Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

KREATIVITAS GURU PAI DALAM MENGEMBANGKAN MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Atina Rahmatia; Qiso, Ahmad; Muhammad Wahyudi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 4 No. 4 (2025): Juli 2025
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teachers' creativity in developing learning media plays a crucial role in providing engaging, relevant, and effective learning experiences that benefit the learning process. However, there is still a lack of knowledge among Islamic Education (PAI) teachers regarding learning media, such as their limited mastery of software. The purpose of this research is to investigate and describe how teachers’ creativity is applied in developing learning media at SDN 7 Pemulutan Barat, as well as to identify and describe the supporting and inhibiting factors in the development of learning media at SDN 7 Pemulutan Barat. This study employs a qualitative descriptive approach (field research). The research method uses a qualitative approach with the theme "Creativity of PAI Teachers in Developing Learning Media at SDN 7 Pemulutan Barat" as the research object, involving PAI teachers, teacher leaders (guru penggerak), and students as respondents. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation, while data analysis techniques involve data reduction, data presentation, and data verification. The research findings are as follows: (1) It can be concluded that in PAI (Islamic Education) learning at SDN 7 Pemulutan Barat, in terms of creativity, PAI teachers develop learning media using methods that align with the material to be taught, taking into account the content, objectives, methods, and characteristics of the students in the classroom. This approach ensures that the use of learning media remains consistent with the intended goals and is reviewed beforehand, making it easier for students to understand the material with the aid of learning media. (2) The supporting factors include the school environment and fellow teachers. (3) The inhibiting factors are the limited availability of projectors, laptops, internet networks, and frequent power outages.
The Quora website for students in learning the skill of Arabic Reading on the Internet (an analytical and descriptive study) | موقع كورا (Quora) للطلبة في تعلم مهارة القراءة على الوسائل الانترنت (دراسة تحليلية وصفية) Muhammad Wahyudi; Mustofa, Yusuf
ATHLA : Journal of Arabic Teaching, Linguistic and Literature Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/athla.v4i1.6499

Abstract

Electronic or computerized information sources have become an important part of libraries, especially those that aim to keep pace with modern developments to keep users up to date on scientific research, seminars and conferences covering all fields. This study aims to describe the Quora site as a site for students to learn in Internet-based Arabic reading skills. This research is a type of qualitative literature study with descriptive and analytical methods. Library sources are used to obtain data for scientific research. The object of this research is the Quora site. The results showed that 1) The idea of creating a Quora site is based on the fact that most human experience, knowledge, and opinions are still not available on the Internet, but can be found in people's books and experiences; 2) Quora aims to share all the knowledge available in the world through people's contributions to this knowledge base; 3) Quora allows everyone to access it.
Permainan Tradisional Jong Pada Relief Kayu Muhammad Wahyudi; Nofrial
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 12 (2025): Menulis - Desember
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v1i12.894

Abstract

Karya ini mengangkat Permainan Tradisional Jong sebagai ide penciptaan karya kayu. Proses pencarian bahan pembuatan Jong hingga perlombaan yang diangkat oleh pengkarya ialah permainan tradisional khas Kepulauan Riau. Uniknya, sampan Jong berupa replika miniatur sampan layar tetapi tidak dikemudikan oleh manusia, melainkan berlayar dengan mengandalkan terpaan angin. Keunikan permainan ini dijadikan sebagai ide karya relief kayu dengan proses penciptaan menggunakan teori bentuk, estetika, warna, dan fungsi. Proses penciptaan dikerjakan melalui tiga tahapan utama: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi dilakukan dengan pengumpulan data pustaka dan acuan visual. Selanjutnya, tahap perancangan ide dituangkan dalam sketsa alternatif dan dipilih menjadi desain akhir. Tahap perwujudan dimulai dengan penyiapan bahan kayu surian sebagai media utama dengan teknik ukir relief sedang (mezzo relief). Hasil karya berjumlah tujuh buah yang berfungsi sebagai pajangan dinding dengan judul: Nyarik Kayu, Narah Kayu, Tunggu Kejap, Suson Bebares, Mule, Dah Siap, dan Ambek Juare.
Pencegahan Kekerasan Dan Pelecehan Seksual Di Lingkungan Sekolah Muhammad Wahyudi; Fajar Romadhon; Safira Nur Apriliani; Diana Rosmawati; Sunariyo
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2834

Abstract

Kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan sekolah merupakan isu serius yang dapat mengancam keselamatan, kesejahteraan psikologis, serta perkembangan akademik peserta didik. Pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk - bentuk kekeraasan dan pelecehan seksusal yang terjadi di sekolah serta strategi pencegahan yang efektif berbasis pendidikan karakter dan kebijakan sekolah. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi literatur dan observasi terhadap kebijkan sekolah dibeberapa institusi pendidikan menengah di Indonesia.Melalui kegiatan pengabdian yang dilaksanakan secara tatap muka langsung di SMP 3 Muhammadiyah Samarinda yang melibatkan 28 siswa kelas VII dengan pendekatan edukatif, bertujuan untuk memberikan edukasi tentang cara pencegahan kekersan dan pelecehan seksual di lingkungan sekolah.Berdasarkan teori feminis yang menekankan bahwa pelecehan seksual merupakan ekspresi dominasi dan ketidaksetraan gender.Teori ini menyarankan bahwa pencegahan harus mencakup peningkatan kesadaran gender dan kekuasaan untuk melawan pelecehan seksual.Sehingga pengabdian ini berperan sebagai langkah edukatif untuk mendukung penerapan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UUTPKS).Oleh karena itu sangat penting utnuk memberikan edukasi kepada siswa,tentang kekerasan dan pelecehan seksual agar lebih peka terhadap tindak pidana tersebut.
Mekanisme Penegakan Ham Di Indonesia Dibandingkan Dengan Kerea Selatan Jepang Hasana Ina Gorang; Fajar Romadhon; Muhammad Wahyudi; Rama Afrizal Laksana Putra; Uut Rahanisi
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3433

Abstract

Mekanisme penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, Korea Selatan, dan Jepang menunjukkan variasi yang dipengaruhi oleh sistem hukum, sejarah politik, serta kekuatan institusi demokratis masing-masing negara. Di Indonesia, penegakan HAM bertumpu pada mekanisme quasi-judicial seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), lembaga peradilan, serta kerangka hukum seperti UUD 1945 dan UU HAM. Namun, efektivitasnya kerap terbentur oleh hambatan politik, lemahnya implementasi putusan, serta penuntasan kasus pelanggaran HAM berat yang masih tertunda. Sebaliknya, Korea Selatan memiliki mekanisme penegakan HAM yang lebih konsolidatif melalui National Human Rights Commission of Korea (NHRCK) yang memiliki kewenangan investigatif kuat, serta peradilan yang relatif independen setelah proses demokratisasi pada akhir 1980-an. Negara ini juga menunjukkan kemajuan dalam perlindungan kelompok rentan, meski masih menghadapi tantangan seperti kebebasan berekspresi dan isu diskriminasi. Di Jepang, penegakan HAM bersifat lebih administratif dengan peran signifikan dari Kementerian Kehakiman melalui Human Rights Bureau, ditambah kerangka perlindungan konstitusional yang kuat. Meskipun demikian, minimnya lembaga HAM independen menjadi salah satu kritik utama dalam mekanisme penegakan HAM di negara ini. Secara komparatif, Korea Selatan dan Jepang memiliki stabilitas institusional dan independensi peradilan yang lebih kuat dibandingkan Indonesia, yang masih berupaya memperkuat supremasi hukum dan akuntabilitas negara. Namun, ketiga negara sama-sama berusaha menyesuaikan mekanisme penegakan HAM dengan dinamika sosial dan politik masing-masing, termasuk tuntutan transparansi, demokratisasi, serta perlindungan terhadap kelompok minoritas.