Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI PADA KELOMPOK BERMAIN PELITA HATI DESA SIDOJANGKUNG KECAMATAN MENGANTI KABUPATEN GRESIK Wahyu Wahyu; Ali Yusuf
J+PLUS UNESA Vol. 11 No. 2 (2022): J+PLUS, Desember 2022
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola asuh orang tua adalah bentuk tanggung jawab orang tua terhadap anaknya dalam memberikan bimbingan dan pendidikan di dalam lingkungan keluarga. Adanya bimbingan dan pengawasan disertai penerapan batasan tersebut dapat memunculkan karakter anak, yang salah satunya adalah kemandirian. Penelitian ini memiliki tujuan mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap mandirinya seorang anak usia dini pada Kelompok Bermain Pelita Hati yang berlokasi di Desa Sidojangkung, Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunaakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian analisis regresi. Pengumpulan data menggunakan teknik penyebaran angket atau kuesioner secara langsung. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampel total karena terbatasnya jumlah populasi yaitu 30 orang tua murid di KB Pelita Hati. Pengujian prasyarat analisis menggunakan uji validitas dan reliabilitas untuk menguji instrumen penelitian. Uji normalitas dan uji regresi linier sederhana digunakan untuk menganalisis data. Uji hipotesis atau uji T dilakukan untuk mengetahui hipotesis yang diterima dalam penelitian. Setelah megolah data menggunakan SPSS, diketahui bahwa persamaan regresi linier sederhana adalah Y = 61,129 + 0,100 X dan pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian anak usia dini hanya sebesar 0,08%. Dalam uji t, nilai t hitung hanya 0,467 yang mana nilai tersebut lebih kecil ketimbang nilai t tabel sebesar 2,048 sehingga H0 diterima dan H1 ditolak, maknanya tidak ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian anak usia dini.
PERAN ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA DINI DI PERUM KOMPLEK MARINIR KECAMATAN DUKUH PAKIS SURABAYA Olif Prautami Hanami; Ali Yusuf
J+PLUS UNESA Vol. 11 No. 2 (2022): J+PLUS, Desember 2022
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran orang tua dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini di perum komplek marinir jika sedang berada di rumah maupun di sekolah. Latar belakang penelitian ini didasari oleh keingintahuan penulis pada proses meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini dan kurangnya peran orang tua. Penelitian ini memiliki tujuan antara lain : 1)Mendeskripsikan peran orang tua dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini, 2)Mengetahui kendala yang dialami peran orang tua dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini. Bahwa dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak sewaktu belajar dirumah mengalami respon yang positif, dimana: 1)kognitif anak dapat terasa dengan baik karena anak senang apabila orang tua mereka menerangkan dan menjelaskan dengan cara bermain; 2)Anak terlihat antusias dalam belajar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah : 1.Wawancara, 2.Observasi, dan 3. Dokumentasi sebagai sumber data yang dapat dipertanggung jawabkan keakuratannya. Analisis data dengan langkah-langkah : 1.Reduksi data, 2.Penyajian data, dan 3. Kesimpulan. Untuk keabsahan data dalam penelitian ini adalah 1.Uji kredibilitas, 2.Uji dependibilitas, dan 3.Uji transferabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian orang tua juga belum mengerti mengenai kemampuan kognitif anak usia dini, dan kurangnya pemahaman materi oleh orang tua. Simpulan yang dapat diambil dari artikel ini bahwa peran orang tua dalam mengembangkan kognitif anak usia dini di Perum Komplek Marinir Kecamatan Dukuh Pakis Surabaya diantaranya, menggunakan media papan flannel untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini.
Entrepreneurship-Based Non-Formal Education Program Development Through Coaching Clinic Widodo Widodo; I Ketut Atmaja; Heru Siswanto; Arif Firmansyah; Ali Yusuf
Journal of Nonformal Education Vol. 10 No. 1 (2024): Community education and community empowerment
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jone.v10i1.1587

Abstract

The Community Learning Center (CLC) as a Non Formal Education (NFE) unit has the principles of 'from', 'by' and 'for' the community in management. CLC has an equality education Package program which is an alternative solution for affordable primary and secondary education services. Development of the NFE program at CLC based on entrepreneurship through coaching clinics with activities; delivery of material related to the NFE program and independence strategy, consulting on various problems faced by CLC, field visits to ensure the strategies chosen in developing the NFE program can be implemented properly, and building a shared commitment to developing the NFE program, so as to create self-reliance based CLC entrepreneurship. The objective of this research is to analyze the implementation of Package equality learning based on entrepreneurship in creating independence. This research uses descriptive qualitative, with data analisys; (1) data reduction through department-interviews, participant observation, documentation, (2) data display, (3) conclusions. As for checking the validity of the data to measure the degree of trust (credibility) with transferability and confirmability. The results of the study show changes in conducting entrepreneurship learning for Package students which are more contextual and emphasize hands-on practice. Entrepreneurship-based NFE program development carried out in CLC is carried out through 3 stages, namely (1) the stage of context analysis and identification of community learning needs in which there are problems and resources that can be used for learning. (2) The stage of managing entrepreneurship learning which includes planning, organizing, implementing, and supervising entrepreneurship learning programs. (3) The evaluation stage is carried out to find out the learning outcomes and processes. Learning outcomes through theory and performance exams during practical work, while process evaluation is carried out at each stage of implementing entrepreneurship learning. The conclusion is that the development of an entrepreneurship-based NFE program through a coaching clinic can provide changes in the management of culinary and barista entrepreneurship learning  as a program advantage in CLC. The novelty of this research is learning equality education packages combined with vocational skills which accelerate students' independence.
Transformation of the Implementation of the Central Learning Model (BCCT) into a Stage Learning Model at the Pioneer Nature School of Bandung Desika Putri Mardiani; Monica Widyaswari; Shobri Firman Susanto; Ali Yusuf
Child Kingdom : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 2 (2023): October
Publisher : LP3M STAI MA'ARIF MAGETAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53961/childom.v1i2.64

Abstract

It is necessary to apply a suitable learning model for early childhood to explore every potential of students. Of course, learning media that are easy to find and local elements must be included so children can recognize themselves and know where they come from. The purpose of this study is to examine the transformation of the learning model into a stage learning model organized by PAUD Sekolah Pelopor Alam, Bandung. The research method uses a qualitative approach with data collection techniques in the form of interviews, indirect observation, and documentation. The data analysis used is Miles and Huberman analysis, while the validity test uses extension of observation, persistence of observation, and triangulation of sources. Research results showed that the implementation of early childhood education by applying the learning center model is less able to bring out the elements of localization in the Rancaekek, Bandung, so the founder switched to using the stage model, which is closer to the daily life of children. The stage model is inspired by the center model, which consists of several sub-sections. If the center model consists of a preparation center, an art center, a natural materials center, a beam center, and a role-play center. Whereas in the application of the stage model, There are eleven sub-sections developed, namely the stage of play, cooking stage, development stage, exploration stage, science stage, cooking stage, kasundaan stage, development stage, imtak stage, gardening stage, and livestock stage.
Life Skills Education as a Strategy for Women’s Empowerment: A Case Study of Anggrek Bulan Community Learning Center Wiwin Yulianingsih Wiwin Yulianingsih; Sjafiatul Mardliyah; Ali Yusuf; Shobri Firman Susanto; Ganes Gunansyah; Mustakim; Mita Lutviatiani; Ikhwan Fadlu Fantazilu
JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat) Vol. 13 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Departement of Nonformal Education, Graduate Scholl of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppm.v13i1.89994

Abstract

Abstract: Women's empowerment is a crucial issue in achieving gender equality as outlined in the 2030 Sustainable Development Goals (SDGs). One relevant strategy is life skills based non-formal education, which provides opportunities for women to improve their skills, independence, and self-confidence. This study aims to describe the implementation of the life skills program, analyze its impact, and identify supporting and inhibiting factors at the Anggrek Bulan Community Learning Center in Banyuwangi. The study employed a case study approach with participatory observation, in-depth interviews, and documentation techniques. Data analysis applied the Miles and Huberman model. The results show that the life skills program was designed in a participatory manner according to the needs of the learners, involving women from planning to evaluation. The impacts include improved technical skills (sewing, batik, digital marketing) and soft skills (public speaking, leadership), enabling women to become more independent and able to develop businesses. In conclusion, life skills education at the Anggrek Bulan Community Learning Center effectively strengthens women's capacity and role, while also serving as a model for contextual and sustainable empowerment. Keywords: Gender Equality, Life Skills Program, Nonformal Education, Women’s Empowerment
Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam Pendidikan Anak Usia Dini: Membangun Pembelajaran Bermakna dan Reflektif Nuratmila Rosada Janah; Aswading Aswading; Gunarti Dwi Lestari; Ali Yusuf
Murhum : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 7 No. 1 (2026): Juli
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal (PPJ) PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/murhum.v7i1.1904

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dalam membangun pembelajaran bermakna dan reflektif di TK Negeri Pembina Mawasangka. Masalah yang diangkat berfokus pada proses dan langkah-langkah guru dalam menerapkan prinsip pembelajaran mendalam yang menekankan pemahaman, refleksi, dan keterlibatan aktif anak dalam proses belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di TK Negeri Pembina Mawasangka memahami pembelajaran mendalam sebagai proses membangun makna melalui pengalaman nyata, bukan sekadar hafalan. Penerapan prinsip deep learning tampak dalam kegiatan yang menumbuhkan berpikir kritis, kolaborasi, dan refleksi, seperti  pada kegiatan menanam tanaman, proyek tematik, dan penilaian autentik. Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana belajar menyenangkan dan kontekstual. Keterlibatan orang tua dan kolaborasi antarguru juga berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran mendalam berperan penting dalam membentuk karakter, kemandirian, dan kemampuan reflektif anak usia dini.
Peran Instruktur dalam Mengembangkan Keterampilan Menjahit di Lembaga Kursus dan Pelatihan Venuza Lamongan Galang Fajar Agus Alfian; Ali Yusuf
J+PLUS UNESA Vol. 15 No. 2 (2026): J+PLUS, Desember 2026 (In Press)
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran instruktur sebagai pembimbing dalam mengembangkan keterampilan menjahit tingkat mahir pada pendidikan nonformal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran instruktur sebagai pembimbing, faktor pendukung, dan faktor penghambat dalam mengembangkan keterampilan menjahit tingkat mahir di LKP Venuza Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas instruktur, pengelola lembaga, dan peserta didik pelatihan menjahit tingkat mahir. Teknik analisis data menggunakan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instruktur berperan sebagai fasilitator, motivator, pembimbing, dan evaluator dalam proses pembelajaran. Instruktur memberikan pendampingan intensif melalui bimbingan praktik langsung, konsultasi personal, arahan teknis, dan motivasi kepada peserta didik. Faktor pendukung meliputi kompetensi instruktur, dukungan lembaga, lingkungan belajar yang kondusif, dan antusiasme peserta didik. Sementara itu, faktor penghambat meliputi keterbatasan sarana dan prasarana, perbedaan kemampuan belajar peserta didik, dan ketidakkonsistenan kehadiran peserta didik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran instruktur sebagai pembimbing memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan keterampilan menjahit tingkat mahir dan motivasi belajar peserta didik pada pendidikan nonformal.
Strengthening Local Culture through Informal Education in the Era of Society 5.0 wiwin yulianingsih; Sjafiatul Mardliyah; Ali Yusuf; Diana Rahmasari; Frimha Purnamawati; Ganes Gunansyah; M Fahmi Zakariyah
Jurnal Pedagogi dan Pembelajaran Vol. 8 No. 3 (2025): October
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jp2.v8i3.102302

Abstract

In the era of Society 5.0, the preservation of local culture faces serious challenges due to the rapid flow of modernization and digitalization. This condition demands an adaptive value transmission strategy to prevent cultural identity from being eroded by developments. This study aims to analyze the role of informal education in strengthening local culture amidst the dynamics of modern society. The study used a qualitative approach with a case study design. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with 15 informants, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman model. The subjects of this study were traditional leaders, village elders, parents, local youth, and participants in religious rituals. The results show that informal education takes place actively through family roles, involvement in traditional rituals, and intergenerational collaboration. Cultural values are inherited naturally through social practices without relying on the formal education system or digital technology. These findings confirm that community-based informal education is highly effective in maintaining cultural identity and building social resilience. The implications of this study provide a basis for developing contextual educational strategies relevant to the challenges of the digital era and modernization.
Implementasi Program Parenting Untuk Meningkatkan Motivasi Orang Tua dalam Mengasuh Anak di RA Yaa Bunayya Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar Nurul Aini; Ali Yusuf
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pengasuhan anak usia dini sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter, sikap, dan perilaku anak. RA Yaa Bunayya Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, menyelenggarakan program parenting guna mendukung peran orang tua dalam memberikan pengasuhan yang positif dan menyenangkan. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan beberapa kendala seperti kurangnya motivasi, pengetahuan, serta partisipasi orang tua dalam kegiatan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi program parenting yang dilaksanakan di RA Yaa Bunayya dalam upaya meningkatkan motivasi orang tua dalam mengasuh anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan kepala sekolah, guru, dan orang tua peserta didik, observasi terhadap kegiatan parenting seperti home visit, outing class, konsultasi, serta lomba-lomba yang melibatkan orang tua, dan dokumentasi pelaksanaan program. Data dianalisis melalui proses kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Fokus utama dalam penelitian ini adalah sejauh mana pelaksanaan kegiatan parenting mampu membangkitkan semangat dan kesadaran orang tua dalam menjalankan tanggung jawab pengasuhan secara lebih optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program parenting di RA Yaa Bunayya telah berjalan dengan cukup baik dan memberikan dorongan positif terhadap keterlibatan orang tua. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan mendorong tumbuhnya semangat baru dalam mendampingi anak, baik di rumah maupun dalam kegiatan sekolah. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa implementasi program parenting mampu menciptakan sinergi antara pihak sekolah dan orang tua dalam membangun lingkungan pengasuhan yang mendukung perkembangan anak. Saran yang diberikan antara lain perlunya pelatihan lanjutan untuk orang tua, peningkatan konsistensi evaluasi program, serta penguatan kerja sama antara guru, wali murid, dan pihak yayasan agar program ini terus berjalan secara berkesinambungan.
Implementasi Program Parenting Class dalam Menumbuhkan Keterampilan Pengasuhan Anak Usia Dini di Taman Posyandu (TAPOS) Sekartaji Desa Ketawang Kabupaten Kediri Aliffia Nur Alyzatus Riyanti; Ali Yusuf
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya dan implementasi program parenting class di Taman Posyandu (TAPOS) Sekartaji Desa Ketawang Kabupaten Kediri dalam menumbuhkan keterampilan pengasuhan kepada orang tua. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan menggunakan teori miles and huberman yaitu kondensasi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan Taman Posyandu (TAPOS) Sekartaji berhasil dalam menumbuhkan keterampilan pengasuhan bagi orang tua. Upaya yang diberikan TAPOS Sekartaji berupa motivasi dan dukungan serta penyediaan fasilitas yang lengkap selama pelaksanaan kegiatan dalam program Parenting Class. Orang tua wali murid TAPOS yang mengikuti program parenting class dapat meningkatkan keterampilan pengasuhan mereka dan termotivasi untuk terus mengikuti program serta mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan terkait dengan pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua dapat diatasi melalui program parenting class yang memberikan manfaat serta dampak positif dalam menumbuhkan pemahaman dan keterampilan orang tua terhadap pengasuhan anak usia dini.