Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Laporan Kasus: Cangkok Kulit pada Vulnus Avulsi Metatarsal Sinistra Kucing Lokal Monica, Mia; Sudisma, I Gusti Ngurah; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.492 KB)

Abstract

Luka atau vulnus merupakan salah satu proses kerusakan atau hilangnya komponen jaringan secara spesifik yang terjadi mengenai bagian tubuh tertentu. Dari berbagai jenis luka atau vulnus, kasus yang sering ditemukan pada kucing adalah luka dengan kehilangan sebagian kulit atau vulnus avulsi. Vulnus avulsi (vulnus avulsum) yaitu luka yang terjadi disertai lepasnya sebagian atau seluruh jaringan. Luka ini sering kali mengacu pada trauma permukaan di mana semua lapisan kulit telah terkoyak dan mengenai struktur dibawahnya (seperti jaringan subkutan, otot atau tendon). Seekor kucing lokal berumur 1,5 tahun, bobot badan 2,71 kg, dan berjenis kelamin jantan diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan adanya luka terbuka dengan hilangnya sebagian kulit pada metatarsal sinistra yang disebabkan terlilit oleh kawat. Penanganan luka tersebut dengan tindakan pembedahan dengan teknik cangkok kulit. Kulit bagian leher digunakan sebagai kulit donor pada proses cangkok kulit. Kulit donor dicukur, dibersihkan, dan diambil menggunakan scalpel kemudian diposisikan agar searah dengan pertumbuhan rambut pada tempat luka. Penjahitan dengan pola jahitan simple interrupted menggunakan benang silk 3-0. Kesembuhan luka cangkok kulit ditentukan oleh perawatan hewan, yaitu dengan menjaga pembalut luka selalu dalam kondisi kering, mencegah hewan menjilat kulit donor, dan pemberian antibiotik amoxicilin 2,5 mL secara oral 3 kali sehari dengan antiinflamsi nonsteroid ibuprofen 1 mL secara oral 2 kali sehari yang diberikan selama 7 hari. Cangkok kulit pada vulnus avulsi metatarsal sinistra kucing lokal belum berhasil.
Laporan Kasus : Penanganan Hernia Umbilikalis pada Kucing Lokal Betina Umur Sembilan Tahun dengan Laparotomi Rosita, Indah; Sudisma, I Gusti Ngurah; Gorda, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.295 KB)

Abstract

Hernia umbilikalis merupakan penonjolan pada daerah umbilikal yang umumnya terjadi secara kongenital. Kucing lokal betina berumur sembilan tahun, bobot badan 2 kg, warna rambut red tabby, diperiksa ke Laboratorium Ilmu Bedah Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dengan keluhan berupa penonjolan pada abdomen sejak lahir. Kondisi umum kucing sehat dengan nafsu makan baik. Kucing didiagnosis mengalami hernia umbilikalis melalui pemeriksaan klinis dengan prognosis fausta. Sebelum pembedahan diberikan premedikasi atropine sulfate 0,2 ml secara subkutan dan 10 menit kemudian diinduksi dengan kombinasi xylazine dan ketamine yang masing-masing jumlah dosis pemberiannya 0,2 ml dan 0,4 ml secara intramuskuler. Kucing ditangani dengan melakukan pembedahan laparotomi menginsisi bagian midline ventral abdomen yang tepat berada di atas tonjolan dengan posisi hewan dorsal recumbency untuk mereposisi omentum pada umbilikus. Pola jahitan simple interrupted, subkutan ditutup dengan pola jahitan simple continous, dan kulit ditutup dengan teknik subkutikuler secara menerus. Pengobatan pascaoperasi diberikan antibiotik amoxicillin syrup 125 mg/5 ml dengan dosis pemberian 0,5 ml (3 x sehari) selama 7 hari peroral. Serta antibiotik topikal yang mengandung placenta extract ex bovine 10% dan neomycin sulfate 0,5% diberikan secukupnya (3x sehari) hingga luka mengering. Kucing mengalami kesembuhan total pada hari ke-10 ditandai dengan luka sayatan tidak ditemukan peradangan, luka menyatu dan mengering.
The Effectivity of Ethanol Extract of Datura Metel L. Seeds as a General Anaesthesia on Kintamani Dogs I Putu Juli Sukariada; I Wayan Sudira; I Gusti Ngurah Sudisma
Veterinary Science and Medicine Journal Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.818 KB)

Abstract

This study aimed to determine the effectivity of ethanol extract of Datura metel L. seeds, as general anaesthesia on Kintamani dogs. A total of 25 dogs was divided into 5 groups, namely: group 1(treated by the combination of xylazin 1 mg/kg BW and ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds 10 mg/kg BW), group 2 (treated by the combination of xylazin 1 mg/kg BW and ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds 15 mg/kg BW), group 3 (treated by the combination of xylazin 1 mg/kg BW and ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds 20 mg/kg BW), group 4 (treated by the combination of xylazin 1 mg/kg BW and ketamine 15 mg/kg BW), and group 5 (treated by the ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds 15 mg/kg BW). Induction time, duration and recovery time were recorded, in which these responses were observed by clamping on the tail, ears and interdigital area.  Physiological responses including respiration values, rectal temperature, oxygen saturation (SPO2), the frequency of the heart rate and electrocardiogram were observed using physiographic machine every 5 minutes until the dogs regain their consciousness. The level of ALT and AST was also examined to determine the level of toxicity of ethanol extracts of 10% Datura metel L. seeds. The results showed that group 1 and group 2 had no significant effect on the physiological response changes. However, the group 3 showed the sign of acute toxicity followed by increasing the levels of ALT and AST. The group 4 showed a decreasing physiological response, while group 5 had a similar response to group 2, but without sedation effect. It can be concluded that the ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds has a potential as an analgesic and an anaesthetic agent.
PENGEMBANGAN BATIK TULIS MOTIF JEPUN BALI DALAM SKALA HOME INDUSTRY DI DESA GETASAN I W. Suardana; I G.N. Sudisma; I N. Suarsana
Buletin Udayana Mengabdi Vol 15 No 3 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.127 KB)

Abstract

Perkembangan seni kerajinan batik masih kalah saing jika dibandingkan dengan seni kerajianan lainnyaseperti seni patung ataupun seni kerajinan kain “endek”, padahal batik apabila digarap secara profesionaldengan ketrampilan yang tepat, terukur, sesuai dengan selera dan permintaan pasar, niscaya akan menjadisalah satu “soko guru” baru perekonomian masyarakat. Desa Getasan sebagai salah satu wilayah diKabupaten Badung memulai melakukan terobosan dengan dikembangkannya seni kerajinan batik denganmotif khusus “Jepun Bali”sebagai trand mark Kabupaten Badung. Di dalam perjalanannya, seni kerajinanbatik di Desa Getasan mengalami pasang surut terutama sekali terhadap masalah kurangnya tenaga kerjapembatik yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar, masih minimnya pengetahuan tentang teknikbatik yang baik dan benar termasuk didalamnya adalah teknik pewarnaan, serta belum tersosialisainya senikerajinan batik diluar kelompok. Didasarkan atas pertimbangan tersebut, maka upaya strategis melaluikegiatan KKN-PPM dapat dijadikan sebagai solusi pemecahannya. Kegiatan diawali dengan tahapankoordinasi program kepada kelompok sasaran sekaligus juga dilakukan sosialisasi di luar Desa Getasanmelalui pembentukan kelompok baru. Dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan yang dituntun oleh instrukturberpengalaman dan diakhiri dengan tahapan sosialisasi seni membatik pada anak usia dini (anak SD) baik diDesa Getasan maupun diluar Desa Getasan. Hasil Kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan batik tulis di DesaGetasan telah berhasil meningkatkan pemahaman dan manfaat mengenai teknik membatik dan mewarnaiyang lebih berkualitas sehingga nantinya akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas batik Jepun Baliyang sudah diproduksi. Kegiatan pelatihan juga berhasil mengembangkan kelompok seni kerajinan batikyang baru yaitu kelompok batik “Sekar Jepun” yang ada di Desa Samuan Carangsari serta telah berhasilmenanamkan seni membatik sebagai warisan budaya Nasional pada anak-anak usia dini di Desa Getasan dansekitarnya.
SOSIALISASI PENYAKIT ZOONOSIS ESCHERICHIA COLI O157:H7 SERTA PELAYANAN KESEHATAN SAPI DI DUSUN LAMPU DESA CATUR KINTAMANI BANGLI I W. Suardana; I.B.N. Swacita; I.N. Suartha; I G.N. Sudisma; M.D. Rudyanto; I.G.M. Krisna Erawan; I.N. Suarsana; I.W. Batan; P.A. Sisyawati Putriningsih; T. Sari Nindia; A.L.T. Rompis; I.N. Mantik Astawa; K. Karang Agustina; I.H. Utama; I.G.A. Suartini; I.M. Sukada; I.K. Suada; A.A.A. Mirah Adi
Buletin Udayana Mengabdi Vol 16 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.738 KB)

Abstract

Ternak sapi yang menderita diare berpeluang besar untuk ditemukan adanya agen zoonosis E. coli O157:H7 mengingat sapi sebagai reservoir utama dari agen tersebut.Transmisi penularan strain bakteri ini ke manusia umumnya terjadi melalui konsumsi daging yang kurang dimasak, produk susu yang tidak dipasteurisasi, air yang terkontaminasi feses. Dusun Lampu sebagai salah satu Dusun di Desa Catur merupakan salah satu daerah potensial untuk pengembangan ternak khususnya sapi sehingga menjadikan program pelayanan kesehatan di wilayah tersebut sangat potensial untuk dilakukan. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat berupa sosialisasi penyakit zoonosis E. coli O157:H7 serta pelayanan kesehatan ternak sapi di Dusun ini, memperlihatkan respon positif yang dicirikan dengan cukup banyaknya jumlah ternak yang memperoleh pelayanan yaitu sejumlah 65 ekor sapi dari 35 petani ternak. Jenis pelayanan yang dilakukan meliputi tindakan spraying atau pemberian butox terhadap semua ternak sapi yaitu 65 ekor (100%), disusul dengan pemberian vitamin pada 52 ekor (80%), pemberian obat cacing sebanyak 39 ekor (60%), serta pemberian delladryl pada 1 ekor sapi (1,5%). Hasil ini mengindikasikan bahwa program pengabdian yang dilakukan cukup efektif dapat menyentuh kebutuhan dasar petani ternak, sehingga benar-benar dapat dirasakan manfaatnya.
PELAYANAN KESEHATAN SAPI DI BANJAR BUANGGA, DESA GETASAN, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG I W. Suardana; I G.N. Sudisma; I K. Suatha; I N. Suartha; Tj. S. Nindhia; I N. Suarsana
Buletin Udayana Mengabdi Vol 15 No 3 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.68 KB)

Abstract

Kesehatan ternak merupakan salah satu faktor penting yang amat menentukan tingkat keberhasilan jalannyasuatu usaha peternakan disamping faktor lainnya seperti pakan, manajemen, bibit, dan lain-lain. BanjarBuangga sebagai salah satu Banjar di Desa Getasan merupakan salah satu daerah potensial untukpengembangan ternak khususnya sapi sehingga menjadikan program pelayanan kesehatan di wilayah tersebutsangat potensial untuk dilakukan. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat terhadap ternak sapi di Banjar ini,memperlihatkan respon positif yang dicirikan dengan cukup banyaknya jumlah ternak yang memperolehpelayanan yaitu sejumlah 44 ekor sapi dari 27 petani ternak. Jenis pelayanan yang dilakukan meliputi:pemberian vitamin terhadap semua ternak sapi yaitu 44 ekor (100%), disusul dengan pemberian obat cacingpada 37 ekor (84%), tindakan spraying berupa pemberian gusanex sebanyak 10 ekor (22,8%), pemberianobat butok sebagai anti lalat sebanyak 7 ekor (15.9%), serta pemberian delladryl dan Ivermectin masingmasingpada 2 ekor sapi (4,5%). Hasil ini mengindikasikan bahwa program pengabdian yang dilakukancukup efektif dapat menyentuh kebutuhan dasar petani ternak, sehingga benar-benar dapat dirasakanmanfaatnya.
PENYULUHAN DAN PELAYANAN KESEHATAN ANJING JALANAN UNTUK MENDUKUNG PERCEPATAN PROGRAM BALI BEBAS RABIES DI DESA SEDANG KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG I.G.N. Sudisma; I.G.A.G.P. Pemayun; A.A.G.J. Wardita; I.K.A. Dada; I.W. Gorda
Buletin Udayana Mengabdi Vol 16 No 3 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.671 KB)

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat di Desa Sedang, Abiansemal, Badung bertujuan untuk menekan angka pertumbuhan populasi anjing jalanan sehingga menekan resiko penularan rabies, mencegah terjadinya penyebaran dan resiko rabies dengan diidentifikasi dan penanganan anjing jalanan dengan kastrasi dan sterelisasi masal, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeliharaan anjing dengan diikat atau dikandangkan dan pemberian pakan yang baik untuk mencegah penularan rabies. Dalam kegiatan ini dilakukan penyuluhan, pengumpulan kuisioner dan pelayanan berupa kegiatan kastrasi dan sterelisasi terhadap anjing jalanan. Penyuluhan dan Pelayanan kesehatan dan pengumpulan kuisioner dilakukan oleh tim pengabdian pada masyarakat yang dibantu oleh Dokter Hewan lapangan serta dari Dinas Peternakan di Kabupaten Badung. Desa Sedang termasuk daerah dengan cakupan vaksinasi yang sangat baik (85%), populasi anjing sangat tinggi (75% Kepala Keluarga memelihara anjing), pengendalian populasi sangat rendah, karena 64% anjing tidak disteril, dan sistem pemeliharaan anjing di Desa Sedang sebagian besar (50%) masih dilepas. Kegiatan pelayanan sterilisasi (kastrasi dan ovariohisterektomy) untuk pengendalian populasi perlu dilanjutkan secara periodik sebagai percontohan dalam program poengendalian rabies dan mempercepat program Bali Bebas Rabies.
Evaluation of Acute Dermal Toxicity of Hibiscus Leaves as Simplicial Ointment on Albino Rats Saputra, Made Gede Adi Surya; Sudira, I Wayan; Samsuri, Samsuri; Merdana, I Made; Dharmayudha, Anak Agung Gde Oka; Sudisma, I Gusti Ngurah
Jurnal Medik Veteriner Vol. 6 No. 2 (2023): October
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmv.vol6.iss2.2023.216-229

Abstract

Hibiscus is a plant that has been shown to contain substances that may be used as sunscreen to protect the skin from UV radiation. In terms of their potential as sunscreens, flavonoids, tannins, and quinone chemicals are crucial because they are antioxidants that can reduce the negative effects of UV radiation and boost photoprotective activity. This study aimed to investigate the acute dermal toxicity potential of hibiscus leaves simplicial ointment 40% on female albino rats. The evaluation method refered to The OECD Guideline for Testing of Chemicals – No. Test: 402, Acute Dermal Toxicity-Fixed Doses Procedure. Based on the Globally Harmonized System compared to this study reported that acute dermal median lethal dose (LD50) was > 2000 mg/kg. It can be concluded that hibiscus leaves simplicial ointment 40% has safe to apply topically and doesn't produce acute skin toxicity.
Uji Fitokimia Terhadap Ekstrak Etanol 70% Dan Ekstrak Air Bunga Kecubung (Datura metel L.) Yang Berpotensi Sebagai Bahan Anestesi Sudira, I Wayan; Samsuri, Samsuri Samsuri; Sudisma, I Gusti Ngurah; Diana, Kadek Leni Martha
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 3 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.74161

Abstract

Anestesi umum dapat didefinisikan sebagai suatu depresi dari sistem saraf pusat (SSP) yang menyeluruh akan tetapi bersifat reversible, yang mengakibatkan hilangnya respon dan persepsi terhadap semua rangsang dari luar. Salah satu agen baru yang berpotensi sebagai bahan anestesi adalah tumbuhan kecubung (Datura metel L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak etanol 70% dan ekstrak air bunga kecubung (Datura metel L.) melalui uji fitokimia dan mengetahui kandungan senyawa kimia yang berpotensi sebagai bahan anestesi. Sampel penelitian berupa bunga kecubung didapat dari daerah Danau Tamblingan, Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70% dan pelarut air dengan menggunakan metode maserasi. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol 70% dan ekstrak air bunga kecubung (Datura metel L.) dengan uji fitokimia positif mengandung senyawa alkaloid, saponin, tanin, fenolat, dan flavonoid namun negatif mengandung triterpenoid/steroid serta mengandung senyawa kimia yang berpotensi sebagai bahan anestesi yaitu alkaloid, saponin, tanin, fenolat, dan flavonoid
LAPORAN KASUS: CUTANEOUS LIPOMA PADA ANJING RAS LOKAL Prasetyo, Catur; Gorda, I Wayan; Sudisma, I Gusti Ngurah
VITEK : Bidang Kedokteran Hewan Vol. 15 No. 1 (2025): VITEK-Bidang Kedokteran Hewan
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/jv.v15i1.304

Abstract

Cutaneous lipoma is a benign tumor of fatty tissue, whose presence is generally not dangerous but can cause discomfort or be aesthetically disturbing. The purpose of this case report is to outline how to diagnose and treat cases of cutaneous lipoma in dogs. The case presented involves an 8-month-old female local dog with predominantly black fur and white markings, which was diagnosed with a cutaneous lipoma. The chosen treatment method was surgery to remove the fatty mass from the cutaneous tissue of the caudal abdominal region. Before surgery, the dog received premedication with atropine sulfate subcutaneously, and anesthesia was administered using xylazine and ketamine intramuscularly, given separately. The operation to remove the tumor involved making incisions through the skin and subcutaneous tissue. The wound was closed using a continuous suture pattern with absorbable PGA 3.0 sutures for both the subcutaneous layer and the skin. Post-operative treatment included regular cleaning of the wound area with 0.9% NaCl, application of antibiotic powder, and oral administration of cefixime trihydrate and meloxicam for five days. A week after surgery, the dog showed signs of recovery based on physical and clinical evaluations.
Co-Authors A.A.G.J. Wardita Aida Lousie Tenden Rompis An'nisafitri Lutviana Anak Agung Gde Jaya Wardhita, Anak Agung Gde Jaya Anak Agung Gde Oka Dharmayudha Anak Agung Sagung Kendran Anak Agung Sagung Kendran Bendelin Melda Loekali Deo Lauda Putra Diana, Kadek Leni Martha Dondin Sajuthi DWI SURYANTO Erika Erika Grace Tabitha Tenggi Olihta Simatupang Gunanti . I Gede Soma I Gusti Agung Arta Putra I Gusti Agung Ayu Suartini I Gusti Agung Gede Putra Pemayun I Gusti Made Krisna Erawan I K. SUATHA I Ketut Anom Dada I Ketut Berata I Ketut Suada I Made Agus Adnyana I Made Merdana I Made Sukada i Nengah Wandia I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Nyoman Sulabda I Putu Gede Yudhi Arjentinia I Putu Juli Sukariada I Wayan Gorda I Wayan Gorda I Wayan Suardana I Wayan Sudira I Wayan Wirata I Wayan Wirata I.G.A.G.P. Pemayun I.H. Utama I.K.A. Dada I.W. Batan I.W. Gorda Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Ngurah Swacita Kadek Karang Agustina Luh Dewi Anggreni Luh Komang Ayu Puteri Priharyanthi Luh Made Sudimartini M.D. Rudyanto Made Gede Adi Surya Saputra Made Sandy Widhi Raharja Marliani, Ni Kadek Mokhamad Fakhrul Ulum, Mokhamad Monica, Mia Nur Liliana Putri Prihatiningsih Prasetyo, Catur Putra, I Gede Putu Alit Anggara Putu Ayu Sisyawati Putriningsih Rahmiati, Nur Ilmi Riki Siswandi Rosita, Indah Rosni Lumban Gaol Rozalina, Irma Samsuri Samsuri Samsuri, Samsuri Samsuri Samuel, Josia Sasmita, Debbie Aprillia Yona Setyo Widodo Sholichah, Sholichah Sukma, Ni Ketut Ayu Mega Sultan, Nurul Fadillah T. Sari Nindia Tjokorda Sari Nindhia Vivi Indrawati