Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Jurnal Bios Logos

Biodiversitas Burung pada Perkebunan Kelapa di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara (Bird Biodiversity in Coconut Plantation in North Minahasa Distric, North Sulawesi Province) Alotia, Jayens; Saroyo, Saroyo; Rondonuwu, Sendy
JURNAL BIOS LOGOS Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.9.1.2019.23363

Abstract

Biodiversitas Burung pada Perkebunan Kelapa di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara(Bird Biodiversity in Coconut Plantation in North Minahasa Distric, North Sulawesi Province) Jayens Alotia1)*, Saroyo1), Sendy Rondonuwu1)1)Program Studi Biologi, FMIPA Universitas Sam Ratulangi, Manado 95115*Email korespondensi: jayensalotia70@gmail.com Diterima  1 Februari 2019, diterima untuk dipublikasi 28 Februari  2019 Abstrak Burung memerlukan tempat atau ruang yang digunakan untuk mencari makan, minum, berlindung, bermain, dan tempat berkembang biak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biodiversitas burung pada habitat perkebunan kelapa di Kabupaten Minahasa Utara. Pengambilan data dilaksanakan dari bulan Desember 2017 sampai dengan bulan Maret 2018 di perkebunan kelapa di Desa Maumbi, Desa Tatelu dan Desa Pinili  Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.  Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survei. Teknik penentuan petak contoh menggunakan metode purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Petak contoh ditentukan sebanyak 3 transek berbentuk garis transek (line transect) dengan panjang masing-masing transek 2000 m dan lebar 20 m dengan pengambilan data sebanyak 5 kali. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil sebanyak 23 jenis burung dengan indeks biodiversitas sebesar 2.76, dari 23 jenis burung tersebut diketahui jumlah jenis burung yang dianggap kurang mengkhawatirkan (LC) terdapat 21 jenis burung, sedangkan status rentan (VU) terdapat 1 jenis yaitu Penelopides exarhatus dan status hampir punah (NT) terdapat satu jenis yaitu Accipiter nanus.Kata kunci: biodiversitas, burung, perkebunan kelapa, Kabupaten Minahasa Utara. Abstract Birds buy places or spaces that are used to find food, drink, shelter, play, and breed. This study aims to analyze biodiversity in coconut plantation habitat in North Minahasa Regency. Data collection was carried out from December 2017 to March 2018 in coconut plantations, North Minahasa Regency, North Sulawesi Province in Maumbi Village, Tatelu Village, Pinili Village. Data retrieval is done using the survey method. The sampling technique uses purposive sampling method which is a sample selection technique with certain considerations. Sample plots are determined by 3 transects, forming line transects (line transects) with the length of each transect of 2000 m and width of 20 m by taking data 5 times. Based on research conducted in plantation habitats, North Minahasa Regency obtained research on species of birds on plantations in North Minahasa Regency, North Sulawesi Province, which consisted of 23 species of birds with a biodiversity index of 2.76, of 23 species of birds there are according to the type of bird that is considered less alarming (LC) there are 21 species of birds, while the vulnerable status (VU) there is 1 type, Penelopides exarhatus and the status is almost extinct (NT) there is 1 type, Accipiter nanus. Keywords: biodiversity, birds, coconut plantations, North Minahasa Regency.
Keanekaragaman Vegetasi Mangrove di Pantai Tanamon Sulawesi Utara (Diversity of Mangrove Vegetation in Tanamon Beach North Sulawesi) Yuningsih, Eka; Simbala, Herni E.I; Kandou, Febby E.F; Sumarto, Saroyo
JURNAL BIOS LOGOS Vol 3, No 2 (2013): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.3.2.2013.4434

Abstract

AbstrakStudi keanekaragaman dan indeks nilai penting telah dilakukan pada vegetasi mangrove di kawasan Pantai Tanamon dengan menggunakan metode purposive sampling. Ukuran petak ditentukan dengan menggunakan kategori pengelompokan semai (2x2 m2), pancang (5x5 m2), tiang (10x10 m2) dan pohon (20x20 m2). Keanekaragaman vegetasi mangrove di Pantai Tanamon ditentukan dengan menggunakan rumus indeks keanekaragaman Shannon-Wienner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman vegetasi tergolong sedang dengan nilai indeks 1,412. Di kawasan Pantai Tanamon terdapat 6 jenis mangrove yaitu Avicennia marina, Sonneratia alba, Xylocarpus granatum, Rhizophora apiculata, Nypa fruticans dan Terminalia catappa. Indeks nilai penting tertinggi pada pada X. granatum untuk kategori semai (72,977 %), A. marina untuk kategori pancang (80,357 %), A. marina untuk kategori tiang (91,623 %) dan S. alba untuk kategori pohon (142,191 %).Kata kunci: mangrove, keanekaragaman, PantaiTanamonAbstractA study on the diversity and the importance value index of mangrove vegetation in the area of Tanamon Beach was conducted using purposive sampling method. Plot size was determined using classification category of seedling (2x2 m2), stake (5x5 m2), pole (10x10 m2) and tree (20x20 m2). The diversity of mangrove vegetation in the Tanamon Beach was determined using the diversity index formula of Shannon-Wienner. The results indicated that vegetation diversity was medium and the index value was 1.412. The mangrove vegetation consisted of 6 species, i.e. Avicennia marina, Sonneratia alba, Xylocarpus granatum, Rhizophora apiculata, Nypa fruticans and Terminalia catappa. The highest importance-value-index was in the X. granatum seedling (72.977 %), A. marina stake (80.357 %), A. marina pole (91.623 %) and S. alba tree (142.191 %).Keywords: mangrove, diversity, Tanamon Beach
Penentuan Ukuran Kelompok dan Densitas Tangkasi (Tarsius tarsier) di Cagar Alam Tangkoko Batuangus, Kota Bitung, Sulawesi Utara (Group Size and Density Determination of Tankasi (Tarsius tarsier) in The Nature Reserve Tangkoko Batuangus, Bitung, North Su Lumente, Ahmadin Awal; Saroyo, Saroyo; Wahyudi, Lalu; Papu, Adelfia
JURNAL BIOS LOGOS Vol 5, No 1 (2015): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.5.1.2015.8237

Abstract

Abstrak Tangkasi (Tarsius tarsier) merupakan primata primitif (Prosimi) endemik di Pulau Sulawesi dan beberapa pulau satelitnya. Mereka menempati beberapa tipe habitat, antara lain hutan primer dan sekunder, semak, mangrove, dan pertanian. Organisasi sosialnya ialah keluarga monogami hingga multimale-multifemale. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menentukan ukuran kelompok tangkasi. Penelitian dilaksanakan di Cagar Alam Tangkoko Batuangus pada bulan Juli sampai Agustus 2012. Metode yang digunakan ialah survei pada sarang tangkasi dan dilakukan penghitungan secara sensus. Luas area pengamatan ialah 100 ha yang dibagi menjadi 100 plot berukuran 100 m x 100 m. Waktu pengamatan ialah pada pagi hari pada jam 05.00-06.00 untuk menentukan lokasi sarang pada satu plot, yang selanjutnya dilakukan sensus pada sore harinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam 100 ha ditemukan 41 sarang atau tempat tidur tangkasi, rata-rata ukuran kelompok ialah 4,95 ± 2,26 ekor dengan modus 4. Kata kunci: ukuran kelompok, tangkasi (Tarsius tarsier), Cagar Alam Tangkoko Batuangus Abstract Tangkasi (Tarsius tarsier) is a primitive species of Sulawesi primates that is distributed in Sulawesi Island and some satellite islands. This species occupies in several habitat types, such as primary and secondary forest, shrub, mangrove, and farming area. Their social organization is monogamous family to multi-male/multi-female group. This study was conducted to determine the group size of tangkasi in the Tangkoko Batuangus Nature Reserve from July to August 2012. The survey method was used in the tangkasi nests and the census measurement was applied to the total of individuals at each nest of the 100 ha area. The 100-ha-survey area was divided into 100 plots and the size of each plot was 100 m x 100 m. The observation was carried out to determine the nest location in each plot every morning (05.00-06.00 am) and followed by the census in the afternoon. The results showed that there were 41 groups of tangkasi in the 100 ha area, the average of group size was 4,95 ± 2,26 and the modus was 4. Keywords: group size, tangkasi (Tarsius tarsier), Tangkoko Batungus Nature Reserve
Pemanfaatan Strata Hutan oleh Tikus Ekor Putih (Maxomys hellwaldii) di Gunung Klabat Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara (Utilization of Forest Strates by White Equipment Rats (Maxomys hellwaldii) in Klabat Mountain North Minahasa Distric, North Sulawesi) Rumanasen, Baren; Saroyo, Saroyo; Maabuat, Pience
JURNAL BIOS LOGOS Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.9.1.2019.23368

Abstract

Pemanfaatan Strata Hutan oleh Tikus Ekor Putih (Maxomys hellwaldii) di Gunung Klabat Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara(Utilization of  Forest Strates by White Equipment Rats (Maxomys hellwaldii) in Klabat Mountain North Minahasa Distric, North Sulawesi) Baren Anggyon Rumanasen1)*, Saroyo1), Pience Maabuat1)1)Program Studi Biologi FMIPA Universitas Sam Ratulangi, Manado 95115*Email korespondensi: rumanasenanggy@gmail.com Diterima  15 Januari 2019, diterima untuk publikasi 28 Februari 2019 Abstrak Tikus ekor putih (Maxomys hellwaldii) adalah hewan endemik Sulawesi, yang oleh IUCN status konservasinya masih kurang diperhatikan. Ancaman utama tikus ekor putih adalah perburuan untuk dijual.  Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan strata hutan oleh tikus ekor putih (Maxomys hellwaldii) di Gunung Klabat Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Pengamatan menggunakan metode garis transek, dua garis transek dibuat masing-masing pada hutan primer dan hutan sekunder, panjang garis transek masing-masing 2 km dengan lebar 20 m. Hasil penelitian menunjukkan di hutan primer tikus ekor putih memanfaatkan stratum B sebesar 7,59%, dan stratum C 92,40%. Pada hutan sekunder tikus ekor putih memanfaatkan stratum C sebesar 100%. Aktivitas yang dilakukan tikus ekor putih pada hutan primer, mencari makan sebesar 56,96%, aktivitas berpindah sebesar 30,37%, aktivitas makan sebesar 5,06%, dan aktivitas istirahat sebesar 7,59%. Pada hutan sekunder, sebesar 15,06%, aktivitas makan (2,73%),dan aktivitas istirahat sebesar 27,39%.Kata kunci: tikus ekor putih, aktivitas, strata hutan, Gunung Klabat Abstract White-tailed mice (Maxomys hellwaldii) are endemic to Sulawesi, which by the IUCN (The International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) still lacks attention to conservation status. The main threat to white-tailed mice is hunting for sale. The study used the transect line method, two transect lines were made in primary forest and two transect lines were made in secondary forest, the length of the transect line was 2 km in width and 20 m in width. The results showed that in primary forest white-tailed mice made use of stratum B of (7.59%), and stratum C was (92.40%). Whereas in the secondary forest white tail rats only use the C stratum, which is equal to 100%. Activities carried out by white-tailed rats were in primary forests, foraging for (56.96%), moving activities by (30.37%), eating activities by (5.06%), and resting activities at (7.59 %). In secondary forests, white-tailed mice looked for food (54.79%), shifting activity (15.06%), eating activities (2.73%), and resting activities (27.39%).Keywords: white-tailed mice, activity, forest strates, Klabat Mountain
Konsumsi Mamalia, Burung, dan Reptil Liar Pada Masyarakat Sulawesi Utara dan Aspek Konservasinya Saroyo, Saroyo
JURNAL BIOS LOGOS Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.1.1.2011.373

Abstract

AbstrakSurvei ini dilaksanakan untuk menginventarisasi jenis-jenis mamalia, burung, dan reptil liar yang dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara dalam kaitannya dengan aspek konservasi dan pemanfaatannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dari tahun 2006 sampai 2010 berdasarkan jenis-jenis yang diperdagangkan di pasar-pasar tradisional, kasus perburuan satwa liar, dan jenis-jenis yang disediakan dalam menu masyarakat pada pesta-pesta adat. Dari survei diperoleh hasil terdapat 39 jenis mamalia, burung, dan reptil liar yang dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara. Konsumsi satwa liar telah menjadi kebiasaan bagi bagi masyarakatnya dan merupakan faktor utama penyebab penurunan populasi satwa liar. Banyak jenis satwa yang dikonsumsi, beberapa termasuk dilindungi, masuk daftar terancam IUCN, dan masuk dalam appendix CITES. Oleh sebab itu pemanfaatan beberapa jenis satwa liar harus mengikuti peraturan perlindungan dan upaya penangkaran tikus ekor putih (Paruromys dominator), babi hutan (Sus celebensis), dan rusa (Cervus timorensis) sangat memungkinkan dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.Kata kunci: burung, mamalia, reptil, Sulawesi UtaraAbstractThis survey was conducted to collect information about wild mammals, birds and reptiles consumed by North Sulawesi people regarding with its conservation aspect and utilization. The used method was survey from 2006 to 2010 based on the animal species sold in some traditional markets, hunting cases and serving food in traditional party menu in Bitung City, Tomohon City and North Minahasa District. The result showed that there were 39 consumed species of wild mammals, birds and reptiles. Consumption of wild animal by local people has become a tradition for the community and it mostly resulted in the decline of wild animal population. Some species are included in IUCN Redlist and CITES Appendices. Therefore, all protection laws should be followed in the utilization of those species. In addition, breeding programme of Sulawesi giant rat (Paruromys dominator), Sulawesi Wild Boar (Sus celebensis) and Timor Deer (Cervus timorensis), is very prospective as it has economically value.Keywords: birds, mammals, reptiles, North Sulawesi
Kepadatan Famili Ikan Karang di Perairan Desa Popareng, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Indonesia Putri Tesalonika Rondonuwu; Saroyo Sumarto; Roni Koneri; Eko Handoyo
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 12 No. 1 (2022): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v12i1.39175

Abstract

Bunaken National Park is a conservation development area designated by the government and is located in North Sulawesi Province. One of the conservation partnership areas of Bunaken National Park is located in Popareng Village, Tatapaan District, South Minahasa Regency. Bunaken National Park (TNB) has a diversity of marine life, one of which is coral fish that live in association with coral reefs. However, the condition of many coral reefs has been damaged so that the reef fish that live in the area are much reduced. Threats from community activities that are difficult to monitor are the cause because the location on the South Coast of TNB is far away or difficult to monitor. This study aims to examine the density of reef fish in the waters of Popareng Village, South Minahasa, North Sulawesi. The method used is the Underwater Visual Census (UVC), with data collection techniques using a camera for video and photos of reef fish. This research was conducted in 3 different locations, namely Karang Tinggi, Laikit, and Tanjung Ringgi. The results obtained 22 families, 83 species, 1961 individuals. The highest density of reef fish was at the Laikit location, which was 15,260 Ind/Ha and the dominant family at the three observation sites was Pomacentridae. Keywords: Reef Fish; Density, Popareng; Pomacentridae; BunakenAbstrak Taman Nasional Bunaken merupakan kawasan pengembangan konservasi yang ditunjuk pemerintah dan terletak di Provinsi Sulawesi Utara. Salah satu area kemitraan konservasi Taman Nasional Bunaken terletak di Desa Popareng, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Taman Nasional Bunaken (TNB) memiliki keragaman biota laut salah satunya ikan karang yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang. Namun kondisi terumbu karang banyak yang telah rusak sehingga ikan karang yang hidup di daerah tersebut jauh berkurang. Ancaman dari aktivitas masyarakat yang sulit terpantau menjadi penyebab karena lokasi di Pesisir Selatan TNB yang jauh atau susah untuk dilakukan pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepadatan ikan karang di Perairan Desa Popareng, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah Underwater Visual Census (UVC), dengan teknik pengambilan data menggunakan kamera untuk video dan foto ikan karang. Penelitian ini dilakukan pada 3 lokasi berbeda yaitu Karang Tinggi, Laikit, dan Tanjung Ringgi. Hasil penelitian didapatkan 22 famili, 83 spesies, 1961 individu. Kepadatan ikan karang tertinggi ada pada lokasi Laikit yaitu 15.260 Ind/Ha dan famili yang mendominasi pada ketiga lokasi pengamatan adalah Pomacentridae.Kata Kunci: Ikan Karang; Kepadatan; Popareng; Pomacentridae; Bunaken
Pemanfaatan Vegetasi Rumput Brandjangan [Rottboellia cochinchinensis (Lour.) Clayton] oleh Beberapa Spesies Burung Saroyo Sumarto; Islamul Hadi; Adelfia Papu
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 12 No. 2 (2022): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v12i2.41510

Abstract

Guinea fowl grass [Rottboellia cochinchinensis (Lour.)] as an invasive grass from Indian which distributed in the tropical to sub-tropical area has becoming a huge problematic in farm areas due to its adaptivity high growth speed. The aim of this study is to analyse is there any benefit of the guinea fowl grass. Object of study is the birds around the grass. It reveals that there are at least 15 species of birds are living in the guinea fowl grass: Cisticola juncidis, Passer montanus, Lonchura oryzivora, L. molucca, L. punctulata, Pycnonotus aurigaster, Turnix maculosus, Geopelia striata, Spilopelia chinensis, Hypotaenidia torquata, Aramidopsis plateni, Porphyrio indicus, Centropus bengalensis, Haliastur indus, dan Hirundo rustica. The birds use this habitat as many purposes, such as source of food (granivorous, insectivorous and omnivorous), associate with other organisms, breeding ground and hide.   Keywords: Guinea fowl grass [Rottboellia cochinchinensis (Lour.); birds; daily activities; North Minahasa; North Sulawesi.ABSTRAK Rumput brandjangan [Rottboellia cochinchinensis (Lour.)] merupakan rumput invasif dari India, tersebar di daerah tropis dan subtropis dan menjadi permasalahan di daerah pertanian karena kecepatan tumbuh dan daya adaptif pada berbagai tipe habitat. Tujuan penelitian untuk mengkaji spesies burung yang memanfaatkan vegetasi rumput brandjangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2022 pada vegetasi rumput brandjangan di Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara. Data dikumpul menggunakan metode ad libitum dengan mengambil seluruh data spesies burung dan seluruh aktivitas yang dilakukan pada vegetasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 15 spesies burung: Cisticola juncidis, Passer montanus, Lonchura oryzivora, L. molucca, L. punctulata, Pycnonotus aurigaster, Turnix maculosus, Geopelia striata, Spilopelia chinensis, Hypotaenidia torquata, Aramidopsis plateni, Porphyrio indicus, Centropus bengalensis, Haliastur indus, dan Hirundo rustica. Aktivitas burung meliputi: mencari makan, makan, bersosial, beristirahat, kawin, dan bersembunyi. Rumput brandjangan menghasilkan biji sebagai sumber pakan burung granivora dan omnivore. Serangga pada vegetasi tersebut menjadi sumber pakan burung insektivora atau omnivora. Kata kunci: Rumput brandjangan [Rottboellia cochinchinensis (Lour.); burung; aktivitas harian; Minahasa Utara; Sulawesi Utara.
Pertumbuhan Distribusi, Ukuran Kelompok, dan aktivitas Kerak Kerbau (Acridotheres javanicus Cabanis, 1851) dan Kerak Perut-Pucat (Acridotheres cinereus Bonaparte, 1850) di Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara Saroyo; Parluhutan Siahaan; Seni Tongkukut; Adelfia Papu
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 1 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i1.52209

Abstract

Research on growth distribution, group size, and activity of javan myna [Acridotheres javanicus (Cabanis, Jl 1851)] and pale-bellied myna [Acridotheres cinereus Bonaparte, CLJL 1850] in Manado City and North Minahasa Regency, North Sulawesi, was carried out from July 2021 to June 2023. The aim of the study was to examine the geographical distribution of javan myna and pale-bellied myna in Manado City and North Minahasa Regency after the last survey conducted by Tasirin & Fitzsimons [23], determine group size, and analyze their activities. The research method used is a survey by determining the location, the number of individuals, or the number of birds in a group (group) when found and doing activities together, as well as bird activity during encounters, which are classified according to the classification applied to the Bali starling (Leucopsar rothschildi) [22]. The results showed that javan myna was scattered in only a few locations in Manado City and North Minahasa Regency, while pale-bellied myna was widely distributed with a tendency to approach residential areas and urban areas. The herd sizes observed during the survey were 3 individuals for javan myna and 1-25 individuals for pale-bellied myna. Activities observed during the survey included flying, walking, foraging, eating, drinking, socializing and caring for children, vocalizations, perching, and nesting. With these results, it can be concluded that the javan myna has low adaptability and growth compared to the pale-bellied myna, which has a very high adaptation to human life, so that it can survive and thrive in Manado City and North Minahasa Regency and take advantage of the resources built humans, such as using the tops of churches, houses, and buildings for nesting sites, doing activities close to human activities, and using household waste as food. With these results, it is important to analyze the effect of population growth and distribution of javan myna, especially for the benefit of conserving local species in other Sturnidae.
Co-Authors Adelfia Papu Adelfia Papu Adelfia Papu Adelfia Papu Ahmadin Awal Lumente, Ahmadin Awal Ahril Hidayat Akbar Arafah Embo, Akbar Arafah Alotia, Jayens Alule, Melisa BEIVY JONATHAN KOLONDAM Bryan M. Kuheba Deidy Katili Deidy Katili Deidy Y Katili Deidy Y Katili Deidy Y. Katili Deidy Y. Katili Edwin de Queljoe Eka Yuningsih Eko Handoyo Fabiola B. Saroinsong Farha N.J Dapas Febby E.F Kandou Fernandez T. Upa Frangky J. Paat Glorio D. Pinaria Greis M. Sendow Hanny Pontororing Hengki D. Walangitan Herni E.I Simbala I Nyoman Gede Arya Astawa Indra Polii, Indra Indriati Sumarni Islamul Hadi Jauhar Arifin Jessy D.L. Warongan Johny P. Lengkong Karim, Irwan Karmini Karmini Karyati Karyati Kiswanul Arifin Kunio Watanabe Lalu Wahyudi Langi, M A Lisa Wati Luther Latumakulita Maabuat, Pience Maria Y.M.A. Sumakud Marnix L. D. Nangoy Marnix L. D. Nangoy Marnix L.D Langoy Marnix L.D. Langoy Marnix Langoy Martina A. Langi Max R.J. Runtuwene Muhammad Danton Noor Muhammad Hendriyani Mylton Mantouw Mylton Mantouw, Mylton Olly E.H. Laoh Orpa Smarce Fransina Manori Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Pience V Maabuat Puasa, Marton Putri Sianipar Putri Tesalonika Rondonuwu Rahma Wati Rahmi Baihaki Rio Priyanto Saibi Rivo F. Rahasia Roni Koneri Rooije R.H. Rumende Rooije R.H. Rumende Rudy C Tarumingkeng Rumanasari, Ratih Dwi Rumanasen, Baren Rustamiya Rizki Adiati Sahdin Sapsuha Saibi, Rio P. Saibi, Rio Priyanto Saimima, Arie J. Sandy, Jhon I. Sandy, Jhon Ismail Sary D.E. Paturusi Sendy Rondonuwu, Sendy Seni Tongkukut Septiyana Lestari Shinta Avriyanti Sirait, Hasanuddin Siska Anggreani Siti Hatiah Sri Supraptini Mansjoer Stanly O.B. Lombogia Sumual, Mercy M. Sunarmi Sunarmi Susan Marlein Mambu Syamsul Bachry Tangapo, Agustina Monalisa TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN Taufik Rahman Tenda, Edwin Upa, Fernandez T. Wilmy Pelle