Claim Missing Document
Check
Articles

IMPLEMENTASI MATERI EKOLOGI HEWAN PADA PRAKTIKUM PENGAMATAN POPULASI BURUNG CENDERAWASIH Edoward Krisson Raunsay; Zainal Arifin Wazaraka; Rosaniya E. Rehiar; Paul Johan Kawatu; Tanta Tanta; Alfred Alfonso Antoh; Konstantina MB. Kameubun; Maik NR. Akobiarek; Leonardo E. Aisoi; Ruth Megawati; Apriani Herni Rophi; Lazarus Ramandei; Dolfina Costansah Koirewoa; Suriyah Satar; Nurbaya Nurbaya; Hanida Listiani; David R. Jesajas; Marsiyah Bwefar
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i2.15498

Abstract

Kawasan hutan Isyo Hills Kampung Rhepang Muaif merupakan kawasan konservasi in-situ yang didalamnya tersimpan berbagai taksa hewan diantaranya burung Cenderawasih. Kawasan ini menjadi unik dan memiliki manfaat yang sangat baik bagi habitat di dalamnya karena telah dikelola secara baik dan profesional. Keunikan spesies dan keberadaan kawasan yang baik bagi habitatnya menjadi pilihan sebagai tempat pelaksanaan praktikum dan merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Kegiatan praktikum atau PKM ini diikuti oleh 35 orang mahasiswa dan 1 orang dosen Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih. Kegiatan ini memiliki tujuan yang sangat baik yaitu sebagai implementasi materi Ekologi Hewan yang telah diperoleh selama perkuliahan. Dalam pelaksanaan praktikum ini, tentunya ada penerapan metode jelajah dan titik point yang digunakan untuk mengamati keberadaan satwa burung Cenderawasih. Data yang dapat dikumpulkan dari hasil pengamatan menemukan 1 individu Cenderawasih Dua Belas Antena (Seleucidis melanoleuca), 1 individu jantan dan 1 individu betina Cenderawasih Kuning (Paradisaea minor) dan 2 individu Cenderawasih Paruh Sabit Paruh Putih (Drepanornis bruijnii). Kegiatan praktikum ini menunjukkan bahwa kawasan hutan Isyo Hills kampung Rhepang Muaif sebagai kawasan konservasi in-situ sangat baik untuk keberlangsungan 3 spesies burung Cenderawasih yang hidup di dalamnya.
IMPLEMENTASI MATERI EKOLOGI HEWAN PADA PRAKTIKUM PENGAMATAN POPULASI BURUNG CENDERAWASIH Edoward Krisson Raunsay; Zainal Arifin Wazaraka; Rosaniya E. Rehiar; Paul Johan Kawatu; Tanta Tanta; Alfred Alfonso Antoh; Konstantina MB. Kameubun; Maik NR. Akobiarek; Leonardo E. Aisoi; Ruth Megawati; Apriani Herni Rophi; Lazarus Ramandei; Dolfina Costansah Koirewoa; Suriyah Satar; Nurbaya Nurbaya; Hanida Listiani; David R. Jesajas; Marsiyah Bwefar
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i2.15498

Abstract

Kawasan hutan Isyo Hills Kampung Rhepang Muaif merupakan kawasan konservasi in-situ yang didalamnya tersimpan berbagai taksa hewan diantaranya burung Cenderawasih. Kawasan ini menjadi unik dan memiliki manfaat yang sangat baik bagi habitat di dalamnya karena telah dikelola secara baik dan profesional. Keunikan spesies dan keberadaan kawasan yang baik bagi habitatnya menjadi pilihan sebagai tempat pelaksanaan praktikum dan merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Kegiatan praktikum atau PKM ini diikuti oleh 35 orang mahasiswa dan 1 orang dosen Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih. Kegiatan ini memiliki tujuan yang sangat baik yaitu sebagai implementasi materi Ekologi Hewan yang telah diperoleh selama perkuliahan. Dalam pelaksanaan praktikum ini, tentunya ada penerapan metode jelajah dan titik point yang digunakan untuk mengamati keberadaan satwa burung Cenderawasih. Data yang dapat dikumpulkan dari hasil pengamatan menemukan 1 individu Cenderawasih Dua Belas Antena (Seleucidis melanoleuca), 1 individu jantan dan 1 individu betina Cenderawasih Kuning (Paradisaea minor) dan 2 individu Cenderawasih Paruh Sabit Paruh Putih (Drepanornis bruijnii). Kegiatan praktikum ini menunjukkan bahwa kawasan hutan Isyo Hills kampung Rhepang Muaif sebagai kawasan konservasi in-situ sangat baik untuk keberlangsungan 3 spesies burung Cenderawasih yang hidup di dalamnya.
ANALISIS KETERSEDIAAN TUMBUHAN SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBUATAN SARANG (Paradisea minor jobiensis Rothschild, 1897) DI KAWASAN HUTAN IMBOWIARI BARAWAI KEPULAUAN YAPEN Edoward Krisson Raunsay
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 7 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengidentifikasi dan menganalisa ketersediaan tumbuhan sebagai bahan dasar pembuatan sarang (Paradisea minor jobiensis Rothschild, 1897) di kawasan hutan Imbowiari Barawai, dilakukan dengan menggunakan metode jalur berpetak dan pengambilan sampel dilakukan sebanyak 12 transek pada ketinggian yang beberda, dimana setiap transek terdiri dari plot berukuran 2 m x 2 m untuk semai, 5 m x 5 m untuk tingkat pancang, 10 m x 10 m untuk tingkat tiang dan 20 m x 20 m untuk tingkat pohon. Hasil analsisi vegetasi di kawasan hutan Imbowiari menjunjukkan bahwa terdapat 21 spesies dari 14 famili untuk tingkat semai dengan (H’= 1,20), 26 spesies dari 16 famili tingkat pancang dengan (H’= 1,26), 27 spesies dari 19 famili tingkat tiang dengan (H’= 1,33), 39 spesies dari 24 famili untuk tingkat pohon dengan tingkat (H’= 1,26). Spesies target tumbuhan bahan dasar pembuatan sarang dalam plot pengamatan berjumlah 2 jenis pada empat (4) tingkatan, dimana Ficus septica Burm.f berada pada tingkat semai (3 individu), pancang (5 individu) dan tiang (1 individu)sedangkan pada tingkat pohon terdapat Macaranga tanarius F.v.M (2 individu).Kata Kunci: Barawai, Ketersediaan, Sarang, Spesies, Paradisea minor jobiensis
Keragaman Tumbuhan Pakan Burung Cenderawasih di Hutan Kampung Rhepang Muaif Kabupaten Jayapura Edoward Krisson Raunsay; Konstantina MB Kameubun; Alfred A. Antoh; Leonardo E. Aisoi; Papua Kapitarauw
BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains Vol 7 No 1 (2024): Bioedusains: Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/bioedusains.v7i1.9924

Abstract

The aim of this research is to carry out a vegetation analysis looking at the types of plants at the seedling, sapling, pole and tree level which have the potential to serve as food for birds of paradise. The plotted line method is a measuring tool used to collect vegetation data at the seedling, sapling, pole and tree level. The data obtained is then analyzed to determine Density, Relative Density, Dominance, Relative Dominance, Frequency, Relative Frequency, Importance Value Index and Diversity Index. The research results showed that 5 types of food sources were obtained, namely Palaquium amboinense, Gnetum gnemon, Pometia acuminata and Syzygium sp. The structure and composition of vegetation at the seedling level consists of 21 species with H' (2.74) or medium, the sapling level consists of 34 species with H' (3.16), the pole level 27 species with H' (2.83), tree level 38 species with H' (3.06). Keywords: Bird of Paradise, Food, Muaif Rhepang, Vegetation
Bentuk Trikoma (Urticaceae) dan Pemanfaatan dalam Pengobatan Tradisional pada Masyarakat Tablasupa Distrik Depapre Kabupaten Jayapura Demena, Widelmina Keterina; Raunsay, Edoward Krisson; Aisoi, Leonardo E.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8099

Abstract

Masyarakat Kampung Tablasupa Distrik Depapre menggunakan tumbuhan daun gatal, daun jilat, dan jelatang dalam pengobatan secara tradisional untuk mengatasi keluhan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk trikoma Daun Gatal (Laportea decumana (Roxb.) Wedd.), Daun Jilat (Villebrunia rubescens Bl.), Daun Jelatang (Urtica dioica L.) dan penggunaan daun dalam pengobatan tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, eksperimen, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa bentuk trikoma Daun Gatal dan Daun Jilat berbentuk uniseluler sedangkan bentuk trikoma pada Daun Jelatang berbentuk bintang. Daun gatal dapat digunakan untuk menghilangkan rasa pegal-pegal pada badan, Daun Jilat dapat digunakan untuk mengeluarkan darah mati atau darah kotor akibat memar, Daun Jelatang dapat digunakan untuk mengobati asam urat.
Identifikasi Jenis Makroalga di Perairan Kampung Dormena Distrik Depapre Papua Apriani Herni Rophi; Leonardo Elisa Aisoi; Edoward Krisson Raunsay; David R. Jesajas
Polygon : Jurnal Ilmu Komputer dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol. 3 No. 1 (2025): Polygon : Jurnal Ilmu Komputer dan Ilmu Pengetahuan Alam
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Matematika dan Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/polygon.v3i1.407

Abstract

potential if managed well. The Depapre coastal area is famous for its marine tourism. The sea water is still clean and clear, beautiful coral reef cover and the charm of seagrass beds with various types of fish that live around them are what attract tourists to visit this area. However, aquatic ecosystems, especially macroalgae, are under threat of degradation. The aim of this research is to identify types of macroalgae as initial data for monitoring and consideration in efforts to process biological resources, especially the composition and distribution of macroalgae.The method used is the roaming method (road sampling), the population of this study is various types of macroalgae found in Dormena coastal waters, while the research sample is all types of macroalgae found in the roaming area. The data obtained was processed qualitatively using a macroalgae identification key book. The results of research in the waters of Doromena village, identified 9 species of macroalgae, namely Chaetomorpha spiralis Okamura (Chorophyta), Halimeda macroloba Decaisne (Chorophyta), Phadina australis Hauck (Phaeophyta), Sargassum binderi (Phaeophyta), Sargassum cristaefolium C. Agardh 1820 (Phaeophyta), Turbinaria conoides (J. Agardh) Kützing 1860 (Phaeophyta), Chondrus crispus Stackh (Rhodophyta), Corallina officinalis Linnaeus 1758 (Rhodophyta), and Gelidium sp. J. V. Lamouroux 1813 (Rhodophyta).
PEMBELAJARAN KONSERVASI KONTEKSTUAL MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI MELALUI PRAKTIKUM PENGAMATAN BURUNG CENDERAWASIH DI KAMPUNG RHEPANG MUAIF KABUPATEN JAYAPURA Rehiara, Rosaniya E.; Raunsay, Edoward Krisson; Siahay, Aldolf Z.D.; Koirewoa, Dolfina Costansah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 No 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i3.47029

Abstract

Kegiatan ini bertujuan mengembangkan model pembelajaran konservasi kontekstual bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi melalui praktikum lapangan dalam pengamatan burung Cenderawasih di Kampung Rhepang Muaif, Kabupaten Jayapura. Pendekatan ini mengintegrasikan tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian—dalam satu kesatuan kegiatan berbasis ekosistem lokal. Mahasiswa terlibat langsung dalam pengamatan spesies, pencatatan data, dan interaksi dengan masyarakat adat yang memiliki kearifan ekologis lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa partisipasi aktif dalam pengalaman lapangan memicu peningkatan signifikan dalam aspek kognitif, afektif, dan reflektif mahasiswa. Praktikum ini mendorong penguatan sikap dan empati konservasi melalui pengalaman langsung yang tidak dapat diperoleh di ruang kelas. Selain itu, integrasi nilai budaya lokal memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap makna ekologis burung Cenderawasih sebagai simbol identitas dan keberlanjutan alam Papua. Dengan demikian, kegiatan ini terbukti efektif sebagai strategi pembelajaran ekologis yang membentuk agen konservasi berwawasan lokal dan reflektif.
Studi Fitokimia Tumbuhan Inang Burung Cenderawasih Dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran Kimia Organik Koirewoa, Dolfina Costansah; Raunsay, Edoward Krisson
Spectrum: Multidisciplinary Journal Vol. 2 No. 3 (2025): Spectrum: Multidisciplinary Journal
Publisher : Sapta Arga Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keanekaragaman hayati Indonesia yang tinggi belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran kontekstual, khususnya dalam bidang kimia organik. Salah satu kekayaan hayati tersebut adalah tumbuhan inang burung cenderawasih yang memiliki potensi senyawa metabolit sekunder, namun masih minim dieksplorasi secara ilmiah dan pedagogis. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kandungan fitokimia tumbuhan inang burung cenderawasih dan mengaitkan temuannya dengan pengembangan pembelajaran kimia organik berbasis lingkungan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode literature review, yang bersifat deskriptif analitik. Data dikumpulkan melalui telaah sistematis terhadap artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan, buku referensi akademik, serta dokumen penelitian yang dipublikasikan antara tahun 2015 hingga 2025. Instrumen penelitian berupa checklist evaluatif berbasis kriteria PRISMA digunakan untuk menyeleksi dan menilai kelayakan literatur yang ditinjau. Analisis data dilakukan melalui teknik reduksi dan kategorisasi isi temuan berdasarkan jenis senyawa fitokimia, karakteristik struktur organik, serta relevansinya terhadap materi ajar kimia organik di tingkat menengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan inang burung cenderawasih mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan terpenoid yang dapat digunakan sebagai contoh nyata dalam menjelaskan konsep struktur molekul, gugus fungsi, dan klasifikasi senyawa organik. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa potensi fitokimia tumbuhan endemik Papua ini tidak hanya penting secara farmakologis, tetapi juga strategis untuk memperkuat pendekatan kontekstual dalam pembelajaran kimia. Oleh karena itu, pengintegrasian hasil studi fitokimia ke dalam bahan ajar berbasis lingkungan lokal direkomendasikan untuk meningkatkan relevansi dan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep kimia organik. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan eksplorasi eksperimental terhadap ekstrak tumbuhan tersebut, guna memperkuat validitas ilmiah dan aplikasinya dalam bentuk media pembelajaran interaktif.
Analisis Fitokimia Pakan Alami Burung Cenderawasih sebagai Sumber Kontekstual dalam Pembelajaran Kimia Analitik Raunsay, Edoward Krisson; Koirewoa, Dolfina Costansah
Spectrum: Multidisciplinary Journal Vol. 2 No. 3 (2025): Spectrum: Multidisciplinary Journal
Publisher : Sapta Arga Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Burung cenderawasih merupakan fauna endemik Papua yang bergantung pada keanekaragaman hayati sebagai sumber pakannya. Tumbuhan yang dikonsumsi burung cenderawasih, seperti Ficus, Medinilla, dan Schefflera, diketahui mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang bernilai fitokimia. Namun, potensi kandungan fitokimia ini belum banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran kimia analitik yang kerap dianggap abstrak dan terlepas dari konteks kehidupan nyata siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan fitokimia dari pakan alami burung cenderawasih sebagai sumber kontekstual dalam pembelajaran kimia analitik yang berbasis lingkungan dan kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan literature review sistematis. Instrumen penelitian berupa telaah pustaka ilmiah dari jurnal terakreditasi nasional dan internasional yang relevan pada rentang tahun 2018–2025. Data dikumpulkan melalui proses identifikasi, seleksi, dan interpretasi terhadap literatur yang berkaitan dengan senyawa fitokimia pada tumbuhan pakan burung cenderawasih serta relevansinya dalam pembelajaran kimia. Analisis data dilakukan dengan metode sintesis tematik yang mengelompokkan informasi berdasarkan pola kandungan senyawa fitokimia dan kesesuaiannya dengan materi kimia analitik, seperti analisis kualitatif, kromatografi, dan spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies tumbuhan pakan burung cenderawasih mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan fenolik yang dapat digunakan sebagai bahan ajar kontekstual untuk menjelaskan konsep analisis senyawa organik. Integrasi kandungan fitokimia tersebut ke dalam proses pembelajaran kimia memberikan peluang bagi siswa untuk memahami konsep secara konkret serta meningkatkan kesadaran terhadap pelestarian lingkungan lokal. Selain itu, penggunaan sumber ajar berbasis biodiversitas endemik juga berpotensi mendorong pengembangan kurikulum kimia yang lebih relevan secara ekologis dan kultural. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa fitokimia tumbuhan pakan alami burung cenderawasih memiliki nilai edukatif tinggi dan dapat dijadikan sumber kontekstual dalam pembelajaran kimia analitik. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah melakukan eksplorasi empiris terhadap efektivitas penerapan bahan ajar berbasis fitokimia lokal dalam meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran kimia.
PENGARUH PENGGUNAAN AMPAS SAGU DAN JERAMI SEBAGAI MEDIA TERHADAP PRODUKSI JAMUR MERANG (Volvariela volvacea) Pambudi, Norman; Raunsay, Edoward K.; Aisoi, Leonardo E.
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 14 No. 2 (2023): Novaeguinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan pengolahan sagu mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sehingga menimbulkan dampak positif dan dampak negatif bagi masyarakat. Dampak positif yaitu meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat, sedangkan dampak negatif yaitu menimbulkan limbah. Sama hal nya dengan ampas sagu, limbah pertanian lain seperti jerami yang ada di wilayah Papua juga hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. di daerah Jawa dan sekitarnya, mereka memanfaatkan limbah jerami untuk dijadikan sebagai media jamur merang. Penelitian ini bertujuan untuk 1). mengetahui pengaruh penggunaan ampas sagu dan jerami sebagai media terhadap produksi jamur merang 2). mengetahui media apa yang terbaik untuk pertumbuhan dan produksi jamur merang. Rancangan penelitian mengguanakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil perlakuan untuk munculnya primordia terlama adalah perlakuan S3J1 dengan rata-rata yaitu 36 hari setelah inokulasi, sedangkan untuk masa tumbuh tercepat adalah perlakuan S1J3 dengan rata-rata yaitu 17 hari setelah inokulasi. Hasil perlakuan untuk masa panen tercepat adalah perlakuan S1J3 dengan rata-rata yaitu 22 hari setelah inokulasi, sedangkan untuk masa panen terlama adalah S3J1 dengan rata-rata yaitu 39 hari setelah inokulasi. hasil perlakuan terbaik berat tubuh buah jamur merang adalah perlakuan S1J3 yaitu 178.67 gram, sedangkan berat tubuh buah jamur merang paling rendah adalah perlakuan S4J0 yaitu 16.00 gram. hasil perlakuan terbaik Jumlah tubuh buah jamur merang adalah perlakuan S1J3 yaitu 22 buah, sedangkan jumlah tubuh buah jamur merang paling rendah adalah perlakuan S4J0 yaitu 2 buah. Hasil terlama lama masa panen adalah perlakuan S3J1 yaitu 46 hari, sedangkan lama masa panen paling tercepat adalah perlakuan S4J0 yaitu 24 hari. hasil perlakuan terbaik frekuensi jamur merang adalah perlakuan S1J3 yaitu 7x, sedangkan frekuensi jamur merang paling rendah adalah perlakuan S4J0 yaitu 1x. Penambahan ampas sagu pada jamur merang berpengaruh terhadap produktifitas jamur merang dan Media yang terbaik untuk produktifitas jamur merang adalah media S1J3, dengan perbandingan sagu : jerami 1 : 3 Kata Kunci: Ampas sagu., Jerami, Jamur Merang