Ita Riniatsih
Laboratorium Eksplorasi Dan Bioteknologi Kelautan Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Kampus Tembalang, Semarang, Indonesia. Telp./Fax +6224 7474698

Published : 102 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Masyarakat Terhadap Deteksi Dini Penyakit Deabetes Melitus dan Hipertensi Untung Sujianto; Ita Riniatsih
Jurnal Pengabdian Perawat Vol. 1 No. 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jpp.v1i1.1513

Abstract

Diabetes melitus dan hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang insidensinya semakin meningkat. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), terdapat 10.267.100 kasus diabetes di Indonesia pada tahun 2017. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan angka prevalensi hipertensi secara nasional (25,8%), jika dibanding hasil riskesdas tahun 2007 (31,7/1000) menunjukkan adanya penurunan angka prevalensi, namun hal ini tetap perlu di waspadai mengingat hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit degeneratif antara lain penyakit jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah lainnya. Upaya pengendalian faktor risiko PTM yang telah dilakukan berupa promosi Perilaku Bersih dan Sehat, deteksi dini, serta pengendalian masalah tembakau. Maka dari itu perlu diadakan adanya program peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini penyakit diabetes mellitus dan hipertensi bersama dengan mitra kerja KKN di Desa Kandeman, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang dengan cara melakukan pemeriksaan tekanan darah dan gula darah sewaktu. Penyakit diabetes melitus dan hipertensi erat kaitannya dengan pola makan. Pola makan masyarakat yang sering mengonsimsi makanan manis dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya diabetes melitus. Begitu pula dengan faktor risiko terjadinya hipertensi. Konsumsi makanan yang tinggi kadar garam jika tidak dikurangi sejak dini dapat menyebabkan hipertensi. Oleh sebab itu terdapat pada Pesan Gizi Seimbang (PGS) yaitu mengurangi asupan gula, minyak dan garam, sehingga dapat mencegah faktor risiko penyakit Diabetes Melitus dan Hipertensi. Berdasarkan hasil dari program kerja terkait dengan gizi pada penyakit hipertensi dan diabetes melitus yaitu pola makan masyarakat Desa Kandeman, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang dapat mempengaruhi faktor risiko terjadinya penyakit diabetes melitus dan hipertensi. Kesimpulan yang di dapat dari masyarakat terkait diet pada penyakit hipertensi yaitu masyarakat mengakui bahwa jika melakukan syarat - syarat diet sangat sulit dan ribet contohnya yaitu saat memasak makanan tidak dapat mengurangi kadar natrium yang digunakan sebelum masakan terasa asin dan gurih.
Kajian Jenis dan Bobot Sampah Makroplastik di Kawasan Padang Lamun Perairan Pulau Kelapa Dua Kepulauan Seribu Jakarta Muhamad Syahrul Ramadhani; Munasik Munasik; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.33932

Abstract

Sampah merupakan sesuatu yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas makhluk hidup dan tidak mempunyai nilai ekonomi. Sampah makroplastik merupakan sampah yang sulit atau tidak dapat terurai oleh mikroorganisme. Sampah dari daratan terbawa ombak ke laut menyebabkan pencemaran. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh sampah makroplastik terhadap kondisi padang lamun di perairan Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu, Jakarta. Materi penelitian yang digunakan yaitu sampah makro plastik yang diambil di perairan padang lamun dan air yang diambil di area padang lamun. Metode yang dilakukan yaitu persiapan, penentuan stasiun penelitian, pengambilan data, dan analisis data. Pengamatan sampah makroplastik di area padang lamun dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan dalam satu stasiun. Hasil penelitian menunjukan bahwa tipe pasang surut di lokasi pengamatan memiliki tipe pasang surut diurnal type. Data kecepatan arus berkisar antara 0,021-0,030 m/s dengan arah arus menuju barat daya, suhu antara 29,5-32,6 oC, kadar salinitas berkisar antara 24-28 o/oo, kadar BOT antara 11,152-35,81 mg/liter, kadar DO antara 5,56-6,25 ppm, dan tingkat kecerahan menunjukan 100% jernih hingga dasar. Berat sampah makroplastik yang ditemukan di seluruh stasiun pengamatan berkisar antara 0,075-2,19 Kg dengan rata – rata ukuran sebesar 8,2-15,6 cm. Persentase penutupan lamun total memiliki nilai 26,77 %, hal ini menunjukan kondisi padang lamun di perairan Pulau Kelapa Dua termasuk kedalam kategori sedang.  Garbage is generally something that is wasted or thrown away from the source of the activities of living things and has no economic value. Macroplastic waste is waste that is difficult or even impossible to decompose with the help of microorganisms. Garbage from the mainland will slowly be carried by the waves to the bottom of the ocean which can cause pollution to the ecosystem in the sea. This study aims to determine the effect of macroplastic waste on seagrass conditions in the waters of Kelapa Dua Island, Thousand Islands, Jakarta. The research material used consisted of macro plastic waste taken from seagrass beds, as well as water collected from seagrass beds. The method employed involved the preparation, maintenance of research steps, data collection, and data analysis. Observation of macroplastic waste in the seagrass area was carried out 3 times in one station. The results showed that the tidal type at the observation site had a diurnal tidal type. Current velocity data ranged from 0.021-0.030 m/s with the current direction towards the southwest, temperature between 29.5-32.6 oC, salinity levels ranging from 24-28 o/oo, BOT levels between 11,152-35.81 mg/liters, DO levels are between 5.56-6.25 ppm, and the brightness level shows 100% clear to basic. The weight of macroplastic waste found in all observation stations ranged from 0.075-2.19 Kg with an average size of 8.2-15.6 cm. The percentage of total seagrass cover has a value of 26.77%, this shows that the condition of seagrass beds in the waters of Kelapa Dua Island is included in the medium category.
Struktur Komunitas Lamun di Pulau Sintok, Menjangan Besar dan Kemujan, Karimunjawa Yasmin Noor; Ria Azizah Trinuraini; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.34101

Abstract

Taman Nasional Karimunjawa merupakan salah satu taman nasional yang memiliki kekayaan alam hayati yang sangat beranekaragam. Ekosistem padang lamun adalah salah satu ekosistem penting yang ada di laut dan memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan hidup biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, kerapatan lamun, persentase tutupan dan kualitas perairan di Pulau Sintok, Pulau Menjangan Besar dan Pelabuhan Legon Bajak. Pertumbuhan lamun sangat dipengaruhi oleh kualitas perairan disekitar ekosistem lamun. Perbedaan kualitas perairan diduga dapat mempengaruhi kondisi lamun di Pulau Sintok, Pulau Menjangan Besar dan Pelabuhan Legon Bajak. Metode pengamatan kondisi ekosistem lamun menggunakan metode line transek kuadrat. Metode analisis korelasi yang digunakan adalah analisis pearson correlation. Analisis hubungan kualitas perairan dengan kerapatan lamun di dapatkan nilai korelasi pada suhu sebesar -0.569, pada arus sebesar -0.216, pada kedalaman sebesar -0.706, pada pH sebesar -0.715, pada salinitas sebesar 0.715, pada nitrat  sebesar 0.136 dan pada fosfat sebesar 0.715. Berdasarkan hasil analisis variabel kedalaman, pH, salinitas, fosfat menunjukkan nilai korelasi yang kuat, variabel suhu menunjukan nilai korelasi yang cukup sedangkan variabel arus dan nitrat menunjukkan nilai korelasi lemah terhadap kerapatan lamun Karimunjawa National park are one of the national park which have a very diverse biological wealth. Seagrass ecosystem is one of the important ecosystems in the sea and has many benefits for the survival of marine life. This study aims to determine the species composition, seagrass density, cover percentage and  water quality in Sintok Island, Menjangan Besar Island and legon bajak harbor. The growth of seagrass is influenced strongly by the quality of the waters in the seagrass ecosystem. Differences in the quality of the waters are thought to affect the condition of seagrass on Sintok Island, Menjangan Besar Island and Legon Bajak Harbor. The method used to observe the condition of the seagrass ecosystem is seagrass-watch method. The correlation analysis method used is the regression analysis with correlation test. Analysis of the relationship of water quality with seagrass density indicated a correlation value at -0.569 temperature, at -0.216 current, at -0.706 depth, -0.715 pH, at 0.715 salinity, at 0.136nitrates, at 0.715phosphates. From this study, it can be concluded that the quality of the waters on Sintok Island, Menjangan Besar Island and Legon Bajak Harbor has a strong relationship in temperature, nitrate in water, nitrate phosphate in sediment, strong correlation relationship in current, medium correlation relationship at depth, pH, salinity, phosphate in water to seagrass density.
Composition and Density of Peryphyton on the leaves Thalassia hemprichii and Cymodocea rotundata at Panjang Island, Jepara Tarisa Sekar Ayuningrum; Munasik; Ita Riniatsih
ENVIBILITY: Journal of Environmental and Sustainability Studies Vol. 1 No. 1 (2023): March
Publisher : Prospect Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55381/envibility.v1i1.97

Abstract

Seagrass as a flowering plant (Angiosperms) that can live in the marine environment well. One type of seagrass whose presence is dominant in Indonesian waters is the species Thalassia hemprichii and Cymodocea rotundata. Periphyton is an organism that has a close relationship with seagrass and has a role in seagrass as an increase in primary productivity. The purpose of this study was to determine the genus composition and density of periphyton on seagrass leaves Thalassia hemprichii and Cymodocea rotundata on Panjang Island, Jepara. The method carried out is seagrass leaf field data collection using the purposive sampling method with squared line transects. Seagrass leaf samples were taken and periphyton identification observations were made in the laboratory and then data processing analysis. Periphyton results were obtained from 10 classes, 39 genera and 1 type of zooplankton. Seagrass leaf periphyton density in both species is highest in old leaves and lowest in medium seagrass leaves. The periphyton diversity index of two seagrass species belongs to the medium category, the uniformity index belongs to the high category, and the dominance index shows that no genus dominates. The index value can indicate that the waters in the environment are still in stable condition.
Komposisi Jenis dan Kelimpahan Perifiton Pada Daun Lamun Oceana serrulata di Perairan Pulau Panjang dan Pantai Prawean Bandengan, Jepara Islam, Anastasya Devi Septanovia; Suryono, Suryono; Riniatsih, Ita
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.38681

Abstract

Padang lamun merupakan ekosistem pesisir berfungsi sebagai tempat mencari makanan, berlindung, serta berkembang biak. Perifiton ditemukan melekat pada permukaan daun lamun, dapat menjadi faktor pendukung produktivitas primer tetapi dapat juga mengurangi cahaya yang masuk untuk fotosintesis, sehingga dapat mengurangi komposisi padang lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis perifiton dan kelimpahan perifiton pada lamun Oceana serrulata  di Pulau Panjang dan Pantai Prawean Bandengan, Jepara. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei. Penentuan lokasi sampling dilakukan dengan metode purposive sampling. Pendataan data kerapatan lamun dilakukan menggunakan  metode line transek kuadran. Preparasi sampel daun lamun dilakukan guna mengetahui komposisi perifiton menggunakan metode pengerikan menggunakan kuas dan diamati menggunakan mikroskop. Jenis perifiton yang ditemukan pada daun lamun Oceana serrulata terdiri dari 2 genus (Cyanophyceae) dan 11 genus (Bacillariophyceae). Nilai kelimpahan perifiton pada daun lamun Oceana serrulata di Pulau Panjang dan Pantai Prawean Bandengan adalah 5349,98 ind/cm2 dan 8357,37 ind/cm2. Keberadaan perifiton di Pulau Panjang lebih sedikit dibandingkan dengan Pantai Prawean Bandengan.  The seagras ecosystem are coastal ecosystems that function as places to find food, shelter, and breed. Periphyton was found attached to the surface of seagrass leaves, which can be supporting factor for primary productivity but can also reduce incoming light for photosynthesis, thereby reducing the composition of seagrass beds. This study aims to determine the composition of periphyton species and the abundance of periphyton in seagrass Oceana serrulata on Panjang Island and Prawean Bandengan Beach, Jepara. The research method was carried out using a survey method. Determination of sampling locations was determined using a purposive sampling method. Data collection on seagrass density was carried out using the quadrant transect method. Seagrass leaf sample preparation was carried out to determine the composition of periphyton using the scraping method using a brush and observed using a microscope. The types of periphyton found on the leaves of seagrass Oceana serrulata consist of 2 genera (Cyanophyceae) and 11 genera (Bacillariophyceae). Periphyton abundance values in leaves of seagrass Oceana serrulata on Panjang Island and Bandengan Prawean Beach were 5349.98 ind/cm2 and 8357.37 ind/cm2. The presence of periphyton on Panjang Island is less than on Prawean Bandengan Beach.
Asosiasi Megabenthos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang dan Pantai Prawean Bandengan, Jepara Saputri, Noviyani; Riniatsih, Ita; Widianingsih, Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.38410

Abstract

Megabenthos termasuk biota laut yang hidup dengan menetap diatas substrat maupun membenamkan diri dalam substrat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan kelimpahan jenis megabenthos pada ekosistem lamun di Perairan Pulau Panjang dan Perairan Pantai Prawean Bandengan. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi dan penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan data megabenthos dan lamun dilakukan di Perairan Pulau Panjang dan Perairan Pantai Prawean Bandengan secara purposive sampling dengan menggunakan metode line transect Panduan Monitoring Padang Lamun. Perairan Pulau Panjang ditemukan 11 jenis megabenthos dari 4 kelas (Bivalvia, Gastropoda, Holothuroidea, dan Echinoidea). Perairan Pantai Prawean Bandengan ditemukan 7 jenis dari 2 kelas (Bivalvia dan Gastropoda). Perairan Pulau Panjang mendapatkan kelimpahan total megabenthos sebesar 9,45-20,73 ind/m2 dengan kelimpahan jenis terbesar ditemukan pada Paphia undulata dan Diadema setosum dengan nilai 2,79 ind/m2, serta kelimpahan jenis terkecil ditemukan pada Canarium labiatum dengan nilai 0,61 ind/m2. Perairan Pantai Prawean Bandengan mendapatkan kelimpahan total megabenthos sebesar 5,45-11,39 ind/m2 dengan kelimpahan jenis terbesar ditemukan pada Cerithium traillii dengan nilai 3,15 ind/m2 dan kelimpahan jenis terkecil ditemukan pada Canarium labiatum dengan nilai 0,36 ind/m2. Tingginya kelimpahan megabenthos pada ekosistem lamun di Perairan Pulau Panjang dipengaruhi oleh jumlah megabenthos, parameter perairan, kandungan bahan organik, dan karakteristik substrat perairan.  Megabenthos includes marine biota that lives by staying on the substrate or immersing themselves in the substrate. This research was conducted with the aim of comparing the abundance of megabenthos species in seagrass ecosystems in Pulau Panjang and Prawean Bandengan waters. The research method used is observation and station determination using the purposive sampling method. Megabenthos and seagrass data were collected from Pulau Panjang and Prawean Bandengan waters using purposive sampling using the line transect method. Long Island waters found 11 species of megabenthos from 4 classes (Bivalvia, Gastropoda, Holothuroidea, and Echinoidea). Prawean Bandengan beach waters found 7 species from 2 classes (Bivalvia and Gastropods). Long Island waters had a total megabenthos abundance of 9.45–20.73 ind/m2, with the highest species abundance found in Paphia undulata and Diadema setosum with a value of 2.79 ind/m2, and the smallest species abundance found in Canarium labiatum with a value of 0.61 ind/m2. The waters of Prawean Bandengan Beach obtained a total megabenthos abundance of 5.45–11.39 ind/m2, with the largest species abundance found in Cerithium traillii with a value of 3.15 ind/m2 and the smallest species abundance found in Canarium labiatum with a value of 0.36 ind/m2. The high abundance of megabenthos in seagrass ecosystems in Pulau Panjang waters is influenced by the number of megabenthos, aquatic parameters, organic matter content, and characteristics of the aquatic substrate.
Seagrass Ecosystems in Eastern Indonesia: Status, Diversity, and Management Challenges Supriyadi, Indarto Happy; Iswari, Marindah Yulia; Rahmawati, Susi; Riniatsih, Ita; Suyarso, Suyarso; Hafizt, Muhammad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.29.4.503-518

Abstract

Seagrass beds have roles and benefits in shallow water ecosystems, including producers of organic matter, habitats for various marine biota, and providing services that are beneficial for the fishing community. However, increasing development activities in coastal areas, have decreased their valuable roles, which also affects damage in seagrass beds in Indonesian waters. Therefore, information on species diversity and seagrass conditions, especially in East Indonesian waters, is needed. This paper aims to provide information as the initial study of the distribution of species diversity, conditions of seagrass beds, and challenges of seagrass management in eastern Indonesia. This study collected primary and secondary data from several data sources from seagrass monitoring and research activities. The assessment of conditions and categories of seagrass cover refers to the Decree of the state minister for the Environment (KMN-LH) of 2004 No. 200 and the 2017 seagrass monitoring guidelines. As a result of 24 monitoring locations ten species were found indicating that Eastern Indonesia has high species diversity. The results at 24 locations can be categorized as healthy seagrass conditions in six locations (25%) and around 16 locations (67%) as less healthy. Monitoring results after 2015 are predicted to change the diversity and seagrass conditions. The challenges of seagrass management in Eastern Indonesian waters, including the coastal environment changes, need to increase public knowledge and understanding of the role, function, and benefits of seagrass. Also, replanting and enhancement of seagrass-protected areas are essentially needed by the local government.
Effect of Liquid Fertilizer on Seedling Enhalus acoroides Seeds (Linnaeus f.) Royle 1839 (Fam: Hydrocharitaceae) Chamidy, Ardian Nurrasyid; Widianingsih, Widianingsih; Munasik, Munasik; Riniatsih, Ita; Susanto, AB
Jurnal Kelautan Tropis Vol 27, No 1 (2024): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v27i1.21066

Abstract

The decrease in seagrass coverage and ecosystem harm to seagrass meadows is an annual occurrence resulting from both natural and human activities.  Seagrass seeding has been deemed an effective restoration method, but its application is restricted by suboptimal environmental conditions and constraints associated with directly planting seagrass seeds in their natural habitat. The influence of environmental parameters, particularly nutrients, significantly affect on seagrass seed survival. NPK liquid fertilizer is commonly used in aquatic plants and is readily accessible in the market. It serves as a crucial source of macronutrients for seagrass. This study investigates the impact of different concentrations of NPK liquid fertilizer on the survival rate, growth, and chlorophyll, a content of E. acoroides seedlings. The study took place between March and May 2023 at the marine biology laboratory of the marine science study program at Diponegoro University's Faculty of Fisheries and Marine Science. According to the Manova statistical test, the NPK liquid fertilizer had an impact on the growth rate, biomass, and chlorophyll-a. The seagrass seeding container of E. acoroides treated with a liquid fertilizer concentration of 4.5 ml/100l exhibited the highest average growth rate of 0.29 cm/day and a chlorophyll-a value of 12.395 mg/g, with a survival rate of 100%. Causal connections between statements ensure logical construction. In contrast, seedlings without liquid fertilizer treatment showed the lowest growth rate of 0.19 cm/day and chlorophyll-a values of 5.169 mg/g, with a survival rate of 85.19%. Technical term abbreviations such as 'cm/day' and 'mg/g' are explained when first used to ensure clarity. Based on these findings, using liquid fertilizer with a concentration of 4.5 ml/l exhibits potential for restoring seagrass ecosystems. 
Bioekologi Bulu Babi (Echinoidea) pada Ekosistem Padang Lamun Di Kecamatan Kupang Barat Klau, Fransiska Reni; Subagiyo, Subagiyo; Riniatsih, Ita
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 2 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i2.25627

Abstract

Sea urchins (Echinoidea) are one of the marine biota found in seagrass ecosystems in West Kupang District, East Nusa Tenggara. Sea urchins have an important role in the food chain cycle in seagrass ecosystems and are known as healthy food due to their high nutritional content. Sea urchin gonads contain protein, fat, vitamins and essential fatty acids, which are beneficial for human health. In addition to economic value, sea urchins also have ecological value in balancing and controlling macroalgae in coral reef and seagrass ecosystems. The aim of this research is to determine the bioecology of sea urchins in four research locations, namely Bolok, Lalendo, Baliana, and Tablolong beaches. The research method used was direct observation with Megabenthos and Benthos Belt Transect (BBT) techniques. The results showed that there were five types of sea urchins in the study site, namely Diadema setosum, Tripneustes gratilla, Echinometra calamaris, Echinothrix diadema, and Echinometra mathaei.   The results showed that the abundance of Diadema setosum individuals on Tablolong beach (0.46 ind/m²) while Tripneustes gratilla was dominant on Baliana beach (0.22 ind/m²). The highest species diversity index (D) was found in Lalendo (0,7) and the lowest in Tablolong (0,5), indicating moderate diversity. The uniformity index (E) was highest in Baliana (0.8) indicating a more even distribution of species than Tablolong (0.6), the dominance index (C) was highest in Lalendo (1.0), indicating a strong dominance of species at the site.   The highest Index of Gonadal Maturity (IKG) value for Diadema setosum was found in Tablolong (26.9), while Echinometra mathaei in Lalendo (68.6). The food consumption pattern of sea urchins showed that Tripneustes gratilla consumed more seagrass, especially at Baliana beach (82,08%), while Echinothrix diadema predominantly consumed seagrass at Lalendo and Baliana beaches.  Bulu babi (Echinoidea) merupakan salah satu biota laut yang banyak ditemukan pada ekosistem padang lamun di Kecamatan Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulu babi memiliki peran penting dalam siklus rantai makanan di ekosistem lamun dan dikenal sebagai makanan yang menyehatkan karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Gonad bulu babi mengandung protein, lemak, vitamin, dan asam lemak esensial, yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Selain nilai ekonomi, bulu babi juga memiliki nilai ekologi dalam menyeimbangkan dan mengendalikan makroalga di ekosistem terumbu karang dan lamun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bioekologi bulu babi di empat lokasi penelitian, yaitu pantai Bolok, Lalendo, Baliana, dan Tablolong. Metode penelitian yang digunakan adalah pengamatan langsung dengan teknik Megabentos dan Benthos Belt Transect (BBT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima jenis bulu babi di lokasi penelitian yaitu Diadema setosum, Tripneustes gratilla, Echinometra calamaris, Echinothrix diadema, dan Echinometra mathaei. Hasil menunjukkan bahwa  kelimpahan individu Diadema setosum terrtinggi di pantai Tablolong (0,46 ind/m²) sedangkan Tripneustes gratilla dominan di pantai Baliana (0,22 ind/m²). Indeks keanekaragaman jenis (D) tertinggi ditemukan di Lalendo (0,7) dan terendah di Tablolong (0,2), menunjukkan keanekaragaman sedang. Indeks keseragaman (E) tertinggi di Baliana (0,8) menandakan distribusi spesies lebih merata dibandingkan Tablolong (0,6), Indeks dominansi (C) tertinggi di Lalendo (1,0), menunjukkan dominasi spesies yang kuat di lokasi tersebut.   Nilai Indeks Kematangan Gonad (IKG) tertinggi untuk Diadema setosum ditemukan di Tablolong (26,9), sedangkan jenis Echinometra mathaei tertinggi di Lalendo (68,6). Pola konsumsi jenis makanan bulu babi menunjukkan bahwa Tripneustes gratilla lebih banyak mengonsumsi lamun, terutama di pantai Baliana (82,08%), sementara Echinothrix diadema lebih dominan mengonsumsi lamun di pantai Lalendo dan Baliana. 
Identifikasi Dan Kelimpahan Famili Acartiidae (Copepoda) Di Perairan Banggai, Sulawesi Tengah Fitriyan, Jodhi Kusumayudha; Widianingsih, Widianingsih; Widowati, Ita; Hartati, Retno; Riniatsih, Ita
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 2 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i2.26774

Abstract

Perairan Banggai merupakan salah satu laut yang memiliki upwelling atau fenomena kenaikan massa air pada periode tertentu. Peristiwa ini menyebabkan meningkatnya kandungan nutrien pada perairan disebabkan adanya proses pengadukkan massa air menuju kolom atas perairan yang mempengaruhi kelimpahan produsen primer dan produsen sekunder, salah satunya zooplankton dari Famili Acartiidae. Penelitian mengenai keberadaan dan kelimpahan spesies zooplankton belum banyak dilakukan di perairan bagian timur, terutama studi mengenai spesies-spesies dari Famili Acartiidae. Berdasarkan keterangan di atas, perlu adanya pengkajian keberadaan dan kelimpahan Acartiidae. Sampel zooplankton diperoleh dari proses pengambilan  di 35 stasiun secara aktif vertikal menggunakan plankton net. Pengamatan dan pengambilan foto spesies plankon dilakukan di bawah Mikroskop Stereo Olympus SZ61 yang disesuaikan dengan ukuran zooplankton dengan perbesaran 30x sampai 45x. Hasil pencacahan diolah menggunakan Ms. Office Excel 2016 (Excel 16) untuk mengetahui jumlah keberadaan dan kelimpahan Famili Acartiidae. Terdapat 7 spesies famili Acartiidae dari genus Acartia dan Acartiella yang didapatkan di Perairan Banggai, Sulawesi Tengah, yaitu Acartia clausi, Acartia longiremis, Acartiella faoensis, Acartiella gravelyi, Acartiella minor, Acartiella natalensis, dan Acartiella tortaniformis. Spesies dengan sebaran distribusi terbesar atau memiliki kemunculan terbanyak adalah dari genus Acartia dengan Acartia clausi muncul di 14 stasiun. Total keberadaan famili Acartiidae di Perairan Banggai sebanyak 41 individu, meliputi 35 betina dan 6 jantan dengan rata-rata di semua stasiun penelitian sebanyak 2 individu.
Co-Authors Adelia Hilma Sugiarto Adi Santoso Alfi Satriadi Alfi Satriadi Ali Djunaedi Almira Nadia Kusuma Ambariyanto Ambariyanto Amin Nur Kolis Rela Hidayah Anggada, Rama Anggun Sri Hardiyanti Antonius Budi Susanto Ardian Nurrasyid Chamidy Arum Wahyuning Prita Azizah T.N., Ria Baeti, Tiara Nur Baeti Bagaskara, Widigdo Bagus Bagus Apriana Putra Bambang Yulianto Baskoro Rochaddi Cantika Elistyowati Andanar Chamidy, Ardian Nurrasyid Chrismanola, Verena Chrisna Adhi Suryono Chrisna Adi Suryono Dedi . Dedi Setiawan Deftika Mulyawati Delianis Pringgenies Delianis Pringgenies Delianis Pringgenis Dewi, Septiyani Kusuma Dimpos Jonathan Sianipar Dinda Monita Dwi Haryanti Dwi Wulandari Dwi Wulandari Dyanita Havshyari Putri Andrykusuma Edy Supriyo Edy Wibowo Ega Widyatama Rachmawan ELza Lusia Agus Endang Sri Susilo Endika Meirawati Ervia Yudiati Faishal Falah Falah, Faishal Farsya Sriazka Ramadhani Febriyantoro Febriyantoro Firil, Nis Aura Sadida Fitriyan, Jodhi Kusumayudha Gita Lestari Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Hadi Endrawati Hadi Endrawati Hafizt, Muhammad Hartati, Retno Hartati Hayati, Amaliya Tsiqotul Hendra Kurniawan Hidayah, Amin Nur Kolis Rela Hira, Khansa Yatita Huda, Juan Syamsul Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Ilman Fari Muhammad Islam, Anastasya Devi Septanovia Iswari, Marindah Yulia Ita Widowati Jan Ericson Wismar Josua Kristanto Pandiangan Juan Syamsul Huda Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Ken Asti Harimbi Khansa Yatita Hira Khozin Khozin Khudin, Miftah Kiki Pebli Ningrum Klau, Fransiska Reni Kusuma, Almira Nadia Lestari, Gita Lilik Maslukah Marthin Ricky Sipayung Melinda Sri Asih Miftah Khudin Monica Virgiana Silvi Monita, Dinda Muhamad Syahrul Ramadhani Muhammad Adhim Widiyo Putera Muhammad Adi Saputro Muhammad Adi Saputro Muhammad Dhiaulhaq Fakhruddin Nashih Muhammad Raihan Faqiha Bintang Azzura Muhammad Taufiqur Rahman Muhammad Taufiqur Rahman, Muhammad Taufiqur Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Mulyawati, Deftika Munasik Munasik Munasik Nando Arta Gusti Pamungkas Nashih, Muhammad Dhiaulhaq Fakhruddin Ningrum, Kiki Pebli Nirwani Soenardjo Nirwani Soenardjo Nis Aura Sadida Firil Nur Ikhsan Setiawan Jody Nur Taufiq-Spj Nursanti Nursanti Nursanti Nursanti Ocky Karna Radjasa Pangga, R. M. Dio Dwi Pratiwi Megah Sundari Putera, Muhammad Adhim Widiyo Putra, Rio Adista Widodo R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rachmaneta Novitasari Rachmantino Wibowo Rachmawan, Ega Widyatama Raden Ario Rafdi Abdillah Harjuna Rama Anggada Raynazza Anditra Khawarizmi Retno Hartati Revina Pramudia Lestari Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizah Trinuraini Riana Mentarijuita Riana Mentarijuita Rifandi Septiadi Ompusunggu Rini Pramesti Rio Adista Widodo Putra Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Rr. Citra Permata Rr. Citra Permata Rudhi Pribadi Ryandha Idris Ryandha Idris Sabna Suryaningtias Salsabila Nur Nilamsari Saputri, Noviyani Sasi Vita Aphrodita Septiyani Kusuma Dewi Sifra Ann Hanania Sarumaha Speranda Speranda Sri Redjeki Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subiakto, Achmad Yusuf Sudarmawan, Wisnu Satriyo Sugiarto, Adelia Hilma Sunaryo Sunaryo Supriyadi, Indarto Happy Suryono Suryono Susi Rahmawati Suyarso Suyarso Syafitri Indah Febryana Tarisa Sekar Ayuningrum Tasa Hibatul Taufiq-Spj, Nur Tiara Finishia Tiara Finishia, Tiara Tiara Nur Baeti Baeti Untung Sujianto Verena Chrismanola W.L. Saputra Wibowo, Rachmantino Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widigdo Bagus Bagaskara Wilis Ari Setyati Wisnu Satriyo Sudarmawan Yasmin Noor Yundari, Yundari Zaenal Arifin Zulfikar Zulfikar