Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN INTENSI TURNOVER PADA KARYAWAN DI PT. “X” Mochammad Taufan Permana Putra; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 (April 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.776 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15229

Abstract

Intensi turnover adalah adanya kecenderungan atau keinginan individu untuk meninggalkan perusahaan tempat karyawan bekerja saat ini. Beban kerja adalah seperangkat tuntutan tugas yang harus diselesaikan oleh pekerja dalam jangka waktu tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan intensi turnover. Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan positif antara beban kerja dengan intensi turnover. Sampel penelitian adalah 182 dengan karakteristik penelitian masa kerja kurang dari tiga tahun dengan menggunakan teknik cluster sampling. Pengumpulan data menggunakan Skala Beban Kerja (15 aitem, α = .77) dan Skala Intensi Turnover (25 aitem, α = .85). Hasil penelitian dengan menggunakan analisis regresi sederhana menunjukkan nilai koefisien korelasi rxy = .23 dengan p = .011 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan diterima yaitu terdapat hubungan positif antara beban kerja dengan intensi turnover pada karyawan PT. “X”. Dapat diartikan bahwa semakin tinggi beban kerja maka semakin tinggi intensi turnover. Beban kerja memberikan sumbangan efektif sebesar 5,4% terhadap intensi turnover. sedangkan 94,6% dipengaruhi faktor-faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini.
HUBUNGAN ANTARA PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT DENGAN STRES KERJA PADA SALES PT.ASTRA INTERNATIONAL Tbk-DAIHATSU KOTA SEMARANG DAN YOGYAKARTA Ayu Dyah Atriani; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.256 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7500

Abstract

  Stres kerja merupakan kondisi dinamik yang dialami individu di lingkungan kerjanya dalam menghadapi peluang, kendala dan tuntutan sehingga mengganggu kondisi fisiologis, dan perilaku. Perceived Organizational Support adalah penilaian dari karyawan dimana karyawan memiliki keyakinan bahwa organisasi menghargai kontribusi dari usahanya dan peduli dengan kesejahteraan karyawannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perceived organizational support dengan stres kerja pada sales PT.Astra International Tbk- Daihatsu Kota Semarang dan Yogyakarta.Subjek penelitian penelitian ini adalah sales pada PT.Astra International Tbk- Daihatsu Kota Semarang dan Yogyakarta. Jumlah sales yang menjadi sampel penelitian ialah 59 orang. Yang diperoleh melalui teknik proportional sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala psikologi berupa skala stres kerja (25 aitem valid, α = 0,893) dan skala perceived organizational support (25 aitem valid, α = 0,884).Hasil penelitian menunjukkan angka koefisien korelasi (rxy) sebesar -0,419 dengan p = 0,000 (p<0,05) yang berarti hubungan negatif yang signifikan antara perceived organizational support terhadap stress kerja. Semakin positif perceived organizational support, maka akan semakin rendah stres kerja pada sales, begitupun sebaliknya. Variabel perceived organizational support memberikan sumbangan efektif sebesar 17,6% dan sisanya sebesar 82,4% ditentukan faktor-faktor lain yang tidak diukur dalam penelitian ini.
THE RELATIONSHIP BETWEEN WORK EFFICACY WITHJOB INSECURITY ON PRODUCTION EMPLOYEESPT “X” SEMARANG Rini Sulistyawati; Harlina Nurtjahjanti; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 (Oktober 2012)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.013 KB) | DOI: 10.14710/empati.2012.467

Abstract

Post ACFTA, ASEAN harmonization program as an effort towards the ASEAN Economic Community (AEC) will be implemented in 2015. Integration will impact on various sectors include traditional herb medicine industry. The inability of the organization to face these conditions can lead to the threat of layoffs and made employees experience job insecurity. Therefore work efficacy to minimize the perceived job insecurity is needed by employees.The purpose of this research is to find out the relationship between work efficacy with job insecurity production employees of PT "X" Semarang. Study uses 56 production employees on PT "X" Semarang as a research subject. Determination of sample using incidental sampling technique. Methods of data collection using job insecurity scale consists of 32 aitem valid (α= 0.900) and Work Efficacy Scale consists of 28 aitem valid (α= 0.931).The results of the analysis with the simple regression analysis method get rxy = -0.644 with p = 0.000 (p <0.05), meaning that the research hypothesis is accepted and that there is a negative and significant correlation between work efficacy and job insecurity. Negative relationship between the two variables means the higher work efficacy, perceiving job insecurity on production employees will be low and vice versa. Work efficacy providing 41.5% effective contribution against job insecurity. These results indicate that there is 58.5% of another factor, which also contributed to job insecurity that are not disclosed in this study.
HUBUNGAN ANTARA GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DENGAN KESIAPAN UNTUK BERUBAH PADA KARYAWAN KPP PRATAMA PURWOREJO DAN TEMANGGUNG DJP WILAYAH JAWA TENGAH II Abigail Natalini Widhiaz Pranowo; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 (Oktober 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.376 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15436

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya kepemimpinan transformasional dengan kesiapan untuk berubah pada karyawan KPP Pratama Purworejo dan Temanggung DJP wilayah Jawa Tengah II. Kesiapan untuk berubah adalah sikap individu terhadap perubahan yang memengaruhi kesediannya untuk menerima perubahan, mengarahkan usaha dan perilaku kooperatif sesuai yang dikehendaki organisasi untuk mencapai perubahan yang sukses. Populasi penelitian sebanyak 148 orang karyawan KPP Purworejo dan Temanggung. Uji coba diberikan kepada 66 orang karyawan KPP Purworejo dan penelitian dilakukan kepada 80 orang karyawan KPP Temanggung DJP wilayah Jawa Tengah II. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah skala kesiapan untuk berubah (27 aitem, α=.91) dan skala gaya kepemimpinan transformasional (32 aitem, α=.93). Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini dengan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara gaya kepemimpinan transformasional dengan kesiapan untuk berubah rxy=.42 dengan p=.000 (p<0.001). Gaya kepemimpinan transformasional memberikan sumbangan efektif sebesar 18.4% terhadap kesiapan untuk berubah.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KEPEMIMPINAN RESONAN DENGAN KESIAPAN UNTUK BERUBAH PADA PEKERJA PT. PERTAMINA EP ASSET 3 FIELD JATIBARANG Diana Afriani; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.642 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7506

Abstract

Perubahan pada sektor Migas menyebabkan perubahan kebijakan PT. Pertamina EP. Kebijakan baru mengharuskan PT. Pertamina EP untuk melakukan perubahan organisasi secara berkala. Kesiapan untuk berubah pekerja menjadi komponen penting yang mempengaruhi kesuksesan implementasi program perubahan tersebut. Agen perubahan (pemimpin) memiliki peran utama selama proses perubahan berlangsung. Kepemimpinan resonan akan membantu menghadapi ketidakpastian selama proses perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap kepemimpinan resonan dengan kesiapan untuk berubah pada pekerja PT. Pertamina EP Asset 3 Field Jatibarang. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 121 pekerja non teknisi dan non operator dengan sampel penelitian 48 pekerja. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Pengambilan data menggunakan skala kesiapan untuk berubah (21 aitem valid dengan α=0,882) dan skala persepsi terhadap kepemimpinan resonan (29 aitem valid dengan α=0,935) yang telah diujicobakan pada 66 pekerja PT. Pertamina EP Asset 3 kantor Klayan. Data yang diperoleh berdasarkan hasil analisis regresi sederhana menunjukkan nilai koefisien korelasi antara persepsi terhadap kepemimpinan resonan dengan kesiapan untuk berubah rxy=0,514 dengan p=0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu terdapat hubungan positif antara persepsi terhadap kepemimpinan resonan dengan kesiapan untuk berubah pada pekerja PT. Pertamina EP Asset 3 Field Jatibarang dapat diterima. Persepsi terhadap kepemimpinan resonan memberikan sumbangan efektif sebesar 26,4% pada kesiapan untuk berubah.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN KERJA FISIK DENGAN STRES KERJA PADA PERSONIL DETASEMEN PENGENDALIAN PANGKALAN (DENDALLAN) PANGKALAN UDARA UTAMA AHMAD YANI SEMARANG Syafmarini Syafmarini; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.184 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7528

Abstract

Stres kerja adalah reaksi fisik, psikologis, dan perilaku individu yang muncul di lingkungan kerja sebagai kombinasi antara sumber-sumber stres atau stressor pada pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan  antara persepsi terhadap lingkungan kerja fisik dengan stres kerja pada personil Detasemen Pengendalian Pangkalan (Dendallan) Pangkalan Udara Utama Ahmad Yani Semarang.Populasi penelitian ini adalah seluruh personil di Pangkalan Udara Utama Ahmad Yani Semarang. Sampel penelitian sebanyak 48 personil dengan teknik sampling simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui dua skala psikologi, yaitu skala stres kerja (34 aitem valid α = 0.927) dan skala persepsi terhadap lingkungan kerja fisik (30 aitem valid α = 0.927).Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = -0.466 dengan p= 0,001 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan hipotesis terdapat hubungan negatif antara persepsi terhadap lingkungan kerja fisik dengan stres kerja. Semakin positif persepsi terhadap lingkungan kerja fisik, maka stres kerja semakin rendah. Sebaliknya, semakin negatif persepsi terhadap lingkungan kerja fisik, maka stres kerja semakin tinggi. Persepsi terhadap lingkungan kerja fisik memberikan sumbangan efektif sebesar 21,7% terhadap stres kerja. Sisanya sebesar 78,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP TATA RUANG TOKO DENGAN KEPUASAN KONSUMEN SWALAYAN “ADA BARU” SALATIGA Diyah Puji Lestari; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.981 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7507

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap tata ruang toko dengan kepuasan konsumen Swalayan Ada Baru Salatiga. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 orang dan menggunakan teknik pengambilan sampel insidental. Data penelitian diambil dengan menggunakan dua buah skala, yakni skala persepsi terhadap tata ruang toko dengan jumlah aitem sebanyak 27 buah (α = 0.895), dan skala kepuasan konsumen dengan jumlah aitem sebanyak 18 (α = 0.851) buah. Analisis data dengan metode analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap tata ruang toko dengan kepuasan konsumen. Hal ini ditunjukkan dengan nilai R= 0.691 dan p = 0.00 (p<0.05), sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi terhadap tata ruang toko dengan kepuasan konsumen Swalayan Ada Baru Salatiga dapat diterima. Sumbangan efektif yang diberikan oleh persepsi terhadap tata ruang toko pada kepuasan konsumen Swalayan Ada Baru Salatiga adalah sebesar 47.8% dan persamaan garis regresinya adalah Y =  12.118 + 0.505X.
HUBUNGAN ANTARA GAYA KEPEMIMPINAN MELAYANI DENGAN MOTIVASI KERJA PADA KARYAWAN PT. BANK PEMBANGUNAN DAERAH (BPD) CABANG KOORDINATOR SEMARANG Bagus Lubiarto; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.459 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7502

Abstract

Kepemimpinan melayani diartikan sebagai pemimpin yang mau dengan ikhlas membantu, membimbing dan mengajarkan bawahannya atau karyawannya untuk berkembang baik bagi diri karyawan tersebut maupun bagi kemajukan perusahaan, sedangkan, motivasi Kerja diartikan dorongan untuk  menyelesaikan suatu tugas atau tantangan atau pekerjaan secara lebih baik dan lebih efisien dengan tujuan untuk mencapai standar keunggulan dan prestasi yang diinginkan.Subjek penelitian ini adalah karyawan tetap PT. Bank Pembangunan Daerah (BPD) Cabang Koordinator Semarang. Sampel penelitian berjumlah 40 orang dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling (convenience sampling). Pengambilan data menggunakan skala motivasi kerja (24 aitem valid dengan α=0,938) dan skala kepemimpinan melayani (31 aitem valid dengan α=0,941Data yang diperoleh berdasarkan hasil analisis regresi sederhana menunjukkan nilai koefisien korelasi antara kepemimpinan melayani dengan motivasi kerja rxy=0,520 dengan p=0,001 (p<0,05). Yang menunjukan bahwa terdapat hubungan positif antara kepemimpinan melayani dengan motivasi kerja karyawan PT. Bank Pembangunan Daerah (BPD) Cabang Koordinator Semarang dapat diterima. Kepemimpinan melayani memberikan sumbangan efektif sebesar 27,1% pada motivasi kerja dan sebesar 72,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY INTELLIGENCE DENGAN HEALTH-RELATED QUALITY OF LIFE PADA MAHASISWA S1 ANGKATAN 2010 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Erysa Choirunnisa; Farida Hidayati; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 (Oktober 2012)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.18 KB) | DOI: 10.14710/empati.2012.8117

Abstract

This research aimed to find out whether variables Adversity Intelligence having correlation with variable Health-related Quality of Life. Population in this research is student class 2010 of Medicine Faculty, Diponegoro University and using proportional random sampling, got 198 students being sample. Data were collected by Adversity Intelligence (33 item) and Health-related Quality of Life (27 item). This research find that there is a positive correlation between Adversity Intelligence and Health-related Quality of Life. Students who can  overcome his/her difficulty having a higher quality of life than student who feel helpless. There is no difference in Health-related Quality of Life level based on sex, housing type and course.
HUBUNGAN MODAL PSIKOLOGIS DENGAN PERSEPSI BEBAN KERJA PADA PERAWAT INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA DAERAH Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Rindu Solide Puur Mooi; Unika Prihatsanti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 (Agustus 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2015.13006

Abstract

Modal psikologis adalah kondisi psikologis yang bersifat positif yang dimiliki oleh individu dengan ditandai adanya kepercayaan diri (efficacy), optimis (optimism), harapan (hope) dan resiliensi atau tabah dalam menghadapi berbagai permasalahan (resiliency) sedangkan, persepsi beban kerja diartikan sebagai penilaian perawat secara kognitif dan afektif mengenai kegiatan atau tuntutan tugas yang membutuhkan aktivitas mental, aktifitas fisik dan waktu, dimana perawat dituntut untuk dapat bekerja secara maksimal dalam merawat pasien dan melakukan semua pekerjaannya dalam jangka waktu tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan modal psikologis dengan persepsi beban kerja pada perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Subjek penelitian ini adalah perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Sampel penelitian berjumlah 110 orang dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Pengambilan data menggunakan skala persepsi beban kerja (15 aitem valid dengan α = 0.856) dan skala modal psikologis (28 aitem valid dengan α = 0.926). Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = -0.549 dengan p=0,000 (p<0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu hubungan negatif antara modal psikologis dengan persepsi beban kerja. Semakin tinggi modal psikologis maka semakin negatif persepsi beban kerja. Modal psikologis memberikan sumbangan efektif sebesar 30.1% pada persepsi beban kerja dan sebesar 69.9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.