Claim Missing Document
Check
Articles

Praktik Ihtikār di Pasar Bina Usaha Meulaboh Selama Covid-19 dalam Analisis Fikih Muamalah Syamsuar Syamsuar; M. Ikhwan; Zsalsabilla Amanda
MAQASIDI: Jurnal Syariah dan Hukum Vol. 2, No. 2 (Desember 2022)
Publisher : MAQASIDI: Jurnal Syariah dan Hukum diterbitkan oleh Program Studi Hukum Pidana Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Teungku Dirundeng Meulaboh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/maqasidi.vi.1574

Abstract

Penelitian ini memotret penimbunan barang (Ihtikār) yang dilakukan oleh pedagang di Pasar Bina Usaha Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Secara konseptual, Ihtikār sebagai praktik perdagangan dengan cara menyimpan, menimbun dan menahan barang dagangan yang sangat diperlukan masyarakat merupakan hal yang dilarang, namun pada kenyataannya hal tersebut masih terjadi. Sehingga penelitian menjelaskan tinjauan Fiqh Muamalah terhadap penimbunan barang (Ihtikār) dan juga mengungkap motif penimbunan barang sembako pada masa pandemi Covid-19 di pasar Bina Usaha Meulaboh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara observasi, wawancara, dokumentasi. Lalu data-data yang sudah dikumpulkan tersebut dianalisis secara deskriptif secara simultan hingga mencapai tujuan penelitian. Dari penelitian diketahui beberapa kesimpulan: Pertama, secara konsep fikih muamalah penimbunan barang dilarang kecuali penyimpanan untuk bekal menghadapi kesulitan pada masa yang akan datang. Kedua, para pedagang di pasar bina usaha Meulaboh tidak melakukan penimbunan melainkan hanya melakukan penyetokan barang pada hari-hari tertentu hal ini untuk menghindari kelangkaan hal ini disebabkan pasar bina usaha Meulaboh masih tergantung dari produksi dan pasokan barang dari luar daerah.
Memahami Hubungan Hukum, Pendidikan, dan Politik pada Peradaban Bani Abbasyiah M. Ikhwan
JSI: Jurnal Sejarah Islam Vol. 1 No. 02 (2022): Jurnal Sejarah Islam
Publisher : Progam Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.259 KB) | DOI: 10.24090/jsij.v1i2.6777

Abstract

This study describes the relations of legal, education, and politic of the Abbasid civilization era which succeeded in reaching its golden age. The Bani Abbasyiah civilization deserves to be re-read in order to put the spirit and experience of civilization at that time into the present context. Civilization can’t be separated from attention to justice in law enforcement, encouragement to the development of science, as well as political will that favors the interests of the community equally. This study uses a qualitative research method with a historical approach, data sources are taken from secondary data such as books and journals, then synthesized into conclusions. The results of this study: The first, legal civilization during the Abbasid period experienced a development where law enforcement tools were formed and complete, and in making decisions always consider the opinion of the fukaha. The second, the field of education is also experiencing a very great development, all books are translated into various languages or vice versa, educational tools are adapted to the times. The third, political developments are also very good. The relationship between the three things that can be called civilization (law, education, and politics) is that political power is supported by two major forces, namely law and education, so that all three are intertwined to continue the stability of the Abbasid system.
Peran Pendidikan Agama Islam dalam Memperkuat Moderasi Beragama di Indonesia M. Ikhwan; Azhar; Dedi Wahyudi; Afif Alfiyanto
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 21 No. 1 (2023): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v21i1.148

Abstract

Moderasi beragama sebagai program pemerintah Indonesia berupaya memantapkan komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akmodatif terhadap kebudayaan lokal. Program ini dinilai masih baru yang perlu pengembangan dan penguatan. Artikel ini bertujuan untuk memotret peran pendidikan agama Islam dalam memperkuat moderasi beragama tersebut. Penelitian ini dimulai dari mengungkap konsepsi moderatisme Islam dan tantangan implementasinya di Indonesia, kemudian didiskusikan dengan pendidikan agama Islam yang dinilai dapat memainkan peran dalam mempromosikan moderasi beragama menuju hidup berdampingan secara damai di negara ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif. Adapun jenis pengumpulan data dilakukan secara kepustakaan dengan membaca buku, jurnal, dan sumber lain yang diyakini kebenarannya. Data yang telah terkumpul tersebut dianalisis dan diinterpretasi hingga sampai pada tujuan-tujuan penelitian. Artikel ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang potensi pendidikan agama Islam untuk menumbuhkan pemahaman Islam yang moderat dan inklusif di Indonesia. Melalui penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Islam merupakan bagian penting dalam penguatan moderasi beragama di Indonesia namun perlu didukung oleh pendekatan yang komprehensif seperti mengedepankan pemikiran kritis, mengahargai pluralitas dan pluralisme, serta menghormati keragaman untuk menumbuhkan budaya moderasi beragama di Indonesia.
Peran Pendidikan Agama Islam dalam Memperkuat Moderasi Beragama di Indonesia M. Ikhwan; Azhar; Dedi Wahyudi; Afif Alfiyanto
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 21 No. 1 (2023): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v21i1.148

Abstract

Moderasi beragama sebagai program pemerintah Indonesia berupaya memantapkan komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akmodatif terhadap kebudayaan lokal. Program ini dinilai masih baru yang perlu pengembangan dan penguatan. Artikel ini bertujuan untuk memotret peran pendidikan agama Islam dalam memperkuat moderasi beragama tersebut. Penelitian ini dimulai dari mengungkap konsepsi moderatisme Islam dan tantangan implementasinya di Indonesia, kemudian didiskusikan dengan pendidikan agama Islam yang dinilai dapat memainkan peran dalam mempromosikan moderasi beragama menuju hidup berdampingan secara damai di negara ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif. Adapun jenis pengumpulan data dilakukan secara kepustakaan dengan membaca buku, jurnal, dan sumber lain yang diyakini kebenarannya. Data yang telah terkumpul tersebut dianalisis dan diinterpretasi hingga sampai pada tujuan-tujuan penelitian. Artikel ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang potensi pendidikan agama Islam untuk menumbuhkan pemahaman Islam yang moderat dan inklusif di Indonesia. Melalui penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Islam merupakan bagian penting dalam penguatan moderasi beragama di Indonesia namun perlu didukung oleh pendekatan yang komprehensif seperti mengedepankan pemikiran kritis, mengahargai pluralitas dan pluralisme, serta menghormati keragaman untuk menumbuhkan budaya moderasi beragama di Indonesia.
IMPLIKASI EPISTEMOLOGIS PEMIKIRAN FILSAFAT PAUL KARL FEYERABEND: KEBEBASAN AKADEMIK DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN ISLAM M. Agus Wahyudi; Syamsul Rijal; Silahuddin Silahuddin; M Ikhwan
Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/ajipp.v4i1.6676

Abstract

Paul Karl Feyerabend has an idea called Epistemological Anarchism, which is a method used to criticize the establishment of knowledge with the aim of developing science itself. Academic freedom is one of the attitudes to develop knowledge while prioritizing objectivity. This research will discuss the implications of Feyerabend's thinking on developing knowledge and science in Islam. This research uses a library research approach with the method of collecting library data related to the research topic. The study results show that Feyerabend's concept of epistemological anarchism holds that there are no methodological rules in the development of knowledge and science. Feyerabend, finding a truth does not have to be through unnecessary falsification, but a truth can be found through new theories that have practical benefits. Epistemological anarchism has relevance to the epistemology of science development in Islam, namely as a way or steps to obtain educational knowledge based on Islamic fundamentals.
The Ijārah bi al-’Amal Analysis of Wage-Setting Contract Teachers in Aceh Jaya Amrizal Hamsa; M. Ikhwan; Ismul Karimah
ISTIFHAM Vol 1 No 1 (2023)
Publisher : Seutia Hukamaa Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study investigates the payment of wages as compensation for labor services under Islamic law, specifically the concept of ijārah bi al-’amal  or renting services for completing a particular job. The research aims to answer two main questions: first, how is the wage setting system for contract teachers established in Teunom District, and second, how does the ijārah bi al-’amal contract perspective influence the wage system? Using a qualitative research method, data was collected through observation, interviews, and documentation and then analyzed descriptively to achieve the research objectives. The study reveals that the contract teacher wage-setting system in Aceh Jaya is based on the Aceh Jaya Regional Regulation No. 63 of 2015 concerning Regional Assistance Contract Workers, which considers the educational background of the workers in determining their wages. In terms of the ijārah bi al-’amal contract, the study finds that the wages given to contract teachers in Teunom District do not follow the standards outlined in the wage regulations. Although the wages are considered under the agreement/contract, they only fulfill the primary needs (dharuriyat) and do not meet the proper needs referred to in the regulations.
Optimizing the Advancement of Islamic Education From the Lens of Islamic Law Philosophy Silahuddin Silahuddin; Syamsul Rijal; M. Ikhwan; M. Agus Wahyudi
ISTIFHAM Vol 1 No 2 (2023)
Publisher : Seutia Hukamaa Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study explores the development of Islamic Education in Indonesia through the lens of Islamic legal philosophy. Since its birth, Islamic law has been known to adapt to the context of different times and places, thanks to its open-ended framework that allows for transformation in all things. This transformative potential presents an opportunity to modernize Islamic education. The research adopts a qualitative paradigm and interpretive approach, collecting data through a literature review and synthesizing and analyzing the findings. The findings of this study suggest that the contributions of Islamic law philosophy to the development of Islamic Education include: 1) Recognizing the philosophy of Islamic education, including Sufism, Rabbaniyyah, and Wujuduiyyah; 2) Avoiding the dichotomy between science and religion; 3) Revealing the unique essence, secrets, strengths, goodness, beauty, and benefits of Islamic education compared to other educational philosophies; and 4) Maintaining a balance between spirituality and modernity, to prevent moral and spiritual emptiness in modern society.
Actualizing Disability Rights Under Law Number 8 of 2016: An Inclusive Development in Lheu Eu Village Anzari, Mudhafar; Ikhwan, M.; Syukriah, Syukriah
MAQASIDI: Jurnal Syariah dan Hukum Vol. 4, No. 1 (Juni 2024)
Publisher : MAQASIDI: Jurnal Syariah dan Hukum published by the Islamic Criminal Law Program of the Sharia and Islamic Economics Department at the Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Teungku Dirundeng Meulaboh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/maqasidi.v4i1.3161

Abstract

The village, as a legal construct, comprises both a governing body and its community members. However, development initiatives in these rural areas often fail to meet the needs of individuals with disabilities. This neglect leads to the marginalization of persons with disabilities, forcing them to live in isolation within rural environments. In response, the Government of Indonesia has enacted Law No. 8 of 2016 concerning Persons with Disabilities. This legislation aims to elevate the status of persons with disabilities to that of equal citizens, ensuring fair rights and opportunities for their active participation in village development. This study employs a normative juridical methodology by analyzing data from legal documents and literature, complemented by an empirical approach through interviews with relevant stakeholders. The research seeks to elucidate the rights of persons with disabilities within the framework of village development and to explore village government perspectives on their inclusion. Development efforts must shift toward a community-centered model that integrates the interests of the disabled population. Accordingly, the welfare of persons with disabilities in Lheu Eu Village, Darul Imarah District, Aceh Besar, must be grounded in humanitarian principles. Collaborative efforts among village government, the business sector, academia, and disability advocates are essential to realizing the legal mandate and regulatory framework that govern the inclusion of persons with disabilities in rural development.
Enhancing Understanding of Religious Concepts through Self-Regulated Learning-Based Islamic Education Alfiyanto, Afif; Ikhwan, M.; Pranajaya, Syatria Adymas; Ghazali, Muhammad; Hidayati, Fitri
Ulul Albab: Majalah Universitas Muhammadiyah Mataram Vol 28, No 1 (2024): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jua.v28i1.23385

Abstract

Abstrak: Pendidikan agama Islam memiliki peran krusial dalam membentuk pemahaman individu tentang nilai-nilai dan konsep-konsep agama islam. Dalam konteks globalisasi yang terus berkembang, kebutuhan akan pemahaman yang inklusif terhadap keragaman agama semakin mendesak. Artikel ini mengeksplorasi potensi integrasi konsep Self-Regulated Learning (SRL) ke dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai solusi untuk meningkatkan pemahaman konsep agama. Melalui pendekatan analisis SWOT, kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari penerapan strategi pembelajaran ini dieksplorasi secara mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa SRL memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan belajar mandiri, meningkatkan refleksi diri, dan mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari mereka. Namun, tantangan seperti tingkat kemandirian siswa yang beragam dan kebutuhan akan dukungan guru yang kuat juga diidentifikasi. Berdasarkan temuan ini, beberapa rekomendasi diberikan, termasuk pengembangan kurikulum yang lebih terintegrasi dengan SRL, pelatihan guru yang lebih intensif, dan integrasi teknologi dalam pembelajaran. Artikel ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana pendekatan pembelajaran berbasis SRL dapat digunakan secara efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep agama Islam, serta menawarkan panduan bagi pendidik dan peneliti dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang dalam konteks pendidikan agama Islam.Abstract: Islamic religious education is crucial in shaping an individual's understanding of Islamic values and concepts. In the context of ever-evolving globalization, the need for an inclusive sense of religious diversity is increasingly urgent. This article explores the potential integration of Self-Regulated Learning (SRL) into Islamic Religious Education (PAI) learning as a solution to improve understanding of religious concepts. The strengths, weaknesses, opportunities, and threats of implementing this learning strategy are explored in depth through a SWOT analysis approach. The results show that SRL allows students to develop self-study skills, enhance self-reflection, and integrate religious values into their daily lives. However, challenges such as diverse levels of student independence and the need for solid teacher support were also identified. Based on these findings, several recommendations were given, including developing a curriculum that is more integrated with SRL, more intensive teacher training, and integrating technology in Learning. This article contributes to understanding how SRL-based learning approaches can be used effectively to enhance understanding of Islamic religious concepts, as well as offer guidance for educators and researchers facing challenges and seizing opportunities in the context of Islamic religious education. 
Towards Transformative Islamic Education: Reflections and Projections on the Direction of Islamic Education Alfiyanto, Afif; Pranajaya, Syatria Adymas; Ikhwan, M.; Gumilang, Randi Muhammad; Ghazali, Muhammad; Hidayati, Fitri
Ulul Albab: Majalah Universitas Muhammadiyah Mataram Vol 28, No 2 (2024): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jua.v28i2.23767

Abstract

Abstrak: Pendidikan Islam telah menjadi aspek fundamental dalam masyarakat Muslim, membentuk nilai, keyakinan, dan perilaku individu. Di era kontemporer, lanskap pendidikan berkembang pesat, menuntut refleksi terhadap kondisi terkini dan proyeksi masa depan pendidikan Islam agar tetap relevan dan transformatif. Artikel ini mengkaji perubahan pendidikan Islam melalui analisis literatur dan SWOT, serta menyoroti kebutuhan integrasi subjek modern seperti sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika dalam kerangka pendidikan Islam. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi literatur yang dikumpulkan dari database akademik seperti Google Scholar, JSTOR, dan ProQuest. Data dianalisis menggunakan metode SWOT untuk menilai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam menghadapi tantangan signifikan seperti kurangnya inovasi metode pengajaran, keterbatasan sumber daya, dan akses yang tidak merata ke pendidikan berkualitas. Namun, terdapat peluang besar dalam kemajuan teknologi, peningkatan kesadaran global, dan potensi kemitraan dengan institusi internasional. Transformasi pendidikan Islam membutuhkan inovasi dalam metode pengajaran, adopsi pendekatan interaktif dan kontekstual, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan keterlibatan dan relevansi pendidikan. Pendidikan Islam juga harus menjawab isu sosial kontemporer seperti keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan kepemimpinan etis, sehingga siswa dapat berkembang menjadi warga global yang bertanggung jawab dengan integritas moral dan spiritual yang kuat. Artikel ini diharapkan dapat berkontribusi pada diskusi akademik mengenai pendidikan Islam dan mendorong praktik pendidikan yang lebih adaptif dan transformatif.Abstract: Islamic education has been a fundamental aspect of Muslim society, shaping individuals' values, beliefs, and behaviors. In the contemporary era, the educational landscape is rapidly evolving, demanding reflection on the current state and future projections of Islamic education to remain relevant and transformative. This article examines changes in Islamic education through literature analysis and SWOT, highlighting the need for integrating modern subjects such as science, technology, engineering, arts, and mathematics within the Islamic education framework. The research employs a qualitative approach with literature studies collected from academic databases such as Google Scholar, JSTOR, and ProQuest. Data is analyzed using the SWOT method to assess the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of Islamic education. The findings reveal that Islamic education faces significant challenges such as a lack of innovative teaching methods, limited resources, and unequal access to quality education. However, there are substantial opportunities in technological advancements, increasing global awareness, and potential partnerships with international institutions. Transforming Islamic education requires innovation in teaching methods, adopting interactive and contextual approaches, and utilizing information and communication technology to enhance engagement and educational relevance. Islamic education must also address contemporary social issues such as social justice, environmental sustainability, and ethical leadership, enabling students to develop into responsible global citizens with strong moral and spiritual integrity. This article aims to contribute to the academic discussion on Islamic education and encourage more adaptive and transformative educational practices.