Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Karakteristik Habitat Peneluran Penyu Di Kawasan Konservasi Penyu Paleleng Pantai Skouw Yambe Kota Jayapura Papua Wanimbo, Efray; Ayer, Popi Ida Laila; Kainama, Tamara Louraine Jeanette; Kalor, John D.; Ramba, Fitra Yunia
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 1 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i1.4181

Abstract

Kawasan Konservasi Penyu Paleleng terletak di pesisir pantai Skouw Yambe. Lokasi pantai di Skouw Yambe sangat strategis sebagai tempat yang cocok untuk penyu bertelur karena berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik. Namun kondisi lokasi bertelurnya penyu pada saat ini sangat memprihatinkan, dikarenakan banyaknya sampah yang bermacam-macam jenis yang berserakan di bagian pesisir pantai sehingga membuat kualitas pantai menurun. Selain masalah kebersihan pantai, fasilitas yang di butuhkan dalam Konservasi Penyu Paleleng juga masih terbilang kurang, sehingga kelompak masyarakat konservasi masih menggunakan peralatan sederhana dan seadanya. Tingginya peranan habitat maupun faktor ekologis terhadap kelangsungan peneluran dan perangsangan penyu di Pantai Skouw Yambe, maka sangat perlu dilakukan kajian dalam mendukung program Konservasi Penyu di kawasan Pantai Skouw Yambe. Metode Data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan di Pantai Skouw Yambe dan akan ditentukan 2 titik (stasiun pengambilan sampel) tempat mendaratnya penyu untuk bertelur. Berdasarkan tempat bertelurnya penyu, terdapat 2 stasiun yaitu Paerong (stasiun 1) dan Tanjung Tangwato (stasiun 2). Suhu pasir pada stasiun 1 rata-rata 29,72 derajat dan stasiun 2 rata-rata 30,06. Panjang Pantai Skouw Yambe memiliki panjang garis pantai kurang lebih 5 km atau kurang lebih 5.000 m dan lebar pantai pada stasiun 1 yaitu 66 m dan pada stasiun 2 berukuran 50 m. Substrat stasiun 1 dan 2 didominasi oleh pasir halus dengan ukuran 0,224 mm dan pada stasiun 2 berukuran 0,219 mm. Salinitas di stasiun 1 yaitu 33ppt dan pada stasiun 2 yaitu 35ppt. DO pada stasiun 1 yaitu 6,5 mg/l dan stasiun 2 yaitu 7,1 mg/l. Jenis vegetasi yang dominan di sekitar pantai tempat peneluran penyu Skouw Yambe adalah Pohon Pandan (Pandanus Sp), Pohon Bitanggur (Calophypillum inophyillum), Pohon Ketapang (Terminalia catappa), Pohon Kelapa (Cocos nucifera), Kacang Laut (Canavalia maritima), Pohon Bapa Ceda (Halabeu) bahasa daerah. Ancaman predasi habitat penyu yaitu akibat faktor dari makhluk hidup dan alam sendiri.
Jens-Jenis Mangrove di Kawasan Wisata Alam Teluk Youtefa Kota Jayapura, Papua Rejauw, Korinus; Paiki, Kalvin; Wanimbo, Efray; Tanjung, Rosye H. R.; Agamawan, Lalu Panji I.; Manalu, Khristhoper Aris A.
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 1 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i1.4692

Abstract

Hutan mangrove di Teluk Youtefa merupakan salah potensi sumber daya perairan di pesisir Kota Jayapura yang memiliki peranan sangat penting bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Data dan informasi tentang vegetasi mangrove di lokasi ini sangat penting untuk diketahui sebagai dasar pengelolaan yang berkelanjutan, Penelitian ini bertujuan untuk menetahui kompoisis jenis dan struktur vegetasi mangrove di sekitar kawasan wisata alam Teluk Youtefa Kota, Jayapura. Metode penelitian yang digunakan metode purposive sampling, pengambilan data dilakukan menggunakan petak ber sarang. Analisis data yang digunakan untuk mencari kerapatan, kerapatan relative, frekuensi, frekuensi relative, dominansi, dominansi relative dan indeks nilai penting. Hasil penelitian ditemukan ada 8 spesies mangrove pada kedua stasiun penelitian, kerapatan tertinggi terdapat pada spesies Bruguera haynessi, Rhizophora apiculata dan Rhizophora stylosa, terendah terdapat pada Lumnitzera racmosa, Xylocarpus granatum dan Xylocarpus moluccensis. Frekuensi tertinggi terdapat pada spesies Rhizophora apiculata dan terendah terdapat pad spesies Lumnitzera racmosa dan Xylocarpus granatum. Dominansi tertinggi terdapat pada spesies Bruguera haynessi, Lumnitzera racmosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata dan terendah terdapat pada spesies Rhizophora stylosa dan Xylocarpus granatum. INP tertinggi terdapat pada spesies Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa dan Rhizophora mucronata.
PELATIHAN REHABILITASI DAN TRANSPLANTASI KARANG BAGI KELOMPOK SELAM DI KAMPUNG TABLASUFA KABUPATEN JAYAPURA PAPUA Paulangan, Yunus Pajanjan; Warpur, Maklon; Wanimbo, Efray; Barapadang, Barnabas
Jurnal Pemberdayaan Maritim Vol 6 No 1 (2023): Journal of Maritime Empowerment
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Penjaminan Mutu, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jme.v6i1.6447

Abstract

Kurangnya pemahaman dan keterampilan transplantasi karang oleh masyarakat merupakan salah satu kendala dalam melakukan rehabilitasi ekosistem terumbu karang yang telah rusak di Teluk Depapre. Diketahui bahwa kerusakan ekosistem terumbu karang di kawasan Teluk Depapre akibat penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak, racun akar tuba serta kegiatan wisata yang kurang profesional dan tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, perlu pelatihan yang melibatkan kelompok masyarakat agar dapat melakukan rehabilitasi khususnya transplantasi karang pada ekosistem yang telah mengalami kerusakan dengan teknologi yang murah dan mudah diadopsi sehingga dapat dilakukan secara mandiri. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan pemberian teori dan praktek kepada peserta dengan melibatkan beberapa kelompok selam yang beraktivitas di Teluk Depapre, yakni Papua Diving Academy dan Lumba-Lumba Diving Club serta Octopus Diving Club. Berdasarkan hasil evaluasi, peserta sangat mengapresisasi materi yang disampaikan oleh narasumber yakni 10 peserta dari 12 peserta menyebutkan sangat baik. Selain itu, antusias dan minat kelompok selam tersebut sangat tinggi, bahkan juga kelompok masyarakat sekitar dalam upaya rehabilitasi ekosistem terumbu karang khususnya transplantasi karang. Hal ini terlihat dari tingkat kehadiran dan keaktifan peserta dalam kegiatan pelatihan mulai dari persiapan sampai pelaksanaan transplantasi. 
Pemanfaatan Microsoft Excel Bagi Anak Muda di Kampung Enggros, Kota Jayapura Paranoan, Nicea Roona; Tuhumena, Lolita; Aryanto, Aryanto; Wanimbo, Efray; Ayer, Popi Ida Laila; Payapo, Muhammad Zia Ulhaq; Gultom, Ayub Sahala; Numberi, Yulindra Margaretha; Pattipeilohy, Christian Ernsz; Pirhel, Pirhel
Cahaya Pengabdian Vol. 1 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Apik Cahaya Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61971/cp.v1i2.116

Abstract

The use of Microsoft Excel is very helpful in making tables, graphs, financial reporting and so on. The tools in Microsoft Excel provide convenience to its users. However, in fact, in the era of the development of science and technology, many people are still not familiar with the use of Microsoft Excel. Especially youth in Enggros Village, Jayapura City who are still collecting data manually or in writing and also few of them can operate Microsoft Excel. This community service aims to increase hardskills related to knowledge and understanding of Microsoft Excel so that it can facilitate data processing and help in completing the performance of youth and the people of Enggros Village by utilizing Microsoft Excel. This service is in the form of socialization with stages of surveys, participant data collection, program preparation, provision of materials, training, question and answer sessions and pre-tests and post-tests are carried out for activity evaluation. The community service lasted for 2 days, with 18 participants. The evaluation results after this community service activity showed that 78% of participants knew and could operate Microsoft Excel very well and had values ​​that were in accordance with expectations.
Peningkatan Kesadaran Masyarakat tentang Bahaya Mikroplastik melalui Program Sekolah Laut di Kampung Tabla Supa, Jayapura: Increasing Public Awareness of the Dangers of Microplastics through the Sea School Program in Tabla Supa Village, Jayapura Anou, Kezia Noviani; Bakri, Nur Fadilah; Rejauw, Korinus; Wanimbo, Efray
Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jppmi.v4i2.851

Abstract

Permasalahan mikroplastik di wilayah pesisir semakin mengkhawatirkan karena berdampak pada ekosistem laut sekaligus kesehatan manusia. Sekitar 60%-90% komposisi sampah pantai di Indonesia adalah sampah plastik. Dampak dari pencemaran ini tidak hanya mengancam kehidupan biota laut, tetapi juga dapat berbalik menyerang kesehatan manusia melalui rantai makanan. Pantai Amai di Kampung Tabla Supa, Kabupaten Jayapura, merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang rentan terhadap pencemaran plastik akibat aktivitas wisatawan dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang bahaya mikroplastik dan sikap masyarakat pesisir tentang kesadaran tidak membuang sampah sembarangan didaerah pantai, khususnya Komunitas Jaga Laut, melalui Program Sekolah Laut. Metode pelaksanaan meliputi koordinasi awal dengan pemangku kepentingan lokal, sosialisasi bahaya mikroplastik menggunakan kuisioner pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan, aksi bersih pantai yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat, serta pemasangan spanduk dan distribusi brosur sebagai media edukasi. Adapun sasaran dalam pengabdian ini adalah masyarakat sekitar Pantai Amai khususnya para pemuda sebanyak 22 orang. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan baik dari aspek pengetahuan maupun sikap. Pada aspek pengetahuan, jumlah peserta dengan kategori baik meningkat dari 40,9% menjadi 100% dengan nilai p<0.05. Sementara pada aspek sikap, peserta dengan kategori baik meningkat dari 31,8% menjadi 86,4% dengan nilai p<0.05. Dengan meningkatnya literasi ekologi dan kepedulian masyarakat, komunitas pesisir memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga laut dari pencemaran plastik. Adapun keberlanjutan program ini yaitu mengadakan workshop pengelolaan sampah plastik menjadi produk yang bernilai ekonomis sehingga tidak hanya bermanfaat dari segi kebersihan lingkungan namun mampu menaikkan taraf hidup masyrakat pesisir Pantai Amai, Kampung Tabla Supa.
Rumpon Making Training for Local Fishermen in Hamadi Village, Jayapura City: Pelatihan Pembuatan Rumpon Bagi Nelayan Lokal di Kelurahan Hamadi Kota Jayapura Rosye HR. Tanjung; Efray Wanimbo; Kalvin Paiki
JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat) Vol. 8 No. 1 (2024): Jati Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat)
Publisher : DPD Jatim Perkumpulan Dosen Indonesia Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumpon is an environmentally friendly and highly effective fishing tool. Fishermen in the Jayapura city are skilled in capturing small pelagic fish, but they often have to search fish in constantly shifting and disorganized locations. This is due to a knowledge lack in determining the right fishing grounds. Another constraint is that Hamadi fishermen lack sufficient basic knowledge about the proper, correct, and environmentally friendly construction of rumpons. Factors influencing this situation include the lack of support from relevant agencies, limited knowledge, and the capital required for rumpon construction. Therefore, training in rumpon construction for fishermen in the Hamadi District is crucial. The aim of this training is to enhance the understanding of local fishermen in the city of Jayapura regarding the role of rumpons as fishing aids and environmentally friendly rumpon construction techniques. The methods used in this training include observation, the delivery of material on rumpon construction techniques, and focused group discussions (FGDs). From the results of the activities, local fishermen in the Hamadi District, Jayapura, have varying levels of understanding. However, based on the analysis, it is evident that the percentage of understanding among the fishermen before and after the training is significantly different. Before the training, the average level of understanding among fishermen was low in terms of rumpon construction steps. After the pre-test, about 60.625% of fishermen answered incorrectly, while only 39.375% answered correctly. However, after the training, a significant change occurred, with approximately 92.125% of fishermen answering correctly, and only about 7.875% answering incorrectly.
Kondisi Sosial Budaya Nelayan Tradisional Dan Teknis Dalam Penggunaan Pancing Ulur (Hand Line) Di Dok IX Kelurahan Tanjung Ria Kota Jayapura Karisoh, Gabriela O; Tuhumena, Lolita; Paranoan, Nicea Roona; Wanimbo, Efray; Rumahorbo, Basa T.; Wattilete, Jeirel
Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Vol 14 No 2 (2025): Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/amanisal.v14i2.22939

Abstract

Jayapura City is a coastal area that has the potential of marine resources, making it the center of economic activity for fishermen. The fishermen who live in Dock IX consist of two tribes, namely Serui and Buton, who have long been fishing in the waters of Jayapura. The culture of fishermen from both tribes is closely related to an orientation towards the sea. However, this needs to be balanced with the use of environmentally friendly fishing gear so that in the future, the sustainability of fishery resources, especially Yellowfin Tuna (Thunnus albacares), can be maintained. Therefore, it is necessary to understand the fishing gear used in the fishing process and the socio-cultural conditions of traditional fishermen in fishing using handlines. Primary and secondary data collection was conducted from March to May 2025 at Dock IX, Tanjung Ria Village, Jayapura City. The social conditions of fishermen were observed in terms of age, education, length of time working as fishermen, and number of dependents in Dok IX, Tanjung Ria Village, Jayapura City. From a cultural perspective, the Buton tribe does not catch fish (as it is not fishing season), so they offer sacrifices by feeding the sea. They believe that by feeding the sea, they will catch a lot of fish. In contrast, the Serui community does not perform rituals (customs) to make offerings in the process of catching fish. They use fiberglass boats, Yamaha engines with a capacity of 15 horsepower, and fish in the waters of Jayapura City, Pasir 6, Papua New Guinea, and even the waters of Sarmi Regency.
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Usaha Ternak Sapi di Kampung Dorba - Betaf II, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi Rumahorbo, Basa T.; Warpur, Maklon; Tuhumena, Lolita; Ayer, Popi Ida Laila; Wanimbo, Efray
Sipakaraya : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 2 (2026): Sipakaraya : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/sipakaraya.v4i2.5783

Abstract

Program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui usaha ternak sapi di Kampung Dorba–Betaf II, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi bertujuan meningkatkan kesejahteraan peternak melalui optimalisasi potensi lokal. Kegiatan dilakukan dengan metode pelatihan langsung (on-job training) dan demonstrasi plot (demplot) yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam manajemen nutrisi, reproduksi, serta pemanfaatan pakan alternatif berupa Urea Molasses Block (UMB). Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peternak dalam pembuatan dan penggunaan UMB, yang berdampak pada peningkatan konsumsi pakan, efisiensi pencernaan, dan produktivitas ternak. Program ini juga mendorong pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik sehingga mendukung keberlanjutan usaha. Dengan demikian, penerapan teknologi UMB berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan peternak dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.