Claim Missing Document
Check
Articles

RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI KOTA BITUNG: Biophilic Design Aldona A. Silain; Andy A. M. Malik; Leidy M. Rompas
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 3 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 3, Juli 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan pada ibu dan anak merupakan suatu hal yang mendasar dalam menciptakan keluarga yang sehat dan sejahtera. Anak-anak membutuhkan perawatan ekstra dalam layanan medis untuk anak-anak karena mereka adalah masa depan bangsa. Peningkatan pelayanan ini diperlukan agar setiap anak mendapatkan pelayanan mulai dari kelompok umur setelah balita dan berlanjut sampai usia 18 tahun. Diharapkan Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan ibu dengan menawarkan pelayanan dan kepedulian terhadap ibu yang ingin berkonsultasi tentang perencanaan program kehamilan, pemeriksaan selama kehamilan hingga persalinan, dan pelayanan kesehatan komprehensif untuk anak.Selain itu, mempermudah warga Kota Bitung untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif bagi ibu hamil dan anak. Rumah Sakit Ibu dan Anak akan bekerja untuk menyediakan layanan kesehatan yang berfokus pada aspek kenyamanan, ketenangan, dan kepercayaan diri untuk penyembuhan serta menawarkan penawaran layanan yang unggul kepada pasien yang mungkin tidak dapat disediakan oleh rumah sakit pemerintah. Ini dilakukan di bawah sistem kepemilikan rumah sakit swasta. Dengan memasukkan tema biofilik ke dalam desain rumah sakit ibu dan anak, akan memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis ibu dan anak selain fungsi bangunan. Lingkungan yang sehat dan ramah diperlukan untuk kondisi yang mendukung secara psikologis ini, karena dapat menciptakan pengaturan dan berdampak positif pada proses penyembuhan pasien. Kata Kunci: Rumah Sakit Ibu dan Anak, Biophilic Design
TONGKONAN MOUNTAIN RESORT DI TORAJA UTARA: Arsitektur Neo Vernakular: Aluk Todolo Anggreiny A. Palimbong; Frits O. P. Siregar; Leidy M. Rompas
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu sektor yang menjadi penopang ekonomi Indonesia adalah industri pariwisata. dimana sektor ini dapat memberikan pemasukan devisa dan menciptakan banyak lapangan kerja di Indonesia, sehingga sektor ini harus terus dikembangkan. Provinsi Sulawesi Selatan, utamanya di Toraja memiliki daya tarik dalam hal keindahan alam serta tradisi dan budaya setempatnya yang hingga kini masih terjaga keasliannya. Hal ini menarik banyak wisatawan untuk datang ke Toraja, dimana dengan banyaknya kunjungan wisatawan ini, maka permintaan akan akomodasi di Toraja terus mengalami peningkatan, Untuk memenuhi permintaan kebutuhan ini, maka dirancang sebuah resort yang dapat merepresentasikan budaya lokal Toraja dalam bangunan dan lingkungan sekitarnya. Resort yang dirancang terletak di Batutumonga, yaitu lokasi yang terkenal sebagai “Negeri Di Atas Awan” karena berlokasi di wilayah pegunungan di Toraja Utara. Tema yang digunakan dalam peracangan ini yaitu Arstiektur Neo Vernakular, sehingga bangunan resort yang dirancang menggunakan bentuk dasar rumah Tongkonan, rumah adat masyarakat Toraja yang dalamnya terdapat sangat banyak nilai-nilai dan makna hidup masyarakat Toraja, yang akan dimodifikasi menjadi lebih modern namun tetap merepresentasikan adat dan budaya Toraja didalamnya. Agar nilai-nilai dan makna hidup ini tidak hilang dari bangunan Tongkonan resort ini, maka dalam perancangannya didasarkan pada Aluk Todolo yaitu kepercayaan dan aturan yang mengatur setiap aspek kehidupan masyarakat Toraja yang telah ada dari zaman dulu yang sampai kini masih diwariskan secara turun temurun. Kata Kunci: Resort, Tongkonan, Neo Vernakular, Aluk Todolo
ANALISIS PENGEMBANGAN DAN FEASIBILITY KAWASAN WISATA MANADO TOURISM DEVELOPMENT CORPORATION DI PESISIR PANTAI KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA Tulung, Reyven; Lakat, Ricky M.S; Rompas, Leidy M.
SPASIAL Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan Undang-Undang No. 10 tahun 2009, pariwisata mencakup berbagai kegiatan wisata yang didukung oleh fasilitas dan layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Sektor pariwisata dianggap sebagai bagian pembangunan yang terus berkembang dan didorong oleh pemerintah. dari kekayaan dan keindahan alam serta keragaman hayati yang memiliki nilai konservasi sangat tinggi, serta kondisi ekonomi, sosial dan budaya yang khas, unik dan menarik, Manado Tourism Development sendiri berada di Kawasan Pesisir Pantai Kecamatan Tombariri yang didalamnya memiliki objek wisata Manado Beach Hotel (MBH), Tasik Ria Resort, Lotus Resort, Mokupa Resort, Pantai MBH, dan Pantai Tasik Ria Peran strategis dalam mendukung program pengembangan pariwisata yang tengah digalakkan oleh pemerintah Indonesia sangatlah signifikan. Namun, perlu dicatat bahwa kawasan pesisir pantai ini memiliki keistimewaan tersendiri akan tetapi untuk MBH resort sendiri merupakan objek wisata yang terbengkalai,oleh karena itu dalam pembangunan serta pengembangan pariwisata, perlu dilihat lagi agar bisa mengevaluasi dan mengetahui faktor faktor yang menghambat Kawasan pesisir pantai, dan terbengkalainya objek wisata MBH, pesisir pantai sendiri merupakan suatu kawasan pariwisata yang dikembangkan dengan harapan memenuhi kebutuhan pariwisata di kabupaten minahasa, dengan menggunakan teknik analisa data SWOT, Feasibility Study dan analisis Spasial Kata Kunci : MBH, SWOT, Feasibility Study
EDUPARTMENT DI KOTA MANADO: Arsitektur Biofilik Makienggung, Gabriel K. H.; Mononimbar, Windy J.; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 2 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 2, Mei 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan pendidikan di kota manado sudah semakin maju hal ini terlihat dari begitu banyak tempat perkuliahan yang banyak diminati oleh pelajar bukan saja dari dalam daerah, tetapi juga dari luar daerah yang datang studi di kota manado. Hanya saja kualitas rumah kost yang ada saat ini sebagai hunian bagi mahasiswa belum representatif dalam menunjang keseharian mahasiswa agar dapat produktif dan optimal dalam belajar. Melihat hal tersebut maka dirancanglah bangunan Edupartment di Kota Manado. Edupartment mengakomodir kebutuhan akan tempat tinggal bagi mahasiswa juga sebagai wadah dalam mengembangkan potensi mahasiswa dalam belajar sehingga dapat optimal dalam dunia akademis. Tema yang digunakan dalam perancangan ini yaitu arsitektur biofilik. Desain biofilik banyak melibatkan elemen ruang luar ke dalam bangunan sehingga pengaruh positif dari ruang luar dapat meningkatkan kesehatan penghuninya untuk dapat bekerja, belajar serta beraktifitas. Hasil dari perancangan ini yaitu desain arsitektural dengan implementasi desain biofilik yang mendukung produktifitas penghuninya dengan lingkungan yang sehat dan bangunan yang ramah lingkungan. Kata Kunci: Edupartment, Kota Manado, Arsitektur Biofilik
RECREATION CENTER DI MANADO (CULTURE AND ART EDUTAINMENT) Rauf, Stevani; Rengkung, Joseph; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.9179

Abstract

ABSTRAK Kota Manado merupakan ibu kota dari provinsi Sulawesi Utara pada saat ini memiiiki visi menjadi kota pariwisata dunia dengan mengandalkan potensi sumber daya alamnya. Dengan adanya program ini maka pemerintah melakukan peningkatan pembangunan di bidang pariwisata sehingga bidang pariwisata menjadi salah satu andalan perekonomian kota Manado. Tentunya hal ini membuat pembangunan di kota Manado meningkat dengan pesat, khususnya rekreasi. Apalagi dengan budaya yang berkembang pada masyarakat Manado yaitu bersenang-senang dan suka mencari rekreasi dan hiburan. Tempat rekreasi yang ada sekarang masih kurang memfasilitasi seluruh kegiatan rekreasi, karena lokasinya yang masih terpencar-pencar. Mengingat tempat-tempat bisnis rekreasi atau recreation yang ada diprediksi akan meningkat sangat tinggi, sehingga upaya pemberadaan tempat rekreasi menjadi perhatian utama. Peluang bisnis dalam bidang recreation ini perlu diantisipasi dengan menghadirkan wadah yang khusus bergerak dalam bidang pelayanan jasa rekreasi atau recreation yang terlokalisasi dalam satu kawasan dengan fasilitas-fasilitas pelayanan dan penunjang yang cukup lengkap sehingga dapat memudahkan konsumen untuk mendapatkan yang mereka butuhkan dalam satu tempat saja.Hal ini mendasari munculnya sebuah gagasan untuk merancang suatu recreation center (pusat rekreasi) di Manado yang dapat menjadi sarana rekreasi, tempat bersenang-senang sekaligus tempat bersosialisasi bagi masyarakat Manado. Kata kunci :Tourism sector, recreation center, relaxing.
GRAHA SENI RUPA DI MANADO (EKSPRESIONISME DALAM ARSITEKTUR) Sembiring, Ririn E. V.; Takumansang, Esli D.; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17089

Abstract

Kota Manado adalah ibukota dari Sulawesi Utara dan juga pintu gerbang dari Sulawesi Utara untuk wisatawan lokal maupun mancanegara. Kota Manado sangat kurang dengan kegiatan yang menyangkut seni rupa, sehingga dibutuhkannya wadah yang dapat memberikan fasilitas edukasi serta rekreasi secara bersamaan. Karena di Kota Manado sangat mudah tertarik dengan suatu kegiatan yang berbentuk rekreatif.Graha Seni Rupa adalah objek rancangan yang di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni rupa. Fasilitas yang disediakan di dalam adalah fasilitas untuk kegiatan edukasi, ekshibisi, rekreasi dan juga profisi (pemasaran).Tema Ekspresionisme dalam Arsitektur adalah tema yang menerapkan ciri dan nilai dari ekspresionisme ke dalam rancangan. Tema akan diterapkan pada tapak, bentuk, fasad, material, ruang dalam maupun ruang luar. Konsep yang diterapkan adalah cat yang terjatuh sehingga terlihat bercak-bercak yang menyebar. Sehingga menunjukkan pola-pola yang berbeda warna dan juga besar namun terlihat ekspresif dan menyatu. Kata Kunci : Kota Manado, Graha Seni Rupa, Ekspresionisme, Arsitektur
REDESAIN TERMINAL PENUMPANG INTERNASIONAL BANDARA SAM RATULANGI MANADO. Arsitektur Metabolisme Basalamah, Atikah; Tarore, Raymond C. H.; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17256

Abstract

Bandara Sam Ratulangi Manado merupakan sarana transportasi udara kelas 1B di Kota Manado yang telah melayani penerbangan skala internasional. Dengan adanya rencana penambahan rute penerbangan langsung ke 7 negara (untuk sementara jalur yang dibuka adalah Singapura, China (charter flight), Kuala Lumpur, dan Davao-Filipina masih direncanakan, Tiongkok yang dibuka pada akhir tahun 2016, dan Australia, Brunai Darussalam yang masih dalam proses perijinan), maka Terminal Internasional di dalam bandara perlu ditingkatkan kapasitas ruang serta fasilitas pendukung di dalam terminal karena kondisi ruang dan fasilitas yang ada sekarang kurang memadai untuk digunakan beberapa tahun mendatang saat rute penerbangan tersebut dibuka. Selain itu, pengembangan terminal internasional juga dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan para penumpang internasional dengan baik. Konsep perancangan terminal ini menerapkan tema “Arsitektur Metabolisme” dimana dalam penerapannya diambil dari ilmu biologi yaitu metabolisme tubuh manusia yang saling terhubung satu sama lain dan memberi keuntungan bagi masing-masingnya, namun jika salah satunya rusak, maka sistem tubuh tersebut akan terganggu. Dampak positif yang ditimbulkan dapat berupa : meningkatkan kondisi perdagangan dan perekonomian-bisnis di Sulawesi Utara dengan membuka link ekspor-impor skala global, meningkatkan sektor pariwisata di Sulawesi Utara serta memudahkan penumpang dalam memenuhi kebutuhan dalam terminal. Kata Kunci : Terminal Penumpang, Internasional, Bandara, Arsitektur Metabolisme
PUSAT PERBELANJAAN DI KOTAMOBAGU. Konservasi Energi pada Bangunan Komersial Paransi, Kurniawan; Sondakh, Julianus A. R.; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17272

Abstract

Kota Kotamobagu adalah salah satu kota di provinsi Sulawesi utara, Indonesia. Kota ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2007 pada tanggal 2 Januari 2007. Kota Kotamobagu secara administratif terbagi kedalam 4 kecamatan dan 32 desa/kelurahan. Luas keseluruhannya mencapai 184,33 KM2 dengan Jumlah penduduk yaitu sebesar 108.794.Seiring perkembangan zaman serta peningkatan jumlah penduduk di Kotamobagu maka kebutuhan masyarakat di bidang fashion semakin terbuka lebar. Namun, kurangnya pusat perbelanjaan yang lengkap dengan menawarkan berbagai kebutuhan masyarakat.Berdasarkan hal tersebut, maka diangkatlah sebuah judul untuk Tugas Akhir Perancangan Arsitektur yaitu Pusat Perbelanjaan Di Kotamobagu dengan Tema Konservasi Energi Pada Bangunan Komersial.Konsep perencanaan pusat perbelanjaan ini adalah suatu karya rancangan bangunan yang memanfaatkan sumber energi yang ada dalam bangunan agar digunakan secara cermat dan efisien. Serta mampu memanfaatkan dan mendayagunakan sumber energi dan kondisi iklim dilingkungan sekitar yang merupakan sebagian dari proses pembangunan operasional dan perawatan dari suatu bangunan tanpa harus mengorbankan kenyamanan dari pengguna bangunan tersebut kemudian di kembangkan lagi fungsinya yang tidak hanya menjadi pusat perbelanjaan tapi juga menjadi pusat rekreasi, dan hiburan.Kata Kunci : Kota Kotamobagu, Pusat Perbelanjaan, Hemat Energi 
SHOPPING MALL DI MANADO. Biophilic Design Magdalena, Enggrila D.; Rogi, Octavianus H. A.; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17291

Abstract

Saat ini shopping mall telah menjadi trend gaya hidup modern bagi kalangan masyarakat khususnya kaum urban di Manado. Kehadirannya makin digemari karena fungsi shopping mall semakin meluas menjadi semacam community center, tempat menikmati gaya hidup melalui konsumsi barang dan jasa yang sesuai dengan symbol status, sekaligus menjadi fasilitas pemenuh kebutuhan psikologi sebagai area rekreatif dan hiburan. Tingginya tingkat konsumsi masyarakat terhadap shopping mall menyebabkan turunnya tingkat interaksi masyarakat dengan alam sebagai lingkungan hidup mereka. Padahal alam telah menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Penerapan biophilic design dipilih karena sejatinya interaksi dan keinginan untuk selalu terikat dengan lingkungan alami adalah kebutuhan dasar bagi manusia. Selain itu, pendekatan desain biophilik pada shopping mall terbukti berpotensi meningkatkan penjualan 15% - 20% (Wolf, 2005) serta secara bersamaan mampu memenuhi kebutuhan fisiologis (kenyamanan) dan kebutuhan psikologis (kesehatan & ketenangan) pengguna bangunan. Proses perancangan dilakukan  melalui pendekatan – pendekatan terhadap kajian objek rancangan, tema dan tapak yang kemudian dikembangkan dan diolah menggunakan proses desain siklus image present tense hingga menghasilkan ide atau gagasan konsep. Dalam penerapan tema pada objek rancangan mengacu pada 14 prinsip desain biophilic yang masing – masing dipilih sesuai dengan kesesuaian prinsip desain terhadap kebutuhan pada masing – masing aspek desain objek rancangan. Adapun prinsip desain yang dirasa paling dominan dalam desain adalah hubungan visual terhadap alam, karena aplikasi unsur alami adalah hal yang paling utama dirasakan dalam desain. Kata Kunci : Shopping Mall, Biophilic, Kebutuhan, Fisiologis, Psikologis
GALERI SENI DI MANADO. Folding Architecture Taliawo, Patricia H. N.; Tarore, Raymond Ch.; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20697

Abstract

Manado adalah kota dimana seni semakin diapresiasi seiring berkembangnya waktu. Tetapi wadah untuk menyelenggarakan kegiatan seni masih sangatlah kurang sehingga kegiatan seni yang dilakukan selalu ditempat-tempat terbuka seperti pertokoan yang bukan untuk khusus penyelenggaraan seni dilakukan, padahal seni perlu diapresiasi dengan cara yang menarik dan penuh seni.Folding Architecture merupakan suatu proses dalam desain arsitektur yang menghasilkan bentukan dengan cara bereksperimen dengan lipatan. Penerapannya ke dalam proses perancangan arsitektur adalah dengan menggunakan karakter kertas dan mengubahnya/mentransformasikannya melalui proses lipat, potong, ditekuk dan lain-lain sehingga menghasilkan bentukan arsitektur yang diinginkan.Dengan pendekatan Folding Architecture atau arsitektur folding ini, Galeri Seni di Manado ini perancangan dan penerapannya pada bentuk bangunan dilandasi dengan seni dan keindahan serta fungsi yang lebih kompleks, sehingga para pekerja seni dapat merealisasikan setiap potensi diri mereka dalam wadah yang bukan hanya menjadi tempat pameran seni yang sudah jadi tetapi tempat dimana proses pembuatan seni dapat berlangsung sekaligus menjadi tempat dimana para pelaku seni dapat belajar dengan pendidik yang membantu mereka mengembangkan potensi seni.(Kata Kunci : Art Gallery, Galeri Seni , Folding Architecture)
Co-Authors Aldona A. Silain Alvin J. Tinangon Amanda M. Rompas Andre R. Runtuwene Andri M. Ogotan Andy A. M. Malik Anggreiny A. Palimbong Aristotulus E. Tungka Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Badu, Risnawati Basalamah, Atikah Brigita T. Makarawung Chintia R. Koagouw Christy E. Nelwan Clarissa S.S. Lumanauw Esli D. Takumansang Faizah Mastutie Fela Warouw Florensi V. Punuindoong Frits O. P. Siregar Gabriela T' Pakan Gilang G. Abdulsalam, Gilang G. Herry Kapugu Ingerid L. Moniaga Ingerid L. Moniaga Iriyansa Lagonda, Iriyansa Jefrey I. Kindangen Johannes Van Rate Jonathan B. Antou Joseph Rengkung Judy O. Waani Judy O. Waani Julianus A. R. Sondakh Kiolol, Pingkan Abigail Kristin N. Johannis Kushelmy R. Astuty, Kushelmy R. Lakat, Ricky M.S Linda Tondobala Magdalena, Enggrila D. Makarawung, Brigita T. Makienggung, Gabriel K. H. Mandak, Michael B. Manopo, Regina D. Martin, Willy Matualage, Greis Michael M. Rengkung Natasya S. Oley Octavianus Hendrik Alexander Rogi Oley, Natasya S. Pajow, Vanesa Mariani Papia J. C. Franklin Paransi, Kurniawan Peggy Egam Pingkan L. Sajangbati Putri, Rischi I. Rachmat Prijadi Rachmat Prijadi Raymond C. H. Tarore, Raymond C. H. Raymond Ch. Tarore Raymond D. Ch. Tarore Reny Syafriny Ricky M. S' Lakat Ricky S. M. Lakat Rieneke L. E. Sela Rompas M. P. Emanuella Sembiring, Ririn E. V. Sherli C. T. Polii Siridaeng, Holy V. Stevani Rauf, Stevani Sumilat, Jeremy L. Surentu, Mutiara L. Taliawo, Patricia H. N. Theodosius M. Manabung Tiffanie B. Halim Todingan, Ripka T. Tulung, Reyven Udang, Chesneyglen Vecky H. Makarau, Vecky H. Virginia N. Lobo Windy J. Mononimbar Winsensius S. P. Raco