Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Holistik Pemberdayaan Kader Posyandu Untuk Penurunan Stunting Melalui Edukasi, Teknologi, dan Nutrisi Di Desa Sidorejo, Wonogiri Puguh Ika Listyorini; Riska Rosita; Retna Dewi Lestari; Brillian Nur Diansari; Suranto Suranto; Pramudya Kurnia; Haryoto Haryoto
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 2 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i2.1328

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Kabupaten Wonogiri, khususnya di Desa Sidorejo, Kecamatan Tirtomoyo, yang memiliki angka prevalensi tinggi. Faktor penyebabnya meliputi kurangnya pemahaman tentang gizi, praktik pengasuhan yang tidak tepat, serta akses terbatas terhadap layanan kesehatan. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan menurunkan prevalensi stunting di Desa Sidorejo dengan memberdayakan kader Posyandu sebagai agen utama. Kegiatan yang dilakukan meliputi penyuluhan gizi, pelatihan penggunaan alat antropometri, penerapan aplikasi deteksi dini stunting, serta pemberian nutrisi tambahan berupa tepung kelor dan protein hewani. Penyuluhan dan pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman serta keterampilan kader Posyandu dalam mendeteksi dan menangani kasus stunting. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, dengan skor rata-rata post-test sebesar 80,7 dibandingkan dengan skor pre-test sebesar 65,2. Analisis statistik menunjukkan peningkatan yang signifikan (p < 0,05), yang mengindikasikan keberhasilan intervensi dalam memberdayakan kader Posyandu untuk mencegah dan menangani stunting. Melalui program ini, diharapkan angka stunting di Desa Sidorejo dapat berkurang, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup jangka panjang bagi anak-anak di desa tersebut. Program ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam menangani masalah stunting secara berkelanjutan.
Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Perilaku Petugas terhadap Kepuasan Pasien pada Layanan Administrasi di Rumah Sakit Umum Hidayah Boyolali Yellow Tarna Tasya Olivia; Puguh Ika Listyorini; Hesty Latifa Noor
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.239

Abstract

Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan rumah sakit, khususnya pada layanan administrasi yang menjadi kontak awal pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kualitas pelayanan dan perilaku petugas terhadap kepuasan pasien pada layanan administrasi di Rumah Sakit Umum Hidayah Boyolali. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional analitik cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 385 pasien yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Korelasi Rank Spearman serta regresi logistik ordinal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 89,1% responden menilai kualitas pelayanan dalam kategori baik, 81,0% menilai perilaku petugas baik, dan 79,0% merasa puas terhadap layanan administrasi. Analisis bivariat menunjukkan kualitas pelayanan berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien (r=0,500; p=0,001), demikian pula perilaku petugas (r=0,516; p=0,001). Analisis regresi logistik ordinal menunjukkan bahwa kualitas pelayanan dan perilaku petugas berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien (p<0,05), dengan perilaku petugas sebagai faktor yang paling dominan. Disimpulkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan dan perilaku petugas secara berkelanjutan dapat meningkatkan kepuasan pasien pada layanan administrasi rumah sakit.
Pelatihan Praktis Antropometri di Andong, Boyolali: Upaya Pemantauan Tumbuh Kembang Balita Puguh Ika Listyorini; Havidz Triantoro Aji Pratomo; Armein Sjuhary Rowi
Duta Abdimas Vol. 4 No. 1 (2025): Duta Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/a500m185

Abstract

Masalah stunting dan gangguan tumbuh kembang balita masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Posyandu sebagai layanan kesehatan tingkat dasar memiliki peran penting dalam pemantauan pertumbuhan balita, namun keterbatasan keterampilan kader dalam melakukan pengukuran antropometri sering kali menjadi hambatan dalam deteksi dini masalah gizi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu melalui pelatihan praktis antropometri dan penerapan teknologi tepat guna yang aplikatif. Kegiatan dilakukan dalam lima tahapan utama: persiapan, pelaksanaan pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan kader di lapangan, dan evaluasi akhir. Pelatihan diikuti oleh 30 kader dari beberapa desa di Kecamatan Andong, dengan pendekatan partisipatif dan praktik langsung. Materi pelatihan mencakup penggunaan alat antropometri standar WHO, teknik pengukuran yang benar, interpretasi grafik pertumbuhan, serta pencatatan hasil. Teknologi yang digunakan meliputi template Excel interaktif dan aplikasi Android offline untuk memudahkan kader dalam menilai status gizi balita. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan kader, yang ditunjukkan melalui skor post-test, observasi praktik, dan umpan balik peserta. Modul pelatihan yang disusun juga mendapat respon positif dan digunakan sebagai panduan belajar mandiri. Kegiatan ini berhasil membangun kapasitas kader Posyandu dalam pemantauan tumbuh kembang balita secara lebih akurat, dan diharapkan menjadi model replikasi pelatihan di wilayah lain
Integration of Data and Perception in Diarrhea Surveillance Reporting: A Mixed-Methods Study in Indonesia Hesty Latyfa Noor; Indra Agung Yudistiro; Puguh Ika Listyorini; Kinanti Anggraini; Denistism Egi Armadani
International Journal of Health and Social Behavior Vol. 3 No. 1 (2026): February: International Journal of Health and Social Behavior
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijhsb.v3i1.582

Abstract

Surveillance for diarrhea at the district level in Indonesia is still affected by the fragmented nature of the District Health Information System (DHIS) and Early Warning and Response System (EWARS), inconsistent reporting, patchy data interoperability, and the resulting public health delays. Although there are systems in place like the DHIS and EWARS, the persistent use of hybrid systems that combine manual and digital data entry, as well as the different skill levels of users, continues to produce issues of incompleteness, untimely reporting, and inaccurate data. The present study investigated the deficiencies in surveillance reporting of diarrhea cases, the surveillance data to determine the degree of integration and also investigated the health workers perceptions of the barriers to effective reporting. A mixed methods approach was adopted in this study where we investigated quantitatively the DHIS and routine diarrhea reports submitted for the entire year of 2023, and combined that with qualitative, in-depth interviews with the relevant surveillance officers, program managers, and district staff. The quantitative analysis indicated gaps in reporting about 55% in terms of completeness, and consistency of reporting and also significant differences were found between the manual register, DHIS, and EWARS whereby the integration of these systems was found to be low. The qualitative analysis pointed to the combination of disconnected workflows, limited cross-system interoperability, inadequate system training, excessive workloads, and weak organizational feedback, as the main barriers to effective reporting. The combination of these two datasets illustrates the fact that both system deficiencies and organizational factors are primary drivers of the reporting. Closing the gaps will require system level changes in the interoperability of reporting systems, simplified reporting workflows, training, reporting, and reporting feedback loops.
Transfer Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Produksi Kombucha Bunga Kupu-kupu Antidiabetes bagi Karang Taruna Katajanom di Kelurahan Jayengan Surakarta Tiara Ajeng Listyani; Puguh Ika Listyorini; Anna Fitriawati
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v6i2.7832

Abstract

Type-2 Diabetes Mellitus (T2DM) remains the second highest non communicable disease burden in Surakarta City after hypertension, with regional facilities like Puskesmas Jayengan recording substantial patient visits. Principal risk factors include high sugar and calorie-dense diets, insufficient physical activity, advancing age, and hereditary predisposition. In response, a community service team, chaired by Tiara Ajeng Listyani with members Puguh Ika Listyorini and Anna Fitriawati, implemented an empowerment program for the Katajanom Jayengan Youth Organization (Karang Taruna), supported by the Directorate of Research and Community Service, the Directorate General of Research and Development, the Ministry of Higher Education, Science, and Technology, and Universitas Duta Bangsa Surakarta for the 2026 period. The program transferred knowledge and technology for producing butterfly pea flower (Clitoria ternatea) kombucha as a functional nutraceutical beverage with natural antidiabetic properties. Methods included healthy lifestyle education, self administered blood glucose screening training, SCOBY based fermentation technology transfer, mentorship in production standardization and halal certification, and pre-test/post-test evaluations with daily blood glucose monitoring of partners. Results showed successful development of a nutraceutical product prototype, achieving an initial production target of at least 50 liters of consumption-grade output, along with improved community health evidenced by a 15–20% reduction in blood glucose levels during routine monitoring. The program has broader implications for establishing a self-sustaining, community based production unit supporting community health independence, while opening pathways toward a youth driven creative economy grounded in locally sourced functional food products.
Hubungan Pelaksanaan Kepatuhan Sop dengan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) pada Analis Kesehatan di Unit Laboratorium RSUD dr. Moewardi Surakarta Inda Mahanani; Nabilatul Fanny; Puguh Ika Listyorini
Inovasi Kesehatan Global Vol. 3 No. 3 (2026): Agustus: Inovasi Kesehatan Global
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/ikg.v3i3.3380

Abstract

Kejadian buruk di antara personel laboratorium medis dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kepatuhan terhadap Prosedur Operasi Standar (SOP). Implementasi SOP yang konsisten memainkan peran penting dalam meningkatkan keselamatan kerja dan meminimalkan kesalahan selama layanan laboratorium. Studi ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara kepatuhan SOP dan kejadian buruk di antara analis laboratorium medis di Unit Laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi, Surakarta. Studi ini menggunakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 35 analis laboratorium medis dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah divalidasi dan reliabel. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan korelasi peringkat Spearman dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kepatuhan yang baik terhadap SOP dan tingkat pencegahan kejadian buruk yang baik. Analisis peringkat Spearman mengungkapkan hubungan yang signifikan antara kepatuhan SOP dan kejadian buruk (p=0,005) dengan koefisien korelasi 0,466, menunjukkan korelasi sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa kepatuhan yang lebih tinggi terhadap SOP dikaitkan dengan risiko kejadian buruk yang lebih rendah di antara analis laboratorium medis. Kesimpulannya, terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan terhadap SOP dan kejadian buruk di antara analis laboratorium medis di Unit Laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi, Surakarta. Rumah sakit didorong untuk memperkuat kepatuhan terhadap SOP melalui pelatihan rutin, supervisi, evaluasi berkala, dan pengembangan budaya keselamatan yang kuat untuk mengurangi kejadian buruk dan meningkatkan kualitas layanan laboratorium.