Creative thinking skills are essential 21st-century skills that students must master. One factor that can hinder the achievement of this skill is math anxiety. This study aims to describe students' creative thinking skills in relation to their level of math anxiety. The research method employed is a descriptive qualitative approach. This research was conducted at SMP Negeri 2 Ungaran with seventh-grade students as the research subjects. The research tools consisted of a mathematics anxiety questionnaire, a mathematics ability test, and interview guidelines. The data will be analyzed through the stages of reduction, presentation, and conclusion. The sampling technique used was purposive sampling, in which students with high and low levels of mathematics anxiety were selected. The research subjects selected were four students who had similar creative thinking abilities. The creative thinking process is characterized by fluency, flexibility, and novelty. Based on the research, students with low levels of math anxiety tend to be able to demonstrate fulfillment of creative thinking skill indicators. Meanwhile, students with high levels of math anxiety are not able to demonstrate fulfillment of creative thinking skill indicators. However, there are differences in the creative thinking process between students with high and low levels of math anxiety. Keterampilan berpikir kreatif merupakan keterampilan esensial abad ke-21 yang harus dikuasai oleh siswa. Faktor yang dapat menghambar pencapaian kemampuan ini adalah kecemasan matematika. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kemampuan berpikir kreatif siswa berdasarkan tingkat kecemasan matematika mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Ungaran dengan subjek penelitian kelas VII. Instrumen penelitian terdiri dari angket kecemasan matematika, tugas pemecahan masalah matematika, dan pedoman wawancara. Data dianalisis melalui tahap reduksi, penyajian, dan kesimpulan. Subjek penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria,, di mana siswa dengan tingkat kecemasan matematika tinggi dan rendah dipilih. Subjek penelitian ini terdiri dari satu siswa kecemasan matematika rendah dan satu siswa kecemasan matematika tinggi dengan mengontrol kemampuan matematikanya. Proses berpikir kreatif ditandai oleh kefasihan, fleksibilitas, dan keaslian. Berdasarkan penelitian, siswa dengan tingkat kecemasan matematika rendah cenderung dapat menyelesaikan masalah matematika dengan menunjukkan pemenuhan indikator keterampilan berpikir kreatif. Sementara itu, siswa dengan tingkat kecemasan matematika yang tinggi tidak menunjukkan pemenuhan indikator keterampilan berpikir kreatif. Namun, terdapat perbedaan dalam proses berpikir kreatif antara siswa dengan tingkat kecemasan matematika yang tinggi dan rendah.