Claim Missing Document
Check
Articles

PERBEDAAN PENGGUNAAN KONSENTRASI LARUTAN ASAM SITRAT DALAM PEMBUATAN GELATIN TULANG RAWAN IKAN PARI MONDOL (Himantura gerrardi) Santoso, Candra; Surti, Titi; Sumardianto, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.918 KB)

Abstract

Gelatin merupakan protein hasil hidrolisis kolagen tulang dan kulit. Gelatin memiliki sifat yang khas, yaitu berubah secara reversible dari bentuk sol ke bentuk gel. Konsentrasi Asam Sitrat dapat mempengaruhi mutu gelatin. Penggunaan asam yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan kolagen yang terdapat di dalam tulang tidak dapat berubah menjadi gelatin. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan larutan Asam Sitrat terhadap karakteristik gelatin tulang rawan ikan Pari Mondol dan mengetahui konsentrasi terbaik Asam Sitrat yang ditambahkan pada proses pembuatan gelatin tulang rawan ikan Pari Mondol. Metode penelitian ini menggunakan  Rancangan Acak Lengkap.  Perlakuan  yang diterapkan yaitu perendaman tulang ikan Pari dengan Asam Sitrat 4%, 5%, 6% dan tanpa perlakuan asam sitrat (kontrol) selama 48 jam. Parameter utama yang diamati adalah kekuatan gel, viskositas, pH, dan kadar air, sedangkan parameter pendukung adalah kadar protein, kadar lemak, dan kalsium. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan Asam Sitrat pada pembuatan gelatin tulang ikan Pari Mondol terdapat pengaruh perbedaan  nyata (P<0,05) terhadap nilai kekuatan gel, viskositas, pH, kadar air, kadar protein, kadar lemak, dan kalsium. Konsentrasi Asam Sitrat 4% merupakan perlakuan konsentrasi yang terbaik dengan kriteria mutu: kekuatan gel 103,03 g.bloom; viskositas 4,74 (cP); pH 5,79%; kadar air 8,07%; kadar protein 76,49%; kadar lemak 0,59%; dan kalsium 3,26%. Gelatin is a protein hydrolysis from bone collagen and skin. Gelatin has distinctive characteristics, namely a reversible change from sol to form a gel. Citric Acid concentration can affect the quality of gelatin.The use of acid that is too high can lead the collagen contained in the bone can not be transformed into gelatin. The purpose of this study was to determine the effect of adding solution of Citric Acid on the characteristics of Stingrays cartilage gelatin and determine the best concentration of Citric Acid was added to the gelatin manufacturing process Stingrays cartilage gelatin. The research used was Completely Randomized Design. Treatment applied was immersion Stingrays cartilage with Citric Acid 4 % , 5 % , 6 %, and without citric acid treatment (control) for 48 hours.  The main parameters measured were gel strength, viscosity , pH, and moisture content while supporting parameters are the protein content, fat content, and calcium. The results showed that the use of Citric Acid in the manufacture of Stingrays cartilage gelatin significant effect (P < 0.05) to the value of gel strength, viscosity, pH, moisture content, protein content, fat content, and calcium. Citric Acid 4% concentration was the best treatment of concentration with the quality criteria: gel strength 103,03 g.bloom; 4,73 viscosity (cP); pH of 5,793%; moisture content of 8.073%; protein content of 76,49%; fat content of 0.59%; and 3.263% calcium. 
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn.) TERHADAP WARNA DAN KUALITAS PADA TERASI UDANG REBON (Acetes sp.) Sanjaya, Yulian Dani; Sumardianto, Sumardianto; Riyadi, Putut Har
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 2 (2016): Wisuda Periode Bulan April 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.658 KB)

Abstract

Terasi merupakan produk tradisional perikanan. Terasi bisa terbuat dari ikan, udang, ataupun campuran keduanya, tetapi konsumen cenderung lebih menyukai terasi udang karena memiliki warna yang menarik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan ekstrak rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.) dengan konsentrasi berbeda pada pembentukan warna terasi udang dan untuk mengetahui kualitas produk terasi udang rebon terbaik dengan penambahan ekstrak rosella konsentrasi berbeda. Materi pada penelitian ini terdiri dari bahan utama seperti udang rebon, ekstrak rosella, dan garam. Penelitian ini dilakukan dengan penambahan konsentrasi ekstrak rosella berbeda, yaitu 5%, 10%, dan 15% pada terasi rebon saat proses penggilingan III, dengan tiga kali ulangan. Analisis data dalam penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan aplikasi SPSS 21.0 jika ada perbedaan antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Parameter yang diukur adalah uji kadar air, kadar protein, kadar abu, pH, kadar garam, warna, dan organoleptik. Penelitian ini menggunakan metode experimental yield. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan terasi udang rebon dengan konsentrasi ekstrak rosella berbeda berpengaruh terhadap mutu terasi dan sesuai SNI 2716.1-2009 tentang terasi udang. Nilai kadar air berkisar antara 43,19 – 49,03%. Nilai kadar protein berkisar antara 10,8 – 13,11%. Nilai kadar Abu berkisar 1,49 – 2,15%. Nilai pH berkisar 5,44 – 6,09. Nilai kadar garam berkisar 5,63 – 7,16%. Warna terasi udang dengan perlakuan 5% memiliki warna merah kekuningan sedangkan terasi dengan ekstrak rosella 10% dan 15% memiliki warna merah gelap. Hasil penelitian terbaik berdasarkan hasil pengujian skala laboratorium terdapat pada terasi dengan penambahan rosella 5%.
POTENSI EKSTRAK Caulerpa racemosa SEBAGAI ANTIBAKTERI PADA FILLET IKAN BANDENG (Chanos chanos) SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Rachmawati, Siti; Sumardianto, -; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.845 KB)

Abstract

Makroalga Caulerpa racemosa mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri untuk mencegah  pembusukan pada ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa aktif pada Caulerpa racemosa secara kuantitatif, jenis antibakteri dominan pada Caulerpa racemosa, dan pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak Caulerpa racemosa terhadap perubahan nilai pH, TPC, TVBN, dan organoleptik pada fillet ikan bandeng selama penyimpanan dingin.  Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3x4 dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu lama penyimpanan (0, 4, 8, dan 12) hari dan faktor kedua yaitu konsentrasi antibakteri ekstrak Caulerpa racemosa kontrol,1% dan 1,5%. Data pH, TVB dan TPC dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut BNJ (Beda Nyata Jujur), sedangkan data organoleptik dengan uji Kruskal Wallis dan uji lanjut Duns Multiple Comparison menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak Caulerpa racemosa dengan konsentrasi berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai pH, TVB, TPC dan organoleptik. Penambahan ekstrak Caulerpa racemosa 1% dan 1,5% dapat menghambat pembusukan pada fillet ikan bandeng hingga hari ke-8, sedangkan fillet kotrol sudah mengalami pembusukan pada hari ke-4. Konsentrasi methanol pada ekstraksi Caulerpa racemosa terbaik adalah 100%. Senyawa antibakteri dominan pada Caulerpa racemosa berasal dari golongan alkaloid. Penggunaan ekstrak Caulerpa racemosa 1% merupakan perlakuan terbaik dalam mempertahankan kesegaran fillet ikan bandeng yang disimpan pada suhu dingin. Macroalgae Caulerpa racemosa contains bioactive compounds as an antibacterial to prevent fish spoilage. The aimed of this study was to determine bioactive compound content of Caulerpa racemosa quantitatively, the dominat antibacterial compounds in Caulerpa racemosa, and the effect of different concentrations of Caulerpa racemosa extract to the changes of pH, TPC, TVBN, and sensory value of milkfish fillet during cold storage. The observation was carried out every 4 days. The method used was experimental laboratory with randomized completely design with 3x4 factorial design and in triplicates The first factor was the storage time (0, 4, 8, and 12 days) and the second factor was the concentration of antibacterial extract from Caulerpa racemosa control 1% and 1.5%. pH, TVB and TPC data were analyzed by ANOVA and HSD test (Honestly Significant Difference), while sensory data by Kruskal Wallis test and Duns Multiple Comparison test using SPPS. The results showed that the addition of Caulerpa racemosa extract in different concentrations significantly (p <0.05) affect on pH, TVB, TPC and sensory value. The addition of Caulerpa racemosa extract 1% and 1.5% can inhibit spoilage in catfish fillets up to day 8, while the control already decomposing on the 4th day. The best concentration of methanol that used to Caulerpa racemosa extraction was 100%. The dominant of Antibacterial compound in Caulerpa racemosa was sourced from alkaloid class. The using of 1% Caulerpa racemosa extract is the best treatment to maintain the freshness of fish fillets during cold storage.
EFEKTIVITAS SERBUK Sargassum polycystum SEBAGAI ANTIBAKTERI PADA IKAN LELE (Clarias sp.) SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Barodah, Luk Luul; Sumardianto, Sumardianto; Susanto, Eko
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.258 KB)

Abstract

Ikan lele merupakan ikan air tawar yang diminati oleh masyarakat. Ikan lele mengandung nutrisi tinggi dan merupakan ikan yang berlendir, dan lendir merupakan salah satu media pertumbuhan yang baik untuk bakteri. Serbuk S. polycystum merupakan rumput laut coklat yang mengandung senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif yang ada pada serbuk S. polycystum dan kemampuan serbuk S. polycystum sebagai antibakteri pada ikan lele (Clarias sp.). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuk S. polycystum dan ikan lele (Clarias sp.). Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu konsentrasi serbuk S. polycystum (0%, 3%, 6% dan 9%) dan lama penyimpanan (hari ke-0, hari ke-4, hari ke-8, dan hari ke-12). Rendemen serbuk S. polycystum sebesar 51,3 %, kandungan fenol 0,23 %, flavonoid 0,10 %, tanin 0,66 % dan saponin 0,64 %. Rendemen serbuk S. polycystum yang ditambahkan pada ikan  lele yang disimpan pada suhu dingin menunjukkan bahwa perbedaan penambahan konsentrasi sebuk S. polycystum dan lama penyimpanan memberikan pengaruh nyata terhadap nilai TPC, nilai TVBN, nilai pH serta nilai organoleptik (p < 0,05). Konsentrasi terbaik pada penelitian ini adalah 6% dengan nilai TPC pada hari ke- 12 yaitu 1,3 x 105 CFU/g, nilai TVBN 20,63 mgN/100g, nilai pH sebesar 6,96 dan nilai organoleptik ikan lele konsentrasi 6% masih layak konsumsi.
PENGARUH PENGGUNAAN KAYU MERBAU (Intsia bijuga) SEBAGAI PEWARNA ALAMI DALAM PEWARNAAN KULIT SAMAK IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk.) Hardianti, Meilinda; Sumardianto, -; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.687 KB)

Abstract

Kulit ikan bandeng merupakan kulit ikan yang mempunyai nilai keindahan pada rajah sehingga menambah nilai ekonomis untuk dijadikan produk samak. Penyamakan adalah mengubah kulit yang tidak stabil menjadi stabil dan bebas dari mikroorganisme. Salah satu bahan pewarna alami yang dapat digunakan dalam pewarnaan kulit samak yaitu kayu merbau (intsia bijuga). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pewarna alami kayu merbau dan konsentrasi yang berbeda terhadap kualitas dari kulit samak ikan bandeng. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit ikan bandeng yang diperoleh dari limbah home industry Fania Food, Yogyakarta dan ekstrak larutan kayu merbau diperoleh dari Yogyakarta. Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali pengulangan dimana konsentrasi yang digunakan adalah 5%, 15%, 25%, dan pewarna sintetis. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk data parametrik. Kulit samak ikan bandeng dengan konsentrasi merbau 25% merupakan hasil yang terbaik dengan kriteria mutu : uji ketahanan gosok cat basah (4,417 skala) dan kering (4,750 skala), ketahanan luntur terhadap keringat (4,750  skala), kuat tarik (1949,353N/cm2), kemuluran (47,923%), dan foto mikrograf jaringan kulit yang menunjukkan serat-serat kolagen kulit lebih tersusun rapi sehingga penetrasi warna merata ke kulit. Milkfish skin is a fish skin that has a magnificent on nerf. It has economic added value as a tanning product. Leather tanning is converting process from unstable to stable skin and free from microorganisme. One of natural substances used in leather tanning is Merbau (Intsia bijuga). The aimed of this study was to determine the effect of natural dyes merbau utilization and different concentrations to leather fish quality. The materials used in the research were milkfish skin obtained from the waste of Fania Food Home Industry, Yogyakarta and wood Merbau (Intsia bijuga) extract from Yogyakarta. This research used completely randomized design (CRD) in triplicates with different concentration as follows 5%, 15%, 25%, and synthetic colour. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). To determine differences among the treatments, parametric data were tested using Honestly Significant Difference (HSD) test. Tanned milkfish skin using 25% of merbau has the best quality based on the criteria : rub resistance on wet coating test (4,417 scale) and dry coating test (4,750 scale), fastness to perspiration (4,750 scale), tensile strength (1949,353N/cm2), elongation (47,923%) and skin tissue micrograph photos showing better display of collagen fibers so that penetration of the color evenly rub.
PENGARUH PENGGUNAAN BINDER ALAMI PADA PROSES FINISHING TERHADAP KUALITAS KULIT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) SAMAK Khamidah, -; Sumardianto, -; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.737 KB)

Abstract

Penyamakan kulit adalah proses pengolahan bahan mentah kulit menjadi bahan kulit tersamak dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang mendukung proses penyamakan. Binder alami merupakan jenis binder protein yang dapat digunakan sebagai bahan perekat dalam proses finishing pada penyamakan kulit selain binder paten atau binder sintesis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh persentase binder alami terbaik dan mengetahui pengaruh penggunaan binder alami pada proses penyamakan terhadap kualitas kulit ikan nila samak.Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit ikan nila (Oreochromis niloticus) yang didapat dari PT Nusantara Aquafarm, Semarang. Parameter pengujian adalah Ketahanan Gosok cat, Hedonik, Kekuatan Sobek, Kekuatan Tarik, Kemuluran. Penelitian ini menggunakan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan menggunakan Binder Alami dari Putih telur 0 %, 7,5%, 10 %,12,5 % dengan tiga kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA).untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Jujur ( BNJ).Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Binder Alami sebesar 12,5 % berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas kulit yaitu Ketahanan Gosok cat, Organoleptik, Kekuatan Sobek, Kekuatan Tarik, Kemuluran. Kulit ikan nila samak dengan perlakuan konsentrasi Binder Alami 12,5 % memiliki kekuatan fisik terbaik yaitu Ketahanan Gosok Cat 4,83 Gray Scale, Organoleptik dapat diterima oleh konsumen, Kekuatan Sobek (247.17 N/cm), Kekuatan Tarik (2150,47 N/cm2), Kemuluran (25.42 %). Tanning a processing of raw materials  leather into the tanned skin by using chemicals that support the process of tanning. Natural binders  is a kind of protein that can be used as a binder in the process of finishing at the tannery beside synthetic binders. The purpose of this research was to gain a percentage of the best natural binders and know how the use of natural binders on the process of tanning leather to quality fish tilapia skin.The material used in this research was the skin the fish tilapia (Oreochromis niloticus) were obtained from             PT. Nusantara Aquafarm, Semarang. The test parameters were  Organoleptic, Scratch Resistance Paint, tensile strength, Tear Strength, elongation. This research used completely randomized design with four treatments using Natural Binders from egg whites 0%, 7.5%, 10%, 12% .5 with three replication. Data were analyzed using an analysis of variance (ANOVA). Comparison of means was carried out by Honestly Significant Difference Test (HSDT). Results showed that used of natural binders of 12.5% gave effect (P < 0.05) on physical quality were Hedonic, Scratch Resistance Paint, Tear Strength, tensile strength, Elongation. Tanned tilapia skin with treatment of natural binders 12.5% concentration had the best physical strength resistance Rub Paint 4,83 Gray Scale, Organoleptic be accepted by consumers, the strength  (247.17 N/cm), the tensile strength (2150,47 N/cm2), Elongation (25.42%).
KAJIAN SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK TERIPANG HITAM (Holothuria edulis) BASAH DAN KERING SEBAGAI ANTIBAKTERI ALAMI Sari, Evi Maya; Ma'ruf, Widodo Farid; Sumardianto, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.166 KB)

Abstract

Holothuria edulis merupakan salah satu sumber hayati laut yang mempunyai banyak manfaat dan memiliki senyawa bioaktif. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif dan daya hambat terbaik ekstrak H. edulis basah dan kering serta  pengaruh perbedaan konsentrasi pelarut dan keadaan sempel sebagai aktivitas antibakteri Bacillus cereus dan Pseudomonas aeruginosa. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa ekstrak etil asetat H. edulis dalam keadaan basah dengan konsentrasi 450mg/ml merupakan ekstrak terbaik. Hasil dari ekstrak H. edulis basah menunjukkan aktivitas antibakteri tertingi dengan daya hambat bakteri terluas pada bakteri B. cereus 2.8±0.2 mm dan P. aeruginosa yaitu 8.6±0.2 mm, sedangkan pada H. edulis kering pada B. cereus 1.7±0.1 mm dan P. aeruginosa yaitu 5.5 ±0.2 mm. Berdasarkan uji fitokimia dari ekstrak H. edulis basah dan kering positif mengandung alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid, dan saponin. Holothuria edulis is one of marine resources that has many benefit and have bioactive compounds. The purpose of this research was to determine the content of bioactive compounds and the best extract inhibition of wet and dry H. edulis as well as the influence of the different solvent concentration and sample condition as the antibacterial activity of Bacillus cereus and Pseudomonas aeruginosa. Results of the research found that the best extracts of H. edulis is ethyl acetate extract of wet H. edulis in 450 m g/ml concentration. Results extracts of wet H. edulis show that the highest antibacterial activity with the wide blocked power on B. cereus is 2.8 ± 0.2 mm and P. aeruginosa is 8.6 ± 0.2 mm, meanwhile in dry H. edulis on B. cereus is 1.7 ± 0.1 mm and P. aeruginosa is 5.5 ± 0.2 mm. Based on phytochemicals test of wet and dry H. edulis extracts positive contains alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid and saponin.
UJI BIOAKTIVITAS EKSTRAK TERIPANG KELING Holothuria atra SEBAGAI ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Dwicahyani, Tiara; Sumardianto, Sumardianto; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 7, No 1 (2018): JANUARI 2018
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.435 KB)

Abstract

Teripang keling Holothuria atra merupakan salah satu jenis teripang yang memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenol, saponin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai senyawa antibakteri. Bakteri S. aureus dan E. coli merupakan bakteri patogen yang dapat menyebabkan kerusakan pada bahan pangan dan menyebabkan penyakit pada manusia, sehingga diperlukan senyawa antibakteri alami sebagai alternatif pengganti antibakteri sintetis untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif ekstrak teripang H. atra dengan pelarut etil asetat, n-heksan, dan etanol, pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak teripang terhadap zona hambat bakteri S. aureus dan E. coli, serta potensi teripang sebagai antibakteri alami. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimental laboratoris dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Parameter pengujian yang dilakukan adalah rendemen, uji fitokimia kuantitatif ekstrak teripang H. atra dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan etanol, uji kontrol positif Kloramfenikol, dan uji zona hambat ekstrak teripang H. atra menggunakan metode kertas cakram dengan konsentrasi 2,5%; 5%; dan 7,5% dengan tiga kali ulangan. Data diameter zona hambat dianalisis menggunakan uji ANOVA dan Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil perhitungan rendemen terbanyak terdapat pada pelarut etanol yaitu 4,43%. Hasil uji fitokimia kuantitatif ekstrak teripang H. atra terbaik didapatkan pada senyawa flavonoid pelarut etanol yaitu 0,65±0,006, sedangkan hasil terendah didapatkan pada senyawa alkaloid pelarut n-heksan yaitu 0,15±0,069, sedangkan hasil zona hambat terhadap bakteri S. aureus dan E. coli diperoleh diameter berkisar antara 3,32 mm – 6,98 mm dan 2,40 mm – 5,93 mm. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak teripang H. atra berpengaruh nyata (P < 5%) terhadap diameter yang terbentuk.
PENGARUH UMUR PANEN DAN LAMA PENYIMPANAN MIKROALGA Chlorella sp. TERHADAP KESTABILAN KLOROFIL SETELAH FIKSASI MgCO3 Boy, Firts; Ma'ruf, Widodo Farid; Sumardianto, Sumardianto
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 2 (2016): Wisuda Periode Bulan April 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.063 KB)

Abstract

Klorofil merupakan pigmen hijau yang terdapat di seluruh tanaman hijau dan alga termasuk Chorella sp. Klorofil memiliki sifat yang tidak stabil dan mudah terdegradasi. Masalah ini dapat diatasi dengan penambahan zat penstabil seperti MgCO3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur panen dan lama penyimpanan Chlorella sp. terhadap kestabilan pigmen klorofil. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikroalga Chlorella sp. bubuk yang terdiri dari umur panen hari ke  5, 6 dan 7. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah experimental laboratories menggunakan rancangan acak faktorial. Perlakuan pada penelitian ini adalah perbedaan umur panen hari ke 5, 6 dan 7 yang telah difiksasi dengan MgCO3. Penelitian ini dilakukan 3 kali ulangan dan lama penyimpanan selama 12 hari dengan interval waktu 4 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa umur panen hari ke 7 memiliki jumlah klorofil yang lebih banyak serta lebih stabil. Chlorella sp. pada umur panen hari ke 7 menghasilkan kandungan klorofil a selama penyimpanan hari ke 0, 4, 8 dan 12 sebesar 32,86 µg/ml; 27,75 µg/ml; 23,88 µg/ml; dan 21,03 µg/ml. Sedangkan untuk klorofil b sebesar 35,79 µg/ml; 33,27 µg/ml; 29,78 µg/ml; dan 27,44 µg/ml. Untuk nilai intensitas warna sebesar 25,14; 26,99; 29,08; dan 30,39. Nilai pH sebesar 8,68; 8,45; 8,23; dan 8,07.
PENGARUH PERBANDINGAN PENAMBAHAN TEPUNG TULANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DAN BUBUR RUMPUT LAUT Ulva lactuca TERHADAP KARAKTERISTIK KERUPUK Novania, Anita; Sumardianto, Sumardianto; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.56 KB)

Abstract

Tulang ikan mengandung kalsium. Konsumsi kalsium masyarakat Indonesia masih kurang dari kebutuhan kalsium yang dianjurkan. Serat juga merupakan komponen penting pada diet manusia. Salah satu sumber serat adalah selada laut. Pemanfaatan kedua bahan pangan tersebut dapat ditambahkan pada kerupuk, sehingga dapat meningkatkan nutrisi dalam produk tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik kimia, fisik dan sensori kerupuk dengan penambahan tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut Ulva lactuca. Materi penelitian adalah tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut U. lactuca, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 5 perlakuan perbandingan konsentrasi tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut yaitu 0%:0% (K); 5%:20% (F1); 10%:15% (F2); 15%:10% (F3); 20%:5% (F4) dengan pengulangan 3 kali. Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA. Data nonparametrik dianalisis dengan Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerupuk dengan penambahan tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut berpengaruh terhadap kadar kalsium, proksimat, volume pengembangan dan hedonik. Pada kerupuk F4 memiliki kandungan kalsium tertinggi (3,69 ± 0,11), kadar air terendah (11,43 ± 0,06), kadar abu terbesar (15,99 ± 0,09), kadar protein tertinggi (8,27 ± 0,10). Serat kasar tertinggi pada F1 (4,45 ± 0,03). Nilai hedonik warna dan rasa tertinggi pada F2 yaitu warna (4,23±1,04) dan rasa (4,33±0,88).
Co-Authors - Khamidah, - A Suhaeli Fahmi Adha, Nurul Aditya Wafa Kuncoro Afliani, Afliani Agung Purnama Agus Setiawan Ahmad Niam Salim Aisyah Ayu Hidayati, Aisyah Ayu Amelia Ayu Permatasari Anwar, Shabrina apri dwi anggo Aprilia Hudayati Arief Wibowo Arifin, Muhammad Hauzan Astuti, Ridah Barodah, Luk Luul Bayu Fajar Nugraha Boy, Firts Cahyo, Septian Dwi Candra Santoso, Candra Dhita Ulfi Lestari Dinaryadi, Rico Dwicahyani, Tiara Dyah Nur Safitri Eko Nurcahya Dewi Eko Susanto Elistia, Elistia EVI MAYA SARI Fahmi, A. Suhaeli Faisal Herisetiawan Jafar Fina Aprelya Nur Fajri Frisilia Nadhira Rimadhini Fronthea Swastawati Gerda Vernia Bali Ulina, Gerda Vernia Bali Gisella Valentine Haqqy Sahri Syadeto Hauzan Arifin, Muhammad Hijriah, Febrina Anggraini Ima Wijayanti Indri Febriana Pakpahan Indria Eka Pangestuti Johar Nur Iin Karlina, ⁠Ninis Laras Rianingsih Lukita Purnamayati Ma'ruf, Widodo Farid Maharani Primawestri Mawar M, Jeis Meilinda Hardianti, Meilinda Muhamad Iqbal Muhammad Ali Fatoni Muhammad Luthfi Fadhli Muhammad Qowiyyul Azizi Mulyanto, Sepka Muryaning Charimah, Intan Naili Rohmah Nashita, Nadia Yasmin Natasha Rizky Maharani Novania, Anita Novita Dinny Pratiwi, Novita Dinny Nurafifah, Diyah Ayu Nurparidah, Opi Otto Andi Wijaya, Otto Andi Pertiwi, Nur Afni Purnamayati, Lukita Putri Islami Putut Har Riyadi Rahussidi, Muhamad Akbar Ramadhanti, Bella Widya Retno Ayu Kurniasih Retno Viyanti Rika Amelia Rina Indiarti Rissinta Mahdalena Rizki Wisnu Murti Rizki, Dinda Rojakul, Rojakul Romadhon Romadhon Sanjaya, Yulian Dani Selamet Suharto Siswanto, Arik SITI RACHMAWATI Slamet Seharto Slamet Suharto, Slamet sumardin, sumardin Syah, Dio Rachman Titi Surti Tri Winarni Agustini Triyono, Gandung Ulfah Amalia Yovianti, Nova Yudhomenggolo Sastro Darmanto