Articles
SEX SHOP, CONDOM HOUSE DAN DISKOTEK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (123.128 KB)
      Sekitar tujuh belas tahun yang lalu atau tepatnya pada awal tahun 1979 saya berjalan-jalan di pusat kota Amsterdam, Belanda. Keramai-an kota Amsterdam, meski tak berkesan "crowded", tidaklah menarik bagi saya karena hal semacam ini dapat ditemukan di Jakarta atau kota besar di Indonesia lainnya. Yang justru menarik bagi saya adalah ada-nya suatu toko yang (waktu itu) membuat asing bagi saya; yaitu toko yang menjual segala peralatan untuk memuaskan hasrat seksual sese-orang, dari peralatan kontrasepsi, alat kelamin sintetis, buku-buku dan majalah porno, kaset dan film biru sampai boneka hidup.      Toko yang menjual peralatan seksual, disebut Sex Shop, seperti itu ternyata tidak hanya satu di Amsterdam akan tetapi ada beberapa jumlahnya. Bahkan belakangan saya ketahui bahwa di kota-kota lain pun, seperti Den-Haag dan Rotterdam, juga ada yang membukanya. Bahkan beberapa di antaranya di samping menjual peralatan seksual juga memutar "film biru" dari yang masa putarnya dua menit, lima menit, sepuluh menit sampai satu jam.      Pengunjung di Sex Shop tersebut ternyata biasa-biasa saja; tidak ada perasaan malu atau "risih". Mereka datang ke Sex Shop sebagai-mana datang ke toko swalayan di tengah kota atau ke toko kelontong di pinggir kampung. Ada yang muda, ada yang tua bahkan yang sudah gaek pun jangan dikira tidak berpartisipasi.      Belakangan lagi saya ketahui bahwa keberadaan Sex Shop juga ada di hampir semua kota-kota besar di berbagai negara yang pernah saya kunjungi;bukan saja di negara Barat akan tetapi di Timur pun ada juga bisnis seperti itu. Kalau kita pergi ke Hongkong atau ke Tokyo misalnya, jangan heran kalau kita akan mendapatkan fasilitas seperti itu. Bahkan di kota-kota nonmetropolitan di Jepang seperti Shinjuku, Akihabara, dsb, kita bisa berpartisipasi dalam bisnis yang oleh sementara orang dinyatakan sangat prospektif itu.
REALITAS PENDIDIKAN NASIONAL
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (82.052 KB)
Belum lama ini penulis ângobrolâ berdua bersama menteri pendidikan Muhammad Nuh sambil mengamati beberapa beberapa foto karya pelajar, mahasiswa, wartawan dan masyarakat umum yang bertemakan pendidikan bertempat di Plaza Insan Berprestasi Departemen Pendidikan. Kiranya perlu dicatat bahwa foto-foto yang kami amati adalah pemenang lomba foto yang diselenggarakan oleh Depdiknas. Â Â Â Â Â Â Â Ketika sampai pada satu foto anak tuna netra yang sedang bersekolah, Pak Nuh terasa sangat âmenikmatiâ. Beliau meminta saya memandang foto itu dengan mata hati maka akan terpancarlah aura dari anak tuna netra yang ada dalam foto tersebut. Â Â Â Â Â Â Â Satu jam kemudian ketika Mendiknas membuka secara resmi Pameran Lomba Foto Pendidikan, Pak Nuh kembali mengomentari aura yang terpan-car dari anak tuna netra yang terpancar dalam foto tersebut dan meminta para hadirin untuk memandangnya dengan mata hati. Dari sana akan ter-pancar kekuatan sang anak tuna netra dengan segala kekurangannya untuk meraih pendidikan yang lebih baik.
MEMILIH PERGURUAN TINGGI SWASTA PERLU PERHATIKAN SARANA, SISTEM, STATUS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (146.67 KB)
Para calon mahasiswa hendaknya bisa mengadaptasi dan mengukur kondisi, keinginan dan kemampuan individualnya terhadap pilihan programnya yang diselenggarakan oleh PTS. Kesalahan dalam menjatuhkan pilihan akan menimbulkan hambatan psikologis yang sangat mengganggu di dalam kelancaran proses belajar mengajarnya.Sebelum memasuki dunia perguruan tinggi mulai sekarang sudah berfikir apakah nantinya akan memilih suatu program didalam jenjang pendidikan kelompok profesi kependidikan atau memilih program di di dalam jenjang pendidik kelompok profesi nonkependidikan. Apakah ingin memperoleh bekal keahlian profesi ataukah ingin mendapatkan keahlian akademis. Pemilihan program ini erat hubungannya dengan penyesuaian disiplin ilmu yang didapat pada waktu di SMTA dengan disiplin ilmu yang ada pada PTS. Bagi lulusan SMTA kelompok sosial untuk saat ini jangan bermimpi dulu untuk dapat masuk pada fakultas eksakta atau fakultas-fakultas nonsosial lainnya.Sebagai contoh lulusan SMEA jurusan Tata Usaha walaupun bisa melanjutkan ke perguruan tinggi tentu tidak tepat kalau memilih Jurusan Mesin pada FKT ataupun memilih Jurusan Kimia pada FIPA.
MENGELOLA SDM DALAM OTONOMI DAERAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.764 KB)
      Debat opini mengenai otonomi daerah yang disajikan oleh KR secara berturut-turut dari tanggal 16 s/d 20 November 1999 dengan menampilkan beberapa nara sumber, masing-masing Dr. Pratikno, Nahiyah Jaidi Faraz, Edy Suandi Hamid, Mashuri Maschab, dan Dr. PJ Suwarno cukup memberi pengetahuan; khususnya bagi pembaca yang masih awam mengenai perspektif sosial politik dalam kehidupan bernegara di masa depan melalui sistem otonomi daerah.      Dalam debat opini tersebut terlihat bahwa para nara sumber sudah berusaha maksimal untuk menyajikan analisis perspektifnya, dan itu harus kita hargai meskipun terkesan pembahasannya sangat teoretis dan tekstual. Satu pun di antara para nara sumber tidak mencoba mendekatinya secara empiris, misalnya dengan menyajikan hasil uji coba otonomi yang sudah dilakukan oleh Departemen Dalam Negeri terhadap 26 daerah tingkat dua di Indonesia; salah satunya di Kabupaten Sleman, DIY. Di samping itu tidak ada satu pun nara sumber yang mencoba membahasnya secara kontekstual; misalnya mencoba menghubungkan sistem otonomi dan desentralisasi dengan realitas mutu anggota DPR propinsi maupun kabupaten/kota madya, kesiapan masyarakat di tingkat bawah, dan sebagainya.      Pada sisi yang lain, beberapa nara sumber telah membahas UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah secara ter-integrasi dengan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah. Memang demiki-anlah seharusnya. UU Nomor 22 itu tidak ada artinya apabila dalam aktualisasinya tidak dibarengi dengan UU Nomor 25. Sayang, tidak seorang pun nara sumber yang membahas UU Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas UU Nomor 8 Tahun 1994 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Dalam pembahasan otonomi daerah UU Nomor 43 perlu diaktualisasi karena berkait dengan SDM di daerah.
MENGATASI PERMASALAHAN GURU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.646 KB)
Beberapa waktu yang lalu di Jawa Tengah dilakukan penelitian tentang perikehidupan para guru; dan hasilnya menyatakan bahwa banyak guru SD di Jawa Tengah yang terkena stress. Lepas dari sejauh mana validitasnya, yang jelas temuan tersebut memang cukup menarik. Lalu, apakah korelasi temuan penelitian tersebut dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)?
Sebagai organisasi profesi yang menghimpun para guru di Indonesia maka terhadap masalah-masalah keprofe-sian yang menyangkut guru memang harus menjadi perhatian PGRI; bahkan sebagai organisasi profesi sebaiknya PGRI juga memperhatikan masalah-masalah nonkeprofesian yang secara langsung dan tidak langsung akan berkaitan dengan profesi guru. Tegasnya: bila para guru tengah menghadapi stress maka sudah sepantasnya PGRI segera membantu untuk memecahkan masalah tersebut agar supaya kadar keprofesi-an anggotanya tidak terganggu. Apalagi kalau stress yang dihadapi oleh para guru tersebut justru disebabkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan profesinya.
Benarkah banyak guru yang kini mengalami stress? Rasanya memang ya! Kenapa? Karena banyak guru yang masih bingung, kurang paham, serta kurang siap mengantisipasi peraturan "baru" berkaitan dengan kenaikan jabatannya!Banyaknya keluhan guru yang diekspresikan dalam berbagai forum dialog, melalui surat kabar, atau ketika "omong-omong" di waktu luang merupakan indikator mengenai kebi-ngungan, kekurang-pahaman, serta kekurang-siapan itu.
HONG KONG DARI DIMENSI PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.551 KB)
      Adalah Man Kwan Tam. Nama ini sangatlah populer di kalangan masyarakat Hong Kong, utamanya masyarakat pendidikannya; siswa, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dsb, sampai ke birokrasi pendidikan pemerintah setempat. Doktor lulusan salah satu universitas di Inggris ini merintis pendidikannya di Hong Kong sendiri sebelum akhirnya "hijrah" ke Inggris. Doktor Tam, demikian kalau saya beserta teman-teman memanggilnya, ialah seorang praktisi pendidikan yang penting di tengah-tengah masyarakat Hong Kong dewasa ini.      Di samping menjadi Pimpinan The Hong Kong Private Schools Association (HKPSA), Doktor Tam juga memangku seabreg jabatan pendidikan di Hong Kong. Jangan lupa bahwa bersama saya, dia juga memangku jabatan sebagai Direktur Pan-Pacific Assosiation of Pri-vate Education (PAPE) yang bermarkas di Tokyo, Jepang. Saya dari Indonesia dan beliau dari Hong Kong. Di samping menjadi salah satu tokoh pendidikan di Hong Kong, beliau juga menjadi tokoh masyarakat Hong Kong dewasa ini.      Barangkali Doktor Tam dapat dijadikan simbol pendidikan Hong Kong. Memang cukup banyak orang yang "bernasib" seperti Doktor Tam, mulanya merintis pendidikan di Hong Kong kemudian mengambil studi lanjut di Inggris untuk kemudian membangun pendidikan di Hong Kong dengan "style" Inggris.      Sampai kini gaya pendidikan Hong Kong memang lebih banyak mengacu ke Inggris; kurikulum, proses belajar mengajar, pendekatan metodologi, sampai kepada hal-hal yang teknis pun banyak "diambil" dari Inggris. Dan ternyata, dampak edukasinya pun demikian kuat dan mampu mengakar di masyarakat Inggris. Kalau kini banyak anak-anak muda Hong Kong beretnis Cina yang sok Inggris atau kebarat-baratan bukan lain karena dampak pendidikannya itu.
MEMBANGUN BANGSA INDONESIA YANG BERKARAKTER
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (113.944 KB)
       Rasanya sudah sangat sering kita dengarkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pendidikan nasional. Kata-kata ekstrem pun sering terluapkan; konon pendidikan nasional Indonesia telah gagal menjalankan misinya untuk membentuk manusia-manusia yang cakap dan berkepribadian serta membangun bangsa yang berkarak-ter. Konon pendidikan hanya bisa menghasilkan koruptor, kolutor, provokator, dan manusia-manusia tak berbudi lainnya.        Ekstremitas tersebut tentu tidak sepenuhnya benar meskipun ada bagian yang tidak salah. Adalah benar bahwa sebagian koruptor, kolutor, provokator serta manusia-manusia yang tidak berbudi lainnya adalah orang-orang yang berpendidikan, bahkan sebagian diantaranya berpendidikan tinggi; meskipun demikian hal itu tidak berarti bahwa seluruh hasil pendidikan kita, khususnya pendidikan tinggi, adalah buruk.        Di samping predikat negatif tersebut senyatanya pendidikan nasional kita pun telah banyak menghasilkan para kreator, inovator, dinamisator, serta manusia-manusia cakap dan berbudi pekerti luhur lainnya. Di negara kita ini masih banyak orang yang cakap, pintar, jujur dan berlaku sebagai manusia dalam arti yang sebenar-nya. Dan sebagian dari yang banyak ini merupakan hasil daripada pendidikan kita.        Tetapi lepas daripada itu semua, kiranya tidaklah salah atas adanya anggapan bahwasanya misi pendidikan nasional kita belum sepenuhnya berhasil membangun bangsa yang berkarakter. Bahkan lebih daripada itu pendidikan nasional kita cenderung gagal memba-ngun bangsa Indonesia yang berkarakter.
BENARKAH PENDIDIKAN KELUARGA TERABAIKAN ?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.32 KB)
      Pemerintah dan masyarakat boleh saja membangun gedung-gedung sekolah yang megah, boleh saja mengisinya dengan per-alatan yang serba sophisticated, boleh saja mempekerjakan guru-guru yang profesional, dan juga boleh saja membuat sistem pendidikan yang serba canggih; akan tetapi tidak boleh dilupakan bahwa pusat pendidikan yang paling utama bagi sang anak adalah keluarga.       Oleh karena begitu pentingnya pendidikan keluarga bagi sang anak maka seharusnya pendidikan keluarga dapat dilaksanakan seefektif mungkin.       Konsep pendidikan keluarga yang "disodorkan" oleh tokoh pendidikan nasional kita Ki Hadjar Dewantara, yang seandainya beliau masih "sugeng" maka tanggal 2 Mei 1989 ini usianya genap satu abad, telah diakui oleh para pakar pendidikan kita; bahkan oleh para pakar pendidikan dari berbagai manca negara.      Interaksi antar personal di dalam sebuah keluarga memang bersifat spesifik: bersifat emosional (dalam konotasi positif), akrab, tidak formal, tidak birokratis, namun penuh harapan. Situasi yang demikian telah memikat sekaligus mengikat sang anak untuk mengembangkan potensi dan kepribadiannya.
MEMBENAHI PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.009 KB)
      Pada akhir tahun 1998 lalu Haneen Sayed, John Newman dan Peter Morrison dibantu oleh puluhan pakar atas nama Bank Dunia membuat laporan pendidikan tentang Indonesia dengan judul Edu-cation in Indonesia : From Crisis to Recovery. Dari laporan yang terdiri dari tujuh bab tersebut dan saya sempat diminta memberikan komentar sebelum diluncurkan secara resmi hampir tak ada kalimat yang menunjukkan keberhasilan pendidikan di Indonesia. Inti dari laporan itu menyatakan bahwa pelaksanaan dan hasil pendidikan di Indonesia belum atau tidak memuaskan: unsatisfactory.      Krisis ekonomi yang melanda Indonesia semenjak pertengahan tahun 1997 benar-benar berdampak buruk terhadap pendidikan kita yang secara kuantitatif dapat dilihat dari semakin tingginya angka putus sekolah, menurunnya tingkat partisipasi pendidikan, semakin banyaknya mahasiswa yang mengambil cuti kuliah, dan sebagainya.      Beberapa bulan kemudian muncul dua publikasi yang banyak diacu oleh para pakar pendidikan dan pemimpin negara. Yang per-tama, UNDP menerbitkan satu laporan berjudul Human Development Report 1999; dan yang kedua WEF menerbitkan laporan yang bertitel Global Competitiveness Report 1999.       Kedua laporan tersebut memang tidak secara eksplisit menulis mengenai kegagalan pendidikan di Indonesia; akan tetapi secara tidak langsung memang menyatakan hal yang demikian. Dari laporan UNDP diketahui bahwa Indonesia hanya ada di urutan ke-105 dari 174 negara dalam hal pembangunan manusianya; dan kita berada di bawah Singapura (22), Brunei (25), Malaysia (56), dsb. Sementara itu dari laporan WEF diketahui bahwa Indonesia hanya berada pada ranking ke-37 dari 59 negara dalam hal daya saing; dan kita ada di bawah Singapura (1), Malaysia (16), Thailand (30), dsb.
UNTUK PARA "PELIRIK" PTS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.598 KB)
      Prosesi seleksitas kandidat mahasiswa baru pada perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia periode tahun 1990 kali ini boleh dikatakan sebagai "setengah selesai"; dari persiapan sampai ujian tertulisnya sudah dilaksanakan, tinggal pengumuman hasilnya saja yang masih harus menunggu waktu.      Kiranya tidak ada yang istimewa dalam pelaksanaan ujian tulis seleksi tahun ini kalau dibandingkan dengan pelaksanaan ujian tahun-tahun sebelumnya; kecuali pada bentuk "kemasan"-nya yang sedikit mengalami perubahan, kalau dulu sistem seleksi dikemas dalam bentuk SIPENMARU maka dalam dua tahun terakhir ini dikemas dalam bentuk UMPTN, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.      Suasana kompetisi untuk memperebutkan kursi belajar pada ujian tulis periode ini masih saja sangat tajam sebagaimana yang terjadi pada periode yang sebelumnya. Setiap kursi belajar pada PTN rata-rata diperebutkan oleh enam atau tujuh kandidat.      Sebagai ilustrasi: ujian tulis tahun 1986, 1987, dan 1988 secara berturut-turut diikuti sebanyak 586.431, 451.627 dan 423.455 kandidat; masing-masing untuk memperebutkan sekitar 70.000 sampai 90.000 kursi belajar pada PTN. Sementara itu ujian tulis UMPTN tahun 1989 dan 1990 kali ini pun diikuti oleh jumlah kandidat yang hampir sama besarnya dengan jumlah perebutan kursi belajar yang hampir sama besarnya pula. Daya tampung UMPTN 1990 kali ini memang sedikit lebih besar, akan tetapi angka kenaikannya masih sangat terbatas.