Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Anti Bacterial Activity Test of Ethanol Extract of Papaya Leaves (Carica papaya L) on the Growth of Staphylococcus epedermidis Jon Kenedy Marpaung; Suryani, Monica; Ivan Elisabeth Purba
Jurnal EduHealth Vol. 13 No. 02 (2022): Jurnal eduHealth, Periode Oktober - December, 2022
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.468 KB)

Abstract

Papaya is a tropical plant from the Caricaceae family, botanically defined as Carica papaya L. Traditional use of papaya leaves is to prevent bleeding in wounds and to treat wounds, lower high blood pressure, treat dengue fever, eliminate acne and smooth the skin and digestive disorders. Staphylococcus epidermidis is a Gram-positive bacterium, immobile, non-sporing, in solid culture media in the form of cocci in irregular groups, the arrangement is similar to grapes, prominent, shiny, does not produce pigment, white in color. Staphylococcus epidermidis bacteria can cause swelling (abscess) diseases such as acne, skin infections, urinary tract infections and swelling of the kidneys. This study was conducted with the aim of knowing the antibacterial activity of the ethanol extract of papaya leaves (Carica papaya L) with concentrations of 5%, 10%, 15%, and 20% against the growth of Staphylococcus epidermidis bacteria. This research method used an experimental method, namely to determine the antibacterial activity of the ethanol extract of papaya leaves (Carica papaya L) against the growth of Staphylococus epidermidis bacteria. This research used 96% ethanol as solvent. The test was carried out through several stages including material collection, preparation of simplicia, manufacture of ethanol extract from papaya leaves by maceration and testing of antibacterial activity against Staphylococus epidermidis bacteria. Based on the results of the phytochemical screening test of the thick extract, papaya leaves contain a class of alkaloid compounds, flavonoids, saponins, steroids/triterpenoids and tannins. The results of the antibacterial activity test of thick papaya leaf extract against Staphylococus epidermidis bacteria had an average inhibitory activity at concentrations of 5% (7.33 mm), 10% (8.44 mm), 15% (9.44 mm) and 20 % (10.3mm). As a comparison, Cloramfenocol 30 g was used to produce an inhibitory power of 32.1 mm and the best results obtained were at a concentration of 20% which had an inhibitory power of 10.3 mm.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPUASAN PASIEN PADA PELAYANAN KESEHATAN DI UPT PUSKESMAS SUKARAMAI KOTA MEDAN Alyakin Dakhi, Rahmat; Mido Ester J. Sitorus; Netti Etalia Brahmana; Ivan Elisabeth Purba; Lyenta Simanullang; Toni Wandra; Masdalina Pane
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 7 No. 1 (2025): JURNAL TEKNOLOGI, KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/tekesnos.v7i1.6273

Abstract

Background: Patient satisfaction is heavily influenced by the quality of services provided by healthcare centers (Puskesmas). The World Health Organization (WHO) states that good healthcare services are those that are effective, safe, and of high quality for those in need. Purpose: This study aims to identify the factors associated with patient satisfaction regarding healthcare services at Puskesmas Sukaramai. Method: The research is a quantitatfve study with a cross-sectional design, conducted in the operational area of Puskesmas Sukaramai, Medau City, from Maret-Juni 2025. The study population includes all patients visiting the Puskesmas, totaling 619 per month. The sample size was determined using the Lemeslow formula, with a sample af 149 respondents selected through accidental sampling. Primary data were collected dfrectly through questionnaires distributed ta patients visiting Puskesmas Sukaramai. Data analysis was carried out using both univariate and bivariate methods, With hypothesis testing conducted using the Chi-square statistical test. Results: The study results indicate significant relationships between physical evidence (tangible) and patient satisfaction (p=0.000), reliability and patient satisfaction (p=0.000), responsiveness and patient satisfaction (p=0.000), assurance and patfent satisfaction (p=0.000), and empathy and patient satisfaction (p=0. 002 < 0.05. Disscusion and Conclusion: it is recommended that healthcare workers focus on improving service cleanliness, friendliness, and efficiency at Puskesmas Sukaramai to enhance patfent satisfaction.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN PIRDOT (Saurauia vulcani korth) TERHADAP KADAR ERITROSIT TIKUS JANTAN (Rattus novergicus) YANG DI PAPARI TUAK NIAS Manurung, Kesaktian; Janno Sinaga; Ivan Elisabeth Purba; Mido Ester J. Sitorus; Farah Lutfia
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 7 No. 2 (2025): JURNAL TEKNOLOGI, KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/tekesnos.v7i2.6922

Abstract

Latar belakang: Eritrosit merupakan sel darah merah yang berperan penting dalam transportasi oksigen, pengangkutan karbon dioksida, serta menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Daun pirdot (Saurauia vulcani Korth.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Tujuan: Senyawa ini berpotensi mendukung proses eritropoiesis melalui stimulasi sumsum tulang dan aktivitas antioksidan yang melindungi sel darah merah dari kerusakan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan tahap penyiapan sampel, pembuatan ekstrak etanol daun pirdot melalui maserasi, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, serta uji efektivitas terhadap eritrosit tikus jantan (Rattus norvegicus) yang dipapari tuak Nias 29% alkohol. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa simplisia daun pirdot memenuhi standar FHI edisi II 2022 dan ekstrak etanol positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Uji efektivitas menunjukkan rata-rata kadar eritrosit: K0 = 5,00×10¹²/L, P1 = 1,65×10¹²/L, P2 = 4,82×10¹²/L, P3 = 4,17×10¹²/L, P4 = 4,19×10¹²/L, dan P5 = 5,45×10¹²/L. Kelompok P1 mengalami penurunan eritrosit paling signifikan, sedangkan P5 menunjukkan peningkatan tertinggi. Analisis ANOVA (p<0,05) dan uji Tukey HSD membuktikan bahwa ekstrak daun pirdot secara signifikan meningkatkan kadar eritrosit dibanding kelompok yang hanya menerima paparan alkohol. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun pirdot memiliki potensi sebagai agen protektif terhadap penurunan eritrosit akibat paparan alkohol, sekaligus mendukung pemulihan fungsi hematopoietik.
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN, DISIPLIN KERJA DAN KOMUNIKASI TERHADAP LOYALITAS PEGAWAI DI SMK NEGERI 1 UMBUNASI, NIAS SELATAN Federman Federman; Lambas Lambas; Heri Enjang Syahputra; Ivan Elisabeth Purba; Marupa Siregar; Santi Rizki
JURNAL MUTIARA MANAJEMEN Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Manajemen
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmm.v11i1.6338

Abstract

Loyalitas guru merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terutama dalam menghadapi tuntutan dunia usaha dan industri yang terus berkembang. Loyalitas guru dipengaruhi oleh berbagai faktor organisasi, di antaranya kepemimpinan kepala sekolah, disiplin kerja, dan komunikasi organisasi. Ketiga faktor tersebut berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif sehingga mendorong komitmen guru terhadap sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, disiplin kerja, dan komunikasi terhadap loyalitas guru SMK. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada guru SMK yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda untuk menguji pengaruh parsial maupun simultan variabel independen terhadap loyalitas guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah, disiplin kerja, dan komunikasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas guru. Secara parsial, kepemimpinan kepala sekolah berkontribusi dalam meningkatkan motivasi dan komitmen guru melalui kepemimpinan yang partisipatif dan inspiratif. Disiplin kerja mendorong profesionalisme dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas, sedangkan komunikasi yang efektif menciptakan hubungan kerja yang harmonis, meningkatkan kepercayaan, serta memperkuat keterikatan guru terhadap sekolah. Secara simultan, ketiga variabel memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan loyalitas guru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas kepemimpinan kepala sekolah, penguatan budaya disiplin kerja, dan pengembangan komunikasi organisasi yang efektif merupakan strategi penting dalam membangun loyalitas guru sehingga dapat mendukung peningkatan kinerja sekolah dan kualitas pendidikan vokasi.
ANALISIS PENGARUH KEPEMIMPINAN, DISIPLIN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI KANTOR CAMAT ULU IDANOTE KABUPATEN NIAS SELATAN Martinus Martinus; Kuras Purba; Ivan Elisabeth Purba; Parlindungan Purba; Maretta Ginting; Santi Rizki
JURNAL MUTIARA MANAJEMEN Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Manajemen
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmm.v11i1.6339

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan, disiplin kerja, dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai pada Kantor Camat Ulu Idanöte Kabupaten Nias Selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan asosiatif. Sampel penelitian berjumlah 58 responden yang ditentukan dengan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan, disiplin kerja, dan lingkungan kerja secara parsial maupun simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan kualitas kepemimpinan, penegakan disiplin, serta penciptaan lingkungan kerja yang kondusif dapat mendorong optimalisasi kinerja aparatur di lingkungan kantor kecamatan. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pemerintah daerah dalam merancang strategi peningkatan kinerja pegawai, khususnya melalui penguatan aspek kepemimpinan, disiplin, dan lingkungan kerja.
AYO MAKAN BERGIZI SETIAP HARI! PENGUKURAN STATUS GIZI ANAK DALAM MENDUKUNG PROGRAM MBG DI TK KALAM KUDUS MEDAN Taruli Rohana Sinaga; Sri Dearmaita Purba; Ivan Elisabeth Purba; Putri Tresia Siburian; Cinthia Dewi Pasaribu
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 4 (2026): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v9i4.1394-1401

Abstract

Masalah gizi pada anak usia dini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat, ditandai dengan adanya gizi kurang dan gizi lebih yang dapat berdampak terhadap pertumbuhan, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pemerintah Indonesia melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berupaya meningkatkan pemenuhan kebutuhan gizi anak sekolah, yang perlu didukung dengan pemantauan status gizi secara berkala. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi anak usia taman kanak-kanak sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan program MBG. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei melalui pengukuran antropometri pada seluruh siswa TK Kalam Kudus Medan sebanyak 37 anak. Pengukuran meliputi berat badan, tinggi badan, dan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut umur. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki status gizi normal (51,4%), namun masih ditemukan anak dengan status gizi sangat kurus (5,4%), kurus (16,2%), gemuk (10,8%), dan obesitas (16,2%). Temuan ini menunjukkan adanya masalah gizi ganda pada anak usia dini. Kegiatan ini memberikan gambaran nyata kondisi status gizi anak serta menegaskan pentingnya pemantauan antropometri secara rutin sebagai dasar perencanaan intervensi gizi yang tepat sasaran. Pengukuran status gizi anak diharapkan dapat mendukung evaluasi dan keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis serta meningkatkan peran sekolah dan orang tua dalam membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.
The Relationship Between Environmental Health Factors and the Incidence of Stunting Mido Ester J. Sitorus; Ivan Elisabeth Purba; Donal Nababan
An Idea Health Journal Vol 6 No 03 (2026)
Publisher : PT.Mantaya Idea Batara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53690/ihj.v6i03.764

Abstract

Background: Stunting is a form of chronic undernutrition that impairs children’s linear growth and development, particularly during the first 1,000 days of life. It remains a major public health problem in many developing countries. Stunting is defined as a length- or height-for-age z-score below −2 standard deviations according to the World Health Organization child growth standards. Environmental health conditions may indirectly contribute to the occurrence of stunting. This study aimed to examine the association between environmental health factors and stunting among children in the working area of the Batang Beruh Health Center, Sidikalang. Methods: This study employed an analytical observational design with a quantitative cross-sectional approach. A total of 64 respondents were recruited using convenience sampling. Data were analyzed using univariate analysis and bivariate analysis with the chi-square test.. Result: Drinking water sources were significantly associated with stunting status (p < 0.001). A significant association was also found between the physical quality of drinking water and stunting (p < 0.001). In contrast, drinking water treatment was not significantly associated with stunting (p = 0.366). Latrine ownership and waste management were significantly associated with stunting status (both p < 0.001). Conclusion: Drinking water sources, the physical quality of drinking water, latrine ownership, and waste management were significantly associated with stunting. However, drinking water treatment was not associated with stunting. Health center personnel should strengthen community education regarding safe water, sanitation, and appropriate waste management practices as part of stunting prevention efforts among children under five.