Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Tradisi TRADISI MAMBOSURI (TUJUH BULANAN) ADAT BATAK TOBA DI DESA BATU PUTIH, PELAWAN, JAMBI Manullang, Anny Rutmauli; Nababan, Cendana NR; Sinurat, Junita Yosephine
ISTORIA : Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah Vol. 21 No. 2 (2025): ISTORIA Edisi September 2025, Vol. 21. No. 2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Mambosuri dalam masyarakat Batak Toba, khususnya di Desa Batu Putih, Pelawan, Jambi, sebagai upaya pencegahan stunting melalui kearifan lokal. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, di mana peneliti mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber informasi, termasuk jurnal ilmiah, buku, dan dokumen terkait. Mambosuri, yang merupakan upacara tujuh bulanan, dilaksanakan ketika kehamilan seorang ibu telah memasuki bulan ketujuh. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai momentum sosial yang memperkuat ikatan kekeluargaan dan solidaritas antar anggota komunitas. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pelestarian tradisi Mambosuri sebagai sarana pendidikan budaya bagi generasi muda, agar mereka tetap mengenal dan melanjutkan warisan nenek moyang. Dengan demikian, tradisi Mambosuri diharapkan dapat berkontribusi pada pencegahan stunting dan memperkuat identitas budaya masyarakat Batak Toba di era modern.
Makna Pemberian Ulos dalam Tradisi Mangompoi Bagas Adat Batak Toba di Kota jambi Nababan, Cendana NR; Manullang, Anny Rutmauli; Sinurat, Junita Yosephine; Purnomo, Budi
Estoria: Journal of Social Science and Humanities Vol 6, No 1 (2025): Estoria: Journal of Social Sciences & Humanities
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/je.v6i1.4455

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna pemberian Ulos dalam konteks Tradisi Mangompoi Bagas. Metode yang diterapkan dalam studi ini adalah pendekatan kualitatif yakni mengekplorasi adat istiadat yang berkaitan dengan tradisi ini. Penelitian ini mengidentifikasikan bahwa pemberian Ulos dalam tradisi ini mengandung arti yang sangat penting, yang meliputi restu dan doa, simbol kasih sayang, ikatan keluarga, perlindungan, dan tanda kebanggaan. Tradisi Mangompoi Bagas dikalangan Suku Batak Toba di Kota Jambi merupakan sebuah upacara kebudayaan yang dilaksanakan saat memasuki rumah yang baru, melambangkan rasa syukur dan permohonan untuk keberkahan. Salah satu unsur utama dalam tradisi ini adalah pemberian Ulos, kain tenun tradisional yang membawa arti suci. Ulos tidak hanya berperan sebagai lambang perlindungan dan kehangatan, tetapi juga untuk memanjatkan doa serta restu dari keluarga Hula-hula Kepada pemilik rumah yang baru.
Tradisi Selamatan Kematian Dalam Masyarakat Jawa di Desa Talang Makmur Mariyani, Silvi; Fajarini, Evi; Sanubari, Fiqri; Sinurat, Junita Yosephine
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.4086

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan tradisi slametan kematian yang berlangsung di masyarakat Desa Talang Makmur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi merupakan pola perilaku atau tindakan yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap dilestarikan oleh masyarakat. Doa bersama yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai slametan menjadi inti ritual untuk menjaga dan mempertahankan tatanan hidup. Tujuan dari pelaksanaan slametan adalah untuk memohon keselamatan, yaitu keadaan di mana setiap peristiwa dapat berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan tanpa menimbulkan masalah bagi siapa pun. Upacara selamatan kematian di Talang Makmur dilaksanakan pada sejumlah waktu tertentu, yakni pada hari pertama (geblak), hari ketiga (telung dino), hari ketujuh (mitung dino), hari keempat puluh (matang puluh), har keseratus (nyatus), satu tahun (mendhak pisan), dua tahun (mendhak pindo), hari keseribu (nyewu), dan peringatan tahun-tahun berikutnya (nas). Setiap sajian dalam berkatan, seperti ketan, apem, pasung, dan pisang (gedhang), mengandung makna simbolis yang khas.
Mencairkan Suasana, Melestarikan Budaya: Pelatihan Ice Breaking Berbasis Kearifan Lokal Jambi bagi Calon Guru Sejarah Robbi Kurniawanti, Merci; Mustofa Meihan, Andre; Yosephine Sinurat, Junita; Rukmana, Lisa; Siregar, Isrina
Estungkara: Jurnal Pengabdian Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 3 (2025): Estungkaran: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pendidikan Sejarah FKIP Universitas JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/est.v4i3.48913

Abstract

Abstrak: : Effective learning does not only depend on mastery of the material and delivery methods, but is also greatly determined by a conducive classroom atmosphere that is responsive to the dynamics of the students. Therefore, the role of the teacher is not only limited to delivering material, but also as a facilitator who is able to create a conducive and interactive classroom atmosphere. One strategy for creating a fun and effective learning atmosphere is through the use of ice breaking techniques. The method used is ice breaking training based on local wisdom with stages of preparation, implementation, evaluation, and publication. The material presented covers the basic concepts of ice breaking, the importance of preserving local wisdom, and ice breaking based on Jambi local wisdom. The activity was packaged interactively through discussions, question and answer sessions, ice breaking, reflection, and practice in creating ice breaking based on local wisdom in Jambi for each group. The products of the activity were ice breaking modules and video documentation that can be used continuously. Thus, this activity was not only effective in improving the pedagogical competence of students as prospective history teachers but also capable of preserving local wisdom in the Jambi area. This program benefits students and universities, while also supporting the achievement of the university's Key Performance Indicators (KPIs). The outputs of this community service program include articles published in national journals with ISSN, publications in the mass media, and activity videos.
Pemanfaatan Bangunan Bekas Peninggalan Kolonial Belanda Sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal Jambi Susnayanti Susnayanti; Junita Yosephine Sinurat
Prabayaksa: Journal of History Education Vol 4, No 2 (2024): Prabayaksa: Journal of History Education (September)
Publisher : Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pby.v4i2.12295

Abstract

The research aims to establish a historical understanding of the essential presence of historical heritage as an argument of the memories of Jambi itself especially during the Dutch Colonial period, reconstruct the historical foundation and continuity of Jambi City during the Dutch Colonial period with historical buildings, interpreting the tasks and contributions of the historical buildings of the Dutch Colonial period for the creation of the special character of the new generation of Jambi, and also formulating a joint policy regarding the efforts to preserve the material heritage of the listed historical buildings of the Dutch Colonial period in Jambi City. This study is a special historical research of local history that took place in Jambi City. based on the research category, then the method used is the historical method with some levels are heuristics, criticism, interpretation and historiography. after the research was carried out, then the findings produced are first, the colonial period buildings in Jambi City are sourced in their physical condition, some are currently maintained, not maintained, until they have been exchanged for other recent buildings. Secondly, the buildings can be used for local history upgrading, and thirdly, as an asset of Jambi territory in advancing the holiday zone, especially historical tourism.
Menelusuri Jejak Sejarah Kebudayaan Jambi Di Jambi Seberang Puti Cahyo Andini; Zahara Zahara; Junita Yosephine Sinurat
Prabayaksa: Journal of History Education Vol 4, No 2 (2024): Prabayaksa: Journal of History Education (September)
Publisher : Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pby.v4i2.12510

Abstract

Culture is defined as thoughts, customs, something that has developed, something that has become a habit that is difficult to change. Jambi Seberang is an area rich in long and varied history. As part of Jambi Province, this region has been the center of civilization since ancient times. However, in the last decades, with rapid modernization and social change, there have been many aspects of culture and history in Jambi. The purpose of writing this article is to find out traces of the history of Jambi Seberang culture from prehistoric times until the arrivals of Islam. The research uses historical research methods with a contextual approach and data collection using library studies. The results of this article are that there are similarities in life patterns between prehistoric times and the people of Jambi Seberang now. Value traditional are also not abandonded but are incorporated into new patterns of life as an effort to adapt to the times and currents of globalization.
Perkembangan Kebudayaan Masyarakat Kerinci Masa Kolonial (1904-1906) Yana Safitri; Pipi Emi Julianti; Junita Yosephine Sinurat
Prabayaksa: Journal of History Education Vol 4, No 2 (2024): Prabayaksa: Journal of History Education (September)
Publisher : Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pby.v4i2.12539

Abstract

Kerinci society before the emergence of the Dutch had two patterns of government, namely conservative and ulama, the region had an important role in Kerinci society in determining and implementing existing regulations. The emergence of Kekerinci expansionism is considered to be detrimental to the plans and demands of the community, so that indigenous people and ulama oppose regional development with different structures and examples of obstacles. Kerinci culture is the work of the Kerinci people. The historical background of improvements is widely known at the public and global levels and is a significant source of values, motivation and reasons for understanding public activities, which must be realized in the improvement cycle carried out by regional legislatures, especially the Kerinci region. The Government and Sungaifull Regional Government are the institutions that oversee the Kerinci Regular Smoothness organization. This article will discuss the social development of Kerinci society during the border period (1904-1906). The strategy used in the hard copy form of this article is an interesting subjective exploration technique with a concentration approach to writing. 
Penguatan Nilai-nilai Multikultural Melalui Pelatihan Pembuatan Media Animasi Bagi Siswa SMP Swasta Nommensen Junita Yosephine Sinurat; Isrina Siregar; Merci Robbi Kurniawanti; Andre Mustofa Meihan; Yoan Mareta; Lisa Rukhmana; Destri Yaldi
Keris: Journal of Community Engagement Vol. 6 No. 1 (2026): KERIS: Journal of Community Engagement
Publisher : Institut Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55352/keris.v6i1.2491

Abstract

This community service program was implemented as an effort to strengthen multicultural values, with the aim of addressing partner issues, including findings of intolerance, discriminatory behavior, a lack of empathy for others, and bullying stemming from students' lack of acceptance of differences. The implementation method for this community service activity was as follows: 1) conducting a social and cultural approach with partners to gain a deeper understanding of the problems faced by participants, 2) designing and implementing training on creating animated videos based on multicultural values, 3) mentoring participants in creating animated videos based on multicultural values, and 4) conducting program reflection and evaluation. The results of this activity were that 25 out of 30 participants successfully created animated videos. However, all participants understood that diversity is not a threat but a source of beauty and harmony, enabling them to understand and maintain the integrity of the nation and state by mutually respecting differences in ethnicity, religion, and race.
Eksistensi Megang Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan di Daerah Tigo Lurah Tanah Sekudung Kerinci Jambi 2020-2024 nurul annisa; Junita Yosephine Sinurat
Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Vol. 12 No. 2 (2025): Sosial Horizon ( Jurnal Pendidikan Sosial)
Publisher : Universitas PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/sosial.v12i2.9218

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui dan menganalisis terkait rangkaian prosesi megang yang di lakukan masayrakat tigo luhah tanah sekudung sebagai upaya menyambut bulan Ramadhan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan cara wawancara, observasi dan studi pustaka. Berdasarkan hasil wawancara informan diketahui bahwa tradisi megang menurut pandangan masyarakat tradisi ini dilaksanakan pada malam sebelum Ramadhan yang dilakukan pada lingkungan desa atau kelurahan. Serta doa Bersama yang dilakukan warga desa yang sudah membawa makanan ke mushola ataupun masjid yang dipimpin oleh ustadz maupun sesepuh desa. Dan juga dengan pada Tradisi ini mempererat hubungan sosial masyarakat. Pada setiap tahunnya islam memiliki tradisi yang dilakukan hampir setiap bulan oleh masyarakat tigo luhah tanah sekudung. Tradisi Megang merupakan salah satu tradisi yang dijalankan oleh masyarakat tigo luhah tanah sekudung dalam merayakan kehadiran bulan Ramadhan. Peneliti mengambil informan masyarakat tigo luhah tanah sekudung. Berdasarkan data yang diperoleh mengenai Tradisi yang dilakukan pada masyarakat tigo luhah tanah seukudng sebelum datangnya bulan Ramadhan.