Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Global Strategis

Between Principles and Actions: ASEAN and Indonesia in Dealing With The Political Crisis In Myanmar Gunawan, Tedi
Global Strategis Vol. 18 No. 1 (2024): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.18.1.2024.81-106

Abstract

This article explains the role of ASEAN in addressing the political crisis and human rights violations in Myanmar, focusing on Indonesia's leadership as the ASEAN Chair in 2023. Following the 2021 military coup in Myanmar, which garnered global attention, ASEAN endeavored to formulate the Five Point Consensus through a constructive approach to tackle this crisis, yet its implementation remains constrained. This article uses a case study method to evaluate ASEAN's response to Myanmar's post-coup situation. The initial adoption of the "constructive engagement" approach within the ASEAN context was aimed at resolving this crisis. However, this approach, characterized by non-interference and consensus-building, proved ineffective in driving political change in Myanmar. As the ASEAN Chair, Indonesia assumes a pivotal role in seeking more effective solutions. The study finds that ASEAN demonstrates adaptability in addressing the Myanmar crisis, transitioning from the "constructive engagement" approach to "enhanced interactions." Under Indonesia's leadership, ASEAN deployed a team of the Special Envoy for Myanmar Affairs led by Foreign Minister Retno Marsudi and rebuilt ASEAN's centrality through proactive mediation efforts, diplomatic coordination, engagement with external partners, and commitment to regional stability and peace. Additionally, ASEAN's intervention with restrictions on Myanmar's participation in various regional activities serves as a form of 'pressure' to encourage cooperation and accountability. Through these enhanced interactions, ASEAN and Indonesia played a more active role in mediating the crisis and promoting reconciliation among all stakeholders involved. Keywords: ASEAN; Indonesia; Myanmar Coup; Constructive Engagement; Enhanced Interactions Artikel ini menjelaskan peran ASEAN dalam mengatasi krisis politik dan pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar, dengan fokus pada kepemimpinan Indonesia sebagai Ketua ASEAN pada tahun 2023. Pasca kudeta militer tahun 2021 di Myanmar yang menyita perhatian global, ASEAN berupaya merumuskan Lima Poin Konsensus melalui pendekatan konstruktif untuk mengatasi krisis ini, tetapi implementasinya masih terkendala. Dengan menggunakan metode studi kasus, artikel ini mengevaluasi respons ASEAN terhadap situasi pasca kudeta di Myanmar. Penerapan awal menggunakan pendekatan "constructive engagement" dalam konteks ASEAN bertujuan untuk menyelesaikan krisis ini. Namun, pendekatan yang bercirikan non-intervensi dan membangun konsensus, terbukti tidak efektif dalam mendorong perubahan politik di Myanmar. Sebagai Ketua ASEAN, Indonesia mempunyai peran penting dalam mencari solusi yang lebih efektif. Studi ini menemukan bahwa ASEAN menunjukkan kemampuan beradaptasi dalam mengatasi krisis Myanmar, melakukan transisi dari pendekatan "constructive engagement" ke "enhanced interactions." Di bawah kepemimpinan Indonesia, ASEAN mengerahkan tim Utusan Khusus untuk Urusan Myanmar yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Indonesia dan membangun kembali konsep sentralitas ASEAN melalui upaya mediasi proaktif, koordinasi diplomatik, keterlibatan dengan mitra eksternal, dan komitmen terhadap stabilitas dan perdamaian kawasan. Selain itu, intervensi ASEAN dengan pembatasan partisipasi Myanmar dalam berbagai kegiatan regional merupakan bentuk 'tekanan' untuk mendorong kerja sama dan akuntabilitas. Melalui peningkatan interaksi ini, ASEAN dan Indonesia memainkan peran yang lebih aktif dalam memediasi krisis dan mendorong rekonsiliasi di antara seluruh pemangku kepentingan yang terlibat. Kata-kata Kunci: ASEAN; Indonesia; Kudeta Myanmar; Keterlibatan Konstruktif; Interaksi yang Ditingkatkan
Co-Authors Adis Kusyadi Nugraha Aditama, Yogi agustin, riska Anak Agung Gde Agung Anang Sularsa ani ani Arcaropeboka, Raja Agung Kesuma Ardi Widyanto Saputra Arlin Ferlina Mochamad Trenggana Arry Widodo Aryani, Gustina Azzahra, Putri Brave A. Sugiarso Dahlan, Akib Dedy Rahman Wijaya Dekasari, Yessy Dekasari Devie Ryana Suchendra Devy Alicia Karin Dillak, Rixard George Elis Hernawati ema, ema fahrizi, fahrizi Faizal Gifari Fajar, Rizal Fauzi, Afif Syam Fayola, Ayyesha Dara Gita Indah Hapsari Giva Andriana Mutiara Hanifa Elfiana Hanung Nindito Prasetyo Heru Nugroho Heru Nugroho Hesti Widi Astuti Husna Purnama Inne Gartina Iwan Zulfikar Kristina Sisilia Leonardus Pusaka Pande Raja Sagala Lisda Meisaroh, Lisda Luh Putu Ratna Sundari Lutfie, M. M. Lutfi Mampe Parulian Munthe Maria Elina Marlindia Ike Sari Martin Yonatan Marzuki Marzuki Mayadewi, RA. Paramita Mirwansyah, Mirwansyah Mohammad Lutfi Muhammad Rizki Septian Muhammad Rizqy Alfarisi Mutia Qana'a Nadya Novandriani Karina Moeliono Narasiang, Benefit Semuel Natasya Maharaja, Gina Novendra, Bima Paramita Mayadewi Pramuko Aji Prasetya, Daffa Purwanti, Yuli Rachman, Fathur Rahma Fatria Ramadhan, M Yusuf Rendy Renaldy Renny Sukawati Rennyta Yusiana REZA PAHLEVI Rifka Annisa, Nindya Rifqi Zain, Muhammad Aulia Rini Handayani Robbi Hendriyanto Roni Riandi Sari Utama Dewi Sari, Syara Purnama Satrya Surya Pratama Simon Siregar Siska Komala Sari Solohin, Muhdor Surya Pratama, Satrya Suryaningsih Suryaningsih Syahputra Syahputra Syatria Adymas Pranajaya Taufik, Gunawan TEGUH ARIFIANTO, TEGUH Temmy Julianul Ichsan Tora Fahrudin Trisnowati Josiah Wawa Wikusna Widaningsih , Sri Yudi Yusnandi Z, Bustami