Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Historical Synopsis of Nifāq (Hypocrisy) and Prophetic Response in Madinah Ammaru Ummaru; Setiawan, Agus Mahfudin
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 1 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24102

Abstract

Abstract: This historical study investigates the emergence and dynamics of hypocrisy (nifāq) in the early Islamic community of Madinah and explores the strategic responses of Prophet Muḥammad (SAW) in mitigating internal threats posed by the Munāfiqūn (hypocrites). Using a historical-analytical method, the research draws upon primary sources such as the Qur’an, ḥadīth, classical sīrah, and early Islamic historiography, while contextualizing the findings with modern scholarly insights. The study identifies a series of conspiratorial acts orchestrated by ‘Abdullāh b. Ubayy and his followers—ranging from military desertion, rumor-spreading, alliance with enemies, to attempts at division through rival institutions. The analysis demonstrates that the Prophet’s (SAW) leadership was historically grounded in restraint, long-term vision, and political maturity, prioritizing social cohesion over immediate retribution. By interpreting these responses as part of a conscious historical strategy, the research highlights the relevance of the Prophetic model in contemporary Muslim leadership, especially in managing intra-community tensions and ideological fragmentation. This paper contributes to Islamic historical scholarship by revisiting early Madinan society through the lens of conflict and governance and proposes further interdisciplinary research that bridges prophetic leadership with historical and political thought in Islamic civilization.   Abstrak: Studi sejarah ini menyelidiki kemunculan dan dinamika kemunafikan (nifāq) dalam komunitas Islam awal Madinah dan mengeksplorasi tanggapan strategis Nabi Muhammad (SAW) dalam mengurangi ancaman internal yang ditimbulkan oleh Munāfiqūn (munafik). mengunakan metode historis-analitis, penelitian ini mengacu pada sumber-sumber primer seperti Al-Qur'an, ḥadīth, sīrah klasik, dan historiografi Islam awal, sambil mengkontekstualisasikan temuan dengan wawasan ilmiah modern. Studi ini mengidentifikasi serangkaian tindakan konspirasi yang diatur oleh 'Abdullāh b. Ubayy dan para pengikutnya—mulai dari desersi militer, penyebaran rumor, aliansi dengan musuh, hingga upaya perpecahan melalui lembaga saingan. Analisis menunjukkan bahwa kepemimpinan Nabi (SAW) secara historis didasarkan pada pengekangan, visi jangka panjang, dan kematangan politik, memprioritaskan kohesi sosial daripada pembalasan segera. Dengan menafsirkan tanggapan ini sebagai bagian dari strategi sejarah yang sadar, penelitian ini menyoroti relevansi model Profetik dalam kepemimpinan Muslim kontemporer, terutama dalam mengelola ketegangan intra-komunitas dan fragmentasi ideologis. Makalah ini berkontribusi pada keilmuan sejarah Islam dengan meninjau kembali masyarakat Madinan awal melalui lensa konflik dan pemerintahan, dan mengusulkan penelitian interdisipliner lebih lanjut yang menjembatani kepemimpinan profetik dengan pemikiran sejarah dan politik dalam peradaban Islam.
AGRICULTURAL COMMUNITY TRADITIONS IN BOJONGSARI VILLAGE, NYALINDUNG DISTRICT, SUKABUMI (1986-2024) Sopiah, Eva; Achmad Hidayat, Asep; Supendi, Usman; Sulasman; Wahyu Hoerudin, Cecep; Najmudi, Salman; Mahfudin Setiawan, Agus
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol. 22 No. 1 (2025): Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v22i1.40700

Abstract

This study examines the acculturation of agrarian traditions, particularly the Seren Taun ceremony, in the villages of Bojongsari and Sukamaju, Nyalindung District, Sukabumi, between 1986 and 2024. The Seren Taun ceremony, a harvest celebration, has historically been found in traditional villages such as Kanekes Baduy and Ciptagelar. However, interestingly, this tradition also persists in rural villages such as Bojongsari and Sukamaju, albeit with significant differences due to socio-cultural and religious acculturation. The main objective of this study is to analyze the contents of the traditional “Ririmbon Panen” guidebook found in both villages and to identify the forms of acculturation that influence agricultural practices and religious rituals. Using a qualitative approach, this research involves field methods (observation, interviews, documentation) and philology to edit and translate the texts, supplemented by content analysis to reveal the values contained therein. The results of the study show that the Seren Taun tradition in Bojongsari and Sukamaju, known as “Meteumeuyan,” has undergone profound acculturation with Islamic teachings. This transformation is evident in the replacement of amulets with prayers from the Qur'an and the use of the Islamic calendar in determining harvest times. Although pre-Islamic elements such as offerings and incense burning have been eliminated, other aspects such as calculating auspicious/inauspicious days and wind direction have been retained. In addition, the community still respects Monday as “Nyi Pohaci Day,” when rice processing activities are stopped. The Seren Taun ceremony in these two villages represents a concrete example of cultural acculturation in Indonesian agrarian communities, where indigenous traditions adapt to Islamic thinking, creating a unique blend that enriches cultural meaning without losing its essence. Keywords: Agrarian, Acculturation, Seren Taun, Islam, Sunda.
MENGUNGKAP KISAH TERSEMBUNYI: KARANTINA HAJI DI PULAU ONRUST 1911-1933 M Bagas Kurniawan; Mahfudin Setiawan, Agus; Hamid, Abd Rahman
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 5 No. 01 (2024): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v5i01.9407

Abstract

Pada masa kolonial di Indonesia, ibadah haji dipengaruhi oleh faktor-faktor kompleks yang berhubungan dengan politik, sosial, dan kesehatan. Pemerintah memainkan peran penting dalam mengatur dan mengelola ibadah haji. Dari tahun 1911 hingga 1933, karantina di Pulau Onrust menjadi penting dalam mempersiapkan dan mengawasi jamaah sebelum perjalanan mereka ke Tanah Suci. Dengan menggunakan metode sejarah termasuk heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, dokumen dan buku arsip digunakan. Temuan mengungkapkan Pulau Onrust berfungsi sebagai tempat karantina untuk mencegah penyebaran penyakit di kalangan jamaah haji dan dari luar negeri. Selain tindakan kesehatan, karantina juga mempunyai implikasi politik dan sosial. Pemerintah kolonial Belanda memanfaatkannya untuk memperkuat kontrol atas haji dan menjaga stabilitas di Hindia Belanda. Selain itu, karantina mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pemerintahan kolonial dan berdampak pada keyakinan dan praktik keagamaan komunitas Muslim.   Kata Kunci: Karantina haji; Kisah Tersembungi; Pulau Onrust
From History to Architecture: Speelwijk Fort: A Symbol of Dutch Dominance Over Banten Khabiba, Reisya Aulia; Azzahra, Vilza; Aimah, Nafatul; Hakim, Lukman; Fajrio, Reika; Hamid, Abd Rahman; Setiawan, Agus Mahfudin
Swarnadwipa Vol 9, No 2 (2025): SWARNADWIPA
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sd.v9i2.4235

Abstract

This article examines the historical establishment of Fort Speelwijk as a symbol of Dutch and Banten Sultanate relations. The study aims to explore cultural acculturation and shifts in governance arising from their interaction. This research uses the historical method, including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Built in Dutch architectural style by Hendrik Lucaz Cardeel and named after Governor-General Cornelis Janszoon Speelman, the fort functioned as the VOC's representative office in Banten. The findings reveal cultural acculturation in construction techniques, including brick and coral stone reinforced with lime, reflecting the local concept of “Gawe Kuta Baluwarti Bata Kalawan Kawis.” Economically, the VOC’s tax imposition led to rising commodity prices, burdening locals and weakening the Sultanate’s economic sovereignty. Additionally, the study explores local myths surrounding the fort, such as the story of Catharina Maria Van Doorn. After its 1994 restoration, Fort Speelwijk emerged as a prominent historical and educational tourism site.
Strategi Gerilya Raden Intan II Melawan Belanda di Lampung 1850-1856 Itsna Rohmatillah; Rahman Hamid, Abd; Agus Mahfudin Setiawan; Rohmatillah, Itsna; Hamid, Abd Rahman; Setiawan, Agus Mahfudin
JURNAL JAWI Vol 7 No 2 (2024): Media, Resistance and Social Harmony
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jawi.v7i2.24775

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisa tentang strategi gerilya yang diterapkan oleh Raden Intan II dalam melawan kuasa Belanda di Lampung pada 1850-1856 dengan menggunakan metode penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ini didorongoleh tiga faktor utama: pemanfaatan kondisi geografis Lampung (Gunung Rajabasa), keunggulan persenjataan Belanda, dan pembelajaran dari pengalaman para pendahulunya. Perlawanan ini berpusat di Gunung Rajabasa dengan benteng-benteng yang kokoh seperti Katimbang, Bendulu, Hawi Berak, dan Galah Sintok. Perlawanan ini berakhir akibat pengkhianatan Raden Ngarapat yang menjebak Raden Intan II untuk keluar dari daerah gerilyanya hingga kemudian dibunuh. Perlawanan Raden Intan II memberikan dampak signifikan terhadap kekuasaan Belanda di Lampung. Selama masa perlawanan Belanda tidak mampu sepenuhnya menguasai wilayah tersebut. Namun, setelah perlawanan Belanda dapat memperkokoh kekuasannya di Lampung. Bagi masyarakat Lampung kekalahan ini menandai runtuhnya kekuasaan marga dan hilangnya para pemimpin perjuangan.
Rekonstruksi Historis Kepercayaan Hindu di Sumatera Bagian Selatan melalui Arca dan Akulturasi Arsitektual Agus Mahfudin Setiawan; Itsna Rahmatillah; Siti Muntamah
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 2 (2025): Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i2.222

Abstract

This research discusses the entry and development of Hindu beliefs in Southern Sumatra through the study of cultural heritage in the form of statues and architectural elements of buildings. Although the influence of Buddhism was more dominant in this region, mainly due to the hegemony of the Srivijaya Kingdom, Hindu influence is still present and can be traced through artifacts that are still preserved today. Some of the important relics analyzed in this study include the statue of Lord Vishnu, the statue of Dewi Sri, and the architectural elements of the Sultan Mahmud Badaruddin II Mosque which show acculturation with Hindu symbols. This research uses historical methods with heuristic stages, source criticism, interpretation, and historiography, and is equipped with iconographic analysis to reveal the symbolic meaning in these artifacts. The purpose of this research is to reconstruct the Hindu belief system that has developed in Southern Sumatra based on the traces of existing material culture. The results show that although Hinduism is not the main faith, the religious and symbolic values of Hinduism remain influential in the local cultural heritage, thus enriching the historical treasures and cultural identity of the region. Abstrak: Penelitian ini membahas masuk dan berkembangnya kepercayaan Hindu di Sumatera Bagian Selatan melalui kajian terhadap peninggalan budaya berupa arca dan unsur arsitektur bangunan. Meskipun pengaruh agama Buddha lebih dominan di wilayah ini, terutama karena hegemoni kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, namun pengaruh Hindu tetap hadir dan dapat ditelusuri melalui artefak yang masih lestari hingga saat ini. Beberapa peninggalan penting yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi arca Dewa Wisnu, arca Dewi Sri, serta unsur arsitektural pada Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II yang menunjukkan akulturasi dengan simbol-simbol Hindu. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, serta dilengkapi dengan analisis ikonografis untuk mengungkap makna simbolik dalam artefak-artefak tersebut. Tujuan penelitian ini adalah merekonstruksi sistem kepercayaan Hindu yang pernah berkembang di Sumatera Bagian Selatan berdasarkan jejak budaya material yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hindu tidak menjadi kepercayaan utama, namun nilai-nilai religius dan simbolik dari kepercayaan Hindu tetap berpengaruh dalam warisan budaya lokal, sehingga memperkaya khazanah sejarah dan identitas kebudayaan di wilayah ini. Kata kunci: Hindu, Sumatera Bagian Selatan, Arkeologi, Sejarah, Ikonografi, Arca, Akulturasi Budaya
Masjid Kasunyatan Dan Makam Maulana Yusuf Sebagai Wisata Religi Asfiana Adyani Nastiti; Fatimah Nabiela Nakhla; Herlian Susanto; Faris Sauqi Syahid; Torik Useng; Abd Rahman Hamid; Agus Mahfudin Setiawan
FIHROS: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9 No 02 (2025): Fihros: Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63915/fihros.v9i02.183

Abstract

This article discusses two important historical sites in the Banten region, namely the Kasunyatan Mosque and the Tomb of Maulana Yusuf, which have high spiritual, cultural, and historical value. The Kasunyatan Mosque, built in the 16th century by Kyai Dukuh, became a symbol of Islamic preaching as well as a center of religious education during the Banten Sultanate. The mosque's distinctive architecture and layout, rich in philosophical values, reflect a blend of Islamic traditions and local culture. Meanwhile, the Maulana Yusuf Mausoleum stands as a testament to the significant role of the second sultan of the Banten Sultanate in conquering Pajajaran and expanding Islamic influence. The mausoleum's proximity to his spiritual mentor symbolizes the harmony between political power and religious authority during that era. Today, both sites have developed into popular religious tourism destinations, especially during major Islamic holidays. Through historical research methods, this article demonstrates that the Kasunyatan Mosque and Maulana Yusuf's Tomb not only hold religious significance but also possess profound historical, social, and cultural value, and have the potential to be developed as religious tourism sites rooted in local culture.
The Role of Tanjung Karang Station in the Transportation Network in Lampung, 1911-1942 Dimas Puja Kusuma; Abd Rahman Hamid; Agus Mahfudin Setiawan
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v10i1.33809

Abstract

This article aims to discuss the construction of Tanjung Karang Station and its role in the transportation network in Lampung, using historical research methods. The sources used are newspapers obtained from delpher, books and journals. The results of the study found that this station is a large class A type train station located in Gunung Sari Village, Enggal District, Bandar Lampung City. As one of the important stations on the railway line connecting Bandar Lampung City with Palembang City, Tanjung Karang Station has a strategic role in supporting transportation and mobility in the Lampung region. The construction of roads and railways connected to this station also encourages increased regional income and expands plantation areas, transportation progress plays an important role as a means of mobilization that accelerates connectivity between countries, regions, and provinces in this case to accelerate and facilitate the transportation of natural resources in terms of plantations and mining, The construction of this railway line is expected to be able to open access to previously isolated inland areas, so that it can encourage local economic growth.
From Allies to Enemies: The Dynamics of the Relationship Between the Sultanate of Palembang and Britain, 1810-1812 Wisnu Febriano; Uswatun Hasanah; Agus Mahfudin Setiawan
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 9, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/juspi.v9i2.26128

Abstract

This article examines the dynamics between the Palembang Sultanate and the British from 1810 to 1812. Initially a strategic alliance, the relationship deteriorated into a confrontation due to conflicts of colonial interest in monopolizing the region's main commodities. This research employs a systematic historical method, encompassing heuristics, source criticism, interpretation, and historiography to analyze conflicting interests as the primary factor behind the relationship's breakdown. Primary sources include Raffles' letters, colonial archives, and memoirs, which are combined with secondary sources. The findings indicate that Raffles' letters successfully influenced Sultan Mahmud Badaruddin II to ally against the Franco-Dutch forces, culminating in a mass massacre in September 1811. Subsequently, Raffles exploited this situation to seize the tin-rich Bangka Island after the Sultan refused to hand it over. This refusal triggered Raffles' attack on Palembang. As the British fleet entered the Musi River and occupied Borang Island Fort, Sultan Mahmud Badaruddin II and his family fled. Raffles then appointed Raden Husin Dhiauddin as Ahmad Nadjamuddin II, establishing him as a British puppet. This conflict reflects colonial exploitation that remains relevant to this day.
RECONQUISTA DAN INKUISISI DALAM PERSPEKTIF KEKUASAAN (STUDI ATAS DE-ISLAMISASI SEJARAH SPANYOL) Siti Masykuroh; Agus Mahfudin Setiawan
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan (April 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.338

Abstract

Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mendasar tentang bagaimana Reconquista dan Inkuisisi beroperasi bukan sekadar sebagai peristiwa militer atau institusi keagamaan, melainkan sebagai proyek kekuasaan yang terstruktur untuk mengeliminasi identitas Islam dari lanskap sosial, kultural, dan historis Semenanjung Iberia. Dengan menggunakan pendekatan historis-kritis yang dipadukan dengan analisis wacana kekuasaan dalam produksi narasi sejarah, kajian ini menunjukkan bahwa proses de-Islamisasi pasca-1492 merupakan strategi politik yang dijalankan secara sistematis melalui penghapusan simbol-simbol visual Islam, pemusnahan khazanah intelektual berbahasa Arab, serta penulisan ulang sejarah dalam kerangka narasi hegemonik Kristen. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa Inkuisisi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan yang mengawasi ortodoksi iman, tetapi juga sebagai mekanisme ideologis negara untuk mengatur ulang batas-batas identitas, keyakinan, dan ingatan kolektif masyarakat. Melalui praktik represif terhadap komunitas Morisco dan sensor budaya yang terlembaga, Inkuisisi memperkuat agenda Reconquista dalam mengonsolidasikan kekuasaan monarki Katolik dan menyingkirkan warisan Islam dari ruang publik maupun historiografi resmi. Dengan demikian, penghilangan jejak Islam di Spanyol tidak dapat dipahami sebagai dampak sekunder dari konflik agama, melainkan sebagai inti dari rekayasa historis dan kultural yang dirancang secara sadar. Kesimpulan ini menegaskan bahwa sejarah Spanyol pasca-Reconquista perlu dibaca dalam kerangka relasi kuasa yang tidak hanya mengonstruksi masa lalu, tetapi juga membentuk fondasi identitas nasional modern.