Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Potensi Farmakologi Tanaman Kratom (Mitragyna speciosa Korth.): Review Suryanti, Wulan Maulani; Purwaniati, Purwaniati; Sutrisno, Entris
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 7, No 1 (2026): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v7i1.34965

Abstract

Indonesia sebagai negara tropis memiliki keragaman hayati yang melimpah, termasuk tanaman kratom (Mitragyna speciosa Korth.) yang dikenal memiliki aktivitas farmakologis potensial. Studi ini bertujuan untuk meninjau aktivitas farmakologis kratom melalui kajian literatur deskriptif dari berbagai publikasi ilmiah yang relevan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan mencari artikel-artikel yang memuat informasi tentang aktivitas farmakologi kratom. Hasil kajian menunjukkan bahwa kratom memiliki beragam aktivitas farmakologis, antara lain antinosiseptif, antikanker, antimikroba, antidiabetes (penghambatan α-glukosidase), analgesik, ansiolitik, antiinflamasi, dan antidepresan. Senyawa utama dalam kratom, seperti mitraginin dan 7-hidroksimitraginin, memiliki peran penting dalam aktivitas terapeutiknya. Namun, meskipun demikian, bukti ilmiah yang ada masih terbatas, terutama dalam hal evaluasi preklinis dan klinis yang terstandarisasi. Penggunaan kratom juga masih menimbulkan kekhawatiran terkait potensi ketergantungan dan efek psikoaktif yang berisiko. Kesimpulannya, kratom memiliki potensi besar sebagai terapi alternatif, namun penggunaan kratom harus disertai dengan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi keamanan jangka panjang, dosis yang optimal, dan regulasi yang tepat.
Comparative Glycemic Effectiveness of Long- and Rapid-Acting Insulin in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus Sutrisno, Entris; Kaniawati, Marita; Maharani, Ilmi Intan; Sodik, Jajang Japar
Sciences of Pharmacy Volume 4 Issue 4
Publisher : ETFLIN Publishing House

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58920/sciphar0404502

Abstract

Insulin therapy is essential for managing type 2 diabetes mellitus (T2DM), particularly in patients who fail to achieve glycemic targets with oral antidiabetic agents. Long-acting insulin is primarily used to control basal glucose levels, while rapid-acting insulin targets postprandial hyperglycemia. However, comparative real-world evidence regarding their effectiveness on glycated hemoglobin (HbA1c) and fasting blood glucose (FBG) remains limited. This study aimed to evaluate and compare the effectiveness of long-acting and rapid-acting insulin in improving HbA1c and FBG levels among patients with T2DM. A retrospective before–and–after observational study was conducted involving 122 T2DM patients treated at the outpatient unit of Majalaya Regional General Hospital between January and December 2024. Patients received either long-acting insulin (e.g., insulin glargine) or rapid-acting insulin (e.g., insulin lispro and insulin aspart) as monotherapy. Changes in HbA1c and FBG before and after therapy were analyzed using paired t-tests or Wilcoxon signed-rank tests. Clinical effectiveness was defined according to American Diabetes Association criteria as a reduction of ≥1% in HbA1c or ≥30 mg/dL in FBG. Insulin therapy significantly reduced HbA1c (−7.77 ± 3.09, p < 0.001) and FBG levels (Z = −5.53, p < 0.001). Based on ADA criteria, 90.3% of patients achieved an effective reduction in HbA1c, while 43.5% achieved an effective reduction in FBG. Insulin lispro and insulin glargine showed the highest HbA1c-based effectiveness (100%), whereas FBG-based effectiveness varied across formulations. Insulin therapy significantly improves long-term and short-term glycemic control in T2DM patients, with insulin lispro and insulin glargine demonstrating the most consistent effectiveness.
Gambaran Pola Penggunaan Antipsikotik Pada Pasien Skizofrenia Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Sutrisno, Entris; Mulyani, Yani; Sodik, Jajang Japar
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfionline.v18i1.344

Abstract

Indonesia mengalami peningkatan kasus gangguan mental yang mengkhawatirkan setiap tahunnya. Pada tahun 2019, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia menderita skizofrenia. Obat antipsikotik merupakan pilihan pengobatan utama untuk skizofrenia, karena membantu mengurangi gejala psikotik dan menurunkan kemungkinan berkembangnya gangguan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penggunaan obat antipsikotik pada pasien skizofrenia di bangsal rawat inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif non-eksperimental dengan pengumpulan data retrospektif. Data sekunder digunakan untuk analisis. Penelitian ini memfokuskan pada 194 rekam medis pasien yang menerima pengobatan antipsikotik antara Januari hingga Desember 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56,19% obat antipsikotik yang diresepkan adalah obat kombinasi, sementara 43,81% adalah obat tunggal. Kombinasi obat antipsikotik yang paling umum adalah haloperidol-klosapin, yang mencapai 36,60% dari resep, dan risperidon, sebagai obat tunggal, mencapai 19,67% dari resep