Claim Missing Document
Check
Articles

KEBIJAKAN BARU DIY Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.909 KB)

Abstract

       Pelaksanaan Ebtanas pada Sekolah Dasar (SD) baru saja selesai, dan hasilnya diumumkan secara serentak pa-da tanggal 20 Mei 1992, meski konon ada beberapa SD yang mendahuluinya. Bagi para siswa dan orang tuanya, serta siapapun yang mempunyai kepedulian pada pendidikan dasar sejak semula berharap supaya hasil Ebtanas bisa optimal; karena dengan demikian kelulusan siswa pun bukan sekedar menjadi lebih lancar, akan tetapi juga lebih "bersih".          Apakah dengan selesainya Ebtanas  maka akan bera-khir kesibukan akademik di SD? Sudah barang tentu tidak! Saat ini para guru justru sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyongsong kesibukan baru yang beberapa hari lagi akan segera tiba, yaitu kesibukan penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 1992/1993.  Bukan itu saja, sebagaian kepala SD bahkan ada yang mulai "pusing" memikirkan mo-ment penerimaan siswa barunya; yaitu memikirkan penyakit "kekeringan" siswa yang mungkin saja melanda sekolahnya. Belajar dari pengalaman tahun lalu banyak ditemukan SD yang "kering",  dalam artian tidak memperoleh siswa baru dalam jumlah yang proporsional dan memadai.          Marilah bernostalgia sejenak;  tahun lalu relatif banyak SD di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tidak mampu menggaet siswa baru dalam jumlah yang "lazim". Le-bih daripada itu  ada beberapa SD yang hanya mendapatkan belasan atau bahkan kurang dari 10 siswa baru;  pada hal guru, sarana pendidikan dan fasilitas belajarnya disiap-kan untuk puluhan siswa.
ERA INDUSTRIALISASI PENDIDIKAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.645 KB)

Abstract

       Perjalanan pasca merdeka bangsa Indonesia  yang sudah setengah abad lamanya mengalami romantika kultural yang berkorelasi secara simetris-resiprokal terhadap dinamika pendidikan nasional. Perjalanan kultural pasca kemerdekaan bangsa kita yang penuh dengan romantika benar-benar telah berjalan seiring serta saling sapa dengan perjalanan pendidikan nasional yang penuh dinamika.           Pelaksanaan  pendidikan nasional Indonesia  pasca  kemerdekaan telah mampu meningkatkan etos didik masyarakat.  Secara kuantitatif angka-angka pendidikan kita senantiasa telah meningkat dari tahun ke tahun; antara lain angka partisipasi pendidikan SD, SLTP, SM dan PT yang masing-masing angkanya kurang dari 10% di awal kemerdekaan maka sekarang ini telah berhasil ditingkatkan menjadi 94% (SD/MI), 53% (SLTP), 42% (SM), dan 10% (PT).  Secara kualitatif meskipun  masih jauh dari optimal ternyata pendidikan nasional telah menghasilkan putra-putra bangsa yang bertakwa serta mampu menguasai ilmu dan teknologi secara memadai.          Pelaksanaan pendidikan nasional kita yang dinamis terbukti  telah mampu menghantarkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mengu-asai teknologi; hal ini bisa dibuktikan dengan telah dibuatnya berbagai produk teknologi madya dan teknologi tinggi. Telah diluncurkannya kapal Palindo 500-1 serta pesawat N-250 buatan putra-putra bangsa oleh Presiden RI Soeharto secara tak langsung menandai keberhasilan  pelaksanaan pendidikan nasional yang telah menghantarkan bangsa ini sebagai bangsa yang menguasai teknologi;  meski belum secara optimal dan merata.
PERJUANGAN ANGGARAN PENDIDIKAN YANG SANGAT MELELAHKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.701 KB)

Abstract

Bermula dari seorang Abdul Latif Hasyim. Guru teladan yang banyak prestasinya itu mempertanyakan kebijakan mengenai rendahnya anggaran pendidikan di Kabupaten Kampar Riau kepada Bupati Jefrie Noer dalam sebuah pertemuan. Konon, mendapat pertanyaan yang tidak “nyaman” itu maka sang guru pun diusir ke luar ruangan. Ketegangan pun terjadi di ruang pertemuan karena sang guru menyatakan tidak mau ke luar.          Ketegangan tersebut berlanjut menjadi aksi demonstrasi oleh ribuan guru dan siswa di Kabupaten Kampar dengan tuntutan bupati mau lengser keprabon. Demonstrasi itu dilakukan beberapa hari sampai kegiatan belajar mengajar di sekolah macet (lecture jam). Kepada saya, Ketua PGRI Pusat Muhammad Surya menyatakan bahwa demonstrasi itu disebabkan adanya ketersinggungan kolektif para guru.          Tulisan ini tidak bermaksud membuat opini tentang kesewenangan  seorang bupati atau kepahlawanan seorang guru; apalagi membuat “peng-adilan” terhadap peristiwa tersebut. Tetapi tulisan ini ingin mengingatkan masyarakat bahwa perjuangan anggaran pendidikan belum selesai. 
TARGET AKREDITASI DALAM FASE AKADEMIK PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.732 KB)

Abstract

       Perguruan Tinggi Swasta, PTS, di negara kita yang tercinta ini mempunyai banyak arti.  Eksistensi dari kehadiran PTS bukan sekedar berfungsi sebagai penambah daya tampung pelayanan pendidikan tinggi,tetapi juga telah menunjukkan tingginya partisipasi dan peran swasta dalam memecahkan maslah-masalah pendidikan di negara kita.       Tingginya partisipasi dan peran tersebut tentunya tidak akan termanifestasikan tanpa adanya semangat yang melandasinya.       Dalam kaitannya dengan pemeliharaan semangat tersebut, serta untuk meningkatkan partisipasi dan kualitas peran swasta maka Depdikbud telah  menetapkan  fase-fase  pembinaan dan pe-ngembangan PTS; dimulai dari fase pembinaan fisik, diteruskan pada fase pembinaan akademik, dan akhirnya menuju pada fase tinggla landas.       Di dalam fase yang pertama, fisik, pola pembinaan pemerintah terhadap PTS dipusatkan pada pembinaan fisik PTS; misalnya bagaimana meningkatkan sarana pergedungan, sarana mobilitas, fasilitas perpustakaan, dan sebagainya. Pada fase yang kedua,  akademik, maka pola pembinaan ini "mestinya" dipusatkan pada pembinaan akademik, misalnya proses belajar mengajar di kelas, sistem pengajaran, kualitas dosen dan staf,  produktivitas lulusan, kualitas lulusan dan sebagainya.
DIPERLUKAN G-20 PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.952 KB)

Abstract

       Pertemuan G-20 baru saja berlangsung di Washington D.C. Amerika Serikat (AS). Pertemuan yang berlangsung tanggal 15-16 November 2008 tersebut dihadiri beberapa kepala negara sekaligus, termasuk Presiden SBY dari Indonesia. Selaku tuan rumah, Presiden AS Bush tentu saja menghadiri pertemuan yang sangat penting tersebut.          Dalam pertemuan yang berlangsung secara rutin tiap tahun tersebut biasanya masing-masing kepala pemerintahan didampingi birokrat, pakar, dan bahkan praktisi ekonomi di negaranya seperti menteri ekonomi, guber-nur bank sentral, analis ekonomi, dsb. Presiden SBY pun mengajak Menteri Keuangan Mulyani Indrawati; demikian juga Presiden Bush menyertakan menteri keuangannya.          Sebelum, sesudah atau di sela-sela pertemuan berlangsung biasanya dilakukan pertemuan bilateral antarnegara yang berkepentingan untuk membahas kasus ekonomi yang tengah terjadi. Misalnya saja, pertemuan menteri keuangan Indonesia dengan Cina untuk membahas peredaran ilegal obat-obatan, batik, dsb, yang secara langsung berdampak pada keuangan di kedua negara. Pertemuan bilateral ini tidak melibatkan negara lain yang tidak berkepentingan.
1984, TAHUN BERSEJARAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.292 KB)

Abstract

       Sebenarnya pendidikan telah lahir pada waktu Adam sebagai manusia pertama ada. Namun demikian setengah orang lebih senang menulis sejarah pendidikan dan dimulai dari saat kaum sufi keluar kampung masuk kampung melintas kota menjajah gunung untuk menawarkan jasanya yang berupa pengetahuan dan ilmu.       Dengan tingkah laku yang penuh publisitas (memakai jubah ungu, membuat mimbar, dsb.) mereka berhasil memengumpulkan beberapa orang.  Mulailah mereka mengadakan khotbah ataupun debat umum yang intinya menawarkan pengetahuan serta ilmu yang telah mereka kuasai. Sebenarnya mereka juga mulai mengerti serta menghormati techne (teknologi) didalam publikasinya.       Peristiwa sejarah itu sampai sekarang masih tetap menarik dan banyak ditulis dalam buku-buku maupun artikel-artikel pendidikan dewasa ini.       Dalam tahun 1984 rupanya Indonesia juga telah berhasil meletakkan beberapa peristiwa penting dalam dunia pendidikannya. Beberapa peristiwa yang saya yakin akan mampu mengukir citra indah bagi lembaran sejarah pendidikan kita.
“IMING-IMING” PENGHASILAN GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.977 KB)

Abstract

       Dimanakah letak kesamaan dan letak perbedaan antara guru Indonesia dengan guru negara-negara manca? Kesamaannya banyak; salah satu yang menonjol ialah mereka sama-sama pejuang pendidikan, orang yang meng-abdikan diri mendidik anak untuk menatap masa depannya. Perbedaannya pun banyak pula; salah satu yang menonjol terletak pada penghasilannya. Penghasilan guru Indonesia lebih rendah daripada guru negara manca pada umumnya.        Dibandingkan guru Malaysia misalnya. Guru yang tingkatnya paling tinggi, dalam hal ini guru besar, ternyata penghasilannya sangat berbeda. Penghasilan guru besar Indonesia berkisar pada bilangan 2,5 juta rupiah; sedangkan penghasilan guru besar (senior) Malaysia kalau dirupiahkan ber-kisar pada bilangan 15 juta rupiah. Jadi penghasilan guru besar Indonesia seperenam guru besar Malaysia.        Guru Malaysia pada umumnya memiliki rumah dari penghasilan kegu-ruannya; sebagian bahkan memiliki mobil sekualitas Proton Saga juga atas keguruannya. Guru Indonesia? Sangat sedikit, untuk tidak menyatakan tidak ada, yang memiliki mobil “layak” atas penghasilan keguruannya.
CAKRAWALA PENDIDIKAN 1986 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.817 KB)

Abstract

       Sebagaimana yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya maka perjalanan pendidikan di negara kita tahun 1986 diwarnai dengan berbagai kebijakan, baik kebijakan yang diterima dengan mulus oleh para yang berkepentingan maupun yang sempat mengundang polemik.       Pada awal tahun 1986 sebuah "coreng moreng" dalam dunia pendidikan masih terasa membekas, bahkan masih sempat mengundang respon yang cukup banyak; ialah terbongkarnya kasus skripsi jiplakan. Beberapa mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal di Jawa ini diduga telah melakukan tindakan yang tidak terpuji, ialah melakukan "penipuan ilmiah" berupa menjiplak karya ilmiah orang lain untuk diatasnamakan dirinya sendiri.       Peristiwa ini mampu "membangunkan" kaum akademisi untuk lebih selektif dalam membimbing penulisan ilmiah para mahasiswa-nya. Tetapi bagi masyarakat peristiwa ini mampu menimbulkan kecurigaan baru, bahwa penjiplakan karya ilmiah milik orang lain ini juga terjadi pada perguruan tinggi lainnya, baik negeri maupun swasta.       Meski akhirnya kasus tersebut sempat dibantah oleh "top-birokrat" lembaga yang bersangkutan, sebagian  masyarakat sudah terlanjur meyakini bahwa peristiwa penjiplakan skripsi dan karya ilmiah lainnya adalah benar-benar telah terjadi. "Pembelaan" yang dilakukan oleh pemimpin lembaga dianggap sebagai kebiasaan untuk sekedar menjaga nama baik lembaga.
MENGKLARIFIKASI WEWENANG BP3 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.956 KB)

Abstract

       Membayar sekolah makin lama makin mahal!  Demikian keluhan dari sementara orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya dikarenakan alasan beaya.  Ternyata keluhan ini juga dirasakan oleh orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya; bukan saja orang tua yang anaknya belajar di sekolah swasta akan tetapi juga oleh sebagian orang tua yang anaknya belajar di sekolah negeri.       Baru-baru ini banyak orang tua di Jakarta mengeluh karena untuk menyekolahkan anaknya di SMU Negeri harus membayar iuran jutaan rupiah;jumlah ini ada yang resmi karena dipungut langsung oleh pihak sekolah tetapi ada yang tidak resmi karena dipungut oleh broker yang memanfaatkan peluang. Mulanya beberapa kepala SMU Negeri meng-ambil inisiatif dengan menarik iuran pendidikan dari orang tua secara nonkonvensional. Maksudnya baik; dengan iuran yang tinggi pelayan-an akan ditingkatkan sehingga kualitas lulusan dapat dipacu. Ternyata masyarakat belum menerima inisiatif ini.  Di sisi lain ada pula oknum tertentu yang menarik dana tinggi dari orang tua untuk memasukkan anaknya di sekolah tertentu. Ini sudah "budaya" kata orang.       Soal besarnya iuran  yang dirasa memberatkan orang tua tersebut oleh masyarakat dinilai sebagai hal yang tidak wajar; dengan demikian menjadi wajar bila para petinggi departemen pendidikan,  dari Kepala Kanwil Depdikbud, Dirjen Dikdasmen Depdikbud, sampai Mendikbud sendiri harus turun tangan. Pak Achmadi selaku direktur jenderal Dik-dasmen merasa perlu memberi penjelasan kepada masyarakat melalui media cetak,  sementara itu Pak Wardiman selaku menteri pendidikan dengan suka rela memberikan penjelasan melalui media televisi.       Apakah dengan penjelasan tersebut lalu menjadi tuntas? Mungkin ya, akan tetapi ada keluhan lain dari sementara orang tua siswa yang sampai kini belum tuntas.  Keluhan itu berkisar pada besarnya tarikan sumbangan BP3 pada banyak sekolah di Indonesia ini.
MERESPONS BALAS BUDI OBAMA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.319 KB)

Abstract

Adalah Anne D. Grimes. Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia ini baru saja memberikan kuliah umum di UGM Yogyakarta dengan topik, “Forming the Next Administration of the United State of America”.          Banyak hal menarik untuk dicermati dalam presentasinya, khususnya menyangkut kebijakan pendidikan AS setelah dilantiknya Barack Hussein Obama sebagai presiden ke-44. Sebagaimana dinyatakan oleh Grimes, ke depan bidang pendidikan akan menjadi salah satu faktor utama dalam pro-gram diplomasi pemerintah AS.          Bagaimana dengan Indonesia? Beberapa program beasiswa pemerintah AS akan dipertahankan; begitu pula dengan student exchange programme, teacher exchange programme, Indonesian English Language Study Pro-gramme, dsb. Dan yang sangat menarik ketika dinyatakan adanya kebijakan untuk meningkatkan jumlah pemuda Indonesia yang belajar di AS. Kalau sekarang ada 7.000-an pelajar dan mahasiswa Indonesia di AS maka angka ini dalam lima tahun ke depan akan ditingkatkan menjadi 14.000.          Kiranya kebijakan ini merupakan balas budi Presiden Obama. Bukan-kah ketika kecilnya Obama pernah mengenyam pendidikan di Indonesia, atau tepatnya di SDN 01 Menteng Jakarta? Kini tiba saatnya ia membalas budi kepada “kebaikan” Indonesia.