Ita Riniatsih
Laboratorium Eksplorasi Dan Bioteknologi Kelautan Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Kampus Tembalang, Semarang, Indonesia. Telp./Fax +6224 7474698

Published : 102 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Kesehatan Ekosistem Lamun di Pantai Kartini, Pantai Prawean, dan Pantai Semat Jepara Salsabila Nur Nilamsari; Ita Riniatsih; Rini Pramesti
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.42823

Abstract

Ekosistem lamun berperan penting sebagai peredam gelombang, perangkap sedimen, produsen primer, bahan obat, habitat dan tempat memijah biota di perairan. Kondisi ekosistem diperairan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain dampak masukan sedimen dan nutrien dari daratan dan aktivitas manusia. Perubahan kondisi perairan akan berpengaruh terhadap kesehatan ekosistem lamun. Penilaian Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun (IKEL) diperlukan untuk menggambarkan perubahan kondisi kesehatan ekosistem lamun di perairan. Penilaian ini penting diketahui sebagai langkah awal upaya konservasi berdasarkan kondisi ekosistem lamun apakah mengalami peningkatan maupun penurunan. Hasil penilaian tersebut digunakan untuk mengetahui tindakan yang dilakukan dalam menjaga kelestarian ekosistem lamun. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui perbandingan nilai IKEL di Pantai Kartini, Pantai Prawean, dan Pantai Semat Kabupaten Jepara. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif exploratif dan transek garis digunakan dalam pengambilan sampel. Parameter yang diamati meliputi keanekaragaman jenis dan tutupan lamun, tutupan makroalga, tutupan epifit, serta kecerahan perairan. Jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian yaitu Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Oceana serrulata, dan Thalassia hemprichii. Nilai IKEL yang diperoleh di Pantai Kartini sebesar 0,52, Pantai Semat sebesar 0,41 yang termasuk dalam kategori buruk dan Pantai Prawean sebesar 0,63 dengan kategori sedang. Jenis aktivitas yang berpengaruh terhadap nilai IKEL di lokasi penelitian meliputi kegiatan dermaga, pemukiman warga, kegiatan wisata, dan nelayan. Seagrass ecosystems have important roles as wave absorbers, sediment traps, primary producers, medicinal materials, habitats and spawning grounds for aquatic biota. The condition of seagrass ecosystems in the waters is influenced by many factors, including the impact of sediment and nutrient inputs from land and human activities. Changes in water conditions will affect the health of seagrass ecosystems. Therefore, an assessment of the Seagrass Ecological Quality Index (SEQI) is needed to describe changes in the health condition of seagrass ecosystems in the waters. The assessment is important to know as the first step of conservation efforts for monitoring based on the condition of the seagrass ecosystem whether it has increased or decreased. Thus, the value is used to determine the actions that must be taken in preserving the seagrass ecosystem. The purpose of this study was to determine the comparison of SEQI values at Kartini Beach, Prawean Beach, and Semat Beach, Jepara Regency. The data collection method used was a line transect conducted at three stations. Parameters observed include seagrass species diversity, seagrass cover, macroalgae cover, epiphyte cover, and water brightness.Seagrass species found in the research location are Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Oceana serrulata, and Thalassia hemprichii. The SEQI value obtained is Kartini Beach at 0.52 and Semat Beach at 0.41 with a poor category and Prawean Beach at 0.63 with a moderate category. Activities that affect the SEQI value at the research location include dock activities, residential areas, tourism activities, and fishermen.
Hubungan Jenis Lamun dengan Jenis Sedimen di Perairan Prawehan dan Pantai Marina, Jepara, Jawa Tengah Nur Ikhsan Setiawan Jody; Ita Riniatsih; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49327

Abstract

Padang lamun di ekosistem perairan dangkal memiliki beberapa fungsi penting, yaitu sebagai produsen primer, tempat tinggal bagi berbagai biota, menstabilkan dasar perairan, penangkap sedimen, dan pendaur zat hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan  jenis lamun dan substrat dasar di Pantai Prawehan dan Pantai Marina, Jepara, Jawa Tengah. Data  komposisi jenis dan persentase tutupan lamun dikumpulkan dengan metode line transect quadrat yang panjangnya 100 m pada jarak antara transek satu sama lainnya 50 m dengan pengulangan sebanyak 11 kuadran di satu line transect. Sementara itu, dilakukan analisis laboratorium untuk mengetahui nitrat dan fosfat menggunakan metode spektrofotometri, sedangkan bahan organik menggunakan metode pengabuan dan substrat dasar menggunakan analisis granolometri. Hasil menunjukkan di Pantai Prawehan rata-rata jumlah tutupan lamun sebesar 74,21% ± 14,12%; nitrat, fosfat, dan bahan organik tinggi dengan substrat dasar berjenis pasir. Sementara iitu, di Pantai Marina memiliki rata-rata jumlah tutupan lamun sebesar 56,26% ± 3,47%; nitrat, fosfat, dan bahan organik yang tinggi dengan substrat dasar berjenis pasir kasar. Hasil PCA menunjukan bahwa  Oceana  serrulata dan Cymodocea rotundata berkorelasi positif dengan lumpur dan nitrat. Thalassia hemprichii berkorelasi positif dengan bahan organik, tutupan, fosfat,pasir dan salinitas. Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium dan Enhalus acoroides. 
Pemanfaatan Citra Sentinel-2 Untuk Pemetaan Sebaran Padang Lamun Di Perairan Pulau Panjang, Jepara Juan Syamsul Huda; Ibnu Pratikto; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.36212

Abstract

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup diperairan dangkal dengan pengaruh sinar matahari. Ekosistem padang lamun memiliki fungsi penting seperti produktivitas primer, sumber makanan, penstabil perairan, tempat asuhan dan habitat biota laut. Ekosistem lamun menjadi ekosistem penting sehingga sebarannya di perairan perlu dikaji. Sebaran lamun yang yang terdapat di Pulau Panjang tersebut harus dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Pemantauan untuk melihat kondisi atau tutupan lamun dapat menggunakan metode penginderaan jauh. Metode penginderaan jauh telah dinilai efektif dan efisien untuk memperoleh informasi spasial karena kecepatan untuk memperoleh data dan cakupan yang luas dan telah menjadi pelengkap metode konvensional atau berdasarkan transek survei. Lokasi penelitian yaitu di Pulau Panjang perlu adanya kajian untuk memberikan informasi mengenai sebaran lamun dengan dilakukannya pemetaan menggunakan data citra Sentinel- 2. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan monitoring dan memetakan ekosistem padang lamun di Pulau Panjang menggunakan metode line transek sehingga dapat mengetahui komposisi lamun dan kerapatan lamun. Pengolahan data spasial menggunakan citra Sentinel- 2 yang diolah dengan algoritma lyzenga dan validasi data lapangan. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa di Pulau Panjang telah ditemukan empat jenis lamun dengan komposisi lamun yang paling banyak dijumpai adalah Thalassia hemprichii dan paling jarang dijumpai adalah Enhalus acoroides. Uji akurasi juga dilakukan untuk mengetahui keakuratan data hasil klasifikasi citra satelit dengan kondisi lapangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa citra yang digunakan memilki tingkat akurasi 70% dan akurasi kappa sebesar 0,4. Seagrass is a flowering plant that lives in shallow waters under the influence of sunlight. Seagrass ecosystems have important functions such as primary productivity, food sources, water stabilizers, nurseries and habitats for marine biota. Seagrass ecosystems are important ecosystems so that their distribution in waters needs to be studied. The distribution of seagrass in Panjang Island must be managed properly so that it can be utilized optimally and sustainably. Monitoring to see the condition or cover of seagrass can use remote sensing methods. Remote sensing methods have been assessed as effective and efficient for obtaining spatial information due to the speed to obtain data and wide coverage and have become complementary to conventional methods or based on survey transects. The research location is on Panjang Island, there needs to be a study to provide information about the distribution of seagrass by mapping using Sentinel-2 image data. seagrass. Spatial data processing uses Sentinel-2 imagery which is processed with the lyzenga algorithm and field data validation. Based on the research, it is known that in Panjang Island four species of seagrass have been found with the composition of the most common seagrass being Thalassia hemprichii and the least common being Enhalus acoroides. Accuracy tests were also carried out to determine the accuracy of the data from the classification of satellite imagery with field conditions. Based on the results of the study, it can be concluded that the image used has an accuracy rate of 70% and a kappa accuracy of 0.4. 
Komposisi dan Struktur Vegetasi Lamun di Pantai Prawean dan Pantai Marina, Kabupaten Jepara Sifra Ann Hanania Sarumaha; Ita Riniatsih; Widianingsih Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49127

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem utama di wilayah pesisir yang berperan penting bagi biota laut dan keseimbangan lingkungan perairan.  Namun, saat ini kondisi ekosistem lamun mengalami penurunan luasan akibat adanya pengaruh dari aktivitas manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi vegetasi lamun secara ekologis, mencakup komposisi jenis lamun, kerapatan dan penutupan vegetasi lamun, serta kondisi lingkungan perairan. Metode penelitian yang digunakan dalam penentuan lokasi adalah purposive sampling, dengan menetapkan dua stasiun.  Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode line transect dan transek kuadran 50x50 cm yang mengacu pada buku Panduan Monitoring Padang Lamun dari LIPI. Hasil penelitian di kedua lokasi ditemukan enam jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Oceana serrulata, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, dan Syringodium isoetifolium. Persentase tutupan lamun pada Pantai Prawean memiliki nilai 45,98% dan pada Pantai Marina 30,55% yang tergolong sedang. Kerapatan jenis bervariasi antara 34–634 ind/m², kerapatan tertinggi pada jenis Thalassia hemprichii dan kerapatan terendah pada jenis Syringodium isoetifolium. Pantai Prawean didominasi substrat pasir berlumpur dan Pantai Marina didominasi substrat pasir dan pecahan karang. Parameter perairan di kedua lokasi penelitian masih berada dalam kategori baik untuk keberlangsungan ekosistem lamun. 
Studi Kelimpahan Megabenthos di Padang Lamun Perairan Jepara Speranda Speranda; Ita Riniatsih; Rini Pramesti
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.43131

Abstract

Megabenthos adalah organisme berukuran lebih dari 1 cm yang tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan fungsi ekologis di padang lamun. Kelimpahan megabentos dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah presentase penutupan lamun, kondisi, dan substrat dasar perairan. Penelitian bertujuan untuk membandingkan kelimpahan jenis megabenthos pada Perairan Jepara, khususnya di perairan Pulau Panjang dan Pantai Prawean Bandengan. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan line transect quadrant. Kelimpahan jenis megabenthos (ind/m2) yang pada Perairan Pulau Panjang periode September 2023 mendapatkan hasil total kelimpahan megabenthos sebanyak 0,31-0,39 ind/m2 dengan kelimpahan terbesar adalah Cerithium traillii dan yang terkecil adalah Canarium labiathum. Kelimpahan megabenthos pada pantai Prawean Bandengan pada periode September 2023 memperoleh kelimpahan megabenthos dengan total 0,15 - 0,22 ind/m2 dengan kelimpahan terbesar pada Pantai Prawean Bandengan adalah Cerithium trailii dan yang terkecil adalah Anadara antiquata. Kelimpahan jenis megabenthos (ind/m2) yang berapa padang lamun pada Pantai Kartini periode September 2023 mendapatkan hasil kelimpahan megabenthos dengan kisaran total sebanyak 0,06-0,07 ind/m2 dengan kelimpahan megabenthos terbesar pada Pantai Kartini adalah Trochus maculatus dan yang terkecil adalah Cerithium zonathum. Kelimpahan jenis tertinggi ditunjukkan oleh Pulau Panjang, diduga dipengaruhi oleh keanekaragaman megabenthos, presentase penutupan lamun, parameter/kondisi perairan, kandungan bahan organik, dan kondisi substrat perairan. Megabenthos is an organism with a size of more than 1 cm that grows and lives in seagrass ecosystem. This organism is often found in seagrass bed because of the ecological function provided by it. The abundance of megabenthos in seagrass beds is influenced by several factors. One of them is the percentage of seagrass cover and water conditions. Marine tourism activities in Jepara Regency, Central Java, including Panjang Island, Prawean Bandengan Beach, and Kartini Beach, influence the seagrass ecosystem. Jepara waters have vast expanses of seagrass beds with different characteristics and water conditions, especially in the waters of Panjang Island, Kartini Beach, and Bandengan Beach. The abundance of megabenthos types (ind/m2) in seagrass beds in Panjang Island waters, which was observed during the period September 2023, results in a total range of 0,31 ind/m2 and 0,39 ind/m2. The largest megabenthos abundance on Panjang Island is Cerithium trailii and the smallest is Canarium labiathum. The abundance of megabenthos on Prawean Bandengan beach in the September 2023 period indicates a total of 0,15 ind/m2 and 0,22 ind/m2. The largest megabenthos abundance on Prawean Bandengan Beach is Cerithium trailii and the smallest is Anadara antiquata. The abundance of megabenthos types (ind/m2) in seagrass beds on Kartini Beach for the period September 2023 indicates a total range of 0,06 ind/m2 and 0,07 ind/m2. The largest megabenthos abundance on Kartini Beach is Trochus maculatus and the smallest is Cerithium zonathum.
Kajian Kondisi Kesehatan Padang Lamun di Perairan Desa Wabula dan Desa Karya Jaya Kabupaten Buton Nis Aura Sadida Firil; Hadi Endrawati; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.42599

Abstract

Ekosistem lamun memiliki kontribusi dalam produktivitas perairan bagi keberlanjutan ekosistem perairan laut dangkal dan kelangsungan hidup biota laut di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan ekosistem lamun yang terdapat di perairan Desa Wabula dan Desa Karya Jaya, Kabupaten Buton. Metode penelitian yang digunakan adalah metode line transect pada kedua lokasi dengan masing-masing terdapat dua stasiun pengambilan data. Hasil penelitian ditemukan total 5 jenis lamun yang terdapat pada kedua lokasi penelitian, yaitu; Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, dan Syringodium isoetifolium. Persentase rata-rata penutupan lamun di Desa Wabula adalah 56,11% dan di Desa Karya Jaya adalah 27,77%. Komposisi jenis lamun tertinggi pada kedua lokasi penelitian adalah spesies Cymodocea rotundata dengan rata-rata kerapatan 616,4 ind/m2 di Desa Wabula dan 446,4 ind/m2 di desa Karya Jaya. Status kesehatan ekosistem padang lamun yang terdapat di perairan Desa Wabula memiliki kategori baik dengan nilai indeks kesehatan ekosistem lamun sebesar 0,78 dan perairan Desa Karya Jaya memiliki kategori sedang dengan nilai indeks kesehatan ekosistem lamun sebesar 0,68. Parameter hidro-oseanografi di kedua lokasi penelitian dapat mendukung pertumbuhan ekosistem lamun karena sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 perihal baku mutu perairan laut untuk ekosistem lamun.  Seagrass ecosystems contribute to aquatic productivity for the sustainability of shallow marine ecosystems and the survival of marine biota within them. This research aims to determine the health condition of the seagrass ecosystem in the waters of Wabula Village and Karya Jaya Village, Buton Regency. The research method used is the line transect method at both locations with two data collection stations each. The research results found a total of 5 types of seagrasses found in both research locations, namely, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, and Syringodium isoetifolium. The average percentage of seagrass cover in Wabula Village is 56.11% and in Karya Jaya Village it is 27.77%. The highest composition of seagrass species at both research locations was the Cymodocea rotundata species with an average density of 616.4 ind/m2 in Wabula Village and 446.4 ind/m2 in Karya Jaya village. The health status of the seagrass ecosystem in the waters of Wabula Village is in the good category with a seagrass ecosystem health index value of 0.78 and the waters of Karya Jaya Village are in the medium category with a seagrass ecosystem health index value of 0.68. Hydro-oceanographic parameters at both research locations can support the growth of seagrass ecosystems because they are in accordance with Government Regulation Number 22 of 2021 concerning marine water quality standards for seagrass ecosystems.
Simpanan Karbon Pada Padang Lamun di Teluk Awur dan Pantai Prawean, Jepara, Jawa Tengah Rachmaneta Novitasari; Ita Riniatsih; Sri Redjeki
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.44788

Abstract

Perubahan iklim dapat diakibatkan oleh aktivitas manusia yang melepaskan karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar atmosfer di bumi. Hal ini menyebabkan pemanasan global yang berdampak pada peningkatan suhu air laut. Upaya mengurangi perubahan iklim dapat dilakukan dengan melindungi ekosistem lamun yang dapat menyerap karbon dalam jumlah besar dari atmosfer dan mengangkut serta menyimpannya dalam jaringan dan sedimen dalam jangka waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan kerapatan lamun, persentase tutupan lamun, dan nilai biomassa dan estimasi simpanan karbon yang terdapat pada jaringan lamun (daun, rhizoma, dan akar) yang ada di Perairan Teluk Awur dan Pantai Prawean, Jepara. Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi ialah metode purposive sampling yang mempertimbangkan distribusi jenis lamun pada tiap stasiunnya. Sedangkan pengambilan data dilakukan menggunakan metode line transect quadrant, yang mengacu pada buku Panduan Monitoring Padang Lamun LIPI. Nilai kandungan karbon pada lamun diperoleh melalui metode LOI (Loss of Ignition). Jenis lamun yang ditemukan pada lokasi penelitian di Teluk Awur terdapat 2 jenis yaitu Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii. Lamun yang terdapat Pantai Prawean terdapat 5 jenis yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Oceana serrulata dan Halodule uninervis. Nilai estimasi kandungan karbon diatas substrat pada lokasi Teluk Awur yaitu 12,19-205,16 gC/m2 dan pada lokasi Pantai Prawean yaitu 5,35-129,26 gC/m2. Nilai estimasi kandungan karbon dibawah substrat pada Teluk Awur adalah 21,90-243,18 gC/m2 dan pada Prawean yaitu 4,72-38,21 gC/m2.
Kelimpahan Megabenthos yang Berkaitan dengan Karakteristik Substrat di Ekosistem Padang Lamun Perairan Jepara Syafitri Indah Febryana; Ita Riniatsih; Munasik Munasik
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.42802

Abstract

Megabenthos menjadi salah satu kelompok biota laut yang berasosiasi dengan ekosistem padang lamun serta memiliki peran penting dalam pemanfaatan bahan organik di substrat perairan. Megabenthos hidup menetap di substrat dasar ekosistem padang lamun sehingga karakteristik substrat dan kandungan nutrient di dalamnya memengaruhi  keberadaan dan kelimpahan megabenthos yang berasosiasi di ekosistem padang lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan megabenthos di ekosistem padang lamun dan keterkaitannya terhadap karakteristik substrat dan parameter lingkungan pada Perairan Pantai Blebak, Pantai Semat, dan Pantai Ujung Piring, Jepara. Penelitian ini dilakukan dengan penentuan stasiun pengambilan data secara purposive sampling. Pengambilan data lamun dan megabenthos menggunakan metode line transect dan analisis data kelimpahan terhadap faktornya menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Hasil pengamatan menunjukkan ditemukannya 27 spesies megabenthos dari filum Gastropoda, Bivalvia, Asteroidea, dan Holothuroidea pada ketiga lokasi pengamatan. Kelimpahan megabenthos Perairan Pantai Blebak dengan substrat dasar pasir halus, Pantai Semat dengan substrat pasir kasar berlumpur, dan Ujung Piring dengan substrat pasir sangat halus diperoleh dari yang terendah sebesar 0,10 ind/m2, 0,113 ind/m2, dan 0,13 ind/m2. Kelimpahan megabenthos dicirikan oleh faktor persentase tutupan lamun, karakteristik substrat, bahan organik, dan parameter fisika kimia perairan.
Hubungan Kondisi Padang Lamun dengan Persentase Tutupan Mikroalga Epifit di Ekosistem Padang Lamun Pantai Prawean Bandengan dan Semat, Jepara Muhammad Taufiqur Rahman; Ita Riniatsih; Wilis Ari Setyati
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.42594

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu komponen paling penting di wilayah pesisir laut. Fungsi lamun berkaitan dengan bioekologi dari interaksi makhluk hidup yang tinggal di wilayah ekosistem tersebut dengan lingkungannya. Komponen makhluk hidup dalam ekosistem lamun salah satunya mikroalga epifit. Epifit menempel pada substrat atau lamun itu sendiri dan menjadi bioindikator kualitas perairan. Tidak selalu memiliki dampak baik, epifit juga terkadang memiliki dampak buruk bagi ekosistem padang lamun dengan jumlah tertentu yang dapat menurunkan produktivitas lamun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persentase mikroalga epifit ekosistem padang lamun yang berada di Pantai Prawean Bandengan dan Pantai Semat, Jepara. Data yang dikumpulkan berupa data penutupan dan kerapatan lamun dengan metode line transect quadrat, data persentase tutupan epifit yang mengacu pada metode seagrass watch, data parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, kecepatan arus, kecerahan), dan data konsentrasi nutrien (nitrat dan fosfat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis lamun lebih banyak di Pantai Prawean Bandengan (Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Oceana serrulata, Halodule uninervis, Halophila ovalis). Penutupan padang lamun paling tinggi juga terdapat di Pantai Prawean Bandengan dengan nilai rata-rata 39,87% sedangkan pada Pantai Semat memiliki persentase sebanyak 26,94%. Data persentase tutupan epifit tertinggi pada Pantai Semat dengan nilai 27,17% disusul oleh Pantai Prawean Bandengan dengan nilai 25,25%. Hal ini menunjukkan bahwa kategori padang lamun tergolong sedang. Substrat pada Pantai Prawean Bandengan berjenis fine sand sedangkan pada Pantai Semat berjenis gravel. Data menyimpulkan bahwa ekosistem padang lamun baik di Pantai Prawean Bandengan maupun Pantai Semat memiliki kondisi sedang.   Seagrass ecosystems are one of the most important components in coastal marine areas. The function of seagrasses is related to the bioecology of the interaction of living things that live in the ecosystem area with their environment. One of the components of living things in seagrass ecosystems is epiphytic microalgae. Epiphytes attach to the substrate or seagrass itself and become bioindicators of water quality. Not always having a good impact, epiphytes also sometimes have a bad impact on seagrass ecosystems with certain amounts that can reduce seagrass productivity. This study was conducted to determine the percentage of epiphytic microalgae in seagrass ecosystems in Prawean Bandengan Beach and Semat Beach, Jepara, East Java, Indonesia. The data were collected by counting the seagrass closure, seagrass density measure using line transect quadrat method, epiphyte cover percentage data referring to seagrass watch method, water quality parameter data (temperature, salinity, pH, current speed, brightness), and nutrient concentration data (nitrate and phosphate). The results showed that seagrass species composition was more abundant at Prawean Bandengan Beach (Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Oceana serrulata, Halodule uninervis, Halophila ovalis). The highest seagrass cover was also found in Prawean Bandengan Beach with an average value of 39.87% while Semat Beach had a percentage of 26.94%. Data on the percentage of epiphyte cover was highest at Semat Beach with a value of 27.17% followed by Prawean Bandengan Beach with a value of 25.25%. This shows that the seagrass category is classified as moderate. The substrate at Prawean Bandengan Beach is fine sand type while Semat Beach is gravel type. The data concludes that the seagrass ecosystem in both Prawean Bandengan Beach and Semat Beach has a moderate condition.
Kondisi Ekosistem Lamun Di Pantai Blebak, Ujung Piring, dan Semat, Kabupaten Jepara Sabna Suryaningtias; Ita Riniatsih; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.42799

Abstract

Hubungan antara lamun dengan lingkungannya yang menggambarkan karakteristik biodiversitas lamun, vegetasi asosiasi, dan kondisi ekosistemnya disebut sebagai bioekologi lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem lamun di Pantai Blebak, Ujung Piring, dan Semat, Kabupaten Jepara. Pengamatan dilakukan di 3 stasiun berbeda menggunakan metode line transect yang mengacu pada buku Panduan Monitoring Padang Lamun dari LIPI. Hasil penelitian ditemukan lamun sebanyak 5 jenis, yaitu Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Oceana serrulata, dan Halodule uninervis. Persentase penutupan lamun berkisar antara 16,62 – 32,91% dengan persentase tertinggi di Pantai Semat kategori penutupan sedang dan terendah di Pantai Blebak kategori penutupan jarang. Kerapatan lamun berkisar antara 48,12 – 116,48 ind/m2. Thalassia hemprichii memiliki kerapatan jenis lamun tertinggi dan kerapatan jenis terendah Oceana serrulata. Substrat di ketiga stasiun didominasi oleh pasir. Berdasarkan perhitungan nilai indeks ekologi lamun, Pantai Blebak dan Pantai Ujung Piring memiliki keanekaragaman sedang, keseragaman tinggi, dan tidak mendominasi, sedangkan Pantai Semat memiliki keanekaragaman sedang, keseragaman sedang, dan mendominasi. Perhitungan Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun (IKEL) yang meliputi variabel jumlah jenis lamun, persentase penutupan lamun, persentase penutupan makroalga, persentase penutupan epifit, dan kecerahan air menunjukkan bahwa di Pantai Blebak dan Pantai Ujung Piring berstatus buruk, sedangkan Pantai Semat berstatus sangat buruk. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Baku Mutu Air Laut untuk ekosistem lamun, secara keseluruhan nilai parameter perairan pada ekosistem lamun di ketiga stasiun penelitian masih tergolong baik bagi keberlangsungan ekosistem lamun. The relationship between the seagrass and its environment that describes the characteristics of the seagrass’s biodiversity, the vegetation associated, and the conditions of the ecosystem is called the bioecology of seagrass. This research aims to find out the condition of the seagrass ecosystem in Blebak, Ujung Piring, and Semat Beach, Jepara Regency. The observation consists of 3 stations using the line transect method referring to the book Seagrass Monitoring Guide from LIPI. The results found 5 species of seagrass, that is Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Oceana serrulata, and Halodule uninervis. The percentage of seagrass cover ranges between 16,62 – 32,91% with the highest in the Semat Beach of the medium category and the lowest in Blebak Beach of rare category. The density ranges from 48,12 – 116,48 ind/m2. Thalassia hemprichii has the highest species density and the lowest Oceana serrulata. The substrate in the 3 stations is dominated by the sand. The ecological index of Blebak Beach and Ujung Piring Beach has moderate diversity, high uniformity, and non-dominant, Semat Beach has moderate diversity, moderate uniformity, and dominant. According to Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 on quality standar of sea water for seagrass ecosystems, the overall value of the parameters of the water condition in seagrass ecosystem still belong to the ecological condition. 
Co-Authors Adelia Hilma Sugiarto Adi Santoso Alfi Satriadi Alfi Satriadi Ali Djunaedi Almira Nadia Kusuma Ambariyanto Ambariyanto Amin Nur Kolis Rela Hidayah Anggada, Rama Anggun Sri Hardiyanti Antonius Budi Susanto Ardian Nurrasyid Chamidy Arum Wahyuning Prita Azizah T.N., Ria Baeti, Tiara Nur Baeti Bagaskara, Widigdo Bagus Bagus Apriana Putra Bambang Yulianto Baskoro Rochaddi Cantika Elistyowati Andanar Chamidy, Ardian Nurrasyid Chrismanola, Verena Chrisna Adhi Suryono Chrisna Adi Suryono Dedi . Dedi Setiawan Deftika Mulyawati Delianis Pringgenies Delianis Pringgenies Delianis Pringgenis Dewi, Septiyani Kusuma Dimpos Jonathan Sianipar Dinda Monita Dwi Haryanti Dwi Wulandari Dwi Wulandari Dyanita Havshyari Putri Andrykusuma Edy Supriyo Edy Wibowo Ega Widyatama Rachmawan ELza Lusia Agus Endang Sri Susilo Endika Meirawati Ervia Yudiati Faishal Falah Falah, Faishal Farsya Sriazka Ramadhani Febriyantoro Febriyantoro Firil, Nis Aura Sadida Fitriyan, Jodhi Kusumayudha Gita Lestari Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Hadi Endrawati Hadi Endrawati Hafizt, Muhammad Hartati, Retno Hartati Hayati, Amaliya Tsiqotul Hendra Kurniawan Hidayah, Amin Nur Kolis Rela Hira, Khansa Yatita Huda, Juan Syamsul Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Ilman Fari Muhammad Islam, Anastasya Devi Septanovia Iswari, Marindah Yulia Ita Widowati Jan Ericson Wismar Josua Kristanto Pandiangan Juan Syamsul Huda Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Ken Asti Harimbi Khansa Yatita Hira Khozin Khozin Khudin, Miftah Kiki Pebli Ningrum Klau, Fransiska Reni Kusuma, Almira Nadia Lestari, Gita Lilik Maslukah Marthin Ricky Sipayung Melinda Sri Asih Miftah Khudin Monica Virgiana Silvi Monita, Dinda Muhamad Syahrul Ramadhani Muhammad Adhim Widiyo Putera Muhammad Adi Saputro Muhammad Adi Saputro Muhammad Dhiaulhaq Fakhruddin Nashih Muhammad Raihan Faqiha Bintang Azzura Muhammad Taufiqur Rahman Muhammad Taufiqur Rahman, Muhammad Taufiqur Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Mulyawati, Deftika Munasik Munasik Munasik Nando Arta Gusti Pamungkas Nashih, Muhammad Dhiaulhaq Fakhruddin Ningrum, Kiki Pebli Nirwani Soenardjo Nirwani Soenardjo Nis Aura Sadida Firil Nur Ikhsan Setiawan Jody Nur Taufiq-Spj Nursanti Nursanti Nursanti Nursanti Ocky Karna Radjasa Pangga, R. M. Dio Dwi Pratiwi Megah Sundari Putera, Muhammad Adhim Widiyo Putra, Rio Adista Widodo R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rachmaneta Novitasari Rachmantino Wibowo Rachmawan, Ega Widyatama Raden Ario Rafdi Abdillah Harjuna Rama Anggada Raynazza Anditra Khawarizmi Retno Hartati Revina Pramudia Lestari Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizah Trinuraini Riana Mentarijuita Riana Mentarijuita Rifandi Septiadi Ompusunggu Rini Pramesti Rio Adista Widodo Putra Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Rr. Citra Permata Rr. Citra Permata Rudhi Pribadi Ryandha Idris Ryandha Idris Sabna Suryaningtias Salsabila Nur Nilamsari Saputri, Noviyani Sasi Vita Aphrodita Septiyani Kusuma Dewi Sifra Ann Hanania Sarumaha Speranda Speranda Sri Redjeki Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subiakto, Achmad Yusuf Sudarmawan, Wisnu Satriyo Sugiarto, Adelia Hilma Sunaryo Sunaryo Supriyadi, Indarto Happy Suryono Suryono Susi Rahmawati Suyarso Suyarso Syafitri Indah Febryana Tarisa Sekar Ayuningrum Tasa Hibatul Taufiq-Spj, Nur Tiara Finishia Tiara Finishia, Tiara Tiara Nur Baeti Baeti Untung Sujianto Verena Chrismanola W.L. Saputra Wibowo, Rachmantino Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widigdo Bagus Bagaskara Wilis Ari Setyati Wisnu Satriyo Sudarmawan Yasmin Noor Yundari, Yundari Zaenal Arifin Zulfikar Zulfikar