Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Implementation of Telenursing on The Behavior of Type 2 Diabetic Foot Care Mutiudin, Ade Iwan; Jundiah, Siti; Intan Husnul Khatimah, Nur; Maryani, Yani; Aulia Putri, Natasya; Amara Davaina, Siti
HealthCare Nursing Journal Vol. 7 No. 1 (2025): HealthCare Nursing Journal
Publisher : Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35568/healthcare.v7i1.5753

Abstract

Diabetes is one of the health emergencies that require serious treatment. Diabetic foot complications have an impact on the quality of life and have the potential to threaten the lives of sufferers. Telenursing intervention programs have a lot of influence in improving health. However, there has been no research that proves that this method can have a positive impact on foot care behavior. The purpose of this study was to analyze the implementation of telenursing on foot care behavior. The research design used pre-experimental, with a one group pre-test - post-test design. 23 samples were obtained through purposive sampling techniques. The instrument used was Foot Self-Care (DFSQ-UMA). Data normality test using Shapiro - Wilk, and paired sample t-test. The results of the statistical test showed a p-value of 0.001 (p <0.05), which means that telenursing interventions are effective in improving foot care behavior. Telenursing programs need to be implemented in communities and various health facilities by involving families as an innovative solution for foot care education for diabetes mellitus patients.
Penguatan Pendidikan Hipertensi Sebagai Pencegahan Penyakit Tidak Menular di Desa Sinarjaya Garut Situmorang, Roganda; Mutiudin, Ade Iwan; Ulfah, Diana; Marlina, Yani; Jayanti, Tri Nur
Karya Kesehatan Siwalima Vol 3, No 2 (2024): September
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan, Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/kks.v3i2.1389

Abstract

Warga desa merupakan sasaran mendasar pemeliharaan kesehatan masyarakat Indonesia dalam target kesehatan nasional. Informasi ditemukan bahwa kajian situasi warga di wilayah Desa Sirnajaya tertinggi warganya banyak mengalami penyakit tidak menular salah satunya adalah hipertensi. Tujuan kegiatan ini adalah melaksanakan promosi dan preventif kesehatan tentang pemberian pendidikan kesehatan hipertensi pada warga di wilayah Desa Sirnajaya. Metode yang digunakan yaitu pemaparan materi, diskusi dan evaluasi kegiatan. Hasil dari pelaksanaan kegiatan ini terjadi peningkatan pengetahuan warga di wilayah Desa Sirnajaya tentang hipertensi dari kurang baik menjadi baik. Diperlukan sosialisasi secara berkala yang melibatkan banyak masyarakat dan kader serta warga diharapkan mengaplikasikannya dirumah dan melakukan penyebarluasan informasi terkait hipertensi.
Edukasi Kader tentang Perawatan Payudara dan Teknik Menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Cileunyi Kabupaten Bandung Diana Ulfah; Yani Marlina; Tri Nur Jayanti; Ade Iwan Mutiudin; Roganda Situmorang
Warta Pengabdian Andalas Vol 31 No 3 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.31.3.558-565.2024

Abstract

Breast milk is the best food for babies because it has benefits. Babies who are not exclusively breastfed have been more susceptible to infections compared to babies who are exclusively breastfed. However, the benefits of breast milk do not necessarily mean that all mothers are providing breast milk as recommended. This can be caused by problems during breastfeeding, such as sore nipples, tenderness, swelling, mastitis, and even breast abscess. Therefore, breast care and breastfeeding training must be carried out so mothers avoid breastfeeding problems. Educational activities in this activity were conducted at Posyandu Mulus Rahayu 22, attended by 14 cadres, and Posyandu Shofa 11 A, B, C by 11 cadres. Education is carried out using lectures, demonstrations, and question-and-answer methods, such as PowerPoint, leaflets, and teaching aids. Pre-tests and post-tests were carried out to evaluate participants. The evaluation results showed increased participants' knowledge from an average of 6.44 at the pre-test to 7.6 at the post-test. Education is an important step that needs to be taken to increase knowledge. It is hoped that cadres who have taken part in this activity can convey information to mothers around them so that they avoid breastfeeding problems.
Analisis Determinan Faktor Penyebab Kecemasan Pada Pasien Pra Operasi Elektif Hastuti, Emma Aprilia; Aristiawati, Sela; Mutiudin, Ade Iwan
Karya Kesehatan Siwalima Vol 4, No 1 (2025): Maret
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan, Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/kks.v4i1.1683

Abstract

Kecemasan praoperatif merupakan masalah umum pada pasien operasi elektif yang dapat memengaruhi kondisi psikologis, fisiologis, kebutuhan anestesi, hingga proses pemulihan pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan kecemasan praoperatif pada pasien operasi elektif. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan melibatkan 50 responden. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, sedangkan analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal berupa pekerjaan (p=0,011; r=0,356), riwayat operasi (p=0,003; r=0,416), keluhan fisik (p=0,042; r=0,289), pengetahuan (p=0,002; r=0,434), dan konsep diri (p=0,000; r=0,498) berhubungan signifikan dengan kecemasan praoperatif. Faktor eksternal yang berhubungan bermakna adalah jenis operasi (p=0,000; r=0,489) dan dukungan keluarga (p=0,018; r=0,334). Sementara itu, variabel usia (p=0,188) dan pendidikan (p=0,942) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa kecemasan praoperatif bersifat multifaktorial, dipengaruhi oleh kombinasi faktor personal, psikososial, dan prosedural. Pasien dengan pekerjaan aktif, belum pernah menjalani operasi, serta memiliki keluhan fisik cenderung lebih cemas, sedangkan pasien dengan pengetahuan baik, konsep diri positif, dan dukungan keluarga memadai cenderung lebih tenang. Dengan demikian, diperlukan upaya komprehensif melalui skrining rutin kecemasan, edukasi terstruktur, komunikasi terapeutik, dan keterlibatan keluarga sebagai bagian dari manajemen praoperatif. Intervensi yang terintegrasi diharapkan mampu menurunkan tingkat kecemasan sekaligus meningkatkan kualitas perawatan pasien operasi elektif.
PENGARUH DIGITAL REMINDER TERHADAP PERILAKU PERAWATAN KAKI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Ade Iwan Mutiudin; Baharudin Lutfi S; Ana Ikhsan Hidayatulloh; Arista Putri Agustin
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 14, No 2 (2023): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v14i2.1970

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah melebihi batas normal dan memiliki komplikasi neuropati. Neuropati diabetik dapat berdampak serius terhadap infeksi dan kematian jaringan di kaki, sehingga kaki perlu diamputasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi neuopatik tersebut adalah perawatan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh digital reminder terhadap perilaku perawatan kaki pada penderita diabetes tipe 2. Jenis penelitian ini yang digunakan adalah kuantitatif pre eksperimental dengan metode model one group pretest postest. Sampel sebanyak 16 orang yang diperoleh dengan didasarkan pada rumus Federer. Hasil penelitian didapatkan perilaku perawatan kaki sebelum diberikan intervensi digital reminder dengan hasil nilai rata rata mean pre 33.12 dan mengalami peningkatan setelah dilakukan intervensi digital reminder dengan hasil nilai rata-rata mean post 64.12. Hasil analisis didapatkan terdapat pengaruh yang signifikan intervensi digital reminder terhadap perilaku perawatan kaki dengan nilai p value 0,000. Digital reminder menjadi salah satu solusi untuk memberikan pesan pengingat kepada penderita DM sehingga perilaku perawatan kaki diabetes dapat meningkat lebih baik.  
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERILAKU PERAWATAN KAKI PADA PENDERITA DIABETES TIPE 2 Ade Iwan Mutiudin; Hilman Mulyana; Deni Wahyudi; Edi Gusdiana
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 13, No 2 (2022): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v13i2.1531

Abstract

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah melebihi normal yang memiliki komplikasi seperti neuropati. Komplikasi neuropati diabetik diabetik dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius seperti infeksi dan kematian jaringan di kaki, sehingga kaki perlu diamputasi, Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi neuopatik tersebut adalah perawatan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efikasi diri dan dukungan keluarga terhadap perilaku perawatan kaki pada penderita diabetes tipe 2. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan metode analitik dan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 97 orang yang diperoleh dengan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan mneggunakan kuesioner kemudian dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil penelitian didapatkan efikasi diri pada penderita diabetes tipe 2 termasuk tinggi (53.6%). Dukungan keluarga termasuk baik (55.7%) dan perilaku perawatan kaki termasuk baik (59.8%). Terdapat hubungan efikasi diri dengan perilaku perawatan kaki (p value 0,000) dan terdapat hubungan dukungan keluarga dengan perilaku perawatan kaki (p value 0,002). Oleh karen itu perawat disarankan meningkatkan asuhan keperawatan pada penderita DM dan keluarga dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kaki.
Dukungan Keluarga Pada Anggota Keluarga Anak Stunting dan TB-MDR Mulyana, Hilman; Mutiudin, Ade Iwan; Hidayatulloh, Ana Ikhsan; Mulyana, Asep; S, Baharudin Lutfi; Darusman, Septiandi Eka; Rahmadiana, Asep; Wahyudi, Deni; Hilmawan, Rikky Gita; Rahmawati, Ai; Dewi, Heni Aguspita; Yani, Yani Sri; Sugiharti, Mamay; Hidayat, Fitriani Mardiana; Nurdianti, Reni; Nugraha, Budy
Karya Kesehatan Siwalima Vol 1, No 2 (2022): September
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan, Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/kks.v1i2.828

Abstract

Global Report melaporkan bahwa Indonesia termasuk 27 high burden TB-MDR countries, salah satunya terdapat di provinsi Jawa Barat sebanyak 28 pasien TBC kebal rifampisin pada tahun 2017. Terdapat 30 pasien TBC di kota Tasikmalaya yang tersebar di beberapa wilayah kerja Puskesmas di tahun 2018. Menariknya terdapat 16 orang dari 30 pasien tersebut memiliki anggota keluarga dengan kondisi anak stunting, serta di kota tasikmalaya terdapat 32% anak stunting yang cukup tinggi diatas standard yang ditetapkan WHO yaitu 20%. Kondisi demikian tentunya berpengaruh terhadap dukungan yang diberikan oleh keluarga kepada klien. Langkah pertama kegiatan dengan melibatkan mitra yaitu keluarga atau anggota keluarga yang memiliki anak dengan kondisi stunting dan anggota keluarga yang memiliki klien TBC, tahapannya meliputi  pra kegiatan, kedua survei lokasi, dan ketiga persiapan sarana dan prasarana. Langkah kedua pelaksanaan kegiatan, meliputi pre-test, pelaksanaan edukasi, dan diakhiri dengan post-test. Langkah ketiga evaluasi,  pengukuran pengetahuan mitra dengan cara membandingkan dan menganalisis hasil dari pre-test dan post-test. Terdapat peningkatan dukungan keluarga mitra setelah mendapatkan edukasi sebelum dan sesudah, meliputi emosional dari 68.7% menjadi 87.5%, informasi dari 62.5% menjadi 93.7%, instrumental dari 50% menjadi 81.2%, dan penilaian dari 56.2% menjadi 68.7%.  Terdapat peningkatan dukungan keluarga terutama pada dimensi emosional 18.8% dan dimensi informasional 31.2%, serta secara keseluruhan mitra sudah memberikan dukungan bersifat Favorable sebanyak 68.7%. Perlu adanya pengabdian kepada masyarakat lanjutan berupa peningkatan sikap ataupun perilaku yang berkelanjutan dari mitra sampai benar-benar menjadi kebiasaan yang positif.
Emotional Mental Health Among Adolescents: A Profiling Psychosocial Risk Distribution Hastuti, Emma Aprilia; Rudianty, Vena Annisa; Mutiudin, Ade Iwan; Deris Riandi Setiawan
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 12 No. 1 (2026): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v12i1.988

Abstract

Background: Adolescents are a vulnerable population to emotional and mental health problems due to rapid biological, psychological, and social changes. National surveys have reported increasing levels of anxiety, loneliness, and behavioral problems among adolescents; however, local evidence describing the distribution of adolescent emotional and mental health problems remains limited, particularly in school settings. Objective: This study aimed to describe the distribution and profile of emotional and mental health problems among adolescents based on school-based psychosocial screening in Bandung Regency, Indonesia. Methods: A descriptive quantitative study with a cross-sectional design was conducted involving 1,304 adolescents who participated in a school-based mental health screening program in 2025. Emotional and behavioral problems were assessed using the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), covering five domains: emotional symptoms, conduct problems, hyperactivity, peer relationship problems, and prosocial behavior. Data were analyzed descriptively using frequencies and percentages. Results: Most adolescents were classified as normal in the domains of emotional symptoms (67.9%), conduct problems (67.2%), hyperactivity (81.8%), and prosocial behavior (57.8%). However, a relatively high proportion of abnormal scores was observed in peer relationship problems (27.1%) and emotional symptoms (20.6%). Based on the total difficulties score, 3.4% of adolescents were categorized as abnormal, indicating the presence of a psychosocial risk burden within the adolescent population. These findings suggest that peer relationship difficulties and emotional problems constitute prominent areas of concern. Conclusion: This study provides a descriptive overview of emotional and mental health problems among adolescents identified through school-based psychosocial screening. The findings underscore the potential role of routine screening in supporting early identification of adolescents at risk of psychosocial difficulties. Further evaluative and longitudinal studies are needed to assess the effectiveness of screening programs and related interventions in improving adolescent mental health outcomes