Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search
Journal : Koneksi

Citra Perempuan Di Dalam Majalah Popular (Analisis Wacana Terhadap Artikel Di Majalah Popular Edisi Mei 2019) Rosalin Febriyanti; Ahmad Junaidi; Nigar Pandrianto
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6368

Abstract

This study is entitled "Women's Image in Magazine Photos (Semiotic Analysis of Photos in Popular Magazine May 2019 Edition)". The object of this research is a photo in the May 2019 issue of Popular magazine. This study uses Rholand Barthes's semiotic analysis framework. The purpose of this research is to find out how the depiction of the objectification of women in the photo model of the May 2019 Popular Magazine and expose the myths contained in the photos. There is objectification in the sexual form which makes a woman's body an object to be observed, valued, and enjoyed by her sexual values. The myth that can be unearthed from the meaning of the sign in the photographs is the beauty myth that defines women's beauty in uniform criteria. Penelitian ini mengangkat tentang citra wanita dalam foto di majalah. Objek penelitian ini adalah foto di Majalah Popular Edisi Mei 2019. Kerangka analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu Analisis Semiotika Roland Barthes yang memiliki tujuan pencitraan perempuan dalam foto, serta menggali kebenaran tentang adanya pemaknaan tanda dalam foto-foto keanggunan wanita sesuai dengan porsi yang sama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggambaran objektifikasi perempuan dalam model foto di Majalah Popular dan memaparkan mitos-mitos yang terkandung dalam foto. Terdapat objektifikasi dalam bentuk seksual yang membuat tubuh wanita menjadi objek untuk diamati, dihargai, dan dinikmati oleh nilai-nilai seksualnya. Mitos yang dapat digali dari makna tanda dalam foto adalah mitos kecantikan yang mendefinisikan kecantikan wanita dalam kriteria seragam.
Analisis Key Opinion Leaders di Media Sosial dalam Membentuk Opini Khalayak Jacksen Jacksen; Eko Harry Susanto; Nigar Pandrianto
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10170

Abstract

Content is a new way of doing promotions that have various forms, such as videos and images. This research discusses the process of creating content created by a key opinion leader. The person who acts as the key opinions leader is the owner of his own business. The theories used in this study are advertising, social media, marketing content, key opinion leaders, two-stage communication, diffusion of innovation and opinion. The method used is case study with qualitative approach and using interview, observation, and documentation techniques. The results of this study can be known that the content created by a key opinion leader must be diverse in order to attract the attention of the audience. The diversity of content produced must have a clear purpose, so that later the message can be conveyed properly and the goal can be achieved. Content created by engaging business owners directly will increase credibility in the business. Therefore, it can be concluded that the creation of a content must be diverse, informative, educational. While content involving its own business owners will increase high credibility.Konten merupakan cara baru seseorang dalam melakukan promosi yang memiliki berbagai macam bentuk, seperti video dan gambar. Penelitian ini membahas tentang proses pembuatan konten yang diciptakan seorang key opinion leaders. Orang yang berperan sebagai key opinions leader adalah pemilik bisnisnya sendiri. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah periklanan, media sosial, marketing content, key opinion leaders, komunikasi dua tahap, difusi inovasi dan opini. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan teknik wawancara, observasi, serta dokumentasi. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa konten yang diciptakan oleh seorang key opinion leader harus lah beragam agar dapat menarik perhatian penontonnya. Keberagaman konten yang dihasilkan harus memiliki tujuan yang jelas, sehingga nantinya pesan dapat tersampaikan dengan baik dan tujuan dapat tercapai. Konten-konten yang diciptkana dengan melibatkan pemilik bisnisnya secara langsung akan meningkatkan kredibilitas pada bisnis yang dijalani. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa pembuatan sebuah konten harus lah beragam, informatif, mengedukasi. Sedangkan konten yang melibatkan pemilik bisnisnya sendiri akan meningkatkan kredibilitas yang tinggi.
Komunikasi Ekspresi dalam Permainan Teater oleh Aktor Teater Agustino Agustino; Sinta Paramita; Nigar Pandrianto
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10139

Abstract

Theatre is one of the art performances that people from various circles are interested in. Theatre has become an extra-curricular activity or curriculum in various schools and campuses. This theatre game is played by actors who play characters according to the script given by the director. Communication becomes a factor in playing theatre, one of which is expression. Actors not only use expressions only to complement dialogue but also as a form of dialogue itself. Then a problem formulation appears, namely how to communicate expressions in theatre plays by theatre actors. This study aims to determine how theatre actors communicate expression in theatre plays. The theory used in this research is the cumulative structure theory. The approach used in this research is qualitative research. The research method used in this research is a case study using data collection methods in the form of interviews and observations. Data processing and analysis techniques used in this study are data reduction, data presentation, drawing conclusions and verification. The result of this research is the communication of expression is carried out by theatre actors by conveying a meaning and honesty from within. The delivery of this meaning is carried out with facial expressions and body movements. Forms of communication expression are facial expressions, gestures, and voices.Teater merupakan salah satu pertunjukan seni yang diminati oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Teaterpun menjadi kegiatan extra kulikuler atau kurikulum diberbagai sekolah dan kampus. Permainan teater ini dimainkan oleh para aktor yang memerankan karakter sesuai dengan naskah yang diberikan oleh sutradara. Komunikasi menjadi salah satu faktor dalam bermain teater salah satunya adalah ekspresi. Para aktor tidak hanya menggunakan ekspresi hanya untuk pelengkap dialog tapi juga sebagai bentuk dari dialog itu sendiri. Maka muncul suatu rumusan masalah yakni bagaimana komunikasi ekspresi dalam permainan teater oleh aktor teater. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana aktor teater melakukan komunikasi ekspresi dalam permainan teater. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktur Kumulatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, mengambil kesimpulan dan Verifikasi. Hasil dari penelitian ini adalah komunikasi ekspresi dilakukan oleh aktor teater dengan menyampaikan sebuah makna dan jujur dari dalam diri. Penyampaian makna ini dilakukan dengan ekspresi wajah dan gerakan tubuh. bentuk dari komunikasi ekspresi merupakan ekspresi wajah, gerak tubuh, dan suara.
Pengaruh Komunikasi Efektif Pada Perkuliahan Fotografi Saat Pandemi Covid-19 terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Jonathan Victorius; Yugih Setyanto; Nigar Pandrianto
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10347

Abstract

Effective communication is defined as communication that can bring about a change in attitude. Effective communication aims to make it easier for others to interpret the message conveyed by the messenger. Effective communication is very important in improving student learning outcomes. At the time of the Covid-19 pandemic, the e-learning learning method became the learning method used by all universities. Learning outcomes refer to the achievements obtained by students in teaching activities through updating and creating their own behavior. This research was conducted to measure the effect of effective communication on student learning outcomes. This study uses quantitative techniques with survey methods and makes Visual Communication Design students the object of research. The main data were collected by distributing questionnaires to 70 respondents. Data analysis in this study used the Statistical Package for the Social Sciences with the SPSS for Windows 25 application. Based on the results of the study, it was found that effective communication had a significant and positive effect on student learning outcomes. Effective communication has an effect of 67.4% on student learning outcomes, while the other 32.6% is another factor. Thus, the higher an effective communication, the learning outcomes will also increase. Vice versa, the lower an effective communication, the learning outcomes will also decrease. Komunikasi yang efektif diartikan sebagai komunikasi yang dapat mewujudkan perubahan sikap. Komunikasi yang efektif bertujuan untuk mempermudah orang lain menafsirkan pesan yang diberitahukan oleh penyampai pesan. Komunikasi yang efektif sangat penting dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Pada saat pandemi Covid-19, metode pembelajaran e-learning menjadi metode pembelajaran yang digunakan oleh semua universitas. Hasil belajar merujuk pada prestasi yang diperoleh mahasiswa dalam kegiatan mengajar melalui pembaharuan dan pembuatan tingkah laku sendiri. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur pengaruh komunikasi efektif terhadap hasil belajar mahasiswa. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif dengan metode survei dan menjadikan mahasiswa Desain Komunikasi Visual sebagai objek penelitian. Data utama dikumpulkan dengan cara menyebar kuesioner kepada 70 responden. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Statistical Package for the Social Sciences dengan aplikasi SPSS for windows 25. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa komunikasi efektif memiliki pengaruh yang signifikan dan bernilai positif terhadap hasil belajar mahasiswa. Komunikasi efektif memiliki pengaruh sebesar 67,4% terhadap hasil belajar mahasiswa, sementara 32,6% lainnya merupakan faktor lain. Dengan demikian, semakin tinggi suatu komunikasi efektif maka hasil belajar juga semakin meningkat. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah suatu komunikasi efektif maka hasil belajar juga semakin menurun.
Transmedia Tokoh Wayang pada Budaya Populer (Karakter Gatotkaca pada Komik Garudayana) Henry Gunawan; Eko Harry Susanto; Nigar Pandrianto
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6209

Abstract

Transmedia merupakan sebuah proses penyaduran, translasi, dan upaya untuk menyampaikan gagasan sebuah cerita menjadi bentuk lain. Penelitian ini bertujuan untuk membahas proses transmedia pada tokoh wayang di budaya popular karakter Gatotkaca pada komik Garudayana. Penelitian ini menggunakan landasan teori tradisi lisan, alih wahana, budaya popular, komik, tokoh, dan simbol. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan strategi penelitian analisis wacana dan studi kasus untuk melengkapi pengumpulan data penulis. Penulis melakukan wawancara mendalam, observasi, penelusuran data online, dan studi kepustakaan. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah Garudayana merupakan hasil transmedia dari cerita Mahabharata.
Kucing Hoki dalam Pandangan Etnis Tionghoa Micshir Leen; Eko Harry Susanto; Nigar Pandrianto
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3923

Abstract

Kucing Hoki dianggap menjadi simbol keberuntungan bagi Etnis Tionghoa dan sering sekali ditemukan pada tempat usaha atau toko-toko. Komunikasi antar budaya yang terjalin pada budaya Kucing Hoki ini adalah dimana orang-orang Etnis Tionghoa yang mempunyai latar belakang ekonomi, politik, kepercayaan dan lainnya berusaha bergabung dengan menjalankan budaya Kucing Hoki. Simbol akan memiliki makna jika seseorang menaruh nilai terhadapnya khususnya Kuicng Hoki yang mempunyai arti sebagai simbol keberuntungan yang telah disepakati bersama. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap apa yang menyebabkan budaya Kucing Hoki tersebar, pemaknaan yang berbeda dari Kucing Hoki, serta tujuan yang berbeda dari penggunaan Kucing Hoki. Dalam melakukan penelitian ini peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, studi kepustakaan. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah Kucing Hoki merupakan suatu budaya Etnis Tionghoa karena didalamnya mengandung karakteristik budaya serta penyebaran budaya Kucing Hoki disebabkan oleh berbagai saluran (keluarga, teman, agama dan lainnya). Kepercayaan seseorang menentukan pemaknaan pada Kucing Hoki sehingga nilai yang ditimbulkan akan mendorong tindakan komunikasi serta dampak yang ada pada Kucing Hoki yaitu keberuntungan bagi yang mempercayainnya. Kucing Hoki juga merupakan budaya yang terus berkembang dengan kebutuhan.
Analisis Makna Desain Tulisan “Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaksa” pada Brand Kaos @Yajugaya Ribka Valentina; Gregorius Genep Sukendro; Nigar Pandrianto
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6142

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tafsiran dari desain tulisan yang dibuat dan apa yang melatarbelakangi desain tulisan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu studi kasus dan metode penafsiran seacara hermeneutika. Adapun sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dari wawancara dan studi kepustakaan. Data dianalisa dengan metode deskriptif analisis. Landasan teori yang digunakan adalah teori komunikasi, teori hermeneutika, dan teori kritis. Berdasarkan analisa data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa makna yang tersirat di salah satu desain tulisan brand kaos @YAJUGAYA adalah segala bentuk kepercayaan terhadap apapun tidak bisa dipaksakan kepada siapapun.
Pendobrakan Stereotip Perempuan di Iklan Nike dalam Perspektif Dekonstruksi Derrida Putri, Nur'Aini Rahmawati; Pandrianto, Nigar
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21288

Abstract

The presence of women in advertisements is often portrayed as objects through women's stereotypes. Stereotypes of women arerelated to beauty standards that experience construction in people's lives. The use of advertising as a form of mass media conveysmessages with ease in accessing the realities of social life. The development of advertisements with creative ideas shows stereotypes of women by being bolder in changing stereotypes circulating in society through the concept of femvertising. This study uses a qualitative approach by digging deeper into how the Nike Dream Crazier advertisement deconstructs stereotypes ofwomen in society. The researcher uses Jacques Derrida's deconstruction method to find hidden meanings. The subject of this research is the Dream Crazier version of the Nike advertisement video while the research object is the stereotype of women inadvertisements. The results of this study show that the Nike Dream Crazier advertisement provides a picture of deconstructing stereotypes of women through transitions breaking stereotypes of women as strong and daring to break stereotype boundaries. Thedeconstruction of women's stereotypes results from the construction of society in a sustainable manner. Kehadiran perempuan dalam iklan kerap kali digambarkan sebagai objek melalui stereotip perempuan. Stereotip perempuan berkaitan dengan standar kecantikan yang mengalami konstruksi di kehidupan masyarakat. Penggunaan iklan sebagai bentukmedia massa menyampaikan pesan dengan kemudahan dalam mengakses realitas kehidupan sosial. Berkembangnya iklan dengan ide kreatif menunjukkan stereotip perempuan dengan cara lebih berani untuk mengubah stereotip yang beredar di masyarakatmelalui konsep femvertising. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggali lebih dalam bagaimana iklan Nike Dream Crazier melakukan dekonstruksi dalam stereotip perempuan di masyarakat. Peneliti menggunakan metodedekonstruksi Jacques Derrida untuk menemukan makna-makna tersembunyi. Subjek penelitian ini adalah video iklan Nike versiDream Crazier sedangkan objek penelitian yaitu stereotip perempuan dalam iklan. Hasil penelitian ini memperlihatkan iklan NikeDream Crazier memberikan gambaran dekonstruksi stereotip perempuan melalui transisi mematahkan stereotip perempuansebagai sosok yang kuat dan berani untuk menembus batas-batas stereotip. Dekonstruksi stereotip perempuan diakibatkan olehkonstruksi dari masyarakat secara berkelanjutan.
Pembentukan Personal Branding Content Creator Melalui Media Sosial Sinurat, Theresia Geraldin; Pandrianto, Nigar
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21361

Abstract

TikTok is one of the social media platforms preferred by the public. Social media has given rise to a new profession called content creator. They can unintentionally or intentionally form personal branding and create public perceptions. Researchers chose one of TikTok's content creators, Junita Eka Pertiwi, with the account name @jntexs. In her content, Junita discusses horror films, cases, tips and tricks about everyday life. Researchers analysed the personal branding carried out by Junita on social media platforms. he results showed that content creators have applied eleven personal branding criteria based on Hubert K. Rampersad's concept, namely authenticity, integrity, consistency, specialisation, authority, privilege, relevance, visibility, persistence, good deeds, and performance. Junita also brings out her character through a slogan. Media sosial TikTok merupakan salah satu platform media sosial yang disukai oleh masyarakat. Media sosial telah memunculkan adanya profesi baru yang disebut content creator atau pembuat konten. Mereka dapat secara tidak sengaja maupun sengaja membentuk personal branding dan menimbulkan persepsi masyarakat. Peneliti memilih salah satu content creator TikTok, Junita Eka Pertiwi dengan nama akun @jntexs. Dalam kontennya, Junita membahas tentang film horor, kasus, tips dan trik seputar kehidupan sehari-hari. Peneliti menganalisa personal branding yang dilakukan oleh Junita dalam platform media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa content creator telah menerapkan sebelas kriteria personal branding berdasarkan konsep Hubert K. Rampersad yaitu keotentikan, integritas, konsistensi, spesialisasi, otoritas, keistimewaan, relevan, visibilitas, kegigihan, perbuatan baik, dan kinerja. Junita juga memunculkan karakter melalui slogan.
Tanda-Tanda Perundungan dalam Film “Are You Okay?” Osvaldo, Juan; Pandrianto, Nigar
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21412

Abstract

A film is a moving image or so-called audio-visual media. Film can be used as a medium for conveying messages, and films currently act as a popular medium for conveying messages very effectively. Every film is always built with many marks. These signs have the meaning that the filmmaker wants to convey. In this research, the researcher wants to know and describe the signs of bullying in the short film "Are You Okay?". This study uses the concept of the film, bullying, the spiral of silence theory and Charles Sanders' model of semiotics. The subject of this research is scenes in the short film “Are You Okay?” who have signs of bullying, and the object of this research is the signs of bullying in the short film "Are You Okay?". The research method used by researchers is a qualitative research method. The theory used in this study is Charles Sanders Peirce's semiotic theory. The author uses document analysis and literature study to gather the required information. The results of this study indicate that there are signs of bullying in the short film "Are You Okay?" through a number of scenes in the form of representamen, objects, and interpretants. Film adalah gambar yang bergerak atau biasa disebut media audio visual. Film dapat dibuat sebagai media untuk menyampaikan sebuah pesan, film pada saat ini berperan sebagai media popular untuk menyampaikan pesan dengan sangat efektif. Setiap film selalu dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda tersebut memiliki makna-makna yang ingin disampaikan oleh pembuat film. Peneliti ingin mencari tahu serta mendeskripsikan tanda-tanda perundungan yang terdapat dalam film pendek “Are You Okay?”. Penelitian ini menggunakan konsep film, perundungan, teori spiral of silence dan semiotika model Charles Sanders. Subjek dari penelitian ini adalah adegan-adegan dalam film pendek “Are You Okay?” yang memiliki tanda-tanda perundungan dan objek dari penelitian kali ini adalah tanda-tanda perundungan pada film pendek “Are You Okay?”. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kualitatif dengan semiotika Charles Sanders Peirce. Penulis menggunakan analisis dokumen dan riset perpustakaan dalam mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tanda-tanda perundungan dalam film pendek “Are You Okay?” melalui sejumlah scene dalam bentuk representamen, objek, dan interpretan.