Claim Missing Document
Check
Articles

WOMEN’S SHELTER di TOMOHON (Arsitektur Feminisme) Mangoendap, Yohane A.; Poluan, Roosje J.; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.9657

Abstract

Kasus kejahatan terhadap perempuan telah banyak didengar dan dilihat dalam berbagai media sosial bahkanpun yang dilihat secara langsung dengan mata kepala sendiri. Secara keseluruhan, kasus kejahatan terhadap perempuan baik wanita dewasa maupun anak-anak telah sering diberitakan dan dilaporkan Selain kasus-kasus yang dilaporkan tersebut, masih ada juga banyak kasus kejahatan atau kekerasan terhadap perempuan yang tidak dilaporkan kepada pihak berwajib. Pemerintah khususnya Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Kepolisian Republik Indonesia bahkan organisasi-organisasi terkait,telah melakukan berbagai upaya untuk masalah kekerasan terhadap perempuan ini. Baik dalam pelaporan, pendampingan sampai kepada pemulihan korban. Dalam hal ini, dirancanglah bangunan yang mewadahinya yaitu Women’s Shelter. Women’s shelter merupakan tempat perlindungan sementara berupa dukungan bagi perempuan yang melarikan diri dari situasi kekerasan, seperti perkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga. Sering juga diperluas untuk menangani isu-isu terkait seperti perumahan korban anak-anak, baik laki-laki dan perempuan serta menyediakan bantuan hukum bagi korban kekerasan dalam rumah tangga, dan layanan lainnya. Bangunan ini dirancang dengan menggunakan tema arsitektur feminisme. Hasil perancangan Women’s Shelter ini pada akhirnya menghadirkan objek yang mengapdosi sifat perempuan dan karakter serta kecintaannya dalam bentuk-bentuk keindahan. Feminisme itu sendiri mempunyai arti yang lebih dalam yaitu kebebasan dan kesejajaran dalam mengekspresikan ide dan desain bangunan. Hal ini terbukti dari terbentuknya paham baru yang mengutamakan kebebasan berekspresi serta berteknologi. Kata kunci : Perempuan, Shelter, Feminisme
FASILITAS WISATA SEJARAH BENTENG MORAYA DI TONDANO “KONTEMPORERISASI CHARLES JENCKS PADA ARSITEKTUR MINAHASA” Tambingon, Monika P.; Sela, Rieneke L. E.; Gosal, Pierre H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.10719

Abstract

ABSTRAK Fasilitas Wisata Sejarah Benteng Moraya adalah suatu sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi suatu tempat wisata sejarah yang akan mengangkat kembali tentang sejarah Benteng Moraya berkaitan dengan sejarah Perang Tondano. Tema yang diangkat adalah Kontemporerisasi Charles Jencks pada Arsitektur Minahasa sebagai strategi perancangan dimana unsur kebudayaan Minahasa akan diangkat namun diberikan sentuhan pembaharuan/mengkontemporerisasikan bentuk dari Arsitektur Minahasa sehingga dapat menghasilkan sebuah bentuk yang baru, dengan unsur kebudayaan Minahasa yang dikemas secara berbeda. Metode perancangan meliputi 3 pendekatan yaitu pendekatan tipologi objek, pendekatan tapak dan pendekatan tematik dengan menggunakan proses desain John Zeisel. Fasilitas-fasilitas wisata sejarah yang akan dihadirkan ditinjau dari segi fungsi utama dalam kegiatan wisata sejarah yaitu Monumen Benteng Moraya yang tetap dipertahankan namun dibenahi kembali, teater, amphiteater, perpustakaan, gedung pameran dan dari segi fungsi penunjang dalam kegiatan rekreasi/hiburan, management, dan pelayanan yaitu restaurant, toko souvenir, gasebo, taman, kantor pengelola, wc umum, parkir, gudang, pos jaga masuk/keluar kendaraan dan loket-loket tiket untuk fasilitas rekreasi/hiburan. Kata kunci : Monumen Benteng Moraya, Fasilitas, Kontemporerisasi.
CONCERT HALL DI MANADO. Architectural and Acoustic Design Turangan, Gabriela R.; Makainas, Idradjaja; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17469

Abstract

Desain Arsitektur Akustik adalah teknologi untuk mendesain ruangan, struktur dan konstruksi dari sebuah ruangan yang tertutup. Dengan desain arsitektural yang baik, suara-suara yang diinginkan dapat dinikmati dengan sempurna dan suara-suara yang mengganggu pendengaran dapat dihindarkan contohnya pada bangunan pementasan atau Concert Hall. Di Kota Manado saat ini, peminat seni sudah sangat berkembang pesat khususnya dalam seni musik. Oleh sebab itu guna meningkatkan kualitas terhadap seni musik di Manado, maka perlu adanya wadah yang dapat menfasilitasi hal tersebut. Karena sampai saat ini, kota Manado belum mempunyai standar gedung dengan akustik yang memadai. Sehingga nantinya, wadah itu diharapkan bisa memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan seni musik yang ada di kota di Manado melalui infrastruktur yang mendukung dan modern. Jadi kesimpulannya, penerapan arsitektural akustik pada Concert Hall di Manado mampu menyajikan bangunan yang modern serta mampu memberikan kenyamanan dan keamanan akustika bangunan.  Kata Kunci : Concert Hall,Architectural, dan Acoustic
MANADO EXHIBITIONCENTER. Arsitektur Futuristik Pinontoan, Billy J.; Rogi, Octavianus H. A.; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19311

Abstract

Kota Manado menjadi salah satu pusat perkembangan ekonomi dan bisnis di Sulawesi khususnya Sulawesi Utara, selain itu Manado sendiri memiliki berbagai destinasi wisata. Semakin hari perkembangan ini semakin terlihat dari banyaknya perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di kota Manado. Selain dalam bidang ekonomi dan Bisnis, perkembangan juga terlihat di bidang kesenian. Ada begitu banyak karya seni lokal yang pantas untuk dipamerkan. Oleh karena itu, dibutuhkan wadah yang dapat memperkenalkan setiap produk-produk perusahaan juga berbagai karya seni lokal dalam satu bangunan. Di kota Manado pun belum memiliki suatu wadah yang dapat mefasilitasi kegiatan-kegiatan tersebut, maka dengan adanya Manado Exhibition Center ini diharapkan dapat menampung segala kegiatan dan aktivitas tersebut.Pendekatan Perancangan Manado Exhibition Center ini menggunakan pendekatan tipologi objek, pendekatan tema perancangan dan pendekatan analisis tapak dan lingkungan. Dalam pendekatan tipologi objek ini dilakukan dengan melalui pengidentifikasian dan pendalaman objek perancangan serta dilakukan juga studi komparasi yang melakukan perbandingan objek atau fasilitas sejenis objek rancangan. Diperlukan pemahaman terhadap tema untuk bisa mengoptimalkan penerapannya dalam rancangan. Tema yang diambil adalah Arsitektur futuristik , yang mengacu pada prinsip-prinsip dalam Arsitektur futuristik, agar dapat menunjang fungsi objek rancangan.Manado Exhibition Center dirancang sebagai tempat pameran, pertemuan, konferensi dan pergelaran yang sangat berguna untuk masyarakat serta dapat menunjang perekonomian daerah. Dengan hadirnya bangunan ini diharapkan dapat mewadahi segala kegiatan aktivitas pameran, pertemuan, konferensi dan pergelaran yang belum di fasilitasi secara baik dalam segi arsitektur yaitu suatu bangunan yang dapat menampung segala jenis kegiatan tersebut.Kata Kunci : Exhibition,  Jasa, Seni, Futuristik
REDESAIN MUSEUM NEGERI PROVINSI SULAWESI UTARA. Regionalisme dalam Arsitektur Oktaviana, Eka; Sela, Rieneke L. E.; Sondakh, Julianus A. R.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20825

Abstract

Proses merancang kembali sebuah museum guna merubah penampilan atau fungsi bangunan agar bisa melestarikan warisan budaya dari wilayah provinsi Sulawesi Utara untuk tujuan studi, penelitian, dan kesenangan atau hiburan dengan tema regionalisme dalam arsitektur yang merupakan upaya menampilkan kembali gaya arsitektur kedaerahan ke dalam bangunan masa kini. Saat ini di Provinsi Sulawesi Utara terutama kota Manado masih kurangnya keberadaan bangunan yang didesain dengan menampilkan kembali ciri kedaerahannya salah satunya museum negeri provinsi sulawesi utara. Tujuan penulisan ini untuk meredesain kembali museum yang modern yang memperlihatkan identitas budaya setempat dan memenuhi persyaratan ruang yang belum terpenuhi. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi literatur, observasi/surveying, studi kasus, studi komparasi, dan analisa. Hasil yang dicapai, sebuah museum yang memiliki identitas budaya setempat melalui bentuk atau ornamen pada fasade bangunan, dan adanya penambahan unsur yaitu unsur rekreatif sehingga masyarakat lebih tertarik lagi untuk datang ke museum. Tidak hanya sekedar melihat pameran tapi juga bisa merasakan fasilitas lain yaitu fasilitas rekreasi agar tidak terpaku pada suasana yang terkesan monoton.Kata kunci : Redesain, Museum, Regionalisme, Arsitektur
TAMAN EDUKASI DI MANADO. Arsitektur Organik Maasawet, Bayu; Siregar, Frits O. P.; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23958

Abstract

Manado merupakan ibukota provinsi Sulawesi Utara dengan penduduk yang cukup banyak yang menjadikan kota Manado sebagai pusat kegiatan dan  juga sebagai tolak ukur atas kemajuan provinsi Sulawesi Utara dan negara Indonesia baik di bidang ekonomi, fasilitas, kekayaan alam, pendidikan dan sebagainya. Dalam tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, dan menghadirkan suatu fasilitas edukasi yang menarik, rekreatif, yang dapat memberikan pengalaman edukasi dengan hubungan langsung dengan alam. Maka suatu fasilitas wahana wisata edukasi dengan tema organik yang mengoptimalkan hubungan serta keharmonisan antara manusia, bangunan, dan alam, merupakan suatu cara untuk menarik masyarakat untuk dapat menikmati edukasi non formal dengan cara berbeda dan lebih menarik. Metode yang digunakan merupakan metode perancangan dengan pendekatan Arsitektur Organik untuk dapat mengoptimalkan hubungan objek rancangan dengan  alam yang berada disekitar objek rancangan tersebut. Tujuan dari perancangan ini adalah agar dapat menghadirkan suatu fasilitas edukasi yang memiliki daya tarik bagi masyarakat luas dan secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan terlebih khusus di daerah yang akan dibangun fasilitas tersebut yaitu kota Manado.  Kata Kunci: Taman Edukasi, Arsitektur Organik, Manado
Interaksi Keruangan Antara Pusat Kota Bitung dan Pulau Lembeh Suawah, Alya Graciela Rahmadini; Takumansang, Esli D.; Sela, Rieneke L. E.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Bitung Barat Satu, Kelurahan Bitung Barat Dua, Kelurahan Bitung Tengah dan Kelurahan Bitung Timur di Kecamatan Maesa yang berfungsi sebagai pusat pelayanan di Kota Bitung mengindikasikan terjadinya ketimpangan dengan wilayah lainnya khususnya wilayah pinggiran, yakni Pulau Lembeh dalam berbagai aspek seperti kondisi ekonomi dan infrastruktur perkotaan sehingga dimana hal ini dapat menghambat perkembangan Pulau Lembeh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai interaksi keruangan dan menentukan faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi keruangan antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan yang ada di Pulau Lembeh menggunakan analisis model gravitasi dan analisis spasial berbasis Geographic Information System (GIS). Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah pendapatan per kapita, fasilitas perkotaan dan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelurahan Papusungan yang berada di Pulau Lembeh telah terjadi interaksi dengan klasifikasi yang sangat kuat pada 3 jenis data sementara itu Kelurahan Lirang terjadi interaksi yang sangat lemah pada 2 jenis data. Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya interaksi antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan di Pulau Lembeh adalah faktor kemampuan saling melengkapi (regional complementarity) hal ini dikarenakan suatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga perlu melakukan interaksi dengan wilayah lainnya.
Interaksi Keruangan Antara Pusat Kota Bitung dan Pulau Lembeh Suawah, Alya Graciela Rahmadini; Takumansang, Esli D.; Sela, Rieneke L. E.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Bitung Barat Satu, Kelurahan Bitung Barat Dua, Kelurahan Bitung Tengah dan Kelurahan Bitung Timur di Kecamatan Maesa yang berfungsi sebagai pusat pelayanan di Kota Bitung mengindikasikan terjadinya ketimpangan dengan wilayah lainnya khususnya wilayah pinggiran, yakni Pulau Lembeh dalam berbagai aspek seperti kondisi ekonomi dan infrastruktur perkotaan sehingga dimana hal ini dapat menghambat perkembangan Pulau Lembeh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai interaksi keruangan dan menentukan faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi keruangan antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan yang ada di Pulau Lembeh menggunakan analisis model gravitasi dan analisis spasial berbasis Geographic Information System (GIS). Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah pendapatan per kapita, fasilitas perkotaan dan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelurahan Papusungan yang berada di Pulau Lembeh telah terjadi interaksi dengan klasifikasi yang sangat kuat pada 3 jenis data sementara itu Kelurahan Lirang terjadi interaksi yang sangat lemah pada 2 jenis data. Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya interaksi antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan di Pulau Lembeh adalah faktor kemampuan saling melengkapi (regional complementarity) hal ini dikarenakan suatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga perlu melakukan interaksi dengan wilayah lainnya.
SKIZOFRENIA CENTER DI GOWA: Therapeutic Landscape Amelin, Trifloni; Siregar, Frits O. P.; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 14 No. 4 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 4, November 2025
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v14i4.66719

Abstract

Skizofrenia merupakah salah satu gangguan kesehatan jiwa kronis yang mempengaruhi daya pikir, persepsi, emosi, pergerakan dan perilaku individu. Skizofrenia sebagai salah satu gangguan jiwa kronis membutuhkan perhatian khusus karena berdampak signifikan terhadap individu, keluarga, dan masyarakat. Data menunjukkan bahwa jumlah penderita skizofrenia terus bertambah, di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Gowa, menjadi salah satu wilayah dengan prevalensi tinggi, namun rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengobatan jangka panjang dan juga dukungan fasilitas kesehatan yang masih kurang optimal menjadi permasalahan yang perlu diperbaiki. Kondisi ini menegaskan urgensi penyediaan fasilitas kesehatan jiwa yang memadai dan berorientasi pada penyembuhan menyeluruh. Menanggapi hal tersebut, rancangan Skizofrenia Center menjadi suatu tempat untuk mewadahi kegiatan di dalamnya yang berorientasi pada penyembuhan menyeluruh. Untuk mendukung proses penyembuhan, Therapeutic Landscape diusungkan sebagai tema perancangan untuk menciptakan ruang penyembuhan dengan memanfaatkan ruang terbuka hijau, dan elemen ramah sensorik untuk mempercepat pemulihan. Dalam rancangan ini,metode yang diterapkan adalah metode perancangan yang dikemukakan oleh William Pena. Metode ini adalah pendekatan sistematis yang menekankan identifikasi kebutuhan proyek melalui analisis mendalam, sehingga permasalahan dapat dipahami secara komprehensif sebelum tahap desain, dan menghasilkan solusi yang efisien, fungsional, serta sesuai kebutuhan pengguna. Kata Kunci : therapeutic landscape, skizofrenia, kabupaten gowa
Co-Authors Alfrets Singkoh Alvin J. Tinangon Amanda M. Rompas Amelin, Trifloni Aristotulus E Tungka, Aristotulus E Artahsasta B. P. Binilang, Artahsasta B. P. Baso, Fransisca P. Y. Brigita T. Makarawung Cynthia V. Sondakh Datukramat, Hermawan Pratama Deddy Erdiono Dewi, Kartika Puspa Dewi, Kartika Puspa Esli D. Takumansang Esli Takumansang, Esli Eunike Waani Frits O. P. Siregar Gobel, Indra Wirana Jaya Hardiyanti Madja Henricho Dirganeri Ingerid L. Moniaga Ingerid L. Moniaga Ishak, Fajriyanti Jerry J. Antou Judistia S. Makarau, Judistia S. Judy O. Waani Judy O. Waani Julianus A. R. Sondakh Kalvin D. Iskandar Koyakin, Ferenshia P. Kumurur, Veronika - Kumurur, Veronika A Lakat, Ricky S. M. Latawan, Wirakusniawati Lauma, Safirda Nadia Leidy M. Rompas Linda Tondobala Maasawet, Bayu Makainas, Idradjaja Makarawung, Brigita T Makarawung, Brigita T. Martin, Willy Michael M Rengkung, Michael M Missah, Rizkyanto Efraim Monica P. P. Roring Monika P. Tambingon, Monika P. Nonto, Erlangga Octavianus Hendrik Alexander Rogi Oktaviana, Eka Pierre H. Gosal Pingkan P. Egam Pinontoan, Billy J. Pollo, Joel Yermia Rachmat Prijadi Rapar, Srimuliani Miranda Debora Raymond Ch. Tarore Raymond D. Ch. Tarore Rezka L. Nender Rompas, Lady M Roosje J. Poluan Sambeka, Gabriela Sheren A. A. Lumolos Shintia F. A. Rungkat Sonny Tilaar Sonny Tilaar Suawah, Alya Graciela Rahmadini Suryono MT Tinangon, Alvin J Toghas, Daniel Marthinus Triesa J. Kindangen Tuar, Isabella Gloria Tulangow, Pingkan K Turangan, Gabriela R. Umar, Feki Pebrianto Urbanus, Ananda Veronica A. Kumurur Watung, Christania H.T. Windy J. Mononimbar Yohane A. Mangoendap, Yohane A.