Articles
SEBUAH DILEMA EBTANAS: PILIH BUDAYA KATROL ATAU TIDAK ?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (131.486 KB)
Kiranya tidak ada yang tak sependapat bahwa hasil Ebtanas, Evaluasi Belajar Tahap Akhir yang diselenggarakan secara Nasional, untuk tahun 1987 ini adalah masih sangat jauh dari harapan. Hal ini lebih terasa khususnya pada tingkat SMTA. Pada tanggal 27 Mei 1987 yang lalu hasil Ebtanas untuk tingkat SMTA diseluruh Indonesia telah diumumkan secara serentak. Akan tetapi di tengah-tengah suasana kegembiraan para siswa yang dinyatakan lulus dan selesai mengikuti pendidikan formalnya di SMTA, ternyata banyak para guru dan para tokoh pendidikan lainnya yang justru merasa prihatin. Kenapa ......? Karena mereka tahu bahwa sangat banyak diantara siswa yang "terpaksa" dinyatakan lulus tersebut tidak disertai dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang memuaskan. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, banyak para siswa SMTA yang telah dinyatakan lulus dan selesai mengikuti pendidikan formalnya meskipun rata-rata NEM yang dicapainya tidak mampu melampui 'limit'. Keadaan tersebut barangkali belum seberapa, namun yang lebih memprihatinkan adalah adanya sikap kesantaian terhadap NEM pada sebagian siswa; dalam artian mereka tidak peduli NEM yang dicapai adalah rendah, yang pokok lulus sekolah. Pada hal NEM sesungguhnya lebih menunjukkan kualitas akademis siswa bila dibanding dengan desisi kelulusannya itu sendiri.
MERINDUKAN JURNAL SEAMEC YANG BERWIBAWA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.287 KB)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Pprof Dr Fuad Hassan dalam konperensi Dewan Menteri-menteri Pendidikan Asia Tenggara (SEAMEC) ke-23, tanggal 4 dan 5 Februari lalu di Bali akhirnya terpilih menjadi Presiden SEAMEC yang baru menggantikan presiden lama, Dr. Tony Tan Keng Yam dari Singapura. SEAMEC, yang dulu bernama SEAMEO, (South East Asia Ministers of Education Organization), merupakan "organisasi pendidikan" yang cukup bergengsi di kawasan Asia Tenggara ini. Seperti kita ketahui, tahun 1965 ini merupakan didikan di negara-negara Asia Tenggara. Salah satu prestasi yang pantas dibanggakan adalah mampu mengadakan kerja sama unttuk meningkatkan pelayanan pendidkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan pada masing-masing negara anggotanya, dengan mengesampingkan adanya perbedaan ideologi, budaya, sistem sosial-kemasyarakatan, dan sistem politik antar negara anggota. Dipilihnya menteri pendidikan kita, Fuad Hassan untuk duduk dalam jabatan tertinggi SEAMEC kiranya tidak lepas dari harapan para anggota untuk lebih mengintensifkan prestasi organisasi yang telah dicapai selama ini. Pak Fuad sendiri mengemukakan bahwa apa yang dilakukan SEAMEC selama ini dalam menyatukan pandangan serta wawasan untuk kemajuan dunia pendidikan sudah merupakan prestasi tersendiri yang patut dibanggakan.
NASIB MAHASISWA INDONESIA DI AUSTRALIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.711 KB)
Baru saja saya menerima kontak dari seorang sahabat yang kini sedang bermukim di Kota Melbourne, Australia. Dia itu adalah seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang sedang mengambil studi lanjut pada salah satu perguruan tinggi di Victoria, Australia; tepatnya di University of RMIT yang berlokasi di daerah Bundoora. Waktu mau masuk univeritas tersebut saya memang sempat memberikan referensi. Menurutnya, dia kini sedang mengalami tekanan batin yang luar biasa. Peristiwa Timor Timur yang mencuat dalam skala internasional dengan amat agresifnya pemerintahan Howard untuk "unjuk gigi" di wilayah "sengketa" itu benar-benar dirasakan akibatnya oleh para mahasiswa Indonesia di Australia. Berita-berita buruk tentang Indonesia di stasiun televisi Australia, kabar-kabar miring tentang Indonesia di koran-koran Australia, serta sikap sinis warga Australia benar-benar menjadi teror psikis bagi siswa dan mahasiswa Indonesia. Memang tidak semua warga negara Australia bersikap negatif terhadap orang-orang Indonesia di Australia; akan tetapi ternyata banyak kaum kulit putih nonAustralia, utamanya New Zealand dan Inggris, bersikap "miring" seolah-olah orang-orang Indonesia di Australia bukanlah merupakan manusia yang pantas diberi hormat. Pertanyaan tentang kapan kamu pulang ke Indonesia konon merupa-kan menu sehari-hari bagi sementara orang Indonesia yang belajar di Australia akhir-akhir ini. Akhir dari pembicaraan tersebut teman saya minta saran dan pendapat; apakah ia harus bertahan di Negara Kangguru tersebut sampai berhasil menyelesaikan studinya, ataukah sebaiknya harus cepat-cepat pulang ke tanah air dengan meninggalkan semua karya dan tanggung jawabnya.
BADAN AKREDITASI NASIONAL DAN UNIVERSITAS FIKTIF
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.337 KB)
Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Fuad Hassan, menyatakan bahwa paling lambat akhir kuartal pertama tahun 1993 nanti Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang sudah lama ditunggu-tunggu kehadirannya oleh berbagai pihak diharapkan sudah terbentuk. Badan ini dianggap penting agar supaya dapat menjadi pengawas dan pengendali mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Lebih lanjut Mendikbud mengemukakan bahwa BAN itu memang harus segera dibentuk oleh karena sudah lama men-jadi tuntutan para pengelola pendidikan tinggi swasta di Indonesia supaya menjadi badan yang mampu melakukan pengawasan sekaligus pengendalian mutu pendidikan tinggi. Selanjutnya Mendikbud mengharapkan agar supaya Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi segera mewujudkan badan yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya ini. Kehadiran badan tersebut dirasa memang makin men-desak karena sekarang ini muncul berbagai peristiwa yang tergolong aneh di tengah-tengah upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia; misalnya pada masyarakat kita yang semakin terdidik justru terdapat kasus jual be li gelar, dan anehnya juga ada yang mau membeli.
JABATAN GURU TERNYATA MASIH "MENGGIURKAN"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (132.93 KB)
Dalam beberapa tahun terakhir ini mulai dirasakan timbulnya sebuah kekhawatiran yang cukup dalam tentang merosotnya minat para remaja dan pemuda terhadap jabatan atau profesi guru. Seorang peneliti pernah mengadakan research tentang minat menjadi guru pada para mahasiswa IKIP yang hasilnya cukup mengejutkan. Dari data yang berhasil di-ungkap dari para responden ternyata membuahkan kesimpulan sbb; mahasiswa keguruan tersebut yang benar-benar mempunyai minat yang besar terhadap jabatan guru tidak lebih dari 15%. Sebaliknya yang kurang berminat justru lebih dari 15%, dan sisanya memiliki minat yang "sedang-sedang saja" terhadap jabatan guru. Di samping mengejutkan maka kesimpulan tersebut sekaligus memprihatinkan. Bagaimana tidak, ternyata minat mahasiswa keguruan sendiri terhadap jabatan guru pada umumumumnya tidak terlalu kuat. Indikator lain untuk mengacu masalah ini adalah relatif banyaknya para guru yang mengatakan bahwa jabat-an yang disandangnya bukan merupakan "cita-cita utama". Sebelum menjadi guru mereka bercita-cita dapat menduduki jabatan tertentu yang nota-bene merupakan jabatan nonguru dan dianggap lebih "eksklusif".
TENTANG PERKEMBANGAN PTS DI YOGYAKARTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (134.587 KB)
Setelah usai dilaksanakannya tes tertulis Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) pada tanggal 18 dan 19 Juni 1996 yang lalu maka saat ini para kandidat mahasiswa baru PTN tengah menunggu hasil perjuangannya. Hasil UMPTN itu sendiri menurut rencana akan diumumkan pada tanggal 27 Juli 1996 nanti. Di dalam saat-saat yang seperti sekarang ini para lulusan sekolah menengah pada umumnya dan peserta UMPTN pada khususnya mulai "berpaling" pada perguruan tinggi alternatif. Mereka mencari pergu-ruan tinggi lainnya di luar PTN yang memberikan kemungkinan untuk merintis masa depannya melalui kelanjutan studi. Tujuannya: apabila nantinya tidak diterima alias ditolak masuk PTN karena gagal testing mereka telah menemukan perguruan tinggi alternatif. Maklumlah sam-pai sekarang ini PTN masih menjadi 'university of choice' di negara kita; meskipun predikat ini makin lama terasa semakin mengendor. Secara empirik kompetisi perebutan kursi PTN relatif ketat; dan tahun ini meskipun jumlah peserta UMPTN cenderung menurun akan tetapi bukan berarti bahwa kompetisinya telah menjadi kendor. Saat ini satu kursi PTN rata-rata masih diperebutkan oleh enam atau tujuh kandidat;akibatnya lebih banyak peserta UMPTN yang gagal daripada yang berhasil masuk PTN. Mereka yang gagal lebih berkepentingan terhadap pemilihan perguruan tinggi alternatif di luar PTN. Dalam mencari perguruan alternatif tersebut akhirnya PTS, Per-guruan Tinggi Swasta, menjadi pilihan; meskipun banyak pula lulusan sekolah menengah yang sejak semula sudah menjatuhkan pilihannya di PTS. Tentunya PTS yang bonafide. Para kandidat mahasiswa ramai- ramai mencari informasi mengenai PTS. Kota-kota besar yang banyak mempunyai PTS menjadi pusat perhatian. Yogyakarta sebagai "Kota PTS" tidak luput dari perhatian. Oleh karenanya informasi mengenai dunia ke-PTS-an di Yogyakarta menjadi penting dikomunikasi.
KEMUNDURAN BUDAYA BANGSA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.522 KB)
Sangatlah jarang tiga menteri pendidikan berkumpul bersama untuk duduk dan berdialog memperbincangkan masalah yang sangat fundamental, penting dan strategis tetapi banyak dilupakan orang, yaitu masalah kebudayaan. Meskipun demikian peristiwa langka ini terjadi juga pada tanggal 22 Februari yang lalu pada forum seminar strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan di Jakarta yang diselenggarakan oleh Ditjen Kebudayaan Depdiknas. Di dalam forum tersebut satu menteri pendidikan yang masih aktif, Yahya Muhaimin, serta dua menteri pendidikan yang sudah mantan masing-masing Daoed Joesoef dan Fuad Hassan dapat ber-kumpul bersama-sama para pakar, praktisi, pengamat dan penikmat kebudayaan untuk memperbincangkan bagaimana menyusun strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia. Kalau kita berbicara mengenai kebudayaan nasional sudah barang tentu di dalamnya terkandung kebudayaan daerah yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Masalah kebudayaan di negara kita akhir-akhir ini memang terasa dilupakan orang meskipun disadari atau tak disadari hampir semua orang pada setiap harinya selalu berurusan dengan budaya. Ketika ibu-ibu setiap malam melihat penayangan sinetron di televisi mereka sedang berurusan dengan budaya. Ketika anak-anak melihat tayangan film India yang kaya tarian di televisi mereka juga sedang berurusan dengan budaya. Ketika bapak-bapak mengayun cangkul di sawah atau menyetir mobil ke kantor mereka itu pun juga sedang bururusan dengan budaya. Seperti kita ketahui sinetron dan film sebagai karya seni serta cangkul dan mobil sebagai karya teknologi adalah bagian dari budaya. Lalu, mengapa kebudayaan di Indonesia sekarang ini seperti dilupakan orang? Apakah karena alasan itu orang-orang yang sukar dirayu seperti Pak Daoed Joesoef akhirnya bersedia turun gunung? Entahlah, tetapi mungkin juga begitu.
LIMA KENDALA DAN LIMA "WARNING" BAGI TPI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (82.503 KB)
Untuk menghormati berdirinya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) satu tahun yang lalu, atau tepatnya pada tanggal 23 Januari 1991, maka di harian ini saya pernah menulis tentang perlunya pengembangan media audio-visual (terutama TPI) untuk memperluas jangkauan pelayanan pendidikan di negara kita (Supriyoko, "Dimulainya Televisi Pendidikan Indonesia Hari Ini: Tiga Kendala Siap Mengha-dang", Wawasan: 23/01/91). Hari ini TPI genap berusia satu tahun. Dalam usianya yang baru "seumur jagung" ini berbagai kritik, saran dan bahkan sinisme masyarakat yang ditujukan kepada TPI seperti tidak henti-hentinya mengalir. Hal ini mengingat kan kita pada hari-hari pertama ketika TPI dilahirkan, yang mana saat itu kritik tajam, saran, dan sinisme juga banyak bermunculan. Kalau waktu itu TPI sering dikepanjangkan sebagai "Televisi Prematur Indonesia" karena program-programnya yang dianggap tidak berbobot, "Televisi Perempuan Indonesia" karena siarannya hanya diikuti kaum hawa di pagi hari, "Televisi Pembantu Indonesia" karena siarannya kebanyakan diikuti oleh para pembantu RT, dsb, hal itu merupakan ekspresi dari berbagai sinisme. Dalam usianya yang sudah satu tahun sekarang ini pun ternyata berbagai kritik, saran, serta sinisme masih tetap saja bermunculan. Tidaklah mengapa; karena kritik, saran dan sinisme itu justru menunjukkan adanya rasa kecintaan serta besarnya harapan masyarakat kita terhadap TPI dengan program-programnya.
RENDAHNYA KUALITAS PT KITA (1)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.958 KB)
Baru-baru ini Asiaweek telah membuat sensasi akademis dengan memuat daftar 50 perguruan tinggi terbaik di Asia dan Australia, dari peringkat yang paling awal (ke-1) sampai peringkat yang paling bontot (ke-50). Dari belasan perguruan tinggi baik yang diselenggarakan oleh pemerintah (state university) maupun masyarakat (private/indepen-dent university) pada masing-masing negara maka nama-nama yang dicantumkan dalam daftar tersebut merupakan pilihan terbaik. Untuk menentukan nama-nama dalam daftar tersebut digunakan sistem evaluasi kuantitatif dengan cara pengumpulan nilai dari lima komponen; masing-masing ialah komponen reputasi akademik dengan nilai teoretis 0 s/d 30, sumber daya fakultas 0 s/d 25, selektivitas ma-hasiswa 0 s/d 20, sumber daya finansial 0 s/d 15, dan nilai uang 0 s/d 10. Secara teoretis nilai maksimal 100 hanya dapat dicapai oleh per-guruan tinggi yang memiliki kriteria ideal atas kelima komponen itu; makin tinggi pencapaian nilai total pada suatu perguruan tinggi makin tinggi pula kualitas akademiknya; begitu pula sebaliknya, makin ren-dah pencapaian nilai total pada suatu perguruan tinggi makin rendah pula kualitas akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. Tidak seluruh perguruan tinggi di Asia dan Australia dikenakan evaluasi karena dari masing-masing negara hanya diambil beberapa perguruan tinggi yang memang layak untuk dinilai. Perguruan tinggi yang dianggap kurang bermutu atau kredibilitas akademiknya diragu-kan tidak termasuk dalam daftar yang dinilai secara langsung oleh tim yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Di Indonesia misalnya; dari 1.300-an perguruan tinggi, PTN dan PTS, yang ada maka lebih dari 95 persen diantaranya sudah gugur lebih dulu karena dipandang tak memiliki kredibilitas akademik yang "menonjol". Hanya perguruan tinggi yang dianggap baik saja, seperti UGM, UI, ITB, IPB, Undip, Unair, dsb, yang dinilai.
MASALAH DAYA TAMPUNG SMTP DI JAWA TENGAH DAN UPAYA PENINGKATAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (103.976 KB)
Dari berbagai kelebihan di dalam dunia pendidikan yang diraih oleh Propinsi Jawa Tengah ternyata masih ada pula kekura-ngannya, bahkan kekurangan ini sangat serius, yaitu menyangkut terbatasnya daya tampung SMTP. Sampai saat ini daya tampung SMTP di Jawa Tengah masih berkisar pada angka 50%, bahkan ada yang mempredik lebih kecil lagi; artinya dari setiap 100 lulusan SD maka yang beruntung dapat ditampung di SMTP hanya 50 anak saja, atau bahkan kurang dari angka itu. Lalu yang lain pada kemana? Entahlah ....., untuk tidak menjawab dengan kata-kata yang kurang enak dide-ngar: menganggur! Seorang lulusan SD yang tidak dapat melanjutkan studinya di SMTP tentu dapat kita "hitung" nasibnya; mau melanjutkan studi tidak bisa, mau bekerja belum memiliki keterampilan atau skilled yang cukup. Daya tampung SMTP yang masih berkisar pada angka 50% tersebut tentunya relatif sangat kecil kalau dibandingkan dengan angka serupa pada daerah lain atau dengan angka serupa untuk tingkat nasional. Sebagai ilustrasi daya tampung SMTP di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah berada di sekitar angka 85%, sedangkan untuk tingkat nasional sudah berada di sekitar angka 65%.