Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Andragogy-based learning model for intergenerational salted egg businesses in Tangerang Regency Mustofa Kamil; Sri Yanti; Dadang Yunus; Purnomo Purnomo
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74367

Abstract

This study examines the andragogical learning model in the context of intergenerational businesses, specifically within the salted egg artisans community in Tangerang Regency. Intergenerational businesses face significant challenges in transferring knowledge and values between generations, often experiencing shifts due to differences in perspectives and priorities. The andragogical approach emphasizes the importance of learning relevant to adults' needs and life experiences. This approach involves collaboration between older and younger generations in family businesses to address shared challenges. This research employs a case study method to identify effective learning models for managing knowledge transfer and values within the salted egg artisans community. The results indicate that an andragogy-based collaborative learning model, which involves both generations in the learning process through practical experience and joint discussions, effectively enhances business sustainability. This approach not only improves technical skills and knowledge but also strengthens the understanding of traditional values and modern innovations, which are crucial for the sustainability and success of intergenerational businesses. The study suggests the need for flexibility and adaptability in learning models to ensure the successful transfer of knowledge and values between generations in family businesses.   Abstrak Penelitian ini mengkaji model pembelajaran berbasis andragogi dalam bisnis intergenerasi, khususnya pada komunitas pengrajin telur asin di Kabupaten Tangerang. Bisnis intergenerasi menghadapi tantangan besar dalam transfer pengetahuan dan nilai antar generasi, yang sering kali mengalami pergeseran seiring dengan perbedaan cara pandang dan prioritas. Pendekatan andragogi menekankan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan pengalaman hidup orang dewasa, dan dalam bisnis keluarga, pendekatan ini melibatkan kolaborasi antara generasi tua dan muda untuk mengatasi tantangan bersama. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus untuk mengidentifikasi model pembelajaran yang efektif dalam mengelola transfer pengetahuan dan nilai dalam komunitas pengrajin telur asin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran collaborative learning berbasis andragogi, yang melibatkan kedua generasi dalam proses belajar melalui praktik nyata dan diskusi bersama, efektif dalam memperkuat keberlanjutan usaha. Model collaborative learning meningkatkan keterampilan teknis dan pengetahuan, juga memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai tradisional dan inovasi modern, yang keduanya penting untuk keberlanjutan dan kesuksesan bisnis intergenerasi. Penelitian ini menyarankan perlunya fleksibilitas dan adaptabilitas dalam model pembelajaran untuk memastikan keberhasilan transfer pengetahuan dan nilai antar generasi dalam bisnis keluarga. Kata Kunci: andragogi; bisnis intergenerasi; pembelajaran kolaboratif; transfer nilai; transfer pengetahuan
Trends in using internet-based learning media for students during the COVID-19 pandemic Muhammad Yus Firdaus; Mustofa Kamil; Purnomo Purnomo
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74368

Abstract

The COVID-19 pandemic has led to a profound transformation in the global education system, forcing a sudden shift from face-to-face teaching to online learning. This study aims to understand how students have utilized technology for online learning during the pandemic, focusing on using the internet and smartphones and evaluating the effectiveness of various applications and platforms such as WhatsApp, Zoom, and Learning Management Systems (LMS). A descriptive quantitative research method was employed with a survey technique involving 220 students from Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) to gather data on their technology use activities. The findings indicate that UNIS students predominantly use the internet for learning and information-seeking, while smartphones are more frequently used for communication and entertainment. WhatsApp and Zoom are the most commonly used applications for online learning, reflecting a preference for familiar and easily accessible platforms. The study highlights the need for improved digital skills and technology access to support more effective learning. Recommendations include developing technology training for educators, providing better student resources, and integrating online learning models into long-term educational strategies to enhance education quality and flexibility.   Abstrak Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan transformasi mendalam dalam sistem pendidikan global, memaksa pergeseran dari metode tatap muka ke pembelajaran daring secara mendadak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami penggunaan teknologi oleh mahasiswa dalam konteks pembelajaran daring selama pandemi, dengan fokus pada pemanfaatan internet dan smartphone, serta efektivitas berbagai aplikasi dan platform seperti WhatsApp, Zoom, dan LMS. Metode penelitian kuantitatif deskriptif digunakan dengan teknik survei terhadap 220 mahasiswa Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas teknologi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa UNIS dominan menggunakan internet untuk belajar dan mencari informasi, sementara smartphone lebih sering digunakan untuk komunikasi dan hiburan. WhatsApp dan Zoom adalah aplikasi paling sering digunakan untuk pembelajaran daring, mencerminkan preferensi terhadap platform yang familiar dan mudah diakses. Temuan ini menyoroti perlunya peningkatan keterampilan digital dan akses teknologi untuk mendukung pembelajaran yang lebih efektif. Penelitian ini menyarankan pengembangan pelatihan teknologi untuk pengajar dan penyediaan sumber daya yang lebih baik bagi mahasiswa, serta integrasi model pembelajaran daring dalam strategi pendidikan jangka panjang untuk meningkatkan kualitas dan fleksibilitas pendidikan. Kata Kunci: COVID-19; pembelajaran jarak jauh; pembelajaran online
Academic policy for establishing new junior high schools in South Tangerang City Mustofa Kamil; Neneng Nurjanah; Muhammad Yus Firdaus; Bambang Mardi Sentosa; Purnomo Purnomo; Cucu Sukmana
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74566

Abstract

This study explores the academic policy regarding establishing new Junior High Schools (SMP) in South Tangerang City in response to the rising number of Elementary School (SD) graduates and the limited availability of secondary education facilities. Using a theoretical and quantitative approach, the research applies the "Social Demand Approach" planning model to identify the need for new schools. Findings reveal a significant imbalance between the number of SD and SMP, particularly in Setu, North Serpong, Pondok Aren, and Ciputat sub-districts, highlighting an urgent need for new school units (USB) and classrooms (RKB) to ensure equitable access to quality education. The analysis is supported by geographic and demographic data, considering essential variables such as student group sizes (rombel). Therefore, the policy for establishing new schools in South Tangerang City must be implemented promptly to address primary and secondary education challenges, ensuring adequate facilities for the growing student population. The research emphasizes the importance of addressing educational infrastructure needs to support student's educational progress and highlights the critical role of geographic information systems (GIS) in mapping school locations and planning future school development.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi kebijakan akademik terkait pendirian Sekolah Menengah Pertama (SMP) baru di Kota Tangerang Selatan sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah lulusan Sekolah Dasar (SD) dan terbatasnya ketersediaan fasilitas pendidikan menengah. Dengan menggunakan pendekatan teoritis dan kuantitatif, penelitian ini menerapkan model perencanaan "Social Demand Approach" untuk mengidentifikasi kebutuhan akan sekolah baru. Temuan menunjukkan ketidakseimbangan yang signifikan antara jumlah SD dan SMP, khususnya di kecamatan Setu, Serpong Utara, Pondok Aren, dan Ciputat, menyoroti kebutuhan mendesak akan unit sekolah baru (USB) dan ruang kelas (RKB) untuk memastikan akses yang merata terhadap pendidikan berkualitas. Analisis didukung oleh data geografis dan demografis, mempertimbangkan variabel penting seperti ukuran kelompok peserta didik (rombel). Oleh karena itu, kebijakan pendirian sekolah baru di Kota Tangerang Selatan harus dilaksanakan segera untuk mengatasi tantangan dalam pendidikan dasar dan menengah, serta memastikan fasilitas yang memadai bagi populasi peserta didik yang berkembang. Penelitian ini menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan infrastruktur pendidikan untuk mendukung kemajuan peserta didik. Sistem informasi geografis (GIS) memainkan peran penting dalam pemetaan lokasi sekolah dan perencanaan pengembangan pendidikan di masa depan. Kata Kunci: kebijakan pendidikan; kelompok belajar pendirian SMP; social demand approach
Peran Pendidikan Keluarga dalam Transfer Pengetahuan Pangan Lokal Rasi pada Masyarakat Kampung Adat Cireundeu Thufail Falah; Dewa Hartanto; Muhammad Fakhri Rizqullah; Salwa Dongoran; Tiffany Adristi; Purnomo; Diemas Arya Komara
Transformasi : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Non Formal Informal Vol. 12 No. 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Pendidikan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jtni.v12i2.19319

Abstract

Abstract: The sustainability of local cassava-based food (rasi) in the Cireundeu Indigenous Community faces challenges due to modernization and social change, particularly among younger generations. Although Kampung Adat Cireundeu has been studied widely in terms of food security and local wisdom, research that specifically examines the mechanism of knowledge transfer within family education as the foundation for the sustainability of rasi as local food remains limited. This study aims to describe the role of family education in the knowledge transfer process related to the preservation of local food values and practices. The study employed a qualitative approach with a case study method. Research participants consisted of traditional leaders, heads of families, and youth selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, and analyzed using an interactive and cyclical model proposed by Miles and Huberman. The findings indicate that families function as the central agents of knowledge transfer through role modeling, habituation, direct interaction, and the involvement of younger generations in rasi processing and consumption practices. The knowledge transmission process occurs informally and is integrated into daily life and customary activities, such as the kurasan tradition. Family education not only transmits technical skills related to rasi processing but also instills philosophical values, cultural identity, and awareness of local food security. Active youth participation reflects the continuity of intergenerational knowledge transmission, although it continues to face challenges from modernization and shifting consumption patterns. The novelty of this study lies in mapping the family-based mechanism of knowledge transfer that integrates role modeling, habituation, advice, supervision, the kurasan customary tradition, and the transformation of meaning-delivery from traditional commands to rational-scientific explanations adapted to the younger generation’s logical reasoning. This study highlights the significant contribution of family education to sustaining local food systems and preserving indigenous cultural identity. Abstrak: Keberlanjutan pangan lokal berbasis singkong (rasi) pada masyarakat Kampung Adat Cireundeu menghadapi tantangan modernisasi dan perubahan sosial, khususnya pada generasi muda. Meskipun Kampung Adat Cireundeu telah banyak dikaji dari perspektif ketahanan pangan dan kearifan lokal, kajian yang secara khusus menelaah mekanisme transfer pengetahuan dalam pendidikan keluarga sebagai basis keberlanjutan pangan lokal rasi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pendidikan keluarga dalam proses transfer knowledge terhadap pelestarian nilai dan praktik budaya pangan lokal rasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian meliputi tokoh adat, kepala keluarga, dan generasi muda yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif dan siklis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga berperan sebagai pusat utama transfer knowledge melalui keteladanan, pembiasaan, interaksi langsung, serta keterlibatan generasi muda dalam aktivitas pengolahan dan konsumsi rasi. Proses pewarisan pengetahuan berlangsung secara informal dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari serta kegiatan adat, seperti tradisi kurasan. Pendidikan keluarga tidak hanya mentransmisikan keterampilan teknis pengolahan rasi, tetapi juga menanamkan nilai filosofis, identitas budaya, dan kesadaran akan ketahanan pangan lokal. Keterlibatan aktif generasi muda menunjukkan keberlangsungan transfer knowledge lintas generasi, meskipun masih dihadapkan pada tantangan modernisasi dan perubahan pola konsumsi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemetaan mekanisme transfer pengetahuan dalam keluarga adat Cireundeu yang memadukan keteladanan, pembiasaan, nasihat, pengawasan, tradisi adat kurasan, serta transformasi cara penyampaian dari perintah tradisional menjadi penjelasan rasional-ilmiah yang disesuaikan dengan logika berpikir generasi muda. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan keluarga memiliki kontribusi penting dalam menjaga keberlanjutan pangan lokal dan identitas budaya masyarakat adat.