Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Kode Semiotika Roland Barthes dalam Cerpen “Man Rabuka” Karya A.A. Navis Putra, Yoga Mestika; Amri, Ulil; Fitriah, Siti; Putri, Aprilia Kartika; Triandana, Anggi
Puitika Vol. 21 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v21i2.734

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan memahami penerapan lima kode semiotika Roland Barthes dalam cerpen A.A. Navis, “Man Rabuka”, yang dipilih karena kekayaannya akan tanda-tanda sosial dan simbol-simbol budaya. Penelitian kualitatif deskriptif ini menerapkan pendekatan objektif dalam menganalisis kata, frasa, dan klausa yang mengandung lima kode Barthes: hermeneutik, konotatif (semes), simbolik, aksian, dan budaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kode-kode tersebut beroperasi secara berlapis untuk membongkar makna tersembunyi dan kritik sosial narasi. Kode hermeneutik menciptakan misteri melalui pertanyaan tentang keheningan desa dan stigma pengkhianat. Kode konotatif mengungkapkan kekosongan spiritual karakter Jamain melalui ekspresi penderitaan batin dan atribusi ironis kualitas surgawi pada keburukan duniawi (opium, tuak). Kode simbolik menyajikan oposisi biner yang runtuh antara Pahlawan (sang kakak) dan narator (Aku), yang pada akhirnya ditiadakan oleh kekuatan Kelupaan. Kode aksian memetakan urutan peristiwa penting, terutama penyiksaan sang pahlawan dan tindakan satir Jamain menyuap Malaikat Kubur. Terakhir, Kode budaya diwujudkan melalui istilah agama dan Minangkabau seperti Tuanku, malin, dan frasa judul Man Rabuka. Kesimpulannya, pendekatan semiotika Barthes berhasil mendekonstruksi “Man Rabuka” sebagai sistem tanda yang kompleks, merefleksikan pandangan dunia penulis dan kritik sosial terhadap masyarakat yang terjebak dalam formalisme dan materialisme.
Pengembangan Produk Wisata Dalam Mendukung Wisata Bahari Sumatera Barat (Studi Kasus Pulau Pasumpahan Kecamatan Bungus Teluk kabung) Amri, Ulil; yulianda, harry; afrilian, pepy
i-Tourism: Jurnal Pariwisata Syariah Vol. 4 No. 1 (2024): I-Tourism : Jurnal Pariwisata Syariah
Publisher : UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/i-tourism.v4i1.12051

Abstract

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui, Pengembangan Produk Wisata Dalam Mendukung Wisata Bahari Sumatera Barat (Studi Kasus Pulau Pasumpahan Kecamatan Bungus Teluk Kabung) yang terkandung didalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitattif deskriptif. Data yang dikumpulkan dengan melakukan wawancara terhadap pengelola objek wisata mengenai Pengembangan Produk Wisata Dalam Mendukung Wisata Bahari. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan Pengumpulan Data, Reduksi Data, Penyajian Data dan Penarikan Kesimpulan data. Serta keabsahan data yang digunakan meningkatkan kecermatan dalam penelitian. Dengan meningkatkan kecermatan dalam penelitian maka kepastian data dan urutan kronologis peristiwa dapat dicatat dan direkam dengan baik.Berdasarkan hasil penelitian penulis dapat disimpulkan bahwa Pengembangan Produk Wisata Dalam Mendukung Wisata Bahari Sumatera Barat (Studi Kasus Pulau Pasumpahan Kecamatan Bungus Teluk Kabung) terdapat dalam konsep 3A yaitu Atraksi, Amenitas dan Aksesbilitas.Kata Kunci :. Atraksi, Amenitas dan Aksesbilitas di pulau pasumpahan   
Reconstructing the Minangkabau Customary Prohibition of Intra-Clan Marriage: An Analysis Through Fazlur Rahman’s Double Movement Theory Syafitri, Anesia; Amri, Ulil; Fithria, Nurul
Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajifl.v5i2.3829

Abstract

This article examines the reconstruction of the Minangkabau customary prohibition of intra-clan marriage (perkawinan sesuku) through Fazlur Rahman’s double movement theory. Historically, the ban served to safeguard the integrity of the matrilineal line, reduce conflict among clans, and preserve social stability within a tightly knit communal order. In contemporary Minangkabau society, however, accelerated migration, urbanization, and higher levels of education have created new marriage patterns and shifted value orientations, so the absolute character of this norm is increasingly questioned, particularly because it lacks explicit textual support in Islamic law. Using qualitative, library-based research, the study first identifies the Qur’anic moral principles governing marriage, kinship limits, and the protection of family honor, then rereads the Minangkabau prohibition as a form of local custom (‘urf) in light of these principles. The analysis shows that the rule can be reformulated from a rigid sacral prohibition into a flexible ethical guideline that still protects lineage (hifz al nasl) and social dignity (hifz al ird), while giving greater recognition to individual rights and contemporary social realities. The article proposes a model of normative reconstruction that places family consultation, genealogical mapping, and communal consensus at the center of decision making, so that the relationship between Islamic law and Minangkabau custom develops toward a more dialogical and context-sensitive harmony.