposits; However, even though the LPD is already in the form of a Business Entity, the responsibility is still the responsibility of the Indigenous Village community as the communal owner of the Business Entity, and does not yet have a mechanism to provide special guarantees for owners of capital/money from the community as owners of deposits in all LPDs. LPDs in Bali, as is the case with LPDs which require material guarantees to be specifically guaranteed as a form of prudence. So when faced with certain situations such as the Covid 19 pandemic; then it is not impossible for the LPD to experience liquidity problems because many loans disbursed are not smooth and even jammed, and on the other hand, the community draws a lot of Savings and Deposits for their living needs, both those that have not been and those that are due. In addition, the lack of prudence and lack of understanding of good governance have an impact on very serious problems such as losses and even bankruptcy. This study empirically examines the developments and problems of Village Credit Institutions (LPD) as a result of the Covid-19 pandemic, and takes visionary steps or strategies to strengthen the management of Village Credit Institutions (LPDs) that are resilient in realizing community welfare in Sabetan Village, Bebandem District. , Karangasem Regency Post Pandemic.
Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Hukum Hak Waris Anak Dalam Perkawinan Negen Dadua di Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung Putu Ayu Sriasih Wesna; I Nyoman Sujana; Komang Arini Styawati; I Nyoman Sukandia; Anak Agung Istri Agung
Postgraduated Community Service Journal Vol. 3 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pcsj.3.1.2022.14-25

Abstract

The Balinese indigenous people adopt the patrilineal family system, or paternity, or better known in the Balinese indigenous people as kepurusa or purusa. In accordance with the general principles adopted in the patrilineal family system, at least three basic principles are adopted in the purusa family system, among others the lineage traced from the line of man or father, in a woman's marriage is released from her legal relationship with her original family, as a result of marriage is the formation of a core family that ideally consists of father, mother and child. Whereas if a boy from a family that has only one son, will have a marriage with a daughter who comes from a family that has only one daughter, then there will be a debate between the family about the form which marriage to choose. If you choose the usual form of marriage, then the woman's family will definitely object, because the family will later become divorced. Similarly, on the contrary, if you choose the form of nyeburin marriage, then the family of the male party will object because it will also cause a state of hereditary rupture, or so-called ceput or putung. Therefore, women and men who are the only children in the family can have alternative marriages outside of the two forms of marriage above. The marriage is a double state marriage or in this case the husband does not enter the wife's family, and the wife will not enter the husband's family. Of course, it will bring different legal consequences from ordinary marriage or marriage to the marriage property, the position of the child, and his inheritance.In order to avoid a putung condition, a legal breakthrough is needed other than the usual form of marriage and the intermarriage, namely the negen dadua form of marriage. In Semarapura Kaja Village, there are several cases like this. For this reason, assistance is carried out in the context of increasing awareness and knowledge of the law of the inheritance rights of children in negen dadua marriage.
Pelaksanaan Perjanjian Waralaba pada Cbezt Fried Chicken Ungasan Ketut Bagus Kurniawan Wahyu Wibawa; Ni Komang Arini Stywati; I Nyoman Sukandia
Jurnal Interpretasi Hukum Vol. 3 No. 3 (2022): Jurnal Interpretasi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55637/juinhum.3.3.5778.398-403

Abstract

A franchise agreement is an agreement between the franchisor and the franchisee to run a trading business owned by the franchisor according to the equipment installed through the franchisor. In this case, the problem of crime is the non-fulfillment of the rights and responsibilities of the franchisor to the franchise. The formulation of the problem is, how is the Implement of the Franchise Agreement on C'bezt Fried Chicken Ungasan in South Kuta District?2.How is Dispute Settled in the Implement of Franchise Agreements at C'bezt Fried Chicken Ungasan in South Kuta District? The author applies the empirical method. The results of this journal research provide clarification that the parties agree to bind themselves to make a franchise agreement where the party is the giver and recipient of the franchise. In a franchise contract, of course, there are rights and obligations that have been agreed upon in the franchise agreement. Rights and obligations arise as a result of the reciprocal relationship of the parties. Settlement of disputes arising from default on the franchise at C'bezt Fried Chicken Ungasan is carried out through deliberation, and if the deliberation cannot be resolved it will be resolved at the Denpasar District Court.
Analisis Pertanggung Jawaban Hukum PT. Pegadaian (persero) dalam hal Objek Jaminan Mengalami Kerusakan I Putu Gede Ryan Chandra Indrawan; I Nyoman Sukandia; Ni Made Puspasutari Ujianti
Jurnal Konstruksi Hukum Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Konstruksi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55637/jkh.4.1.6024.84-89

Abstract

Pemerintah pada kinerjanya guna mencapai kemakmuran warga Indonesia secara keseluruhan sehingga didirikannya institusi perkreditan, baik institusi perkreditan perbankan maupun bukan perbankan. PT. Pegadaian (Persero) ialah BUMN yang hadir dan mewarkan berbagai metode pinjaman yang bertujuan mensejahterakan masyarakat khusus nya dalam bidang pembangunan perekonomian. Oleh karena itu penulis tertarik mengangkat judul yaitu analisis pertanggung jawaban Hukum PT. Pegadaian (Persero) dalam hal objek jaminan mengalami kerusakan. Rumusan Masalah (1) Bagaimana prosedur gadai pada PT. Pegadaian (Persero)?. (2) Bagaimana Hukum PT. Pegadaian Persero, jika objek jaminan mengalami kerusakan dalam proses gadainya sehingga membuat pengurangan nilai jual?. Dalam penerapannya, terdapat beberapa kasus kerusakan terhadap objek/ barang yang di jaminkan sehingga harus di pertanggung jawabkan kepada penerima kredit, jika murni dari kesalahan dari pihak pemberi kredit yaitu sebesar 125% dari nilai taksir dari objek yang dijaminkan untuk memperoleh kredit. PT. Pegadaian (Persero) merupakan solusi bagi warga Indonesia untuk memperoleh pinjaman dengan menjadikan barang bergerak maupun berharga sebagi jaminan untuk memperoleh kredit. PT. Pegadaian (Persero) juga menghadirkan berbagai produk dan jasa yang di tawarkan untuk meningkatkan pembangunan perekonomi bagi masyakarat. Dengan adanya produk yang di tawarkan, tentunya memiliki prosedur yang berlaku dan ketentuan khusus yang harus di penuhi nasabah untuk memperoleh kredit.
Implementasi Tugas Pacalang Dalam Mencegah Terjadinya Tindak Pidana Di Desa Adat Kabetan, Gianyar Dewa Ayu Dwi Diah Novita Dewi; I Nyoman Sukandia; Diah Gayatri Sudibya
Jurnal Konstruksi Hukum Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Konstruksi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55637/jkh.4.2.6794.161-165

Abstract

Pacalang merupakan lembaga milik Desa Adat di Bali yang berperan menjaga keamanan dan ketertiban Desa Adat, termasuk Pacalang Desa Adat Kabetan, Gianyar. Penelitian ini mengkaji dua hal: implementasi tugas Pacalang dalam mencegah terjadinya tindak pidana di Desa Adat Kabetan, Gianyar dan hambatan yang dihadapi oleh Pacalang dalam mencegah terjadinya tindak pidana di Desa Adat Kabetan, Gianyar. Penelitian memiliki tujuan untuk mencermati dan memahami implementasi tugas Pacalang Desa Adat Kabetan dalam mencegah tindak pidana dan hambatan yang dihadapinya. Penelitian dilakukan secara empiris dan pendekatan secara yuridis empiris. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pacalang desa adat kabetan dalam mengimplementasikan tugasnya bukan saat upacara adat dan keagamaan saja, tetapi berpartisipasi dalam menjaga keamanan saat pemilu dan pemilukada. Pacalang menghadapi hambatan dari faktor internal dan faktor eksternal serta upaya penyelesaian hukum yang digunakan jika terjadi tindak pidana yaitu berdasarkan hukum adat dan hukum positif. Meskipun ditemukan hambatan dalam menjalankan tugasnya, pacalang tetap berkoordinasi dengan pihak terkait. Diharapkan peningkatan peranan dan pembinaan Pacalang serta elemen masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban wilayah di desa adat kabetan.
Tinjauan Yuridis Agreement And Responsibility (Perjanjian Dan Tanggung Jawab) Industri Ekspor Kargo Dalam Pengangkutan Melalui Laut Krisna Dwipayana Dira Putra; I Nyoman Sukandia; I Made Aditya Mantara Putra
Jurnal Preferensi Hukum Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Preferensi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55637/jph.4.2.7144.171-176

Abstract

Pengangkutan melalui laut merupakan suatu kegiatan perpindahan barang atau penumpang dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan angkutan laut dan melalui jalur perairan. Dalam kegiatan pengangkutan ini tentu adanya perjanjian dan tanggung jawab yang harus diketahui oleh para pengguna jasanya. Adapun rumusan masalah yaitu: 1) Bagaimana pengaturan hukum mengenai pengangkutan barang melalui laut menurut Hukum Pengangkutan? 2) Bagaimana kedudukan perusahaan cargo dalam memberikan pertanggungjawaban atas kerusakan atau kehilangan barang dalam kegiatan pengangkutan melalui laut? Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan jenis pendekatan perundang-undangan yang berhubungan dengan isu yang dibahas. Hasil penelitian ini menunjukan hukum pengangkutan barang melalui laut pada dasarnya berlandaskan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer), karena semakin berkembangnya pengangkutan maka harus diperlukan upaya hukum untuk melindungi suatu kepentingan dari pihak yang terlibat. Dan dalam tanggung jawab, perusahaan pengangkutan harus bertanggung jawab penuh dari barang atau penumpang yang diangkutnya, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sanksi Pidana Terhadap Tindak Pidana Korupsi yang Dilakukan Ketua LPD Desa Adat Kapal Komang Anik Sudarnita; I Nyoman Sukandia; I Made Minggu Widyantara
Jurnal Konstruksi Hukum Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Konstruksi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jkh.5.1.8595.77-83

Abstract

Perkembangan zaman saat ini membawa banyak sekali dampak negatif terutama manusia dalam memenuhihasratnya serta kebutuhannya seringkali melakukan bermacam cara dalam memenuhi hal tersebut seperti halnyamelaksanakan tindakan korupsi. Perbuatan semacam ini di Indonesia sudah menjadi seperti budaya yangdilakukan oleh oknum – oknum yang ingin memperkaya dirinya sendiri walaupun perbuatan nya tersebut nyatanyamerugikan banyak pihak terutama masyarakat kecil. Perbuatan korupsi pada umumnya dilaksanakan oleh oknumyang memegang kekuasaan terhadap jabatan atau kedudukan sehingga memunculkan suatu peluang dalammelakukan korupsi, seperti halnya tindak korupsi yang dilakukan oleh ketua LPD kapal serta beberapaanggotanya, hal ini menunjukan bahwa pemimpin tidak bisa menjaga kepercayaan masyarakatnya. Rumusanmasalah yang angkat adalah Bagaimana pengaturan terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh ketuadesa adat Kapal dalam Putusan Nomor 22/Pid.Sus-TPK/2018/PN Dps Tahun 2019 dan Bagaimana sanksi pidanaterhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh ketua LPD Desa Adat Kapal dalam putusan Nomor22/Pid.Sus-TPK/2018/PN Dps Tahun 2019. Berdasarkan rumusan masalah maka disimpukan tujuan penelitian:Mengidentifikasi dan menganalisis kerangka regulasi atau peraturan hukum yang mengatur tindak pidana korupsiyang dilakukan oleh ketua desa adat Kapal, sebagaimana dijelaskan dalam Putusan Nomor 22/Pid.SusTPK/2018/PN Dps Tahun 2019 dan Menganalisis sanksi pidana yang diberikan kepada ketua LPD Desa AdatKapal dalam Putusan Nomor 22/Pid. Sus-TPK/2018/PN Dps Tahun 2019 sebagai akibat dari tindak pidanakorupsi yang dilakukan. Serta pada penulisan ini menggunakan penelitian hukum normatif. Penerapan sanksipidana terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Terdakwa selaku Ketua LPD Desa Adat Kapaldinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana pada dakwaan primair.
Peralihan Tanggung Jawab Hukum Dalam Perjanjian Kredit Bank Dalam Hal Debitur Meninggal Dunia Cok Gde Agung Santika Putra; I Nyoman Sukandia; Desak Gde Dwi Arini
Jurnal Konstruksi Hukum Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Konstruksi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jkh.5.1.8700.16-21

Abstract

Dalam konteks perbankan dan pembiayaan, perjanjian kredit pada umumnya berbentuk perjanjian baku yang sedemikian rupa disiapkan oleh pihak bank. Selain itu perjanjian kredit tidak berdiri sendiri melainkan biasanya dibarengi perjanjian asuransi serta perjanjian agunan. Permasalahan nantinya dapat timbul ketika debitur tidak dapat melunasi sisa kreditnya misal karena meninggal dunia. Maka nantinya ini menjadi dasar dari peralihan tanggung jawab hukum untuk menyelesaikan sisa kredit tersebut. Segala kemungkinan yang dapat terjadi seperti adanya peralihan kepada ahli waris hingga tanggungan dari asuransi, tergantung dari beberapa kondisi yang dihadapi. Maka dari itu masalah yang diteliti adalah Bagaimanakah pengaturan konsep klausula baku yang mengikat para pihak dalam perjanjian kredit bank yang bersifat standar, dan Bagaimanakah peralihan tanggung jawab hukum perjanjian kredit bank oleh karena debitur yang meninggal dunia. Penelitian ini menggunakan Metode penelitian normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual digunakan dalam rangka penyusunan abstrak ini.
Arrangements for Notary Leave in Urgent Circumstances According to the Notary Office Act UTAMI, I Dewa Ayu Listari; DHARSANA, I Made Pria; SUKANDIA, I Nyoman
Journal of Political And Legal Sovereignty Vol. 1 No. 2 (2023): Journal of Political And Legal Sovereignty (April – June 2023)
Publisher : Indonesia Strategic Sustainability

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38142/jpls.v1i2.65

Abstract

Purpose:What is the mechanism for arranging the Notary's leave by the Notary's family in an urgent situation? 2. What are the legal consequences of a Notary's leave in an urgent situation on the performance of the position of a Notary based on the Notary Office Law?Methodology:The method chosen for this research is Notary Concept, Substitute Notary Concept, Supervisory Board Concept, Urgent Concept, and Legal Consequences Concept.Findings:The results of the study show that Article 28 of the Law on the Position of a Notary Public shows a blurring of the norms of urgent criteria and only provides a limited and brief explanation, that is, a husband/wife or a straight line from a Notary can submit a request for leave to the Supervisory Board as stated in Article 27 paragraph ( 2), and an urgent situation there are many thoughts of multiple interpretations giving rise to a lack of legal certainty, there is a need for more detailed guidelines or rules regarding Notary leave in urgent circumstances so that it can be carried out following the policy of the Notary Supervisory Board.Implication:The government needs to pay attention to the causes and effects that occur in the regulations that apply at this time so that requests for leave can be implemented in urgent situations so that legal institutions can carry out their duties according to existing law.
Prosedur Penyelesaian Perkara Wanprestasi Atas Perjanjian Pinjam Uang Yang Dilakukan Oleh Debitur Koperasi I Komang Eka Adi Putra; I Nyoman Sukandia; I Wayan Kartika Jaya Utama
Jurnal Preferensi Hukum Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Preferensi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jph.5.2.8069.130-137

Abstract

Cooperatives which regulate the movement of business fields in the formation of capital from the savings of its members regularly and continuously and can also be lent to its members in a practical, easy and fast way are called Savings and Loans Cooperatives for welfare purposes. That way the aim of establishing it is to make it easier for the community to make financial transactions easier, with the existence of a savings and loan cooperative that provides small interest but opportunities in capital can be cheap. With normative law implemented in the method used in this study, allowances from sources such as principles, principles, and legal literature are used in resolving cases of default on borrowing money in cooperatives. The results of this study are the results of evidence in court proceedings, evidence can be submitted by the plaintiff and the truth of the lawsuit and the defendant does not deny it. The proof of the case made the judge declare that it was legal to have defaulted on borrowing money within the scope of the cooperative.
Co-Authors AA Ngr Mayun Narindra ABDULLAH, Mohd Kamarulnizam Bin Agung, Anak Agung Istri Anak Agung Istri Agung Arnold Paul Kurniawan Djae Astara, Prof. Dr. Drs. I Wayan Wesna BUDIADNYANA, I Gusti Putu Cahyadi, Gede Dwiki Chornous, Yuliia Cok Gde Agung Santika Putra Desak Gde Dwi Arini Desak Gde Dwi Arini Dewa Ayu Dwi Diah Novita Dewi DEWI, Ida Ayu Permata Winditya Dewi, Ni Kadek Marantina Diah Gayatri Sudibya Dita Paramitha Gde Made Swardhana I Gede Artadi Wira Guna I Gede Surya Pratama Putra I Komang Eka Adi Putra I Made Aditya Mantara Putra I Made Minggu Widyantara I Made Minggu Widyantara I MADE MINGGU WIDYANTARA, I MADE MINGGU I Made Pria Dharsana, I Made Pria I Made Suwitra, I Made I Nyoman Alit Puspadma I Nyoman Putu Budiartha I Nyoman Sujana I NYOMAN SUTAMA I Putu Gede Ryan Chandra Indrawan I Putu Surya I Wayan Kartika Jaya Utama Indah Permatasari Jelita, Maria Inda Johannes Ibrahim Kosasih Ketut Adi Wirawan Ketut Bagus Kurniawan Wahyu Wibawa Komang Anik Sudarnita Krisna Dwipayana Dira Putra Kusuma, Ida Bagus Ananta Luh Made Mahendrawati MATARAM, I Gede Arie Nandiri, Ni Putu Sawitri Ni Komang Arini Styawati Ni Komang Arini Stywati Ni Made Eka Pradnyawati Ni Made Puspasutari Ujianti Ni Made Puspasutari Ujianti Ni Putu Sawitri Nandiri Pemayun, Cok Istri Wulan Pratama, Putu Rama Ari Putra, I Nyoman Esna Parhita Putu Ayu Sriasih Wesna Putu Budiartha, I Nyoman Renaya, Nengah Saisaria Mandasari, I.A. Cynthia Sujana, I Nyoman UTAMI, I Dewa Ayu Listari Virgayanti, Ni Ketut Anik YUDHA, I Putu Wira Dharma Putra