Claim Missing Document
Check
Articles

Komposisi Hasil Tangkapan Alat Tangkap Rawai pada Waktu Pagi dan Siang Hari di Perairan Desa Bantan Sari Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau Anik, Heni; Bustari, Bustari; Nasution, Polaris
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 11 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2022 di Desa Bantan Sari Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yang dilaksanakan selama tujuh hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah perbedaan dan komposisi hasil tangkapan rawai dasar pada waktu pagi dan siang hari di perairan Desa Bantan Sari. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan mengenai komposisi hasil tangkapan alat tangkap rawai pada waktu pagi dan siang hari di perairan Desa Bantan Sari menghasilkan jumlah tangkapan pada waktu pagi hari sebanyak 22.49 kg dengan jumlah 66 ekor sedangkan siang hari sebanyak 15.32 kg dengan jumlah 43 ekor. Hasil tangkapan tertinggi pada waktu pagi adalah ikan duri (Hexanematichthys sagor) dengan jumlah 10.03 kg (28 ekor) dan hasil tangkapn yang paling rendah adalah ikan kakap (Lates calcarifer) 2.86 (6 ekor) dan ikan gelama (Johnius amblycephalus) 2.51 (16 ekor). Untuk hasil tangkapan tertinggi pada waktu siang hari adalah ikan duri (Hexanematichthys sagor) berjumlah 7.26 kg (20 ekor) dan hasil tangkapan terendah adalah ikan hiu (Carcharias Taurus) 1.39 (3 ekor) dan ikan gelama (Johnius amblycephalus) 1.01 (7 ekor).
Karakteristik Fisik dan Mekanis Penggunaan Kayu Non Kelas Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) pada Konstruksi Kapal Kayu Tradisional Hairi, Muhammad; Nasution, Polaris; Yani, Alit
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 10 No. 2 (2022): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Kebutuhan kayu sebagai bahan utama dalam pembuatan kapal selalu meningkat dan perolehan kayu yang berkualitas sesuai standar Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) untuk dijadikan bahan konstruksi pembuatan kapal semakin sulit untuk ditemui, karena hal ini disebabkan menipisnya ketersediaan kayu di hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan mekanis dari kayu yang biasa digunakan pada konstruksi kapal dan tidak termasuk kedalam kelas BKI. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan (eksperimental) atau melakukan pengujian secara lansung. Percobaan yang dilakukan membuat spesimen uji terhadap 4 jenis kayu non klas BKI, seperti Kayu Parak (Aglaia rubiginisa Panel), Kayu Sesup (Lumnitzera spp), Kayu Meranti Bakau (Shorea uliginesa foxio) dan Meranti Kekait (Shorea platicarpa). Dalam pengujian fisik berat dan kerapatan mengacu pada standar ASTM D970 dan pengujian penyerapan air JIS A5980. Pengujian mekanis bending mengacu pada standar ASTM D790-02, uji tarik ASTM D638-08 dan uji impact ASTM D5942-96. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya serap air terbesar adalah kayu Sesub sebesar 22,22%, dan kerapatan terbesar adalah kayu Parak sebesar 785,98 kg/m3. Pengujian mekanis bending tertinggi adalah kayu parak yaitu sebesar 157,131 Mpa yang setara dengan kuat kayu kelas I, uji tarik terbesar adalah kayu parak sebesar 165,0446 Mpa yang setara dengan kuat kayu kelas I, dan uji impact terbesar adalah Kayu Parak yaitu 0,0922 J/mm2. Berdasarkan hasil penelitian bahwa kayu Meranti Bakau, Meranti Kekait, Sesup dan Kayu Parak bisa digunakan untuk sebagai bahan konstruksi kulit luar dan rumah geladak.
Analisis Teknis dan Finansial Usaha Perikanan Bagan Perahu KM. Wafik 02 di Pelabuhan Perikanan Pantai Carocok Tarusan Sumatera Barat Rahman, Arizka; Nasution, Polaris; Rengi, Pareng
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 10 No. 2 (2022): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada Bulan Maret sampai April 2021 di Pelabuhan Perikanan Pantai Carocok Tarusan Sumatera Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek teknis usaha penangkapan bagan perahu seperti bangunan bagan, waring dan bingkai waring. Menghitung aspek ekonomi usaha penangkapan bagan perahu dilihat dari modal, pendapatan dan keuntungan. Menganalisis tingkat kelayakan usaha bagan perahu dari segi finansial dilihat dari nilai BCR, FRR, PPC dan NPV serta untuk mengetahui rentabilitas pada kapal tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yaitu dengan mewawancarai pemilik kapal dan ABK serta ikut langsung dalam melakukan penangkapan ikan. Hasil analisis finansial diketahui bahwa investasi yang diperlukan untuk kapal bagan perahu KM. Wafik 02 sebesar Rp. 535.420.000,- pendapatan kotor Rp. 833.030.000,- dengan biaya total sebesar Rp. 688.373.200,-. Dengan demikian pendapatan bersih yang didapat dalam tahun 2020 sebesar Rp. 144.656.800. Analisis kelayakan untuk KM. Wafik 02 diketahui nilai NPV sebesar 571.379.242,- nilai BCR adalah 1,21, nilai FRR sebesar 27,01% dan PPC 3,7 tahun. Analisis dari kapal tersebut memiliki nilai NPV positif, BCR >1 dan FRR> discount rate. Hal ini menunjukkan usaha perikanan kapal bagan perahu KM. Wafik 02 di Pelabuhan Perikanan Pantai Carocok Tarusan Sumatera Barat memiliki peluang yang baik dan layak untuk dikembangkan.
Komposisi Hasil Tangkapan Bubu Naga pada Pagi dan Siang Hari di Perairan Desa Permai, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti Tarigan, Isdayani; Brown, Arthur; Nasution, Polaris
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 13 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.13.2.298-302

Abstract

Penelitian ini bertujuan membandingkan jumlah dan komposisi hasil tangkapan alat tangkap bubu naga yang dioperasikan pada pagi dan siang hari di Perairan Desa Permai. Metode yang digunakan adalah survei dengan pengambilan data melalui observasi langsung terhadap operasi dua unit bubu naga selama sepuluh hari. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji-t, dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tangkapan pada pagi hari lebih tinggi dibandingkan siang hari, baik dari segi berat (11,64 kg pada pagi hari dan 7,675 kg pada siang hari) maupun jumlah individu (1.282 ekor pada pagi hari dan 1.024 ekor pada siang hari). Hasil tangkapan terdiri dari empat spesies: udang putih (Litopenaeus sp), udang merah (Penaeus monodon), ikan duri (Hexanematichthys sagor), dan ikan gulamah (Johnius trachycephalus). Spesies dominan adalah udang putih, terutama pada pagi hari. Kesimpulannya, alat tangkap bubu naga lebih efektif digunakan pada waktu pagi hari di perairan Desa Permai.
Manajemen Operasi Penangkapan Ikan Cakalang Di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap: Analisis Efisiensi Dan Strategi Pengembangan Berkelanjutan Isnaniah Isnaniah; Polaris Nasution; T. Ersti Yulika Sari; Irwan Limbong; Adib Dzakwan; Baiq Rahmadhianta; Irvan Manalu; Juprizal Juprizal; Siti Khalijah
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 3 No 4 (2025): Agustus
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v3i4.1183

Abstract

Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap merupakan salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam industri perikanan tangkap, khususnya untuk komoditas ikan cakalang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen operasi penangkapan ikan cakalang di PPS Cilacap dengan fokus pada efisiensi operasional, optimalisasi sumber daya, dan strategi pengembangan berkelanjutan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan teknik observasi lapangan, wawancara mendalam dengan stakeholder terkait, dan analisis data sekunder dari periode 2019-2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi ikan cakalang di PPS Cilacap mengalami fluktuasi dengan rata-rata 35.000 ton per tahun. Manajemen operasi yang efektif memerlukan koordinasi yang baik antara nelayan, pengolah, distributor, dan pemerintah. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi operasi meliputi teknologi penangkapan, kondisi cuaca, ketersediaan bahan bakar, dan sistem logistik. Strategi pengembangan yang direkomendasikan mencakup modernisasi teknologi penangkapan, peningkatan fasilitas pelabuhan, pengembangan cold chain system, dan penguatan kelembagaan nelayan. Implementasi manajemen operasi yang terintegrasi dapat meningkatkan produktivitas hingga 25% dan mengurangi losses hingga 15%.
Catch Composition and Selectivity Drift Gillnet in Pambang Pesisir Village Bantan Subdistrict Bengkalis Regency Anggraita, Dea Virgin; Bustari, Bustari; Nasution, Polaris
Tropical Marine Environmental Sciences Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Marine Science, Faculty of Fisheries and Marine Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/tromes.2.02.51-55

Abstract

Gill nets are placed perpendicular to the water to block the swimming direction of the fish. Fish are caught by being entangled in the meshes or entangled (spun) in the body of the net. This research was conducted in Pambang Pesisir Village, Bantan District, Bengkalis Regency, to know the composition of the catch and the selectivity of drift gill nets, comparing the composition of the number, type, weight, and size of the catch from different mesh sizes, and knowing how to catch fish (entangled, gilled, snagged, wedged) on the same mesh used. This research was carried out in December 2020 using the experimental fishing method, which is a research method that uses samples of research objects caught on fishing gear for observation. The research results of drift gill nets are species-selective fishing gear. Moreover, drift gill nets with a mesh size of 7.62 cm are more selective than nets of 5.72 cm because they have a catch ratio value closer to 1 and catch more large fish (worth catching). How to catch fish with a mesh size of 5.72 cm, many fish were caught by snagged; namely, 65 fish (30%), wedged 61 fish (28%), gilled 59 fish (27%), and 33 fish entangled (15%). Meanwhile, for the mesh size of 7.62 cm, 30 fish (31%) were caught wedged, 27 fish (29%) snagged, 27 fish (29%) gilled, and ten fish entangled (11%).
Komposisi Hasil Tangkapan Jaring Insang (Gillnet) Berdasarkan Ukuran Mata Jaring di Danau Singkarak Provinsi Sumatera Barat Rahim, Anni; Brown, Arthur; Nasution, Polaris
South East Asian Water Resources Management Vol. 1 No. 1 (2023): Desember
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seawarm.1.1.30-37

Abstract

Danau Singkarak merupakan tempat hidup bermacam jenis ikan, salah satunya adalah ikan bilih. Ikan bilih merupakan hasil tangkapan utama alat tangkap jaring insang di samping jenis-jenis ikan ekonomis lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan komposisi panjang ikan, berat ikan, jenis ikan, hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan jaring insang berdasarkan ukuran mata jaring 3/4 inchi dan 1 inchi di Danau Singkarak Provinsi Sumatera Barat. Metode penelitian menggunakan pendekatan survei dengan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama 14 hari, dapat disimpulkan bahwa dari kedua jaring insang baik dengan ukuran mata jaring 3/4 inchi maupun 1 inchi hasil tangkapan terdiri dari hampir 100% ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) dari hari ke 1-10 dan hari ke 11-14 terdapat beberapa hasil tangkapan sampingan (bycatch) yaitu ikan nilem/paweh (Osteochilus hasselti) dan hampala/barau (Hampala macrolepidota). Komposisi hasil tangkapan jaring insang dengan menggunakan ukuran mata jaring 3/4 inchi menghasilkan tangkapan 99% ikan bilih yaitu 550 ekor dengan berat total 2,4 kg, jumlah terbanyak pada interval kelas panjang 9,5-9,7 cm yaitu 120 ekor, kemudian 1% ikan nilem/paweh yaitu 8 ekor. Jaring insang dengan menggunakan ukuran mata jaring 1 inchi diperoleh hasil tangkapan sebesar 97% ikan bilih yaitu 390 ekor dengan berat total 1,6 kg dengan frekuensi terbesar pada interval kelas panjang 10,4 - 10,6 cm yaitu 180 ekor, kemudian 2% ikan nilem/paweh yaitu 7 ekor dan 1% ikan hampala/barau yaitu 4 ekor.
Studi Konstruksi dan Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Jaring Insang di Desa Pangkalan Terap Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan Sormin, Neltzy Sister Siregar; Isnaniah, Isnaniah; Nasution, Polaris
South East Asian Water Resources Management Vol. 1 No. 1 (2023): Desember
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seawarm.1.1.15-21

Abstract

Desa Pangkalan Terap merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Kampar yang banyak ditemukan aktivitas penangkapan ikan dengan alat tangkap yang dominan jaring insang. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui konstruksi dan keramahan lingkungan alat tangkap jaring insang di Desa Pangkalan Terap berdasarkan kriteria Code of Conduct for Responsible Fisheries dan sub kriteria Taeran 2014. Metode yang digunakan adalah metode survei dan wawancara langsung kepada 18 responden untuk mengumpulkan data keramahan lingkungan alat tangkap jaring insang. Hasil penelitian yang didapat jaring insang yang beroperasi di Desa Pangkalan Terap sebagian besar memiliki konstruksi yang mirip dengan jaring insang umumnya terdiri dari tali pelampung, tali pemberat, pelampung, pelampung dan pemberat. Alat tangkap jaring insang di Desa Pangkalan Terap termasuk ke dalam alat tangkap yang ramah lingkungan dengan nilai pembobotan 24,3 dari skala pembobotan 17-24
Pengaruh Perbedaan Jenis Umpan Ikan Sepat (Trichogaster sp) dan Ikan Pantau (Rasbora argyrotaenia) terhadap Hasil Tangkapan Rawai di Sungai Muara Nikum Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu Riau Perdana, Hass Kharisma Putra; Zain, Jonny; Nasution, Polaris
South East Asian Water Resources Management Vol. 1 No. 1 (2023): Desember
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seawarm.1.1.1-6

Abstract

Umpan ikan menduduki peran penting dalam meningkatkan efektivitas tangkapan ikan di perairan umum.  Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat umpan ikan hidup yang terbaik untuk alat tangkap rawai dari dua jenis umpan yaitu ikan sepat (Trichogaster sp.) dan ikan pantau (Rasbora argyrotaenia) di sungai Muara Nikum Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Metode penelitian ini menggunakan eksperimen dengan alat tangkap rawai selama 10 hari pada malam hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan hasil tangkapan rawai yang menggunakan umpan ikan pantau (Rasbora argyrotaenia) berjumlah 23 ekor dengan berat total 8,42 kg dengan nilai hook rate rata-rata 2,3%. Sedangkan hasil tangkapan ikan sepat (Trichogaster sp.) berjumlah 22 ekor, dengan berat total 15,51 kg dengan nilai hook rate rata-rata 2,2%. Analisis statistik menunjukkan perbedaan jenis umpan memberikan pengaruh terhadap jumlah tangkapan rawai (Mini Long line) di Sungai Muara Nikum.