Claim Missing Document
Check
Articles

Case Study of Counter Pressure Therapy and Five Finger Hypnosis to Reduce Pain Intensity and Anxiety in the First Stage of Labor Diyah Ayu Prameswari; Surtiningsih; Yanti, Linda
JURNAL KEBIDANAN KESTRA (JKK) Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Kebidanan Kestra (JKK)
Publisher : Fakultas Kebidanan Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/jkk.v7i1.2273

Abstract

Childbirth is a process that begins with uterine contractions, followed by the opening of the cervix, birth of the baby, and expulsion of the placenta. During this process, mothers often experience pain and anxiety. One way to deal with pain is with the counter pressure technique, which is a massage using the fist that provides constant pressure on the spine during contractions. Additionally, increased anxiety can worsen pain during labor. One method that can be used to manage anxiety is five-finger hypnosis, a form of self-hypnosis that can create deep relaxation, thereby reducing tension and stress. This study aims to assess the reduction in pain and anxiety in five mothers who are in the first stage of labor after receiving counter pressure therapy and five finger hypnosis. The methods used include SOP for counter pressure, five finger hypnosis, observation sheets, Wong-Baker pain scale, and STAI anxiety scale. The results showed a reduction in pain and anxiety after the intervention, indicating that counter pressure therapy and five finger hypnosis were effective in reducing pain and anxiety during the first stage of labor.
HUBUNGAN USIA DENGAN PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN PRE OPERASI DI RSUD BREBES Rada, Muh Husein; Sukmaningtyas, Wilis; Yanti, Linda; Yudono, Danang Tri
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 22 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.14579678

Abstract

Latar Belakang : Tekanan darah ialah aspek yang amat vital dalam system sirkulasi peningkatan ataupun turunnya tekanan darah yang dapat memengaruhi homeostatis didalam tubuh. Adanya kondisi perubahan tekanan darah normal ke tekanan darah tinggi di preoperasi dapat mempengaruhi prosedur operasi yang akan dijalani oleh pasien hal ini dikarenakan beberapa obat anestesi dapat menurunkan tekanan darah selama proses pembiusan. Bertambahnya usia diketahui dapat membuat arterial menjadi kaku, kontribusi terhadap kerusakan endotel yang dapat memperbesar resistensi perifer total dan demikian juga tekanan darah. Tujuan : Mengidentifikasi korelasi usia terhadap fluktuasi tekanan darah dalam pre operasi. Metode : Studi analitik observasional ini menggunakan studi potong-lintang. Sampel penelitian meliputi 128 orang yang mengikuti penelitian dengan menggunakan metode purporsive sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil : Studi ini menemukan bahwasannya didapatkan hasil Chi-Square terlihat p-value dengan nilai 0,000 < 0,05 yang menunjukan adanya korelasi usia dengan perubahan tekanan darah pada pasien pre operasi. Simpulan : Semakin tua usia dapat mempengaruhi perubahan tekakan darah menjadi meningkat.
Peningkatan Kapasitas Kader pada Pencegahan Kehamilan Tidak Diinginkan dan Stunting Yanti, Linda; Adriyani, Fauziah Hanum Nur; Hikmanti, Arlyana; Wulandari, Nelsa Mei
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i3.16290

Abstract

ABSTRAK Kehamilan tidak diinginkan menimbulkan berbagai komplikasi salah satunya stunting. Prevalensinya stunting masih yang tinggi dapat dilihat dari data tahun 2021 sebanyak 24,4% dan tahun 2022 21,6%. Permasalahannya adalah tingginya kejadian kehamilan tidak diinginkan dan stunting. Hal tersebut dipicu karena adanya kehamilan tidak diinginka pada diusia dini atau masih kategori remaja yang menyebabkan terjadinya perdarahan dan kematian di masa nifas, karena pihak keluarga merasa malu dan menutupi sehingga remaja yang hamil tidak pernah melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan dan melahirkan dirumahnya. Selain itu tidak pernah mendapatkan sosialisasi kesehatan reproduksi ataupun edukasi tentang kehamilan sehat. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas kader dalam peningkatan pengetahuan, melakukan pendampingan, mendeteksi dini dan pemantauan serta pada akhirnya dapa mencegah kehamilan tidak diinginkan dan stunting. Metode yang digunaka adalah ceramah, tanya jawab dan diskusi, pretest dan posttest. Pesertanya adalah semua kader yang ada di Desa Kalipelus, Kecamatan Purwanegara. Hasil kegiatannya yang diikuti oleh 15 kader dan sebelum edukasipengetahuan kader sebagian besar kuran dan setelah edukasi sebagian besar baik, selain itu hasil monitoring evaluasi menunjukkan ibu hamil yang didampingi kader bersedia melakukan pemeriksaan ke puskesmas, menggunakan kontasepsi, dan merencanakan kehamilan secara sehat. Kesimpulannya terjadi peningkatan pengetahuan kader sebelum dan setelah edukasi. Sarannya Diharapkan semua puskesma dapat memaksimalkan peran kader kesehatan dan berkala mengupdate pengetahuan para kader kesehatan. Kata Kunci: Kader, Kehamilan Tidak Diinginkan, Stunting  ABTRACT Unwanted pregnancy causes various complications, one of which is stunting. The prevalence of stunting is still high, which can be seen from the data for 2021, which is 24.4% and 2022, 21.6%. The problem is the high incidence of unwanted pregnancies and stunting. This was triggered by unwanted pregnancies at an early age or in the teenage category which caused bleeding and death during the postpartum period, because the family felt embarrassed and covered up so that pregnant teenagers never went to a health facility for examination and gave birth at home. Apart from that, they never received reproductive health outreach or education about healthy pregnancy. The aim of this activity is to increase the capacity of cadres in increasing knowledge, providing assistance, early detection and monitoring and ultimately preventing unwanted pregnancies and stunting. The methods used are lecture, question and answer and discussion, pretest and posttest. The participants were all cadres in Kalipelus Village, Purwanegara District. The results of the activities were attended by 15 cadres and before the education the knowledge of the cadres was mostly poor and after the education the majority were good, apart from that the results of the monitoring evaluation showed that pregnant women who were accompanied by the cadres were willing to go to the health center for examinations, use contraception and plan a healthy pregnancy. Conclusion: There was an increase in cadres' knowledge before and after education. Suggestion: It is hoped that all health centers can maximize the role of health cadres and regularly update the knowledge of health cadres. Keywords: Cadre, Unwanted Pregnancy, Stunting
Gambaran Nyeri Tenggorokan Post Intubasi Endotrakeal Tube (ETT) Dan Laringeal Mask Airway (LMA) Dengan Anestesi Umum Di RSUD Cibabat Rayhan Fitra Ramadhan; Danang Tri Yudono; Linda Yanti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.104

Abstract

Post–Operative Sore Throat (POST) menjadi salah satu keluhan yang paling sering dilaporkan pasien setelah general anestesi. Insidensi nyeri tenggorokan pasca operasi memiliki angka bervariasi sekitar 14,1%–50% pada pasien yang dilakukan ekstubasi. Tujuan: Mengetahui gambaran nyeri tenggorokan pasca operasi pada pasien yang mengalami anestesi umum dengan intubasi endotrakeal di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat Cimahi. Metode: penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan dengan dengan pendekatan cross sectional. Pada penelitian ini penulis mengambil metode sampling No Random Sampling dengan teknik sampling purposive sampling. Bentuk analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa univariat. Hasil: hasil penelitian ini menunjukan bahwa kejadian nyeri tenggorokan pasca intubasi intubasi ETT didapatkan sebanyak 15 orang tidak mengalami nyeri, 21 orang mengalami nyeri ringan, 7 orang mengalami nyeri sedang, dan 2 orang mengalami nyeri berat. Sedangkan pada intubasi LMA didapatkan 33 orang tidak mengalami nyeri, 10 orang mengalami nyeri ringan, 2 orang mengalami nyeri sedang dan tidak ada yang mengalami nyeri berat. Kesimpulan: Respon nyeri tenggorokan pasca intubasi terbanyak yaitu pada penggunaan endotracheal tube dibandingkan penggunaan laryngeal mask airway
Faktor yang mempengaruhi hipotermia postoperatif pada pasien pembedahan elektif general anestesi Ibrahim, Rikhap; Sebayang, Septian Mixrova; Yanti, Linda
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v9i1.1190

Abstract

Hipotermia pascaoperasi merupakan masalah klinis yang dapat memperburuk kondisi pasien, memperpanjang masa rawat inap, meningkatkan risiko komplikasi, dan menambah biaya perawatan. Meskipun prevalensinya cukup tinggi, masih terbatas penelitian yang meneliti faktor-faktor penyebabnya, terutama dalam konteks lokal dan operasi elektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kejadian hipotermia pascaoperasi di RSUD Jatiwinangun Purwokerto, ditinjau dari variabel usia, jenis kelamin, lama operasi, indeks massa tubuh (IMT), status fisik ASA, jenis operasi, suhu ruangan, dan waktu transisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum pada periode 2–27 Agustus 2023, dengan teknik total sampling sebanyak 65 pasien. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan pengukuran suhu tubuh di ruang pemulihan. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama operasi, waktu transisi, status ASA, dan jenis operasi memiliki pengaruh yang signifikan dengan kejadian hipotermia (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa keempat faktor tersebut berpengaruh terhadap terjadinya hipotermia pascaoperasi di RSUD Jatiwinangun.
Hubungan Waiting Time Preoperatif terhadap Kecemasan Pasien Odontectomy dengan General Anestesi Adelia, Putri Mewa; Burhan, Asmat; Yanti, Linda
Jurnal Keperawatan Profesional Vol 13, No 1 (2025): Determinants of Health
Publisher : Nurul Jadid University, Probolinggo, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jkp.v13i1.11362

Abstract

Odontectomy adalah prosedur pencabutan gigi impaksi yang sering dilakukan, terutama di Jawa Barat dengan rata-rata 450 kasus per tahun. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa waiting time preoperatif yang lama dapat meningkatkan kecemasan pasien, yang berpengaruh pada kenyamanan dan hasil klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi waiting time sebelum operasi dengan tingkat kecemasan pasien. Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif cross-sectional dengan 38 responden yang dipilih melalui consecutive sampling. Meski jumlah sampel terbatas dan metode sampling ini berpotensi menimbulkan bias seleksi, peneliti berupaya meminimalkan bias dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat serta memilih responden secara sistematis berdasarkan urutan kedatangan. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan kuesioner APAIS, lalu dianalisis dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan waiting time ≥ 30 menit cenderung mengalami kecemasan sedang hingga berat. Nilai p = 0,001 dan koefisien korelasi Spearman ρ = 0,533 mengindikasikan hubungan yang sedang dan signifikan antara durasi waiting time dan kecemasan. Optimalisasi manajemen jadwal operasi dan pemberian intervensi psikologis sederhana, seperti teknik relaksasi, diharapkan dapat menurunkan kecemasan pasien serta meningkatkan kualitas pelayanan praoperasi. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi praktik klinis meski terdapat beberapa keterbatasan.
Prevalensi Nyeri Kepala pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Ningsih, Santi Wiwitia; Burhan, Asmat; Yanti, Linda
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 3 (2025): Juli-September 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16300i

Abstract

Headaches in college students can be caused by stress arising from high study loads, tight assignment deadlines, and increasingly complex academic demands. Emotional increases can trigger headaches. Primary headaches can impact adult students in education, thus affecting engagement in activities and academic achievement. The purpose of this study was to determine the prevalence of headaches in anesthesiology nursing students. This study used a quantitative descriptive method, involving 123 students selected using a simple random sampling technique. Data were collected using the Headache Screening Questionnaire-Dutch Version (HSQ-DV) questionnaire and analyzed descriptively in the form of frequencies and proportions. The results showed that the most common type of headache was Tension-Type Headache (TTH) with a prevalence of 23.6% (probable TTH) and 3.3% (TTH). Meanwhile, the prevalence of migraine was recorded at 8.9% (probable migraine) and 1.6% (migraine). Meanwhile, headaches were more often experienced by women aged 17-25 years, with a frequency of 1-4 headaches once a month. It was further concluded that tension-type headaches (TTH) are more common among anesthesiology nursing students, especially females. Improved academic stress management, such as psychological interventions and health education, can prevent negative impacts on students and support academic success.Keywords: headache; students; anesthesiology nursing; tension-type headache ABSTRAK Nyeri kepala pada mahasiswa dapat disebabkan oleh stress yang timbul akibat beban studi yang tinggi, tenggat waktu tugas yang ketat, serta tuntutan akademik yang semakin kompleks. Peningkatan emosional dapat memicu nyeri kepala. Nyeri kepala primer dapat berdampak pada mahasiswa dewasa yang sedang dalam pendidikan, sehingga dapat memengaruhi keterlibatan dalam aktivitas dan prestasi akademik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi nyeri kepala pada mahasiswa keperawatan anestesiologi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, yang melibatkan 123 mahasiswa yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Headache Screening Questionnaire-Dutch Version (HSQ-DV) dan dianalisis secara deskriptif berupa frekuensi dan proporsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis nyeri kepala yang paling sering ditemukan adalah Tension-Type Headache (TTH) dengan prevalensi 23,6% (probable TTH) dan 3,3% (TTH). Sementara itu, prevalensi migrain tercatat sebesar 8,9% (probable migrain) dan 1,6% (migrain).  Sedangkan, nyeri kepala lebih sering dialami oleh perempuan usia 17-25 tahun, dengan frekuensi nyeri kepala 1-4 sekali sebulan. Selanjutnya disimpulkan bahwa nyeri kepala TTH lebih sering dialami oleh mahasiswa keperawatan anestesiologi, terutama perempuan. Pengelolaan stress akademik yang lebih baik, seperti intervensi psikologi dan edukasi kesehatan, untuk mencegah dampak negatif pada mahasiswa dan mendukung keberhasilan akademik.Kata kunci: nyeri kepala; mahasiswa; keperawatan anestesiologi; tension-type headache
Pendidikan Kesehatan tentang Tanda Kegawatan Hipoglikemia pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Posbindu PTM Cirebon Girang Rohmah, Ayu Nurita; Handayani, Rahmaya Nova; Yanti, Linda
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i8.21128

Abstract

ABSTRAK Prevalensi diabetes di Indonesia meningkat signifikan dari 9,19% pada tahun 2020 (18,69 juta kasus) menjadi 16,09% pada tahun 2045 (40,7 juta kasus). Selain itu, prediksi jumlah kematian yang disebabkan oleh diabetes meningkat dari 433.752 pada tahun 2020 menjadi 944.468 pada tahun 2045. Hipoglikemia merupakan komplikasi dari diabetes tipe 2 yang kondisi nya ditandai dengan kadar glukosa darah yang rendah dan menyebabkan disfungsi kognitif, gangguan fungsi otak, serta peningkatan risiko DM tipe 2 di otak. Salah satu strategi untuk mengatasi masalah pengetahuan tentang hipohlikemia dan tanda kegawatan dapat melalui edukasi Kesehatan. Pengabdian kepada Masyarakat ini berfokus pada peningkatan pengetahuan pasien DM di posbindu PTM Cirebon Girang mengenai tanda kegawatan hipoglikemia. Metode yang digunakan yaitu memberikan edukasi berupa materi dalam bentuk slide power point, video dan booklet. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan sebelum diberikan edukasi, menunjukkan bahwa mayoritas peserta berada pada kategori cukup (76%), kategori kurang (20%) dan hanya (4%) peserta berada pada kategori baik. Tingkat pengetahuan setelah diberikan edukasi, mengalami peningkatan signifikan yaitu ditunjukkan dengan meningkatnya peserta dalam kategori baik dari (4%) menjadi (84%) dan tidak ada lagi peserta dalam kategori baik (0%).  Penggunaan video dan booklet ini efektif digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat yang mana terjadi peningkatan pengetahuan kategori baik sebanyak 80%. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Hipoglikemia, Pendidikan Kesehatan  ABSTRACT The prevalence of diabetes in Indonesia increased significantly from 9.19% in 2020 (18.69 million cases) to 16.09% in 2045 (40.7 million cases). In addition, the predicted number of deaths caused by diabetes increased from 433,752 in 2020 to 944,468 in 2045. Hypoglycemia is a complication of type 2 diabetes that is characterized by low blood glucose levels and causes cognitive dysfunction, impaired brain function, and increased risk of type 2 DM in the brain. One of the strategies to overcome the problem of knowledge about hypoglycemia and signs of emergency can be through health education. This community service focuses on increasing the knowledge of DM patients in Posbindu PTM Cirebon Girang about the signs of hypoglycemia. The method used is to provide education in the form of material in the form of power point slides, videos and booklets. The results of this activity showed that the level of knowledge before education was given, showed that the majority of participants were in the moderate category (76%), the less category (20%) and only (4%) participants were in the good category. The level of knowledge after education was given, experienced a significant increase, as shown by the increase in participants in the good category from (4%) to (84%) and there were no more participants in the good category (0%). The use of videos and booklets is effective in community service where there is an increase in knowledge in the good category as much as 80%. Keywords: Diabetes Mellitus, Hypoglycemia, Health Education
Eksplorasi Pengetahuan dan Sikap Masyarakat terhadap Kehamilan Tidak Diinginkan: Tantangan dan Solusi Edukasi Reproduksi Yanti, Linda; Rini, Susilo; Surtiningsih, Surtiningsih
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i8.18285

Abstract

ABSTRACT Unintended pregnancy is a serious global health issue, with a high prevalence in developing countries, including Indonesia. This is often caused by limited access to reproductive health services, lack of sexual health education, and social and cultural norms that restrict discussions about contraception, posing health risks for mothers and children. Cross-sector collaboration is needed to improve education and access to contraceptive services. The aim of this study is to explore public knowledge and attitudes towards unintended pregnancy, focusing on reproductive education challenges and solutions. This descriptive study with a cross-sectional approach involved 150 respondents from Sumatra, Java, Bali, and West Nusa Tenggara. Data were collected online using random sampling techniques and analyzed. Ethical approval was obtained from the Health Research Ethics Committee of Harapan Bangsa University under No.B.LPPM-UHB/765/07/2024. The results indicate that the majority of participants were women (94%) and within the productive age group (20-35 years) with higher educational backgrounds, most of whom were married. They showed a good level of knowledge (82%) and positive attitudes (96.7%) towards unintended pregnancy, reflecting broad inclusivity and social empathy within society. It can be concluded that society tends to have a positive attitude towards unintended pregnancy, consistent with previous studies showing that increased reproductive education and access to information contribute to greater social empathy, reduced stigma, and strengthened support for holistic reproductive health programs. Keywords: Knowledge, Attitudes, Unintended Pregnancy, Reproductive Health  ABSTRAK Kehamilan tidak diinginkan adalah isu kesehatan global yang serius, dengan prevalensi tinggi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dan sering kali disebabkan oleh keterbatasan akses ke layanan kesehatan reproduksi, kurangnya edukasi kesehatan seksual, serta norma sosial dan budaya yang membatasi diskusi tentang kontrasepsi, sehingga menimbulkan risiko kesehatan bagi ibu dan anak dan memerlukan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan edukasi dan akses layanan kontrasepsi. Tujuan penelitian ini ntuk melakukan Eksplorasi pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kehamilan tidak diinginkan: tantangan dan solusi edukasi reproduksi. Metode penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 150 responden dari Pulau Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Data dikumpulkan secara daring menggunakan teknik random sampling dan dianalisis. Lisensi etik telah didapatkan dari komite etik penelitian kesehatan Universitas harapan bangsa dengan No.B.LPPM-UHB/765/07/2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perempuan (94%) dan usia produktif (20-35 tahun) dengan pendidikan menengah ke atas mendominasi partisipasi, sebagian besar telah menikah, dan menunjukkan pengetahuan yang baik (82%) serta sikap positif (96.7%) terhadap kehamilan tidak diinginkan, mencerminkan inklusivitas dan empati sosial yang luas dalam masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat cenderung memiliki sikap positif terhadap kehamilan tidak diinginkan, selaras dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa peningkatan edukasi reproduksi dan akses informasi berkontribusi pada empati sosial yang lebih besar, mengurangi stigma, dan memperkuat dukungan terhadap program kesehatan reproduksi yang holistik. Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Kehamilan Tidak Diinginkan, Kesehatan Reproduksi
Gambaran tingkat kecemasan pasien preoperasi sectio caesarea Ibrahim, Nawal; Sukmaningtyas, Wilis; Yanti, Linda
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v9i2.1191

Abstract

Kecemasan praoperasi pada pasien sectio caesarea dapat dipicu oleh stres terkait prosedur pembedahan. Tingkat kecemasan yang berlebihan berpotensi menghambat proses penyembuhan dan memperburuk kondisi pasien selama operasi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tingkat kecemasan pasien sectio caesarea praoperasi di RST Wijaya Kusuma Purwokerto. Desain penelitian menggunakan deskriptif observasional kuantitatif dengan pendekatan Cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di ruang rawat inap Gayatri RST Wijaya Kusuma Purwokerto pada 1–29 November 2023. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah sampel 35 pasien. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS), sedangkan analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 17 responden (48,6%) berusia antara 17 sampai 25 tahun, mereka yang disurvei, 25 (71,6%) belum pernah menjalani operasi, sedangkan 10 (28,4%) sebelumnya pernah menjalani operasi penyelamatan. Dari mereka yang disurvei, 11 (31,4%) memiliki pendidikan SMP dan sebanyak 18 responden (51,4%) menggolongkan kecemasan sebelum operasi sectio caesarea sebagai kecemasan dengan tingkat sedang. Dari. Penelitian ini disimpulkan sebagian besar responden tingkat kecemasan preoperasi pada pasien sectio caesarea berada pada kategori sedang, belum pernah menjalani tindakan pembedahan, meskipun terdapat sebagian kecil yang memiliki riwayat pembedahan. Dari segi latar belakang pendidikan, sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan terakhir setara Sekolah Menengah Pertama (SMP).