Claim Missing Document
Check
Articles

Bentuk Trikoma (Urticaceae) dan Pemanfaatan dalam Pengobatan Tradisional pada Masyarakat Tablasupa Distrik Depapre Kabupaten Jayapura Demena, Widelmina Keterina; Raunsay, Edoward Krisson; Aisoi, Leonardo E.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8099

Abstract

Masyarakat Kampung Tablasupa Distrik Depapre menggunakan tumbuhan daun gatal, daun jilat, dan jelatang dalam pengobatan secara tradisional untuk mengatasi keluhan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk trikoma Daun Gatal (Laportea decumana (Roxb.) Wedd.), Daun Jilat (Villebrunia rubescens Bl.), Daun Jelatang (Urtica dioica L.) dan penggunaan daun dalam pengobatan tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, eksperimen, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa bentuk trikoma Daun Gatal dan Daun Jilat berbentuk uniseluler sedangkan bentuk trikoma pada Daun Jelatang berbentuk bintang. Daun gatal dapat digunakan untuk menghilangkan rasa pegal-pegal pada badan, Daun Jilat dapat digunakan untuk mengeluarkan darah mati atau darah kotor akibat memar, Daun Jelatang dapat digunakan untuk mengobati asam urat.
SOSIALISASI UPAYA PELESTARIAN SATWA LIAR DI KAMPUNG PERSIAPAN BERBER, DISTRIK BONGGO BARAT, KABUPATEN SARMI Rophi, Apriani Herni; Kawatu, Paul Johan; Rehiara, Rosaniya E.; Raunsay, Edoward Krisson; Megawati, Ruth; Jesajas, David R.
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i1.25740

Abstract

Kampung Berber merupakan salah satu kampung yang terletak di Distrik Bonggo Barat, Kabupaten Sarmi, Papua. Di kampung ini, masih dapat ditemui cenderawasih (Paradisaea minor) yang merupakan hewan endemik papua yang juga dilindungi. Masyarakat masih dapat melihat aktivitas bermain, mencari makan maupun melakukan aktivitas kawin dari burung ini. Selain itu, beberapa hewan yang dilindungi lainnya seperti burung kaka tua, nuri serta kangguru juga masih dapat ditemui di kawasan hutan. Melihat adanya potensi ancaman bagi keberlangsungan satwa liar dilindungi di kawasan kampung Berber maka perlu dilakukan sosialisasi upaya pelestarian satwa liar di sekitar hutan kawasan kampung Berber. Adapun metode yang digunakan meliputi: perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.Kegiatan sosialisasi dapat diselengarakan dengan baik dan lancar sesuai dengan rencana kegiatan yang telah dibuat. Kegiatan ini disambut baik oleh masyarakat dengan jumlah peserta yang hadir mencapai target 100%. Materi dapat disampaikan secara tuntas serta pada akhir kegiatan, peserta memiliki wawasan baru terkait pemanfaatan kekayaan alam disekitar kawasan kampung dengan bertanggung jawab.
PELATIHAN GURU MGMP IPA DALAM IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBALUSAN IPA PADA SMP DI KOTA JAYAPURA Rehiara, Rosaniya E.; Raunsay, Edoward Krisson; Antoh, Alfred Alfonsoh; Kameubu, Konstantina MB.; Kawatu, Paul Johan; Akobiarek, Maik NR.; Aisoi, Leonardo Elisa; Megawati, Ruth; Rophi, Apriani Herni; Jesajas, David Reinhard; Bwefar, Marsya I.; Satar, Suriyah; Listiani, Hanida
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 5 (2024): Vol. 5 No. 5 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i5.35315

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan guru-guru MGMP IPA dalam implementasi model Probalusan dalam pembelajaran IPA di SMP. Pelatihan ini diharapkan guru-guru sebagai fasilitator yang kreatif dan inovatif memiliki keterampilan dalam menyelenggarakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran inovatif. Sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah guru-guru MGMP IPA di kota Jayapura yang berjumlah 41 orang. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian, meliputi penyampaian materi model pembelajaran Probalusan IPA, simulasi sintaks model pembelajaran Probalusan IPA dan dilanjutkan dengan diskusi seputar model pembelajaran Probalusan IPA untuk memberi kesempatan bagi guru untuk mengatasi kendala dalam menerapkan model Probalusan IPA. Manfaat yang diperoleh guru dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memperoleh pengetahuan tentang model pembelajaran inovatif yaitu model Probalusan IPA dan dapat menerapkannya dalam pembelajaran IPA di SMP. Hasil angket respon guru setelah mengikuti pelatihan untuk kategori sangat setuju diatas 85% dari 41 guru dan setuju 15% artinya guru sangat senang mengikuti kegiatan pelatihan implementasi model pembelajaran Probalusan IPA. Menurut Guru pelatihan ini membantu mereka memahami model pembelajaran inovatif diantaranya model Probalusan IPA. Guru lebih mengerti konsep dasar model pembelajaran Probalusan IPA, disertai contoh-contoh praktis yang berguna untuk diterapkan di kelas. Pelatihan ini mendorong guru-guru sebagai fasilitator lebih kreatif dan inovatif, serta memiliki keterampilan dalam menyelenggarakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran inovatif. Implementasi model Probalusan IPA menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, inovatif dan menyenangkan sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan mudah.
Macroscopic Fungal Diversity in Oil Palm Plantations in Buasom Village, Unurum Guay District, Jayapura Regency, Jayapura Papua Raunsay, Edoward Krisson; Dorsila Iwanembut; Supeni Sufaati; Dolfina Costansah Koirewoa; Apriani Herni Rophi
Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research Vol. 3 No. 2 (2024): March 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/modern.v3i2.8128

Abstract

One of the unidentified fungi that occupy habitats or are found in oil palm lands. The importance or urgency of this research is carried out so that various types of fungi in Papua can be properly identified so as to enrich mushroom research data in various types of habitats. This study aims to determine the types and diversity of macroscopic fungi (fungi) found in oil palm plantations in Buasom Village, Unurum Guay District, Jayapura Regency. This study used 5 transects and each transect consisted of 5 observation plots which would be placed in oil palm plantations. The total number of observation plots is 25 with a size of 20 m x 20 m. The collected data will be analyzed using the K, KR, F, FR, INP and H' approach. The results showed that the composition of macroscopic mushroom species in the oil palm plantation of Buasom village, Unurum Guay District, Jayapura Regency as a whole was 24 species of mushrooms in 13 families. The number was distributed in the observation transect, namely, in the first transect 11 species with (H' 2.01) moderate category, in the second transect 7 species with (H' 1.81) low category, in the third transect 12 species with (H' 2.19) medium category, transect fourth 7 species with (H' 1.71) low category and fifth transect 5 species with (H' 1.31) low category
Vegetation Association of Bird of Paradise Community in Berber Village Forest, West Bonggo District, Sarmi Regency, Papua Province Indonesia Raunsay, Edoward Krisson; Koirewoa, Dolfina Costansah; Jesajas, David Reinhard; Nurcholis, Waras
Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research Vol. 3 No. 6 (2024): November 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/modern.v3i6.12272

Abstract

This research aims to determine the richness, diversity and dominance of tree and bird species, as well as analyzing the relationship between trees and bird communities in the Berber Village forest.  Data collection methods include observation, exploration and Concentration Counts. Species richness analysis uses the Margalef Index. Diversity index, with the Shannon-Wiener equation, Dominance index using the dominance index. Assessment of the ecological function of trees using four assessment categories (very good, good, moderate and poor). A total of 36 individuals were observed, consisting of 23 males and 13 females. The richness of birds of paradise in Berber village forests is in the low category (0.4343) and is dominated by P. minor. Activity P. minor observed at various heights ranging from 21 to 64 meters above sea level (masl). Distribution of Bird of Cenderawasih activity (P. minor And C. king) shows a predilection for certain tree types and variations in height.
Monitoring Vegetation as Habitat (Paradisaea minor jobiensis Rothschild, 1879) in the Period 2024, 2018, and 2024 to Support Birdwatching Ecotourism in Barawai Yapen Islands Regency Papua Edoward Krisson Raunsay; Basa T. Rumahorbo; Apriani Herni Rophi; David R. Jesajas; Rudolf Abrauw
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No 12 (2024): December
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10i12.9347

Abstract

Imbowiari Forest in Barawai Village, Yapen, Papua, has complex flora and fauna biodiversity, including as a habitat for Paradisaea minor jobiensis. In Papua, especially the Yapen Islands Regency, endemic species such as Paradisaea minor jobiensis are the main attraction for tourists. Managed by the community through local wisdom and the Dorey Jaya group, this area has the potential to be developed as birdwatching ecotourism. However, it has not been widely popular with tourists. This study aims to analyze changes in the vegetation of the bird's habitat for three periods (2014, 2018, and 2024) and provide recommendations for ecotourism management in Barawai. Vegetation structure and composition data were collected using the grid line method and analyzed using PAST software. The results showed an increase in the number of species at all vegetation levels, especially seedlings (21 species in 2014 to 72 in 2024), saplings (27 to 64), poles (26 to 76), and trees (41 to 96). The number of individuals also increased significantly, especially on saplings and poles. The diversity index also increased, especially at the tree level (2.78 to 4.07). This study indicates an increase in overall vegetation, with recommendations for optimizing ecotourism management based on biodiversity and local wisdom.
PENGARUH PENAMBAHAN AMPAS SAGU DAN AMPAS TEBU TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus Jacq ex Fr) Wambrauw, Matilda Y.; Sufaati, Supeni; Raunsay, Edoward K.
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 14 No. 1 (2023): Novae Guinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKUmumnya media tanam yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara pada pertumbuhan Jamur Tiram adalah serbuk gergaji. Ketersediaan hasil limbah ampas sagu dan ampas tebu masih melimpah karena kurang pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh campuran serbuk gergaji, ampas sagu dan ampas tebu terhadap pertumbuhan Jamur Tiram putih, sebagai media tanam. Penelitian dilaksanakan di Green House Biologi Uncen menggunakan RAL (4 perlakuan dan 3 ulangan) P0. 5 kg serbuk gergaji + 0 kg ampas sagu + 0 kg ampas tebu, P1. 2,5 kg serbuk gergaji + 2 kg ampas sagu + 0,5 kg ampas tebu, P2. 2,5 kg serbuk gergaji + 1,75 kg ampas sagu + 0,75 kg ampas tebu, P3 2,5 kg serbuk gergaji 1,5 kg ampas sagu + 1 kg ampas tebu. Data tersebut dianalisis menggunakan uji ANOVA dan ketika ada pengaruh dilakukan uji BNJ dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan ampas sagu dan ampas tebu hanya berpengaruh pada parameter waktu panen, sedangkan parameter pertumbuhan miselium, munculnya primordia, berat basah, panjang batang, berat kering, dan jumlah tubuh buah tidak berpengaruh. Berdasarkan rata-rata untuk parameter waktu panen nilai tertinggi adalah P2 sedangkan paling rendah adalah perlakuan P1. Tetapi untuk parameter berat basah perlakuan P1 memberikan hasil rata-rata tertinggi.Kata Kunci : Ampas Sagu, Ampas Tebu, Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus Jacq ex Fr). ABSTRACTGenerally, the growing media used to meet the nutrient requirements for the growth of Oyster Mushrooms is sawdust. The availability of sago bagasse and bagasse waste products is still abundant due to underutilization. This study aims to see the effect of a mixture of sawdust, sago pulp and bagasse on the growth of white oyster mushroom, as a growing medium. The study was conducted at the Green House Biology Uncen using RAL (4 treatments and 3 replications) P0. 5 kg sawdust + 0 kg sago pulp + 0 kg bagasse, P1. 2.5 kg sawdust + 2 kg sago pulp + 0.5 kg bagasse, P2. 2.5 kg of sawdust + 1.75 kg of sago dregs + 0.75 kg of bagasse, P3 2.5 kg of sawdust 1.5 kg of sago dregs + 1 kg of bagasse. The data were analyzed using the ANOVA test and when there was an effect, the BNJ test was carried out with a 95% confidence level. The results of this study showed that the addition of sago pulp and bagasse only affected the parameters of harvest time, while the parameters of mycelium growth, emergence of primordia, wet weight, stem length, dry weight, and number of fruit bodies had no effect. Based on the average for the harvest time parameter, the highest value is P2 while the lowest is P1 treatment. But for the wet weight parameter, P1 treatment gave the highest average result.Keywords : Sago pulp, bagasse, white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus Jacq ex Fr).
Integration of Local Ecological Knowledge in Bird-of-Paradise Conservation Strategy: A Case Study in the Tabi and Saireri Traditional Areas Raunsay, Edoward Krisson
Prisma Sains : Jurnal Pengkajian Ilmu dan Pembelajaran Matematika dan IPA IKIP Mataram Vol. 14 No. 2: April 2026
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/j-ps.v14i2.19335

Abstract

This study examines the integration of local ecological knowledge into bird-of-paradise conservation strategies in the Tabi and Saireri customary areas, Papua, with a field focus in the East Sentani (Tabi) and South Yapen (Saireri) districts. Using qualitative methods with an ethnographic approach and case studies, this study aims to understand how indigenous communities manage and conserve birds-of-paradise through local wisdom practices embedded in their socio-cultural systems. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and focus group discussions with 32 participants consisting of traditional elders, traditional hunters, female forest managers, and village officials involved in customary-based conservation practices. Data analysis was conducted thematically to identify local values, rules, and institutional mechanisms that support conservation. The results revealed four main themes: (1) the establishment of taboo zones and sacred forests as habitat protection spaces, (2) seasonal hunting regulations and fishing gear restrictions, (3) ritual governance and customary sanctions to maintain ecological balance, and (4) community oversight mechanisms through customary institutions. The findings indicate that the integration of local knowledge is effective when recognized in formal policies through co-management schemes, strengthening the role of customary institutions, and recognizing customary sanctions in regional conservation regulations. Local knowledge-based strategies not only maintain the habitat and population of birds of paradise but also strengthen the social legitimacy of conservation policies. This study recommends the development of co-management instruments between local governments and indigenous communities as a contextual, inclusive, and sustainable policy framework for bird-of-paradise conservation in the Tabi and Saireri customary territories.
LITERASI LAUT PADA SISWA SD INPRES DORMENA UNTUK MEMBENTUK GENERASI YANG BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP PEMANFAATAN LAUT Cornelius Tanta; Apriani Herni Rophi; Edoward Krisson Raunsay; David R. Jesajas; Mivtha Citraningrum
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.37484

Abstract

Kampung Doromena yang berada di Distrik Depapre Kabupaten Sentani, Papua merupakan kampung yang memiliki potensi perairan yang besar apabila dikelola dengan baik. Masyarakat Pesisir Kampung Doromena sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil laut dengan bermata pencaharian sebagai nelayan. Akan tetapi, beberapa masyarakat masih melakukan destructive fishing yang dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang sebagai tempat hidup banyak biota laut serta merusak regenerasi dan rantai makanan dalam eksosistem tersebut. Selain itu, berdasarkan hasil observasi kesadaran masyarakat akan laut masih rendah, hal ini terlihat dari perilaku masyarakat yang masih membuang limbah rumah tangganya langsung ke laut. daerah Depapre juga menjadi area yang sangat sering dikunjungi oleh wisatawan karena lautnya yang indah. Hal ini dapat menjadi ancaman dimana kegiatan pariwisata seperti snorkeling yang kurang bertanggung dapat merusak eksosistem terumbu karang dan eksosistem lamun. Ditambah lagi berdasarkan hasil observasi dan wawancara di sekolah diketahui bahwa literasi laut kurang dilakukan. Hal ini akan berdampak pada kesadaran dan kepedulian generasi muda yang kurang dalam menjaga kelestarian laut di daerahnya. Berdasarkan permasalahan diatas, maka perlu adanya literasi laut pada masyarakat pesisir kampung Doromena sejak usia Sekolah Dasa Tujuan dari kegiatan ini ialah untuk memberikan literasi laut bagi anak-anak Sekolah Dasar. Adanya kegiatan literasi laut ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman anak-anak pesisir tentang pentingnya laut bagi keberlanjutan hidup manusia. Dengan pemahaman tersebut, diharapkan kedepannya generasi Doromena tidak lagi melakukan destructif fishing atau kegiatan pengrusakan laut lainnya. Melalui kesadaran tersebut, masyarakat Doromena ke depannya dapat mengelola dan memanfaatkan laut secara berkelanjutan sehingga sumberdaya laut dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama. Kegiatan pengabdian dapat diselengarakan dengan baik dan lancar sesuai dengan rencana kegiatan yang telah dibuat. Kegiatan ini disambut baik pihak sekolah dan masyarakat setempat dengan jumlah peserta yang hadir mencapai target 93%. Materi dapat disampaikan secara keseluruhan serta pada akhir kegiatan, peserta memiliki penilaian sikap peduli laut pada kategori sedang hingga tinggi dengan persentase sebesar 83%.
PEMBELAJARAN KONSERVASI KONTEKSTUAL MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI MELALUI PRAKTIKUM PENGAMATAN BURUNG CENDERAWASIH DI KAMPUNG RHEPANG MUAIF KABUPATEN JAYAPURA Rosaniya E. Rehiara; Edoward Krisson Raunsay; Aldolf Z.D. Siahay; Dolfina Costansah Koirewoa
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 No 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i3.47029

Abstract

Kegiatan ini bertujuan mengembangkan model pembelajaran konservasi kontekstual bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi melalui praktikum lapangan dalam pengamatan burung Cenderawasih di Kampung Rhepang Muaif, Kabupaten Jayapura. Pendekatan ini mengintegrasikan tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian—dalam satu kesatuan kegiatan berbasis ekosistem lokal. Mahasiswa terlibat langsung dalam pengamatan spesies, pencatatan data, dan interaksi dengan masyarakat adat yang memiliki kearifan ekologis lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa partisipasi aktif dalam pengalaman lapangan memicu peningkatan signifikan dalam aspek kognitif, afektif, dan reflektif mahasiswa. Praktikum ini mendorong penguatan sikap dan empati konservasi melalui pengalaman langsung yang tidak dapat diperoleh di ruang kelas. Selain itu, integrasi nilai budaya lokal memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap makna ekologis burung Cenderawasih sebagai simbol identitas dan keberlanjutan alam Papua. Dengan demikian, kegiatan ini terbukti efektif sebagai strategi pembelajaran ekologis yang membentuk agen konservasi berwawasan lokal dan reflektif.