Chrisna Adhi Suryono
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, 50275, Indonesia

Published : 101 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Blue carbon dynamics and mangrove extent: a case study from the IndonesiaTimor Leste Coastal ecosystem Sitanggang, Wanri; Wijayanti, Diah Permata; Pribadi, Rudhi; Suryono, Chrisna Adhi; Pitaloka, Maria Dyah Ayu; Naitkakin, Egidius; Soares, Daniel Candido Da Costa; Pramudya, Herning; Kiuk, Yosni
Depik 2025: Special Issue ICMF
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.0.0.46912

Abstract

Around 20% of mangrove forests in Indonesia are in a degraded condition, which has a negative impact on the potential for blue carbon storage. When mangroves are damaged or degraded, carbon stored in the soil and vegetation can be released back into the atmosphere as CO2, ultimately increasing greenhouse gas emissions and exacerbating climate change. Mangrove forests can store up to four times more carbon per hectare, around 8001,200 tons per hectare, than terrestrial tropical forests. This research was conducted in the Wini mangrove forest area, North Central Timor, East Nusa Tenggara (NTT) which directly borders Timor Leste. The determination of the location of the observation station was based on a map of changes in mangrove forest land use obtained from the Geospatial Information Agency. The parameters measured included organic carbon, mangrove area and sediment type. Organic carbon was analyzed using the Loss on Ignition (LOI) method, and sediment grain size was measured using a particle size analyzer. The results of the study showed that the average organic carbon stock in mangrove forests reached 570,600843,600 tons per hectare, with an average change in the area of mangrove forests from 2013 to 2023 of 181.29 hectares and the type of sediment dominated by sandy mud. This change in area is caused by the conversion of mangrove land into ponds, rice fields, and settlements.Keywords:MangroveCarbonSedimentborder Area
Blue carbon dynamics and mangrove extent: a case study from the IndonesiaTimor Leste Coastal ecosystem Sitanggang, Wanri; Wijayanti, Diah Permata; Pribadi, Rudhi; Suryono, Chrisna Adhi; Pitaloka, Maria Dyah Ayu; Naitkakin, Egidius; Soares, Daniel Candido Da Costa; Pramudya, Herning; Kiuk, Yosni
Depik 2025: Special Issue ICMF
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.0.0.46912

Abstract

Around 20% of mangrove forests in Indonesia are in a degraded condition, which has a negative impact on the potential for blue carbon storage. When mangroves are damaged or degraded, carbon stored in the soil and vegetation can be released back into the atmosphere as CO2, ultimately increasing greenhouse gas emissions and exacerbating climate change. Mangrove forests can store up to four times more carbon per hectare, around 8001,200 tons per hectare, than terrestrial tropical forests. This research was conducted in the Wini mangrove forest area, North Central Timor, East Nusa Tenggara (NTT) which directly borders Timor Leste. The determination of the location of the observation station was based on a map of changes in mangrove forest land use obtained from the Geospatial Information Agency. The parameters measured included organic carbon, mangrove area and sediment type. Organic carbon was analyzed using the Loss on Ignition (LOI) method, and sediment grain size was measured using a particle size analyzer. The results of the study showed that the average organic carbon stock in mangrove forests reached 570,600843,600 tons per hectare, with an average change in the area of mangrove forests from 2013 to 2023 of 181.29 hectares and the type of sediment dominated by sandy mud. This change in area is caused by the conversion of mangrove land into ponds, rice fields, and settlements.Keywords:MangroveCarbonSedimentborder Area
Penyemaian Generatif Enhalus acoroides melalui Variasi Wadah dan Substrat: Kajian Laju Pertumbuhan, Kelulushidupan, dan Parameter Perairan Pangga, R. M. Dio Dwi; Riniatsih, Ita; Widowati, Ita; Suryono, Chrisna Adhi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.30186

Abstract

Seagrass is a higher plant that lives in shallow marine waters and plays an important role in tropical coastal ecosystems. Seagrass has the ability to reproduce in two ways, namely vegetatively and generatively. Enhalus acoroides is one of the species widely distributed in Indonesian tropical waters and can bear fruit throughout the year, but the survival rate of seedlings in nature tends to be low due to high environmental variability. Based on this, controlled generative sowing is an effective alternative in helping seedlings through the early stages of growth. This study aims to determine the effect of container and substrate variations, as well as their interaction, on the growth rate and survival rate of E. acoroides generative seedlings. The study results showed that substrate type had a significant effect on seedling growth rate (p = 0.004), whereas container type did not have a significant effect (p = 0.558). The interaction between container and substrate was also significant (p = 0.042). Seedlings grown in muddy sand exhibited a higher growth rate compared to those in sand. The survival rate across all treatment combinations was 100%, indicating that the different growing media were capable of optimally supporting the initial growth phase. These findings emphasize the importance of selecting an appropriate substrate to enhance the growth rate of seagrass seedlings.  Lamun merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang hidup di perairan laut dangkal dan berperan penting dalam ekosistem pesisir tropis. Lamun memiliki kemampuan untuk bereproduksi melalui dua cara, yaitu vegetatif dan generatif. Lamun Enhalus acoroides merupakan salah satu spesies yang tersebar luas di perairan tropis Indonesia dan dapat berbuah sepanjang tahun, namun tingkat kelulushidupan bibit di alam cenderung rendah akibat tingginya variabilitas faktor lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, penyemaian generatif secara terkontrol menjadi alternatif yang efektif dalam membantu bibit melewati fase awal pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi wadah dan substrat, serta interaksi keduanya terhadap laju pertumbuhan dan kelulushidupan semaian generatif E. acoroides. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis substrat berpengaruh signifikan terhadap laju pertumbuhan bibit (p = 0,004), namun jenis wadah tidak memberikan efek yang signifikan (p = 0,558). Interaksi wadah dengan substrat memberikan pengaruh yang berarti (p = 0,042). Substrat pasir berlumpur menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan substrat pasir. Tingkat kelulushidupan seluruh kombinasi mendapat nilai sebesar 100%, mengindikasikan bahwa variasi media tanam tetap mampu mendukung fase awal pertumbuhan secara optimal. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan substrat yang tepat diperlukan untuk meningkatkan laju pertumbuhan bibit lamun.
Komposisi Jenis Jenis Ikan dan Crustacea Hasil Tangkapan Bubu Naga di Pesisir Tambakrejo Semarang Mita Eka Septiani; Chrisna Adhi Suryono; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.43936

Abstract

Bubu naga merupakan alat perangkap yang bersifat pasif yang pengoperasiannya memanfaatkan kondisi pasang surut perairan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jenis komposisi hasil tangkapan bubu naga yang dioperasikan di Tambakrejo, Kota Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2023 sampai dengan 12 November 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh hasil tangkapan bubu naga sebanyak 8 jenis yaitu udang galah (Macrobrachium sp), udang putih (Penaeus merguensis), kepiting tapal kuda (Tachypleus gigas), kepiting bakau (Scylla serrata), ikan beloso (Glossogobius giuris), ikan kiper (Scatophagus argus), ikan manyung (Arius thalassinus), dan ikan kedukang (Hexanematichthys sagor) menyajikan komposisi hasil tangkapan secara berurutan; 40,30%, 44,89%, 3,06%, 6,12%, 1,27%, 1,27%, 1,78%, dan 1,27%. Kesimpulan dari penelitian diketahui bahwa diperoleh 8 jenis hasil tangkapan yang terdiri dari krustasea dan ikan dengan komposisi hasil tangkapan terbanyak diperoleh di krustasea.Bubu naga merupakan perangkap pasif yang pengoperasiannya memanfaatkan kondisi pasang surut perairan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan bubu naga yang dioperasikan di perairan pesisir Tambakrejo Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2023. Hasil penelitian menunjukkan 8 jenis bubu naga yang berhasil ditangkap yaitu udang galah (Macrobrachium sp), udang putih (Penaeus merguensis), kepiting tapal kuda (Tachypleus gigas), kepiting bakau (Scylla serrata), ikan beloso (Glossogobius giuris), ikan kiper (Scatophagus argus), ikan lele (Arius thalassinus), dan ikan teritip (Hexanematichthys sagor) persentase komposisi tangkapan secara berurutan; 40,30%, 44,89%, 3,06%, 6,12%, 1,27%, 1,27%, 1,78%, dan 1,27%. Kesimpulan dari penelitian diperoleh 8 jenis hasil tangkapan yang terdiri dari krustasea dan ikan dengan komposisi hasil tangkapan terbesar yang diperoleh dari krustasea.
Bivalvia di Perairan Dusun Menco, Desa Berahan Wetan, Kecamatan Wedung, Demak Ikfanul Firdosyah; Ita Widowati; Chrisna Adhi Suryono
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.44103

Abstract

Dusun Menco yang terletak di Desa Berahan Wetan, Kecamatan Wedung, Demak mampunyai potensi budidaya bivalvia yang cukup tinggi yaitu budidaya pembesaran Anadara granosa. Berdasarkan kondisi di sekitar Perairan Dusun Menco yang terdapat pantai dan vegetasi mangrove, dimungkinkan terdapat spesies bivalvia lain yang ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bivalvia yang ditemukan dan kondisi perairan, serta nilai ekonomi dari bivalvia yang ditemukan di Perairan Dusun Menco. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif eksploratif. Pengambilan data menggunakan purposive sampling pada bulan Oktober-November 2023. Sampel diambil pada 3 lokasi, yaitu muara sungai dekat daratan, laut dekat muara, dan laut dekat pantai. Pengambilan sampel bivalvia dilakukan secara hand picking dengan batasan transek ukuran 1 m x 1 m.  Selanjutnya sampel bivalvia kemudian diidentifikasi. Kondisi perairan diukur berdasarkan parameter suhu, pH, salinitas, TDS, dan substrat. Hasil penelitian ditemukan 2 spesies bivalvia, yaitu Anadara granosa dan Saccrostrea cucullata. Harga jual Anadara granosa yaitu Rp 10.000,00-Rp 15.000,00 dan untuk Saccostrea cucullata yaitu Rp 5.000,00-Rp 7.000,00. Hasil pengukuran suhu 30,90-32,58oC; pH 7,53-7,69; salinitas 21,95-24,00 ppt; TDS 18,250-19,800 mg/L; dan substrat berpasir. Kesimpulan dari penelitian, yaitu Perairan Dusun Menco, Desa Berahan Wetan, ditemukan Anadara granosa dan Saccostrea cucullata yang memiliki harga jual tinggi dengan kondisi perairan yang sesuai untuk kelangsungan hidup bivalvia.
Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun Pada Pantai Mrican dan Pantai Babakan Kulon, Kemujan, Taman Nasional Karimunjawa Ilman Fari Muhammad; Ita Riniatsih; Chrisna Adhi Suryono
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.42597

Abstract

Lamun merupakan tumbuhan sejati atau Angiospermae yang mampu untuk hidup sepenuhnya terendam dibawah air laut. Ekosistem padang lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki produktivitas yang tinggi. Saat ini, menurunnya luasan padang lamun menjadi perhatian dalam upaya konservasi ekosistem pesisir. Kegiatan penilaian kondisi ekosistem padang lamun penting dilakukansebagai langkah awal pada upaya rehabilitasi padang lamun. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui nilai Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun atau IKEL di Pantai Mrican dan Pantai Babakan Kulon, Kemujan, Kepulauan Karimunjawa. Parameter yang menjadi dasar dari IKEL adalah keanekaragaman jenis lamun, persentase tutupan lamun, kecerahan air, persentase tutupan epifit, dan persentase tutupan makroalga. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi dengan penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling, dengan menetapkan (3) tiga stasiun pada setiap lokasi. Pengambilan data keanekaragaman jenis lamun, persentase tutupan lamun, persentase tutupan epifit, dan persentase tutupan makroalga menggunakan metode line transect dan transek kuadran berukuran 50x50 cm berdasarkan Buku Panduan Pemantauan Padang Lamun. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 3 jenis lamun yang ditemukan di kedua lokasi, yaitu Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, dan Thalassia hemprichii. Persentase tutupan lamun pada stasiun 1 Pantai Mrican adalah 31,16% yang tergolong Sedang, pada stasiun 2 adalah 30,02% yang tergolong Sedang, dan Pada stasiun 3 adalah 36,17% yang tergolong Sedang. Pada stasiun 1 Pantai Babakan Kulon,nilai persentase tutupan lamunnya adalah 23,77% yang tergolong Jarang, pada stasiun 2 adalah 27,08% yang tergolong Sedang, dan pada stasiun 3 adalah 18,84% yang tergolong Jarang. Nilai IKEL pada stasiun 1 Pantai Mrican adalah 0,46 yang berstatus Buruk, pada stasiun 2 adalah 0,49 yang berstatus Buruk, dan pada stasiun 3 adalah 0,49 yang berstatus Buruk. Nilai IKEL pada stasiun 1 Pantai Babakan Kulon adalah 0,51 yang berstatus Buruk, pada stasiun 2 adalah 0,51 yang berstatus Buruk, dan pada stasiun 3 adalah 0,51 yang berstatus Buruk. Dampak kegiatan aktivitas Masyarakat pesisir dan kondisi parameter perairan yang buruk diduga memicu kondisi nilai IKEL yang buruk.
Kerapatan Lamun di Perairan Pulau Panjang, Jepara Muhammad Muallifin Nor; Chrisna Adhi Suryono; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.35128

Abstract

Lamun adalah tumbuhan berbunga yang hidup di perairan dangkal dengan pengaruh sinar matahari. Lamun memiliki ciri morfologi yaitu daun, batang dan akar. Lamun dapat tumbuh dengan membentuk padang lamun yang terdiri dari satu atau lebih jenis lamun. Lamun tumbuh di perairan dengan substrat pasir dan berlumpur. Lamun memiliki fungsi ekologi yang banyak diantaranya adalah sebagai produktivitas primer, sumber makanan, menstabilkan sedimen, tempat asuhan dan habitat biota – biota laut. Ekosistem lamun menjadi ekosistem penting sehinga sebarannya di perairan perlu untuk dikaji. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kerapatan lamun di Pulau Panjang, menggunakan metode line transek sehingga dapat diketahui komposisi lamun, dan kerapatan lamun. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa di Pulau Panjang telah ditemukan empat jenis lamun dengan komposisi lamun yang paling banyak dijumpai adalah Thalassia hemprichii dan paling jarang dijumpai adalah Enhallus acoroides. Kerapatan jenis lamun tertinggi berada di stasiun 2 yaitu 283 tegakan/m2.  Seagrass is a flowering plant that lives in shallow waters under the influence of sunlight. Seagrass has morphological characteristics, namely leaves, stems and roots,.Seagrass can grow by forming seagrass beds consisting of one or more types of seagrass. Seagrass grows in waters with sandy and muddy substrates. Seagrasses have many ecological functions, including primary productivity, food sources, stabilizing waters, nursery and habitat for marine biota. Seagrass ecosystems are important ecosystems so that their distribution in waters needs to be studied. This study was conducted to determine the density of seagrass in the Panjang Island, using the line transect method so that the composition, and density seagrass can be known. Based on the research, it is known that in Panjang Island, there were 4 species of seagrass have been found with the composition of the most common seagrass being Thalassia hemprichii and the least common being Enhallus acoroides. The highest density of seagrass species is at station 2, which is 283 ind/m2.
Distribusi Horizontal Jenis Fitoplankton di Pesisir Morodemak Nur Chofifah; Ria Azizah Tri Nuraini; Chrisna Adhi Suryono
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.45231

Abstract

Morodemak merupakan salah satu desa pesisir di Kabupaten Demak yang termasuk desa padat pemukiman dengan sebagian besar wilayahnya berupa hamparan rawa pesisir, petambakan dan mangrove. Seiring berjalannya waktu, Pantai Morodemak kini telah mengalami pencemaran. Masukan bahan pencemar ini akan mempengaruhi dinamika kualitas perairan pesisir yang berdampak pada kehidupan organisme didalamnya, termasuk fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui distribusi fitoplankton secara horizontal dan mengetahui struktur komunitas fitoplankton di Pesisir Morodemak. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif, sedangkan pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 periode waktu pada bulan April 2023 – Juni 2023 di 3 stasiun yang menjorok ke arah laut. Hasil data yang diperoleh dari Pesisir Morodemak ditemukan  sebanyak 40 genus fitoplankton yang terdiri dari 4 kelas yaitu Bacillariophyceae, Dinophyceae, Chlorophyceae dan Cyanophyceae. Nilai kelimpahan fitoplankton berkisar antara 15.708 – 41.281 sel/L yang tergolong tinggi dan termasuk dalam perairan eutrofik. Indeks keanekaragaman di Pesisir Morodemak termasuk dalam penggolongan kategori sedang dengan nilai kisaran antara 2,23 – 2,89. Indeks keseragamannya merata dengan nilai antara 0,70–0,85. Indeks dominansinya sangat rendah dengan nilai kisaran 0,08 – 0,21. Distribusi fitoplankton di Pesisir Morodemak termasuk jenis pola distribusi yang seragam karena memiliki indeks morisita sebesar 0,23 – 0,63. Berdasarkan nilai yang diperoleh, menunjukkan bahwa  struktur komunitas fitoplankton di Pesisir Morodemak adalah stabil.Morodemak is a coastal village in Demak Regency, characterized by dense residential areas and predominantly consisting of coastal marshlands, fishponds, and mangroves. Over time, Morodemak Beach has experienced pollution. The input of pollutants affects the dynamics of coastal water quality, impacting the life of organisms within it, including phytoplankton. This study aims to determine the horizontal distribution of phytoplankton and the phytoplankton community structure in the coastal area of Morodemak. The method used is the descriptive quantitative method, and the sampling in this study utilized purposive sampling. Samples were collected over three time periods from April 2023 to June 2023 at three stations extending towards the sea. The data obtained from the coastal area of Morodemak revealed 40 genera of phytoplankton consisting of four classes: Bacillariophyceae, Dinophyceae, Chlorophyceae, and Cyanophyceae. Phytoplankton abundance ranged from 15.708-41.281 cells/L, classified as high and indicating eutrophic waters. The diversity index in the coastal area of Morodemak is categorized as moderate, with values ranging from 2,23-2,89. The uniformity index is even, with values between 0,70-0,85. The dominance index is very low, with values ranging from 0,08-0,21. The distribution of phytoplankton in the coastal area of Morodemak follows a uniform distribution pattern with a Morisita index of 0,23-0,63. Based on these values, it indicates that the phytoplankton community structure in the coastal area of Morodemak is stable.
Hubungan Panjang dan Berat Ikan Pelagis Kecil: Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan Selar Kuning (Selaroides leptolepis) Yang Didaratkan di TPI Majakerta, Kabupaten Indramayu Banafsha Ambarwati; Chrisna Adhi Suryono; Gunawan Widi Santosa
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.50168

Abstract

Ikan pelagis kecil, seperti ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan ikan selar kuning (Selaroides leptolepis), merupakan sumber daya perikanan yang melimpah dan bernilai ekonomi tinggi di perairan Indonesia. Kedua jenis ikan ini didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Majakerta, Indramayu, sebagai hasil tangkapan utama nelayan. Namun, informasi ilmiah tentang distribusi ukuran panjang dan berat, serta pola pertumbuhan ikan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi ukuran panjang dan berat, hubungan panjang dan berat, serta faktor kondisi ikan kembung lelaki dan ikan selar kuning. Peneltian ini dilaksanakan di TPI Majakerta pada September-Oktober 2024. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan systematic random sampling. Hasil penelitian menunjukkan frekuensi panjang total ikan kembung lelaki berkisar antara 17–26 cm dengan berat 67–251 gram, sedangkan panjang total ikan selar kuning berkisar antara 18–24 cm dengan berat 67–215 gram. Hubungan panjang dan berat ikan kembung lelaki W=0.0892L2,3541 dan ikan selar kuning W=0,0503L2,5597. Kedua ikan memiliki tipe pertumbuhan alometrik negatif dengan nilai b 2,354 pada ikan kembung lelaki dan nilai b 2,559 pada ikan selar kuning. Faktor kondisi rata-rata ikan kembung lelaki sebesar 1,330 dan ikan selar kuning sebesar 1,322, yang mengindikasikan bahwa kedua jenis ikan berada dalam kondisi kesehatan yang baik. 
Analisis Hubungan Panjang Berat Kerang yang Berbeda Cara Makannya : Kerang Darah dan Kerang Hijau yang didapat Di Perairan Tambak Lorok Semarang Muhammad Faiz Abadi; Chrisna Adhi Suryono; Retno Hartati
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.43844

Abstract

Kerang darah (Anadara granosa) dan kerang hijau (Perna viridis) merupakan biota laut dari kelas bivalvia yang banyak dimanfaatkan untuk dijadikan bahan konsumsi. Kerang mudah ditemukan di darah pesisir seperti Tambak Lorok Semarang. Penangkapan kerang yang tidak memperhatikan ukuran dapat mengakibatkan overfishing yang berdampak pada penangkapan di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran panjang dan berat serta hubungan panjang cangkang dan berat total. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskreptif kuantitatif. Sebanyak 360 sampel kerang darah dan 360 sampel kerang hijau yang diperoleh dari tempat pelelangan ikan pasar Tambak Lorok diukur panjang dan beratnya. Panjang cangkang kerang diukur dari ujung anterior sampai ujung posterior dan pengukuran berat total kerang dilakukan dengan menimbang keseluruhan cangkang dan dagingnya. Hasil pengukuran kerang darah yang diperoleh menunjukan panjang cangkang adalah 23,4-40,6 mm dengan berat total 4,2-22,4 gram serta pengukuran kerang hijau yang diperoleh menunjukan panjang cangkang adalah 31-80 mm dengan berat total 3-32 gram. Pola pertumbuhan pada kerang darah (A. granosa) dan kerang hijau (P. Viridis) yang ditemukan di daerah perairan Tambak Lorok adalah allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2, 4509 dan 2,5236 yang menunjukan bahwa pertumbuhan panjang cangkang akan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan berat kerang.  
Co-Authors Abdul Rohman Zaky Abdul Rohman Zaky Adi Santoso Adi Santoso Agus Indardjo Agus Indarjo Agus Sabdono Ajeng Rusmaharani Al Bar Rauuf Mulki Aldo Rizqi Arinianzah Alfi Satriadi Alghazeer, Rabia Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Almira Nadia Kusuma Alvi Akhmad Arifin Amri, Fahrizal Dwi Anggada, Rama Annisa Rhamadany Apriliani, Seka Indah Ardi Ristiyanto Ardian Nurrasyid Chamidy Ardiati Widya Wandira Arief, Atthariq Fachri Ramadhan Arifin, Alvi Akhmad Arifin, Muhammad Yusuf Aris Ismanto Asnita Fraselina Samosir Azhar, Nuril Azizah, Pramita B Tyas Susanti Bambang Yulianto Banafsha Ambarwati Baskoro Rochaddi Baskoro Rochaddi Bayu Khrisna Yudhatama Bima Agung Saputra Chamidy, Ardian Nurrasyid Dara Ramadhania Istiqomahani Delianis Pringgenies Delianis Pringgenis Denny Hendrik Nainggolan Diah Ayu Isti Anti Diah Permata Wijayanti Dian Kharisma Dinar Ayu Budi Dony Bayu Putra Pamungkas Dyah Pitaloka Novitasari Ega Widyatama Rachmawan Endang Sri Susilo Endang Supriyantini Ervia Yudiati Erwin Adriono Fahrizal Dwi Amri Faishal Falah Falah, Faishal Farahdita, Wanda Laras Fitriyani, Naily Gadisza Asmara Yudha Ghea Ken Joandani Joandani Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Ibnu Praktikto Ibnu Praktikto Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Ikfanul Firdosyah Ilman Fari Muhammad Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Istiqomahani, Dara Ramadhania Ita Riniatsih Ita Widowati Joandani, Ghea Ken Joandani Johannes Riter Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Khusnul Khotimah Kiuk, Yosni Krisna Dwi Nugroho Krisna Dwi Nugroho Kusuma, Almira Nadia Mahda Veronika Maman Somantri Millenia Dinda Alkautsar Mimie Saputri, Mimie Mita Eka Septiani Muhamad Irfan Cahyo Putro Muhammad Arif Romadhi Muhammad Faiz Abadi Muhammad Muallifin Nor Muhammad Yusuf Arifin Muhammad Zainuddin Naily Fitriyani Naitkakin, Egidius Nathanael Ganang Anindityo Wibowo Nirwani Soenardjo Nor, Muhammad Muallifin Novitasari, Dyah Pitaloka Nur Chofifah Nur Taufiq-Spj Pangga, R. M. Dio Dwi Pitaloka, Maria Dyah Ayu Pramita Azizah Pramudya, Herning Putro, Muhamad Irfan Cahyo Rachmawan, Ega Widyatama Raden Ario Rafdi Abdillah Harjuna Rafif Rizki Zaidan Rama Anggada Ramadhani, Yualita Prasida Rendha Hendyanto Retno Hartati Rhamadany, Annisa Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rini Pramesti Ristiyanto, Ardi Riter, Johannes Rizky Erdana Rudhi Pribadi Ruri Jupriyati Samosir, Asnita Fraselina Saputra, Bima Agung Sarifah, Almunatus Sarwati, Dhea Erika Satriawan, Erian Febri Seka Indah Apriliani Septiani, Mita Eka Setyani, Wilis Ari Setyo Adi Prasojo Setyo Adi Prasojo Sitanggang, Wanri Soares, Daniel Candido Da Costa Sri Redjeki Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Sugeng Widada Sugiyanto, Nenden Rose Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Teguh Sugiarto The Michael Febrian Wijaya Tunas Pulung Pramudya Vicencius Hendra Adhari Wanda Laras Farahdita Wandira, Ardiati Widya Warsito Atmodjo Wibowo, Nathanael Ganang Anindityo Widianingsih Widianingsih Wilis Ari Setyani Wilis Ari Setyati Yualita Prasida Ramadhani Yudha, Gadisza Asmara Yudhatama, Bayu Khrisna