Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERKEMBANGAN POLA PERMUKIMAN DI SEKITAR KAWASAN STRATEGIS AGROPOLITAN RURUKAN KECAMATAN TOMOHON TIMUR Rapar, Srimuliani Miranda Debora; Sela, Rieneke L. E.; Tinangon, Alvin J
SPASIAL Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan strategis kota merupakan bagian wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota di bidang ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Dalam setiap wilayah kabupaten/kota memiliki bagian wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan strategis. Kecamatan Tomohon Timur merupakan salah satu kecamatan yang ditetapkan sebagai kawasan strategis kota yaitu kawasan strategis agropolitan, yang menjadi salah satu basis ekonomi wilayah kota Tomohon. Adanya kawasan agropolitan ini akan memicu perkembangan permukiman yang berada di sekitar kawasan strategis tersebut serta dapat mempengaruhi pola perkembangan permukiman Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi perkembangan permukiman di sekitar kawasan strategis agropolitan dan menganalisis pola perkembangan permukiman disekitar kawasan strategis agropolitan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analisis spasial time series untuk melihat perkembangan permukiman dan menggunakan perhitungan analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola permukiman. Hasil penelitian diperoleh adanya perkembangan luas wilayah sebaran permukiman dari tahun 2004-2019 sebesar 32.85 Ha. Adanya perubahan pola permukiman tahun 2004-2019 khususnya kelurahan Rurukan 1 dan Kumelembuay, dari pola seragam menjadi pola random.Kata Kunci: Kawasan Strategis, Permukiman, Pola Permukiman.
ANALISIS PERKEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN SEKITAR DANAU TONDANO KABUPATEN MINAHASA Makarawung, Brigita T; Sela, Rieneke L. E.; Rompas, Lady M
SPASIAL Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam RTRW Kabupaten Minahasa kawasan sekitar Danau Tondano ditetapkan sebagai kawasan lindung, kenyataannya kawasan lindung yang ada sudah dijadikan tempat bermukim dari masyarakat yang ada untuk memenuhi kepentingan manusia. Pertambahan jumlah penduduk lokal yang terjadi di daerah ini didukung juga oleh keadaan lokasinya yang strategis yaitu berada dekat Danau Tondano. Kebutuhan masyarakat untuk lahan sebagai tempat membangun rumah semakin berkurang karena pertambahan jumlah penduduk. Rumah-rumah  penduduk tidak lagi berada di sekitar danau, tapi sudah merambah  sampai perairannya. Oleh karena itu, maka dilakukan penelitian dengan tujuannya adalah mengidentifikasi perkembangan kawasan permukiman yang berada sekitar Danau Tondano dan menghitung luas perkembangan kawasan permukiman sekitar Danau Tondano. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spasial time series untuk melihat perkembangan kawasan permukiman dan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan sekitar danau Tondano mengalami perkembangan permukiman dari tahun 2003 sampai tahun 2019. Luas perkembangan permukiman dari tahun 2003 sampai tahun 2011 bertumbuh sebesar 87 ha sedangkan perkembangan permukiman pada tahun 2011 sampai 2019 bertambah sebesar 132,58 ha. Luas sebaran permukiman dari  tahun 2003-2019 yaitu 413,76 ha menjadi 633,81 ha.Kata Kunci : Perkembangan Kawasan, Permukiman, Danau Tondano
EVALUASI KESESUAIAN RUANG PUBLIK LAYAK ANAK DI KOTA MANADO Latawan, Wirakusniawati; Sela, Rieneke L. E.; Rengkung, Michael M
SPASIAL Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan konsep kota layak anak sangat diperlukan karena pada tahun 2012 sebanyak 51,5% penduduk perkotaan adalah anak-anak. tahun 2030 jumlah anak di perkotaan mencapai 80%. Kota Manado ditunjuk menjadi kota layak anak sejak tahun 2007. Dalam rangka implementasi program kota layak anak tersebut Kota Manado mengeluarkan Peraturan Walikota No. 09 Tahun 2017 tentang Kota Layak Anak. Permasalahan yaitu Bagaimana kesesuaian Ruang Publik terhadap kriteria Ruang Publik Layak Anak di Kota Manado. Persebaran ruang publik di Kota Manado diantaranya taman pantai Malalayang, lapangan bantik, taman patung wolter, Lapangan Unsrat, god bless park, taman megasurya nusa Lestari, taman kesatuan bangsa, taman Sparta tikala dan Blue carpet Mapanget. variabel dalam penelitian diantaranya Aksesibiltas, Sarana Rekreatif, Sarana Olahraga, Sarana Pendukung dan Vegetasi, kesesuaian masing-masing komponen variabel diperoleh dari kousioner yang dibagikan dengan menggunakan metode penilain skoring. Berdasarkan hasil penilaian dapat diketahui kesesuanian ruang publik di Kota Manado berdasarkan kriteria ruang publik layak anak yang memiliki persentase kesesesuaiaan mendekati 61-100% adalah taman Sparta Tikala dengan nilai pesentase 96% dan taman God Bless dengan nilai persentase 94% yang berarti mendekati sesuai sebagai ruang publik layak anak.Kata Kunci  : Kota Layak Anak, Ruang Publik, Evaluasi
MITIGASI BENCANA BANJIR STRUKTURAL DAN NON-STRUKTURAL DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN Urbanus, Ananda; Sela, Rieneke L. E.; Tungka, Aristotulus E
SPASIAL Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

South Bolaang Mongondow Regency is one of several regencies in North Sulawesi province, where this area is often referred to by observers as a non-zom area or there is no precise season to predict. So that hydrometeorological disasters, especially floods, are very likely to occur if there is no prevention stage in disaster management. The flood incident that submerged almost all areas in the sub-district on July 24, 2020 proved that preparedness was needed in dealing with the flood disaster which caused 93 houses to be heavily damaged and 165 people evacuated (DIBI, 2020). The level of disaster risk looks at how the index of the hazard, vulnerability, and capacity of a disaster can be, so that the level of risk of a flood disaster can be known. In determining disaster risk, using the policy of the Regulation of the Head of the National Disaster Management Agency Number 2 of 2012 concerning General Guidelines for Disaster Risk Assessment. The results of the existing risk level will then be used as recommendations for later flood disaster mitigation, both structurally and non-structurally. The level of flood risk resulted in 3 villages with a high level of flood risk, 14 villages with a moderate level of flood risk, and 42 villages with a low level of flood risk. Disaster mitigation that adapts to the level of risk from disasters where villages with high flood risk are recommended to make plans for physical (structural) development in an effort to reduce the danger from flooding, then villages with moderate flood risk are recommended for additions or improvements regarding physical form ( structural) flood control that already exists or does not exist, and areas with low flood risk, it is recommended to improve the physical (structural) form of existing flood control, but not optimal in the implementation system.KEYWORDS : Mitigation, Flood Disaster, Structural, Non-Structural, Risk Level
REDESAIN KANTOR BUPATI MINAHASA (REFLEKSI BUDAYA SUB-ETNIS TOULOUR DALAM RANCANGAN ARSITEKTUR) Singkoh, Alfrets; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 2, No 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Kabupaten Minahasa merupakan sebuah daerah otonom yang memiliki struktur Pemerintahan yang berfungsi untuk mengatur berbagai aspek dan bidang demi kelangsungan hidup di Tanah Minahasa. Sistem Pemerintah Daerah Kabupaten merupakan ujung tombak pelaksanaan pembangunan, maka diperlukan peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran sesuai dengan standart daerah otonom. Pada kenyataan sekarang ini, melalui metode observasi dan wawancara Kantor Bupati yang ada di Minahasa mengalami penurunan mutu dan kualitas serta terdapat beberapa masalah yang terjadi pada kondisi lapangan kawasan sekitar. Berdasarkan kenyataan ini, diperlukan sebuah gagasan Redesain untuk menata dan merancang kembali Kantor Bupati Minahasa. Dengan penerapan strategi ini, diharapkan terciptanya Kantor Bupati Minahasa yang terdesain dengan baik. Kabupaten Minahasa merupakan sebuah wilayah yang besar dan sangat luas serta terdapat 9 sub-etnis suku asli orang Minahasa. Sekarang ini banyak terjadinya pemekaran-pemekaran di Tanah Minahasa yang ingin berdiri sendiri, mandiri dan menjadi daerah otonom. Daerah-daerah yang sudah resmi dimekarkan seperti Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Tenggara. Daerah-daerah Kabupaten ini berdiri sendiri dengan menggunakan sub-etnis masing-masing daerah sesuai dengan pembagian sub-etnis di Tanah Minahasa. Hal ini menjadi dasar pertimbangan diangkatnya tema “ Refleksi Budaya sub-etnis Toulour dalam Rancangan Arsitektur”, karena Kantor Bupati Minahasa terletak di Tondano dengan sub-etnis Toulour. Sebagai hasilnya adalah rancangan Kantor Bupati yang efisien dan mencerminkan kebudayaan Toulour. Diharapkan Kantor Bupati ini bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas Pemerintah Kabupaten Minahasa, mensejahterakan kehidupan masyarakat tanah Minahasa dan masyarakat Minahasa bisa melestarikan kebudayaan sub-etnis Toulour. Kata kunci      :  Kabupaten Minahasa, Kantor, sub-etnis Toulour [1] Mahasiswa PS1 Arsitektur UNSRAT [2] Staf Dosen Pengajar Arsitektur UNSRAT
ANALISIS PERKEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN SEKITAR DANAU TONDANO KABUPATEN MINAHASA Makarawung, Brigita T.; Sela, Rieneke L. E.; Rompas, Leidy M.
MEDIA MATRASAIN Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the Minahasa Regency RTRW the area around Lake Tondano is designated as a protected area, in fact the existing protected area has been used as a place to live for the existing community to fulfill human interests. Lake Tondano. The community's need for land as a place to build houses is decreasing due to population growth. People's houses are no longer around the lake, but have penetrated to the waters. Therefore, a research was carried out with the aim of identifying the development of residential areas around Lake Tondano and calculating the area of development of residential areas around Lake Tondano. The research method used in this research is spatial time series analysis to see the development of residential areas and quantitative descriptive analysis . The results showed that the area around Lake Tondano experienced settlement development from 2003 to 2019, the area of settlement development from 2003 to 2011 grew by 87 ha, while the development of settlements in 2011 to 2019 increased by 132.58 ha. So that the distribution area of settlements from 2003-2019 is 413.76 ha to 633.81 ha.
PUSAT REHABILITASI REMAJA KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DI KOTA MANADO, Youth Healing Architecture Amanda M. Rompas; Rieneke L. E. Sela; Leidy M. Rompas
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v11i1.43267

Abstract

AbstrakPenyalahgunaan NAPZA di Sulawesi Utara masih marak dilakukan, bahkan pada kelompok usia remaja. Para penyalahguna NAPZA butuh mendapatkan rehabilitasi untuk terlepas dari efek negatif NAPZA pada tubuh maupun kehidupan sosialnya. Namun fasilitas rehabilitasi NAPZA khusus bagi penyalahguna remaja belum ditemukan di Sulawesi Utara, padahal penanganan bagi penyalahguna dalam usia ini berbeda dari penyalahguna dari kelompok usia dewasa ataupun anak-anak. Oleh karena itu dirancang sebuah pusat rehabilitasi bagi remaja penyalahguna NAPZA dengan tema youth healing architecture. Tujuan perancangan adalah untuk menentukan lokasi dan tapak yang sesuai dengan objek dan tema perancangan, merancang objek yang sesuai dengan standar dan peraturan yang ada, serta mengaplikasikan tema youth healing architecture pada objek Pusat rehabilitasi remaja korban penyalahgunaan NAPZA. Metode yang digunakan pada perancangan ini adalah siklus image-present-test oleh John Zeisel. Pendekatan yang dilakukan dalam proses perancangan adalah pendekatan tipologi, pendekatan lokasional dan pendekatan tematik. Pusat rehabilitasi remaja korban penyalahgunaan NAPZA dirancang untuk mewadahi kegiatan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Tema youth healing architecture diimplementasikan pada objek perancangan ini dengan menata ruang dalam dan ruang luar yang dapat mewadahi kegiatan sosial, penerapan prinsip sensory place pada fasad dan interior, serta memperkuat koneksi dengan alam melalui pembuatan bukaan-bukaan dan penataan interior.Kata Kunci : Rehabilitasi, NAPZA, Remaja, Healing
MARINE ECO-PARK DI LIKUPANG: Arsitektur Ekologis Eunike Waani; Rieneke L. E. Sela; Rachmat Prijadi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sulawesi Utara merupakan provinsi yang terkenal dengan wisata baharinya, memiliki luas laut sebesar 351.540 km2 dan memiliki 287 pulau yang tersebar di wilayah ini menjadikan lebih banyak lokasi dan objek bahari yang dapat dikembangkan. Upaya yang dapat dilakukan agar perkembangan sektor pariwisata bahari di Sulawesi Utara dapat berkembang dengan merata adalah dengan mengeksplor daerah-daerah yang memiliki potensi alam bawah laut dan dapat dijadikan objek wisata. Daerah sektor pariwisata bahari yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut adalah Likupang timur, merupakan destinasi wisata yang sangat potensial untuk pengembangan wisata bahari karena dikenal dengan keindahan pantai pasir putihnya yang menjadikan nilai tambah dari daerah tersebut. Tujuan perancangan Marine eco-park adalah dengan menjadikan destinasi wisata yang dapat beradaptasi langsung dengan lingkungan laut yang menyediakan sarana rekreasi dan edukasi tanpa merusak habitat laut disekitarnya, sarana-sarana tersebut diharapkan dapat menampung dan menjadikan Marine eco-park sebagai pusat konservasi budidaya dan pelestarian biota laut sekaligus menjadi pusat rekreasi di daerah Likupang Timur yang menyediakan fasilitas lengkap dan menjadi wadah pengembangan minat dan bakat untuk wisatawan yang hobi dalam olahraga laut. Proses perancangan yang digunakan adalah metode glass box menurut J.C Jones. Metode glass box dilakukan dengan tahapan analisa, sintesa dan evaluasi sehingga dapat diperoleh pemecahan masalah yang optimal dan mungkin dilakukan dan melalui pendekatan kajian tipologi objek rancangan, lingkungan dan tematik. Penerapan tema arsitektur ekologis, menjadikan Marine eco-park sebagai objek wisata yang menghadirkan wawasan eko-wisata agar memudahkan wisatawan menikmati keindahan biota laut tanpa kekhawatiran adanya indikasi kerusakan terumbu karang atau biota laut lainnya pada kawasan tersebut. Hasil akhir dari rancangan Marine eco-park sebagai destinasi wisata atau pusat rekreasi yang dapat mewadahi aktivitas wisatawan yang berkunjung sesuai dengan sarana-sarana yang dibutuhkan yang penempatan ruangnya sudah disesuaikan dengan masing-masing zona, sehingga dengan sirkulasi dan zona ruang yang teratur dapat memudahkan pengujung bertransisi dari ruang ke ruang untuk dapat mengakses sesuai kebutuhan ruang masing-masing sambil menikmati keindahan laut dan pasir putih yang disediakan langsung oleh objek rancangan ini. Kata Kunci : Likupang Timur, Marine Eco-Park, Wisata Bahari, Arsitektur ekologis
RESORT GEOTERMAL DI MINAHASA: Arsitektur Ekologi Sheren A. A. Lumolos; Rieneke L. E. Sela; Ingerid L. Moniaga
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan wisata panas bumi tidak pernah luput dari perhatian wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara. Kawasan ini apabila dikelola dengan baik dan benar dapat membantu kemajuan sektor pariwisata daerah, dalam hal ini kabupaten Minahasa. Adanya perancangan Resort Geotermal ini bertujuan agar wisatawan dapat menikmati fasilitas penginapan dan rekreasi sekaligus mendekatkan diri dengan potensi sumber daya alam yang ada. Untuk memperoleh hasil perancangan yang maksimal, tentunya landasan perancangan ini harus didukung oleh tema yang mendukung hubungan antara manusia dan alam itu sendiri, yaitu arsitektur ekologi. Proses untuk menghadirkan perancangan resort geotermal juga perlu melewati tahap analisa dan juga penerapan tema ekologi yang tentunya melibatkan beberapa aspek perancangan. Metode yang akan digunakan pada perancangan ini ialah metode glass box yang dikemukakan oleh J. Christopher dengan analisa pendekatan tipologi, lokasi dan tema. Tujuannya adalah mewujudkan perancangan Resort Geotermal sebagai objek wisata yang dapat memaksimalkan potensi panas bumi yang ada, memajukan potensi pariwisata daerah, dan memberikan kesadaran tentang hubungan dekat antara manusia, arsitektur, dan lingkungan alam sekitar. Kata Kunci : Kabupaten Minahasa, Resort Geotermal, Panas Bumi, Arsitektur Ekologi
URBAN ENTERTAINMENT CENTER DI MANADO: The Architecture of Happiness Jerry J. Antou; Windy J. Mononimbar; Rieneke L. E. Sela
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 2 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 2, November 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan ekonomi dan perkembangan pariwisata di Provinsi Sulawesi Utara khususnya di Kota Manado saat ini semakin meningkat, apalagi dengan dinyatakannya Provinsi Sulawesi Utara sebagai salah satu dari 5 provinsi yang memiliki destinasi super prioritas. Perkembangan ini perlu didukung dengan menghadirkan sebuah sarana hiburan dan rekreasi yang bisa menambah daya tarik dan bahkan bisa menjadi icon baru di Kota Manado, bahkan di Provinsi Sulawesi Utara. Menjawab kebutuhan tersebut, urban entertainment center menjadi sarana dan hiburan yang sangat tepat untuk dihadirkan di ibukota Provinsi Sulawesi Utara, Kota Manado. Selain mampu menunjang pariwisata, objek ini juga dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan stress dan hadir untuk menjadi tempat hiburan keluarga maupun kelompok ataupun perorangan. Dengan menggunakan metode perancangan glass box membentukan tahapan dari pengumpulan data, analisis dan sampai pada transformasi bentuk, dengan mengusung tema The Architecture of Happiness, objek ini manghadirkan gaya desain yang memfokuskan pada perwujudan kebahagiaan, dengan penerapan poin-poin desain seperti bangunan-bangunan yang berbicara lewat desain yang memiliki pola cerita atau story line, serta penerapan bentuk massa bangunan yang menggunakan garis,warna dan material sebagai manifestasi dari emosi seseorang, pemanfaatan genius loci tapak sebagai perwujudan dari prinsip berinteraksi dengan alam, mewadahi aktivitas pemakai dengan nyaman dan menyenangkan, serta mengoptimalkan keunikan lahan, menghasilkan sense of place dan penerapan prinsip keteraturan, keseimbangan, elegan dan keterpaduan. Kata Kunci: Architecture of Happiness, Entertainment Center, Manado, Urban
Co-Authors Alfrets Singkoh Alvin J. Tinangon Amanda M. Rompas Aristotulus E Tungka, Aristotulus E Artahsasta B. P. Binilang, Artahsasta B. P. Baso, Fransisca P. Y. Bayu Maasawet Billy J. Pinontoan Brigita T. Makarawung Cynthia V. Sondakh Datukramat, Hermawan Pratama Deddy Erdiono Dewi, Kartika Puspa Dewi, Kartika Puspa Eka Oktaviana Esli D. Takumansang Esli Takumansang, Esli Eunike Waani Frits O. P. Siregar Gabriela R. Turangan Gobel, Indra Wirana Jaya Hardiyanti Madja Henricho Dirganeri Idradjaja Makainas Ingerid L. Moniaga Ingerid L. Moniaga Ishak, Fajriyanti Jerry J. Antou Judistia S. Makarau, Judistia S. Judy O. Waani Judy O. Waani Julianus A. R. Sondakh Julianus A. R. Sondakh Kalvin D. Iskandar Koyakin, Ferenshia P. Kumurur, Veronika - Kumurur, Veronika A Lakat, Ricky S. M. Latawan, Wirakusniawati Lauma, Safirda Nadia Leidy M. Rompas Linda Tondobala Makarawung, Brigita T Makarawung, Brigita T. Martin, Willy Michael M Rengkung, Michael M Missah, Rizkyanto Efraim Monica P. P. Roring Nonto, Erlangga Octavianus H. A. Rogi Octavianus Hendrik Alexander Rogi Pierre H. Gosal Pingkan P. Egam Pollo, Joel Yermia Rachmat Prijadi Rapar, Srimuliani Miranda Debora Raymond Ch. Tarore Raymond D. Ch. Tarore Rezka L. Nender Rompas, Lady M Sambeka, Gabriela Sheren A. A. Lumolos Shintia F. A. Rungkat Sonny Tilaar Sonny Tilaar Suryono MT Tinangon, Alvin J Toghas, Daniel Marthinus Triesa J. Kindangen Tuar, Isabella Gloria Tulangow, Pingkan K Umar, Feki Pebrianto Urbanus, Ananda Veronica A. Kumurur Watung, Christania H.T. Windy J. Mononimbar