Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Strategi Gerilya Raden Intan II Melawan Belanda di Lampung 1850-1856 Itsna Rohmatillah; Rahman Hamid, Abd; Agus Mahfudin Setiawan; Rohmatillah, Itsna; Hamid, Abd Rahman; Setiawan, Agus Mahfudin
JURNAL JAWI Vol 7 No 2 (2024): Media, Resistance and Social Harmony
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jawi.v7i2.24775

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisa tentang strategi gerilya yang diterapkan oleh Raden Intan II dalam melawan kuasa Belanda di Lampung pada 1850-1856 dengan menggunakan metode penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ini didorongoleh tiga faktor utama: pemanfaatan kondisi geografis Lampung (Gunung Rajabasa), keunggulan persenjataan Belanda, dan pembelajaran dari pengalaman para pendahulunya. Perlawanan ini berpusat di Gunung Rajabasa dengan benteng-benteng yang kokoh seperti Katimbang, Bendulu, Hawi Berak, dan Galah Sintok. Perlawanan ini berakhir akibat pengkhianatan Raden Ngarapat yang menjebak Raden Intan II untuk keluar dari daerah gerilyanya hingga kemudian dibunuh. Perlawanan Raden Intan II memberikan dampak signifikan terhadap kekuasaan Belanda di Lampung. Selama masa perlawanan Belanda tidak mampu sepenuhnya menguasai wilayah tersebut. Namun, setelah perlawanan Belanda dapat memperkokoh kekuasannya di Lampung. Bagi masyarakat Lampung kekalahan ini menandai runtuhnya kekuasaan marga dan hilangnya para pemimpin perjuangan.
Rekonstruksi Historis Kepercayaan Hindu di Sumatera Bagian Selatan melalui Arca dan Akulturasi Arsitektual Agus Mahfudin Setiawan; Itsna Rahmatillah; Siti Muntamah
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 2 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i2.222

Abstract

This research discusses the entry and development of Hindu beliefs in Southern Sumatra through the study of cultural heritage in the form of statues and architectural elements of buildings. Although the influence of Buddhism was more dominant in this region, mainly due to the hegemony of the Srivijaya Kingdom, Hindu influence is still present and can be traced through artifacts that are still preserved today. Some of the important relics analyzed in this study include the statue of Lord Vishnu, the statue of Dewi Sri, and the architectural elements of the Sultan Mahmud Badaruddin II Mosque which show acculturation with Hindu symbols. This research uses historical methods with heuristic stages, source criticism, interpretation, and historiography, and is equipped with iconographic analysis to reveal the symbolic meaning in these artifacts. The purpose of this research is to reconstruct the Hindu belief system that has developed in Southern Sumatra based on the traces of existing material culture. The results show that although Hinduism is not the main faith, the religious and symbolic values of Hinduism remain influential in the local cultural heritage, thus enriching the historical treasures and cultural identity of the region. Abstrak: Penelitian ini membahas masuk dan berkembangnya kepercayaan Hindu di Sumatera Bagian Selatan melalui kajian terhadap peninggalan budaya berupa arca dan unsur arsitektur bangunan. Meskipun pengaruh agama Buddha lebih dominan di wilayah ini, terutama karena hegemoni kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, namun pengaruh Hindu tetap hadir dan dapat ditelusuri melalui artefak yang masih lestari hingga saat ini. Beberapa peninggalan penting yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi arca Dewa Wisnu, arca Dewi Sri, serta unsur arsitektural pada Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II yang menunjukkan akulturasi dengan simbol-simbol Hindu. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, serta dilengkapi dengan analisis ikonografis untuk mengungkap makna simbolik dalam artefak-artefak tersebut. Tujuan penelitian ini adalah merekonstruksi sistem kepercayaan Hindu yang pernah berkembang di Sumatera Bagian Selatan berdasarkan jejak budaya material yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hindu tidak menjadi kepercayaan utama, namun nilai-nilai religius dan simbolik dari kepercayaan Hindu tetap berpengaruh dalam warisan budaya lokal, sehingga memperkaya khazanah sejarah dan identitas kebudayaan di wilayah ini. Kata kunci: Hindu, Sumatera Bagian Selatan, Arkeologi, Sejarah, Ikonografi, Arca, Akulturasi Budaya
From Allies to Enemies: The Dynamics of the Relationship Between the Sultanate of Palembang and Britain, 1810-1812 Febriano, Wisnu; Hasanah, Uswatun; Setiawan, Agus Mahfudin
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 9, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/juspi.v9i2.26128

Abstract

This article examines the dynamics between the Palembang Sultanate and the British from 1810 to 1812. Initially a strategic alliance, the relationship deteriorated into a confrontation due to conflicts of colonial interest in monopolizing the region's main commodities. This research employs a systematic historical method, encompassing heuristics, source criticism, interpretation, and historiography to analyze conflicting interests as the primary factor behind the relationship's breakdown. Primary sources include Raffles' letters, colonial archives, and memoirs, which are combined with secondary sources. The findings indicate that Raffles' letters successfully influenced Sultan Mahmud Badaruddin II to ally against the Franco-Dutch forces, culminating in a mass massacre in September 1811. Subsequently, Raffles exploited this situation to seize the tin-rich Bangka Island after the Sultan refused to hand it over. This refusal triggered Raffles' attack on Palembang. As the British fleet entered the Musi River and occupied Borang Island Fort, Sultan Mahmud Badaruddin II and his family fled. Raffles then appointed Raden Husin Dhiauddin as Ahmad Nadjamuddin II, establishing him as a British puppet. This conflict reflects colonial exploitation that remains relevant to this day.
RECONQUISTA DAN INKUISISI DALAM PERSPEKTIF KEKUASAAN (STUDI ATAS DE-ISLAMISASI SEJARAH SPANYOL) Masykuroh, Siti; Setiawan, Agus Mahfudin
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.338

Abstract

Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mendasar tentang bagaimana Reconquista dan Inkuisisi beroperasi bukan sekadar sebagai peristiwa militer atau institusi keagamaan, melainkan sebagai proyek kekuasaan yang terstruktur untuk mengeliminasi identitas Islam dari lanskap sosial, kultural, dan historis Semenanjung Iberia. Dengan menggunakan pendekatan historis-kritis yang dipadukan dengan analisis wacana kekuasaan dalam produksi narasi sejarah, kajian ini menunjukkan bahwa proses de-Islamisasi pasca-1492 merupakan strategi politik yang dijalankan secara sistematis melalui penghapusan simbol-simbol visual Islam, pemusnahan khazanah intelektual berbahasa Arab, serta penulisan ulang sejarah dalam kerangka narasi hegemonik Kristen. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa Inkuisisi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan yang mengawasi ortodoksi iman, tetapi juga sebagai mekanisme ideologis negara untuk mengatur ulang batas-batas identitas, keyakinan, dan ingatan kolektif masyarakat. Melalui praktik represif terhadap komunitas Morisco dan sensor budaya yang terlembaga, Inkuisisi memperkuat agenda Reconquista dalam mengonsolidasikan kekuasaan monarki Katolik dan menyingkirkan warisan Islam dari ruang publik maupun historiografi resmi. Dengan demikian, penghilangan jejak Islam di Spanyol tidak dapat dipahami sebagai dampak sekunder dari konflik agama, melainkan sebagai inti dari rekayasa historis dan kultural yang dirancang secara sadar. Kesimpulan ini menegaskan bahwa sejarah Spanyol pasca-Reconquista perlu dibaca dalam kerangka relasi kuasa yang tidak hanya mengonstruksi masa lalu, tetapi juga membentuk fondasi identitas nasional modern.
The Role of Tanjung Karang Station in the Transportation Network in Lampung, 1911-1942 Kusuma, Dimas Puja; Hamid, Abd Rahman; Setiawan, Agus Mahfudin
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v10i1.33809

Abstract

This article aims to discuss the construction of Tanjung Karang Station and its role in the transportation network in Lampung, using historical research methods. The sources used are newspapers obtained from delpher, books and journals. The results of the study found that this station is a large class A type train station located in Gunung Sari Village, Enggal District, Bandar Lampung City. As one of the important stations on the railway line connecting Bandar Lampung City with Palembang City, Tanjung Karang Station has a strategic role in supporting transportation and mobility in the Lampung region. The construction of roads and railways connected to this station also encourages increased regional income and expands plantation areas, transportation progress plays an important role as a means of mobilization that accelerates connectivity between countries, regions, and provinces in this case to accelerate and facilitate the transportation of natural resources in terms of plantations and mining, The construction of this railway line is expected to be able to open access to previously isolated inland areas, so that it can encourage local economic growth.