Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

SOSIALISASI DAN PENGAJARAN TENTANG PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR BERDASARKAN ETIKA KESANTUNAN BERBAHASA PADA ANAK DIDIK DI YAYASAN TANAH BINTANG DESA KERANDANGAN KECAMATAN BATU LAYAR LOMBOK BARAT Ahyati Kurniamala Niswariyana; Titin Untari; Supratman Supratman; Linda Ayu Darmurtika; Arpan Islami Bilal
SELAPARANG Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 4, No 1 (2020): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.895 KB) | DOI: 10.31764/jpmb.v4i1.3373

Abstract

ABSTRAKPara siswa yang belajar di Yayasan Tanah Bintang merupakan siswa yang ingin belajar ekstra. Siswa-siswa tersebut pagi hari belajar di sekolah formal, sore hari belajar bahasa asing dan kerajinan tangan di yayasan. Untuk pembelajaran bahasa, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar sebab guru dan siswa adalah penutur bahasa Indonesia sekaligus pembelajar bahasa asing. Pada saat berinteraksi di kelas, para siswa menggunakan bahasa Indonesia nonformal, jauh dari kata benar. Pelaksanaan pengabdian ini memiliki tujuan agar para siswa dapat mengenal bahasanya sendiri  sebelum mempelajari bahasa asing, hal ini juga akan berdampak pada pengenalan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada warga asing yang tengah belajar bahasa Indonesia. Sehingga bahasa Indonesia yang digunakan tidak merujuk pada bahasa kontemporer atau bahasa gaul, akan tetapi mengacu pada kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, yakni bahasa lisan yang dapat dipahami lawan bicara serta tidak menyinggung yang sesuai dengan etika berbahasa, dan bahasa tulis yang memiliki acuan jelas yakni PUEBI dan KBBI. Kegiatan pengabdian yang berlangsung selama 4 kali pertemuan ini dinilai berhasil, peserta mengalami kemajuan dari pengetahuan tentang bahasa yang baik dan benar. Hasil akhir yang tampak adalah bahwa peserta mulai memahami perbedaan Bahasa yang baik dan Bahasa yang benar, serta penempatannya dalam berkomunikasi dan menulis. Kata kunci: pembelajaran; bahasa indonesia; baik dan benar ABSTRACTThe students of Tanah Bintang Fondation are those who want to have extra learning. Beside studying formally at school, they also learn about foreign language and handicrafts at the foundation. In language learning, Indonesian Language is used as an instruction since teachers and students are the native speakers while studying foreign language. During classroom activity, students usually use non-formal Indonesian which is unstandardized. That is the reason of this devotion, in order to help students to comprehend and understand their Indonesian firstly before learning other foreign languages. It is also aimed at impacting foreigners vice versa to learn Indonesian correctly as standardized. Therefore, the use of Indonesian will refer to Official Indonesian Spelling System rather than slang and contemporary language. The use in spoken language must be understood by interlocutors and should not offend the language etiquette . Other, in written language must be based on PUEBI and KBBI references. The four times meeting devotional has successful to take place due to the enhanced knowledge about the use of correct language itself. The result is participants now has been able to differentiate between standard and unstandard language use both in speaking and writing. Keywords: learning; Indonesian language; good and right
Peningkatan Kemampuan Menyusun Teks Fabel dengan Kata-Kata Sendiri dengan Menerapkan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Otak (Brain Based Learning) pada Siswa Kelas VIIISMPN 5 Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah Arpan Islami Bilal; Baiq Desi Milandari; Zedi Muttaqin; Linda Ayu Darmurtika; Rosada Rosada
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 7, No 2: Juli 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v7i2.10746

Abstract

Abstrak:Sehubungan dengan kurang tercapainya pangajaran menyusun teks fabel dengan kata-kata sendiri,  maka salah satu cara yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah menggunakan pendekatan berbasisotak (Brain Based Learning). Dengan menggunakan pendekatan berbasis otak (Brain Based Learning)ini diharapkan siswa dapat mengalami suatu proses pembelajaran yang terarah, merangsang daya berpikir, dan menyenangkan dalam pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan latar belakan gtersebut rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Peningkatan Kemampuan Menyusun Teks Fabel dengan Kata-kata Sendiri dengan Menerapkan Pendekatan Berbasis Otak (Brain Based Learning) Siswa Kelas VIII SMPN 5 Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah ?Metode penentuan subjek penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel secara bertujuan. Makadari itu, yang dijadikan sampel adalah kelas VIII. Untuk mendapatkan data dalam penelitian inidilakukan dengan metode dokumentasi dan metode tugas. Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: pada prasiklus atau tanpa menggunakan pendekatan berbasis otak (BBL) menunjukkan dari 36 orang siswa, yang memperoleh  skor kategori tinggi hanya 5 orang (13,88%), kategori sedang 31 orang (86,11%), kategori rendah tidak ada dan IPK 63,18 dengan kategori rendah. Dan pada siklus 1 yang menggunakan pendekatan berbasis otak (Brain Based Learning) yang dapat skor kategori  tinggi 10 orang (33,33 %) yang dapat skor kategori sedang 23 orang (58,33) sedangkan yang dapat skor dalam kategori rendah 3 orang (25%)  dan  IPK 69,77 dengan kategori normal. Selanjutnya pada siklus 2 yang 37 orang siswa, yang memperoleh skor kategori tinggi sebanyak 36 orang (97,29%), kategori sedang 1 orang (2.70%) , kategori rendah tidak ada dan IPK 77,72 dengan kategori tinggi. Dengan demikian, berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan berbasis otak (Brain Based Learning) dalam menyusun teks fabel dengan kata-kata sendiri dapat meningkatkan kemampuan siswa kelasVIII SMPN 5 Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah. Abstract:In connection with the lack of learning to compile fabled texts in their own words, one way that can overcome this problem is to use a Brain Based Learning approach. By using this brain-based approach (Brain Based Learning) it is hoped that students can experience a directed learning process, stimulate thinking power, and be fun in the implementation of learning. Based on the background of the discussion, the formulation of the problem in this study is How to Improve the Ability to Compile Fabled Texts with Their Own Words by Applying a Brain-Based Learning Approach for Grade VIII Students of SMPN 5 Praya Timur, Central Lombok Regency? The method of determining the subject of this study uses the purposive sampling method, namely sampling purposefully. Therefore, what is being sampled is class VIII. To obtain data in this study, it is carried out by documentation methods and task methods. While the data analysis method used is a quantitative analysis method. Based on the results of data analysis in this study are as follows: in precyclical or without using a brain-based approach (BBL) it showed that out of 36 students, only 5 people obtained a high category score (13.88%), a medium category of 31 people (86.11%), a low category of none and a GPA of 63.18 with a low category. And in cycle 1 which uses a brain-based approach (Brain Based Learning) that can score in the high category of 10 people (33.33 %) who can score in the medium category of 23 people (58.33) while those who can score in the low category of 3 people (25%) and a GPA of 69.77 with the normal category. Furthermore, in cycle 2, 37 students, who obtained a high category score of 36 people (97.29%), a medium category of 1 person (2.70%) , a low category of non-existent and a GPA of 77.72 with a high category. Thus, based on the results of data analysis in this study, it can be concluded that the use of a brain-based approach (Brain Based Learning) in compiling fabled texts with their own words can improve the ability of classVIII students of SMPN 5 Praya Timur, Central Lombok Regency.
Ekranisasi Novel Ke dalam Film Matt And Mou Karya Wulanfadi: Sebuah Kajian Sastra Bandingan Citraria Citraria; I Made Suyasa; Linda Ayu Darmurtika; Roby Mandalika Waluyan
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 8, No 1: January 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v8i1.13524

Abstract

This study aimed to: (1) describe the form of novel ecranization of Matt and Mou into the Matt and Mou movie in terms of plot, setting, and characterizations; and (2) describe the similarities and differences between the novel and film of Matt and Mou in terms of plot, background, and characterization. The literature study method was used to collect data, and the documentary method was then descriptively analyzed The study showed three types of ecranization in novels and movies: reduction, addition, and varying changes. The reduction emphasizes characterization elements, the adition emphasizes plot elements, and the various changes emphasize background elements. When the novel is filmed some of the characterizations are disappeared. The director also made additional plots in the movie, and it is different from the plot in the novel. The various changes in the movie are three settings. In addition to the form of ecranization, similarities and differences also appear in novels and movies. There are 22 characters in the novel on the contrary, there are only eight characters in the movie. Overall the characterizations in the movie are almost the same as the charactenzations in the novel except for one additional character that is not in the novel. The plot used in the novel is a mixed plot, while in the movie, it uses a forward plot. and some of the settings in the novel are also used in the movie. 
Metamorfosis Gastronomi Dalam Karya Sastra Kuliner I Made Suyasa; Linda Ayu Darmurtika
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 8, No 2: July 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v8i2.17196

Abstract

Abstrak. Tulisan ini merupakan hasil kajian pustaka tentang gastronomi sebagai disiplin yang memayungi kajian karya sastra kuliner yang banyak kita temukan dalam berbagai genre sastra Indonesia. Kuliner menyangkut tempat asal jenis makanan yang disiapkan, baik lokal maupun manca negara. Kuliner banyak dikenal melalui karya sastra dan storinomic yang dibaca. Gastronomi sastra dengan padanan istilah gastrocriticism atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah gastrokritik sastra yang merupakan paduan dari gastronomi dengan literarycriticism/ literary studies. Gastronomi yang dikenal sebagai satu bidang yang mengurusi tentang makanan atau tataboga, sedangkan kritik sastra/kajian sastra merupakan bidang yang mengurusi karya sastra dalam konteks pemahaman. Paduan keduanya melahirkan bidang kajian atau kritik sastra yang lebih tercurah pada karya-karya sastra yang kaya imajinasi dalam nuansa budaya kuliner. Tujuan tulisan ini mengidentifikasi berbagai bentuk metamorfosis gastronomi dalam karya sastra kuliner dan mencermati lebih dekat perkembangan kajiannya. Karya sastra kuliner hadir dalam berbagai genre sastra seperti, puisi, cerpen, novel, dan juga drama. Pendekatan gastronomi sastra atau gastrokritik dapat menjadi kajian dalam membedah karya sastra kuliner. Untuk itu, diharapkan para pemerhati sastra khususnya para akademisi dapat menaruh perhatiannya dalam kajian sastra kuliner Indonesia yang begitu kaya dengan cerminan budaya nusantara.Abstract: This paper is the result of a literature review of gastronomy as a discipline that overshadows the study of culinary literature that we find in various genres of Indonesian literature. Culinary concerns the place of origin of the type of food prepared, both local and foreign. Culinary is widely known through literary and storinomic works that are read. Literary gastronomy with the equivalent of the term gastrocriticism or in Indonesian known as literary gastrocriticism which is a combination of gastronomy with literarycriticism / literary studies. Gastronomy is known as a field that deals with food or tataboga, while literary criticism / literary studies is a field that deals with literary works in the context of understanding. The combination of the two gave birth to the field of study or literary criticism which is more devoted to literary works that are rich in imagination in the nuances of culinary culture. The purpose of this paper is to identify various forms of gastronomic metamorphosis in culinary literature and take a closer look at the development of their studies. Culinary literary works are present in various literary genres such as, poetry, short stories, novels, and also dramas. The literary gastronomic approach or gastrocriticism can be a study in dissecting culinary literary works. For this reason, it is hoped that literary observers, especially academics, can pay attention to the study of Indonesian culinary literature which is so rich in reflections of the culture of the archipelago.   .
PENGEMBANGAN MODUL AJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN SOSIAL (IPAS) BAGI SISWA SEKOLAH DASAR KELAS IV DALAM KERANGKA KURIKULUM MERDEKA Sintayana Muhardini; Haifaturrahmah Haifaturrahmah; Raden Sudarwo; Baiq Sarlita Kartiani; Khaerul Anam; Mahsup Mahsup; Khosiah Khosiah; Ibrahim Ibrahim; Agus Herianto; Johri Sabaryati; Arpan Islami Bilal; Linda Ayu Darmurtika; Baiq Yuliatin Ihsani; Rahmat Sulhan Hardi
ORBITA: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Fisika Vol 9, No 1 (2023): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/orbita.v9i1.14742

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar Ilmu Pengetahuan Alam Dan Sosial (IPAS) Bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas IV berdasarkan kategori valid, praktis dan efektif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model 4D dengan empat tahapan yaitu Define, Design, Development, Dissemination. Analisis dalam penelitian yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian bahwa hasil kevalidan dari ahli materi dengan persentase 88% dengan kategori sangat valid, kevalidan yang didapatkan dari ahli perangkat pembelajaran yaitu modul ajar dengan persentase 85% dengan kategori sangat valid. Hasil uji kepraktisan yang diperoleh dari hasil respon siswa dengan persentase 96% dengan dengan kategori sangat praktis. Hasil analisis data keefektifan dengan rata-rata nilai posttest 93,33% yang menunjukkan bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPAS. Kata kunci: modul ajar; IPAS; kurikulum merdeka ABSTRACTThis study aims to produce teaching materials for Natural and Social Sciences (IPAS) for Grade IV Elementary School Students based on valid, practical and effective categories. The research method used in this study is a 4D model with four stages, namely Define, Design, Development, Dissemination. Analysis in research is qualitative and quantitative analysis. The results of the study showed that the validity results of material experts with a percentage of 88% with a very valid category, the validity obtained from learning device experts, namely Modul Ajar with a percentage of 85% with a very valid category. The results of the practicality test obtained from the results of student responses with a percentage of 96% with a very practical category. The results of the analysis of effectiveness data with an average posttest score of 93.33% showed that there was an increase after using the Learning Tools Based on independent learning. Keywords: teaching module; IPAS; independent curriculum
Makna Konotatif Lirik Lagu dalam Album Mantra-Mantra Karya Kunto Aji Astri Astri Yani; Linda Ayu Darmurtika; Akhmad Akhmad Akhmad; Nurmiwati Nurmiwati
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.37999

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna konotatif dalam lirik lagu album Mantra-Mantra karya Kunto Aji. Album ini dipilih karena bersifat konseptual dan memuat keterkaitan tematik antar lagu yang merepresentasikan perjalanan batin, refleksi diri, serta proses penyembuhan emosional manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi (content analysis). Data penelitian berupa teks lirik dari sembilan lagu dalam album Mantra-Mantra, yaitu Sulung, Rancang Rencana, Pilu Membiru, Topik Semalam, Rehat, Jakarta Jakarta, Konon Katanya, Saudade, dan Bungsu. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak, catat, dan studi pustaka. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori stilistika untuk mengkaji gaya bahasa serta fungsi makna konotatif yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu dalam album Mantra-Mantra mengandung makna konotatif yang dibangun melalui penggunaan majas, diantaranya (1) 29 repetisi, (2) 30 metafora, (3) 7 personifikasi, dan (4) 5 hiperbola. Gaya bahasa tersebut berfungsi tidak hanya sebagai sarana estetis, tetapi juga sebagai medium ekspresif, sugestif, simbolik, dan ideologis dalam menyampaikan pesan reflektif, psikologis, dan kemanusiaan. Secara keseluruhan, album Mantra-Mantra merepresentasikan perjalanan batin manusia dalam menghadapi konflik diri, penyembuhan emosional, serta proses penerimaan dan pendewasaan diri. Dengan demikian, album Mantra-Mantra dapat dipahami sebagai karya sastra musikal yang sarat akan makna konotatif dan nilai reflektif.
REVITALISASI BAHASA DAERAH MELALUI DIGITAL STORYTELLING BAGI GENERASI ALPHA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KEPUNAHAN BAHASA DAERAH Baiq Yuliatin Ihsani; Linda Ayu Darmurtika; Baiq Desi Milandari; Inang Irma Rezkillah
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 9, No 3 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v9i3.41182

Abstract

Abstrak: Perkembangan teknologi digital dan dominasi konten global menyebabkan minat generasi muda terhadap bahasa dan budaya lokal semakin berkurang. Selain itu, guru masih menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi yang menarik dan kontekstual, sementara sekolah belum memiliki repositori digital budaya lokal yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan minat siswa terhadap Bahasa Sasak, memperkuat literasi budaya berbasis kearifan lokal, meningkatkan kompetensi guru dalam pengembangan media digital, serta membangun repositori digital cerita rakyat Sasak sebagai sumber belajar berkelanjutan. Metode pelaksanaan meliputi analisis kebutuhan, sosialisasi program, pelatihan guru, workshop digital storytelling bagi siswa, penerapan teknologi melalui pemanfaatan Canva dan CapCut, pendampingan, evaluasi, dan penyusunan strategi keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh tahapan program terlaksana dengan baik. Sebanyak 5 guru berhasil dilatih dalam penyusunan storyboard dan produksi media digital, sedangkan 30 siswa terlibat aktif dalam pembuatan digital storytelling berbasis cerita rakyat Sasak. Program menghasilkan 15 video digital storytelling siswa, 5 video pembelajaran guru, digitalisasi 20 cerita rakyat Sasak, serta 1 repositori digital budaya sekolah. Evaluasi menunjukkan peningkatan minat siswa terhadap Bahasa Sasak sebesar 35,7% dan peningkatan kompetensi digital guru secara signifikan. Program ini memberikan dampak positif terhadap pelestarian Bahasa Sasak, peningkatan literasi budaya siswa, penguatan kompetensi digital guru, serta pengembangan sekolah sebagai pusat pelestarian budaya lokal berbasis teknologi yang berkelanjutan.Abstract:  The development of digital technology and the dominance of global content have led to a decline in the younger generation’s interest in local languages and cultures. In addition, teachers still face limitations in developing engaging and contextually relevant technology-based learning materials, while schools do not yet have a digital repository of local culture that can be utilized sustainably. This program aims to increase students’ interest in the Sasak language, strengthen cultural literacy based on local wisdom, enhance teachers’ competencies in developing digital media, and build a digital repository of Sasak folktales as a sustainable learning resource. Implementation methods included needs analysis, program outreach, teacher training, digital storytelling workshops for students, technology implementation using Canva and CapCut, mentoring, evaluation, and the development of a program sustainability strategy. The results of the activities showed that all program phases were successfully implemented. A total of 5 teachers were trained in storyboard development and digital media production, while 30 students were actively involved in creating digital storytelling projects based on Sasak folklore. The program produced 15 student digital storytelling videos, 5 teacher instructional videos, the digitization of 20 Sasak folklore stories, and 1 digital repository of school culture. The evaluation showed a 35.7% increase in student interest in the Sasak language and a significant improvement in teachers’ digital competencies. This program has a positive impact on the preservation of the Sasak language, the improvement of students’ cultural literacy, the strengthening of teachers’ digital competencies, and the development of schools as sustainable, technology-based centers for the preservation of local culture.
TRADISI MERANGKAT SEBAGAI SARANA PENGUATAN SOCIAL TRUST DALAM KOHESI SOSIAL KOMUNITAS SASAK Siti Sanisah; Mas'ad Mas'ad; Nurin Rochayati; Linda Ayu Darmurtika; Astagini Putri Kariana; Linna Mahfuzah
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 13, No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v13i2.32472

Abstract

Abstrak: Merangkat adalah tradisi masyarakat Sasak di Desa Perina yang sampai saat ini masih dilestarikan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis eksistensi tradisi Merangkat dalam memperkuat social trust sebagai bagian dari kohesi sosial masyarakat Sasak di Desa Perina, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Menggunakan pendekatan kualitatif yang mengeksplorasi tiga aspek utama social trust yaitu interaksi sosial yang intens, transparansi dalam institusi sosial, dan integritas dalam kepemimpinan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi dengan responden yang ditentukan dengan teknik purposive sampling, serta dianalisis melalui tahapan reduksi data, display data, verifikasi dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Merangkat tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mekanisme sosial yang aktif membangun solidaritas, keterbukaan, dan kepercayaan dalam masyarakat. Dengan demikian, tradisi ini memainkan peran penting dalam memperkuat struktur sosial dan mencegah disintegrasi komunitas. Disarankan agar pemerintah desa, tokoh, dan masyarakat Desa Perina tetap menjaga kelestarian tradisi Merangkat di tengah perkembangan peradaban yang semakin modern.   Abstract:  Merangkat is a tradition of the Sasak community in Perina Village which is still being preserved. The study aims to analyze the existence of the Merangkat tradition in strengthening social trust as part of the social cohesion of the Sasak community in Perina Village, Jonggat District, Central Lombok Regency. Using a qualitative approach that explores three main aspects of social trust, namely intense social interaction, transparency in social institutions, and integrity in leadership. Data were collected through in-depth interviews and observations with respondents selected using a purposive sampling technique and analyzed through the stages of data reduction, data display, verification, and conclusion. The results showed that Merangkat is not only a cultural symbol, but also a social mechanism that actively builds solidarity, openness, and trust in the community. Thus, this tradition plays an important role in strengthening social structures and preventing community disintegration. It is recommended that the village government, leaders, and the people of Perina Village continue to preserve the Merangkat tradition amid the development of an increasingly modern civilization.