Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Farmakologi Terapan: Pembuatan Oralit Mandiri dan Deteksi Dini DBD dengan Uji Torniquet pada Santri di MTs Syamsudduha Aceh Utara Yuziani, Yuziani; Sofia, Rizka; Sawitri, Harvina; Maulina, Meutia; Mellaratna, Wizar Putri; Siregar, Sarah Rahmayani
Auxilium : Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol. 3 No. 2: Auxilium: Jurnal Pengabdian Kesehatan - Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/auxilium.v3i2.24076

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian utama, terutama di wilayah-wilayah endemis. Salah satu upaya strategis untuk menurunkan angka keparahan kasus DBD adalah melalui deteksi dini dan penanganan awal berbasis edukasi farmakologi terapan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pembuatan oralit mandiri sebagai langkah awal penanganan dehidrasi, serta penerapan uji tourniquet sebagai metode sederhana untuk deteksi dini DBD. Kegiatan dilaksanakan di MtsS Syamsudduha Aceh Utara dalam bentuk edukasi interaktif yang mencakup ceramah, demonstrasi pembuatan oralit, dan pelatihan praktik uji tourniquet. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta, serta observasi langsung terhadap keterampilan praktik peserta. Hasil didapatkan peningkatan pengetahuan peserta sebesar 40,76% berdasarkan hasil perbandingan pre-test dan post-test. Selain itu, sebagian besar peserta mampu melakukan uji tourniquet secara tepat sesuai pedoman yang dikeluarkan oleh WHO. Evaluasi keterampilan juga menunjukkan bahwa 95% peserta berhasil membuat oralit mandiri dengan benar. Edukasi farmakologi terapan terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap DBD dan kemampuan penanganan awal dehidrasi. Intervensi semacam ini sangat relevan untuk diterapkan di komunitas, terutama di daerah endemis. Kata Kunci: Farmakologi terapan, oralit mandiri, DBD, uji tourniquet, edukasi masyarakat
ANALYSIS OF FACTORS INFLUENCING ADHERENCE TO ANTIRETROVIRAL MEDICATION (ARV) IN HIV/AIDS PATIENTS BASED ON INFORMATION, MOTIVATION, BEHAVIORAL SKILLS AT CUT MEUTIA GENERAL HOSPITAL Yuziani; Mulyati Sri Rahayu; Harvina Sawitri; Wizar Putri Mellaratna; Anna Millizia; Yofinda Aurelia Rizkita; Rani Mulya Safitri
MEDALION JOURNAL: Medical Research, Nursing, Health and Midwife Participation Vol. 4 No. 2 (2023): June
Publisher : PT. Radja Intercontinental Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59733/medalion.v4i2.77

Abstract

HIV (Human Immunodeficiency Virus), included in the Retroviridae family, is a virus that causes AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), a syndrome caused by a decrease in the body's immune system. Compliance with taking medication on HIV/AIDS clients is very important, non-adherence in implementing therapy will reduce the effectiveness of ARV drugs and even increase viral resistance in the body. Information, motivation and ability to behave are fundamental determinants of a behavior in adherence to taking medication. This study will analyze the factors associated with adherence to taking ARV medication in HIV/AIDS patients to find out the causes of nonadherence to taking ARV medication. This type of research uses descriptive research methods while based on the time dimension the research uses a cross sectional design. The research was conducted at Cut Meutia General Hospital. This research was conducted from 2018-2019. The sampling technique in this study used the total sampling method. The population in this study were all HIV/AIDS patients who were treated at the VCT and CST clinics at Cut Meutia Hospital, North Aceh District, which were recorded until 2018-2019, totaling 62 people. The results of this study found that respondents at Cut Meutia Hospital had low information of 90.0% regarding adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low motivation of 96.7% for adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low behavioral skills of 96.7% for compliance with the use of ARV drugs. The sampling technique in this study used the total sampling method. The population in this study were all HIV/AIDS patients who were treated at the VCT and CST clinics at Cut Meutia Hospital, North Aceh District, which were recorded until 2018-2019, totaling 62 people. The results of this study found that respondents at Cut Meutia Hospital had low information of 90.0% regarding adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low motivation of 96.7% for adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low behavioral skills of 96.7% for compliance with the use of ARV drugs. The sampling technique in this study used the total sampling method. The population in this study were all HIV/AIDS patients who were treated at the VCT and CST clinics at Cut Meutia Hospital, North Aceh District, which were recorded until 2018-2019, totaling 62 people. The results of this study found that respondents at Cut Meutia Hospital had low information of 90.0% regarding adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low motivation of 96.7% for adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low behavioral skills of 96.7% for compliance with the use of ARV drugs. The population in this study were all HIV/AIDS patients who were treated at the VCT and CST clinics at Cut Meutia Hospital, North Aceh District, which were recorded until 2018-2019, totaling 62 people. The results of this study found that respondents at Cut Meutia Hospital had low information of 90.0% regarding adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low motivation of 96.7% for adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low behavioral skills of 96.7% for compliance with the use of ARV drugs. The population in this study were all HIV/AIDS patients who were treated at the VCT and CST clinics at Cut Meutia Hospital, North Aceh District, which were recorded until 2018-2019, totaling 62 people. The results of this study found that respondents at Cut Meutia Hospital had low information of 90.0% regarding adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low motivation of 96.7% for adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low behavioral skills of 96.7% for compliance with the use of ARV drugs. Respondents at Cut Meutia Hospital had low motivation of 96.7% for adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low behavioral skills of 96.7% for compliance with the use of ARV drugs. Respondents at Cut Meutia Hospital had low motivation of 96.7% for adherence to ARV drug use. Respondents at Cut Meutia Hospital had low behavioral skills of 96.7% for compliance with the use of ARV drugs. .
Pengaruh Media Promosi Kesehatan Mokhsha Patamu Dalam Meningkatkan Pengetahuan Pencegahan Skabies Pada MTsS Ulumuddin Kota Lhokseumawe Aqla Sabrianti Maulida; Mardiati; Wizar Putri Mellaratna
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 4 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i4.2088

Abstract

Skabies masih menjadi penyakit kulit menular yang berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di negara tropis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh media promosi kesehatan mokhsha patamu dalam meningkatkan pengetahuan pencegahan skabies pada siswa MTsS Ulumuddin Kota Lhokseumawe. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest design pada 70 responden, dengan pengumpulan data melalui kuesioner dan analisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa, dimana kategori baik meningkat dari 11,4% menjadi 84,3% setelah intervensi, dengan nilai p = 0,01 (<0,05) yang menandakan pengaruh signifikan dari media tersebut. Media mokhsha patamu terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, meningkatkan motivasi siswa, serta memperkuat pemahaman tentang pencegahan skabies. Temuan ini mengimplikasikan perlunya pemanfaatan media edukasi berbasis permainan dalam program promosi kesehatan di sekolah
Telogen Effluvium Mellaratna, Wizar Putri; Kholilullah, Vina Zaynah
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 2 No. 3 (2023): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Juni 2023
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jkkmm.v2i3.9309

Abstract

Telogen effluvium adalah suatu keadaan dimana didapatkan kerontokan rambut telogen dalam masa dini dan dalam jumlah cukup banyak. Kerontokan rambut ini disebabkan adanya trauma pada rambut normal karena stimulasi yang dapat mempercepat fase anagen ke fase katagen dan fase telogen. Insidensi atau prevalensi telogen effluvium masih belum jelas. Telogen effluvium dapat terjadi baik pada pria maupun wanita, Telogen effluvium disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya stres psikologis, demam akut, malnutrisi, kehamilan, penyakit sistemik, obat-obatan, dll. Diagnosis telogen effluvium dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan yang tepat membutuhkan waktu untuk mengidentifikasi penyebab kerontokan dan penanganannya. Hal terpenting adalah pemberian informasi dan edukasi pada pasien akan perjalanan penyakitnya.
Sosialisasi Kebersihan Lingkungan Sekolah SD Negeri 3 Muara Dua Kota Lhokseumawe Sahputri, Juwita; Mellaratna, Wizar Putri; Z, Khairunnisa; Rizka, Adi; Akbar, Muhammad Khalilul; Topik, Mohammad Mimbar; Surayya, Rahmi; Herlina, Nina
Auxilium : Jurnal Pengabdian Kesehatan Auxilium : Jurnal Pengabdian Kesehatan - Agustus 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/auxilium.v1i1.12611

Abstract

Sekolahku bersih, sekolahku sehat/SEHATI merupakan kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Malikussaleh (UNIMAL). Kebersihan lingkungan sekolah menjadi faktor penting demi menjaga kesehatan dan  kenyamanan siswa/i dalam belajar. Oleh karena itu, kepedulian mengenai pola hidup bersih dan sehat harus semakin digalakkan. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah bentuk perwujudan orientasi hidup sehat dalam budaya perorangan, keluarga, masyarakat, yang bertujuan meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatan secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Dengan fokus sosialisasi meningkatkan kepedulian akan kebersihan lingkungan sekolah, diharapkan bisa menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat sehingga dapat mendukung kelancaran proses belajar mengajar. Peserta sosialisasi adalah siswa/i kelas 3 dan 4                         SD Negeri 3 Muara Dua yang berjumlah 34 anak. Sosialisasi ini berisi penjelasan mengenai cara menjaga lingkungan sekolah dan penyakit yang bisa timbul apabila lingkungan sekolah tersebut tidak terjaga kebersihkan lingkungannya. Sosialisasi ini juga dibarengi dengan aksi nyata membersihkan lingkungan.
Sosialisasi Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Remaja Siswa Sekolah Menengah Atas terhadap Akne Vulgaris Mellaratna, Wizar Putri; Z, Khairunnisa; Millizia, Anna; Akbar, Teuku Ilhami Surya; MN, Arif; IY, Ritonga
Auxilium : Jurnal Pengabdian Kesehatan Auxilium : Jurnal Pengabdian Kesehatan - Januari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/auxilium.v2i1.13498

Abstract

Usia remaja (usia 15-18 tahun) merupakan usia yang rentan mengalami akne vulgaris karena terjadi perubahan fluktuasi hormonal (terutama hormon androgen). Akne vulgaris merupakan suatu kelainan pilosebaceous yang umumnya sering dijumpai pada usia 12-25 tahun. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa-siswi SMAN 1 Kota Lhokseumawe terhadap akne vulgaris sehingga dapat menurunkan derajat keparahan akne vulgaris. Penurunan derajat keparahan akne vulgaris diharapkan dapat menurunkan tingkat bekas akne yang ditimbulkan dan dapat memperbaiki kualitas hidup penderita akne. Pengabdian ini dilakukan dengan menggunakan metode ceramah melalui tahapan persiapan, pelaksanaan pengabdian dan monitoring serta evaluasi. Pengabdi menilai ada tidaknya peningkatan pengetahuan dan sikap peserta melalui evaluasi terhadap kuesioner pretest dan posttest serta penilaian hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan derajat keparahan akne vulgaris. Sebagian besar siswa SMAN 1 Kota Lhokseumawe memiliki tingkat pengetahuan yang baik baik pada pretest maupun saat posttest dengan persentase berturut-turut 72% dan meningkat menjadi 96% setelah posttest. Mayoritas peserta pengabdian juga memiliki sikap yang baik terhadap akne vulgaris yaitu sebesar 88% pada saat pretest dan meningkat menjadi 96% setelah posttest.Tingkat dan pengetahuan siswa SMAN 1 persentase nya menunjukkan peningkatkan setelah kegiatan sosialisasi pengabdian yang ditunjukkan dengan peningkatan persentase siswa yang berpengetahuan dan bersikap baik serta tidak adanya siswa yang memliki pengetahuan dan sikap buruk setelah sosialisasi. Kesimpulan dari pengabdian ini didapatkan Tingkat pengetahuan yang baik terhadap akne vulgaris akan disertai dengan sikap yang baik sehingga dapat mengurangi derajat keparahan akne dan dampak negatif yang ditimbulkan (skar permanen dan penurunan rasa percaya diri).
Penyuluhan Pengaruh Minyak Jelantah dan Pelatihan Pemeriksaan Kadar Kimia Darah di Desa Keutapang, Syamtalira Aron Z, Khairunnisa; Mellaratna, Wizar Putri; Sofia, Rizka; Rahmayani, Sarah; Vidella, Eva; Verza, Meuthia
Auxilium : Jurnal Pengabdian Kesehatan Auxilium : Jurnal Pengabdian Kesehatan - Januari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/auxilium.v2i1.13719

Abstract

Waste cooking oil is oil derived from plants such as corn oil, vegetable oil, and ghee which has been used as cooking oil and is usually reused for economic reasons. However, when viewed from its chemical composition, used cooking oil contains carcinogenic compounds which occurs during the frying process. The use of used cooking oil can disrupt the body's hemostasis, it can cause many disorders, can increase cholesterol, blood sugar, and uric acid, and can even damage organs. Knowledge about the effects of used cooking oil is expected to be able to change people's lifestyles so that they no longer use used cooking oil. Training on blood chemistry examinations related to cholesterol, uric acid, and blood sugar levels by Cadres in Keutapang Village can help the community and health workers in Keutapang Village as an initial screening to prevent systemic diseases. This activity aims to increase public knowledge regarding the influence of used cooking oil and cadres in Keutapang Village to be able to independently carry out blood chemistry checks for cholesterol, uric acid, and blood sugar levels.
Identification of the fungi causing onychomycosis to fish traders in the fish market Lhokseumawe city Pusong M.Raisya Kesha; Juwita Sahputri; Wizar Putri Mellaratna
Jurnal EduHealth Vol. 15 No. 01 (2024): Jurnal eduHealt, Edition January - March, 2024
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Onychomycosis is a disease caused by dermatophyte fungi, including Microsporum, Trichophyton and Epidermophyton, apart from that, there are also non-dermatophyte fungi, including Aspergillus sp., and Malessezia furfur. This study aims to identify dermatophyte and non-dermatophyte fungi in the toenails of fish traders at the Pusong Fish Market and identify factors that can increase the risk of fungal infections in the toenails of fish traders, such as sanitation conditions, personal hygiene, or other environmental factors. This research uses a descriptive method by taking nail samples from fish traders, then analyzing them using Sabouraud Dextrose Agar (SDA) culture media. The results of the study showed that 100% of the samples showed nail abnormalities, with the distribution of non-dermatophyte fungal infections reaching 63.2% consisting of 24 people and dermatophyte 36.8% consisting of 14 people. Based on risk factor analysis, it indicates that sanitation conditions and personal hygiene of fish traders play an important role in the spread of fungal infections. The conclusion of this research is that all fish traders at the Pusong market experienced nail disorders (Onychomycosis) due to being infected with dermatophyte and non-dermatophyte fungi with the most common type of fungus being Aspergillus Niger which is a non-dermatophyte fungal group.
Pitiriasis Versikolor Rahmi Safira; Wizar Putri Mellaratna
Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Vol. 2 No. 3 (2024): Juli : Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/termometer.v2i3.4077

Abstract

Pityriasis versicolor is an infectious disease that arises due to decreased immunity and is chronic. This disease is caused by the fungus Malassezia sp. which is characterized by hypopigmented or hyperpigmented macules, which can even be accompanied by erythematous and smooth scales. Infection occurs more often in areas with relatively higher temperatures and humidity. Pityriasis versicolor has a worldwide prevalence of up to 50% in tropical countries and 1.1% in cold climates. The incidence of pityriasis versicolor is the same in all races, but is more frequently seen in dark-skinned individuals due to changes in skin pigmentation. This case report describes a 10 year old girl who came with complaints of white spots appearing on her face for 8 months. The initial appearance of the spots is accompanied by itching when sweating. Dermatological examination revealed multiple hypopigmented macules of lenticular to nummular size with well-defined borders with fine scales. On examination with 20% KOH, grouped spores and short hyphae appear like spaghetti and meatballs. Clustered spores are a sign of colonization, while hyphae indicate infection. Pityriasis versicolor therapy consists of administering antifungals which can be done topically and systemically. Furthermore, patients are educated to always keep their skin dry, reduce activities that cause excessive sweating, and wear clothing that is not tight and absorbs sweat.
Drug Eruption: Laporan Kasus Lisna Agiara; Wizar Putri Mellaratna
Detector: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2023): Februari : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.667 KB)

Abstract

Drug eruption atau erupsi alergi obat merupakan bagian dari adverse drug eruption didefinisikan sebagai suatu respon terhadap obat yang dapat bersifat toksis, berbahaya, dan tidak diharapkan, dengan dosis normal yang digunakan sebagai profilaksis, diagnosis, dan terapi suatu penyakit. Angka kejadian erupsi alergi obat bervariasi antara 0% hingga 8%, dengan penyebab tersering yaitu antibiotik. Insidens erupsi obat alergi pada negara berkembang berkisar antara 1% hingga 3%. Artikel ini membahassuatu kasus pasien perempuan berusia 56 tahun datang dengan keluhan timbulnya bercak kemerahan disertai rasa gatal pada badan, tangan, dan kaki yang memberat sejak 1 minggu terakhir. Diketahui bahwa pasien sempat mengonsumsi antibiotik golongan penicillin (amoxicillin) untuk mengurangi keluhan batuk pilek yang sebelumnya dialami oleh pasien sekitar 1 bulan yang lalu. Pemeriksaan status generalis didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit sedang, kesadaran komposmentis, tanda-tanda vital dalam batas normal, dan pada wajah didapatkan pembengkakan (edeme). Status dermatologis didapatkan efloresensi primer berupa plak dan makula eritematosa (makulopapular) berbatas tidak tegas, disertai skuama kasar berwarna putih diatasnya. Pasien diterapi dengan pemberian kortikosteroid oral (dexamethasone), kortikosteroid topikal (desoximethasone), dan tambahan antihistamin oral (cetirizine). Pasien juga diedukasi untuk menghentikan konsumsi antibiotik yang dicurigai sebagai penyebab timbulnya keluhan pasien. Pasien menunjukkan perbaikan setelah 7 hari mendapatkan terapi.