Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Karakteristik Budaya dan Estetika Tari Tradisional Aceh, Betawi, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Wiradharma, Gunawan; Sediyaningsih, Sri; Soewardjo, B. Kristiono; Aditya Prasetyo, Mario
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 7 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i7.4100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik budaya pada tari tradisional Indonesia yang meliputi Aceh, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Papua. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana karakteristik budaya pada tari tradisional yang ada di Indonesia, khususnya pada tari tradisional Aceh, Betawi, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara kepada maestro tari, budayawan, koreografer, dan akademisi tari. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa masing-masing daerah memiliki karakteristik tarian yang berbeda-beda baik dari segi gerak, tema, musik, busana, dan seluruh instrumen dalam sebuah pertunjukan tari sehingga karakteristik tersebut memiliki makna etis dan estetis.
Ritme Kreatif: Peningkatan Ketrampilan Gerak Tari Lagu Tradisional 'Tak Tong-Tong' Di SMA Presiden B Kristiono Soewardjo; Selly Oktarini; Elindra Yetti; Ida Bagus Ketut Sudiasa
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui kemitraan wilayah binaan fakultas, dengan fokus pada pelatihan tari Minang “Tak Ting-tong” di SMA Presiden Jababeka, Bekasi. Tujuan utama kegiatan adalah meningkatkan pemahaman siswa terhadap budaya Minang serta memperkuat karakter melalui pendekatan seni yang edukatif, kreatif, dan terampil. Pelatihan dilakukan secara intensif dengan menerapkan metode penciptaan tari Alma M. Hawkins, yang terdiri atas enam tahapan: mengalami, melihat, merasakan, mengkhayalkan, mengejawantahkan, dan pembentukan. Metode pelatihan yang digunakan adalah gerak imitasi secara langsung, dipadukan dengan eksplorasi ritme kreatif antara musik marching band dan alat musik tradisional Minang, yaitu Talempong. Pendekatan ini dirancang untuk menciptakan keseimbangan antara aktivitas fisik dan mental siswa, sekaligus merespons tekanan akademik yang tinggi melalui penguatan psikomotorik dan ekspresi diri. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan tari berbasis budaya lokal mampu meningkatkan apresiasi seni, memperkuat identitas budaya, serta membentuk karakter siswa secara kontekstual dan menyenangkan   AbstractThis community service activity was carried out through a faculty-led regional partnership, focusing on the training of Minang traditional dance “Tak Ting-tong” at SMA Presiden Jababeka, Bekasi. The primary objective of the program was to enhance students’ understanding of Minangkabau culture and to strengthen character development through an educational, creative, and skill-based artistic approach. The training was delivered intensively using Alma M. Hawkins’ dance creation method, which comprises six stages: experiencing, seeing, sensing, imagining, transforming, and forming. The instructional method employed direct imitation of movement, combined with creative rhythm exploration that integrates marching band music and traditional Minang instruments, particularly the Talempong. This approach was designed to foster physical and mental balance among students, while addressing academic stress through psychomotor stimulation and expressive engagement. The results indicate that culturally grounded dance training can effectively improve artistic appreciation, reinforce cultural identity, and support character formation in a contextual and enjoyable manner.
Pengembangan Perempuan dalam Budaya Peranakan melalui Penciptaan Karya Tari Cokek Berjudul Nyai Cukin Era Jakarta Tempo Doeloe B. Kristiono Soewardjo
Jurnal Pendidikan Tari Vol 2 No 2 (2022): Ekspresi Seni melalui Pembelajaran dan Karya Tari
Publisher : LPPM UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JPT.223

Abstract

Cokek is a Betawi art that has been influenced by Chinese leaders’ culture and that was born in the 18th century. Cokek dance in those days was fostered and developed by wealthy Chinese owners. The term Peranakan is defined as a result of mixed cultures; Chinese culture originating from Hokkien migrants in the southern provinces of China and the local culture. The purpose of the research is to develop insight and knowledge about the Chinese Peranakan culture as one of the influencing elements on the Betawi culture, as well as the development of various disciplines such as dance, music, theater and scenography as a source of inspiration for dance creations based on the Cokek dance. The analysis method uses a qualitative method with a Research and Development approach with 10 stages, but in this second phase of the research only uses 7 stages, namely: (1) Potential and Problems, (2) Literature Study and Information Gathering, (3) Product Design, (4) Design Validation, (5) Design Revision, (6) Initial Trial (7) Product Revision. The theory used is the theory of creation of Alma M Hawkins Moving from Within: A New Method for Dance Making in the translation of I Wayan Dibia Moving According to the Heart: A New Method of Creating Dance which consists of experiencing or expressing, seeing, feeling, imagining, manifesting, and forming. Nyai Cukin Era Jakarta Tempo Doeloe was created in the form of a contemporary dance theater and uses 7 female dancers and 6 male dancers. It depicts women as Cokek dancers who can express their weary thoughts through joking while waiting for their partner in Kalijodo.