Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

EFEKTIVITAS PEMBERIAN DARK CHOCOLATE TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA HIPERTENSI DI KELURAHAN BALAI GADANG WILAYAH KERJA PUSKESMAS AIR DINGIN Nurleny, Nurleny; Hasni, Hidayatul
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 6, No 2 (2023): November 2023
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v6i2.2150

Abstract

Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Tekanan darah pada lansia akan cenderung tinggi sehingga lansia lebih besar berisiko terkena hipertensi. Hipertensi yang tidak teratasi, dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya seperti payah jantung, stroke, kerusakan ginjal dan kerusakan penglihatan. Terdapat pengobatan non farmakologi untuk mengatasi hipertensi, yaitu Salah satu nya berasal dari dark chocolate yang di berikan sebanyak 17 gram/hari selama 7 hari. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian dark chocolate terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi di Kelurahan Balai Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Air Dingin. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik tipe pre- eksperimental design. dengan menggunakan pendekatan one group pre-post test design. Sampel berjumalh 10 orang lansia hipertensi dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampeling. pengolahan data dalam yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Wilcoxon. Hasil penelitian didapatkan nilai tengan tekanan darah sistolik pada kelompok responden sebelum diberikan dark chocolate adalah 160 dan diastolik 100. dan nilai median tekanan darah sistolik pada kelompok responden setelah diberikan dark chocolate adalah140 dan diastolik 90. Terdapat perbedaan antara rerata tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian dark chcolate dengan p value 0,003 (p<0,05) berarti terdapat terdapat efektivitas pemberian dark chocolate terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi di Kelurahan Balai Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Air Dingin. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah terdapat efektivitas pemberian dark chocolate terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi di Kelurahan Balai Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Air Dingin. Disarankan bagi pelayanan kesehatan, khususnya penanganan hipertensi pada lansia, dark chocolate dapat dijadikan pilihan pengobatan non farmakologi untuk menurunkan tekanan darahKata Kunci                  : Lansia, Tekanan Darah, Dark Chocolate
PENGERUH PEMBERIAN JUS BELIMBING MANIS (AVERHOA CARAMBOLA) TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA HIPERTENSI Meria Kontesa; Nurleny; Rosi Permata Sari; yusriana, yusriana
JURNAL KESEHATAN MERCUSUAR Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Mercusuar
Publisher : Universitas Mercubaktijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36984/hjtr3t33

Abstract

Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Tekanan darah pada lansia akan cenderung tinggi sehingga lansia lebih besar beresiko terkena hipertensi. Angka kejadian hipertensi pada lansia ini terbanyak terdapat di Puskemas Belimbing Kota Padang menempati urutan pertama sebanyak 3.442 (41,64%) pada tahun 2024. Tujuan Penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian jus belimbing manis (averhoa carambola) terhadap tekanan darah pada lansia. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain pra-eksperimen dengan menggunakan pendekatan One Group Pretest-Postest tanpa kontrol, yang bertujuan untuk menilai pengaruh pemberian jus belimbing manis.  Populasi penelitian adalah 120 lansia yang mengalami hipertensi Sampel diambil secara purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang di tetapkan sebanyak 14 sampel. Hasil penelitian diperoleh tekanan darah MAP (Mean Arterial Pressure) sebelum dilakukan pemberian jus belimbing manis yaitu 118,14 (SD= 4,704), sedangkan setelah dilakukan pemberian jus belimbing manis yaitu 110,14 (SD = 5,216). Uji t-test menunjukkan nilai p-value<0,000 yang mengidentifikasi adanya pengaruh pemberian jus belimbing manis (averhoa carambola) terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tensimeter, dan lembar observasi, dan alat-alat untuk pembuatan jus belimbing manis.  Disarankan bagi pelayanan kesehatan dapat memberikan jus belimbing manis sebagai penanganan nonfarmakologi atau pendamping obat anti hipertensi. Peneliti selanjutnya diharapkan juga bisa melakakukan penelitian dengan desain kontrol, jumlah sampel yang lebih besar, dan waktu intervensi yang lebih lama.
The Effect of Peer Group Education on Smoking Behavior in Youth in Student Vocational School Taman Siswa Padang 2018 Nurleny, Nurleny
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 9 No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Prima Nusantara Bukittinggi
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v9i2.361

Abstract

ABSTRACT WHO (2008), put Indonesia 4.8% as the country with the third highest number of smokers in the world after China as much as 30% and India as much as 11.2%. Smokers in Indonesia on average start smoking at the age of 15-19 years, which at age is the age of adolescents. One effort to provide information about the dangers of smoking in adolescents is through peers ( peer group). The purpose of this study is to determine the effect of Peer Group Education on smoking behavior in adolescents at SMK TAMAN SISWA Padang in 2018. The research type is pre-experiment with One-Group Pre-Test-Post-Test approach implemented in SMK Taman Siswa Padang in December 2017 until May 2018. The population is class X and class XI total of 60 people where class X there are 25 students and class XI 35 student at SMP Taman Siswa Padang with sample amounted to 24 students. Univariate data analysis with frequency distribution and bivariate analysis with paired sample t-test with a confidence level of 95%.  Results showed average knowledge teenager before getting peer group education intervention was 6.21, after getting peer group education intervention was 14.54, average adolescent attitude before getting peer group education intervention is 34.88, after getting peer group education intervention was 52.25, the average teenage action before getting peer group education intervention was 3.33 and after obtaining peer group education intervention was 8.12 . It can be concluded differences in knowledge, attitude and practice about smoking before and after getting peer group education intervention. Suggestion for school parties needs to work with local health agencies to conduct cooperation in the form of health education to students, especially about the dangers of smoking for students. 
Determinan Faktor dari Gangguan Fungsi Kognitif pada Lansia Siti Yuliharni; Mohd Jamil; Bunga Permata Wenny; Sukmah Fitriani; Rima Berlian; Putri Putri; Nurleny Nurleny
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 16, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v16i1.3162

Abstract

Proses menua mengakibatkan konsekuensi penurunan fungsi pada lansia, salah satunya penurunan fungsi kognitif, sehingga lansia berisiko mengalami demensia. Gangguan fungsi kognitif akan memberi dampak pada kemandirian lansia, dan penurunan kualitas hidup. Gangguan fungsi kognitif pada lansia dapat disebabkan banyak faktor. Penelitian ini bertujuan yaitu untuk melihat hubungan antara faktor-faktor dengan gangguan fungsi kognitif. Jenis penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 101 orang lansia menggunakan teknik convenience sampling. Pengumpulan data menggunakan instrument MMSE, PASE, Tensimeter, dan kuesioner data usia dan perilaku merokok. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Terdapat hubungan yang bermakna pada usia (p value < 0,022), hipertensi (p value < 0,010), aktivitas fisik (p value < 0,000) dengan gangguan fungsi kognitif, serta tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku merokok dengan gangguan fungsi kognitif. Intervensi terkait pengontrolan tekanan darah dan aktivitas fisik perlu ditingkatkan untuk menghambat terjadinya gangguan fungsi kognitif pada lansia.