Claim Missing Document
Check
Articles

Internalisasi Nilai Agama Hindu melalui Ecoprint sebagai Praktik Etnopeeragogi bagi Anak Berkebutuhan Khusus Putri Anggreni; Ni Made Ruastiti; Gede Yoga Kharisma Pradana
Tunas Cendekia : Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 9 No. 1 (2026): Tunas Cendekia : Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini
Publisher : Universitas Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/tunascendekia.v9i1.12524

Abstract

Anak berkebutuhan khusus di SLB Susrusa telah diperkenalkan pada kegiatan ecoprint dan nilai-nilai agama Hindu, namun keduanya belum diintegrasikan secara sistematis ke dalam model pembelajaran adaptif berbasis teman sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengonstruksi Model Ecoprint Berbasis Nilai-Nilai Hindu serta menganalisis proses internalisasi nilai melalui kegiatan ecoprint sebagai praktik etnopeeragogi dalam pendidikan khusus. Penelitian ini menggunakan desain penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D) dengan pendekatan terapan, konstruktivistik, sinkronik, dan berbasis lapangan. Informan dan peserta penelitian dipilih secara purposif dan dikembangkan melalui teknik snowball sampling hingga mencapai kejenuhan data. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam semi-terstruktur, dokumentasi, dan catatan lapangan. Data dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, pengodean tematik, penyajian data, triangulasi, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Hindu diinternalisasikan melalui aktivitas konkret dan berulang, seperti memilih bahan-bahan alami, menata daun, melakukan pencetakan, berbagi alat, menunggu giliran, membersihkan ruang kerja, membantu teman sebaya, serta melakukan refleksi terhadap pemanfaatan alam. Proses tersebut menghasilkan empat luaran yang saling berkaitan, yaitu karakter personal, kemandirian, kepedulian sosial, dan kesadaran ekologis. Konsep Tri Hita Karana menjadi struktur nilai melalui aspek Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan, sedangkan pembelajaran sebaya memungkinkan nilai-nilai tersebut dipraktikkan secara horizontal antarsiswa. Diferensiasi tugas dan tingkat bantuan memungkinkan nilai yang sama dialami dan diterapkan sesuai dengan kapasitas masing-masing peserta didik. Penelitian ini berkontribusi dalam mengembangkan model etnopeeragogi adaptif yang mengintegrasikan keterampilan vokasional, nilai-nilai Hindu, pembelajaran sebaya, pendidikan karakter, dan kesadaran ekologis bagi anak berkebutuhan khusus.
"Wonderland Indonesia" Music Video: The Commodification of Indonesian Regional Songs in New Media Gideon Bima Maharesi; Ni Made Ruastiti; Ni Wayan Ardini; I Ketut Garwa
Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pjjcdr39

Abstract

This study aims to reveal the commodification process of Indonesian regional songs in the “Wonderland Indonesia” music video, as well as its implications for artistic aesthetics, ethnic music practitioners, and the public. The research employs an interdisciplinary approach utilizing qualitative methods and quantitative sentiment analysis of 30,000 YouTube comments. Data were collected through observation, in-depth interviews with the creator and creative team, cultural experts, musicians, and the public (via Focus Group Discussions), as well as a literature review. The analysis draws upon ethnomusicology theory, commodification theory, and the hierarchy of needs theory. The results indicate that the music video serves as a visual and musical narrative, packaging nine regional songs and one national song into an EDM-infused medley. Commodification occurs across three technology-driven production stages—pre-production, production, and post-production—with distribution executed via YouTube. Sentiment analysis reveals a 71.9% positive response. The commodification has implications for postmodern artistic aesthetics, the socioeconomic status of ethnic music practitioners, and the general public. The study proposes a packaging model for ethnic cultural music videos termed “New Media Folk Song.”
An Aesthetic Analysis of Mahayana Buddhist Puja Bakti at Ekayana Arama Vihara, West Jakarta Jimmu Goh; I Komang Sudirga; Ni Made Ruastiti; Ni Wayan Ardini
Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/gm6fpf33

Abstract

This study aims to uncover the forms, functions, meanings of Puja Bakti chants for individuals, the congregation, and the Mahayana Buddhist ritual traditions at Ekayana Arama Vihara, West Jakarta. The study was motivated by the finding that the oral tradition of Puja Bakti—which is consistently accompanied by Faqi music—had not previously been subjected to in-depth analysis. A qualitative method with an interdisciplinary approach (encompassing aesthetics, sociology, and culture) was employed. Data collection involved observation, interviews, literature reviews, and focus group discussions. Data analysis utilized theories of religious aesthetics, ethnomusicology, structural-functionalism, and semiotics. The results indicate that Puja Bakti chants constitute a form of vocal-instrumental recitation containing religious narratives regarding Buddhist teachings; they serve as a medium for connecting with the Divine, a means of communication and entertainment, and an expression of cultural identity. The implications are positive regarding aesthetic development, spiritual intelligence, inner peace, religious emotion, communal solidarity, and the preservation of arts and culture. The study identifies a novel concept regarding the performance of Puja Bakti chants known as Fanbai, encompassing the components, elements, and procedural aspects of this ritual tradition.
ARTIKULASI IDENTITAS, KOMODIFIKASI DAN RESILIENSI TRADISI SUKU ABUI DI KAMPUNG ADAT TAKPALA DALAM PARIWISATA BUDAYA Gede Yoga Kharisma Pradana; Wayan Nurita; I Wayan Wijayasa; Kadek Wira Adi Saputra; Fatrisia Yulianie; I Wayan Sonder; Anak Agung Istri Putera Widiastiti; Putu Sabda Jayendra; Ni Made Ruastiti
Jurnal Cinta Nusantara Vol. 4 No. 4 (2026): In Progress
Publisher : CV. Bunda Ratu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63754/jcn.v4i4.230

Abstract

Pariwisata budaya di Kampung Adat Takpala memperluas peluang ekonomi masyarakat sekaligus menimbulkan tantangan terkait kontrol representasi, batas sakral-profan, dan keinginan tradisi Suku Abui. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk artikulasi identitas dan ketahanan tradisi Suku Abui, serta memperkuat komodifikasi unsur budaya dalam arena pariwisata budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif kualitatif dengan pendekatan interdisipliner Kajian Budaya. Analisis data dipertajam menggunakan kerangka Teori Praktik Bourdieu dan Teori Strukturasi Giddens untuk memahami konversi modal serta negosiasi aturan adat dalam pariwisata. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Informan ditentukan secara purposive yang mencakup tokoh adat, pelaku hiburan, pengrajin, serta pengelola wisata, kemudian dikembangkan melalui snowball sampling . Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Suku Abui diartikulasikan melalui rumah adat ( Fala/Fala Foka ), tarian Lego-lego dan Cakalele , bahasa Abui, pakaian adat, Moko , kerajinan lokal, serta ritual leluhur. Komodifikasi memberikan manfaat ekonomi dan meningkatkan visibilitas budaya, tetapi berisiko menggeser batas kesakralan, memperlebar ketimpangan akses, dan mereduksi makna budaya. Ketahanan tradisi Suku Abui sangat bergantung pada kapasitas kontrol komunitas (kontrol komunitas) dalam mengendalikan representasi budaya, menjaga transmisi pengetahuan antargenerasi, dan mendistribusikan manfaat pariwisata secara adil.
Innovative Nusantara Dance Mentoring to Strengthen Emotional Intelligence in Early Childhood at Sanggar Nanta Kemara, Bali Ni Made Ruastiti; Arya Pageh Wibawa; Gede Yoga Kharisma Pradana; I Nyoman Kariyasa; I Made Openanta
BERBAKTI : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2: BERBAKTI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat | September 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/berbakti.v4i2.5816

Abstract

Dance instruction at the Nanta Kemara Studio is still dominated by Balinese dance, while the curriculum for Indonesian Traditional Dance and social-emotional indicators remain unstructured. This community service program aims to assist the partner in developing, implementing, and evaluating child-friendly Innovative Indonesian Traditional Dance. The activities involved 39 participants, consisting of 35 child dancers aged 4-6 years, one choreographer, one dance teacher, and two stage crew members. The implementation included needs assessment and focus group discussions (FGDs), collaborative design, seven rehearsals, two performances, and qualitative evaluation through observation, anecdotal notes, partner reflections, photos, and videos. The program produced a multi-ethnic choreography lasting approximately 5 minutes and 45 seconds that blends elements from Bali, West Java, Papua, Central Kalimantan, and West Sumatra, accompanied by digital music, audiovisual documentation, practice guides, and evaluation indicators. In the final trial, the dance sequence was completed through the final pose; observational notes indicated that the children were able to respond to musical cues, maintain attention throughout the performance, keep their formations, and display more focused expressions. Partners also received tools that can be reused in routine practice sessions. The findings are descriptive and should not be interpreted as causal evidence of an increase in emotional intelligence, as the program did not employ pre-post psychometric measurements.
Co-Authors - Saptono Agus Eko Sattvika, I Putu Anak Agung Ayu Mayun Artati Anak Agung Bagus Wirawan Anak Agung Indrawan Anak Agung Indrawan Anak Agung Istri Putera Widiastiti Anak Agung Ngurah Anom Kumbara Apsari, Ketut Novia Ardika, I Gusti Ngurah Putu Artati, Anak Agung Ayu Mayun Arya Pageh Wibawa Desak Made Suarti Laksmi Dewa Ayu Galih Mas Narapadi Galih Dewa Putu Oka Prasiasa Dewi, Irene Nyoman Esterina Pregie Angga Dewi, Ni Luh Diah Candra Edi Sedyawati Eka Putri Suryantari Fatrisia Yulianie Garwa, I Ketut Gede Yoga Kharisma Pradana Gideon Bima Maharesi Govardhana, Komang Ojas I Agus Agus Junaedi I Gde Parimartha I Gusti Made Sunartha I Gusti Made Sunartha I Gusti Made Sunartha I Gusti Made Sunartha I Gusti Ngurah Seramasara, I Gusti Ngurah I Gusti Putu Sudarta I Ketut Ardhana Ardhana, I Ketut Ardhana I Ketut Muka I Ketut Sariada, I Ketut I Ketut Suda I Komang Sudirga I Made Openanta I Made Ruta I Made Sidia I Made Suastika I Nyoman Kariyasa I Nyoman Sadi I Nyoman Sedana I Nyoman Suarka I Nyoman Sudiana I Wayan Rai I Wayan Rai S I Wayan Sonder I Wayan Suardana I Wayan Suharta, I Wayan Ida Ayu Made Purnamaningsih Ida Ayu Made Purnamaningsih Ida Ayu Made Purnamaningsih Ida Ayu Made Purnamaningsih Indrawan, Anak Agung Jimmu Goh Kadek Ayu Diah Mutiara Dewi Kadek Wira Adi Saputra Katie Basset Ketut Novia Apsari Ketut Sariada Ketut Tara Listiawan Komang Ojas Govardhana Kompiang Gede Widnyana Listiawan, Ketut Tara MS Prof. Dr. I Wayan Rai . Ni Kadek Suryani Ni Kadek Suryani Ni Luh Ria Novitasari Ni Luh Sustiawati Ni Made Arshiniwati Ni Nyoman Kasih Ni Nyoman Manik Suryani Ni Nyoman Rahmawati Ni Putu Ari Sidiastini Ni Putu Ayu Aneska Rastini Ni Putu Putri Laksmi Dewi Ni Wayan Ardini, Ni Wayan Ni Wayan Parmi Ni Wayan Suartini Putri Anggreni Putu Dyan Ratna, Putu Putu Dyatmikawati Putu Sabda Jayendra Rai S., I Wayan Rino Ega Vebrian Suminto Suminto Wayan Nurita Wijayasa, I Wayan Yunus Wafom Yunus Wafom